Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS SOCIAL RETURN ON INVESTMENT PADA KEWIRAUSAHAAN SOSIAL: STUDI KASUS DI UPRENEUR AIESEC UNDIP Donnie Cahya Gumilang Silalahi; Haryo Santoso; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Vol 7, No 2 (2018): WISUDA PERIODE APRIL 2018
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1892.99 KB)

Abstract

Kewirausahaan sosial merupakan alternatif yang efektif mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Model ini mewujudkan dampak yang optimal dan berkesinambungan dengan menginvestasikan kembali profit yang diperoleh ke dalam aktivitas operasional. Problematika yang umum terjadi adalah kegagalan memperoleh pendanaan sehingga bisnis tidak berhasil berkembang. Ini bersumber dari ketidakmampuan melakukan pengukuran kinerja berdasarkan misi mulia terpenting wirausaha sosial: dampak yang berhasil diberikan kepada masyarakat. UPreneur sebagai obyek studi kasus merupakan unit kegiatan kerelawanan AIESEC Universitas Diponegoro, salah satu komite lokal jaringan wirausaha sosial internasional yang bervisi mencapai perdamaian dunia dan membangun kapasitas kepemimpinan melalui pertukaran budaya. Objektif UPreneur dirancang berdasarkan visi itu dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Nomor 8 tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak. Dimana pemberdayaan UMKM serta fasilitasi pertumbuhan jiwa berwirausaha adalah aktivitas utamanya. Namun senasib seperti yang lain, UPreneur juga urung mendapatkan pendanaan eksternal, berakibat adanya aktivitas yang gagal terwujud.Pengukuran dampak terdiri atas proses prakiraan, perencanaan, pemantauan kemajuan, evaluasi dan pelaporan. Penelitian ini menggunakan metode yang dikenal dengan imbal balik sosial atas investasi atau SROI. Penghitungan menunjukkan bahwa imbal balik yang diperoleh adalah sebesar 19,03:1. Ini dikategorikan layak secara sosial, yang berarti setiap kontribusi Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 19,03.ABSTRACT Social entrepreneurship is an effective alternative to accelerate the achievement of Sustainable Development Goals. This model embodies optimal and sustainable impacts by reinvesting the profits gained into operational activities. The most common problem is the failure to obtain funding so that the business does not succeed in developing. It comes from the inability to perform performance measurement based on the most important noble goal of social entrepreneurship: the impact that has been successfully given to society. UPreneur as the object of case study is a volunteer unit of AIESEC Diponegoro University, one of the local committees of international social entrepreneurship network that has the vision to achieve world peace and build leadership capacity through cultural exchange. The Objectives of UPreneur is designed on the basis of that vision and Sustainable Development Goal Number 8 which aims for decent growth and economic growth. Where the empowerment of UMKM and the facilitation to grow entrepreneurship soul is the main activity. But the same fate as the others, UPreneur also fail to get external funding, resulting in activities that failed to execute.Impact measurement consists of forecasting, planning, monitoring progress, evaluation and reporting process. This study uses a method known as the Social Return on Investment (SROI). The calculation shows that the social return ratio is 19,03: 1. This is categorized as socially viable, which means that each contribution of Rp 1 will generate a benefit of Rp 19.03.
PERANCANGAN MODEL EVALUASI PERFORMANSI DALAM PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN KEMAS SEKUNDER (KARDUS) DENGAN KOMBINASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) Noor Arofah Alamiyah; Hery Suliantoro; Nia Budi Puspitasari
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 1, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persaingan bisnis yang semakin kompetitif menuntut perusahaan untuk memiliki Supply Chain Management yang baik. Keterlibatan supplier dalam SCM sangat penting dalam menunjang kelancaran proses produksi. Perlu dirancang suatu model penilaian kinerja supplier untuk melakukan evaluasi terhadap para supplier tersebut, agar bahan baku yang dipasok sesuai dengan standar yang ditetapkan.  PT. Phapros, Tbk merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi obat-obatan, dimana saat ini model evaluasi kinerja supplier pada perusahaan tersebut, belum dapat menggambarkan kinerja supplier secara keseluruhan, karena hanya menggunakan kriteria ketepatan waktu pengiriman dan persentase barang cacat yang diterima. Tugas akhir ini dibuat dengan melakukan penelitian pada bagian pengadaan PT. Phapros, Tbk dengan tujuan perancangan model evaluasi performansi supplier menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Data Evelopment Analysis (DEA) untuk memenuhi kebutuhan PT. Phapros, Tbk. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang menjadi penentuan penilaian performansi supplier dan rancangan model evaluasi kinerja supplier yang digunakan dalam menentukan ranking supplier bahan kemas sekunder (kardus) PT. Phapros, Tbk. Faktor-faktor tersebut antara lain defect rate, price, response-to-change time, on-time delivery rate, process capability, capacity, technology, dan partnership relationship. Hasil pe-rankingan kinerja supplier bahan kemas sekunder PT. Phapros, Tbk dari yang terbaik hingga terjelek adalah PT.C, PT.A, PT.B, PT.D, PT.E, PT.G dan PT.F
ANALISIS PENGUKURAN KINERJA PRODUKSI MENGGUNAKAN METODE SINK’S SEVEN PERFORMANCE CRITERIA PADA DEPARTEMEN PRODUKSI MESIN PS60 PT. GENERAL ELECTRIC INDONESIA Muhammad Reyval Akbar; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.771 KB)

Abstract

PT General Electric Lighting yang memiliki departemen produksi yang bertugas mengevaluasi hasil produksi apakah telah memenuhi produktivitas yang merupakan standar yang ditetapkan oleh perusahaan, tetapi selama ini penilaian kinerja hanya melihat dari hasil output yang dikeluarkan, tidak melakukan indeks pengukuran kinerja lainnya yang menyebabkan menurunnya produktivitas. Setiap bulannya perusahaan juga mengalami produktivitas yang kurang baik, akibatnya perusahaan harus melakukan produksi tambahan untuk mencukupi target 95% yang telah ditetapkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dampak yang terjadi dengan adanya penurunan produktivitas bagi perusahaan adalah penambahan jam kerja, biaya, material, energi dan sumber daya lainnya, dampak ini dipengaruhi oleh efisiensi, efektivitas dan kualitas dalam proses pembentukan produk Incandescent,serta mempengaruhi profitabilitas dari produk tersebut karena harus memenuhi biaya tambahan akibat pembuatan produk tambahan untuk memenuhi target 95%. Maka digunakan metode Sink’s Seven Performance Criteria  untuk merancang sistem pengukuran kinerja,  sedangkan  alat pengukurannya menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Snorm de Boer. Hasil dari penelitian ini adalah mendapatkan kritera kritis yaitu, pencapaian output yang tidak sesuai standar, pencapaian Bad Product yang tinggi, improvement oleh dept R&D yang tidak maksimal, training karyawan yang tidak sesuai target dan kecelakaan kerja yang tinggi.   ABSTRACTPT General Electric Lighting which has a production department that is evaluating if the production raise the company’s productivity standards, but so far the company’s only seen the performance assessment by the output results, not from another performance measurement index which causes decreased productivity. Each month the company also experienced poor productivity, as a result the company must perform additional production to raise the 95% target that has been set by the company to meet the needs of consumers. The impact that occurs with a decrease in productivity for the company is an added of hours, work, cost, materials, energy, and other resources This impact is influenced by the efficiency, effectiveness, and quality on the process, as well as affect the profitability of these products because they have to added some additional costs due to raised the target of 95%. So we used the Sink's Seven Performance Criteria Method for designing performance measurement systems, whereas the measurement tool using Analytical Hierarchy Process (AHP) and Snorm de Boer. The results of this study is to get a critical criteria, namely, the achievement of non-standard product, high achievement of bad product, improvement by R & D department is not optimal, training of employees who are not on target and high work accident .
Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Pada Plasa Telkom Dengan Menggunakan Metode Kano Berdasarkan Dimensi Kualitas Marga Harjadiputra; Hery Suliantoro; Rani Rumita
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 3, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri jasa adalah sebuah industri yang menggunakan kesuksesan pelayanan dan kepuasan pelanggan sebagai salah satu parameter ukur keberhasilan. menurut Redi&Johnston (2006) faktor terpenting dalam pertumbuhan dan keberhasilan bisnis adalah kepuasan dan loyalitas pelanggan (customer satisfaction and loyalty). Peningkatan kepuasan dan loyalitas pelanggan dapat dijadikan sebagai indikator kunci keberhasilan pengembangan institusi serta sebagai prediksi kesuksesan pada masa mendatang. Di samping itu, masukan dari pelanggan terkait dengan kepuasan dan loyalitas dapat digunakan sebagai panduan untuk pengembangan bisnis yang efektif. Service excellence merupakan suatu tuntutan yang sepenuhnya memberikan komitmen terbaik bagi customer, dengan memberikan layanan harapan customer tersebut sehingga diharapkan dapat memberikan customer satisfaction yang optimal. Sudah jelas bahwa penilaian tinggi rendahnya hal ini  bergantung pada bagaimana pelanggan merasa excellence to service yang diterimanya berada dalam konteks service yang diharapkannya. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspektasi customer antara lain apa yang didengar customer dari customer lain atau word of mouth communication (komunikasi dari mulut ke mulut), pengalaman masa lalu customer ketika menggunakan suatu jasa pelayanan, komunikasi eksternal dari penyedia service, karakteristik individu dengan lingkungannya, dan imbalan atau 'harga' dari suatu bentuk pelayanan tersebut. Penelitian ini diawali dengan menyebar kuisioner kepada 100 responden pelanggan Plasa Telkom Semarang menggunakan dimensi Evans and Lindsay Service Dimension. Yaitu Time, Timeliness, Completeness, Courtesy, Consistency Accuracy, Access and Convenience, dan Responsiveness Dari Evans and Lindsay Service Dimension tersebut, hasil kuisioner tersebut diuji dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Setelah lolos dari uji alat ukur, dimensi tersebut akan diolah dengan menggunakan metode yang sesuai, karena demi mencapai service excellence dibutuhkan suatu metode yang menjadi alat ukur untuk memetakan kebutuhan dan keinginan konsumen   . Jika dilihat dari definisinya, salah satu metode yang tepat dalam menentukan atribut-atribut yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut ialah KANO dengan kategori questionable, reserve, attractive, indefferent, one-dimensional, dan must-be. Dengan menggunakan metode KANO diharapkan memperoleh atribut-atribut yang menjadi alat untuk mengukur mengkategorikan atribut-atribut dari produk maupun jasa berdasarkan seberapa baik produk/jasa tersebut mampu memuaskan kebutuhan pelanggan. Dimana nantinya dapat dilihat atribut-atribut layanan dapat dibedakan menjadi beberapa kategori.
“PENERAPAN SISTEM MAKE TO ORDER SERTA PENJADWALAN JOBSHOP GUNA MENCEGAH KETERLAMBATAN PADA CUSTOMER (STUDI KASUS: PT. SANGGAR SARANA BAJA)” Afandi Rahmat Aris; Arfan Bakhtiar; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Vol 5, No 1 (2016): wisuda januari Tahun 2016
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.135 KB)

Abstract

Penjadwalan adalah salah satu hal penting dalam sebauah proses produksi. Tingginya aliran suatu produksi meneyebabkan penjadwalan yang dilakukan juga harus opimal. Jadwal yang optimal akan mampu memnuhi seluruh permintaan yang ada. PT. Sanggar Sarana Baja menjalankan sistem produksi dengan strategi make to order. Melakukan penjadwalan dalam strategi make to order berbeda dengan melakukan penjadwalan pada umumnya. Hal ini dikarenakan permintaan yang tidak pasti serta target penyelesaian yang sangat cepat. Penelitian ini mengambil sampel job order yang diterima oleh PT. Sanggar Sarana Baja pada bulan januari 2014. Dalam melakukan penjadwalan dibutuhkan gantt chart yang memudahkan mengamati setiap proses dari awal sampai akhir. Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil total Makespan sebesar 171 jam untuk menyelasaikan 23 job yang diterima oleh perusahaan.    ABSTRACT Scheduling is one of the important things in a production process. The high flow causes a production schedule that also optimal required. The optimal schedule will be able to fulfill the demand. PT. Sanggar Sarana Baja  production system running the strategy make to order. Scheduling in make to order system,  different strategies to perform scheduling in general case. This is because demand is uncertain and completion targets very quickly. This study took a sample job orders received by PT. Sanggar Sarana Baja in January 2014. In conducting the necessary scheduling Gantt chart that allows to observe each process from beginning to the end. From the results of this study showed makespan is 171 hours to solve 23 job received by the company.
PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK PADA PT EMERA ADYAN RAYA DENGAN PENDEKATAN METODE SCOR MODEL Annisa Prafitri Sari; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKProfit yang dibawah target ditambah dengan besarnya pengeluaran tiap bulan mempengaruhi kinerja rantai pasok yang terjadi pada PT Emera Adyan Raya tidak optimal yang berakhir pada overcost. Untuk mengetahui kinerja PT Emera Adyan Raya maka harus melakukan pengukuran kinerja supply chain secara keseluruhan di PT Emera Adyan Raya. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan evaluasi kerja dengan mengukur apakah kinerja dalam PT Emera Adyan Raya sudah tergolong katagori baik, cukup atau buruk.  Evaluasi kerja yang dilakukan bisa berupa penilaian terhadap unsur-unsur yang terdapat di perusahaan. Dengan adanya evaluasi kinerja ini diharapkan dapat membuat PT Emera Adyan Raya menjadi lebih baik dalam melakukan pekerjaannya dalam jangka panjang. Pengukuran yang akan dilakukan menggunakan pendekatan SCOR Model atau Supply Chain Operating Referenece Model. Perhitungan yang akan dilakukan adalah dengan metode AHP pada pembobotan, metode Objective matrix pada scoring system dan Traffic Light yang berfungsi untuk menilai apakah indikator yang digunakan dalam keadaan baik, sedang atau buruk. Secara keseluruhan Kinerja rantai pasok untuk PT Emera Adyan Raya mendapatkan total nilai adalah 5.68 dan berada pada posisi cukup. Perbaikan yang harus dilakukan adalah ketepatan dalam mengirim produk kepada konsumen dan lebih menekankan pemasukan yang harus didapat pada tiap bulannya. ABSTRACTProfit is below the target plus the amount of spending per month affect the performance of supply chain that occurs in PT Emera Adyan Raya are not optimal that end on over cost. To determine the performance of supply chain in PT Emera Adyan Raya, performance measurement should be done as a whole supply chain in PT Emera Adyan Raya. This can be done with the job evaluation to measure PT Emera Adyan Raya performance was classified as category good, adequate, or poor. The evaluation of the work can be an assessment of the element contained in the company. With the performance evaluation is expected to make a get better in doing the job in the long term. Measurement to be performed using the SCOR Model approach. Calculations to be performed is using AHP weighting method, Omax at scoring system, and Traffic Light indicators to assess whether the position is good or bad enough. Overall performance of the supply chain get a total value 5,68 and in a quite position. Improvement that should be done is accuracy in sending product to customers and more emphasis on income that should be on every month.
PENERAPAN LEAN ENTERPRISE SYSTEM PADA PENGOLAHAN IKAN RAJUNGAN PT. WINDIKA UTAMA Roosita Maryani; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Vol 4, No 4 (2015): Wisuda Oktober Tahun 2015
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.437 KB)

Abstract

Pada proses pengolahan ikan rajungan di PT. Windika Utama ini mengalami banyak kendala pada lantai produksi, salah satunya terdapat potensi waste yang terjadi. Oleh karena itu untuk mereduksi waste yang ada di lantai produksi dengan menerapkan konsep lean agar proses produksi berjalan dengan baik dalam memenuhi permintaan konsumen apalagi produk dikirim ke luar tentunya harus memenuhi lead time yang sesuai. Berdasarkan Value Stream Mapping didapat bahwa terdapat 4 waste yang terjadi di PT. Windika Utama yaitu keterlambatan bahan makanan tiba (raw material berupa daging rajungan dan es batu), terdapat Work In Process (WIP), waiting time, dan mesin sering breakdown. Di mana waste tersebut akan berdampak pada target produksi yang tidak terpenuhi sesuai jam kerja PT. Windika Utama. Berdasarkan waste yang terjadi di lantai produksi rajungan PT. Windika Utama ialah dengan memberikan bangku untuk pekerja, memakai alat dengan benar, melakukan perawatan terhadap mesin seamer, memberikan kontrak terhadap supplier, optimisasi penggunaan ruangan, pengoptimalan pekerja, mereduksi waiting time, dan penerapan metode 5S. ABSTRACTManufacture process crab in PT. Windika Utama has obstacles on production floor, there is waste. Therefore to relieve waste on production floor uses lean method for production process runs well to achieve demand. Based on Value Stream Mapping has four wastes, that are raw material delay (crab and ice cube), Work In Process (WIP), waiting time, and breakdown machine. That wastes have impact that is production target does not achive appropriate work hour in PT. Windika Utama. Berdasarkan waste yang terjadi di lantai produksi rajungan PT. Windika Utama ialah dengan memberikan bangku untuk pekerja, memakai alat dengan benar, melakukan perawatan terhadap mesin seamer, memberikan kontrak terhadap supplier, optimisasi penggunaan ruangan, pengoptimalan pekerja, mereduksi waiting time, dan penerapanmetode 5S.Therefore to relieve waste on production floor, PT. Windika Utama has to give seat for labors, wear tools sincerely, do maintenance seamer machine, give contract to suppliers, optimize using room, optimize labors, relieve waiting time, and apply 5S method.
PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA MENGGUNAKAN “SINK AND TUTTLE MODEL” (Studi Kasus Pada Pabrik Gula Rendeng, Kudus) Ridha Setyanda Putra; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.611 KB)

Abstract

Pabrik Gula (PG) Rendeng merupakan sebuah pabrik agrobisnis yang memproduksi gula dan salah satu anak perusahaan dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX yang berlokasi di Kudus Jawa Tengah. Pabrik Gula (PG) Rendeng memiliki kapasitas giling 24.500 kwintal per hari. Penilaian kinerja pada Pabrik Gula Rendeng hanya didasarkan pada bisa atau tidaknya target yang ditetapkan perusahaan dapat tercapai.. Pengukuran kinerja pada Pabrik Gula Rendeng akan dilakukan menggunakan Sink’s and Tuttle Model yaitu merupakan sebuah pendekatan yang menggambarkan hubungan antara ketujuh kriteria kinerja. Hasil perancangan pengukuran kinerja terdiri dari 7 kriteria dengan urutan prioritas sebagai berikut: kriteria Produktivitas (28,4%), kriteria Efektivitas (21%), kriteria Efisiensi (16,2%), kriteria Kualitas (11,4%), kriteria Profitabilitas/Budgetabilitas (8,6%), kriteria Kualitas Kehidupan Kerja (7,6%), dan kriteria Inovasi (3,1%). Dari keenam kriteria kinerja tersebut, diperoleh rancangan akhir 27 KPI yang berisi: 4 KPI Produktivitas, 6 KPI Efektivitas, 3 KPI Efisiensi, 5 KPI Kualitas, 2 KPI Inovasi, 4 KPI Kualitas Kehidupan Kerja, dan 3 KPI Profitabilitas/budgetabilitas. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja dengan Objective Matrix dan Traffic Light System, menunjukkan bahwa kinerja Pabrik Gula Rendeng tahun 2013 adalah sebesar 3,604 yang berada dalam kategori warna kuning yang berarti pencapaian kinerjanya ini sudah cukup baik meskipun nilainya mendekati kategori buruk, sehingga masih perlu ditingkatkan lagi. Dari hasil pengukuran, diperoleh indikator-indikator yang berada dalam zona penting tetapi ternyata kinerjanya masih rendah. Indikator tersebut adalah rasio produktivitas output, tingkat produktivitas mesin, rasio produktivitas jam kerja standar, rasio pencapaian output sesuai standar, rasio jumlah rendemen, rasio jam berhenti mesin (downtime), rasio runtime mesin, rasio raw material cacat, inovasi teknologi. Oleh karena itu rekomendasi diutamakan untuk indikator-indikator di atas.  Abstract PG Rendeng is a agribusiness factory that produces sugar and a subsidiary of PT Plantation Nusantara (PTPN) IX is located in Kudus, Central Java. PG Rendeng has a milling capacity of 24,500 quintals/day. Assessment of performance at PG Rendeng based solely on whether or not the target set by the company can be achieved. When the company can meet its target well, then the company can be said to have had a good performance, whereas when the company can not meet its target, the company has a poor performance. Performance measurement at PG Rendeng will be done using the Sink and Tuttle's model which is an approach that describes the relationship between the seven performance criteria The results of performance measurement design consisted of seven criteria with the following order of priority: Productivity criteria (28.4%), the criteria of effectiveness (21%), the criteria of efficiency (16.2%), quality criteria (11.4%), Profitability criteria / Budgetabilitas (8.6%), Work Life Quality criteria (7.6%), and the Innovation criterion (3.1%). The performance of the six criteria, the final draft was obtained containing 27 KPI: 4 KPI Productivity , 6 KPI Effectiveness, 3 KPI Efficiency , 5 KPI Quality, 2 KPI Innovation, 4 KPI Work Life Quality and 3 KPI Profitability/budgetabilitas. Based on the results of performance measurement with Objective Matrix and Traffic Light System, shows that the performance PG Rendeng in 2013 amounted to 3,604 are located in the yellow category, which means the achievement of this performance is quite good although the value is closer to the category of poor, so there is still room for improvement. From the measurement results, obtained indicators are in a critical zone but apparently the performance is still low. The indicator is the ratio of output productivity, machine productivity levels, productivity ratio of standard working hours, according to the standard output achievement ratio, the ratio of the amount of recovery, the ratio of  downtime machine, the ratio of the runtime machine, the ratio of defective raw materials, technological innovation.  
RESTAURANT REVENUE MANAGEMENT (STUDI KASUS RESTORAN XX NGALIYAN SEMARANG) Ethec Ananda Fuadillah; Hery Suliantoro
Industrial Engineering Online Journal Vol 5, No 1 (2016): wisuda januari Tahun 2016
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.787 KB)

Abstract

Penurunan jumlah transaksi akibat dari lamanya proses antar waktu makan dan adanya pengunjung walked-out sementara terdapat kursi kosong menjadi salah satu faktor terjadinya penurunan pendapatan restoran xx sehingga dibutuhkan strategi untuk meningkatkan pendapatan restoran. Revenue management merupakan metode yang digunakan untuk menjual persediaan yang tepat kepada konsumen yang tepat pada waktu yang tepat dengan harga yang tepat.  Tujuan revenue management adalah untuk meningkatkan pendapatan melalui strategi duration control dan demand-based pricing. Implementasi restaurant revenue management dilakukan dengan menggunakan 5-step revenue management approach dimana dalam penelitian ini hanya dilakukan hingga langkah ketiga yaitu penetapan baseline, analisa penyeab permasalahan, dan membuat strategi revenue management. Berdasarkan analisis penyebab permasalahan diketahui bahwa rendahnya seat occupancy dan panjang serta variasi dari meal duration merupakan permasalahan yang dialami restoran xx yang disebabkan oleh kebijakan reservasi, sulitnya menarik pengunjung, belum efisiennya komposisi meja-kursi, dan adanya delay pada proses pelayanan dimana rekomendasi strategi duration control yang diberikan adalah penetapan credit card guarantees dan hold table pada kebijakan reservasi, perubahan komposisi meja-kursi menjadi 24 meja 2-tops, 13 meja 4-tops, dan 8 meja 6-tops serta perbaikan proses pelayanan pada pre-process stage dan post-process stage. Sedangkan rekomendasi strategi demand-based pricing yang diberikan adalah dengan menaikkan harga saat hot periods dan menurunkan harga saat cold periods menggunakan menu engineering dan rate fences: happy hour specials, early bird specials, coupons, dan frequent dining programs.   AbstractA decrease in the number of transactions as a result of the length of time between eating and the visitors who walked-out while there are empty seats to be one of the factors restaurant revenue decreased so it needs a strategy to increase restaurant revenue. Revenue management is a method to selling the right inventory unit to the right customer at the right time for the right prices. The purpose of revenue management is to increase revenue through duration control and demand-based pricing strategies. The implementation of restaurant revenue management is performed through 5-step revenue management approach but in this study only carried out up to the third step is establishing the baseline, understanding the drivers of that performance, and developing a revenue management strategy. Based on the analysis of the cause of the problem is known that a low seat occupancy, length and variations of the meal duration is a problem experienced by restaurants xx that caused by the reservation policy, hard to find customers, inefficient composition of tables and chairs, and the delay in the service processes where recommendations duration control strategy is the determination of credit card guarantees and hold table on reservation policy, changing the composition of tables and chairs to 24 tables 2-tops, 13 tables 4-tops, 8 table 6-tops and improving service process in the pre-process stage and post- stage process. While the recommendation demand-based pricing strategy is charging a relatively high price during hot periods and a lower price during cold periods using menu engineering and rate fences: happy hour specials, early bird specials, coupons, and frequent dining programs.
ANALISIS PENGARUH KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAAN DAN INTENSI PERILAKU KONSUMEN PENGGUNA SITUS ONLINE SHOP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Diponegoro) Qaanita Yuuha M; Hery Suliantoro; Rani Rumita
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 1, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekarang ini internet sudah banyak dijadikan untuk penjualan produk atau disebut juga e-commerce. Berbelanja melalui internet memberikan kemudahan bagi konsumen untuk langsung membandingkan produk, harga, informasi dan pelayanan antar toko online. Niat masyarakat sendiri masih rendah untuk berbelanja melalui internet. Oleh karena itu, salah satu masalah pada situs online shop adalah bagaimana mengubah pengunjung menjadi pembeli. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas layanan. Penelitian ini mengacu pada jurnal yang disusun oleh Gounaris, S., Dimitriadis, S., & Stathakopoulos, V (2010). Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasaan dan intensi perilaku konsumen pengguna layanan online shop. Kualitas layanan terdiri dari variabel informasi, user friendliness, interaksi dan aesthetic. Kepuasaan konsumen dibagi menjadi service encounter dan service process. Intensi perilaku yang diteliti mengenai word of mouth, purchase intention dan revisit. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel penelitian mahasiswa Universitas Diponegoro yang pernah berbelanja melalui online shop di jejaring sosial Facebook. Analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan software Amos 18.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan berpengaruh positif terhadap kepuasaan dan kepuasaan berpengaruh positif terhadap intensi perilaku konsumen. Namun, kualitas layanan tidak berpengaruh langsung terhadap intensi perilaku.   Nowadays internet has been used for selling product or e-commerce. Shopping through the Internet makes it easy for consumers to directly compare products, prices, information and services between the online store. Intention people to shop via internet is still low. For this reason, one of the problems on online shop is how to convert visitors into buyers. One of the solution is by improving the quality of service. This study refers to a journal compiled by Gounaris, S., Dimitriadis, S., & Stathakopoulos, V (2010). The purpose of this study is to examine the effects of service quality on customer satisfaction and behavioral intentions in the context of internet shopping. Service quality consists of information, user friendliness, interaction and aesthetic. Consumer satisfaction is divided into service encounter and service process. The examined of behavior intention about word of mouth, purchase intention and revisit. The sampling method that used in this study is purposive sampling with a sample of students from Diponegoro University that ever shopped via internet at social networking sites, facebook. Data analysis using Structural Equation Modelling (SEM) method with Amos 18.0 software. The results of this study indicate that service quality has a positive effect on satisfaction and consumer satisfaction have a positive influence on behavioral intentions. However, service quality does not directly effect on behavioral intentions.
Co-Authors Achmad Ismail Marzuki Adi Hardinata Huatagaol Aditya Bonavasius Purba Afandi Rahmat Aris Agsanigita Nindy Sukmawara Agvirillia Melinda Astridenia, Agvirillia Melinda Aldisa Kusumaningsari Alif Iqbal Rosyidi Amayta Rahma Nuriza, Amayta Rahma Ananda Wien Dinasty Andina Pratiwi Anita Mustikasari ANNISA MAULIDYA Annisa Prafitri Sari Arfan Bakhtiar Aries Susanty Aris Munandar Aris Munandar Ary Arvianto Aziz, Tagiy Al Bambang Purwanggono Baskara Aji Winarno Cahyani, Egintha Christoper Christoper Darminto Pujotomo Denny Nurkertamanda Dewi Nugrahani Dewi Nugrahani Diana Puspita Sari Dinda Fanny Lecianty Donnie Cahya Gumilang Silalahi Dwi Lestari Ariani Dwi Megah Purnamasari Dwi Restiani Eldinda Sazida Permatasari Eldinda Sazida Permatsari, Eldinda Sazida Endah Kirana Ethec Ananda Fuadillah Fajari, Muhammad Akhdan Rizki Fakhrozi Arfi Freddy Bachtiar Silaban Galuh Intan M Gifari, Akbar Romadhona Gisha Navitasari Hapsari Prawitasari Putri Anjani Haris Mulyono Haryo Santoso Haryo Santoso Hendry Janitra Hutama Heru Prastawa Ide Ambardi, Muhamad Indarto, Lukas Ris Indratua Sinurat Intan Novita Dewi Iskandar Muda Iyain Sihombing Jati Utomo Dwi Hatmoko Junaidi, Selvrida Eka Kirana Rukmayuninda Ririh Kirana Rukmayuninda Ririh Kurnia Sari Kusuma, Mutiara Ramadya Laila Kusumawardhani Lakshita Pritandari Leasytta Noerfajr Lubis, Ihsan Andika Luh Nyoman Widyastuti Luh Putu Ratna Sundari M. Agung Wibowo Maharani Retno Sari Marga Harjadiputra Martin Lilik A Meila Zulhiana Mitra Amerta Ivanda Muhammad Fachrurozi Muhammad Iqbal Muhammad Reyval Akbar Muhammad Taufik Aditya Mumpuni Rahma Pertiwi Mustofa Muthi Said Susilo Nabilla Rohadhatul Aisy Nadya Sella Aulia Naniek Utami Handayani Naniek Utami Handayani Nartadhi, Rizal Luthfi Nazaret Raisa Tarigan Nia Budi Puspitasari Nina Ratna Enggar Puspita Noor Arofah Alamiyah Novie Susanto Nuroji Nuroji Perdana HM, Muhammad Arief Pitipaldi, Knight Pradhana, Claudha Alba Purnawan Adi Wicaksono Purnomo Setyo Kusumo Putra, Hafish Naufal Putra, Ryan Dwiyana Qaanita Yuuha M Rajib Wahyu Nugroho K Ramadhan, Fathur Agnanta Rani Rumita Ratna Purwaningsih Reynanda Agung Dwiprakoso Riandika Windiasari Ridha Setyanda Putra Roosita Maryani Samosir, Andi Sarumaha, Hilman Hendro S Sembiring, Joy Irfan Seno Aji Nugroho Shelli Fardhiyah Sunny Shifa Fauziyah Shinta Devi Siregar Sholicha, Mar’atus Siahaan, Geovany Sondang Siahaan, Lowis Onike Sihombing, Iyain Sindhu Pradipta Sri Lestari Stefi Anindyawati Sya’roni, Muhammad Taufik Mulya Ibrahim Tisa Aisyarahmi Ulfah, Fanny Uli Arta Tindaon Vashanadia Astharina Verra Erlianna Wicaksono, Wahyu Agung Wiwik Budiawan Yosephyn, Putri Yulius Pradana Setyawan P ZAINAL FANANI R., ZAINAL