Claim Missing Document
Check
Articles

Self-Efficacy Terhadap Hipertensi Intradialis Pada Pasien Gagal Ginjal ayunarwanti, Rizkya; maliya, Arina
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 13 No. 1 (2020): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v13i1.11603

Abstract

Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi renal dimana keadaan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan, serta elektrolit yang membutuhkan terapi hemodialisa dalam jangka panjang. Komplikasi yang terjadi saat hemodialisa adalah hipertensi, hipotensi, kram otot, muntah, dan mual. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah tingkat self-efficacy. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Dengan hasil bahwa hipertensi intradialisis adalah salah satu faktor penyulit durante HD. Faktor yang terkait dengan self efficacy dan kualitas hidup pasien diantaranya usia, pasien yang tinggal dengan keluarga, dan pasien dengan penyakit komorbid. Pelatihan program self-care dapat meningkatkan efikasi diri pada pasien. Disimpulkan bahwa hipertensi intradialisis dipengaruhi oleh karakteristik usia, jenis kelamin, IDWG lebih dari normal, lama hemodialisa, serta jumlah obat antihipertensi yang dikonsumsi. Self-efficacy dibagi menjadi 2 yakni efikasi diri tingkat tinggi dan efikasi diri tingat rendah. Efikasi diri yang tinggi dan kualitas hidup yang sangat baik membuat pasien patuh terhadap proses pengobatan. Ketidakmampuan dalam diri pasien untuk menyesuaikan diri dengan kondisi penyakitnya mengakibatkan penurunan kualitas hidup.
Manajemen Insomnia pada Pasien Hemodialisa: Kajian Literatur Aini, Nisrina Nur; Maliya, Arina
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2020): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v13i2.11602

Abstract

Terapi hemodialisa (HD) merupakan terapi yang paling banyak dilakukan pasien End Stage Renal Disease (ESRD). Meski terapi hemodialisa telah terbukti dapat memperpanjang kelangsungan hidup, tindakan terapi hemodialisa memiliki komplikasi yang memunculkan gejala-gejala salah satunya adalah gangguan tidur. Keluhan gangguan tidur yang sering ditemui dalam unit dialisis dialami oleh 50-80% pasien dialisis. Dari berbagai gangguan tidur, insomnia merupakan salah satu gejala yang sering dialami pasien ESRD. Sebuah kajian literatur yang membandingkan beberapa literatur melalui penelusuran situs jurnal terakreditasi seperti PubMed, Elsevier, ResearchGate, dan Neliti dengan kata kunci management insomnia in hemodialysis patient dalam kurun waktu 2015-2020. Manajemen insomnia ditinjau dengan tujuan memberikan panduan untuk mendorong pengobatan. Dalam enam jurnal yang dikaji, edukasi sleep hygiene, CBT-I, terapi relaksasi, terapi pijat, dan pemberian obat-obatan (dengan perhatian) memperbaiki kualitas tidur pasien hemodialisa. Manajemen farmakologis dan non-farmakologis untuk mengatasi insomnia pada pasien hemodialisis dapat diberikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Manajemen disarankan untuk menggunakan pendekatan nonfarmakologis terlebih dahulu. Pemberian terapi farmakologis direkomendasikan hanya untuk penggunaan jangka pendek, digunakan dengan hati-hati pada pasien hemodialisis.
Efektivitas Relaksasi Benson Terhadap Kecemasan Pasien Yang Menjalani Hemodialisa Anisah, Isnaini Nur; Maliya, Arina
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 14 No. 1 (2021): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v14i1.12226

Abstract

Pendahuluan: Penyakit gagal ginjal merupakan gangguan fungsi ginjal yang terjadi saat tubuh gagal mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan serta elektrolit sehingga dapat menyebabkan terjadinya retensi urea dan sampah nitrogen dalam darah. Hemodialisa menjadi pilihan terapi untuk mengatasi gagal ginjal kronik. Hemodialisa dilakukan dengan alat khusus untuk mempertahankan fungsi ginjal dengan menyeimbangkan kadar elektrolit dan keseimbangan cairan tubuh. Hemodialisa yang dilakukan dalam j angka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pada aspek biologis maupun aspek psikologis bagi pasien hemodialisa. Sebanyak 48,6 % pasien hemodialisa mengalami gangguan kecemasan. Salah satu non-farmakologi terapi untuk mengurangi kecemasan yaitu relaksasi benson yang dilakukan selama 15-20 menit setiap pagi dan sore hari. Tujuan dari kajian literatur ini untuk mengetahui efektifitas relaksasi benson terhadap kecemasan pada pasien yang menjalani hemodialisa. Sebuah kajian literatur yaitu membandingkan beberapa literatur melalui penelusuran j urnal dari situs j urnal yang terakreditasi dan kredibel seperti Sciencedirect, PubMed, Elsevier dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci Benson relaxation technique on anxiety of patient hemodialysis” atau “benson technique for anxiety disorders” atau “terapi kecemasan non-farmakologi” atau “relaxation benson for patient undergoing hemodialysis” mulai tahun 2015-2 020. Ada lima dari delapan j urnal yang dikaji dan digunakan dalam literature riview ini. Hasil Penelitian menunjukkan relaksasi benson yang dilakukan sehari 2 kali selama 15-20 menit efektif untuk mengatasi masalah kecemasan pada pasien yang melakukan hemodialisa. Kesimpulan: relaksasi benson efektif dan bekerja dengan baik dalam menurunkan kadar kecemasan pada pasien hemodialisa
Efektivitas Kompres Dingin terhadap Nyeri Insisi Fistula di Unit Dialisis Sudariyekti, Arian Wirani; Hastuti, Ema Aprilia Setya; Regitasari, Dhesy Hamdan Lafaiz; Maliya, Arina
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i1.5769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian kompres dingin dalam mengurangi nyeri insersi fistula pada pasien hemodialisa. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Sampel terdiri dari 5 pasien yang menjalani hemodialisa dua kali seminggu di Rumah Sakit Indriati Solo Baru. Intervensi melibatkan pemberian kompres dingin menggunakan ice bag selama 3–5 menit sebelum insersi fistula. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan skala nyeri numerik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden mengalami penurunan intensitas nyeri setelah intervensi. Sebelum kompres dingin, skala nyeri berkisar antara 5–7, sementara setelah intervensi berkisar antara 3–6. Penurunan ini menunjukkan bahwa kompres dingin efektif dalam mengurangi nyeri melalui mekanisme vasokonstriksi dan inhibisi transmisi nyeri pada sistem saraf. Penelitian ini merekomendasikan integrasi kompres dingin sebagai bagian dari manajemen nyeri standar pada pasien hemodialisa untuk meningkatkan kenyamanan selama prosedur.
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN NYERI PASIEN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS Rahmawati, Ellyza; Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.40575

Abstract

Hernia inguinalis merupakan kondisi ketika munculnya benjolan di daerah selangkangan atau skrotum. Penatalaksanaan hernia inguinalis dilakukan dengan cara tindakan operasi. Operasi hernioraphy termasuk herniotomy dan hernioplasty. Pasien setelah operasi hernia inguinalis biasanya merasakan nyeri saat bergerak, dengan sensasi nyeri seperti tertusuk. Beberapa pasien mungkin mempertahankan posisi supinasi untuk meredakan nyeri. Nyeri pasca operasi disebabkan oleh luka insisi dan meningkat seiring berkurangnya efek anastesi. Manajemen nyeri dibagi menjadi dua jenis: farmakologis, yakni pemberian analgesik, dan non-farmakologis, yang mencakup distraksi seperti teknik relaksasi otot progresif. Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dan desain pre-post test, melibatkan 5 responden. Karakteristik responden bervariasi dalam usia dan pendidikan, namun semua adalah laki-laki dewasa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi skala nyeri Bourbonnais, serta bolpoin dan kertas. Lembar observasi mencakup lima indikator nyeri: tidak nyeri (skor 0), nyeri ringan (skor 1-3), nyeri sedang (skor 4-6), nyeri berat (skor 7-9), dan nyeri sangat berat (skor 10). Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi hernia inguinalis. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada penurunan skala nyeri yang signifikan pada responden sebelum dan sesudah intervensi, menjadi tingkat nyeri ringan. Penelitian ini berpotensi menjadi referensi dalam asuhan keperawatan sebagai salah satu terapi non-farmakologis untuk membantu mengurangi nyeri setelah operasi.
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUROTTAL TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN POST OPERASI Safaniah, Zuhro Muyassarotus; Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.43601

Abstract

Pascaoperasi dimulai saat pasien dipindahkan dari ruang operasi ke ruang pascaoperasi dan berakhir saat pasien pulang. Pasien akan mengalami ketidaknyamanan setelah operasi. Nyeri merupakan pengalaman emosional dan sensoris yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan cedera jaringan atau keadaan yang menyiratkan kerusakan. Nyeri pascaoperasi dapat ditangani secara farmakologis dan nonfarmakologis. Perawatan murottal mengurangi nyeri secara nonfarmakologis. Relaksasi menggunakan perawatan murottal mengurangi ketegangan, kecemasan, dan ketidaknyamanan fisiologis. Perawatan murottal dapat menenangkan penderita dan mengalihkan perhatian mereka dari ketidaknyamanan. Perawatan murottal berlangsung selama 15 menit. Penilaian nyeri dengan NRS. Penelitian ini menemukan bahwa perawatan murottal dapat sangat mengurangi nyeri pascaoperasi pada pasien, menjadikannya pendekatan pemulihan yang sangat baik. Perawatan nyeri nonfarmakologis ini merupakan alternatif yang berharga.
PENGARUH TERAPI MUROTTAL AL-QUR'AN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE DAN POST OPERASI : STUDY CASE Khusnul Rohadi, Dickta Annafi; Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.43839

Abstract

Kecemasan perioperatif merupakan perasaan cemas saat akan menjalani operasi, digambarkan  sebagai sensasi samar dan tidak nyaman yang seringkali tidak disadari oleh penderitanya karena sebab yang pasti. Prosedur operasi beresiko timbulnya ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emosional. kecemasan pre operasi digambarkan sebagai salah satu faktor negatif yang dapat mempengaruhi prosedur operasi. Kecemasan ini dapat menimbulkan gejala-gejala fisiologis meliputi hipertensi, takikardia, dan bahkan aritmia. Penelitian ini menggunakan desain uji pra-pasca dan metodologi eksperimental. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana Terapi Murottal Al-Qur'an mempengaruhi tingkatan kecemasan pasien sebelum dan sesudah operasi. Penelitian ini bersifat kuantitatif. Populasi yang di gunakan sejumlah 5 pasien yang dipilih memakai purposive sampling. Untuk memperoleh data penelitian ini, lima pasien yang melaporkan kecemasan sebelum dan sesudah operasi diberikan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Terapi Murottal Al-Qur'an (surat Al-Falaq) selama lima menit. Perolehan riset memperlihatkan dampak setelah diberikan Terapi Murrottal saat pre dan post operasi tampak perubahan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan efektivitas Terapi Murottal Al-Qur’an dalam meminimalisir tingkatan kecemasan pasien operasi. Kesimpulan yang diambil dari beberapa riset ialah bahwa pasien harus menerima intervensi Murottal Al-Qur'an untuk membantu mereka merasa lebih baik. Perawat di rumah sakit dapat memberikan pasien bedah sebuah intervensi alternatif dengan menggunakan terapi Murottal Al-Qur'an non-farmakologis.
The Effectiveness of Listening to Qur'anic Murotal Therapy on Sleep Quality of Patients with Breath Pattern Disorders Meliana Fitria Salichah; Arina Maliya
Lentera Perawat Vol. 5 No. 2 (2024): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v5i2.335

Abstract

Breath pattern disturbances can lead to significant sleep disturbances and negatively impact an individual's physical and mental well-being. One non-pharmacological approach that has emerged as an alternative in addressing sleep disturbances is Murotal Qur'an listening therapy. Murotal therapy is an effective nurse-directed intervention that does not require much cost and is easy to perform. The purpose of this case study is to determine the effectiveness of listening to Qur'anic murotal therapy on the quality of sleep of patients with breathing pattern disorders. The method used is to use a pre-post test design. Researchers took samples with purposive sampling technique as many as 5 respondents who experienced a decrease in sleep quality. The sleep quality instrument uses PSQI (Pittsburg Sleep Quality Sleep) which consists of 7 assessment components that have a score of 0-21. Before the intervention, there were 20% of respondents with very poor sleep quality and 80% of respondents with poor sleep quality. After the intervention, there was a change in 60% of respondents with good sleep quality and 40% of respondents with very good sleep quality. This shows that there is a significant difference before and after the Qur'an murotal therapy. This study concludes that Qur'anic murottal therapy is able to improve sleep quality so that this Qur'anic murottal therapy is effective for patients experiencing sleep disorders.
LITERATURE REVIEW : PENGARUH PIJAT ES DAN PENGGUNAAN GEL LIDOKAIN UNTUK MENGURANGI NYERI VASKULARISASI PADA PASIEN HEMODIALISIS Erwanindyasari, Risma Nuril; Rizkya, Titania Nur; Maliya, Arina; Kurniasari, Dyan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.47117

Abstract

Nyeri akibat kanulasi fistula arteriovenosa (AVF) merupakan masalah utama pada pasien hemodialisis yang berdampak pada kenyamanan serta kepatuhan terhadap terapi. Pengelolaan nyeri selama prosedur vaskularisasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik. Literature review ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pijat es dan gel lidokain dalam mengurangi nyeri selama insersi AVF pada pasien hemodialisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Literature review dari berbagai database jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2020-2025, menggunakan kata kunci “hemodialisis”, “pijat es”, dan “lidokain gel”. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua intervensi tersebut efektif menurunkan intensitas nyeri secara signifikan. Pijat es bekerja melalui stimulasi titik akupresur, mekanisme gate control, serta pelepasan peptida opioid endogen, sedangkan gel lidokain menghambat transmisi impuls nyeri melalui blokade saluran natrium. Efektivitas kedua metode relatif setara, tanpa perbedaan signifikan secara statistik, sehingga dapat menjadi alternatif sesuai preferensi pasien dan ketersediaan sumber daya. Kesimpulannya, baik pijat es maupun gel lidokain merupakan intervensi nonfarmakologis yang mudah, murah, dan minim risiko untuk mengurangi nyeri kanulasi AVF pada pasien hemodialisis. Implikasi praktisnya, tenaga kesehatan disarankan untuk mempertimbangkan kedua metode ini guna meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pasien selama terapi hemodialisis.
The Relationship Between Dietary Patterns, Physical Activity, and Stress Levels with the Incidence of Hypertension among Adults of Productive Age Vandika, Danuartha; Maliya, Arina
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i4.1790

Abstract

Background: Hypertension is a major public health concern among productive-age individuals, influenced not only by genetic factors but also by modifiable lifestyle factors such as diet, physical activity, and stress. Objective: This study aimed to analyze the relationship between diet, physical activity, and stress levels with the incidence of hypertension among individuals in the productive age group. Methods: A quantitative research design with a Cross-Sectional approach was employed using purposive sampling involving 112 hypertensive respondents of productive age, and data were analyzed using the Spearman-Rho correlation test. Results: The findings revealed a significant positive relationship between dietary patterns and hypertension incidence (p = 0.001). More than half of the respondents engaged in light physical activity, and a positive correlation was observed between physical activity and hypertension (p = 0.001). Additionally, stress levels were significantly correlated with hypertension incidence (p = 0.001). These results indicate that poor dietary adherence, low physical activity, and high stress levels contribute to the increasing prevalence of hypertension among productive-age adults. Conclusion: Maintaining a balanced diet, engaging in regular physical activity, and managing stress effectively are crucial strategies to prevent hypertension and promote cardiovascular health in the productive age population.
Co-Authors Afifah Dian Sari Afifah Nur Fitri Widyasari Ailani, Choirida Aini, Nisrina Nur Aisah, Rosida Nur Aldiansa, Prima Alfajri, Asri Alfia Dyah Permata Alfina Rahmadani Alin Ikmalia Amalia Siti Choirun Nisa Anisah, Isnaini Nur Ary Mulyantini Astari, Rizki Yulida Ayunarwanti, Rizkya Aziz, Rafida Beti Kristinawati Burhanudin Ashar Carissa, Bella Dawaishafa Diva Nurani Dewi, Aulia Kusuma Dhamayanti, Meta Saskia Rina Dian Setyawan Dimas Ria Angga Pribadi Dinita, Fera Alfina Dyan Kurniasari Ekky Puspita Sonia Endang Zulaicha S Endang Zulaicha Susilaningsih Erwanindyasari, Risma Nuril Etik Rositasari Fakhrana, Dina Febi Kusuma Nugraha Fina Mahardini Firman Faradisi Frisca Uly Mufattichah Hariyanto, Cechilya Anindhita Hasanudin, Muh Hasna Fadhilah Qotrunnada Hastuti, Ema Aprilia Setya Herminingrum, Ika Yuniar Hunain Suci Kamila Iffada, Salsabillah Ansafa Ika Yuniar Herminingrum Indri Erwhani Isnaini Nur Anisah Kartinah Khusnul Rohadi, Dickta Annafi Kristini, Puji Kunoviana, Rizkiyah Diyan Kurniasari, Dyan Laksono Trisnantoro Lina Wati Nur Azizah Lutfa, Umi Mahardini, Fina Mahrunnisa Syahratudar Maharani Maymona Rizqi Hardani Meliana Fitria Salichah Meliana Fitria Salichah Muh Hasanudin Muhammad Ahsan Muhammad Luqman Prihananda Musa Bangkit Alfaruq Nabrita, Afrischa Yusti Nasichah, Siti Nur Alfiyatin Ni'mah Mufidah Nisrina Nur Aini Novita Sabila Oktavika Maharani, Arlin Okti Sri Purwanti Pangarsi, Siti Perdana, Revansia Missi Poncorini, Eti Puji Kristini Puji Kristini Purnama, Arif Putra Rahmawati, Ellyza Regitasari, Dhesy Hamdan Lafaiz Revansia Missi Perdana Rina Sari Dewi Setyaningsih Riska Rosita Rizki Yulida Astari Rizkya Ayunarwanti Rizkya, Titania Nur Safaniah, Zuhro Muyassarotus Setyaningsih, Rina Sari Dewi Siti Nur Fatimah Siti Nur Fatimah Sri Mulyani SRI RAHAYU Srijaya, Munika Pandu Sudariyekti, Arian Wirani Sukamto, Ika Sumiyarsi Sulastri Sulastri - Sutoyo, Ronggo Adi Syafriati, Ani Umi Lutfa Uswatun Hasanah Vandika, Danuartha Vinami Yulian Widiastuti, Sinta Tri Wita Oktaviana Wuriani, Wuriani Yesika, Apriyani Yossina Vatanjani Yusuf, Nadya Putri Berliana Fatati