Articles
Manajemen Insomnia pada Pasien Hemodialisa: Kajian Literatur
Aini, Nisrina Nur;
Maliya, Arina
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2020): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/bik.v13i2.11602
Terapi hemodialisa (HD) merupakan terapi yang paling banyak dilakukan pasien End Stage Renal Disease (ESRD). Meski terapi hemodialisa telah terbukti dapat memperpanjang kelangsungan hidup, tindakan terapi hemodialisa memiliki komplikasi yang memunculkan gejala-gejala salah satunya adalah gangguan tidur. Keluhan gangguan tidur yang sering ditemui dalam unit dialisis dialami oleh 50-80% pasien dialisis. Dari berbagai gangguan tidur, insomnia merupakan salah satu gejala yang sering dialami pasien ESRD. Sebuah kajian literatur yang membandingkan beberapa literatur melalui penelusuran situs jurnal terakreditasi seperti PubMed, Elsevier, ResearchGate, dan Neliti dengan kata kunci management insomnia in hemodialysis patient dalam kurun waktu 2015-2020. Manajemen insomnia ditinjau dengan tujuan memberikan panduan untuk mendorong pengobatan. Dalam enam jurnal yang dikaji, edukasi sleep hygiene, CBT-I, terapi relaksasi, terapi pijat, dan pemberian obat-obatan (dengan perhatian) memperbaiki kualitas tidur pasien hemodialisa. Manajemen farmakologis dan non-farmakologis untuk mengatasi insomnia pada pasien hemodialisis dapat diberikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Manajemen disarankan untuk menggunakan pendekatan nonfarmakologis terlebih dahulu. Pemberian terapi farmakologis direkomendasikan hanya untuk penggunaan jangka pendek, digunakan dengan hati-hati pada pasien hemodialisis.
Efektivitas Relaksasi Benson Terhadap Kecemasan Pasien Yang Menjalani Hemodialisa
Anisah, Isnaini Nur;
Maliya, Arina
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 14 No. 1 (2021): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/bik.v14i1.12226
Pendahuluan: Penyakit gagal ginjal merupakan gangguan fungsi ginjal yang terjadi saat tubuh gagal mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan serta elektrolit sehingga dapat menyebabkan terjadinya retensi urea dan sampah nitrogen dalam darah. Hemodialisa menjadi pilihan terapi untuk mengatasi gagal ginjal kronik. Hemodialisa dilakukan dengan alat khusus untuk mempertahankan fungsi ginjal dengan menyeimbangkan kadar elektrolit dan keseimbangan cairan tubuh. Hemodialisa yang dilakukan dalam j angka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pada aspek biologis maupun aspek psikologis bagi pasien hemodialisa. Sebanyak 48,6 % pasien hemodialisa mengalami gangguan kecemasan. Salah satu non-farmakologi terapi untuk mengurangi kecemasan yaitu relaksasi benson yang dilakukan selama 15-20 menit setiap pagi dan sore hari. Tujuan dari kajian literatur ini untuk mengetahui efektifitas relaksasi benson terhadap kecemasan pada pasien yang menjalani hemodialisa. Sebuah kajian literatur yaitu membandingkan beberapa literatur melalui penelusuran j urnal dari situs j urnal yang terakreditasi dan kredibel seperti Sciencedirect, PubMed, Elsevier dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci Benson relaxation technique on anxiety of patient hemodialysis” atau “benson technique for anxiety disorders” atau “terapi kecemasan non-farmakologi” atau “relaxation benson for patient undergoing hemodialysis” mulai tahun 2015-2 020. Ada lima dari delapan j urnal yang dikaji dan digunakan dalam literature riview ini. Hasil Penelitian menunjukkan relaksasi benson yang dilakukan sehari 2 kali selama 15-20 menit efektif untuk mengatasi masalah kecemasan pada pasien yang melakukan hemodialisa. Kesimpulan: relaksasi benson efektif dan bekerja dengan baik dalam menurunkan kadar kecemasan pada pasien hemodialisa
Efektivitas Kompres Dingin terhadap Nyeri Insisi Fistula di Unit Dialisis
Sudariyekti, Arian Wirani;
Hastuti, Ema Aprilia Setya;
Regitasari, Dhesy Hamdan Lafaiz;
Maliya, Arina
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37287/jppp.v7i1.5769
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian kompres dingin dalam mengurangi nyeri insersi fistula pada pasien hemodialisa. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Sampel terdiri dari 5 pasien yang menjalani hemodialisa dua kali seminggu di Rumah Sakit Indriati Solo Baru. Intervensi melibatkan pemberian kompres dingin menggunakan ice bag selama 3–5 menit sebelum insersi fistula. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan skala nyeri numerik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden mengalami penurunan intensitas nyeri setelah intervensi. Sebelum kompres dingin, skala nyeri berkisar antara 5–7, sementara setelah intervensi berkisar antara 3–6. Penurunan ini menunjukkan bahwa kompres dingin efektif dalam mengurangi nyeri melalui mekanisme vasokonstriksi dan inhibisi transmisi nyeri pada sistem saraf. Penelitian ini merekomendasikan integrasi kompres dingin sebagai bagian dari manajemen nyeri standar pada pasien hemodialisa untuk meningkatkan kenyamanan selama prosedur.
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN NYERI PASIEN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS
Rahmawati, Ellyza;
Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i1.40575
Hernia inguinalis merupakan kondisi ketika munculnya benjolan di daerah selangkangan atau skrotum. Penatalaksanaan hernia inguinalis dilakukan dengan cara tindakan operasi. Operasi hernioraphy termasuk herniotomy dan hernioplasty. Pasien setelah operasi hernia inguinalis biasanya merasakan nyeri saat bergerak, dengan sensasi nyeri seperti tertusuk. Beberapa pasien mungkin mempertahankan posisi supinasi untuk meredakan nyeri. Nyeri pasca operasi disebabkan oleh luka insisi dan meningkat seiring berkurangnya efek anastesi. Manajemen nyeri dibagi menjadi dua jenis: farmakologis, yakni pemberian analgesik, dan non-farmakologis, yang mencakup distraksi seperti teknik relaksasi otot progresif. Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dan desain pre-post test, melibatkan 5 responden. Karakteristik responden bervariasi dalam usia dan pendidikan, namun semua adalah laki-laki dewasa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi skala nyeri Bourbonnais, serta bolpoin dan kertas. Lembar observasi mencakup lima indikator nyeri: tidak nyeri (skor 0), nyeri ringan (skor 1-3), nyeri sedang (skor 4-6), nyeri berat (skor 7-9), dan nyeri sangat berat (skor 10). Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi hernia inguinalis. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada penurunan skala nyeri yang signifikan pada responden sebelum dan sesudah intervensi, menjadi tingkat nyeri ringan. Penelitian ini berpotensi menjadi referensi dalam asuhan keperawatan sebagai salah satu terapi non-farmakologis untuk membantu mengurangi nyeri setelah operasi.
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUROTTAL TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN POST OPERASI
Safaniah, Zuhro Muyassarotus;
Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i1.43601
Pascaoperasi dimulai saat pasien dipindahkan dari ruang operasi ke ruang pascaoperasi dan berakhir saat pasien pulang. Pasien akan mengalami ketidaknyamanan setelah operasi. Nyeri merupakan pengalaman emosional dan sensoris yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan cedera jaringan atau keadaan yang menyiratkan kerusakan. Nyeri pascaoperasi dapat ditangani secara farmakologis dan nonfarmakologis. Perawatan murottal mengurangi nyeri secara nonfarmakologis. Relaksasi menggunakan perawatan murottal mengurangi ketegangan, kecemasan, dan ketidaknyamanan fisiologis. Perawatan murottal dapat menenangkan penderita dan mengalihkan perhatian mereka dari ketidaknyamanan. Perawatan murottal berlangsung selama 15 menit. Penilaian nyeri dengan NRS. Penelitian ini menemukan bahwa perawatan murottal dapat sangat mengurangi nyeri pascaoperasi pada pasien, menjadikannya pendekatan pemulihan yang sangat baik. Perawatan nyeri nonfarmakologis ini merupakan alternatif yang berharga.
PENGARUH TERAPI MUROTTAL AL-QUR'AN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE DAN POST OPERASI : STUDY CASE
Khusnul Rohadi, Dickta Annafi;
Maliya, Arina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i2.43839
Kecemasan perioperatif merupakan perasaan cemas saat akan menjalani operasi, digambarkan sebagai sensasi samar dan tidak nyaman yang seringkali tidak disadari oleh penderitanya karena sebab yang pasti. Prosedur operasi beresiko timbulnya ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emosional. kecemasan pre operasi digambarkan sebagai salah satu faktor negatif yang dapat mempengaruhi prosedur operasi. Kecemasan ini dapat menimbulkan gejala-gejala fisiologis meliputi hipertensi, takikardia, dan bahkan aritmia. Penelitian ini menggunakan desain uji pra-pasca dan metodologi eksperimental. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana Terapi Murottal Al-Qur'an mempengaruhi tingkatan kecemasan pasien sebelum dan sesudah operasi. Penelitian ini bersifat kuantitatif. Populasi yang di gunakan sejumlah 5 pasien yang dipilih memakai purposive sampling. Untuk memperoleh data penelitian ini, lima pasien yang melaporkan kecemasan sebelum dan sesudah operasi diberikan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Terapi Murottal Al-Qur'an (surat Al-Falaq) selama lima menit. Perolehan riset memperlihatkan dampak setelah diberikan Terapi Murrottal saat pre dan post operasi tampak perubahan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan efektivitas Terapi Murottal Al-Qur’an dalam meminimalisir tingkatan kecemasan pasien operasi. Kesimpulan yang diambil dari beberapa riset ialah bahwa pasien harus menerima intervensi Murottal Al-Qur'an untuk membantu mereka merasa lebih baik. Perawat di rumah sakit dapat memberikan pasien bedah sebuah intervensi alternatif dengan menggunakan terapi Murottal Al-Qur'an non-farmakologis.
The Effectiveness of Listening to Qur'anic Murotal Therapy on Sleep Quality of Patients with Breath Pattern Disorders
Meliana Fitria Salichah;
Arina Maliya
Lentera Perawat Vol. 5 No. 2 (2024): Lentera Perawat
Publisher : STIKes Al-Ma'arif Baturaja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52235/lp.v5i2.335
Breath pattern disturbances can lead to significant sleep disturbances and negatively impact an individual's physical and mental well-being. One non-pharmacological approach that has emerged as an alternative in addressing sleep disturbances is Murotal Qur'an listening therapy. Murotal therapy is an effective nurse-directed intervention that does not require much cost and is easy to perform. The purpose of this case study is to determine the effectiveness of listening to Qur'anic murotal therapy on the quality of sleep of patients with breathing pattern disorders. The method used is to use a pre-post test design. Researchers took samples with purposive sampling technique as many as 5 respondents who experienced a decrease in sleep quality. The sleep quality instrument uses PSQI (Pittsburg Sleep Quality Sleep) which consists of 7 assessment components that have a score of 0-21. Before the intervention, there were 20% of respondents with very poor sleep quality and 80% of respondents with poor sleep quality. After the intervention, there was a change in 60% of respondents with good sleep quality and 40% of respondents with very good sleep quality. This shows that there is a significant difference before and after the Qur'an murotal therapy. This study concludes that Qur'anic murottal therapy is able to improve sleep quality so that this Qur'anic murottal therapy is effective for patients experiencing sleep disorders.
LITERATURE REVIEW : PENGARUH PIJAT ES DAN PENGGUNAAN GEL LIDOKAIN UNTUK MENGURANGI NYERI VASKULARISASI PADA PASIEN HEMODIALISIS
Erwanindyasari, Risma Nuril;
Rizkya, Titania Nur;
Maliya, Arina;
Kurniasari, Dyan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.47117
Nyeri akibat kanulasi fistula arteriovenosa (AVF) merupakan masalah utama pada pasien hemodialisis yang berdampak pada kenyamanan serta kepatuhan terhadap terapi. Pengelolaan nyeri selama prosedur vaskularisasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik. Literature review ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pijat es dan gel lidokain dalam mengurangi nyeri selama insersi AVF pada pasien hemodialisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Literature review dari berbagai database jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2020-2025, menggunakan kata kunci “hemodialisis”, “pijat es”, dan “lidokain gel”. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua intervensi tersebut efektif menurunkan intensitas nyeri secara signifikan. Pijat es bekerja melalui stimulasi titik akupresur, mekanisme gate control, serta pelepasan peptida opioid endogen, sedangkan gel lidokain menghambat transmisi impuls nyeri melalui blokade saluran natrium. Efektivitas kedua metode relatif setara, tanpa perbedaan signifikan secara statistik, sehingga dapat menjadi alternatif sesuai preferensi pasien dan ketersediaan sumber daya. Kesimpulannya, baik pijat es maupun gel lidokain merupakan intervensi nonfarmakologis yang mudah, murah, dan minim risiko untuk mengurangi nyeri kanulasi AVF pada pasien hemodialisis. Implikasi praktisnya, tenaga kesehatan disarankan untuk mempertimbangkan kedua metode ini guna meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pasien selama terapi hemodialisis.
The Relationship Between Dietary Patterns, Physical Activity, and Stress Levels with the Incidence of Hypertension among Adults of Productive Age
Vandika, Danuartha;
Maliya, Arina
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22487/htj.v11i4.1790
Background: Hypertension is a major public health concern among productive-age individuals, influenced not only by genetic factors but also by modifiable lifestyle factors such as diet, physical activity, and stress. Objective: This study aimed to analyze the relationship between diet, physical activity, and stress levels with the incidence of hypertension among individuals in the productive age group. Methods: A quantitative research design with a Cross-Sectional approach was employed using purposive sampling involving 112 hypertensive respondents of productive age, and data were analyzed using the Spearman-Rho correlation test. Results: The findings revealed a significant positive relationship between dietary patterns and hypertension incidence (p = 0.001). More than half of the respondents engaged in light physical activity, and a positive correlation was observed between physical activity and hypertension (p = 0.001). Additionally, stress levels were significantly correlated with hypertension incidence (p = 0.001). These results indicate that poor dietary adherence, low physical activity, and high stress levels contribute to the increasing prevalence of hypertension among productive-age adults. Conclusion: Maintaining a balanced diet, engaging in regular physical activity, and managing stress effectively are crucial strategies to prevent hypertension and promote cardiovascular health in the productive age population.
The Role of Self-Efficacy in Treatment Adherence and Quality of Life Improvement in Hypertensive Patients
Dewi, Aulia Kusuma;
Maliya, Arina
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22487/htj.v11i4.1791
Background: Hypertension is a global health problem that affects quality of life, morbidity, and mortality, with low self-efficacy and poor medication adherence being major barriers to effective management. Objectives: This study aimed to analyze the relationship between self-efficacy, medication adherence, and quality of life among hypertensive patients. Methods: A cross-sectional study was conducted at the Kartasura Health Center from June to November 2024 involving 128 purposively selected respondents. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using statistical tests to determine variable relationships. Results: Most respondents demonstrated low self-efficacy, poor medication adherence, and low quality of life; the majority were females aged 56–65 years with junior high school education. Statistical analysis revealed a significant relationship between self-efficacy and treatment adherence (p < 0.001), as well as between self-efficacy and quality of life (p = 0.002). Furthermore, patients with higher self-efficacy scores exhibited 1.8 times greater adherence and 1.6 times higher quality of life scores compared to those with lower self-efficacy. Conclusion: Self-efficacy plays a pivotal role in enhancing medication adherence and quality of life among hypertensive patients; thus, interventions aimed at strengthening self-efficacy should be prioritized in hypertension management programs.