Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

Kondisi terumbu karang di pulau Salawati kabupaten Raja Ampat Papua Barat Sagai, Bonnke; Roeroe, Kakaskasen; Manembu, Indri
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.2.2017.15947

Abstract

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di laut dangkal tropis, di mana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Fenomena alam dan berbagai kegiatan antropogenik mengancam kesehatan maupun keberadaan terumbu karang. Pengambilan data dilakukan dengan metode UPT (Underwater Photo Transect) atau Transek Foto Bawah Air dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital yang diberi pelindung (housing). Analisis gambar dengan menggunakan piranti software CPCe (Coral Point Count with Excel extensions). Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang ditiga  Stasiun di Pulau Salawati, tutupan terumbu karang di setiap Stasiun adalah sebagai berikut, Stasiun 1 55,13% termasuk dalam kategori baik, Stasiun 2 15,80% termasuk dalam kategori buruk, dan Stasiun 3 18,20% termasuk dalam kategoti buruk.
Identifikasi jenis alga Koralin di pulau Salawati, Waigeo Barat kepulauan Raja Ampat dan pantai Malalayang kota Manado Tampanguma, Biondi; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Manembu, Indri; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14986

Abstract

Alga koralin merupakan kelompok alga laut (seaweed) yang diklasifikasikan kedalam Divisi Rhodophyta, Kelas Florideophyceae, Ordo Cryptonemiales, Famili Corallinaceae. Secara morfologi (external appearance) kelompok famili ini terbagi atas 2 bagian, yaitu: alga koralin bersegmen (articulated/geniculated Coralline Algae) dan alga koralin tidak bersegmen (non-articulated/nongeniculated Coralline Algae). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis alga koralin dan mendeskripsikan morfologi alga koralin. Pengambilan sampel dilakukan di Pulau Salawati, Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat dan Pantai Malalayang Kota Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan bantuan peralatan SCUBA dan diambil pada kedalaman 1-5 meter dengan menggunakan metode survey jelajah. Setiap alga koralin yang di ambil dimasukan ke dalam plastik sampel. Sampel alga koralin di bawah ke Laboratorium Biologi Kelautan FPIK UNSRAT. Selanjutnya, setiap alga diidentifikasi, dicatat dan didokumentasi menggunakan kamera. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi berjumlah 4 spesies alga koralin. Keempat spesies tersebut yaitu 1 Mastophora rosea dari Waigeo Barat, 2 dari Pulau Salawati Amphiroa rigida dan Galaxaura rugosa, dan 1 dari Pantai Malalayang Peyssonnelia caulifera.
KONDISI EKOLOGI DAN NILAI MANFAAT HUTAN MANGROVE DI DESA LANSA, KECAMATAN WORI, KABUPATEN MINAHASA UTARA Takarendehang, Roberto; Sondak, Calvyn F.A.; Kaligis, Erly; Kumampung, Deslie; Manembu, Indri S.; Rembet, Unstain N.W.J.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.2.2018.21526

Abstract

Mangrove forests are biological natural resources that have a variety of potentials that benefit human life both directly and indirectly and can be felt, both by people who live near the mangrove forest area and people who live far from the mangrove forest area. Mangrove forests also have high economic and ecological values but are very vulnerable to damage if they are not wise in maintaining, preserving and managing them. Collecting data to find out the benefits of mangrove forests for the people of Lansa Village is done by survey methods in the form of direct interviews with the community using the ecosystem.Data collection on the ecological conditions of mangroves is carried out by making plots. The number of plots in this study are nine plots. Each plot has a size of 10x10 m. Retrieval of data in this study are: the type of mangrove, the relative density of species, the relative frequency of types, the closure of relative types, and the index of important values. Based on the results of interviews with the community regarding mangrove forests are mangrove regulation services, mangrove provisioning services and mangrove cultural services. The most extensive assessment of the use of mangrove forests is the construction of embankments of Rp. 2,583,300,000 and followed by utilization of fish Rp. 1,521,429,000 and then utilization of fuel wood Rp259.200.000. With the total economic value of the mangrove forest in Lansa Village, it is Rp.4,363,929,000 per year. Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam hayati yang mempunyai berbagai keragaman potensi yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik yang secara langsung maupun tidak langsung dan bisa dirasakan, baik oleh masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan mangrove maupun masyarakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan mangrove. Hutan mangrove juga memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi akan tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksananya dalam mempertahankan, melestarikan dan mengelolahnya. Pengambilan data untuk mengetahui manfaat hutan mangrove bagi masyarakat Desa Lansa dilakukan dengan metode survei dalam bentuk wawancara langsung dengan masyarakat pengguna ekosistem.Untuk pengambilan data kondisi ekologi mangrove dilakukan dengan pembuatan plot. Jumlah plot dalam penelitian ini adalah sembilan plot. Setiap plot memiliki ukuran 10x10 m. Pengambilan data dalam penelitian ini adalah: jenis mangrove, kerapatan relatif jenis, frekwensi relatif jenis, penutupan relatif jenis, dan indeks nilai penting. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat mengenai hutan mangrove adalah mangrove regulation service, mangrove provisioning service dan mangrove cultural services. Penilaian pemanfaatan hutan mangrove yang paling banyak yaitu pembangunan tanggul Rp 2.583.300.000 dan diikuti oleh pemanfaatan ikan Rp 1.521.429.000 dan kemudian pemanfaatan kayu bakar Rp 259.200.000. Dengan jumlah total nilai ekonomi hutan mangrove Desa Lansa adalah Rp 4.363.929.000 per tahun.
Tracing The CRISPR System in The Genomes of The Oscillatoria acuminata and Stanieria cyanosphaera Originated from Malalayang Waters Laliboso, Jurwin A.; Rumengan, Inneke; Ginting, Elvy L.; Manembu, Indri S.; Mantiri, Desy M. H.; Kawung, Nickson J.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66220

Abstract

The CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) system is a specific nucleotide sequence in genomes of certain bacteria and archaea that functions as an adaptive immune system against viral infections and foreign genetic elements. However, not all microorganisms possess CRISPR systems; therefore, bioinformatic approaches are required to trace the occurrence of CRISPR-Cas systems. The objective of this study was to detect CRISPR-Cas systems in genomes of Oscillatoria acuminata and Stanieria cyanosphaera. Both species were identified among 2679 operational taxonomic units (OTUs) of microorganisms associated with ascidian Lissoclinum patella originated from Malalayang waters, based on previously reported metagenomic analyses. These species were selected due to their relatively high abundance and the availability of complete genome sequence data in the NCBI database, which were downloaded as FASTA format and analyzed using CRISPRCasFinder software. The results showed that O. acuminata possesses a complete genome sequence of 7,689,443 bp, containing 80 CRISPR arrays, of which two arrays are associated with Cas systems, and a total of 338 spacers. In the other hand, S. cyanosphaera has a complete genome sequence of 5,041,209 bp, with eight CRISPR arrays, two of which are associated with Cas systems, and a total of 37 spacers. The detected CRISPR loci were visualized using CRISPRCasViewer in three display models: linear, circular, and scatter plot. Further studies are required to determine the specific types of CRISPR-Cas systems present in each microbial genome. Keywords: O. acuminata; S. cyanosphaera; bioinformatics; CRISPRCasFinder; CRISPRCasViewer   Abstrak Sistem CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) merupakan susunan sekuens nukleotida spesifik dalam genom bakteri dan arkaea tertentu yang berfungsi sebagai  sistem imun adaptif mikroba terhadap serangan virus dan materi genetik asing. Namun, tidak semua mikroba memiliki sistem CRISPR, sehingga diperlukan pendekatan analisis bioinformatika untuk mendeteksi CRISPR. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri keberadaan sistem CRISPR-Cas pada genom Oscillatoria acuminata dan Stanieria cyanosphaera. Kedua 2 jenis mikroba ini ditemukan di antara 2679 operational taxonomic units (OTUs) mikroba yang berasosiasi dengan ascidia Lissoclinum patella dari perairan Malalayang, berdasarkan analisis metagenom yang telah dilaporkan sebelumnya.  Kedua spesies ini dipilih karena terdeteksi cukup melimpah, dan ketersediaan data urutan genom lengkap di NCBI. Data urutan genom diunduh dalam format FASTA dan dianalisis dengan perangkat lunak CRISPRCasFinder. Ternyata O. acuminata memiliki  sekuens genom  lengkap  7.689.443 bp dengan 80 unit  sistem CRISPR, dimana ada 2 unit dengan sistem Cas, serta 338 spacer. Sedangkan S. cyanosphaera memiliki sekuens genom lengkap sekitar 5.041.209 bp dengan 8 unit CRISPR, dan 2 unit dengan sistem Cas serta 37 spacer. Hasil deteksi CRISPR divisualisasikan menggunakan CRISPRCasViewer dalam tiga model tampilan, yaitu Linear, Circular, dan Scatter Plot. Selanjutnya, ke depan perlu penelusuran lebih lanjut untuk menentukan tipe CRISPR-Cas pada setiap genom mikroba tersebut. Kata Kunci: O. acuminata; S. cyanosphaera; bioinformatika; CRISPRCasFinder; CRISPRCasViewer  
Determination of Dominant Mangrove Species and Comparison of Tree and Sapling Composition in The Mangrove Area of Sonsilo Village, West Likupang District, North Minahasa Regency Mandei, Kania F.A.; Rumengan, Antonius P.; Paruntu, Carolus P.; Manembu, Indri S.; Ginting, Elvy L.; Djamaluddin, Rignolda
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66590

Abstract

Mangrove forests are key ecosystems in tropical coastal areas that function as environmental stability guards through physical roles (preventing erosion and tsunamis), chemical (absorbing pollutants and storing carbon), and biological (marine biota habitat and source of biodiversity). This study aims to identify the species and determine the dominant species of mangroves and the comparison of tree and sapling composition in the mangrove area of ​​Sonsilo Village, West Likupang District, North Minahasa Regency.  The research was conducted over three months (September–November 2024) using a purposive sampling method to collect data on density, canopy cover, and species frequency. The results revealed seven mangrove species: A. marina, B. gymnorrhiza, C. tagal, R. apiculata, R. mucronata, S. alba, and X. granatum.  Among these, three species (B. gymnorrhiza, R. apiculata, and R. mucronata) were dominant at both tree and sapling levels, exhibiting the highest Importance Value Index (IVI).  Mangrove species diversity in the area is categorized as low to moderate, as indicated by the Shannon-Wiener Diversity Index (H'), reflecting that species richness is not yet fully optimal. Analysis of the Dominance Index (D) and Evenness Index (J') suggests a relatively even distribution of individuals among species.  The study recommends regular monitoring and evaluation, as well as conservation efforts, to maintain the stability of the mangrove ecosystem and support its sustainable use. These findings highlight the importance of biodiversity management in preserving the ecological balance of mangrove habitats. Keywords: Sonsilo Village, mangroves, mangroves composition
Ecological Analysis of Megabenthos in Coral Reef Ecosystems of The Waters Surrounding Bahoi Village, North Minahasa Regency Grathia Charity; Manembu, Indri S.; Mamangkey, N. Gustaf F.; Rumengan, Antonius P.; Boneka, Farnis B.; Tilaar, Sandra O.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65927

Abstract

Megabenthos are a group of organisms larger than 1 cm that inhabit the seafloor and are sensitive to environmental changes. Information regarding megabenthos in Bahoi Village has not yet been published; therefore, this study was conducted to fill the data gap related to benthic community structure in the area. Data were collected at three stations representing different levels of ecological pressure using the Benthos Belt Transect  method, with a transect length of 70 m and an observation width of 2 m, resulting in a total surveyed area of 140 m² per station. Target megabenthos recorded included Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, and Drupella cornus. Based on the analysis, Station 1 (near settlement and non-MPA) showed densities of Diadema spp. of 2.11 ind/m², Linckia laevigata of 0.04 ind/m², Tridacninae of 0.03 ind/m², and Drupella cornus of 0.07 ind/m², with H’ = 0.29, C = 0.88, and E = 0.2. Station 2 (MPA) recorded densities of Diadema spp. of 0.007 ind/m², Linckia laevigata of 0.029 ind/m², Tridacninae of 0.014 ind/m², and Drupella cornus of 0.014 ind/m², with H’ = 1.27, C = 0.30, and E = 0.9. Station 3 (far from settlement and non-MPA) showed densities of Linckia laevigata of 0.19 ind/m² and Diadema spp. of 0.07 ind/m², with H’ = 0.58, C = 0.61, and E = 0.8. The patterns of ecological indices indicate a strong relationship between the intensity of human intervention and habitat characteristics in determining the stability of megabenthic communities. Keywords: megabenthos, coral reefs, community, benthos belt transect, Bahoi Village   Abstrak Megabentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar laut dan berukuran lebih dari 1 cm yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai megabentos di Desa Bahoi hingga kini belum dipublikasikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan data terkait struktur komunitas bentik di wilayah tersebut. Pengumpulan data dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili perbedaan tingkat tekanan ekologis menggunakan metode Benthos Belt Transect sepanjang 70 m dengan lebar pengamatan 2 m sehingga total area pengamatan 140 m² per stasiun. Megabentos target yang ditemukan meliputi Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, dan Drupella cornus. Berdasarkan analisis data, Stasiun 1 (dekat permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 2,11 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,04 ind/m², Tridacninae sebesar 0,03 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,29, C=0,88, dan E=0,2. Stasiun 2 (DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 0,007 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,029 ind/m², Tridacninae sebesar 0,014 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,014 ind/m² dengan H’=1,27, C=0,3 dan E=0,9. Stasiun 3 (jauh dari permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Linckia laevigata sebesar 0,19 ind/m² serta Diadema spp. sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,58, C=0,61 dan E=0,8. Pola indeks ekologi menunjukkan hubungan kuat antara tingkat tekanan intervensi manusia dan karakteristik habitat terhadap stabilitas komunitas megabentos. Kata kunci: megabentos, terumbu karang, komunitas, benthos belt transect, Desa Bahoi
Identification and Density of Bivalves on Coral Reef Flats in The Water of Mandolang and Malalayang, North Sulawesi Lolaro, Wildy; Ompi, Medy; Manembu, Indri; Djamaludin, Rignolda; Roeroe, Kakaskasen; Rimper, Joice
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66011

Abstract

The research problems addressed in this study were what species of bivalve and what densities each species of bivalves inhabit on the coral reef flats both  Mandolang and Malalayang, North Sulawesi. This study aimed to identify the species of bivalves and the species density of bivalves.  Data were collected using a belt transect method measuring 20 m in length and 1 m in width on both the left and right sides of the transect line at a depth of 3 m. Three belt transects as replicates were deployed at each site of coral reef.  All specimens of bivalves encountered were documented and identified, and species density values were subsequently calculated. The results revealed four bivalve species, namely Tridacna maxima, Tridacna crocea, Ruditapes philippinarum, and Barbatia barbata. T. crocea, T. maxima, and R. philippinarum were identified only in Mandolang, whereas R. philippinarum, B. barbata, and T. crocea were identified in Malalayang. Furthermore, R. philippinarum and T. crocea were found in both Mandolang and Malalayang. Bivalve density in Mandolang varied among species, with T. crocea at 2.67 ind/40 m² (0.07 ind/m²), T. maxima at 1.33 ind/40 m² (0.03 ind/m²), and R. philippinarum at 0.67 ind/40 m² (0.02 ind/m²). Similarly, in Malalayang waters, R. philippinarum showed the highest density at 10.33 ind/40 m² (0.26 ind/m²), while B. barbata and T. crocea exhibited the same average density of 1.33 ind/40 m² (0.03 ind/m²). Key words: Bivalves, Density, Coral reef, Mandolang, Malalayang   Abstrak Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja jenis- jenis bivalva yang menempati habitat terumbu karang di Perairan Mandolang dan Malalayang, Sulawesi Utara, dan bagaimana kepadatan jenis-jenis bivalvia di perairan Mandolang dan Malalayang Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bivalva yang menempati substrat karang serta mengetahui kepada jenis-jenis bivalva yang menempati rataan karang di Mandolang dan Malalayang Sulawesi Utara. Metode pengambilan data menggunankan belt transect sepanjang 20m dengan lebar 1m ke kiri dan 1m ke kanan garis transek pada ke dalaman 3 meter. Tiga ‘belt transek’ sebagai ulangan telah digunakan dalam pengambilan sampel di setiap rataan karang ini.  Sampel yang ditemukan didokumentasikan dan diidentifikasi, kemudian nilai kepadatan jenis bivalvia dihitung.  Hasil penelitian terdapat empat jenis bivalvia, yaitu T. maxima, T. crocea, Ruditapes philippinarum, dan  Barbatia barbata.  T. crocea, T. maxima, Ruditapes philippinarum teridentifikasi hanya di Mandolang, sedangkan Ruditapes philippinarum, Barbatia barbata, T. crocea teridentifikasi hanya di Malayang.  Ruditapes philippinarum, dan T. crocea teridentifikasi baik di Mandolang dan Malalayang.  Kepadatan bivalvia pada perairan Mandolang bervariasi menurut jenis, yaitu T. crocea (2,67 ind/40m2) atau 0,07 ind./m2, T. maxima (1,33 ind/40m2) atau 0,03 ind./ m2, dan Ruditapes philippinarum 0,67 ind/40m2 atau 0,02ind./ m2), demikian pula dengan yang di Malalayang, yaitu: Ruditapes philippinarum dengan 10,33 ind/40m2, atau 0,26 ind./m2, selanjutnya masing jenis memiliki kepadatan rata-rata yang sama, yaitu Barbatia barbata dan T. crocea dengan 1,33 ind./40m2, atau 0,03 ind./ m2. Kata kunci: Bivalvia, Kepadatan, Terumbu karang, Mandolang, Malalayang
Co-Authors Alex D. Kambey Alfret Luasunaung Antonius P. Rumengan Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Arunde, Preti Azani, Audia Azizah Billy Theodorus Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Coloay, Clive Griffen D Bengen Darmono, Oktaviano P. Darwasito, Suria Daryanto, Adityas Andrew Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Dien, Heffry Veibert Dietriech Geoffrey Bengen dumas, Davis Wijaksana Extrada Edwin D Ngangi Ekel, Jouvan Randy Elvy L. Ginting, Elvy L. Erly Kaligis Erly Y. Kaligis, Erly Y. F Yulinda Farnis B. Boneka Farnis Boneka Fauzanabri, Renno Ferdinan Yulianda Ferdinand Frans Tilaar Ginting, Elvy Like Grathia Charity Grevo S Gerung Gustaf Mamangkey Hermanto W. K. Manengkey Inneke F. M Rumengan Janny D Kusen Jardie A. Andaki Joice R.T.S.L Rimper Joshian N.W. Schaduw Kalebos, Roosa C. Kambey, Alex Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Kumampung, Deslie L.A Adrianto Lalamentik, Laurentius Th. X. Laliboso, Jurwin A. Lawrence J. L. Lumingas Lenak, Maria Magdalena Lintang, Rosita Anggreiny J Lolaro, Wildy Losu, Anggun Luasunaung, Alfrets Luky Adrianto Lumingas, Aaron R. T. Luturkey, Maureen Fenesya Makapedua, Daisy M. Malinggas, Christin R.M Mamangkey, Noldy G.F Mamangkey, Noldy G.F. Mandagi, Stephanus Vianny Mandei, Kania F.A. Manengkey, Hermanto W. K Manengkey, Hermanto W.K. Manengkey, Hermanto Wem Kling Mangindaan, Remy Manopo, Victoria E. N. Mantiri, Desy M. H Mantiri, Rose Manu, Lusia Markus T. Lasut Maryen, Yakob Oskar Maxs, Marten Medy Ompi N. Gustaf F. Mamangkey Natalie D Rumampuk Naung, Pelia Nickson J. Kawung, Nickson J. Ode Mantra, Syahrun Oli, Aris Putra Pratiwi, Utary Purba, Dhebby Rangan, Jety K. Ridwan Lasabuda Rignolda Djamaluddin Rignolda Djamaludin Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Roeroe, Wailan Rumampuk, Natalie Detty Rumengan, Antonius Petrus Sagai, Bonnke Sambali, Hariyani Sandra Tilaar Silvana Dinaintang Harikedua Sinjal, Cathrien A. L Sinjal, Chatrien A. L Siti Suhaeni, Siti Stenly Wullur Stephanus V Mandagi Sumilat, Deiske Adeleine Suzanne L Undap Takarendehang, Roberto Tampanguma, Biondi Unstain N. W. J. Rembet, Unstain N. W. J. Unstain N.W.J. Rembet Veibe Warouw Yogo Pamungkas, Yogo