Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL ISTEK

STUDI POPULASI DAN DISTRIBUSI KUKANG JAWA (Nycticebus javanicus, E. Geoffroy, 1812) DI TALUN DESA SINDULANG KECAMATAN CIMANGGUNG SUMEDANG JAWA BARAT Ana Widiana; Samsul Sulaeman; Ida Kinasih
JURNAL ISTEK Vol 7, No 1 (2013): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata yang termasuk famili Lorisidae. Saat ini kukang dikategorikan sebagai satwa langka dan terancam punah. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan populasi dan distribusi kukang jawa yaitu adanya penebangan pohon atau penyeragaman tanaman. Talun merupakan salah satu tempat yang dijadikan kukang jawa sebagai habitat hidupnya. Lokasi yang memiliki kawasan talun yang cukup luas yaitu Desa Sindula Kecamatan Cimanggung Sumedang Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui populasi dan distribusi kukang jawa yang terdapat di Talun Desa Sindula Kecamatan Cimanggung Sumedang Pengumpulan data distribusi dilakukan dengan memetakan koordinat lokasi-lokasi ditemukannya kukang jawa. Densitas dan kepadatan populasi kukang jawa dihitung dari total individu dibagi dengan luas lokasi penelitian. Luas daerah yang dihitung adalah luas perkiraan area yang dijadikan lokasi penelitian yang diduga terdapat kukang jawa. Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan terdapat 21 individu kukang jawa di Desa Sindulang yang tersebar di blok Jamuaer dan blok Leuwiliang, sedangkan pada blok Cigumentong, blok Ciseupan,dan blok Sindulang tidak ditemukan kukang jawa. Kepadatan populasi kukang jawa di Talun Desa Sindulang adalah 0.41 individu/ha.
PENGARUH TIGA JENIS INSEKTISIDA KARBAMAT TERHADAP KEMATIAN DAN BOBOT TUBUH CACING Eisenia fetida Ida Kinasih; Astuti Kusumorini; Asep Komarudin
JURNAL ISTEK Vol 8, No 1 (2014): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang toksikologi lingkungan di daerah tropis masih sedikit yang meneliti tentang pengaruh pestisida terhadap ekosistem dalam tanah. Beberapa organisme dapat dijadikan sebagai indikator tercemarnya suatu lingkungan. Di antara organisme tersebut adalah cacing tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efek dari residu pestisida terhadap tingkat mortalitas dan pertumbuhan dari cacing tanah yang umum ditemukan pada sistem pertanian. Penelitian ini menggunakan tiga jenis insektisida berbahan aktif karbamat yang diujikan ke Eisenia fetida, yaitu Karbofuran 3%, Karbosulfan 200, 11 g/l dan BiPhenil Methil Carbamate (BPMC) 500 g/l. Hasil penelitian menunjukkan kematian tertinggi dari cacing tanah E. fetida diperoleh pada konsentrasi 300 mg/kg untuk semua jenis insektisida. Begitu juga dengan bobot tubuhnya, dimana bobot tubuh cacing tanah E. fetida mengalami penurunan yang paling tinggi pada konsentrasi 300 mg/kg untuk semua jenis insektisida. Morfologi yang ditunjukkan akibat keracunan insektisida pada umumnya yaitu kulit menjadi terdegradasi dan pecah, klitelium pecah serta menyusut.Hasil analisa probit menunjukkan LC 50 dari ketiga jenis insektida tersebut menunjukkan nilai yang berbeda-beda. LC 50 untuk insektisida BPMC memiliki toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua jenis insektisida lainnya yaitu sebesar 169,82 mg/kg. Insektisida karbosulfan memiliki nilai LC 50 173,78 mg/kg, sedangkan insektisida karbofuran memiliki nilai LC 50 paling rendah yaitu sebesar 188,21 mg/kg.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN BABADOTAN (Ageratum conyzoides Linn) TERHADAP IKAN MAS ( Cyprinus carpio Linn.) SEBAGAI ORGANISME NON-TARGET Ida Kinasih; Ateng Supriyatna; Roma Nugraha Rusputa
JURNAL ISTEK Vol 7, No 2 (2013): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun babadotan (Ageratum conyzoides Linn) mengandung senyawa Pirolizidin alkaloida dengan struktur kimia berupa Lycopsamin dan Echinatin, yang telah dikembangkan sebagai pestisida alami walaupun masih dalam skala terbatas. Kedua senyawa tersebut bersifat toksik terhadap serangga Lepidoptera, larva nyamuk Aedes aegypti dan mampu membasmi hama penggerek pucuk mahoni. Akan tetapi pengaruh senyawa toksik daun A. conyzoides terhadap hewan non-target masih belum banyak diujikan. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji toksisitas ekstrak daun A. conyzoides terhadap organisme non-target yaitu ikan mas (Cyprinus carpio Linn). Metode yang digunakan meliputi dua tahapan yaitu uji pendahuluan, dan uji lanjut. Uji pendahuluan menggunakan konsentrasi berdasarkan seri logaritma yaitu 0,01 mg/L, 0,1 mg/L, 1 mg/L, 10 mg/L, 100 mg/L. Berdasarkan uji pendahuluan, maka pada uji lanjut tentukan 6 konsentrasi termasuk kontrol, yaitu kontrol, 15 mg/L, 22 mg/L, 32 mg/L, 46 mg/L, dan 68 mg/L. Hasil uji lanjut menunjukan bahwa nilai LC50 dari ekstrak daun A. conyzoides adalah 32, 012 gr/L dan berada pada rentang 29,239-34,984 mg/L. Semakin tinggi konsentrasi yang dilarutkan pada media hidup ikan mas maka tingkat kelulusan hidup ikan mas akan semakin rendah.
PERBEDAAN KEANEKARAGAMAN DAN KOMPOSISI DARI SERANGGA PERMUKAAN TANAH PADA BEBERAPA ZONASI DI HUTAN GUNUNG GEULIS SUMEDANG Ida Kinasih; Tri Cahyanto; Zhia Rizki Ardian
JURNAL ISTEK Vol 10, No 2 (2017): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keanekaragaman merupakan salah satu indikator kestabilan suatu komunitas. Salah satu sumber daya yang berperan dalam komunitas adalah serangga permukaan tanah. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu, sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor. Hutan Gunung Geulis yang sebagian dikelola masyarakat berpengaruh pada kelimpahan, distribusi dan keanekaragaman jenis biota penghuni Hutan termasuk serangga permukaan tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman, kelimpahan dan distribusi serangga permukaan tanah pada dua zonasi di Hutan Gunung Geulis yang berbatasan dengan desa Jatiroke. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari hingga Februari 2014 dengan menggunakan metode survei yaitu pengambilan sampel serangga secara langsung dengan menggunakan pitfall trap. Setiap zonasi dipasang 30 pitfall trap. Jebakan dipasang selama 24 jam dan dilakukan sampling setiap satu minggu sekali selama 5 minggu. Selain itu juga mencatat faktor lingkungan seperti kelembaban tanah, pH tanah, dan ketebalan seresah. Hasil penelitian didapat pada zona 2 (600 mdpl) terdapat jumlah individu serangga yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan zona 1 (400 mdpl), dengan komposisi serangga 7 ordo dengan 14 famili dari (1001 individu) pada zona 1, sedangkan pada zona 2 didapatkan 6 ordo dengan 13 famili dari (1077 individu). Adanya perbedaan pH tanah, ketebalan serasah, serta vegetasi pada kedua zona tersebut memungkinkan adanya perbedaan keanekaragaman dan komposisi serangga tanah.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN INFUSUM CACING TANAH (LUMBRICUS RUBELLUS) DENGAN TAMBAHAN KITOSAN UDANG PADA SALMONELLA THYPI Yani Suryani; Listia Wati Sophia; Tri Cahyanto; Ida Kinasih
JURNAL ISTEK Vol 9, No 2 (2015): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan senyawa lumbricin dan bioaktif lainnya dari cacing tanah (Lumbricus rubellus) untuk obat tradisional, memiliki keterbatasan yaitu mudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh pemanasan, pengolahan dan pada saat penyimpanan. Untuk itu diperlukan bahan pendukung agar senyawa bioaktif (lumbricin) yang terkandung dalam cacing tanah (L. rubellus) yaitu dengan menggunakan kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tambahan kitosan terhadap aktivitas antibakteri ekstrak cacing tanah pada S. thypi dengan melakukan pengujian antibakteri dilakukan dengan metode sumur (difusi agar), serta juga dilakukan uji antioksidan dengan metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil). Hasil penelitian ini yaitu konsentrasi optimum pemberian kitosan pada infusum cacing tanah dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. thypi adalah 1% dengan diameter zona hambat sebesar 1,09 mm. perlakuan kombinasi kitosan dengan infusum cacing tanah memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 antara 31,51 – 93,44 ppm.
Co-Authors Abdul Rosyad Achadiyani Adawiyah, Ayuni Adin, Adriyanita Adisty Virakawugi Darniwa Afriansyah Fadillah Agus Dana Permana Agus Dana Permana Ahmad Sopian, Ahmad Alfariana Margareta Ana Widiana Ana Widiana Anggita Rahmi Hafsari, Anggita Rahmi ANJARNISA RUSTAM, FAJRINA Ardyanty, Putry Asep Komarudin Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna, Ateng Azkia, Syifa Raisatul Damanik, Naomi Florenata Dewangga, Rezha Tanu Farah Aini Adiba Fatmalasari, Yenyen Finsa Firlana Gusmara Fitria Nur Aisyah Gunawan, Fikri Iqlilah Hani Hidayah Hermawan, Endang Hery Purnobasuki Hilda Ayu Emalia Hufaizah, Pajar Husna, Inayati Zakiyatun Intan Josefin Purba Julio Subagio Kamilah, Mutiara Mila Kurniawan, Isma Dwi Latama, Zahra Nabila Leksikowati, Sovia Santi Lia Faridah Listia Wati Sophia Margareta, Alfariana Mohamad Agus Salim Mohamad Agus Salim Muhammad Efendi, Muhammad Muhammad Yusuf Nurhadi Nida Hidayaturrohmah Novitasari Novitasari Novitasari Nurmina Arofah Nurul Aulia Fitri Nurulfah, Auliya Oktaviani, Indah Putra, Ramadhani R.C. Hidayat Soesilohadi Raeka Okata Soebakti Rahmat Taufik MA Rahmawati, Tiara Ramadan, D Beta Ramadhani Eka Putra Ramadini Aini Anitasari Rasyid, Sayyidah RIKA RAFFIUDIN Risda Arba Ulfa Risda Arba Ulfa Rizal Maulana Hasby, Rizal Maulana Roma Nugraha Rusputa Rosmiati, Mia Rusdy Syachrul Nugraha Samsul Sulaeman Sari, Anggraeni Arum Sari, Dian Anggria Savira Ekawardhani Setiyarni, Eka SETYARNI, EKA Tri Cahyanto Tri Cahyanto Ucu Julita, Ucu Yani Suryani Yani Suryani Yeyet Setiawati Yuni Kulsum ZAKIYATUN USNA, INAYATI Zhia Rizki Ardian