Maya Melati
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 82 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Kompatibilitas Sumber Inokulan FMA Lokal dan Periode Penjenuh Terhadap Karakteristik Agronomi Tebu (Saccharum officinarum L.) Sefrila, Marlin; Ghulamahdi, Munif; Purwono, Purwono; Melati, Maya; Mansur, Irdika
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.62360

Abstract

Permasalahan pada lahan pasang surut dapat diatasi dengan penerapan sistem teknologi pertanian spesifik lokasi seperti penerapan sistem budidaya jenuh air dan pemanfaatan mikroorganisme lokal seperti jamur mikoriza arbuskular (FMA) sehingga lahan pasang surut marginal dapat menjadi lahan produktif dan tanaman tebu dapat berproduksi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan beberapa sumber inokulan FMA lokal dan periode pasang surut dan jenuh air terhadap karakteristik agronomi tebu. Percobaan menggunakan Rancangan Blok Lengkap Teracak dengan dua faktor. Faktor pertama adalah inokulasi FMA yang terdiri dari tanpa inokulasi, inokulan jagung, inokulan kedelai, inokulan tebu, dan inokulan tanaman gabungan (tebu-kedelai). Faktor kedua adalah lamanya kejenuhan yaitu 0, 2 dan 4 bulan setelah tanam, sehingga terdapat 15 perlakuan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara sumber inokulan dan lama kejenuhan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan fisiologis. Aplikasi berbagai sumber inokulan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan fisiologi tanaman tebu, khususnya sumber inokulan jagung. Baik pada umur 2 maupun 4 bulan setelah tanam, kondisi jenuh tanah menunjukkan pertumbuhan dan respons fisiologis terbaik dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional (tanpa kondisi jenuh).
Pengaruh Interval Panen terhadap Pertumbuhan dan Produksi Daun Legundi (Vitex trifolia L.) Haryanto, Pesol; Kurniawati, Ani; Melati, Maya
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 1 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i1.51576

Abstract

Tanaman legundi (Vitex trifolia L.) merupakan salah satu tanaman obat yang dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional. Tanaman legundi dipanen daunnya untuk diambil bahan aktifnya, yaitu viteksikarpin sebagai fitofarmaka bahan obat asma. Legundi adalah tanaman tahunan yang daunnya dapat dipanen berulang. Salah satu teknologi produksi tanaman adalah penentuan waktu panen yang tepat agar mendapatkan produksi dan kualitas maksimal. Penelitian ini bertujuan menetapkan interval panen yang tepat agar menghasilkan produksi daun Legundi yang maksimal. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB di Cikabayan, Dramaga, Bogor pada ketinggian tempat 240 m dpl dengan jenis tanah Latosol. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak faktor tunggal yaitu interval panen (2, 4, 6, dan 8 minggu sekali) dan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan produksi daun Legundi tertinggi didapatkan dengan interval panen 4 minggu sekali. Interval panen yang lebih panjang menghasilkan tanaman yang lebih tinggi dengan produksi daun yang lebih rendah. Kata kunci: fitofarmaka, simplisia, tanaman obat, viteksikarpin
Produksi Polong Muda dan Biji Kering Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) dengan Pengaturan Ajir dan Mulsa Nurbani, Hilmi; Melati, Maya; Syukur, Muhamad
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 1 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i1.54537

Abstract

Kecipir merupakan tanaman pangan sumber protein dan berpotensi sebagai alternatif kedelai. Peningkatan produksi tanaman kecipir dapat dilakukan melalui perluasan areal tanam, pemuliaan, dan peningkatan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakter pertumbuhan tanaman, produksi polong muda dan biji kecipir dengan berbagai teknik penggunaan ajir dan mulsa. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Bogor, Jawa Barat sejak bulan Maret sampai September 2021. Percobaan menggunakan kecipir varietas Melody IPB dan terdiri atas dua percobaan yaitu produksi polong muda dan produksi biji kering. Setiap percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor dengan tiga ulangan. Faktor yang digunakan adalah pengaturan ajir dan mulsa terdiri atas (1) menggunakan ajir + mulsa, (2) menggunakan mulsa, (3) menggunakan ajir, (4) tanpa ajir dan mulsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ajir dan mulsa menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi untuk produksi polong muda (5.01 ton ha-1) dan biji kecipir (2.04 ton ha-1) dibandingkan perlakuan lainnya. Produktivitas polong muda yang dibudidayakan dengan menggunakan ajir nyata lebih tinggi daripada dengan mulsa saja, sedangkan untuk produktivitas biji kering tidak berbeda nyata antara yang dengan ajir maupun dengan mulsa saja. Kata kunci: Melody IPB, protein biji kecipir, rendemen biji, tanaman merambat, ukuran polong
Impact of Biofertilizer and Inorganic Fertilizers on Soil Available Phosphorus, Productive Tillers, and Rice (Oryza sativa L.) Yield Ngui, Marianus; Melati, Maya; Muhimmatul, Husna
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol. 29 No. 3: September 2024
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts.2024.v29i3.143-148

Abstract

The use of Bacillus bacteria as biofertilizers (BF) increases since the detrimental effects of inorganic fertilizers on the agricultural environment spread out. The objective of this research was to study the influence of bio fertilizer and in combination with inorganic fertilizer on the productivity of rice fields. The experiment was a two-factor treatment arranged in a split-plot design with three replications using a randomized complete block design (RCBD). The first factor was fertilizers, which were used as the main plot. The second factor was paddy varieties as a subplot. The results showed that the combination of inorganic and bio fertilizer application of (150 kg NPK ha-1 + 75 kg Urea ha-1 + 4 L BF ha-1) and (300 kg NPK ha-1 + 150 kg Urea ha-1 + 4 L BF ha-1), improved soil available phosphorous (P) of 12.04%, 40.69%, and 44.05%, respectively compared to control treatment, the inorganic fertilizer application (300 kg NPK ha-1 + 150 kg Urea ha-1), and the bio fertilizer application (4 L BF ha-1). In addition, the application of (300 kg NPK ha-1 + 150 kg Urea ha-1 + 4 L BF ha-1) increased productive tillers per plant as 28.13% and 16.48% compared to the control and the inorganic application, respectively. Moreover, by using Mekongga variety, applying the inorganic and bio fertilizer at rates of (300 kg NPK ha-1 + 150 kg Urea ha-1 + 4 L BF ha-1) increased rice yield of 64.08% and 30.33% compared to the control and the inorganic fertilizer application; while, by using IPB 3S variety, the rice yield increased by 85.80% and 10.34%, respectively. These findings are significant as they demonstrate the potential of biofertilizers to enhance soil fertility and rice productivity, thereby advancing sustainable farming practices.
Humic acid and chicken manure improve growth and productivity of organic edamame Hanessa Putry, Regata Ringga; Melati, Maya; Ghulamahdi, Munif
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 53 No. 2 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24831/jai.v53i2.63915

Abstract

Edamame (Glycine max L.), a soybean harvested for young pods, has high nutritional content and is promising as an export commodity. Here, organic edamame was produced by incorporating chicken manure and humic acid. This study aimed to evaluate the effects of chicken manure, humic acid, and their interaction on the growth and productivity of edamame. The study used a factorial randomized complete block design with two factors and three replications, and it was carried out at the IPB Experimental Station, Cikarawang A, Dramaga, Bogor, from May to September 2024. The first factor was chicken manure: 0, 8, 16, and 24 tons ha-1, and the second factor was humic acid: 0, 30, 60, and 90 kg ha-1. Vegetative variables were observed at 5 weeks after planting (WAP). The relative growth rate (RGR) and net assimilation rate (NAR) were determined from the period between 3 and 5 WAP. Yield components included the number, length, and weight of pods and pod yield. The results showed that the interaction of chicken manure and humic acid significantly increased root length, RGR, number of flowers, number of productive nodes, plant fresh weight, plant dry weight, pod weight per plant, and pod yield. Chicken manure at 9.5 tons ha-1 and humic acid at 90 kg ha-1 were the optimum doses to significantly increase pod yield. This study highlights the potential use of humic acid to reduce the amount of chicken manure demand in organic farming systems. Keywords: leaf greenness; net assimilation rate; nutrient levels; organic fertilizer; relative growth rate
Effect of row orientation and cowpea row numbers on sweet corn-cowpea intercropping Fajri, Atikah; Heni Purnamawati; Melati, Maya
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 53 No. 2 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24831/jai.v53i2.66676

Abstract

Intercropping between sweet corn (Zea mays L. var. saccharata Sturt) and cowpea (Vigna unguiculata L. Walp) can improve land productivity, but requires optimization of row orientation and cowpea row number. This study evaluated the effects of row orientation and cowpea row number on the growth, yield, and economic performance of sweet corn–cowpea intercropping. The experiment was conducted from June to September 2024 at the IPB experimental field in Sawah Baru, Bogor, Indonesia. A split-plot design with four replications was employed. The main plots consisted of two row orientations (North–South and East–West), while the sub-plots included maize monoculture, intercropping with one row, and two rows of cowpea. A significant interaction between row orientation and cowpea row number was observed on maize height, leaf number, and stem diameter at two weeks after planting. Although row orientation did not significantly affect maize and cowpea performance, the East–West orientation increased cowpea yield by 14.6% and reduced maize yield by 5.3% compared to the North–South orientation. The East–West orientation combined with one cowpea row produced the highest land equivalent ratio (LER = 1.93) and benefit–cost ratio (R/C = 1.45). Keywords: LER, R/C ratio, aggressivity, competitive ratio
Perbedaan Waktu Panen Daun terhadap Produksi dan Kadar Flavonoid Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Hasan, Fardyansjah; A. Aziz, Sandra; Melati, Maya
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.725 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.2.136-145

Abstract

ABSTRACT Perennial sow-thistle (Sonchus arvensis L.) has been traditionally used as a medicinal plant. It contains secondary metabolites with several functions mainly as antioxidant, and its ability to dissolve kidney stones. It is expected that proper harvest time could increase leaf production and secondary metabolites, especially flavonoids. This study aimed at determining harvest time and flavonoid production of Perennial Sow-thistle. The research was conducted in July 2015 to December 2015 at IPB Organic Farm Cikarawang, Dramaga, Bogor. This study used randomized block design with single factor namely harvest time and 3 replications. There were 4 harvest time treatments i.e. (1) leaves harvested gradually i.e. basal leaves at vegetative then upper leaves harvested at early generative stage, (2) leaves harvested gradually i.e. basal leaves at vegetative then upper leaves harvested at maximum generative stage, (3) basal leaves harvested together with upper leaves at early generative stage, and (4) basal leaves harvested together with upper leaves at maximum generative stage. The result showed that basal leaves were harvested at  vegetative stage then stem leaves harvested at maximum generative stage produced the highest fresh weight of upper leaves. Total flavonoids content were found the highest in upper leaf when basal leaves harvested together with the upper leaves at budding and flowering. Keywords: leaf area, luteolin, nutrient content, organic ABSTRAKTempuyung (Sonchus arvensis L.) secara tradisional telah digunakan sebagai tumbuhan obat. Tempuyung mengandung metabolit sekunder dengan beberapa fungsi utama yaitu sebagai antioksidan dan peluruh batu ginjal. Diharapkan pengaruh waktu panen dapat meningkatkan produksi daun dan kandungan metabolit sekunder terutama flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk menentukan waktu panen dan produksi flavonoid tempuyung. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2015 di kebun percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktor tunggal yaitu waktu panen. Terdapat 4 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali yaitu: (1) panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen saat terbentuk kuncup bunga, (2) panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen setelah bunga mekar, (3) panen daun bawah bersamaan dengan daun atas saat terbentuk kuncup bunga, dan (4) panen daun bawah bersamaan dengan daun atas setelah bunga mekar. Hasil penelitian menunjukkan panen daun bawah secara bertahap dan kemudian panen daun atas setelah bunga mekar menghasilkan bobot basah daun atas tertinggi. Panen daun secara bersamaan menghasilkan kadar flavonoid total daun atas tertinggi.Kata kunci: kadar hara, luas daun, luteolin, organik
Perbaikan Kualitas Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.) Kultivar Kristal dengan Berbagai Warna dan Bahan Pemberongsong Romalasari, Atika; Susanto, Slamet; Melati, Maya; Junaedi, Ahmad
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.451 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.3.155-161

Abstract

ABSTRACT Kristal guava is one of the popular guava cultivars nowadays. The guava has white flesh and not-perfectly-round shaped that resembles a crystal and seedless. However, during the growth period fruit undergoes several physical and chemical changes and susceptible to insect infestation and other damage, all of which can reduce their commercial value and thus cause significant yield and economic losses. The aim of this research was to evaluate the influence of different color and bagging materials on guava fruit development and quality. The research was conducted at farmer farm located in Cikarawang Dramaga, from November 2013 to April 2014. This research was arranged in a randomized block design with one factor, consisted of ten treatments and five replications. The treatments were red plastic, yellow plastic, green plastic, blue plastic, sponnet with red plastic, sponnet with yellow plastic, sponnet with green plastic, sponnet with blue plastic, sponnet with transparent plastic and unbagged. Fruit quality assesment was conducted in Postharvest Laboratory of Agronomy and Horticulture Department, Bogor Agricultural University and Center for Tropical Horticultural Studies. The result showed that bagging improved fruit size, external quality and accelerated fruit maturity. Sponnet with red plastic bagging resulted in the biggest fruit at harvest. Sponnet with yellow or with red plastic baggings were able to maintain fruit peel smoothness up to 85%. Sponnet and plastic bagging resulted in better external quality than bagging with plastic only. Bagging did not show any effect on internal fruit quality. Keywords: colored bag, guava cv. Kristal, soluble solids content, sponnet, titratable acidityABSTRAK Jambu ‘Kristal’ merupakan salah satu kultivar jambu biji yang sedang populer saat ini. Jambu Kristal memiliki daging buah berwarna putih, berbentuk bulat tidak beraturan serta berbiji sedikit. Selama pertumbuhan dan perkembangan buah mengalami berbagai perubahan fisik dan kimia dan rentan terhadap serangan hama, yang secara keseluruhan dapat mengurangi nilai komersial sehingga menyebabkan kehilangan yang signifikan dari segi hasil panen dan kerugian ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh warna dan bahan pemberongsong terhadap perbaikan kualitas buah jambu ‘Kristal’. Penelitian dilaksanakan pada November 2013 sampai April 2014, di kebun petani yang berlokasi di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor yaitu pemberongsongan buah, dengan sepuluh taraf dan lima ulangan. Perlakuan pemberonsongan menggunakan plastik merah, plastik kuning, plastik hijau, plastik biru, sponnet dan plastik merah, sponnet dan plastik kuning, sponnet dan plastik hijau, sponnet dan plastik biru, sponnet dan plastik bening serta tanpa pemberongsong. Pengujian kualitas buah dilakukan di Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberongsongan memperbaiki pertumbuhan, kualitas eksternal dan mempercepat pematangan buah. Pemberongsongan sponnet dan plastik merah menghasilkan buah dengan ukuran terbesar pada saat panen. Pemberongsongan menggunakan sponnet dengan plastik kuning atau merah mampu menjaga kemulusan buah hingga 85%. Pemberongsongan sponnet dan plastik menghasilkan kualitas eksternal yang cenderung lebih baik dibandingkan pemberongsongan hanya dengan plastik. Pembrongsongan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas internal buah.Kata kunci: asam tertitrasi total, jambu ‘Kristal’, sponet, padatan terlarut total, pemberongsong berwarna
Produksi Simplisia Kumis Kucing dengan Perbedaan Cara Pemupukan dan Ketinggian Pangkas pada Rotasi Panen Tiga Minggu Delyani, Rista; Kurniawati, Ani; Melati, Maya; Nur Faridah, Didah
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.141 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.3.209-217

Abstract

ABSTRACT Cat whisker has been known as multifunctional herb. Good agricultural practice of cat whisker is necessary to produce high yield and good quality of simplicia as source of bioactive compound. As ratoon-harvested plant, fertilization and harvest management are important to maintain growth condition and production at each harvest. The objective of this study was to determine the best technique of fertilizer application and cutting height to obtain the highest simplicia of cat whisker production. The experiment was arranged in split plot design with three replications. The treatment were technique of organic fertilizer application (one time/10 ton ha-1 at transplanting time, and split /5 ton ha-1 at transplanting time+5 ton ha-1 at second harvest) as  main plot and  cutting height (one time /10, 20 and 30 cm above ground level) as sub plot. Growth and production data were collected. Result showed that the application of 10 ton ha-1 manure at transplanting time and harvest at 30 cm cutting height produced the highest simplicia production. One time application of fertilizer produced 3.09 ton ha-1 meanwhile split application only produced 2.81 ton ha-1 of simplicia. Harvest at 30 cm cutting height resulted in higher total simplicia production (3.24 ton ha-1) than at 10 dan 20 cm cutting height (2.66 and 2.95 ton ha-1, respectively. The average total simplicia production in 6 times harvesting during 23 weeks after transplanting was 2.95 ton ha-1. There is no significant interaction effect of the treatments on total simplicia production.  Keywords: medicinal plant, organic, perennial plant, ratooning, split application ABSTRAK Kumis kucing dikenal sebagai tanaman obat yang serbaguna. Praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tanaman kumis kucing diperlukan untuk menghasilkan produksi biomassa yang tinggi dan simplisia yang berkualitas sebagai sumber senyawa bioaktif. Sebagai tanaman yang dapat dipanen lebih dari satu kali, pengaturan pemupukan dan panen penting untuk mempertahankan kondisi tanaman dan produksi yang dihasilkan di setiap panen. Penelitian ini bertujuan mendapatkan cara pemupukan dan ketinggian pangkas yang terbaik demi menghasilkan produksi simplisia yang tinggi. Penelitian disusun menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah cara pemberian pupuk (sekaligus /10 ton ha-1 saat pindah tanam dan bertahap /5 ton ha-1 saat pindah tanam +5 ton ha-1 saat panen kedua) sebagai petak utama dan ketinggian pangkas (10, 20, dan 30 cm dari permukaan tanah) sebagai anak petak. Data pertumbuhan dan produksi diamati selama penelitian. Hasil menunjukkan bahwa produksi simplisia daun kumis kucing tertinggi diperoleh dengan memberikan pupuk kandang secara sekaligus sebanyak 10 ton ha-1 saat pindah tanam dan memangkas dengan ketinggian pangkas 30 cm dari permukaan tanah. Pemberian pupuk kandang secara sekaligus menghasilkan simplisia daun sebesar 3.09 ton ha-1. Jumlah ini lebih tinggi dibanding produksi pada perlakuan pemupukan secara bertahap yaitu 2.81 ton ha‑1. Ketinggian pangkas 30 cm mampu menghasilkan produksi simplisia daun total lebih banyak, yaitu 3.24 ton ha-1, dibanding yang dihasilkan dari ketinggian pangkas 10 dan 20 cm yaitu masing-masing 2.66 dan 2.95 ton ha-1. Rata-rata produksi total simplisia hingga 23 MST dengan enam kali pemanenan mencapai 2.95 ton ha-1. Tidak terdapat pengaruh interaksi antar perlakuan terhadap produksi total simplisia daun.Kata kunci: organik, pemupukan bertahap, ratun, tanaman obat, tanaman tahunan
Agronomy Character and Sinensetin Content of Several Java’s Tea Plant Accession (Orthosiphon stamineus) Febjislami, Shalati; Melati, Maya; Kurniawati, Ani; Wahyu, Yudiwanti
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.588 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.206-215

Abstract

Java’s tea plants have efficacy to treat diabetes. Sinensetin is a chemical compound in Java’s tea that acts as diabetes medicine. The experiment objective was to study diversity of agronomy characters and sinensetin content of ex situ collections of Java’s tea from West, Central, and East Java regions. Java’s tea was harvested when population has flowering about 70% and tested sinensetin content on leaf part. The experiment was conducted with a completely randomized block design with 18 accessions and one control (purple flower accession). The result of study showed that there were significant differences in the accumulation of height plant increase while 8 weeks after planting, secondary branches and secondary branches internode number; leaf length, width and area index; average stems and leaf dry weight per 4.41 m2 and sinensetin levels among some accessions. Banyumas 1, Sumbersari and Kraksaan accessions have agronomy and production characters except for sinensetin levels were better than control (Leaf sinensetin levels based on leaf dry weight increased from low to medium but decreased in high category) Based on comparison between accession and leaf dry weight category, purple flower accession has higher sinensetin levels (0.043%) than another accession, but only reaches 43% of Indonesian Herbal Pharmacopoeia minimum standard (There were no significant differences in sinensetin accession production tested either by comparison of accession or accession categories). Keywords: ex situ, flower, Java’s tea, Orthosiphon aristatus, sinensetin
Co-Authors , Hariyadi -, Bachtiar A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adwiyani, Pustika AHMAD JUNAEDI Ahmad Nur Hidayat Gena Ari Ai Asiah Alce Ilona Noyaa Ani Kurniawati Aplugi, Dewie Maria Agustien Ari, Ahmad Nur Hidayat Gena Arinal Haq Izzawati Nurrahma Arinal Haq Izzawati Nurrahma Atang Sutandi Atika Romalasari Bachtiar Bachtiar Bambang S. Purwoko Bayu Aditya Sinuraya Danner Sagala Delyani, Rista Denti Dewi Gatari Devi Rianawati Didy Sopandie Dwi Guntoro Dwiwanti Sulistyowati Efendi, Darda Eman Ayu Sasmita Jati, Gusti Etty Pratiwi, Etty Fajri, Atikah Faqih Udin Faridah, dan Didah Nur Febjislami, Shalati Fhonna, Tasya Nurizki Fitri Galih Kurnia Fred Rumawas Hanessa Putry, Regata Ringga Hartini Kilbaren, Muji Haryanto, Pesol Hasan, Fardyansjah Herik Sugeru Hilda Susanti Hilda Susanti Ilona Noyaa, Alce IPG Widjaja Adhi Irdika Mansur Irdika Mansur Irsyad, Reza Fathianto Iskandar M. Lapanjang Isna Tustiyani Isna Tustiyani Jamil, Anna Moslihat Juang Gema Kartika Justika S Baharsjah Karimuna, Siti Rahmah Kurnia, Fitri Galih Kurniawati, Ari Kurniawati, Ari Leo Mualim Lia Desyrakhmawati, Lia Liana, Devi M A Chozin Magana, Richard Elisha Manik, Auhge Eva Sari Manullang, Nadya Inri Marlin Sefrila Melia Fetiandreny Mohamad Rafi Mohammad Rafi Muchamad Hartanto Muhamad Syukur Muhammad Syukur Muhimmatul, Husna Muis, Ridwan Munif Ghulamahdi Nasution, Siti Nurminah Ngui, Marianus Nofi Anisatun Rokhmah Nurbani, Hilmi Nuri Andarwulan Nurwita Dewi Parwito Purwono Purwono Purwono Purwono, Purwono Purwono, dan Purwono, Purwono Putri, Fiadini Raden Ajeng Diana Widyastuti Rahmi Taufika Ramadhani, Elrisa Rizva, Dian Novira Sandra A. Aziz Sandra A. Aziz Sandra A. Aziz Sandra Arifin Azis Sandra Arifin Aziz Sari, Siti Hapita Sefrila, Marlin Sinuraya, Bayu Aditya Slamet Susanto Sri Astuti Rais Sri Ayu Dwi Ayu Dwi Lestari, Sri Ayu Dwi Ayu Dwi Sri Wilarso Sri Wilarso Budi Sugiyanta Sugiyanta , Suntari Susanti, Destia Suwarto Suwarto Tatik Raisawati Tatik Raisawati Titi Candra Sunarti Totong Siwanto, Totong Wahyu Arif Sudarsono Wahyu Arif Sudarsono Wahyu Fikrinda Willy Bayuardi Suwarno Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Wisdiyastuti Andriyani Wiwik Hartatik Yoga Yuniadi Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yulia Indriani Yulisda Eka Wardani