Maya Melati
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 84 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Produksi Bibit Tempuyung (Sonchus arvensis L.) dengan Komposisi dan Volume Media Tumbuh yang Berbeda Ahmad Nur Hidayat Gena Ari; Maya Melati; Sandra A. Aziz
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.46 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.195-203

Abstract

ABSTRACTPerennial sow thistle (Sonchus arvensis L.) is one of medicinal plants which has potential in healing kidney disease. However, quality and sufficient supply of perennial sow thistle seedling with good quality is inadequate. This research was aimed at producing perennial sow thistle seedling generatively and to determine the suitable type of growth media and media volume for its production. The experiment was conducted in experimental field at Cikarawang, IPB from October 2015 to January 2016. The experiment was laid out in completely factorial randomized design (3x3) with three replications. The two of treatment factors were volume of growth media (9, 12, and 29 mL) and composition of growth media (100% goat manure, 50% goat manure + 50% rice hull charcoal, and 33% goat manure + 33% rice hull charcoal + 33% coco peat) (v:v). The results showed that larger media volume produced better perennial sow thistle seedling. There was significant effect of interaction between media volume and composition of growth media to some variables: leaf number, leaf length, leaf width, plant weight, shoot weight, root length, and total flavonoid concentration. The result showed that 50% goat manure + 50% rice hull charcoal and combination of media volume 12 mL was strongly recommended for production of perennial sow thistle seedling.Keywords: coco peat, flavanoid, manure, rice hull, seedlingABSTRAKTempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi untuk mengatasi masalah penyakit batu ginjal. Besarnya potensi yang dimiliki oleh tempuyung belum diimbangi dengan penyediaan bibit yang baik dan jumlah yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bibit tempuyung melalui pembibitan secara generatif, serta menentukan jenis media tanam dan volume media yang tepat. Percobaan dilakukan di kebun percobaan Cikarawang IPB, pada bulan Oktober 2015 sampai Januari 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, faktor pertama adalah jenis komposisi media tanam yaitu menggunakan 100% pupuk kandang kambing, 50% pupuk kandang kambing+ 50% arang sekam, dan 33% pupuk kandang kambing + 33% arang sekam + 33% cocopeat (v:v), faktor ke dua adalah volume media dengan ukuran 7.9, 12, dan 29 mL tiap lubang pada tray, setiap perlakuan memiliki 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan volume media yang lebih besar (29 mL) menghasilkan pertumbuhan dan hasil bibit tempuyung yang lebih baik. Terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan jenis komposisi media dan volume media terhadap peubah jumlah daun, panjang daun, lebar daun, bobot total dan bobot tajuk tanaman, panjang akar serta kadar total flavonoid. Perlakuan media terbaik untuk produksi bibit tempuyung komposisi media 50% pupuk kandang kambing + 50% arang sekam (v:v) dengan volume media 12 mL.Kata kunci : arang sekam, cocopeat, flavonoid, pembibitan, pupuk kandang kambing
Evaluasi Karakter Agro-fisiologi dan Analisis Kekerabatan 10 Aksesi Tempuyung (Sonchus arvensis L.) di Lingkungan Alami Tatik Raisawati; Maya Melati; Sandra A. Aziz; Mohammad Rafi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.422 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.63-72

Abstract

ABSTRACTPerennial sowthistle (Sonchus arvensis L.) is known as a medicinal plant but rarely cultivated, perennial sowthistle grows wild. Characterization is needed to determine the variation and relationship of perennial sowthistle in situ. Differences environment affect plant growth and bioactive content. Phenotype characterization of plant species is the basis for selection and improvement of properties. The purpose of this study was to evaluate the variation of agrophysiological characters and to analyze the relationship of 10 accessions of sowthistle based on agro-physiological characters. The experiment was conducted in October 2015 to February 2016. Descriptive variation characteristic of agrophysiological, correlation coefficient, principal component analysis (PCA) and cluster analysis (CA) were used to evaluate the phenotypic variability. The PCA and CA generated similar results. The first five principal component axes explained 91.7% of the total variation with PC1 (43.7%) and PC2 (22.9%). The CA showed that the degree of intraspecific similarity was 52.04%. Three clusters were formed among the 10 accessions especially with the separation of accessions that were collected from similar environments.Keywords: cluster, similarity, principal component, Sonchus arvensis L.ABSTRAKTempuyung dikenal sebagai tanaman obat tradisional namun belum banyak dibudidayakan, tempuyung tumbuh liar di alam. Perbedaan lingkungan tumbuh aksesi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kadar bioaktif tempuyung. Karakterisasi diperlukan untuk mengetahui keragaman dan kekerabatan tempuyung in situ. Karakterisasi fenotip spesies tanaman merupakan dasar untuk seleksi dan perbaikan sifat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keragaman karakter agro-fisiologi, dan menganalisis kedekatan hubungan antar 10 aksesi tempuyung in situ berdasarkan karakter agro-fisiologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016. Deskripsi keragaan karakter agro-fisiologi, koefisien korelasi, analisis gerombol dan analisis komponen utama digunakan untuk mengevaluasi keragaman fenotip. Aksesi Tawangmangu menunjukkan keragaan tertinggi pada karakter jumlah daun, lebar daun, diameter batang, bobot basah daun, bobot kering daun, total bobot basah, total bobot kering, tebal daun dan total flavonoid. Analisis gerombol (AG) dan analisis komponen utama (AKU) memberikan hasil yang mirip. Lima sumbu komponen utama menjelaskan 91.7% total keragaman dengan KU 1 (43.7%) dan KU 2 (22.9%). AG menunjukkan tingkat kemiripan sebesar 52.04%. Tiga kelompok terbentuk dari 10 aksesi yang dikoleksi yang diduga berdasarkan kesamaan lingkungan tumbuh.Kata kunci: gerombol, kemiripan, komponen utama, Sonchus arvensis L.
Response of Soybean (Glycine max (L.) Merr.) to Micronutrients Zn, Cu, B at Some Dosages of Manure on Latosol Soil Maya Melati; Fred Rumawas; Justika S Baharsjah; IPG Widjaja Adhi
Forum Pasca Sarjana Vol. 14 No. 1 (1991): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.409 KB)

Abstract

The experiment was conducted on a Latosol soil at Cikarawang, Bogor, to investigate the response of plant growth, production and seed size of soybean (Glycine mw (L.) Merr.) to applications of chicken manure and micronutrients (Zn, Cu, B). Manure application increased plant growth, yield and seed size. Yield and seed size were highest at the 15 tons manure/ha treatment, without micronutrients. Manure increased P concentrations in leaves and total nutrient uptake, but reduced Ca, Zn, Cu, and B levels. Without manure, the acid soil caused insufficient P availability. Since Ca and Mg were also shown to be in short supply, the soil should be limed with dolomite. This treatment would alleviate N deficiency through better nodule development.
Kecukupan Hara Fosfor pada Pertumbuhan dan Produksi Kedelai dengan Budidaya Jenuh Air di Tanah Mineral dan Bergambut: Phosporus Sufficiency for Growth and Production of Soybean under Saturated Soil Culture in Mineral and Peaty Soils Bachtiar Bachtiar; Munif Ghulamahdi; Maya Melati; Dwi Guntoro; Atang Sutandi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.752 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.21-27

Abstract

Tujuan penelitian adalah menentukan dosis dan pemberian pupuk P pada varietas kedelai di tanah bergambut dan mineral dengan budidaya jenuh air di lahan pasang surut. Penelitian ini dilaksanakan di tanah bergambut dan mineral lahan pasang surut tipe B dan C di Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan dari April hingga Agustus 2014. Penelitian menggunakan rancangan petak-petak terpisah. Petak utama adalah varietas (Willis dan Tanggamus), anak petak adalah waktu aplikasi (0, 0 dan 4 MST), dan anak-anak petak adalah dosis pupuk (0, 36, 72, 108 kg P2O5 ha-1). Hasil percobaan menunjukkan bahwa produktivitas kedelai di tanah mineral bergambut lebih rendah daripada di tanah mineral. Di tanah mineral bergambut waktu aplikasi fosfor pada 0 dan 4 MST lebih meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas, sedangkan waktu aplikasi fosfor di tanah mineral lebih baik pada umur pada 0 dan 4 MST. Dosis pupuk 108 kg P2O5 ha-1 meningkatkan produktivitas tanaman kedelai di tanah mineral bergambut sedangkan dosis 72 kg P2O5 ha-1 lebih baik untuk tanah mineral. Pada tanah mineral bergambut, interaksi (Tanggamus, waktu aplikasi 0 dan 4 MST serta dosis 72 kg P2O5 ha-1), menghasilkan produktivitas tanaman kedelai tertinggi (2.83 ton ha-1). Sementara itu interaksi (Tanggamus, waktu aplikasi 0 dan 4 MST serta dosis 72 kg P2O5 ha-1) menghasilkan produktivitas tanaman kedelai tertinggi 3.8 ton ha-1 di tanah mineral dengan teknik budidaya jenuh air di lahan pasang surut. Kata kunci : Dosis pupuk, Glycine max (L) Merr., fosfor, kemasaman tanah, varietas
Karakter Morfofisiologi Daun Okra (Abelmoschus esculentus L.) pada Perbedaan Pupuk Melalui Metode Minus One Test Nofi Anisatun Rokhmah; Maya Melati; Heni Purnamawati
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p189-198

Abstract

[Morpho-physiologcal Characters of Okra Leaf (Abelmoschus esculentus L.) on Various Different Application of Fertilizers through Minus One Test]Buah okra dikenal sebagai bahan pangan fungsional karena mengandung serat pangan tak larut dan larut, serta mengandung metabolit sekunder berupa senyawa fenolik dan  flavonoid yang bersifat antioksidan. Salah satu faktor penentu dalam budidaya tanaman okra adalah pemupukan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang pengaruh pemupukan dengan metode minus one test terhadap karakter morfofisiologi daun okra. Percobaan dilaksanakan di tanah latosol di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo, Dramaga, Bogor (250 m dpl.) pada bulan Juli – Oktober 2018. Rancangan percobaan yang digunakan dalam percobaan  ini ialah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu faktor tiga kali ulangan. Perlakuan pemupukan terdiri atas tanpa pemupukan, NPK + pupuk kandang, NPK, NP (-K), NK (-P), dan PK (-N). Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai peubah morfologi yang diamati tidak berbeda nyata antarperlakuan. Peubah fisiologi yang berbeda nyata ditemukan pada hara Mg. Secara umum belum dapat ditentukan satu unsur hara terpenting yang terbukti dapat menjadi pembatas bagi morfofisiologi daun okra. Nilai rerata karakteristik daun dan laju pertumbuhan pada tanaman okra yang mendapat perlakuan tanpa pemupukan dan kurang N lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. KeywordsOkra (Abelmoschus esculentus L); Morfologi daun; PupukAbstractOkra fruit is known as a functional food mainly because it contains insoluble and soluble food fiber, and have secondary metabolites such as phenolics, and flavonoids that have antioxidant effects. Fertilization is one of the determining factors in for plant growth, but the limiting nutrient involving plant growth and production has not well known yet. This study was conducted using minus one test on NPK fertilization. The objectives of this research are to obtain information about the effect of fertilization with the minus one test method on the morphophysiological character of okra leaves. The experiment was carried out in latosol soil in the IPB Leuwikopo Experiment Garden, Dramaga, Bogor (250 m asl, ) in July – October 2018. The experimental design used in this experiment was the Randomized Complete Group Design (RCBD) with one factor and three replications. Fertilization treatment consisted of no fertilization, NPK + manure, NPK, NP (-K), NK (-P), and PK (-N). The results showed, that morphological values were not significantly different between treatments. Significantly different among the physiological variables were found in the results of Mg nutrient analysis. Generally, that one important nutrients that could be a limitation for the growth of okra plants could not be determined. There were indication, that based on the average value of leaf characteristics and growth rate, okra plants that were treated without fertilization and minus N tended to be lower compared to other treatments.
PENGATURAN PEMBUNGAAN TANAMAN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) ‘KRISTAL’ MELALUI APLIKASI WAKTU STRANGULASI YANG BERBEDA RA Diana Widyastuti; Slamet Susanto; Maya Melati; Ani Kurniawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p259-266

Abstract

ABSTRACT Arrangement of Guava Flowering (Psidium guajava L.) ‘Krystal’ through the Application of Different Strangulation Times. The seasonal production of guava (Psidium guajava) requires flowering manipulation technique such strangulation in order to be available throughout the years. This study aimed to explain the relationship between strangulation time, the period of flowering and harvesting of guava cv 'Krystal'. The experiment was conducted from February to December 2017, in Cikabayan experimental garden of IPB University, Bogor, Indonesia. The experiment used a completely randomized design with single factor, i.e strangulation times that consisted of control (no strangulation), strangulation in March, in April and in May. The results showed that strangulation treatment was able to accelerate the emergence of flowers and increase the number of generative shoots, the number of flowers per tree and the number of fruits harvested. The increase of flowering response on strangulated trees was supported by a higher leaf C/N compared to control, which is related to the low leaf N content in strangulation treatments. The strangulation treatment could accelerate the time of flower emergence six days earlier than control.  Keywords: guava, C/N, flowering induction, ringing, seasonal production ABSTRAK Produksi buah jambu biji (Psidium guajava) yang bersifat musiman memerlukan teknik pengaturan pembungaan agar dapat tersedia sepanjang tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keterkaitan antara waktu strangulasi dengan pola pembungaan dan panen buah jambu biji ‘Kristal’. Percobaan dilaksanakan mulai Februari sampai Desember 2017, di Kebun Percobaan Cikabayan IPB Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu waktu strangulasi yang terdiri dari 4 (empat) taraf, yakni tanpa strangulasi, strangulasi bulan Maret, strangulasi bulan April dan strangulasi bulan Mei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan strangulasi mampu mempercepat munculnya bunga dan meningkatkan jumlah tunas generatif, jumlah bunga per pohon, jumlah bakal buah per pohon dan jumlah buah yang dipanen. Peningkatan respon pembungaan akibat strangulasi didukung oleh C/N daun yang lebih tinggi dibandingkan tanpa stangulasi, yang berhubungan dengan rendahnya kandungan nitrogen daun pada perlakuan strangulasi. Perlakuan strangulasi mampu mempercepat waktu muncul bunga 6 hari lebih cepat dibandingkan tanpa strangulasi.Kata kunci: jambu biji, C/N, induksi pembungaan, pencekikan batang, produksi musiman
PRODUKSI FLAVONOID DAUN KEMUNING (Murraya paniculata L. Jack) PADA DOSIS PUPUK ORGANIK DAN INTERVAL PANEN YANG BERBEDA Rahmi Taufika; Sandra Arifin Aziz; Maya Melati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n1.2016.27-35

Abstract

Kemuning (Murraya paniculata) telah digunakan secara tradisional sebagai tanaman obat karena mengandung metabolit sekunder yang memiliki berbagai fungsi. Pemupukan dengan pupuk organik dan interval panen dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder, terutama flavonoid. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk organik dan interval panen yang berbeda terhadap produksi flavonoid daun kemuning. Penelitian dilaksanakan sejak Juni 2014 sampai Februari 2015 di Kebun Percobaan Organik IPB, Cikarawang, Bogor. Percobaan disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor (1) pupuk organik menggunakan 8 kombinasi dosis pupuk kandang ayam (PA) dan abu sekam (AS) yaitu kontrol; 0 kg PA + 3 kg AS;           7 kg PA + 0 kg AS; 7 kg PA + 3 kg AS; 14 kg PA + 0 kg AS; 14 kg PA + 3 kg AS; 21 kg PA + 0 kg AS; 21 kg PA + 3 kg AS pertanaman dan (2) 3 interval panen (2, 3, dan 4 bulan). Data dianalisis menggunakan uji F dan taraf DMRT 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi dosis pupuk organik dengan berbagai dosis yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan interval panen nyata meningkatkan  produksi daun berupa berat basah dan kering daun total pada interval panen 4 bulan masing-masing sebesar 914,92 g  tanaman-1, 258,53 g tanaman-1. Perlakuan interval panen memberikan pengaruh terhadap produksi senyawa flavonoid total, antosianin, protein, klorofil total, dan aktivitas antioksidan. Interval panen 2 bulan menghasilkan klorofil total tertinggi sebesar 1,72 mg g BB-1.Interval panen 4 bulan menunjukkan aktivitas enzim PAL (7,915 x 10-5 mg CA eq g BB-1), produksi protein (7,96 mg tanaman-1), flavonoid total (682,82 mg tanaman‑1), antosianin (1,17 mg tanaman-1), dan aktivitas antioksidan (76,51%) tertinggi. Tidak ada interaksi antara pemberian pupuk organik dengan interval panen semua parameter pengamatan.
GROWTH AND PRODUCTION OF Piper sarmentosum Roxb. ex Hunter IN POT WITH DIFFERENT GROWING MEDIA Maya Melati; Melia Fetiandreny
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.032 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1476

Abstract

Piper sarmentosum (karuk) dimanfaatkan untuk masakan tradisional; namun tanaman ini juga berpotensi sebagai tanaman obat. Informasi tentang budidaya tanaman P. sarmentosum masih terbatas, oleh karena itu kajian ini diawali dengan pemilihan media tanam yang sesuai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap satu faktor dengan perlakuan jenis media yaitu tanah saja, tanah+pasir (3:1, v/v), tanah+arang sekam (3:1, v.v), dan tanah+pupuk kandang sapi (3:1, v/v). Setiap perlakuan diulang 4 kali dan masing-masing terdiri atas 5 tanaman. Analisis data menggunakan sidik ragam. Bahan tanaman berupa stek plagiotrop dengan 3 buku dan polybag warna hitam sebagai wadah. Pupuk anorganik diberikan pada semua perlakuan dengan dosis setara pupuk majemuk N-P-K-Mg 12:12:17:2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan media mempengaruhi hampir semua peubah yang diamati. Pemberian pupuk kandang sapi menghasilkan keragaan dan produksi tanaman terbaik (ditunjukkan dengan tajuk dan akar yang lebih lebat serta daun yang lebih hijau dibandingkan tanaman yang mendapat perlakukan lainnya). Meskipun tidak nyata, ada kecenderungan bahwa pertumbuhan tanaman karuk lebih baik pada media tanah saja dibandingkan pada media dengan penambahan pasir atau arang sekam.Kata kunci: pupuk kandang, pot, sayuran fungsional, piperaceae, arang sekam
Karakter Fotosintesis Genotipe Tomat Senang Naungan pada Intensitas Cahaya Rendah (The Photosynthetic Characters of Loving-Shade Tomato Genotypes at Low Light Intensity) Dwiwanti Sulistyowati; Muhammad Ahmad Chozin; Muhamad Syukur; Maya Melati; Dwi Guntoro
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n2.2016.p181-188

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman tomat di Indonesia adalah melalui sistem tanam tumpangsari atau agroforestri. Namun, dalam sistem tanam tumpangsari tanaman sela mengalami defisit cahaya karena ternaungi oleh tanaman lain. Defisit cahaya menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan sintesis karbohidrat sehingga berpengaruh terhadap metabolisme. Beberapa jenis tanaman mampu beradaptasi terhadap defisit cahaya sehingga tumbuh di bawah kondisi naungan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari karakter fotosintesis genotipe tomat senang naungan pada intensitas cahaya rendah. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Percobaan menggunakan rancangan acak petak tersarang yang diulang tiga kali. Faktor pertama terdiri atas dua taraf naungan, yaitu tanpa naungan (0%) dan naungan 50%. Faktor kedua berupa tiga kelompok genotipe tomat terdiri atas senang naungan, toleran, dan peka. Pengamatan dilakukan terhadap komponen hasil berupa jumlah buah, bobot buah, dan produksi pertanaman. Peubah pengamatan fisiologi meliputi kandungan total klorofil, klorofil a, klorofil b, rasio klorofil a/b, antosianin, karoten, laju fotosintesis, konduktansi stomata, konsentrasi CO2 internal daun, kandungan pati, dan gula daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe tomat senang naungan jika berada pada kondisi ternaungi akan memiliki karakter fotosintesis berupa peningkatan kadar klorofil b lebih tinggi dibandingkan klorofil a, dan rasio klorofil a/b yang lebih rendah dibandingkan kelompok genotipe yang lain. Genotipe senang naungan memiliki konsentrasi CO2 internal daun lebih tinggi sehingga mampu mempertahankan laju fotosintesis tetap lebih tinggi walaupun terjadi penurunan konduktansi stomata. Adanya kandungan gula daun yang lebih tinggi, mengakibatkan produksi pertanaman genotipe senang naungan meningkat ketika ditanam di bawah naungan.KeywordsLycopersicon esculentum Mill.; Intensitas cahaya rendah; Karakter fotosintesis; Genotipe senang naunganAbstractEfforts have to be made to increase tomatoes production in Indonesia, one is through intercropping or agroforestry systems. In the intercropping system, however, there is a risk for plants to receive low light intensity. Low light intensity causes a decrease of photosynthesis rate and carbohydrate synthesis, so it will affect plant metabolic processes. Some types of plants are able to adapt to low light intensity, so they can grow well under shading conditions. The aim of this study was to investigate the photosynthetic characters of shade-loving tomato genotypes at low light intensity. The experiment was conducted in the experimental field of Bogor Agricultural Extension Institute, in Bogor, from October 2014 to January 2015. The experiment was arranged in nested randomized design with two factors and three replication. The first factor consisted of two levels of shading intensity, i.e. without shade (0%) and 50% shading and the second factor was three groups of tomato genotypes, i.e. shade-loving, shade-tolerant, and shade-sensitive genotypes. The crop yield components observed were fruit number, fruit weight, and yield per plant. Physiological variable measured were total of chlorophyll, chlorophyll a, chlorophyll b, ratio of chlorophyll a/b, anthocyanin, carotene, photosynthetic rate, stomatal conductance, leaf internal CO2 concentration, content of starch, and sugar leaves. The results showed that the photosynthesis characters of shade-loving genotypes indicated increasing content of chlorophyll b that was higher than that of chlorophyll a. It was resulting in decreasing ratio of chlorophyll a/b more than that of other genotypes. Shade-loving genotypes had higher internal leaf CO2 concentration, than the sensitive ones, so they can maintain the photosynthetic rate remained higher, despite their stomatal conductance were decreasing. The presence of leaf sugar content was relatively high, resulting in the production per plant of the shade-loving genotypes increased when grown in the shade conditions.
STUDY ON FRUIT QUALITY OF SELECTED SEEDED PUMMELO CULTIVARS AND ITS RELATIONSHIP WITH ANTIOXIDANT ACTIVITY CONTENT DURING STORAGE PERIOD Wahyu Fikrinda; Slamet Susanto; Darda Efendi; Maya Melati
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 37, No 3 (2015): OCTOBER
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v37i3.519

Abstract

Indonesia has number of accessions and cultivars of pummelo which are prospective to be developed. Pummelo contains higher antioxidants thus beneficial for health. This research aimed to get information of physical and chemical quality differences, antioxidant capacity, and explain the relationship between fruit quality and antioxidant capacity of selected seeded pummelo cultivars. Fruit was harvested in Banyuwangi and Magetan while fruit quality assesment was conducted in Laboratory of Agronomy and Horticulture Depart-ment, IPB. The results showed that physical qualities of fruit (weight loss, peel softness and peel color) and chemical qualities (total soluble solids and total titratable acidity) were changed during storage. Adas Nambangan and Banyu-wangi cultivars have better physical and chemi-cal qualities than other cultivars during storage until 10 weeks after harvest because of good visual appearance, the lowest decreased in weight loss and the good ratio of TSS:TTA. Seeded pummelo cultivars with dark red to reddish white fruit pulp had significant higher total phenolic, carotenoid, anthocyanin and anti-oxidant capacity than white fruit pulp. There were negative correlations between antioxidant capacity with colored pulp and total phenolic content. Banyuwangi had the highest antioxidant capacity in the pulp, followed by Bali Merah, Adas Nambangan, Pamelo Magetan, Srinyonya, Bali Putih cultivars. 
Co-Authors , Hariyadi -, Bachtiar A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adwiyani, Pustika AHMAD JUNAEDI Ahmad Nur Hidayat Gena Ari Ai Asiah Alce Ilona Noyaa Alifiya Herwitarahman Ani Kurniawati Aplugi, Dewie Maria Agustien Ari, Ahmad Nur Hidayat Gena Arinal Haq Izzawati Nurrahma Arinal Haq Izzawati Nurrahma Atang Sutandi Atika Romalasari Bachtiar Bachtiar Bambang S. Purwoko Bayu Aditya Sinuraya Danner Sagala Delyani, Rista Denti Dewi Gatari Devi Rianawati Didy Sopandie Dwi Guntoro Dwiwanti Sulistyowati Efendi, Darda Eman Ayu Sasmita Jati, Gusti Etty Pratiwi, Etty Fajri, Atikah Faqih Udin Faridah, dan Didah Nur Febjislami, Shalati Fhonna, Tasya Nurizki Fitri Galih Kurnia Fred Rumawas Hanessa Putry, Regata Ringga Hartini Kilbaren, Muji Haryanto, Pesol Hasan, Fardyansjah Herik Sugeru Hilda Susanti Hilda Susanti Ilona Noyaa, Alce IPG Widjaja Adhi Irdika Mansur Irdika Mansur Irsyad, Reza Fathianto Iskandar M. Lapanjang Isna Tustiyani Isna Tustiyani Jamil, Anna Moslihat Juang Gema Kartika Justika S Baharsjah Karimuna, Siti Rahmah Kurnia, Fitri Galih Kurniawati, Ari Kurniawati, Ari Leo Mualim Lia Desyrakhmawati, Lia Liana, Devi M A Chozin Magana, Richard Elisha Manik, Auhge Eva Sari Manullang, Nadya Inri Marlin Sefrila Melia Fetiandreny Mohamad Rafi Mohammad Rafi Muchamad Hartanto Muhamad Syukur Muhammad Syukur Muhimmatul, Husna Muis, Ridwan Munif Ghulamahdi Nasution, Siti Nurminah Ngui, Marianus Nofi Anisatun Rokhmah Nurbani, Hilmi Nuri Andarwulan Nurwita Dewi Parwito Purwono Purwono Purwono Purwono, Purwono Purwono, dan Purwono, Purwono Putri, Fiadini Raden Ajeng Diana Widyastuti Rahmi Taufika Ramadhani, Elrisa Rizva, Dian Novira Sandra A. Aziz Sandra A. Aziz Sandra A. Aziz Sandra Arifin Azis Sandra Arifin Aziz Sari, Siti Hapita Sefrila, Marlin Sinuraya, Bayu Aditya Slamet Susanto Sri Astuti Rais Sri Ayu Dwi Ayu Dwi Lestari, Sri Ayu Dwi Ayu Dwi Sri Wilarso Sri Wilarso Budi Sugiyanta Sugiyanta , Sugiyanta Sugiyanta Suntari Susanti, Destia Suwarto Suwarto Tatik Raisawati Tatik Raisawati Tiara Aninditha Titi Candra Sunarti Totong Siwanto, Totong Undari, Desti Wahyu Arif Sudarsono Wahyu Arif Sudarsono Wahyu Fikrinda Wahyudin, Cecep Ijang Willy Bayuardi Suwarno Wisdiyastuti Andriyani Wiwik Hartatik Yoga Yuniadi Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yulia Indriani Yulisda Eka Wardani