Claim Missing Document
Check
Articles

VALUASI EKONOMI LINGKUNGAN AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN (Suatu Kasus di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat) Yolanda Erfrissadona; Lies Sulistyowati; Iwan Setiawan
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian (J-SEP) Vol 13 No 1 (2020)
Publisher : University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jsep.v13i1.15784

Abstract

Economic growth and urbanization are increasing the demand for land affecting on the numerous conversion agricultural land. The conversion has bad impacts on the deprivation of the environmental service value. Economic valuation methods using WTA and WTP were applied to calculate the environmental service value produced by agricultural land. The purposes of the research are to calculate the environmental services value which is lost due to the impact of the conversion of agricultural land to non-agricultural land. The quantitative method using cluster random sampling technique was applied to analyze 206 respondents included in this research. The multiple linear analysis methods were used as the analytical method. The results show that there is a potential loss of economic value of Rp. 1.236.659.406 per year from environmental services as a reward for farmers who are willing to cultivate agricultural land which is calculated from WTA value and potential loss of WTP of Rp. 278.820.122 per year. Education, experience, land area, and income are the factors that influence the value of WTA in Purbaratu, Tasikmalaya. Furthermore, land area, fertilizer needs, seed requirements, and income are the factors that influence the value of WTP in Purbaratu, Tasikmalaya city. Keywords: land conversion, Willingness to Accept (WTA), Willingness to Pay (WTP)
Papaya Development Model As A Competitive Local Superior Commodity Reny Sukmawani; Maman Haeruman; Lies Sulistyowati; Tommy Perdana
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 15, No 2 (2014): JEP Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v15i2.217

Abstract

The aim of this research is to study the comparative advantage and papaya competitive and to design its development model by using the approach of local base agriculture development. This research uses survey method. The resulting research shows that papaya is a base commodity that has comparative advantage and competitive. The development papaya in the district of Sukabumi is quite good bases on eight superior creations. But in order to be the main sector in economic development and has a competition, the development of papaya must concern to its influence factors. In supporting papaya development as a competitive local superior commodity, it needs to be done some efforts are as follows: (1) increase a skillful worker; (2) improve business management; (3) increase papaya productivity by using technology and study papaya planted technology in specific local superior commodity; (4) develop the involvement of the business relation; (5) provide market information and information technology network; and (6) improve infrastructures.
ANALISIS EFISIENSI ALOKATIF PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI TANAMAN HIAS DRACAENA UNTUK PASAR EKSPOR DI KABUPATEN SUKABUMI Yayan Rismayanti; Dini Rochdiani; Lies Sulistyowati
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 4, No 1 (2019): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.616 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v4i1.22933

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah produksi tanaman hias Dracaena dan menganalisis tingkat efisiensi alokatif penggunaan faktor produksi usahatani tanaman hias Dracaena di Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sukabumi sebagai sentra tanaman hias Dracaena terbesar di Provinsi Jawa Barat pada bulan Januari sampai Juni 2018. Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan pengambilan sampel secara simple random sampling. Penelitian dilakukan terhadap 35 orang petani tanaman hias Dracaena di Kabupaten Sukabumi dengan tujuan pasar ekspor. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah produksi tanaman hias Dracaena menggunakan analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi tanaman hias Dracaena di Kabupaten Sukabumi adalah luas lahan, benih, dan tenaga kerja dimana kenaikan atau penurunan penggunaan ketiga faktor produksi tersebut akan mengakibatkan kenaikan atau penurunan jumlah produksi Dracaena. Pengalokasian faktor produksi luas lahan, benih, pestisida, dan tenaga kerja pada usahatani tanaman hias Dracaena di Kabupaten Sukabumi belum efisien sehingga penggunaannya perlu ditambahkan untuk mencapai efisien, sedangkan penggunaan faktor produksi pupuk pada usahatani tanaman hias Dracaena tidak efisien sehingga penggunaannya perlu dikurangi.Kata Kunci: efisiensi alokatif, faktor produksi usahatani, tanaman hias DracaenaAbstractThis study aims to identify the factors that can affect the amount of Dracaena ornamental plant production and analyze the level of allocative efficiency of the use of Dracaena ornamental plant farming production factors in Sukabumi Regency. This research was conducted in Sukabumi Regency as the largest Dracaena ornamental plant center in West Java Province in January to June 2018. The research was conducted by survey method by sampling using simple random sampling. The study was conducted on 35 Dracaena ornamental plant farmers in Sukabumi Regency with the aim of the export market. The data collected was analyzed using the analysis of factors that influence the amount of ornamental plant production Dracaena used an analysis of production functions and an analysis of the efficiency of the use of farm production factors. The results showed that the factors of production that had a significant effect on the amount of production of Dracaena ornamental plants in Sukabumi Regency were land area, seeds, and labor where the increase or decrease in the use of the three production factors would result in an increase or decrease in the amount of Dracaena production. Allocation of production factors for land area, seeds, pesticides, and labor in Dracaena ornamental plant farming in Sukabumi Regency has not been efficient so that their use needs to be added to achieve efficiency, while the use of fertilizer production factors in Dracaena ornamental plant farming is inefficient so their use needs to be reduced.Keywords: allocative efficiency, farming production factors, Dracaena ornamental plants
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pergerakan Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018 Chikal Galih; Lies Sulistyowati
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.28739

Abstract

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah salah satu indikator perkembangan investasi saham di Indonesia, di mana ada indeks sektor yang mewakili perusahaan publik, salah satu indeks sektoral adalah Indeks Harga Saham Sektoral (IHSS) Pertanian. Fenomena yang terjadi pada periode 2014-2018 adalah tingkat pengembalian investasi di IHSS Pertanian menjadi yang terburuk dibandingkan dengan IHSG dan sektor lainnya sebesar -33,47%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian periode 2014 hingga 2018 secara bulanan. Analisis yang digunakan adalah analisis Ordinary Least Square (OLS) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, nilai tukar USD/IDR, suku bunga bank sentral, IHSG, harga minyak kelapa sawit, dan harga emas berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSS Pertanian dengan nilai pengaruh 88,6%.Kata Kunci: Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian, Return Saham, Makroekonomi, Ordinary Least Square (OLS)AbstractJakarta Composite Index (IHSG) is an indicator of the development of stock investment in Indonesia, where there are indices of sectors that represent public companies, one of the sectoral indices is the Sectoral Stock Price Index (IHSS) of Agriculture. The phenomenon that occurred in the 2014-2018 period was the level of investment return in the IHSS of Agriculture being the worst compared to the IHSG and other sectors by -33.47%. The purpose of this study is to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture for the period of 2014 up to 2018 on monthly base. The analysis used is Ordinary Least Square (OLS) analysis to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture. The results showed that inflation, USD/IDR exchange rate, central bank interest rate, IHSG, palm oil prices, and gold prices significantly influence the movement of IHSS of Agriculture with an influence value of 88.6%. Keywords: Agricultural Sectoral Stock Price Index, Stock Return, Macroeconomics, Ordinary Least Square (OLS).
ANALISIS KOLABORASI PADA PENGEMBANGAN KEMITRAAN USAHATANI MANGGA DI KABUPATEN MAJALENGKA Sri Ayu Andayani; Lies Sulistyowati; Siti Nur Azizah
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 1, No 1 (2016): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.542 KB) | DOI: 10.24198/agricore.v1i1.22685

Abstract

Jawa Barat merupakan salah satu sentra mangga di Indonesia dan Kabupaten Majalengka termasuk didalamnya. Potensinya cukup besar, namun belum didukung dengan kemitraan yang berkelanjutan.Melalui kemitraan diharapkan dapat meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas pasokan. Padakenyataanya, kemitraan yang terjadi belum memberikan kepastian pasar dan kepercayaan antar pihakyang terlibat. Penelitian ini bertujuan mengkaji kolaborasi dalam kemitraan mangga dan memberikanupaya dalam mengatasi konflik yang terjadi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari petani manggadan PD.Dunia Buah (bandar besar). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik studikasus dan teknik analisis deskriptif dengan bantuan alat analisis model teori drama. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kolaborasi antar pelaku kemitraan mangga belum terlaksana dengan baik, karenamasing-masing pelaku belum dapat berperan sesuai fungsinya masing-masing, sehingga konflik dandilema masih terjadi. Kemitraan masih diwarnai konflik, dilema dan ancaman, terutama terkaitstandar kualitas, tenggang waktu pembayaran dan bantuan modal. Melalui kerangka pikir bersama(petani mangga dengan perusahaan mitra), maka dihasilkan resolusi/kesepakatan untuk keberlanjutankemitraan. Dengan demikian, masing-masing pihak tidak merasa dirugikan (terutama menyangkutkepastian pasar), sehingga akan memotivasi petani dalam meningkatkan produksi.Kata kunci: Mangga, kemitraan, teori drama
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENGENTASAN KEMISKINAN DI PERDESAAN (Suatu Kasus di Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat) Lies Sulistyowati
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 8 No 1 (2011): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.959 KB) | DOI: 10.24929/fp.v8i1.564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi PUAP dan dampaknya terhadap pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah Survey-explanatory, dengan 176 orang responden diambil melalui kluster random sampling, dengan alokasi proporsional pada 4 Gapoktan. Analisis data dengan deskriptif dan kuantitif (uji t-student). Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program PUAP sudah sesuai prosedur. Kinerja pelaksanaan program PUAP termasuk kriteria sedang. Dampak PUAP terhadap teknis budidaya relatif kecil, sedangkan terhadap pendapatan, PUAP berpengaruh signifikan dalam meningkatkan pendapatan peserta PUAP, namun masih kecil peranannya dalam pengentasan kemiskinan di pedesaan. Implikasi kebijakannya, PUAP masih perlu dilanjutkan dengan perbaikan pada aspek pendampingan dan peningkatan akses terhadap informasi pasar.
RESPON PETANI PADI SAWAH TERHADAP KEBIJAKAN INSENTIF DAN DISINSENTIF DI KOTA TASIKMALAYA, JAWA BARAT Aprilliza Naura; Lies Sulistyowati; Maman Haeruman Karmana
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 6, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.951 KB) | DOI: 10.25157/ma.v6i1.2898

Abstract

It seems that the incentive and disincentive policies are not yet ideal to make rice farmers control land conversion. This requires the response of farmers to the incentive and disincentive policies that are desired in order to create a match between the wishes of the government and farmers. The purpose of the study was to describe the characteristics of rice farmers and analyze the response of farmers to incentive and disincentive policies. The research method is quantitative research with the number of respondents 206 rice farmers and the proporsionate stratified random sampling technique. The method of analyzing farmers 'characteristics uses descriptive statistical analysis and farmers' responses to incentive and disincentive policies using a Likert scale. The results showed the characteristics of farmers, namely the age of farmers classified as productive age groups; most farmers take education up to elementary school level; farmers have a low income in one growing season, which is Rp. 1,607,000; the majority of farmers are included in the narrow area of arable land area of 0.23 ha; The average number of family dependents is 3 people; in terms of farming experience having sufficient knowledge and experience; and the dominating land status is sakap land. Farmers responses to the incentive and disincentive policies on average farmers strongly agree with the incentive policy and agree with the disincentive policy and the socialization of LP2B which is quite low.
HUBUNGAN TINGKAT PARTISIPASI ANGGOTA DENGAN KINERJA GABUNGAN KELOMPOK TANI (Suatu Kasus di Gapoktan Kopi Arjuna, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat) Intan Gita Mustika; Lies Sulistyowati
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 3, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.103 KB) | DOI: 10.25157/ma.v3i2.341

Abstract

Gapoktan Kopi Arjuna merupakan salah satu gabungan kelompok tani kopi yang berlokasi di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Dalam perkembangannya Gapoktan mengalami kemunduran dalam kekompakan antar anggota Gapoktan, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi dan kinerja Gapoktan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan manfaat yang diperoleh anggota dengan tingkat partisipasi anggota Gapoktan, dan hubungan tingkat partisipasi anggota Gapoktan dengan kinerja Gapoktan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan pengambilan responden menggunakan teknik purposive. Metode analisis  menggunakan korelasi Rank Spearman dan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa manfaat yang diperoleh anggota adalah kerjasama yang baik dengan pengurus, berhubungan baik dengan sesama anggota, mengikuti kegiatan pembinaan dan pelatihan, jaminan pemasaran kopi dan peningkatan pendapatan. Tingkat partisipasi anggota yang tinggi adalah menjual kopi ke Gapoktan. Hasil uji korelasi antara manfaat yang diperoleh anggota dan tingkat partisipasi anggota menunjukkan hubungan yang signifikan dan termasuk kategori korelasi yang lemah. Demikian juga korelasi antara tingkat partisipasi anggota dan kinerja Gapoktan menunjukkan hubungan yang signifikan dan termasuk kategori korelasi yang lemah.Kata kunci : Manfaat, tingkat partisipasi, kinerja Gapoktan, kopi.
RISIKO PRODUKSI DAN PEMASARAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI MANGGA: KELOMPOK MANA YANG PALING BERISIKO Elly Rasmikayati; Lies Sulistyowati; Bobby Rachmat Saefudin
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 3, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.888 KB) | DOI: 10.25157/ma.v3i2.564

Abstract

Permintaan konsumen terhadap buah, khususnya mangga semakin besar, seiring dengan meningkatnya pendapatan dan kesadaran konsumen akan pentingnya mengkonsumsi buah sebagai salah satu penjaga kesehatan. Konsumen sekarang ini menghendaki mangga selalu tersedia di pasar disertai dengan kualitas yang terjaga prima. Untuk memenuhi tuntutan konsumen tersebut, petani tidak bisa berperilaku seadanya dalam menangani mangga, tetapi perlu lebih bersikap professional terutama dalam usahatani dan pemasaran mangganya. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskipsikan dan mengkaji dampak dari risiko produksi dan pemasaran terhadap pendapatan petani mangga serta mengidentifikasi kelompok mana yang paling berisiko. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Petani mangga di Kabupaten Cirebon dan Majalengka diambil sebanyak 240 orang dengan menggunakan teknik Multi Stage Cluster Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko produksi dan risiko pemasaran seperti risiko jumlah pohon, risiko biaya pupuk kandang, risiko biaya pestisida dan risiko harga jual mangga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Sementara itu, Terdapat perbedaan perilaku petani dalam produksi dan pemasaran mangganya jika petani dibagi kedalam tiga kelompok, berdasarkan jumlah pohon yang dikuasai, yaitu petani yang jumlah pohonnya terbatas, cukup dan banyak. Diantaranya perbedaan tersebut adalah dalam hal rata-rata harga jual mangga per kilogram. Fakta selanjutnya, petani yang jumlah pohonnya terbatas dibanding dengan petani dari kelompok lainnya, kurang berani mengambil risiko produksi, tetapi mereka lebih berani mengambil risiko pemasaran.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PADA BUDIDAYA MANGGIS DI JAWA BARAT Dini Rochdiani; Sulistyodewi Nur Wiyono; Kuswarini Kusno; Lies Sulistyowati; Yosini Deliana; Sri Fatimah; Gema Wibawa Mukti
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 5, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.147 KB) | DOI: 10.25157/ma.v5i2.2396

Abstract

Mangosteen (Queen of Tropical Fruit) is one of the excellent commodities of Indonesia's flagship fruit export which contributes  to the country's foreign exchange and farmer's income, with the aim of exporting Hong Kong, Taiwan, China. The biggest centers of mangosteen production in Indonesia are West Java, including Tasikmalaya and Purwakarta. Because mangosteen has health benefits, the demand for mangosteen fruit is increasing (50%/year) and this makes it an opportunity to develop mangosteen agribusiness for Indonesian farmers. Many factors influence farmer decisions, especially in the application of cultivation technology, causing national mangosteen production to be unstable and of low quality. This condition causes Indonesian mangosteen to be unable to compete with other countries such as Malaysia, Thailand and Latin America. The amount of mangosteen produced by farmers for export purposes is still low. Useful cultivation techniques and technology applications are not yet fully compliant with the Standard Operating Procedures (SOP) and Good Agricultural Practices (GAP), such as the use of superior seeds, dosage methods and times of fertilization, observation and control of pests, and harvest and post-harvest treatment. this is identifying the factors that influence farmers' decision to use technology in mangosteen cultivation. The research method used was a survey of 69 mangosteen farmers selected by simple random sampling and location selected by multistage random sampling. The factor analysis was used Regression  with System Equations Model. The results of the study show that the factors that influence farmers' decision to use mangosteen cultivation technology to increase production and quality of crops are farmers' assets, namely physical assets, non-physical assets and access to farmers' access. Physical assets, namely the number of ownership of trees, rice fields, vehicles, and income outside of farming; Non-physical assets, namely the number of productive age family members, farmers' access assets, namely the length of travel time from the garden to the provincial road.