Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Alternatif Pohon Buah untuk Penghijauan Permukiman Perkotaan Berdasarkan Pendugaan Tingkat Keindahan dan Pendapat Masyarakat di Kelurahan Rejowinangun, Yogyakarta Cut Annisa Nabila; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Budiastuti Kurniasih; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.412 KB) | DOI: 10.22146/veg.31978

Abstract

Minat masyarakat Permukiman Rejowinangun Yogyakarta terhadap penanaman pohon buah untuk alternatif tanaman penghijauan, sebagai bagian dari pengembangan lanskap produktif, cukup tinggi. Penelitian bertujuan mengetahui pendapat masyarakat mengenai penghijauan permukiman perkotaan dengan pohon buah serta mengetahui tingkat keindahan alternatif pohon buah. Metode penelitian dilakukan dengan metode survei pengambilan data secara stratified purposive sampling dan analisis Scenic Beauty Estimation (SBE). Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Rejowinangun Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar masyarakat setuju terhadap pelaksanaan penghijauan dengan pohon buah dengan memperhatikan teknis penanaman pohon. Pengetahuan masyarakat Rejowinangun terhadap buah lokal Yogyakarta di sekitar jalan sekunder sebesar 11,11%, jalan tersier sebesar 21,48%, dan jalan kuarter sebesar 20%. Alternatif pohon buah untuk penghijauan jalan dengan nilai SBE tertinggi yaitu jambu air (Eugenia aquea; 67,61), kepel (Stelechocarpus burahol; 67,22), dan jambu dersono (Syzygium malaccense; 61,13).
Konsep Perencanaan Taman Museum Kars Indonesia Wonogiri, Jawa Tengah Berdasarkan Potensi Tanaman Lokal Maharsadi Mahfud Amarulaziz; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.933 KB) | DOI: 10.22146/veg.33556

Abstract

Penelitian ini bertujuan menginventarisasi dan mengidentifikasi tanaman lokal yang berada di sekitar Museum Kars Indonesia dan memberikan konsep perencanaan taman yang berbasis pada pemanfaatan tanaman lokal. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan teknik pengambilan data purposive sampling dan wawancara mendalam. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang dinilai memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi lahan Museum Kars Indonesia dan kawasan disekitarnya, mengetahui jenis-jenis tanaman lokal di kawasan museum beserta potensi yang dimiliki dalam upaya pengembangan kualitas lanskap taman Museum Kars Indonesia. Wawancara dilakukan di sekitar kawasan museum yang memiliki karakter fisik lahan yang menyerupai kondisi lahan di area Taman Museum Kars Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada kawasan Museum kars Indonesia terdapat 47 jenis tanaman lokal yang terdiri dari 34 jenis pohon, dan 13 jenis perdu dan semak. PadaTaman Museum Kars Indonesia terdapat 21 jenis tanaman yang terdiri dari 13 jenispohon dan 8 jenis perdu dan semak. Tanaman lokal di kawasan Museum Kars Indonesiamemiliki potensi berupa tanaman bunga untuk meningkatkan keindahan dan variasiwarna, potensi produksi buah yang dapat meningkatkan nilai tambah taman dan dayatarik pengunjung, variasi bentuk, warna dan ukuran tajuk tanaman yang dapatdimanfaatkan untuk membentuk pola tanaman yang teratur, berimbang dan beriramaserta keberagaman tanaman yang dapat menghasilkan keanekaragaman hayati(Biodiversity) dari segi tanaman maupun sebagai habitat satwa. Dengan adanyapenelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan pihak pengelola museum untukmeningkatkan kualitas taman museum menjadi lebih baik.
Fungsi Vegetasi sebagai Pengendali Iklim Mikro dan Pereduksi Suara di Tiga Taman Kota DKI Jakarta Fauzan Erawan Pratama; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.39112

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tutupan kanopi tanaman di taman kota serta pengaruhnya terhadap pengendalian iklim mikro dan pereduksi suara, dan mempelajari komposisi vegetasi yang terdapat di taman kota. Lokasi penelitian terletak di tiga taman kota, yaitu Taman Ayodya, Taman Menteng dan Taman Cattleya. Ketiga taman dipilih secara purposive sebagai sampel untuk mewakili ruang terbuka hijau (khususnya taman) yang ada di DKI Jakarta. Metode penelitian ini adalah metode survei, data yang diperoleh dianalisis menggunakan T-test student dengan signifikasi 95%. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan di lapangan dan studi literatur, pada bulan November 2017 - Januari 2018. Variabel yang diamati di lapangan meliputi rasio penutupan kanopi, bentuk vegetasi, iklim mikro ,tingkat kebisingan, dan pendapat masyarakat tentang kondisi iklim mikro dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukan mayoritas tanaman yang terdapat di Taman Ayodya, Taman Menteng, dan Taman Cattleya adalah pohon, baik yang bersifat  pengarah, peneduh, pembatas ataupun estetis. Persentase penutupuan kanopi yang terdapat di Taman Ayodya, Taman Menteng dan Taman Cattleya termasuk kategori penuh, rata-rata persentase penutupan kanopi pada masing-masing taman yaitu 85,06%, 87,21% dan 81,97%. Komposisi dan sruktur vegetasi serta kondisi penutupan kanopi di Taman Ayodya, Taman Menteng, dan Taman Cattleya,  dapat menurunkan suhu sebesar 4°C dan mereduksi kebisingan sebesar 14 dB. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai komposisi vegetasi di Taman Ayodya, Taman Menteng, dan Taman Cattleya dan sebagai salah satu rekomendasi kepada pemerintah daerah dan pihak terkait mengenai penerapan tata hijau taman di Jakarta khususnya fungsi ekologis
Pemilihan Alternatif Pohon Buah Untuk Penghijauan Berdasar Karakteristik Tanaman Dan Kesesuaian Lahan Di Area Perkantoran Pemda Bantul, Manding, Yogyakarta Yogyaning Kartiko Atmojo; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.122 KB) | DOI: 10.22146/veg.41176

Abstract

Pohon buah dapat digunakan sebagai alternatif penghijauan di area perkantoran untuk menambah fungsi tanaman dalam penghijauan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan seleksi alternatif pohon buah untuk penghijauan berdasarkan karakteristik tanaman perkantoran dan kesesuaian lahan di area perkantoran Pemda Bantul. Penelitian ini dilakukan dengan survei lokasi existing, pengambilan sampel tanah dengan simple random sampling dilakukan agar mendapat sampel tanah yang sesuai dengan lokasi program revitalisasi dinas Lingkungan Hidup. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pohon buah yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai penghijauan di area Perkantoran Pemda Bantul dengan memperhatikan zona aktivitas tamu atau pengunjung perkantoran. Alternatif pohon buah pada zona penerimaan antara lain Asam Jawa (Tamarindus indica), Kepel (Stelechocarpus burahol), Duku (Lansium domesticum). Kemudian pada zona inti aktivitas direkomendasikan alternatif pohon buah Lengkeng (Euphoria longan), Sawo Duren (Chrysophyllum cainito), Jamblang (Syzygium cumini), dan Kapulasan (Nephelium mutabile). Selanjutnya pada zona fasilitas masyarakat direkomendasikan alternatif pohon buah Jambu dersono (Eugenia malaccensis), dan Duku (Lansium domesticum)
Fungsi Ekologis Vegetasi Taman Denggung Sleman sebagai Pengendali Iklim Mikro dan Peredam Kebisingan Alun Erdianto; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.987 KB) | DOI: 10.22146/veg.41374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ekologis vegetasi sebagai pengendali iklim mikro dan peredam kebisingan, menganalisis jenis vegetasi Taman Denggung serta membuat rekomendasi tata hijau Taman Denggung berdasarkan aspek fungsi ekologisnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2018 di Taman Denggung, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Studi ini menggunakan metode survei dengan pengambilan data lapangan dan analisis deskriptif untuk tujuan fungsi pereduksi kebisingan, pemecah angin, dan penurun suhu di Taman Denggung. Hasil inventarisasi dianalisis berdasarkan kriteria fungsi ekologis yang kemudian dibandingkan dengan literatur. Teknik penilaian fungsi ekologis menggunakan rumus Key Performance Index (KPI) untuk memberi nilai pada masing-masing kriteria. Keberadaan vegetasi berupa pohon di Taman Denggung mampu mereduksi kebisingan sebesar 8,6 dBA, mengurangi suhu sebesar 2,25 °C dan meningkatkan kelembaban udara sebesar 5,3 % serta mampu memperlambat kecepatan angin sebesar 0,60 m/s. Jenis vegetasi di Taman Denggung yang memiliki karakteristik morfologi baik sebagai peredam kebisingan 57,47 %, sebagai penurun suhu 57,34 %, sebagai kontrol kelembaban udara 38,53 %, dan sebagai penahan angin 95,41 %.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Pengaruhnya Pada Angsana (Pterocarpus indicus), Tanjung (Mimusops elengi), dan Asam Jawa (Tamarindus indica) di Jalan Lingkar Alun–Alun Yogyakarta Suryana Riski Siregar; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.765 KB) | DOI: 10.22146/veg.42694

Abstract

Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang digunakan dalam bahan bakar kendaraan bermotor dan menjadi polutan. Adapun tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) pada daun tanaman Angsana (Pterocarpus indicus), Tanjung (Mimusops elengi), dan Asam Jawa (Tamarindus indica) serta mengetahui pengaruhnya terhadap kandungan klorofil, kerapatan dan lebar bukaan stomata. Penelitian dilakukan dengan metode observasi, dimana daun tanaman sampel dipilih berdasarkan diameter batang batang tanaman. Data di uji ANOVA (analysis of varians) dan korelasi menggunakan R studio dan Microsoft excel. Kandungan timbal (Pb) pada tanaman tanjung (Mimusops elengi) 4,39 mg/kg, tanaman asam jawa (Tamarindus indica) 3,08 mg/kg), dan tanaman angsana (Pterocarpus indicus) 2,5 mg/kg. Kandungan timbal  (Pb) pada tanaman asam jawa tidak berbedanya tanaman tanjung dan angsana, namun kandungan timbal (Pb) pada tanaman angsana berbeda nyata dengan tanaman tanjung. Kandungan timbal (Pb) tidak berbeda nyata antar diameter batang tanaman. Pengaruh kandungan timbal (Pb) pada klorofil, lebar bukaan stomata, kerapatan stomata, dan biomassa pada tiga jenis tanaman menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Pengaruh kandungan yang signifikan yaitu terhadap lebar bukaan stomata tanaman asam jawa. 
Pendampingan Identifikasi Potensi Pengembangan Agrowisata Berbasis Partisipasi Masyarakat di Desa Tirtomulyo, Kretek, Bantul, Yogyakarta Siti Nurul Rofiqo Irwan; Hani Perwitasari; Muhamad Muhamad
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2021): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.7.2.122-130

Abstract

Tirtomulyo Village is located enroute the Parangtritis Beach, which is one of the main tourist destinations in the Bantul Region of Yogyakarta. This village has the potential to develop into an agro-tourism area based on the natural resources and community participation. Presently, community-based agro-tourism is being developed in this area through the Gadjah Mada University Assisted Village program. Therefore, this programme aims to 1) Identify the potential of natural resources and village landscapes; 2) Increase community participation in developing villages; and 3) Empower natural resources and village communities for agro-tourism development. Data were obtained from community participation-based agro-tourism planning using the Business Model Canvas (BMC) method and the Training on Trainer system from June to October 2020. Furthermore, during the Covid 19 pandemic, tourism education was carried out using an online method such as Google meet and whatsapp group platforms. The implementation of the direct meeting program (offline) was limited due to health protocol. Potential identification carried out by the community in 15 hamlets of Tirtomulyo Village shows the potential for natural resource attractions based on local wisdom consisting of natural resources, yards (pekarangan), cultural table 1dance, handicrafts, culinary, and fisheries. The result showed that online and offline discussions and the making of BMC posters are some of the efforts used in building villages for agro-tourism development. Furthermore, various natural resources as the potential of agro-tourism attractions have started to be empowered, including plant nurseries in the yard (pekarangan), peanut brittle, gula semut, and banana weevil chips well as a homestay. Therefore, the coordination of the inter-hamlet agro-tourism program at the village level still needs to be improved.
PEMANFAATAN RUANG TERBATAS SEKITAR RUMAH DI PERMUKIMAN PERKOTAAN MELALUI PENGEMBANGAN LANSKAP PRODUKTIF Siti Nurul Rofiqo Irwan; Ahmad Sarwadi
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkotaan dikenal dengan masalah keterbatasan ruang.  Jumlah penduduk yang tinggi tidak pernah lepas dari kebutuhan perumahan di kota. Tingkat kepadatan rumah dalam suatu permukiman diikuti dengan keterbatasan ruang  sekitar rumah  yang dimanfaatkan dan diberdayakan  untuk pekarangan. Keberadaan pemilik rumah juga akan menentukan bentuk pemanfaatan pekarangan sebagai bagian dari aksi wujud lingkungan binaan di permukiman perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui  aksi  masyarakat dalam  memanfaatkan pekarangan sempit  di permukiman perkotaan. Metode penelitian menggunakan metode survei  dengan  sampel secara sensus di  satu klaster (RT) permukiman  padat  Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40  penghuni di RT  24, umumnya (97,5%) masyarakat memiliki waktu terbatas, sekitar 1-2 jam per hari,  untuk  mengelola pekarangan, baik untuk merencana, menanam, dan memelihara. Hal ini disebabkan umumnya penghuni memiliki pekerjaan  tetap setiap hari dari pagi sampai sore/malam.  Jenis tanaman yang ada bervariasi diantaranya pohon buah seperti nangka, mangga, asem), tanaman rempah dan obat (jahe, laos, sirih), sayuran (sawi, cabe, bayam) dan tanaman hias (aglonema, anthurium, mawar). Sekitar 30,79%  kondisi tanaman tumbuh tidak optimal (layu dan bercak kuning), hal  ini karena kurang cahaya, dan  jenis yang ditanam umumnya memerlukan cahaya dan pemeliharaan intensif. Ruang sempit dalam permukiman padat menyebabkan tangkapan cahaya untuk pekarangan sangat terbatas, sehingga diperlukan perencanaan pemilihan tanaman yang tahan naungan dan tanaman yang memerlukan pemeliharaan minimal. Alternatif pengembangan pekarangan produktif  dengan  “tanaman hortikultura dalam pot (tahorlampot)” perlu dipertimbangkan  dengan modifikasi desain yang  memudahkan pemeliharan dan  tangkapan cahaya optimal.   Kata kunci:  Lanskap Perkotaan, Pekarangan Produktif, Permukiman Perkotaan,  Tahorlampot,  Yogyakarta
LANSKAP PEKARANGAN PRODUKTIF DI PERMUKIMAN PERKOTAAN DALAM MEWUJUDKAN LINGKUNGAN BINAAN BERKELANJUTAN Siti Nurul Rofiqo Irwan; Ahmad Sarwadi
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari permukimaan perkotaan. Pekarangan merupakan kearifan lokal dan menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia.  Fungsi ekosistem pekarangan sangat mendukung terwujudnya konsep arsitektur berkelanjutan.  Berdasarkan pengamatan, keterbatasan ruang di perkotaan menyebabkan pemanfaatan pekarangan tidak optimal,  lebih mengarah kepada fungsi estetika dan tidak produktif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi pekarangan di permukiman perkotaan, dari aspek  luas, penggunaan ruang dan pemilihan vegetasi. Penelitian dilakukan ke permukiman padat perkotaan di Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Pada 83 sampel rumah dari dua RT terpilih, diketahui luas kavling minimal 28m2 hingga 1650 m2 dengan tanpa pekarangan hingga 1100 m2luas pekarangan. Posisi ruang sekitar rumah untuk pekarangan menentukan tangkapan cahaya matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis tanaman. Sekitar 49,4% pekarangan di studi kasus permukiman perkotaan dapat menangkap cahaya matahari tidak penuh  dan 39,8% pekarangan dapat menangkap cahaya matahari penuh. Jenis tanaman sebagian besar adalah tanaman hias dan tidak produktif.  Keterbatasan lahan mendasari rancangan penanaman vertikal, penggunaan pot, dan tanaman merambat dengan pergola. Pemilihan vegetasi yang dapat dikonsumsi (edible plants) terutama keragaman tanaman buah,  sayuran dan tanaman obat menjadi prioritas di pekarangan perkotaan. Metode  rancangan dan aplikasi pemanfaatan pekarangan cukup  efektif dengan metode partisipasi masyarakat dalam proses desain pekarangan produktif.
The Effect of Spent Bleaching Earth Filler-Based NPK Fertilization on Proline, Growth and Yield of Maize Ranggi Sumanjaya Purba; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Eka Tarwaca Susila Putra
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 35, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.817 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v35i1.34166

Abstract

Spent bleaching earth (SBE) is by-product of cooking oil processing industry of crude palm oil (CPO). Palm oil industry is growing every year, followed by population growth and consumption of cooking oil so that the greater volume of waste generates SBE. An innovation is needed to anticipate the problem of SBE waste in agricultural sector, dealing with a filler component in the production of NPK fertilizer additives. This study aims to determine proline response, growth and yield of the maize to fertilization NPK with SBE-based filler. The experiments used Randomized Complete Block Design (RCBD) with the treatments of NPK filler (15:15:15) consisting of BC (brown clay), SBE and DBE (deoiled bleaching earth) at a dose of 6 g polybag-1. The results showed that the use of SBE gave the same effect on plant height, leaf number, stem diameter and 100-seed weight, but the use of SBE could increase 61.15% of proline activity. SBE can substitute filler on the additional materials of NPK fertilizer.