Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Analisis Komunikasi Interpersonal Anak Dalam Keluarga Pasca Perceraian Di Kota Baubau Rachmad Ramadhan Romy; Maria Ulfa
Frame (Jurnal Ilmiah Mahasiswa) Vol. 3 No. 2 (2024): FRAME (Jurnal Ilmiah Mahasiswa)
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/frame.v3i2.7659

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran komunikasi interpersonal anak dalam keluarga pasca perceraian pada remaja di kota baubau, (2) faktor penyebab terjadinya permasalahan komunikasi interpersonal, dan (3) peran konseling individual dalam mengatasi permasalahan komunikasi interpersonal anak dalam keluarga pasca perceraian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara, dengan tahapan studi kasus yaitu identifikasi masalah, diagnosis, pelaksanaan treatment dan evaluasi. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) komunikasi antara subjek penelitian dan orang tuanya menjadi renggang. Subjek peneltian jarang memulai percakapan atau menghubungi orang tuanya. (2) penyebab renggangnya komunikasi tersebut diakibatkan subjek penelitian merasa marah dan kecewa kepada orang tuanya karena belum bisa menerima kenyataan bahwa orang tuanya telah bercerai sehingga membuat subjek kurang terbuka dalam berkomunikasi dengan orang tuanya. (3) penanganan yang diberikan adalah layanan konseling individual untuk membantuk subjek penelitian mengatasi permasalahannya. Dalam proses pemberian layanan konseling individual peneliti membantu mengarahkan subjek penelitian agar mampu kembali terbuka kepada orang tuanya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian layanan konseling individual dapat membantu subjek penelitian terkait permasalahan komunikasi interpersonal dengan orang tuanya.
PENERAPAN KONSELING KELOMPOK MELALUI TEKNIK MINDFULNESS UNTUK MENGURANGI TINGKAT KECANDUAN SMARTPHONE PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 3 BAUBAU Fahmi Aprillianty; Maria Ulfa
Frame (Jurnal Ilmiah Mahasiswa) Vol. 4 No. 02 (2025): FRAME (Jurnal Ilmiah Mahasiswa)
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/frame.v4i02.8090

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecanduan smartphone pada siswa, mengetahui pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik mindfulness, serta menguji efektivitasnya dalam mengurangi kecanduan smartphone pada siswa kelas XI SMK Negeri 3 Baubau. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode pre-experimental design tipe one group pretest-posttest (tes awal- tes akhir kelompok tunggal). Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dengan sampel sebanyak 12 siswa berada pada kategori tinggi. Teknik pengumpulan data menggunakan skala likert dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan sebelum diberikan treatment (pre-test) dengan layanan konseling kelompok dengan teknik mindfulness berada pada kategori tinggi sebanyak 12 siswa (24%), kategori sedang sebanyak 30 siswa (60%) dan kategori rendah sebanyak 8 siswa (16%). Oleh karena itu, dengan kategori tinggi 12 siswa tersebut diberikan intervensi berupa layanan konseling kelompok dengan teknik mindfulness sebanyak 4 kali. Hasil posttest nya menunjukan adanya penurunan tingkat kecanduan smartphone. Tercatat sebanyak 7 siswa (58%) berada pada kategori rendah, 5 siswa (42%) pada kategori sedang, dan tidak ada siswa yang berada pada kategori tinggi (0%). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan signifikan pada tingkat kecanduan smartphone setelah diberikan layanan konseling kelompok berbasis teknik mindfulness.
PSIKOEDUKASI BODY IMAGE POSITIF SEBAGAI STRATEGI PENCEGAHAN GANGGUAN MENTAL PADA GENERASI Z Ria Safaria Sadif; Maria Ulfa; Melda Widya Rosady
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 5 No 03 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v5i03.2372

Abstract

This community engagement activity aims to enhance Generation Z’s understanding and skills in developing a positive body image as a means of preventing mental health issues. The method employed is participatory psychoeducation, which integrates education, discussion, self-reflection and skills training. The activity was carried out in Mantowu Village, Buton Regency, with 15 participants from the Generation Z youth category. The results of the activity showed that participants gained an understanding of body diversity and realized that beauty standarts are relative. Participants were also able to think more critically about digital content depicting the ideal body. Furthermore, participants demonstrated an initial ability to manage negative emotions arising from social comparison and were able to accept themselves through reflection exercises and positive affirmations. Overall, this activity succeeded in improving mental health literacy and fostering a positive body image among adolescents.
Maritime Habitus and Learning Ethos Among Bajo Youth: Negotiating Scholling and Sea Life in Kawite-Wite Rosmawati Taherong; Maria Ulfa; Erviana Antasari; Mardiana Mardiana
Jurnal Pendidikan Terapan Vol 4, No 3 July (2026)
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/jupiter.v4i3.1172

Abstract

Purpose: This study aims to analyze how maritime habitus shapes the learning ethos of Bajo youth in Kawite-Wite Village, Muna Islands, Southeast Sulawesi, by addressing a research gap in coastal education studies that have largely emphasized access, participation, and dropout, while paying limited attention to maritime culture as both educational capital and structural challenge. Methods: This study employed a descriptive qualitative approach within a critical sociology of education paradigm using a phenomenological-sociological design. Data were collected through participant observation, semi-structured in-depth interviews, focus group discussions, and documentation involving 24 informants, consisting of 16 Bajo youth aged 13-18 years and 8 supporting informants, including teachers, a school principal, fishermen parents, a senior fisherman, a Bajo community figure, and a local education observer. Data were analyzed interactively through data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. Findings: The findings reveal three central patterns. First, maritime habitus functions as cultural capital through hard work, resilience, solidarity, responsibility, independence, and collective discipline. Second, it produces educational tension through seasonal absenteeism, fatigue, family labor demands, and the risk of school dropout. Third, Bajo youth construct a hybrid future orientation by negotiating their roles as students and children of fishing families. Research Implications: The study implies that coastal education should be culturally responsive, flexible, and connected to maritime life. Originality: This study advances the concept of maritime habitus as an analytical lens for understanding learning ethos as a negotiation between the school field and the sea field.
Principal Leadership in Developing Adaptive Educational Management Culture in Elementary Schools Agusalim; Isaac John Ibanga; Maria Ulfa; Muhammad Yusnan; Waode Riniati; Hijrawatil Aswat; Yeni Setiani
Jurnal Pendidikan Terapan Vol 4, No 3 July (2026)
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/jupiter.v4i3.1353

Abstract

Purpose: This study aims to analyze how principal leadership contributes to the development of an adaptive educational management culture in elementary schools, particularly in responding to policy changes, learning needs, and the dynamics of school governance. Methods: This study employed a qualitative case study design involving three elementary schools: SD Negeri 2 Baubau, SD Negeri 2 Palatiga, and SD Negeri Palatiga. This study employed a qualitative case study design involving three elementary schools. Fifteen informants, consisting of three principals, nine teachers, and three educational staff members, were selected purposively. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. Findings: The findings reveal that adaptive educational management culture is developed through five interconnected mechanisms: translating the school vision into daily work practices, strengthening participatory communication, involving teachers in decision-making and program implementation, promoting context-based program flexibility, and using reflective evaluation as a space for organizational learning. Research Implications: The study implies that principals need to strengthen collaborative governance, reflective supervision, teacher participation, and context-sensitive decision-making to build schools that are more responsive to institutional and pedagogical change. Originality: This study offers a contextual model of adaptive educational management culture by positioning principal leadership as a cultural and relational practice rather than merely an administrative function. lies in the placement of the principal's leadership as a cultural practice that constructs an adaptive management culture through social relations and organizational learning, not just an administrative function.
Penguatan Karakter Mahasiswa Generasi Z Melalui Integrasi Pola Asuh Keluarga Dan Nilai Budaya Lokal Maria Ulfa; Sry Mayunita; Wa Nur Fida; Nanang Sabitri; Hartina Hartina
Lebah Vol. 19 No. 6 (2026): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i6.575

Abstract

Transformasi digital mengubah pola belajar, interaksi sosial, dan pembentukan identitas mahasiswa Generasi Z, sehingga memunculkan tantangan karakter berupa lemahnya kontrol diri digital, integritas akademik, empati sosial, dan keterikatan terhadap budaya lokal. Kegiatan PKM ini bertujuan memperkuat karakter mahasiswa semester 2 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Buton melalui integrasi pola asuh keluarga, nilai budaya lokal Buton, dan literasi karakter digital. Metode kegiatan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif berbasis pengalaman melalui seminar tematik, pelatihan reflektif, pendampingan kelompok, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan rata-rata skor pre-test 58,40 meningkat menjadi 86,40 pada post-test, atau meningkat 47,95% dalam kategori sedang. Peningkatan tertinggi terjadi pada pemahaman nilai budaya lokal Buton sebesar 60,00% dalam kategori tinggi. Kegiatan ini menegaskan bahwa integrasi keluarga, budaya lokal, dan literasi digital efektif membangun kesadaran karakter mahasiswa secara kontekstual dan perlu dilanjutkan melalui kolaborasi kampus, keluarga, serta komunitas budaya
Partisipasi Warga Berbasis Digital Micro-Deliberation melalui WhatsApp Community untuk Keputusan Layanan Publik Desa Sry Mayunita; Wa Nur Fida; Maria Ulfa; Mahyudin Mahyudin; Muh. Angga Saputra; Farel Gustyar Wally
Lebah Vol. 19 No. 6 (2026): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital pemerintahan desa menuntut adanya sistem pelayanan publik yang lebih partisipatif, responsif, dan inklusif. Namun, partisipasi warga dalam pengambilan keputusan layanan publik desa masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan forum musyawarah konvensional, rendahnya dokumentasi aspirasi masyarakat, serta belum optimalnya pemanfaatan media digital sebagai ruang komunikasi publik desa. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan membangun sistem partisipasi warga berbasis digital micro-deliberation melalui WhatsApp Community untuk mendukung pengambilan keputusan layanan publik desa yang lebih responsif dan berbasis kebutuhan masyarakat. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif melalui tahapan koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat, analisis kebutuhan, pembentukan WhatsApp Community resmi desa, pelatihan pengelolaan komunitas digital, pendampingan forum deliberasi digital, serta evaluasi partisipatif. Program dilaksanakan di Desa Karae, Kecamatan Sioumpu, Kabupaten Buton Selatan dengan melibatkan aparatur desa, BPD, PKK, karang taruna, tokoh masyarakat, dan warga desa sebagai peserta utama kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemanfaatan WhatsApp Community mampu meningkatkan kualitas komunikasi pemerintah desa dengan masyarakat, mempercepat respons pelayanan publik, memperkuat dokumentasi aspirasi warga, serta meningkatkan keterlibatan kelompok perempuan, pemuda, dan masyarakat marginal dalam proses pengambilan keputusan desa. Selain itu, kapasitas aparatur desa dalam moderasi komunitas digital dan pengelolaan aspirasi publik juga mengalami peningkatan. Implikasi kegiatan ini menunjukkan bahwa WhatsApp Community berpotensi menjadi model transformasi digital pelayanan publik desa yang murah, adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam mendukung tata kelola pemerintahan desa berbasis kolaborasi digital.
Transformasi Identitas Budaya Kota Baubau Melalui Inovasi Komunikasi Pariwisata Digital Berbasis Kearifan Lokal Wa Nur Fida; Sry Mayunita; Maria Ulfa; Abdullah M; Jamiu Jamiu
Lebah Vol. 19 No. 6 (2026): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i6.589

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat merepresentasikan identitas budaya melalui media komunikasi berbasis teknologi, termasuk dalam sektor pariwisata budaya di Kota Baubau. Namun, perkembangan komunikasi pariwisata digital belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan literasi digital masyarakat dan integrasi nilai kearifan lokal dalam produksi konten budaya, sehingga menimbulkan risiko reduksi makna budaya pada ruang digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat identitas budaya Kota Baubau melalui inovasi komunikasi pariwisata digital berbasis kearifan lokal dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam produksi dan pengelolaan konten budaya digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis pemberdayaan masyarakat melalui tahapan identifikasi masalah, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan literasi digital budaya, pendampingan produksi konten wisata budaya, implementasi publikasi media sosial, serta monitoring dan evaluasi program. Mitra kegiatan terdiri atas pelaku UMKM wisata, kelompok sadar wisata budaya, komunitas budaya lokal, mahasiswa, generasi muda kreatif, dan Dinas Pariwisata Kota Baubau. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai komunikasi pariwisata digital, kemampuan produksi konten budaya berbasis storytelling digital, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam promosi wisata budaya melalui media sosial. Selain itu, kegiatan ini berhasil memperkuat representasi identitas budaya lokal melalui publikasi konten budaya digital yang lebih autentik, edukatif, dan komunikatif. Implikasi kegiatan menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata digital berbasis kearifan lokal dapat menjadi model strategis dalam penguatan identitas budaya daerah sekaligus mendukung pengembangan wisata budaya berkelanjutan di era digital
RISIKO SOSIAL, PENDIDIKAN, DAN KESEHATAN AKIBAT PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA PESISIR DI KEPULAUAN MUNA SULAWESI TENGGARA Rosmawati Taherong; Wa Ode Husniah; Maria Ulfa; Nanang Sabitri; Rindi Rindi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v5i01.2218

Abstract

Early marriage remains a persistent social issue in coastal areas of Indonesia, including Tapi-Tapi Village, Muna Islands, where the Bajo community constitutes a significant social group. This phenomenon is not merely driven by limited access to education or the absence of succe ssful role models, but is more strongly influenced by free social interacti on among adolescents, weak self-control, and short-term thinking in interpreting intimate relationships and future life planning. This communi ty service program aimed to enhance adolescents’ psychological understa nding of the risks of early marriage, provide mental health education related to stress, anxiety, and depression, and develop adolescents’ personal skills to better prepare them for future life challenges. The program was implemented through psychosocial counseling, participat ory discussions, and community-based mentoring involving adolescents, parents, and local leaders. The results indicate an increase in adolesce nts’ critical awareness of the psychological and social consequences of early marriage, shifts in perceptions of the body and intimate relationsh ips, & strengthened reflective capacity in decision-making. Program underscores that preventing early marriage requires a non-repressive approach prioritizes psychosocial readiness & the strengthening of adole scent agency, rather than relying solely on normative/ moralistic control.
OPTIMIZING GENERATION Z MOBILITY THROUGH CULTURAL TOURISM IN BAUBAU CITY: BUILDING INTERCULTURAL COMMUNICATION IN THE DIGITAL ERA Wa Nurfida; Sry Mayunita; Maria Ulfa; Hastuti Hastuti; Zahwa Ferdana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v5i01.2219

Abstract

Generation Z as active users of digital technology, tends to be disconnected from local cultural values, so an approach that combines culture and technology is needed to create a higher cultural awareness. The purpose of this study is to analyze the impact of cultural tourism activities on intercultural understanding and communication among Generation Z in Baubau. The method used in this study is a qualitative approach with observation techniques, in-depth interviews, and surveys of cultural tourism program participants. The data obtained were analyzed to assess changes in cultural understanding, active participa tion, and intercultural interaction through digital media. The results show that this cultural tourism program successfully increased Generation Z's interest in local cultural heritage and strengthened intercultural communication through digital platforms. Participants demonstrated an increased understanding of cultural diversity and were able to use social media to share cultural experiences, which in turn created more inclusive interactions and opened up space for more constructive intercultural dialogue. This research contributes to the development of a cultural tourism model that is relevant for Generation Z in the digital era.