Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Peran Ayah Dalam Pembentukan Penyimpangan Perilaku Seksual pada Homoseksual dari Perspektif Pelaku Homoseksual Di Kota Bandung Pratidina, Eki; Munawaroh, Madinatul; Nurarofah, Shiti Fadliah; Apriliani, Fina
Jurnal Ilmu Kesehatan Immanuel Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Kesehatan Immanuel
Publisher : Institut Kesehatan Immanuel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36051/jiki.v15i2.165

Abstract

Peran ayah (fathering) merupakan peran yang dilakukan oleh seorang laki-laki dalam satu keluarga yang memiliki tugas mengarahkan anak menjadi mandiri dan berkembang positif, baik secara fisik dan psikologis. Peran ayah sama pentingnya dengan peran seorang ibu walaupun waktu yang dihabiskan bersama anak relatif lebih sedikit dibandingkan seorang ibu. Permasalahan penyimpangan orientasi seksual banyak faktor yang dapat menjadi penyebabnya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi peran ayah dalam pembentukan penyimpangan perilaku seksual. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan perilaku seksual berkontribusi dengan fungsi keluarga, manajemen sumber daya keluarga serta proses pembentukan konsep diri anak. Peran ayah dalam keluarga tidak hanya keterlibatannya dalam menjalankan fungsi keluarga seperti fungsi ekonomi, akan tetapi keterlibatan ayah dalam interaksi positif dengan anak aktif dapat memberikan nilai dan karakter pada pembentukan konsep diri anak. Peran ayah (fathering) dapat membantu proses tumbuh kembang anak salah satunya pemenuhan kebutuhan psikologi dan sosialisasi. Dukungan orangtua dalam menuntaskan tugas perkembangan anak dapat menghindari dari perilaku penyimpangan, termasuk penyimpangan seksual. Perkembangan anak erat kaitannya dengan peran orang tua dalam menentukan pandangan dan nilai bagi anak untuk berperilaku. Peran ayah diharapkan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga fungsi manajemen keluarga dapat berfungsi sebagaimana mestinya di dalam keluarga.
Characteristics of Male Sex Men Who Screen for Sexually Transmitted Infections in an Effort to Prevent HIV/AIDS Pratidina, Eki; Maulana, Imam
International Journal of Ethno-Sciences and Education Research Vol. 3 No. 2 (2023): International Journal of Ethno-Sciences and Education Research (IJEER)
Publisher : Research Collaboration Community (Rescollacom)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46336/ijeer.v3i2.425

Abstract

HIV/AIDS is an infectious disease that is currently happening in Indonesian society. Globally, the number of HIV (Human Immunodeficiency Virus) has tended to increase from 2010-2019 with the spread of the virus in all age groups. The high number of HIV cases in Indonesia is due to free-sex behavior and the low level of public knowledge about risky sexual behavior, prevention of unwanted pregnancies, and sexually transmitted diseases. The total number of people with HIV/AIDS (ODHA) in Indonesia as a whole until March 2021 was recorded at 427,201 people, and AIDS cases were 131,417 people. Data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, the number of people living with HIV based on risk factors found that 27.2% of homosexuals were 26.3% of the male sex men and 0.9% of drag. One of the high-risk groups is male sex men who have abnormal sexual deviations and have a tendency to lead to sexual crimes. This study aims to obtain an overview of the characteristics of male sex men who carry out screening for Sexually Transmitted Infections to prevent HIV/AIDS. This research method uses a quantitative description method. The population is male sex men as many as 85 people. The sampling technique used purposive sampling, obtained a sample of 46 male sex men. Data collection techniques with questionnaires. Data analysis using univariate analysis. The results showed that the age of the majority (63%) of the respondents was between 21-30 years old, the domicile of the majority (65.2%) of the respondents resided in Bandung, the last education of the majority (56.5%) of the respondents had a senior high school education, almost all respondents (76.1%) as many as 35 people had jobs, history of screening Sexually Transmitted Infections negative and the activity of using condoms during sex, the majority (71.7%) of respondents always use condoms during sex. Productive age is an age that needs to get special attention, especially in risky sexual activity, this can be seen from the use of condoms when male sex men have sexual intercourse. This becomes our joint consideration in efforts to prevent HIV/AIDS in productive age. This study aims to obtain the results of risky sexual behavior in male sex men through screening for Sexually Transmitted Infections to prevent HIV/AIDS
Faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pra lansia Darajat, Agus Miraj; Pratidina, Eki; Triana, Egi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1879

Abstract

Background: The prevalence of hypertension in Indonesia reaches 34.1% among the population aged 18 years and above. Several factors can influence the incidence of hypertension in pre-elderly individuals, including unhealthy lifestyles: excessive salt consumption, lack of physical activity, and stress can contribute to the incidence of hypertension. Furthermore, a family history of hypertension can increase the risk of hypertension in pre-elderly individuals. Purpose: To identify factors associated with the incidence of hypertension in pre-elderly individuals. Method: This correlational study aims to detect the relationship between internal and external variables based on the correlation coefficient. This correlational study is a descriptive study that can reveal statistical relationships. Results: Bivariate analysis showed that all factors, such as age, gender, hypertension, family history, salt consumption, physical activity, BMI, smoking, and respondents' knowledge level, were not associated with hypertension, with a p-value of 0.669 (p > 0.05). This result was also supported by Fisher's exact test, with a p-value of 1.000. Conclusion: All factors, such as age, gender, hypertension, family history, salt consumption, physical activity, BMI, smoking, and knowledge level, were not associated with hypertension in pre-elderly individuals. Keywords: Factors; Hypertension; Pre-elderly. Pendahuluan Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34.1% pada penduduk usia ≥18 tahun. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian hipertensi pada pra lansia antara lain, gaya hidup tidak sehat: konsumsi garam berlebih, kurangnya aktivitas fisik, dan stres dapat mempengaruhi kejadian hipertensi. Selain itu riwayat keluarga yang memiliki riwayat hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada pra lansia. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pra lansia. Metode: Penelitian dengan metode korelasional yang bertujuan untuk mendeteksi kaitan varias-variasi yang ada di dalam dengan variasi- variasi yang berasal dari luar didasarkan pada koefisien korelasi. Penelitian korelasional ini termasuk penelitian deskriptif yang dapat mengungkapkan hubungan secara statistik Hasil: Uji bivariate menunjukkan bahwa semua faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, kejadian hipertensi, riwayat keluarga, penggunaan asin, aktivitas fisik, aktivitas IMT, perokok, dan tingkat pengetahuan responden tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi dengan nilai p = 0.669 (p > 0.05). Hasil ini didukung pula oleh uji Fisher’s Exact Test dengan nilai p = 1.000. Simpulan Semua faktor tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi pada pra lansia seperti umur , jenis kelamin, kejadian hipertensi, riwayat keluarga, penggunaan asin, melakukan aktifitas, imt, perokok, dan tingkat pengetahuan.. Kata Kunci: Faktor; Hipertensi; Pra lansia.      
Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko Pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) Dalam Pencegahan Penyakit HIV/AIDS Eki Pratidina; Irisanna Tambunan2
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.41872

Abstract

Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan populasi kunci dalam epidemi HIV/AIDS yang memiliki risiko tinggi terhadap perilaku seksual berisiko. Berbagai faktor sosial, perilaku, dan kesehatan berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko pada LSL, termasuk penggunaan kondom, riwayat skrining infeksi menular seksual (IMS), peran keluarga, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan kontrol diri. Studi mengenai faktor spesifik yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko dalam konteks pencegahan HIV/AIDS pada LSL di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL melalui skrining IMS sebagai langkah awal dalam memahami pola risiko infeksi HIV/AIDS. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 46 responden dipilih menggunakan purposive sampling di salah satu Puskesmas di Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan saat kegiatan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-square untuk menguji hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kondom saat berhubungan seksual (p = 0,000) dan hasil skrining IMS (p = 0,000) memiliki hubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL. Sebagian besar responden (71,7%) melaporkan menggunakan kondom saat berhubungan seksual, sementara 23,9% dinyatakan positif IMS. Faktor lain, seperti peran keluarga, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan kontrol diri, tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik, meskipun berperan dalam membentuk pola perilaku seksual individu. Kesimpulan: Penggunaan kondom dan skrining IMS merupakan faktor utama yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL dalam konteks pencegahan HIV/AIDS. Oleh karena itu, strategi intervensi yang lebih efektif diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan akses layanan kesehatan seksual bagi populasi ini.
Promosi kesehatan holistik ibu hamil dan postpartum melalui penguatan kader Posyandu Ulfah, Diana; Pratidina, Eki; Indarna, Asep Aep; Novianti, Wini Resna
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2106

Abstract

Background: Maternal and postpartum health is a crucial indicator of health development, yet the prevalence of postpartum mental disorders in Indonesia remains high, reaching 20–40%. In Cileunyi Kulon Village, efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) are hampered by limited family understanding and the strong influence of traditional practices on medical and psychological care. Although the family plays a crucial role in successful recovery, the competence of the 27 Posyandu (Integrated Service Post) cadres, the frontline health education providers in this area, is not yet optimal in providing evidence-based health promotion. Therefore, this community service program focuses on strengthening the capacity of cadres through comprehensive family mentoring and education. This strategy aims to improve health literacy and family involvement in maintaining maternal physical and mental well-being, while simultaneously supporting the achievement of SDG point three, related to a healthy and prosperous life. Purpose: To provide technical knowledge regarding perineal wound care and breast care to cadres in an effort to optimize their capacity to become effective facilitators in maintaining maternal physical and mental well-being. Method: Community service was conducted from November 25–28, 2025, in Cileunyi Kulon Village, Cileunyi District, Bandung Regency, involving 42 cadres from 27 Integrated Health Posts (Posyandu) as respondents. Information provided covered perineal wound care, breast care, stress management, and family support. Data were presented descriptively. This community service activity was implemented using a community education and mentoring approach. Results: Based on the results before the educational activity (pre-test), the majority of cadres had poor knowledge, namely 24 people (57.1%), while after the educational activity (post-test), results showed that the knowledge category increased to 15 people (35.7%), and the knowledge category became dominant with 19 people (45.2%). Conclusion: The Posyandu cadre capacity building program in Cileunyi Village significantly improved their understanding of physical and mental health care for pregnant and postpartum women. The increased number of cadres with knowledge after the intervention demonstrates that family health promotion methods effectively equip cadres to be at the forefront of improving maternal well-being in the community. Suggestion: Posyandu cadres are expected to apply the knowledge they have gained in routine service activities, particularly in educating families of pregnant women to create a strong support system at the household level. Keywords: Cadres; Family support; Health promotion; Physical and mental health Pendahuluan: Kesehatan ibu hamil dan pasca persalinan merupakan indikator krusial pembangunan kesehatan, namun prevalensi gangguan mental postpartum di Indonesia masih tinggi mencapai 20–40%. Di Desa Cileunyi Kulon, upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) masih terkendala oleh terbatasnya pemahaman keluarga serta kuatnya pengaruh adat dalam perawatan medis dan psikologis. Meskipun peran keluarga sangat menentukan keberhasilan pemulihan, kompetensi 27 unit kader Posyandu sebagai garda terdepan edukasi kesehatan di wilayah ini belum optimal dalam memberikan promosi kesehatan berbasis bukti. Oleh karena itu, program pengabdian masyarakat ini berfokus pada penguatan kapasitas kader melalui pendampingan dan edukasi keluarga yang komprehensif. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan serta keterlibatan keluarga dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental ibu, sekaligus mendukung pencapaian SDGs poin ketiga terkait kehidupan sehat dan sejahtera. Tujuan: Memberikan pengetahuan teknis mengenai perawatan luka perineum dan perawatan payudara pada kader sebagai upaya mengoptimalkan kapasitas kader menjadi fasilitator yang efektif dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental ibu. Metode: Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 25–28 November 2025 di di desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung dengan melibatkan 42 kader dari 27 Posyandu untuk menjadi responden. Informasi yang diberikan adalah perawatan luka perineum, perawatan payudara, manajemen stres dan dukungan keluarga. Akumulasi data disampaikan secara deskriptif. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) dan pendampingan. Hasil: Berdasarkan hasil sebelum kegiatan edukasi (pre-test), mayoritas kader memiliki pengetahuan dalam kategori kurang, yaitu sebanyak 24 orang (57.1%), sedangkan setelah kegiatan edukasi (post-test) mendapatkan hasil dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 15 orang (35.7%) dan kategori cukup menjadi dominan dengan 19 orang (45.2%). Simpulan: Program penguatan kapasitas kader Posyandu di Desa Cileunyi secara signifikan meningkatkan pemahaman kader mengenai perawatan fisik dan kesehatan mental ibu hamil serta postpartum. Meningkatnya jumlah kader yang memiliki pengetahuan sesudah intervensi membuktikan bahwa metode promosi kesehatan keluarga efektif membekali kader sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan ibu di masyarakat. Saran: Para kader Posyandu diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh pada kegiatan pelayanan rutin, khususnya dalam mendidik keluarga ibu hamil untuk menciptakan sistem dukungan yang kuat di tingkat rumah tangga.
Co-Authors Ade Tika Herawati Aiyi Asnawi Akbar Marta Nurpauzi Amida Sriwianti Sarbini Amini, Nadia Ushfuri Ana Ikhsan Hidayatullah Anggi Jamiyanti Anita Rushendarti Apriliani, Fina Ayu Diyana Ayu Triani Cucu Rokayah Daryanti, Eneng Denni Fransiska Helena Denni Fransiska Helena M Derajat, Agus Mi'raj Diana Ulfah Ellin Febrina Erika Sri Yulia Agustiani Etika Emaliyawati Fatmaningsih, Vivi Yulia Fauzan Z Muttaqin Fauzan Zein Mutaqin Fauzan Zein Muttaqin Fauzi, Muhamad Ihsan Fazry Rachmatulloh Gita Puspitasari Hana Nabiilah Hidayat, Faried Rahman Iceu Mulyati Iceu Mulyati Ida Nurfikah Ika Kana Trisnawati imam maulana, imam Imam, Haerul Indarna , Asep Aep INDARNA, ASEP AEP Intan Asmarani Irawan, Susan Irisanna Tambunan2 Ivan Andriansyah Jundiah, R. Siti Jundiah, Raden Siti Kania Fajarwati M. Isronijaya Madinatul Munawaroh Maharani Citra Nabila Mahardika, Abdi Manaf Manaf Manaf, Manaf Meda Yuliani Meda Yuliani Mitha Syaharani Muslim, Dede Nur Aziz Mutia Maudina Mutiara Mumthaz Nova Riani Novianti, Wini Resna Nugraha, Dedep Nur Intan Hayati Husnul Khotimah Nur Intan Hayati Husnul Khotimah Nurarofah, Shiti Fadliah Nurazizah, Siti Nurlieta Ananda T Ola, Fransiska Keron Putri Intan Pandini Rahayu, Sri Mulyati Rahayu, Sri Mulyati Rahmat Santoso Risa Agustiani Rizqi, Soni Mochamad rokayah, cucu Roni, Asep Saarah Putri K. P Sihombing, Ferdinan Silpiana Amelia Silpiani, Silpiani Sondang Ratnauli Sianturi Soni Muhsinin Sutrisno, Entris Tambunan, Irisanna Tiara Nuraeni Tri Nur Jayanti Triana, Egi Untung Sudharmono Widhya Aligita Widhya Aligita Widyawati Widyawati Widyawati Yafi Cahyana Mauladan Yulianti Anjayani Yulianti Anjayani