Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Asuhan keperawatan pada lansia diabetes melitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Kecamatan Cibiru Kota Bandung Darajat, Agus Miraj; Muslim, Dede Nur Aziz; Indarna, Asep Aep; Pratidina, Eki; Rizqi, Soni Mochamad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia which occurs because the pancreas is unable to secrete insulin, insulin action is disrupted, or both. There has been an increase in the global prevalence of DM of around 8.3% in the 20-79 year age group and it is estimated that there are 2.2 million deaths with the percentage due to DM occurring before the age of 70 years, especially in developed countries. country. with low and middle economic status. Purpose: To compile the results of nursing care and identify the benefits of DM exercise in stabilizing the effectiveness of unstable sugar levels in nursing care for elderly DM. Method: Descriptive research with a case study approach on 2 elderly people suffering from diabetes mellitus (DM). This research was conducted in Cibiru District, Bandung City, using a nursing care format for the elderly. Examination data was collected using the Bartel Index and Katz Index on the elderly body. Researchers carry out inspection, palpation, auscultation and percussion on clients. Results: After being given 3J DM diet education, namely type, amount and hours as well as teaching DM exercises, sugar levels decreased, the feeling of tingling decreased, and they were able to do DM exercises. Conclusion: DM exercise is useful in controlling unstable glucose levels in elderly DM nursing care. Suggestion: There is a need for further examination and monitoring of elderly people who experience physical changes in DM sufferers so that their physical health is maintained. Community health centers can carry out intensive visit programs specifically for elderly people who require total dependency. Further research is needed by adding family support variables and actors that worsen elderly illnesses.   Keywords: Blood Glucose Instability; Diabetes Mellitus; Glucose Levels.   Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi karena pankreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin,ataupun keduanya. Terjadi peningkatan prevalensi global DM sekitar 8.3% pada kelompok usia 20-79 tahun dan diperkirakan terdapat 2.2 juta kematian dengan persentase akibat penyakit DM yang terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara-negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Tujuan: Untuk menyusun hasil asuhan keperawatan dan mengidentifikasi manfaat senam DM dalam menstabilkan efektifitas ketidakstabilan kadar gula pada asuhan keperawatan lansia penderita DM. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus kepada 2 lansia yang mengalami diabetes melitus (DM). Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cibiru Kota Bandung menggunakan format asuhan keperawatan pada lansia. Pengumpulan data pemeriksaan dengan cara Bartel Index dan Katz Indeks pada tubuh lansia. Peneliti melakukan tindakan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang dilakukan pada klien. Hasil: Setelah dilakukan edukasi diit DM 3J yaitu, jenis, jumlah, dan jam serta mengajarkan senam DM, kadar gula mengalami penurunan, kesemutan berkurang, dan mampu melakukan senam DM. Simpulan: Senam DM bermanfaat dalam mengontrol ketidakstabilan kadar glukosa pada asuhan keperawatan lansia dengan DM. Saran: Perlu adanya pemeriksaan dan pemantauan lebih lanjut pada lansia yang mengalami perubahan fisik dengan DM agar terjaga kesehatan jasmaninya. Pihak puskesmas dapat melakukan program khusus kunjungan intensif pada lansia yang membutuhkan ketergantungan total. Penelitian selanjutnya dibutuhkan dengan menambahkan variabel dukungan keluarga dan aktor yang memperberat penyakit lansia.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kadar Glukosa; Ketidakstabilan Glukosa Darah.
MASS CIRCUMCISION AS A FORM OF TRUST IN THE COMMUNITY WITHIN THE FRAMEWORK OF GEBYAR LLDIKTI: MASS CIRCUMCISION AS A FORM OF TRUST IN THE COMMUNITY WITHIN THE FRAMEWORK OF GEBYAR LLDIKTI Pratidina, Eki; Rahayu, Sri Mulyati; Sutrisno, Entris; Muslim, Dede Nur Aziz; Manaf, Manaf; Ulfah, Diana; Amini, Nadia Ushfuri
JURNAL PENGMAS KESTRA (JPK) Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Pengmas Kestra (JPK)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.664 KB) | DOI: 10.35451/jpk.v2i2.1461

Abstract

Gebyar LLDIKTI IV Jawa Barat Banten merupakan kegiatan yang diselenggarakan dalam menyambut HUT RI ke-77. Universitas Bhakti kencana merupakan institusi Pendidikan yang berada dibawah koordinasi LLDIKTI Jawa Barat Banten. Sebagai institusi pendidikan dengan mayoritas program studi bidang Kesehatan, Program Studi Diploma III Keperawatan, Program Studi S2 Farmasi dan Program Studi S1 Ilmu Komunikasi ikut andil dalam kegiatan sebagai Tim Kesehatan untuk kegiatan khitanan massal bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu yang berada di daerah sekitar wilayah LLDIKTI IV Jawa Barat Banten. Kegiatan ini merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Universitas Bhakti Kencana dan Pengabdian kepada Masyarakat dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatannya. Khitanan massal diikuti oleh 15 anak yang mendaftar, namun 1 orang tidak hadir karena sakit, sehingga jumlah yang hadir 14 anak. Proses khitanan berjalan dengan lancar dan kondisi anak-anak sehat baik sebelum, saat khitan dan setelah khitan. Harapan untuk tahun yang akan datang kegiatan Gebyar LLDIKTI IV dapat terus terselenggara dengan baik dan dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit kelamin yang diakibatkan tidak dilakukannya khitan pada laki-laki.
Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Pencegahan Penyakit Multidrug Resistant Tuberculosis Di Puskesmas Ujungberung Indah Kota Bandung Pratidina, Eki; Fatmaningsih, Vivi Yulia
JURNAL KESEHATAN KARTIKA Vol. 14 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan Kartika
Publisher : Faculty of Health Science and Technology, University of Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jkkes.v14i2.90

Abstract

Multi Drug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) is a TB case that causes the bacilli Mycobacterium tuberculosis that is resistant to rifampicin and isoniazid. Based on reports from the TB Control Program in West Java, in 2016 there were 68,000 TB cases and caseswere published. While from the entire population of West Java, it is estimated that TB in 2016 will be 316 / 100,000 or approximately 149,600 cases. Thus, there are still 81,000 (54%) TB cases that are not reported, so this can be a source of TB transmission in the community. The purpose of this research was to find out the description of the community about Multi-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) at UPT Ujung Berung Indah Health Center, Bandung. The research method uses the descriptive method, with the participation of Tuberculosis sufferers in the last 2 months received at UPT Ujungberung Indah Health Center as many as 75 people. Time Required for 1 week, with accidental sampling technique. The research instrument used a questionnaire sheet. The results showed the fact of community knowledge about MDR-TB a small proportion of respondents (44.0%) as many as 33 respondents had sufficient knowledge, a small portion of respondents (39%) as many as 29 respondents had good knowledge, and very few respondents (17, 0 %) as many as 13 respondents have less knowledge. The conclusion of the research from the description of the community about MDR-TB disease in UPT Ujungberung Indah Health Center, Bandung City, has a sufficient level of knowledge.
Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan melalui Pelatihan Kegawatdaruratan Kesehatan Jiwa Rokayah, Cucu; Jundiah, Raden Siti; Pratidina, Eki; Irawan, Susan; Imam, Haerul
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v6i1.2685

Abstract

Orang dengan gangguan jiwa berat yang terdata di Puskesmas Ciwaruga berjumlah 40 penderita terbagi di desa 23 orang di Desa Ciwaruga, 11 di Desa Sariwangi dan 6 orang di Desa cigugur Girang. Kemungkinan masalah yang terjadi dengan banyaknya masyarakat yang mengalami masalah gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Ciwaruga merupakan suatu kondisi yang harus ditangani Bersama baik dari Puskesmas bersama masyarakat, beserta kader yang merupakan perpanjangan tangan pihak Puskesmas yang lebih dekat dengan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Puskesmas belum pernah ada penyuluhan ataupun pelatihan pada kader tentang kegawatdarutan Kesehatan jiwa. Tujuan Kegiatan pengabdian pada Masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang kegawatdauratan Kesehatan jiwa. Kegiatan dilakukan di Puskesmas Ciwaruga yang mencakup 3 desa yaitu Desa Sariwangi, Desa Ciwaruga dan Desa Cigugur Girang melalui 3 tahapan yaitu sosialisasi, edukasi dan simulasi. Materi edukasi meliputi tentang gangguan jiwa, kegawatdaruratan jiwa dan penangan yang dapat dilakukan kader. Pre test dan post test menggunakan kuesioner sebagai bentuk evaluasi kegiatan. Hasil pre test dimana hasil tertinggi 75 % kader belum memahami tentang tanda dan gejala gangguan jiwa serta penanganannya, sedangkan hasil post test kader terdapat peningkatan menjadi 85 % pada pengetahuan tentang gangguan jiwa dan kegawatdaruratan Kesehatan jiwa, tetapi untuk penanganan kader masih memerlukan tenaga Kesehatan dan kader hanya ke arah pelaporan ke pihak Puskesmas saja. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulan bahwa kegiatan ini efektif untuk meningkatkan pengetahuan para kader Kesehatan tentang kegawatdaruratan kesehatan jiwa.
Asuhan keperawatan pada lansia diabetes melitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Kecamatan Cibiru Kota Bandung Darajat, Agus Miraj; Muslim, Dede Nur Aziz; Indarna, Asep Aep; Pratidina, Eki; Rizqi, Soni Mochamad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.404

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia which occurs because the pancreas is unable to secrete insulin, insulin action is disrupted, or both. There has been an increase in the global prevalence of DM of around 8.3% in the 20-79 year age group and it is estimated that there are 2.2 million deaths with the percentage due to DM occurring before the age of 70 years, especially in developed countries. country. with low and middle economic status. Purpose: To compile the results of nursing care and identify the benefits of DM exercise in stabilizing the effectiveness of unstable sugar levels in nursing care for elderly DM. Method: Descriptive research with a case study approach on 2 elderly people suffering from diabetes mellitus (DM). This research was conducted in Cibiru District, Bandung City, using a nursing care format for the elderly. Examination data was collected using the Bartel Index and Katz Index on the elderly body. Researchers carry out inspection, palpation, auscultation and percussion on clients. Results: After being given 3J DM diet education, namely type, amount and hours as well as teaching DM exercises, sugar levels decreased, the feeling of tingling decreased, and they were able to do DM exercises. Conclusion: DM exercise is useful in controlling unstable glucose levels in elderly DM nursing care. Suggestion: There is a need for further examination and monitoring of elderly people who experience physical changes in DM sufferers so that their physical health is maintained. Community health centers can carry out intensive visit programs specifically for elderly people who require total dependency. Further research is needed by adding family support variables and actors that worsen elderly illnesses.   Keywords: Blood Glucose Instability; Diabetes Mellitus; Glucose Levels.   Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi karena pankreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin,ataupun keduanya. Terjadi peningkatan prevalensi global DM sekitar 8.3% pada kelompok usia 20-79 tahun dan diperkirakan terdapat 2.2 juta kematian dengan persentase akibat penyakit DM yang terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara-negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Tujuan: Untuk menyusun hasil asuhan keperawatan dan mengidentifikasi manfaat senam DM dalam menstabilkan efektifitas ketidakstabilan kadar gula pada asuhan keperawatan lansia penderita DM. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus kepada 2 lansia yang mengalami diabetes melitus (DM). Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cibiru Kota Bandung menggunakan format asuhan keperawatan pada lansia. Pengumpulan data pemeriksaan dengan cara Bartel Index dan Katz Indeks pada tubuh lansia. Peneliti melakukan tindakan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang dilakukan pada klien. Hasil: Setelah dilakukan edukasi diit DM 3J yaitu, jenis, jumlah, dan jam serta mengajarkan senam DM, kadar gula mengalami penurunan, kesemutan berkurang, dan mampu melakukan senam DM. Simpulan: Senam DM bermanfaat dalam mengontrol ketidakstabilan kadar glukosa pada asuhan keperawatan lansia dengan DM. Saran: Perlu adanya pemeriksaan dan pemantauan lebih lanjut pada lansia yang mengalami perubahan fisik dengan DM agar terjaga kesehatan jasmaninya. Pihak puskesmas dapat melakukan program khusus kunjungan intensif pada lansia yang membutuhkan ketergantungan total. Penelitian selanjutnya dibutuhkan dengan menambahkan variabel dukungan keluarga dan aktor yang memperberat penyakit lansia.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kadar Glukosa; Ketidakstabilan Glukosa Darah.
Hubungan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Puskesmas Cibiru Kota Bandung Derajat, Agus Mi'raj; Pratidina, Eki; Indarna , Asep Aep
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.472

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that sufferers experience an increase every year. Data from the World Health Organization in 2018 reported that 422 million people in the world suffer from diabetes mellitus and reached 71% as the leading cause of death in the world. The increase in the global prevalence of Diabetes mellitus of around 8.3% occurred in the age group 20-79 years and it is estimated that there were 2.2 million deaths due to diabetes mellitus before the age of 70 years, especially in countries with low and middle economic status. Diabetes mellitus is one of the chronic diseases that is often found in the elderly, and its management is highly dependent on individual knowledge about the disease. Elderly knowledge about diabetes mellitus, especially regarding the management of blood glucose levels, can have a significant effect on the stability of their glucose levels. Purpose: To analyze the relationship between elderly knowledge about diabetes mellitus and instability of blood glucose levels. Method: Quantitative approach with correlational design. Questionnaires distributed to 40 elderly people with diabetes mellitus in several health centers measured their knowledge about the disease and the symptoms of unstable blood glucose levels that they experienced. The collected data were analyzed using the Pearson correlation test to identify the relationship between the level of knowledge and the level of unstable blood glucose levels. Results: Showed that there was a significant relationship between the knowledge of the elderly about diabetes mellitus and unstable blood glucose levels (p <0.05). Elderly people with better knowledge about diabetes management tend to have more stable blood glucose levels. Conclusion: With the varying levels of knowledge of the elderly about diabetes mellitus, education to improve the knowledge of the elderly about diabetes mellitus has a significant influence on the elderly in managing unstable blood sugar. Optimizing the management of the elderly against diabetes mellitus is greatly influenced by the level of understanding about diabetes mellitus. Keywords: Blood glucose levels, Diabetes mellitus; Elderly knowledge; Health education; Instability of Glucose Levels Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang setiap tahun penderitanya mengalami peningkatan. Data World Health Organization tahun 2018 menginformasikan bahwa tercatat 422 juta orang di dunia menderita diabetes mellitus dan mencapai 71% menjadi penyebab utama kematian di dunia. Peningkatan prevalensi global Diabetes mellitus sekitar 8.3% terjadi pada kelompok usia 20 – 79 tahun dan diperkirakan terdapat 2,2 juta kematian akibat penyakitd diabetes mellitus terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara - negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit kronis yang banyak ditemukan pada lansia, dan pengelolaannya sangat bergantung pada pengetahuan individu tentang penyakit tersebut. Pengetahuan lansia mengenai diabetes mellitus, terutama mengenai pengelolaan kadar glukosa darah, dapat berpengaruh signifikan terhadap stabilitas kadar glukosa mereka. Tujuan: Untuk menganalisa hubungan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Kuesioner yang dibagikan kepada 40 lansia penderita diabetes mellitus di beberapa pusat kesehatan mengukur pengetahuan mereka tentang penyakit ini dan gejala-gejala ketidakstabilan kadar glukosa darah yang mereka alami. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi pearson untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat ketidakstabilan kadar glukosa darah. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah (p<0.05). Lansia dengan pengetahuan lebih baik mengenai pengelolaan diabetes cenderung memiliki kadar glukosa darah yang lebih stabil. Simpulan: Dengan tingkat pengetahuan lansia terhadap diabetes mellitus yang beragam, edukasi untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap lansia dalam mengelola ketidakstabilan gula darah.  Optimalisasi pengelolaan lansia terhadap diabetes mellitus sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman tentang diabetes mellitus.
Peningkatan Motivasi Kader Posbindu dalam Mencegah Demensia: Program Inovatif di Kelurahan Pasir Biru, Bandung, Jawa Barat Nugraha, Dedep; Pratidina, Eki; Ulfah, Diana; Novianti, Wini Resna; Indarna, Asep Aep; Silpiani, Silpiani; Nurazizah, Siti; Mahardika, Abdi; Fauzi, Muhamad Ihsan
Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 2 (2024): JIPPM - Desember 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jippm.702

Abstract

Tantangan kesehatan masyarakat terkait demensia memerlukan pendekatan strategis untuk meningkatkan peran kader Posbindu. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan pengetahuan kader Posbindu dalam pencegahan demensia, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lansia. Kurangnya pengetahuan dan motivasi kader Posbindu menjadi tantangan dalam pencegahan demensia, dengan 37,5% kader memiliki pengetahuan cukup dan motivasi yang menurun dari 84,4% menjadi 75% setelah pelatihan, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih efektif untuk meningkatkan dan mempertahankan motivasi kader. Metode yang digunakan meliputi survei kebutuhan, pelatihan, dan pendampingan langsung kepada 32 kader di Kelurahan Pasir Biru. Pelatihan mencakup materi tentang langkah pencegahan demensia, teknik komunikasi, dan senam otak untuk meningkatkan fungsi kognitif. Hasil menunjukkan peningkatan kader dengan pengetahuan baik dari 62,5% menjadi 68,8%. Motivasi tinggi kader menurun dari 84,4% menjadi 75,0%, namun mereka tetap aktif dalam sosialisasi kesehatan. Program ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis kebutuhan efektif dalam meningkatkan kapasitas kader. Dengan dukungan berkelanjutan, kader dapat menjadi agen perubahan dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap pencegahan demensia.
Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko Pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) Dalam Pencegahan Penyakit HIV/AIDS Pratidina, Eki; Tambunan2, Irisanna
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.41872

Abstract

Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan populasi kunci dalam epidemi HIV/AIDS yang memiliki risiko tinggi terhadap perilaku seksual berisiko. Berbagai faktor sosial, perilaku, dan kesehatan berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko pada LSL, termasuk penggunaan kondom, riwayat skrining infeksi menular seksual (IMS), peran keluarga, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan kontrol diri. Studi mengenai faktor spesifik yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko dalam konteks pencegahan HIV/AIDS pada LSL di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL melalui skrining IMS sebagai langkah awal dalam memahami pola risiko infeksi HIV/AIDS. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 46 responden dipilih menggunakan purposive sampling di salah satu Puskesmas di Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan saat kegiatan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-square untuk menguji hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kondom saat berhubungan seksual (p = 0,000) dan hasil skrining IMS (p = 0,000) memiliki hubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL. Sebagian besar responden (71,7%) melaporkan menggunakan kondom saat berhubungan seksual, sementara 23,9% dinyatakan positif IMS. Faktor lain, seperti peran keluarga, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan kontrol diri, tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik, meskipun berperan dalam membentuk pola perilaku seksual individu. Kesimpulan: Penggunaan kondom dan skrining IMS merupakan faktor utama yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada LSL dalam konteks pencegahan HIV/AIDS. Oleh karena itu, strategi intervensi yang lebih efektif diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan akses layanan kesehatan seksual bagi populasi ini.
Edukasi Gizi Remaja dan Pencegahan Stunting Anggi Jamiyanti; Widyawati; Sri Mulyati Rahayu; Irisanna Tambunan; Eki Pratidina
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 1 (2024): February
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i1.1680

Abstract

Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke remaja. Trend masalah kesehatan pada remaja antara lain kekurangan zat besi (anemia), kurang tinggi badan, kurang energi kronis dan obesitas. Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita dengan ditandai tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Penyebab stunting multidimensi dimana salah satunya adalah gizi ibu mulai dari masa remaja. Gizi Remaja putri yang buruk menyebabkan peningkatan kejadian stunting. Pengetahuan tentang gizi pada remaja sangat penting karena akan berdampak pada jangka panjang terhadap derajat kesehatan. Pengetahuan remaja yang baik tentang gizi berkolerasi dengan kesehatan dilihat dari status gizi yang juga baik. Untuk membekali remaja dalam pengetahuan gizi dan pencegahan stunting maka pengabdian masyarakat perlu dilakukan. Kegiatan bertujuan untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran dalam menerapkan gizi seimbang pada remaja dan pencegahan stunting di Pesantren Yayasan Lima Menara. Pemberian edukasi dilaksanakan dengan metode ceramah dan diskusi. Evaluasi pre dan post-test dilakukan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan. Hasil yang diperoleh adanya peningkatan pengetahuan sebagian besar (70%) cukup, dengan nilai rata-rata 71,8. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi/penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan para peserta. Adolescent Nutrition Education and Stunting Prevention Adolescence is a transition period from children to teenagers. Trends in health problems in adolescents include iron deficiency (anemia), lack of height, chronic lack of energy and obesity. Stunting is a chronic nutritional problem in toddlers characterized by shorter body height compared to children their age. The causes of stunting are multidimensional, one of which is maternal nutrition starting from adolescence. Poor nutrition among young women causes an increase in the incidence of stunting. Knowledge about nutrition in adolescents is very important because it will have a long-term impact on health status. Adolescents' good knowledge about nutrition is correlated with health as seen from their good nutritional status. To equip teenagers with nutritional knowledge and stunting prevention, community service needs to be carried out. The activity aims to increase knowledge and awareness in implementing balanced nutrition for teenagers and preventing stunting at the Lima Menara Foundation Islamic Boarding School. Education is provided using lecture and discussion methods. Pre and post-test evaluations are carried out to determine increases in knowledge. The results obtained were that the majority (70%) had a sufficient increase in knowledge, with an average value of 71.8. This shows that education/counseling can increase the knowledge of participants.
Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat Melalui Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan di Kabupaten Bandung Pratidina, Eki; Jundiah, R. Siti; Rokayah, Cucu; Irawan, Susan; Imam, Haerul
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cddf9a30

Abstract

Kesehatan masyarakat merupakan hal penting dalam meningkatkan kualitas hidup, khususnya di daerah pinggiran kota yang seringkali memiliki akses terbatas terhadap informasi kesehatan. RW 06 Dusun Andir, Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, menghadapi berbagai masalah kesehatan, seperti potensi stunting pada anak, hipertensi pada orang dewasa, dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai perilaku hidup bersih, kesehatan ginjal, penyalahgunaan zat pada remaja, serta kebersihan lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan dasar, termasuk skrining tekanan darah, pencegahan stunting, kesehatan ginjal, serta pencegahan penyalahgunaan zat pada remaja. Metode yang digunakan meliputi identifikasi masalah kesehatan melalui wawancara dengan masyarakat, wawancara langsung tokoh Masyarakat, penyuluhan langsung mengenai pencegahan stunting, pengelolaan hipertensi, pola hidup sehat, kesehatan ginjal, pencegahan penyalahgunaan zat pada remaja, serta kebersihan lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat yang signifikan, tercatat dengan peningkatan skor pengetahuan dari 58,4 (pre-test) menjadi 85,2 (post-test). Perubahan skor menunjukkan peningkatan sebesar 45.89% setelah edukasi penyuluhan. Penyuluhan ini berhasil meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya deteksi dini penyakit dan penerapan pola hidup sehat. Hasil pengabdian ini menegaskan pentingnya pendekatan edukatif-partisipatif dalam meningkatkan literasi kesehatan di komunitas yang membutuhkan.
Co-Authors Ade Tika Herawati Aiyi Asnawi Akbar Marta Nurpauzi Amida Sriwianti Sarbini Amini, Nadia Ushfuri Ana Ikhsan Hidayatullah Anggi Jamiyanti Anita Rushendarti Apriliani, Fina Ayu Diyana Ayu Triani Cucu Rokayah Daryanti, Eneng Denni Fransiska Helena Denni Fransiska Helena M Derajat, Agus Mi'raj Diana Ulfah Ellin Febrina Ellin Febrina Erika Sri Yulia Agustiani Etika Emaliyawati Fatmaningsih, Vivi Yulia Fauzan Z Muttaqin Fauzan Zein Mutaqin Fauzan Zein Muttaqin Fauzi, Muhamad Ihsan Fazry Rachmatulloh Gita Puspitasari Hana Nabiilah Hidayat, Faried Rahman Iceu Mulyati Iceu Mulyati Ida Nurfikah Ika Kana Trisnawati imam maulana, imam Imam, Haerul Indarna , Asep Aep INDARNA, ASEP AEP Intan Asmarani Irawan, Susan Ivan Andriansyah Jundiah, R. Siti Jundiah, Raden Siti Kania Fajarwati M. Isronijaya Madinatul Munawaroh Maharani Citra Nabila Mahardika, Abdi Manaf Manaf Manaf, Manaf Meda Yuliani Meda Yuliani Mitha Syaharani Muslim, Dede Nur Aziz Mutia Maudina Mutiara Mumthaz Nova Riani Novianti, Wini Resna Nugraha, Dedep Nur Intan Hayati Husnul Khotimah Nur Intan Hayati Husnul Khotimah Nurarofah, Shiti Fadliah Nurazizah, Siti Nurlieta Ananda T Ola, Fransiska Keron Putri Intan Pandini Rahayu, Sri Mulyati Rahayu, Sri Mulyati Rahmat Santoso Risa Agustiani Rizqi, Soni Mochamad rokayah, cucu Roni, Asep Saarah Putri K. P Sihombing, Ferdinan Silpiana Amelia Silpiani, Silpiani Sondang Ratnauli Sianturi Soni Muhsinin Sutrisno, Entris Tambunan, Irisanna Tambunan2, Irisanna Tiara Nuraeni Tri Nur Jayanti Triana, Egi Untung Sudharmono Widhya Aligita Widhya Aligita Widyawati Widyawati Widyawati Yafi Cahyana Mauladan Yulianti Anjayani Yulianti Anjayani