Pendahuluan: Inflamasi kronis yang tidak terkontrol berkontribusi signifikan terhadap patogenesis berbagai penyakit degeneratif, seperti artritis dan gangguan kardiovaskular. Meskipun efektif, penggunaan jangka panjang obat anti-inflamasi konvensional (NSAID dan kortikosteroid) sering menimbulkan efek samping serius, seperti iritasi gastrointestinal dan nefrotoksisitas. Obat herbal, dengan kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid dan terpenoid, menawarkan alternatif terapi yang menjanjikan dengan menekan mediator proinflamasi (TNF-α, IL-6, NF-κB) serta memodulasi stres oksidatif dengan profil keamanan yang lebih baik. Mengingat pesatnya pertumbuhan literatur di bidang ini, analisis bibliometrik diperlukan untuk memetakan arah penelitian global. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memvisualisasikan dan menginterpretasikan lanskap penelitian obat herbal terkait aktivitas anti-inflamasi menggunakan perangkat lunak VOSviewer, guna mengidentifikasi tren utama, evolusi topik, dan kesenjangan penelitian. Metode: Data bibliometrik dikumpulkan dari basis data PubMed dengan kata kunci “herbal medicine” AND “anti-inflammation” untuk periode publikasi tahun 2015 hingga 2025. Data diproses menggunakan VOSviewer versi 1.6.20 dengan metode full counting berdasarkan co-occurrence kata kunci, dengan ambang batas minimal kemunculan lima kali untuk menyaring istilah yang relevan. Hasil: Analisis memetakan lima klaster tematik utama: (1) suplementasi dan intervensi gaya hidup; (2) efikasi klinis pada pasien; (3) mekanisme molekuler dan penyakit modern (termasuk COVID-19); (4) jalur sitokin dan sinyal seluler; serta (5) formulasi sediaan lokal. Visualisasi overlay menunjukkan evolusi tren dari fokus awal pada biomarker klinis (seperti CRP) menuju pemahaman mekanisme molekuler yang lebih dalam dan imunomodulasi. Visualisasi densitas menegaskan bahwa topik seputar pasien dan pengobatan merupakan area riset yang paling padat. Kesimpulan: Terdapat peningkatan minat global terhadap pengembangan obat herbal sebagai agen anti-inflamasi yang bergerak dari studi empiris menuju validasi mekanistik molekuler dan integrasi klinis. Penelitian ini menyoroti potensi besar obat herbal sebagai terapi komplementer yang aman, sekaligus menekankan perlunya standardisasi dan uji klinis berkelanjutan.