Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS FAKTOR INTEGRATIF NYAMA BALI-NYAMA SELAM, UNTUK MENYUSUN BUKU PANDUAN KERUKUNAN MASYARAKAT DI ERA OTONOMI DAERAH I Made Pageh
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i2.2178

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) memahami latar belakang sejarah Enclave Nyama Bali–Nyama Selam di Bali; (2) menganalisis faktor integratif Enclave Nyama Bali-Nyama Selam, untuk mengembangkan kerukunan antarumat beragama di Bali; (3) mendapatkan materi penenulisan Model Buku Panduan integrasi sosial pada Enclave Nyama Selam-Nyama Bali di Era Otonomi Daerah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian ilmu sosial dengan pendekatan sejarah sosial. Dengan demikian prosedur penelitian ini mengikuti prosedur ilmu sosial (etnografi koneksitas antar situs), dari penentuan informan, pengumpulan data sampai analisis data,  dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan. latar belakang sejarah kearifan enclave Nyama Bali- Nyama Selam, terutama yang berkaitan dengan menumbuhkembangkan integrasi dan harmoni sosial di era otonomi daerah, tidak dapat dilepaskan dari sejarah masuknya agama Islam ke Bali terkait perdagangan di pinggir pantai, seperti Islam di pinggir pelabuhan Buleleng, Sangsit, Temukus kemudian menyebar ke pedalaman bertani seperti Islam di Pancasari, Tegalinggah, dan Batu Gambir, beberapa islam di pedalaman Karangasem. Enclave Islam  terkait dengan politik kerajaan, tinggal di sekitar kerajaan dan atau di pedalaman membentuk enclave tersendiri (Nyama Selam Pegarayaman, Karangasem, Kepaon, Serangan, Loloan Negara, hubungan nyama selam dengan kerajaan adalah hubungan “patro-klient, tautan kaula gusti. dan migrasi berantai dalam perdagangan sektor informal. Faktor Integratif Enclaves Nyama Bali- Nyama Islam dengan kerajaan, dapat dipahami dari latar belakang sejarah politik kerajaan, dengan menempatkan penduduk muslim mengelilingi puri, sebagai benteng, kasus ini dapat dijumpai pada masa kerajaan Karangasem, Klungkung, Badung, Buleleng dan Jemberana, diikuti dengan perkawinan politik (kasus badung dengan enclave Kepaon). Bentuknya di Bidang Sosial (Perkawinan lintas agama, meminjam identitas etnik magibung, ngejot, menggunakan nama-nama Bali, berbagai kesenian kolaborasi). Bentuknya di Bidang Relegi (Pura Kertanegara/Gambur Angalayang, Subak Panji Anom, Pura Mekah di Bangli). Bentuk di Bidang Politik (enclaves Kepaon, Pegayaman, sekitar Kerajaan Karangasem, sekitar kerajaan di Bali). Bentuk di Bidang Ekonomi (ekonomi komplementer) islam sekitar pelabuhan, pertanian di Tegalinggah, Panji Anom, Candikuning. Banyak islam bergelut di sektor pertanian dan perdagangan informal. Semua ini telah teruji dalam sejarah dapat mengintegrasikan Nyama Bali-Nyama Islam dalam masyarakat multietnik di Bali.  Berharap dapat digunakan untuk merampungkan buku model integratif/harmoni sosial.
Faktor Integratif Nyama Bali-Nyama Selam: Model Kerukunan Masyarakat pada Era Otonomi Daerah di Bali I Made Pageh; Wayan Sugiartha; Ketut Sedana Artha
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 3 No 1 (2013): PENULISAN SEJARAH BALI
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.144 KB)

Abstract

AbstractIn some areas in Bali such as Pegayaman a Village (North Bali) and Kepaon Village (South Bali), there are enclave of Muslims community who have long lived in harmony with the Balinese Hindu community. Their presence is based on a long history even from pre-colonial Bali. These two ethnics with different religious background consider themselves relative as can be seen from the integrative expressions of nyama selam (Muslim family) and nyama Bali (Balinese family). The former termused by Balinese to honor Muslim, the later used by Muslim to honor Balinese Hindu. They also share similar traditional practices like ‘ngejot’, giving food/meal to neighbours duringa religious celebration. This article discusses the integrative factors that make the relationship between Muslim and Balinese Hindu in some areas in Bali coexist harmoniously. This integrative factors identified to then be developed and disseminated as guidance to retain harmony or to prevent conflict.
Kearifan Sistem Religi Lokal dalam Mengintegrasikan Umat Hindu-Islam di Bali I Made Pageh
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 3, No 2 (2018): Konflik dan Etnisitas
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.986 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v3i2.19411

Abstract

This paper aims to gain an understanding of the local religious systems for integrating religious diversity in Bali. This study was conducted using social critical theory. The historical data obtained using literature studies and field research activities. The results of this study indicate that the local religious system in Bali can integrate Hindus and Islam religion. The integration occurs as a result of the relation power that played to integrate national ethnicity in Bali which includes economic interests (trade), and da'wah. The mystical worship and ancestors can approach each other in rituals. The human relations, human and environment relations, human and ancestors occurred harmoniously, not dominating and hegemonic. The cross-cultural integration and multiculturalism formation process has been taken place since the 12th century long before the awareness of Westernization. The integration between villagers in Bali can be used as a model in multicultural education in Indonesia, which today find relevance when various forms of conflict arise based on ethnicity, religion, race, intergroup (SARA). The problem needs to be addressed by fostering national awareness as a whole nation (Austronesian Malay nation)
Penataan Kota Singaraja Zaman Kolonial Belanda (Perspektif Sejarah Kota) K.S. Arta; I.M. Pageh; I.W.P. Yasa
Jurnal IKA Vol. 19 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ika.v19i1.33446

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah 1) untuk mengetahui gambaran jelas tentang kosepsi dan tata ruang yang berciri tradisional di Kerajaan Buleleng, 2) untuk memperoleh gambaran jelas landcape Kota Singaraja sebagai kota kolonial Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metodologi kesejarahan yang meliputi langkah-langkah: heuritik, kritik, interpretasi, dan Hinstoriografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa landcape kota Singaraja dibangun berdasarkan perpaduan landcape tradisional (geo-religius) dengan landcape modern yang berorientasi pada kehidupan duniawi, sifat rasional ini ditunjukkan dengan adanya sanitasi lingkungan, jalan raya besar untuk transportasi modern, tempat hiburan, sekolah, pusat tentara, penjara, pengadilan dan wujud orientasi dunia barat lainnya. Sarana kota modern tersebut dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan kolonial Belanda. Tulisan dengan pendekatan ekohistoris ini dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran untuk memahami strategi kolonial Belanda dalam mengurung kekuasaan tradisional  yang sangat sacral dengan kekuasaan serba nyata, propan, serba iptek dan bernilai kekuasaan politik, ekonomis dan prestige sosial. Rekomendasi yang diberikan adalah diharapkan pengembangan kota Singaraja sekarang juga memperhatikan pengembangan wilayah pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dan tetap menjaga artefak-artepak/ bangunan kolonial yang bisa dijadikan daya Tarik pariwisata Kata Kunci: Penataan Kota; Landcape tradisional; Landcape modern. 
GUGUR GEGER NUSANTARA DILIHAT DARI PERSPEKTIF ILMU SEJARAH I Made Pageh
Candra Sangkala Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jcs.v2i2.28814

Abstract

Buku ini diterbitkan oleh tim Surya Majapahit, di Denpasar tahun 2017 (setebal 151 hal. termasuk lampiran).Buku ini diantar oleh dua tokoh: (1) Tokoh ketua PHDI dan Rektor IHDN Denpasar Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., disebutkan bahwa buku ini membahas mitologi hingga zaman Majapahit, dan membahas sejarah berbeda dengan teori sejarah umumnya, disinyalir akan dapat memberikan gambaran sejarah baru. (2) sejarawan lain, Prof. Dr. I Gde Parimartha, M.A. menyebutkan buku ini merupakan hasil karya anak muda kreatif, dengan sudut pandang dari Bali Utara.iwandkk mengidentikasi pusat kerajaan Majapahit ada di Bungkulan, dan tokohtokoh besar sejarah Indonesia lama sebagian besar kawitannya di Bungkulan.  Secara metodologis, buku inimenggunakan epistemologi mencari kebenaran dengan metode ―anumana pramana‖ (pandangan tradisional). Disarakan memperkuat analisis dengan semiotika, yaitu ilmu tentang tanda (cf. Recouer, 2008; Sumaryono, 1999; Palmer, 2005; Tinarbuko, 2009), karena kurang alat analisisnya maka dapat menggambarkan cerita sejarah yang berbeda dari karya sejarah akademik umumnya (Parimartha, 2017: iv-v). pemaparan diakhiri dengan harapan terus berkarya dan dijadikan teman diskusi sampai kebenaran yang diinginkan oleh Iwan, dkk. dapat ditemukan.Kata kunci :PHDI, Perspektif,Sejarah
SEJARAH DAN STRUKTUR PURA SEGARA RUPEK DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA I Kadek Adi Widiastika; I Made Pageh; Ketut Sedana Arta
Candra Sangkala Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jcs.v3i2.47051

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang berdirinya Pura Segara Rupek, (2) struktur Pura Segara Rupek, (3) aspek-aspek Pura Segara Rupek yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah di SMA. Metode penelitian yang digunakan yaitu: (1) Pengumpulan data (Heuristik), (2) kritik sumber, (3) interpestasi, (4) historiografi (prinsip penulisan sejarah). Hasil penelitian ini menemukan bahwa Pura Segara Rupek merupakan pura baru, yang berdiri pada tahun 2001, strutur pura ini tergolong pura tua. strukturnya Pura Segara Rupek terbagi menjadi dua atau dwi mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) dan jeroan (utama mandala). Adapun potensi Pura Segara Rupek yaitu tempat persembahyangan umat Hindu, tokoh Mpu Siddhimantra, peninggalan berupa bangunan pelinggih, penanaman jiwa kebangsaan dan rasa ingin tahu yang selanjutnya disusun kedalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar dapat di manfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Pura Segara Rupek sehingga kesucian dan kelestariannya tetap terjaga.
MENGGALI NILAI-NILAI KARAKTER DALAM PERMAINAN MAGOAK-GOAKAN DESA PANJI KECAMATAN SUKASADA SEBAGAI SUMBER BAHAN PENGAYAAN PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 4 SINGARAJA I Nyoman Tri Esaputra; I Made Pageh; Tuty Maryati
Jurnal Pendidikan IPS Indonesia Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.05 KB) | DOI: 10.23887/pips.v1i1.2812

Abstract

Penelitian ini bertujuan; Untuk mengetahui latar belakang sejarah permainan           magoak-goakan, Untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan magoak-goakan, Untuk mengetahui bentuk pengintegrasian permainan magoak-goakan ke dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti menentukan tiga lokasi penelitian, yaitu, Pura Pajenengan, Banjar Dauh Pura Desa Panji, dan SMP Negeri 4 Singaraja. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan teknik pengumpulan data yakni, wawancara, observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa; (1) permainan magoak-goakan merupakan strategi Gusti Ngurah Panji Sakti untuk mempersatukan suara rakyat dalam usahanya berperang melawan kerajaan Blambangan; (2) Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan magoak-goakan yakni: nilai disiplin, nilai kerjasama, nilai religius, nilai toleransi, nilai kerja keras, dan nilai komunikatif; (3) Adapun strategi pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam permainan magoak-goakan ke dalam pembelajaran IPS adalah dengan meninjau silabus, menentukan KD yang relevan, memilih topik pada buku ajar yang relevan, menyusun RPP mengaplikasikan permainan magoak-goakan sebagai sumber belajar.  Kata Kunci:nilai karakter, permainan magoak-goakan, pendidikan IPS
MULTIKULTURALISME DAN TANTANGANNYA DI INDONESIA: JEJAK KESETARAAN ETNIS DAN KULTUR DI PURA REPUBLIK/ GAMBUR ANGALAYANG KUBUTAMBAHAN BALI I Made Pageh
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.26 KB) | DOI: 10.15408/sd.v3i2.4344

Abstract

AbstractLocal wisdom to knit harmony among religious believers can be found in North Bali, which is in the Pura Negara Gambur Angalayang. This temple is loaded with messages of multiculturalism within the meaning of good practices pluralism life, both against race, religion, ethnicity, and culture, which proves that multiculturalism had occurred long before the West started. Challenges Indonesia today is their radicalism and terrorism in the name of religion and poverty as the basis. Pura Negara Gambur Angalayang is a monument in a religious context, which became an integrative factor for an assortment of religious, ethnic, and cultural in promoting cross cultural life in North Bali. Learning from history, integrative factor which is local wisdom is very suitable to be used as a model of multicultural education, while useful to pursue future ties Indonesian people to prosperity and well-being (gemah ripah loh jinawi).AbstrakKearifan lokal dalam merajut kerukunan antarumat beragama dapat ditemukan di Bali Utara, yaitu di Pura Negara Gambur Angalayang. Pura ini sarat dengan pesan makna multikulturalisme dalam good practices kehidupan pluralisme, baik terhadap ras, agama, etnik, maupun budaya, yang membuktikan bahwa multikulturalisme sudah terjadi jauh sebelum bangsa Barat memulainya. Tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah munculnya gerakan radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama dan kemiskinan sebagai dasarnya. Pura Negara Gambur Angalayang merupakan monumen dalam konteks religi, yang menjadi faktor integratif bagi bermacam-macam umat beragama, etnik, dan budaya dalam kehidupan yang bersifat cross cultural di Bali Utara. Belajar dari sejarah, faktor integratif yang merupakan local wisdom (kearifan lokal) ini sangat cocok untuk dijadikan model pendidikan multikulturalisme, sekaligus berguna untuk meniti pertalian masa depan bangsa Indonesia menuju kemakmuran dan kesejahteraan (gemah ripah loh jinawi).Pengutipan: Pageh, I. M. (2016). Multikulturalisme dan Tantangannya di Indonesia: Jejak Kesetaraan Finis dan Kultur. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 3(2), 2016, 115-125. doi:10.15408/sd.v3i2.4344.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/sd.v3i2.4344
PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SUKU OSING DI DESA KEMIREN SEBAGAI MEDIA PEBELAJARAN SOSIOLOGI Heni Nursafitri; I Made Pageh; I Gusti Made Arya Suta Wirawan
Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha Vol. 2 No. 3 (2020): Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpsu.v2i3.28957

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk perubahan social yang terjadi pada Masyarakat Osing setelah dijadikannya Desa Wisata; (2) strategi masyarakat Osing untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi; (3) aspek-aspek sosiologi yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran sosiologi pada bab perubahan sosial. Desa Kemiren merupakan desa yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat Osing. Pemertahanan ini menjadi salah satu alasan untuk dijadikannya sebagai cagar budaya suku Osing di Banyuwangi. Model penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode penelitian menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi perubahan pada masyarakat Osing yaitu berupa pola pemikiran masyarakat yang semakin maju, Terbetukya Pokdarwis sebagai bentuk struktur baru pada masyarakat Osing serta jenis pekerjaan yang bergerak pada sektor pariwisata. Interaksi yang terjadi antara wisatawan dengan mayarakat Osing dikhawatirkan akan membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat Osing di Desa Kemiren. oleh karena itu masyarakat Osing mempunyai strategi tersendiri dalam menghadapi perubahan yang terjadi diantaranya mulai untuk melakukan beberapa pelatihan seperti pelatihan bahasa asing, manajemen homestay, penjadwalan dalam pembacaan lontar yusuf, perbaikan jalan serta pembangunan sarana prasarana. Selain itu masyarakat Osing masih mempertahankan budaya lokal seperti mengunjungi makam buyut cilli serta melestarikan tradisi-tradisi suku osing. masyarakat Osing juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak-pihak untuk mendukung kemajuan pariwisata di Desa Kemiren. aspek-aspek yang dapat dijadikan media pembelajaran diantaranya perubahan sosial masyarakat Osing di Desa Kemiren, Pokdarwis Kencana sebagai Agent of change serta pemanfaatan prezi sebagai media pembelajaran online.Kata Kunci: Perubahan Sosial, Suku Osing, Media Pembelajaran
LADANG HITAM PASCA PERISTIWA GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965 (Studi Kasus Tragedi Kemanusiaan Anggota PKI di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Kontenporer Indonesia) Ketut Sedana Arta; Desak Oka Purnawati; Made - Pageh
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 3 No. 1 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v3i1.11472

Abstract

Secara umum tujuan penelitian ini adalah (1)untuk mengetahui latar belakang peristiwa tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan; (2) untuk menganalisis proses tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan;(3) untuk menganalisis implikasi tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan: (4) untuk mengetahui aspek-aspek dari tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajarPenelitian ini secara metodologis menggunakan pendekatan kualitatif, teknik penentuan informan dengan purposive sampling dan informan terus dikembangkan dengan teknik snowball. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan: (1) Wawancara; (2) Observasi partisipasi Agar observasi partisipasi bisa terarah, maka ditetapkan aspek-aspek yang diobservasi; (3) Analisis dokumenHasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang peristiwa tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan adalah 1). Adanya persaingan politik, persaingan tersebut berakar dari persaingan antara PNI dan PKI yang embrionya dimulai sejak tahun 1955, (2) Proses tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan terjadi beberapa minggu setelah kudeta tahun 1965 (Gestok, I Oktober 1965), melibatkan organisasi sayap partai dari PNI meliputi GSNI, PETANI, LKN, GPM, GPD, serta ormas yang tergabung dalam PKI seperti BTI, Lekra, maupun Pemuda Rakyat. (3) Implikasi tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 bagi desa dan keluarga di Desa Penglatan adalah membawa dampak yang luas bagi keluarga yang ditinggalkan, dampak yang paling dirasakan adalah rasa trauma simpatisan dan pengurus PKI. Keluarga-keluarga kehilangan tulang punggung keluarga, dan dirasakan dampaknya merekapun mendapatkan perlakuan diskriminatif, seperti adanya kode ET, yang berarti eks tahanan politik; (4) Aspek-aspek dari tragedi kemanusiaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Desa Penglatan 1) Aspek Historis, yang dapatdijadikan sebagai sumber belajar sejarah kontemporer Tragedi kemanusiaan dengan terbunuhnya beberapa pengurus PKI dan simpatisan PKI (Pemuda Rakyat).2) Kolaborasi Pembunuhan Anggota PKI, yang melibatkan kekuasaan Pepelrada Bali Pangdam XVI/Udayana, serta RPKADKata kunci: Gerakan 30 September, tragedi kemanusiaan, sumber belajar sejarah
Co-Authors ., ABDUL GOFAR ., DAFID RAHMAN ., Dania Fakhrunnisa ., Fiani Yulistia ., FIRDAUS RAMADANI ., FITRIYANAH ., I Komang Edi Heliana ., I Made Cita Adnyana ., Ilham Yahya ., Jro Kadek Mudiartha ., Komang Gede Arya Bawa ., M BUSAR ., Meri Yuliani ., Mukti Ali Asyadzili ., NAJI SHOLEH ., Ni Komang Arya Kusuma Dewi ., Ni Luh Sulandari ., NUR MINAH ., Nurus Shobah ., Purwa Aditya ., SHOLEH ABDUL GOFAR . Agus Aan Jiwa Permana Agus Wijaksono Albertus Agas Anak Agung Bagus Wirawan Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anantawikrama Tungga Atmadja Andi Firdausi Hairul Izul Haj Andi Noprizal Sahar Arta, K.S. DAFID RAHMAN . Dania Fakhrunnisa . Desak Made Oka Purnawati Desak Oka Purnawati Dharma Tari, I Dewa Ayu Eka Purba Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Fahrizal Yunus Fathurrahim, Fathurrahim Fiani Yulistia . FIRDAUS RAMADANI . FITRIYANAH . Guntur Hari Marcelliant Hedwi Prihatmoko Heni Nursafitri I Gusti Made Aryana I Kadek Adi Widiastika I Kadek Meiana Adi Putra I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I Ketut Supir I Komang Edi Heliana . I Made Cita Adnyana . I Nengah Suastika I Nyoman Ananta Wasistha I Nyoman Tri Esaputra I Putu Dandy Riartha I Putu Sriartha I Wayan Pardi I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Sumerata I Wayan Surya Eka Saputra I.W.P. Yasa Ida Ayu Gede Megasuari Indria Ida Ayu Made Rai Saraswati Ifandy, M. Rizal Ilham Yahya . Irwan Nur J. Susetyo Edy Yuwono Jro Kadek Mudiartha . K.S. Arta Kencana, Lidya Ketut Sedana Arta Ketut Sedana Artha Komang Gede Arya Bawa . Komang Setemen Krisna Hendro Setiono M BUSAR . M.Si Drs. I Ketut Margi . Meri Yuliani . Mudana, Wayan Muhammad Rivai Mukti Ali Asyadzili . NAJI SHOLEH . Nana Supriatna Ni Ketut Anggriani Ni Ketut Kertiasih Ni Komang Arya Kusuma Dewi . Ni Luh Arjani Ni Luh Sulandari . Ni Made, Putri Oktadewi Ni Putu Desi Wulandari Ni Putu Satya Oka Dewi Ninik styowati, Eva kurnia NUR MINAH . Nur, Irwan Nursafitri, Heni Nurus Shobah . Pracasitaram, I Gede Made Surya Bumi Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Purnawati, Desak Oka Purwa Aditya . Putu Abda Ursula Putu Adi Sanjaya Putu Sukardja Putu, Putu Intan Novitalia R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa Riza Rizki Sukmarini salman, jorghia Saputra Wahyu Wijaya Saraswati, Ida Ayu Made Rai Selamat, I Ketut Seruni, Yuri Sekar SHOLEH . Sindu, I Gede Partha Sriartah, Putu Sumartika, I Wayan Sutiarsana, Putu Rian Syamsiar, Syamsiar Wayan Mudana Wayan Sugiartha Wijaya, I Gede Saputra Wahyu Wirawan, I Gusti Made Arya Suta Yasa, I.W.P. Yunus, Fahrizal Yuri Sekar Seruni