Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Laju Aliran Saliva pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Fernanda, Vena; Pangemanan, Damajanty H.C.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19651

Abstract

Abstract: Body Mass Index (BMI) can be used as an indicator to obtain the nutritional status of an individual. Poor nutritional status can influence salivary flow rate resulting in several diseases in the oral cavity such as xerostomia, caries, etc. This study was aimed to obtain the relationship between BMI and salivary flow rate in college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design conducted in 54 college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University. BMI was calculated in kg/m2 meanwhile the salivary flow rate was determined with unstimulated saliva collection method in ml/minute. Data were analyzed by using Pearson correlation test. The results showed that there were 54 subjects consisted of 12 males and 42 females with an age range of 18-22 years old. Most of the subjects had normal BMI (9.26% in males and 42,59% in females). Normal BMI was most common in subjects aged 21 years (16,67%). The lowest salivary flow rate (0.10 ml/minute) was 1.85% and the highest salivary flow rate (0.33 ml/minute) was 16.67%. The Pearson correlation test showed P = 0.000 (< 0.05) and r = -0.756. Conclusion: In this study, there was a significant negative relationship between BMI and salivary flow rate in college students of the Dentistry Program of Sam Ratulangi University.Keywords: BMI, salivary flow rate Abstrak: Indeks massa tubuh (IMT) dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui status gizi seseorang. Status gizi buruk dapat memengaruhi laju aliran saliva sehingga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit di dalam rongga mulut antara lain xerostomia dan karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan laju aliran saliva pada mahasiswa PSPDG Unsrat. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 54 mahasiswa PSPDG Unsrat. IMT ditentukan dalam satuan kg/m2dan laju aliran saliva ditentukan dengan metode pengumpulan unstimulated saliva dengan satuan ml/menit. Data dianalisis menggunakan uji korelasi sederhana Pearson untuk mengetahui hubungan IMT dengan laju aliran saliva. Hasil penelitian mendapatkan 54 subyek penelitian terdiri dari 12 laki-laki dan 42 perempuan dengan usia 18-22 tahun. Nilai IMT pada laki-laki dan perempuan paling banyak terdapat pada kategori normal (9,26% dan 42,59%). IMT normal berdasarkan usia paling banyak terdapat pada usia 21 tahun sebanyak 9 subyek (16,67%). Laju aliran saliva terendah (0,10 ml/menit) sebanyak 1,85% dan laju aliran saliva tertinggi (0,33 ml/menit) sebanyak 16,67%. Uji korelasi sederhana Pearson menunjukkan nilai P = 0,000 (<0,05) dan r = -0,756. Simpulan: Terdapat hubungan negatif yang bermakna antara IMT dengan laju aliran saliva pada mahasiswa PSPDG Unsrat.Kata kunci: IMT, laju aliran saliva
Gambaran Teknik Menyikat Gigi dan Indeks Plak pada Siswa SD GMIM Siloam Tonsealama Keloay, Princess; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.24143

Abstract

Abstract: In Indonesia, children dental and mouth health is on the apprehensive level. The caries prevalence in children of 5 to 9 years old is 92.6% and the proportion of brushing their teeth properly is only 1.4%. The control and prevention of plaque forming can be done in a simple, effective, and practical way through brushing the teeth thoroughly and regularly. This study was aimed to obtain the tooth brushing technique and plaque index among students at SD GMIM Siloam Tonsealama (elementary school). This was a descriptive study with a cross sectional design. Study population consisted of elementary students og grade 3 to 5. We used total sampling method. There were 42 students as subjects. Data were obtained by observing their tooth brushing techniques. The results showed that all students used combination technique of tooth brushing. Most students had plaque index of moderate category. The mean plaque index of the subjects was 2.67. In conclusion, students at GMIM in Tonsealama used combination technique of tooth brushing, and their plaque index was categorized as moderate.Keywords: plaque index, brushing teeth technique Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut anak di Indonesia masih sangat memrihatinkan. Prevalensi karies pada anak usia 5-9 tahun dilaporkan mencapai 92,6%, dan proporsi waktu menyikat gigi dengan benar sebesar 1,4%. Usaha untuk mengontrol dan mencegah pemben-tukan plak dapat dilakukan secara sederhana, efektif, dan praktis yaitu dengan cara menggosok gigi secara teliti dan teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran teknik menyikat gigi dan indeks plak siswa SD GMIM Siloam Tonsealama. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian terdiri dari siswa sekolah dasar kelas 3 sampai dengan 5. Pengambilan sampel menggunakan total sampling. Terdapat seba-nyak 42 siswa sebagai subyek penelitian. Pengumpulan data menggunakan formulir pemeriksaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik menyikat kombinasi digunakan oleh seluruh subyek. Indeks plak paling banyak pada kategori sedang. Rerata nilai indeks plak yaitu 2,67. Simpulan penelitian ini ialah teknik menyikat gigi yang digunakan oleh siswa SD GMIM di Tonsealama ialah teknik kombinasi dengan indeks plak tergolong kategori sedangKata kunci: indeks plak, teknik menyikat gigi
GAMBARAN PENGGUNAAN BAHAN TUMPATAN DI POLIKLINIK GIGI PUSKESMAS KOTA BITUNG TAHUN 2014 Lengkey, Catra H. E.; Mariati, Ni Wayan; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9601

Abstract

Abstract: Health is an important thing for every human being and caries is a health problem that damaging email and dentin structure of teeth. The solution to that case is to clogged up the damaged teeth. The purpose from this research is to describe theuse of clogged up materials in dental clinic over all health centers clinic in Bitung city in 2014.This research use descriptive retrospective design. The research sample is the entire patient medical record of patients with clogged up materials in all health centers of Bitung city that uses total sampling method during 2014. Total sampel that obtained are 27 sampel and categorized based on age, sex, and teeth region. The most used clogged up material during 2014 is GIC filling, age category that ranged from 26-55 years old are received most of clogged up treatment and female patients are the most who receive this treatment. Anterior teeth region is the most region teeth that receive composite clogged up and GIC in posterior regionKeywords: clogged up material, composit, GICAbstrak:Kesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia dan karies merupakan salah satu masalah kesehatan yang merusak struktur email dan dentin dari gigi dan penanggulangannya adalah dengan menumpat gigi yang mengalami kerusakan. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran penggunaan bahan tumpatan di poliklinik gigi seluruh puskesmas yang ada di Kota Bitung pada tahun 2014. Penelitian menggunakan disain deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian ialah seluruh rekam medik pasien pengguna bahan tumpatan di seluruh puskesmas kota Bitung yang menggunakan metode total sampling selama 2014. Total sampel yang didapatkan 27 sampel dan dikategorikan berdasarkan umur, jenis kelamin dan regio gigi. Tumpatan yang paling banyak dipakai tahun 2014 adalah tumpatan GIC, kategori umur 26-55 tahun yang paling banyak menerima penumpatan, pasien perempuan paling banyak menerima perwatan tumpatan, regio gigi anterior paling banyak menerima tumpatan komposit dan posterior GIC.Kata kunci: bahan tumpatan, komposit, GIC.
Gambaran Kecemasan Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Perawatan Gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado Sanger, Seily E.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17394

Abstract

Abstract: Dental anxiety is a condition of fear to visit a dentist even for preventive care or therapy and uncertainity anxiety to dental care. This study was aimed to describe the anxiety of children 6-12 years old for the dental care at SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 44 students of 6-12 years old at SD Eben Haezar 2 Manado who had dental care experience, obtained by using total sampling. Data were obtained by filling the questionnaire of Children Dental Fear Survey Schedule-subscale (CFSS-DS). The results showed that most students with high levels of anxiety were at the age of 6-8 years (20.48%), while most students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old (47.74%). Of the 44 students, 27 students (61.36%) had low level of anxiety whereas 17 students (38.64%) had high level of anxiety. Based on gender, the percentages of students with high level and low level of anxiety were higher in females than in males. Conclusion: In general, students with low level of anxiety were at the age of 9-12 years old meanwhile students with high level of anxiety were at the age of 6-8 years. Either high or low level of anxiety was most found in females.Keywords: anxiety, children, dental care Abstrak: Kecemasan dental merupakan suatu ketakutan terhadap kunjungan ke dokter gigi untuk perawatan pencegahan ataupun terapi dan rasa cemas tidak beralasan terhadap perawatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kecemasan anak usia 6-12 tahun terhadap perawatan gigi di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Jenis penelitian deskriptif dengan desain potong lintang, mengunakan metode pengambilan sampel total. Terdapat 44 siswa aktif SD Kristen Eben Heazer 2 Manado berusia 6-12 tahun dan pernah mendapatkan perawatan gigi. Data diambil berdasarkan pengisian kuesioner Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS). Hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi ditemukan paling banyak pada usia 6-8 tahun (20,48%), sedangkan yang dengan tingkat kecemasan rendah ditemukan pada usia 9-12 tahun (47,74%). Tingkat kecemasan rendah ditemukan pada 27 responden (61,36%) dan tingkat kecemasan tinggi ditemukan pada 17 reponden (38,64%). Berdasarkan jenis kelamin, responden dengan tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan. Simpulan: Responden dengan tingkat kecemasan rendah lebih banyak didapatkan pada rentang usia 9-12 tahun sedangkan responden dengan tingkat kecemasan tinggi lebih banyak didapatkan pada rentang usia 6-8 tahun. Baik tingkat kecemasan tinggi maupun rendah lebih banyak ditemukan pada responden perempuan.Kata kunci: kecemasan, anak, perawatan gigi
Keparahan karies gigi yang tidak dirawat pada siswa SD GMIM 31 Manado berdasarkan indeks PUFA Sumual, Inriyani A.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Wowor, Vonny N.S.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13937

Abstract

Abstract: Dental caries is one of the infectious diseases that can damage the tooth structure resulted in tooth decay. Untreated dental caries will continue damaging the teeth and create infection around the surrounding structure. This infection destroys tissue around the teeth and can cause ulceration, abscess, and fistula. Moreover, it acts as focal infection to other organs. Children are vulnerable to dental caries. This study was aimed to determine the severity of untreated dental caries in SD GMIM 31 Manado based on PUFA index. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of 90 students grade I to grade VI of SD GMIM 31 Manado. There were 80 samples obtained by using total sampling method. The results showed the average indexes of untreated dental caries which caused exposed pulp (P) was 1.5; caused ulceration (U) 0.2; no fistula (F); caused abscesses (A) 0.03, or almost nothing. The highest index was in the 11 years old group and females. The average PUFA index of untreated dental caries was 1.7. Keywords: severity of untreated dental caries, PUFA index. Abstrak: Penyakit karies gigi merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat merusak struktur gigi dan menyebabkan terjadinya lubang pada gigi. Karies gigi yang tidak dirawat akan terus berlanjut kerusakannya, bertambah parah dan dapat menimbulkan infeksi dan merusak jaringan sekitar gigi seperti ulserasi, abses, dan fistula, bahkan dapat menyebabkan fokus infeksi bagi organ tubuh lainnya. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan untuk terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keparahan karies gigi yang tidak dirawat pada siswa SD GMIM 31 Manado berdasarkan indeks PUFA. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yakni siswa kelas I hingga kelas VI SD GMIM 31 Manado berjumlah 90 orang. Jumlah sampel yang sesuai kriteria inklusi sebesar 80 sampel, diambil menggunakan total sampling method. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata angka keparahan karies gigi yang tidak dirawat dan menyebabkan pulpa terbuka (P) sebesar 1,5; menyebabkan ulserasi (U) sebesar 0,2; tidak ada yang menimbulkan fistula (F); menyebabkan abses (A) 0,03 atau hampir tidak ada. Keparahan terbanyak pada kelompok usia 11 tahun dan pada siswa berjenis kelamin perempuan. Angka rata-rata keparahan karies gigi yang tidak dirawat (indeks PUFA) sebesar 1,7.Kata kunci: keparahan karies gigi yang tidak dirawat, indeks PUFA
Gambaran konsumsi makanan kariogenik pada anak SD GMIM 1 Kawangkoan Mendur, Sheren Ch. M.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15548

Abstract

Abstract: Dental caries or tooth decay is commonly found in the society. It is caused by demineralization of enamel and dentin. Children usually have a habit of eating cariogenic foods that can cause cavities in their teeth. This study was aimed to obtain the profile of cariogenic foods consumed by the elementary school students of GMIM 1 Kawangkoan. This was a descriptive study with a cross sectional design conducted at SD GMIM 1 Kawangkoan, Minahasa. Samples were elementary school students of GMIM 1 Kawangkoan aged 6-11 years obtained by using total sampling method. Primary data were about cariogenic food consumption obtained by using food frequency questionnaire (FFQ). The results showed that there were six kinds of cariogenic foods consumed by the students, as follows: candy, chocolate wafer, chocolate bar, chocolate bread, donate cake, and pudding. According to the kategory of consumption frequency, candy belonged to very often (46.92%); chocolate bar, often (24.93%); chocolate bread, sometimes (20.37%); and pudding, nearly never (33.32%). Conclusion: The most common cariogenic food consumed by the students was candy which belonged to the very often category.Keywords: consumption of cariogenic food, children Abstrak: Gigi berlubang (karies gigi) merupakan masalah yang sering ditemukan di masyarakat. Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin. Anak-anak memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan kariogenik yang dapat menyebabkan gigi berlubang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsumsi makanan karogenik pada anak SD GMIM 1 Kawangkoan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian dilaksanakan di SD GMIM 1 Kawangkoan Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa. Sampel penelitian yaitu siswa SD GMIM 1 Kawangkoan berusia 6-11 tahun, diperoleh dengan menggunakan metode total sampling. Pengambilan data primer untuk melihat konsumsi makanan kariogenik melalui pengisian kuesioner menggunakan food frequency questionnaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan enam jenis makanan kariogenik yang dikonsumsi, yaitu: permen, wafer coklat, coklat batang, roti coklat, donat dan puding. Berdasarkan kategori frkuensi konsumsi, permen tergolong sangat sering (46,92%); coklat batang, sering (24,93%); roti coklat, kadang-kadang (20,37%); puding, hampir tidak pernah (33,32%). Simpulan: Konsumsi makanan kariogenik paling tinggi yaitu permen yang tergolong dalam kategori sangat sering.Kata kunci: konsumsi makanan kariogenik, anak-anak
Gambaran Karies Gigi pada Penyandang Diabetes Melitus di Rumah Sakit Kalooran Amurang Ampow, Falen V.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Anindita, Pritartha S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20598

Abstract

Abstract: Dental caries is caused by certain bacteria that have acid-forming properties. Due to these bacteria, a low pH in the oral cavity is achieved which may cause slow enamel demineralization and form a ferocious focus. Diabetes mellitus (DM), a metabolic disorder characterized by hyperglycemia, is one of the predisposing factors of dental caries. This study was aimed to obtain the profile of dental caries in people with diabetes mellitus. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were diabetic patients at the Internal Medicine Department of Kalooran Hospital Amurang. There were 50 patients in this study obtained by using total sampling technique. Diabetic status was determined by using random blood glucose level (Perkeni 2011) meanwhile caries status was assessed by using DMF-T score. Data were processed by using SPSS and then were presented in tabular form. The results showed that very high caries index was found in 16.0% of subjects with good blood glucose control, 30.0% with moderate blood glucose control, and 36.0% with poor blood glucose control; the total number was 82.0% of subjects. Most subjects had diabetes for 5-10 years (44.0%) with very high caries index (40.0%). Conclusion: Most diabetic patients had very high caries index with the highest percentage in patients with DM for 5-10 years and in patients with poor blood glucose control.Keywords: diabetes mellitus, blood glucose level, dental caries Abstrak: Karies gigi terjadi oleh karena bakteri-bakteri tertentu yang mempunyai sifat membentuk asam sehingga terjadi pH rendah yang dapat menyebabkan pelarutan mineral enamel secara perlahan dan membentuk fokus perlubangan. Diabetes melitus (DM) yang ditandai dengan keadaan hiperglikemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karies gigi pada penyandang DM. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah penyandang DM di Poliklinik Penyakit Dalam RS Kalooran Amurang yang berjumlah 50 orang, diambil dengan teknik total sampling. Status DM dinilai melalui kadar glukosa darah sewaktu (Perkeni 2011), sedangkan status karies dinilai menggunakan skor DMF-T. Data diolah menggunakan SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menda-patkan kategori indeks karies sangat tinggi ditemukan pada 16,0% subyek dengan kontrol gula darah baik, 30,0% dengan kontrol gula darah sedang, dan 36,0% dengan kontrol gula darah buruk; jumlah total 82,0% subyek. Subjek terbanyak ialah penyandang DM 5-10 tahun (44,0%) dengan kategori indeks karies sangat tinggi (40,0%). Simpulan: Sebagian besar penyandang DM memiliki kategori indeks karies sangat tinggi dengan persentase tertinggi pada penyandang DM 5-10 tahun dan penyandang DM dengan kontrol gula darah yang buruk.Kata kunci: diabetes melitus, kadar gula darah, karies gigi
Gambaran maloklulsi pada siswa kelas 10 di SMA Negeri 9 Manado Rorong, Gabrielly F. J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.10813

Abstract

Abstract: Malocclusion is an important oral health issue. Its effects on oral function and facial aesthetics have become a major concern. This study aimed to obtain the profile of malocclusion in grade 10 students of SMA Negeri 9 Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population in this study was all students in grade 10 at SMA Negeri 9 Manado totaling 544 students. Samples were 30 students obtained by using purposive sampling technique. The results showed that the majority of respondents had malocclusion of Angle class I classification Dewey modification as many as 23.3% of type 2 and 20% of type 1. Malocclusion of Angle class I type 5 was found in 3.3% of respondents. Respondents with Angle Class II Division 1 and Division 2 were 13.3% each. Respondents with Angle Class III type 1 were as many as 6.7%. Conclusion: Malocclusion Angle classification Dewey modification with the highest percentage was class I type 2. Malocclusion of class II division 1 and division 2 had the same percentage. Of malocclusion class III, only the type 1 was found.Keywords: malocclusion, senior high school studentsAbstrak: Maloklusi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar. Pengaruhnya terhadap fungsi mulut dan estetika wajah telah menjadi perhatian besar di bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi pada siswa kelas 10 di SMAN 9 Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain penelitian potong lintang. Populasi penelitian ini ialah seluruh siswa kelas 10 di SMA Negeri 9 Manado yang berjumlah 544 orang. Jumlah sampel sebanyak 30 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan jenis maloklusi terbanyak dengan klasifikasi Angle kelas I modifikasi Dewey tipe 2 sebanyak 23,3% dan tipe 1 sebanyak 20% responden. Jenis maloklusi Angle kelas I tipe 5 paling sedikit yaitu sebanyak 3,3%. Responden dengan Angle kelas II divisi 1 dan divisi 2 masing-masing sebanyak 13,3%. Responden dengan Angle kelas III tipe 1 sebanyak 6,7%. Simpulan: Maloklusi klasifikasi Angle modifikasi Dewey yang terbanyak ialah kelas I tipe 2. Maloklusi kelas II divisi 1 dan divisi 2 sama banyak. Maloklusi kelas III yang ditemukan hanya tipe 1.Kata kunci: maloklusi, siswa SMA
GAMBARAN STATUS KARIES PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SLB YPAC MANADO Tulangow, Gita J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10485

Abstract

Abstract: Dental caries is the most commonly oral disease found in all layers of society, including children with special needs. Some researchers mentioned that high rates of dental caries in children with special needs such as hearing impairment, physical impairment, and mental impairment were caused by their limitation in doing their daily activities. This study aimed to determine the status of dental caries in children with special needs. The index commonly used to access the status of caries is DMF-T. Samples were children with special needs aged 12-17 years old in SLB YPAC Manado. There were 36 children as samples obtained by using the total sampling method. The results showed that the caries status of children with special needs in SLB YPAC Manado with an average DMF-T index 4.4 was in middle category.Keywords:caries status, children with special needs, DMF-TAbstrak: Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang sering ditemukan di seluruh lapisan masyarakat termasuk pada anak berkebutuhan khusus. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tingginya angka karies gigi pada anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu, tunadaksa dan tunagrahita, disebabkan karena mereka memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran status karies gigi pada anak berkebutuhan khusus. Indeks yang umum digunakan untuk menilai status karies ialah indeks DMF-T. Penelitian ini dilakukan pada anak berkebutuhan khusus umur 12-17 tahun di SLB YPAC Manado dengan jumlah sampel sebanyak 36 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampel. Hasil penelitian menunjukkan status karies gigi pada anak berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado dengan indeks DMF-T sebesar 4,4 termasuk kategori sedang.Kata kunci: status karies, anak berkebutuhan khusus, DMF-T
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PERUBAHAN DENYUT NADI PADA PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO Pontoh, Beatrix I.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6399

Abstract

Abstract: Dental practice surely will always be accompanied by patient’s anxiety. The anxiety itself is manifested through many ways. The physiological symptoms may occur, from the increasing pulse rate or excessive sweating. The objective of this research is to find out the relationship between the level of anxiety and the changes in the pulse rate of the patients who undergo tooth extraction. The methodological used in this study is descriptive and analytical from a cross sectional study performed in Puskesmas Tuminting Manado from 11 September to 1st October 2014. The population and sample were derived from the entire patients who visit Puskesmas Tuminting and undergo tooth extraction. The sample was drawn from the entire population according to specified inclusion criteria. The data was collected from questionnaires with Hamilton Anxiety Scale and the measurement of patient’s pulse rate was performed during the waiting time and tooth extraction preparation. The data was computed by using SPSS Program version 20 and analyzed through univariate and bivariate Spearmen analysis. The result shows that patients who undergo tooth extraction were experiencing anxiety and the patients’ pulse rate were increasing accordingly. The range of 31-40 years old were the highest age group who were experiencing anxiety and female experienced the highest level of anxiety. The relationship between anxiety and the changes in the pulse rate from the statistical study shows p value = 0.703, hence Ha is rejected. Conclusion: is there is no relationship between level of anxiety and the changes of pulse rate on the patients who undergo tooth extraction in Puskesmas Tuminting, Manado.Keywords: anxiety, pulse rate, tooth extractionAbstrak: Praktik Kedokteran Gigi tentunya tidak lepas dari kecemasan yang dialami oleh pasien. Kecemasan dapat bermanifestasi dalam berbagai cara. Tanda-tanda fisiologis yang dapat timbul, ditandai dengan meningginya denyut nadi atau berkeringat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Puskesmas Tuminting Manado.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional study) yang dilakukan di Puskesmas Tuminting Manado pada tanggal 11 September - 1 Oktober 2014. Populasi dan sampel ialah seluruh pasien yang berkunjung di Puskesmas Tuminting dan melakukan tindakan ekstraksi gigi yang berusia di atas 17 tahun serta sudah pernah melakukan ekstraksi gigi. Teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi sesuai kriteria inklusi. Data diambil menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Scale dan pengukuran denyut nadi dilakukan saat menunggu dan saat berada di kursi dental sebelum tindakan ekstraksi gigi. Data diolah dengan menggunakan program SPSS versi 20 dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Spearmen.Hasil penelitian menunjukkan dalam tindakan ekstraksi gigi terdapat pasien yang mengalami kecemasan dan terdapat pasien yang mengalami peningkatan denyut nadi. Usia 31-40 tahun merupakan usia terbanyak yang mengalami kecemasan serta jenis kelamin perempuan paling banyak merasa cemas. Hubungan antara kecemasan ekstraksi gigi dengan perubahan denyut nadi dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,703 maka Ha ditolak. Simpulan: tidak terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Puskesmas Tuminting Manado.Kata kunci: kecemasan, denyut nadi, ekstraksi gigi
Co-Authors Aji M. Sanhia Amelia Ramadhani, Amelia Ampow, Falen V. Anastasia P. G. Goni Angelia Langkir Angelita A. Durado Angmalisang , Elvin C. Anna M. Maruanaya, Anna M. Apituley, Tracy L. D Arif P. Yanto Aruperes, Geraldo Y. Astrid M. Lesar, Astrid M. Aurelia Supit Aviva, Novia N. Bangun, Liasma K. Beatrix I. Pontoh Berhimpon, Siemona Lydia_Eunike Castendo, Cynthia C. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christal G. Oroh, Christal G. Christian Rompis, Christian Christoffel Elim Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan Cicilia A. Fernatubun Danes, Vennetia Ryckerens Debby J. Suhanda Dewi P. Sari, Dewi P. Dinar A. Wicaksono Dondokambey, Serena D. V. Dwi Cahya Fitriyana Fara M. Lossu, Fara M. Felicia P. C. C. Pantow, Felicia P. C. C. Fernanda, Vena Franly Onibala Fransiska Lintong Frenly Muntu Untu Gabrielly F. J. Rorong, Gabrielly F. J. Galant Rompas Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Geri W. Setiawan, Geri W. Gita J. Tulangow, Gita J. Hedison Polii Hendro Bidjuni Herlina I. S. Wungouw Hutagalung, Bernart S.P. Iksan, Nurwahid P. Indriani Tubagus Ivander A. Supit, Ivander A. Ivonny M. Sapulete Jeffry Sony Junus Lengkong Jeremy Frans, Joel Johanna A. Khoman Joice M. Laoh Joice N. A. Engka Joice N.A. Engka Juliatri . Kainde, Abedneju R. Karamoy, Deborah Karjoyo, Julianti Dewi Katarina D. Manibuy, Katarina D. Keloay, Princess Kewo, Lidia A. Khoman, Johanna Koagouw, Marco S. Korah, Sanny C. Korompot, Febri Krista V. Siagian Krista Veronica Siagian Kustina Zuliari, Kustina Li Ping Pontoh Lontaan, Jehuda Lumunon, Novita P. Mangindaan, Rocky J. Mariane Wowor Marimbun, Betrix E. Marunduh, Sylvia Ritta Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Mendur, Sheren Ch. M. Michael A. Leman Mirani A. Uga Monica M. Sengkey, Monica M. Moningka, Maya Esther Wullur Muchyar, Dwi S.R. Myrtle Irene Sarjono Nancy Engka Natalia Purnamasari Natalia, Adriani Ngongoloy, Johanes J. F. Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. P. S. Anindita Paputungan, Fazriah F. Parengkuan, Henaldy Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Pormes, Oktovianus Pritartha S. Anindita Puk, Jimmy Rumam Rahayu, Mayangsari P. Rando F. Mamitoho, Rando F. Randy V. S. Kindangen Rantung, Galatia Marline Victoria Rasni, Novia D. P. Rawung, Meilita M. Rebecca A. Ngantung, Rebecca A. Rinto Mangiwa Rompis, Karen Ronald Sondakh Rumampuk, Jimmy Franky Sanger, Seily E. Sapulete, Ivonny M Saputra, Yoddy G. Sarah Warouw Sekeon, Saskia E. Shianata, Chrisshania M. Siada, Gracela Marchtica Siantan Supit Siemona Berhimpon, Siemona Silalahi, Agnes M. Simak, Valen Siwi, Filliany A. P. Soba, Siane Stefana H. M. Kaligis Suci M. J. Amir Sukarno, Karina Janneta Sumual, Inriyani A. Sundah, Michael J. Supit, Aurelia S.R. Syahril Panigoro, Syahril Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Tawas, Stevany A.D. Tendean, Brigitta A. Tinneke A. Tololiu Tinneke Tololiu Tombokan, Kevin C. Triska Yolanda Worang Tulungnen, Regina S. Tulungnen S Vellisia Lindo Vita A. Lethulur Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Warong, Kristo Waworuntu, Elshadai Teovilia Wibowo, Devina V. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K. Wuon, Kleysia D.