Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh senam lansia terhadap kadar gula darah pada lansia di BPLU Senja Cerah Manado Ramadhani, Amelia; Sapulete, Ivonny M.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10844

Abstract

Abstract: Elderly is individuals over 60 years old. Aging in the elderly is a physiological process. Increased blood sugar levels are common among the elderly due to aging and can be prevented by exercising regularly. Elderly gymnastic is a light exercise that can easily be done and not burdensome which applicable to the elderly. The purpose of this study was to determine the effect of elderly gymnastic on blood sugar levels in elderly. This research is an experimental design of the field with one group pre-post test. Respondents are elderly who are living in BPLU Senja Cerah Manado. Blood sampling was done before and after treatment is given. Eighteen respondents were given preferential treatment in the form of elderly gymnastic routine three times a week for eight weeks. The results were tested with Wilcoxon test to determine the effect of elderly gymnastic on fasting glucose levels in elderly before and after treatment. The result showed that average fasting glucose levels was 101.6 mg/dL and average fasting glucose after treatment was 122,6 mg/dL. There is an effect of elderly gymnastic on blood sugar levels by an increase on blood sugar levels in elderly.Keywords: elderly, exercise, elderly gymnastic, blood sugarAbstrak: Lansia adalah seseorang dengan usia diatas 60 tahun. Pada lansia terjadi proses penuaan yang merupakan proses fisiologis. Peningkatan kadar gula darah yang umum dialami lansia akibat proses penuaan dapat dicegah dengan berolahraga secara teratur. Senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan yang dapat diterapkan pada lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap kadar gula darah lansia. Penelitian bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Responden merupakan lansia di BPLU Senja Cerah Manado. Pengambilan darah dilakukan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Responden berjumlah 18 orang dan diberikan perlakuan berupa senam lansia secara rutin tiga kali dalam satu minggu selama delapan minggu. Hasil penelitian diuji dengan uji Wilcoxon yang digunakan untuk menentukan pengaruh senam lansia terhadap kadar gula darah puasa, sebelum dan sesudah perlakukan. Hasil menunjukkan bahwa rerata kadar gula darah puasa sebelum senam lansia adalah 101,6 mg/dL dan kadar gula darah puasa setelah senam lansia adalah 122,6 mg/dL. Ada pengaruh senam lansia terhadap kadar gula darah berupa peningkatan kadar gula darah pada lansia.Kata kunci: lansia, olahraga, senam lansia, gula darah
PENGARUH TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA TERHADAP KARIES ANAK DI TK HANG TUAH BITUNG Ngantung, Rebecca A.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10319

Abstract

Abstract: Dental caries is a major problem in children’s mouth cavity. The damage of the primary teeth spreads faster, expands more, and worse than permanent teeth. Socioeconomics status is one of the factors that affect health status. In order to meets the need of life and to get the desired health service, the higher socioeconomic groups have more chance than the lower socioeconomic groups. This study aimed to find out the influence of parental socioeconomic to children’s caries in Hang Tuah Bitung Kindergarten. This was an analytical study using a cross sectional design. The population consisted of students of Hang Tuah Bitung Kindergarten with a total of 72 children. Samples were 52 students obtauned by using total sampling method. The primary data collection used def-t examination and parental identity checked from. The statistical analysis was perfomed by using Spearman’s test. The results showed that there was no effect of parents’ employment of parents to children dental caries (p=0.092); there was no effect of parents’ education to children dental caries (p=0.425); no effect of parents’ income to children dental caries (p=0.164); there was no effect of the number of family members to children dental caries (p=0.119). Conclusion: There was no effect of socioeconomic status of the parents to children dental caries.Keywords: socioeconomic level, occupation, education, income, cariesAbstrak: Karies merupakan masalah utama di rongga mulut anak. Kerusakan gigi sulung lebih cepat menyebar, meluas, dan lebih parah dari pada gigi permanen. Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi status kesehatan, sebab dalam memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan lebih memungkinkan bagi kelompok sosial ekonomi tinggi dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadapkaries anak di TK Hang Tuah Bitung.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional. Populasi penelitian ini ialah murid TK Hang Tuah Bitung yang berjumlah 72 orang. Sampel yang diteliti 52 anak dengan menggunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan def-t dan formulir pemeriksaan identitas orang tua. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian diperoleh, tidak ada pengaruh tingkat pekerjaan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,092), tidak ada pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,425), tidak ada pengaruh tingkat pendapatan orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,164), tidak ada pengaruh banyaknya anggota keluarga orang tua terhadap karies gigi anak (p=0,119).Simpulan: Tidak terdapat pengaruh tingkat sosial ekonomi orang tua terhadap karies gigi anak. Kata kunci : tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pendapatan, karies.
Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna Rompis, Christian; Pangemanan, Damajanty; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11483

Abstract

Abstract: Mother's knowledge about children dental health is very important. It could be observed from some aspects such as knowledge of the causes of dental health problems, children dental care, dietary, and time schedule to the dentist. Def-t index is a measurement of the severity of dental caries in children. This study aimed to determine the relationship of mother's knowledge about the dental health and dental caries severity of kindergarten children in the town of Tahuna. This was an analytical study with a cross-sectional design. There were 65 kindergarten children as samples. Data were collected by using a questionnaire and the def-t examination sheet. The results showed as follows: the mother's knowledge about the dental health of children of good category 93.8% and poor category 6.1%. The examination of the severity of dental caries resulted in 4.61% low severity category, 26.1% moderate severity category, 60% high severity category, and very high severity category 9.23%. The contingency coefficient correlation test showed a significance of 0.270 (> p = 0.05); therefore, the relationship was weak. Conclusion: There was no relationship between mother's knowledge about dental health of the children and caries severity of kindergarten children in the city of Tahuna.Keywords: def- t, severity of caries, knowledge of motherAbstrak: Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak menjadi salah satu hal yang penting di era sekarang ini. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan gigi anak dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu pengetahuan tentang penyebab masalah kesehatan gigi, akibat masalah kesehatan gigi, perawatan gigi anak, pengaturan makanan serta waktu memeriksakan gigi anak ke dokter gigi. Tingkat keparahan karies merupakan pengukuran seberapa parah karies gigi pada anak dengan menggunakan indeks def-t. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi terhadap tingkat keparahan karies anak TK di kota Tahuna. Jenis penelitan ini analitik dengan rancangan potong lintang. Jumlah sampel yang diambil dari beberapa TK di Kota Tahuna sebanyak 65 anak. Teknik pengumpulan data mengunakan kuesioner dan lembar pemeriksaan def-t. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak di Kota Tahuna kategori baik 93,8% sedangkan kategori buruk 6,1 %. Pemeriksaan tingkat keparahan karies gigi mendapatkan kategori keparahan rendah 4,61%, kategori keparahan sedang 26,1%, kategori keparahan tinggi 60%, dan kategori keparahan sangat tinggi 9,23%. Hasil analisis menggunakan uji korelasi koefisien kontingensi mendapatkan hasil signifikansi 0,270 (> p = 0,05), yang menunjukkan hubungan yang terjadi lemah. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna.Kata kunci : def- t, tingkat keparahan karies, pengetahuan ibu
GAMBARAN PERILAKU DAN CARA MERAWAT GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN PADA LANSIA DI PANTI WREDHA MINAHASA INDUK Lengkong, Pingkan E.O.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6404

Abstract

Abstract: Removable partial dentures (RPDs) is a denture that replaces one or more missing teeth in the maxilla or mandible and can be removed by the patient. Patients maintain hygiene habits removable partial dentures can be seen from the frequency, time, and method used to clean dentures varies between individuals and different communities. The purpose of this study is to describe the behavior and how to care RPDs for the elderly in Panti Wredha Minahasa.This type of research is a descriptive study with cross sectional study. The samples were all elderly who meet the inclusion criteria were age 60-80 years using RPDs in seven nursing homes in Minahasa.Based on the research that has been conducted, most respondents RPDs cleaning by brushing without toothpaste 1 (3.3%) and brushing with toothpaste totaled 29 respondents (96.67%). A total of 13 respondents (43.3%) did immersion RPDs. Most respondents simply did immersion by using water that are 17 respondents (56.67%), and no one do immersion using a chemical solution. Most respondents, 13 respondents (43.3%) RPDs cleaning once a day, as many as 28 respondents (93.33%) did not find any difficulty in cleaning RPDs, all respondents (100%) did not get instruction after assembling, as many as 22 respondents (73.3%) using RPDs at night when sleeping.Conclusion: from the study based on behavior, most respondents use RPDs at night when sleeping. Based on how to brush, most respondents RPDs cleaning by brushing use a toothbrush and toothpaste. Based on how to care for the soaking, most respondents did soaking with water.Keywords: removable partial dentures, elderlyAbstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dilepas oleh pasien. Kebiasaan pasien memelihara kebersihan gigi tiruan sebagian lepasan dapat dilihat dari frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan untuk membersihkan gigi tiruan bervariasi pada setiap individu dan masyarakat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku dan cara merawat GTSL pada lansia di Panti Wredha Minahasa Induk. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang berusia 60-80 tahun, menggunakan GTSL di tujuh Panti Wredha di Minahasa Induk. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat tanpa pasta gigi 1 orang (3,3%) dan menyikat gigi dengan pasta gigi berjumlah 29 responden (96,67%). Sebanyak 13 responden (43,3%) tidak melakukan perendaman GTSL. Responden terbanyak hanya melakukan perendaman dengan menggunakan air yaitu 17 responden (56,67%), dan tidak seorangpun yang melakukan perendaman dengan menggunakan larutan zat kimia. Sebagian besar responden yaitu 13 responden (43,3%) membersihkan GTSL sekali sehari, sebanyak 28 responden (93,33%) tidak menemukan kesulitan dalam membersihkan GTSL, semua responden (100%) tidak mendapatkan isntruksi setelah pemasangan, sebanyak 22 responden (73,3%) menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Simpulan: dari hasil penelitian berdasarkan perilaku, sebagian besar responden menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Berdasarkan cara menyikat, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat memakai sikat gigi dan pasta gigi. Berdasarkan cara merawat dengan merendam, sebagian besar responden melakukan perendaman dengan menggunakan air.Kata kunci : gigi tiruan sebagian lepasan, lansia
Uji efektivitas ekstrak daun sendok (Plantago major L.) terhadap waktu perdarahan pada tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus) Kainde, Abedneju R.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Hutagalung, Bernart S.P.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14221

Abstract

Abstract: Herbal plant is often used to treat any kind of disease. There are many kinds of plants in Minahasa used as traditional medicine, inter alia daun sendok (Plantago major L.). Daun sendok is often used to treat bleeding. This study was aimed to obtain the effectiveness of daun sendok extract on bleeding time in male Wistar rats. This was a true experimental study with a posttest only group design. This study was conducted at the Laboratory of Pharmacology Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi. Total samples were 14 rats divided into 2 groups: control group and treatment group. Wounds of 2 mm depth were perfomed on the rat tails of the treatment group followed by application of daun sendok extract. The results showed that the average bleeding time of the control group was 51.87 seconds meanwhile of the treatment group was 29.67 seconds. The unpaired t-test between the two groups showed a p value of 0.000. Conclusion: Daun sendok (Plantago major L.) extract could reduce the bleeding time in male Wistar rats. Keywords: bleeding time, daun sendok, Wistar rat Abstrak: Tanaman obat seringkali digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Di wilayah Minahasa terdapat banyak jenis tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya ialah daun sendok (Plantago major L.) yang seringkali digunakan untuk mengobati perdarahan. Penelitian ini berrtujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sendok terhadap waktu perdarahan tikus Wistar jantan. Jenis penelitian ialah true experimental dengan post test only control group design yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsrat dengan total sampel berjumlah 14 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menggunakan ekstrak daun sendok. Pada kelompok uji diaplikasikan ekstrak daun sendok setelah dilakukan perlukaan di bagian ekor tikus sedalam 2 mm. Hasil penelitian memperlihatkan rerata waktu perdarahan pada kelompok kontrol ialah 51,87 detik sedangkan pada kelompok perlakuan 29,67 detik. hasil uji t tidak berpasangan antara kedua kelompok mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan: Ekstrak daun sendok (Plantago major L.) efektif dalam memperpendek waktu perdarahan pada tikus Wistar.Kata kunci: waktu perdarahan, daun sendok, tikus Wistar
KEMAMPUAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Mangiwa, Rinto; Wungouw, H. I. S.; Pangemanan, D. H. C.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.5741

Abstract

Abstract: In education, intelligence utilized to determine the extent of achievement of learning that can be achieved by an individual. Intelligence factors that result in the difference between someone with another intelligence is innate, environmental, physical condition, social background and socioeconomic. Research purposes to describe the ability of qoutient intelligence ( IQ ). Descriptive survey study was conducted using the method of cross -sectional study to measure the ability of student’s Intelligence Quotient ( IQ ) of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. Number of respondents 100 people, consisting of 50 men and 50 women. Based on the results obtained IQ `measurement capability results in 11 respondents ( 22 % ) of male respondents have the ability IQ with Superior category, the other 11 people ( 22 % ) categorized as Above Average, the remaining 28 men ( 56 % ) had Average IQ ability . Women on the ability of IQ respondents only 1 ( 2 % ) are categorized as Superior, 9 people ( 18 % ) categorized as Above Average, and the remaining 40 ( 80 % ) were classified as having the ability IQ category average. Keywords: Intelligence Capabilities Qoutien, Student’s.   Abstrak: Dalam bidang pendidikan, intelegensi dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar yang dapat dicapai oleh suatu individu. Faktor-faktor intelegensi yang mengakibatkan terjadinya perbedaan antara intelegensi seseorang dengan yang lain yaitu pembawaan, lingkungan hidup, kondisi fisik, latar belakang sosial ekomoni dan pendidikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kemampuan intelligence qoutient (IQ). Penelitian dilakukan secara survey deskriptif dengan mengunakan metode cross sectional study untuk mengukur kemampuan Intelligence Quotient (IQ) mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jumlah responden 100 orang, terdiri dari Laki-laki 50 orang dan Perempuan 50 orang. Berdasarkan hasil penelitian pengukuran kemampuan IQ diperoleh hasil pada responden 11 orang (22%) responden laki-laki memiliki kemampuan IQ dengan kategori Superior, sebanyak 11 orang (22%) masuk kategori diatas rata-rata, sisanya 28 orang (56%) memiliki kemampuan IQ rata-rata. Pada responden perempuan pada kemampuan IQ hanya 1 orang (2%) yang masuk kategori Superior, 9 orang (18%) masuk kategori diatas rata-rata, dan sisanya 40 orang (80%) memiliki kemampuan IQ yang tergolong kategori rata-rata. Kata kunci: Kemampuan Intelligence Qoutient, mahasiswa.
Perbedaan Penyembuhan Luka Pasca Ekstraksi Gigi Antara Pasien Perokok Dengan Bukan Perokok Di RSGM Unsrat Kewo, Lidia A.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25141

Abstract

Abstract: To date, there are lots of documentations about the adverse effects of smoking on the oral cavity. Albeit, smoking is still considered as a casual thing in our community. Chemicals contained in the cigarette smoke can irritate the gums and soft tissues of the mouth, thus inhibiting wound healing after tooth extraction. This study was aimed to determine the difference in post-extraction dental wound healing between smokers and non-smokers. This was a comparative analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. Subjects consisted of 16 smokers and 16 non-smokers that fulfilled the study eligibility criteria. Their oral cavities were examined to check the signs of inflammation (calor, dolor, rubor, tumor, and functio laesa). The results showed that there was a difference in post-extraction wound healing in inflammatory phase between smokers and non-smokers. As many as 9.4% of smoker patients and 34.4% of non-smoker patients recovered at 7 days post extraction. The Mann Whitney U test showed a p-value of 0.005. In conclusion, there was a significant difference in post-extraction wound healing between smokers and non-smokers.Keywords: smokers, non-smokers tooth extraction, wound healing Abstrak: Kebiasaan merokok bukan merupakan hal asing di masyarakat walaupun banyak dokumentasi mengenai akibat buruk dari merokok terhadap rongga mulut. Bahan kimia yang terdapat dalam asap rokok dapat mengiritasi gusi dan jaringan lunak mulut sehingga menghambat penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan bukan perokok. Jenis penelitian ialah analitik komparatif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria penelitian. Terdapat sebanyak 16 orang perokok dan 16 orang bukan perokok sebagai subyek penelitian. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat tanda-tanda inflamasi (kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsio laesa). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan penyembuhan luka 7 hari pasca ekstraksi gigi pada fase inflamasi antara pasien perokok dengan yang bukan perokok; sebanyak 9,4% pasien perokok dan 34,4% pasien bukan perokok yang sudah sembuh. Hasil uji Mann Whitney U mendapatkan nilai p=0,005. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi antara pasien perokok dengan yang bukan perokokKata kunci: perokok, bukan perokok, ekstraksi gigi, penyembuhan luka
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Silang pada Tindakan Ekstraksi Gigi di Poli Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon Lumunon, Novita P.; Wowor, Vonny N. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23311

Abstract

Abstract: Prevention and control of infection are needed in dentistry treatment. Tooth extraction is an invasive treatment, therefore, it plays an important role in the transmission of infection. This study was aimed to determine the prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 40 patients as subjects, obtained by using purposive sampling method. Data were obtained by using the checklist sheet. The results showed that the prevention of cross infection before tooth extraction achieved 56,87%; during tooth extractions 78%; and after tooth extraction 66,7%. In general, the prevention and control of cross-infection in dental extractions at the health center achieved 67.19%. Conclusion: The prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Clinic of Kakaskasen Tomohon Health Center was still below maximum level.Keywords: prevention and control of cross-infection, tooth extraction action Abstrak: Pencegahan dan pengendalian infeksi dibutuhkan dalam setiap tindakan perawatan di bidang kedokteran gigi. Tindakan ekstraksi gigi merupakan salah satu jenis tindakan invasif sehingga berisiko tinggi dalam penularan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Terdapat 40 pasien sebagai subyek penelitian. Data diperoleh dengan menggunakan lembar checklist. Hasil penelitian mendapatkan bahwa tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang sebelum ekstraksi gigi dilakukan sebesar 56,87%; selama ekstraksi gigi sebesar 78%; dan setelah ekstraksi gigi sebesar 66,7%. Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi silang secara umum sebesar 67,19%. Simpulan: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi baik sebelum, selama, dan sesudah tindakan di Poliklinik Gigi Puskesmas Kakaskasen Tomohon belum maksimal.Kata kunci: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang, tindakan ekstraksi gigi
Pengaruh pemberian vitamin C terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik Setiawan, Geri W.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10849

Abstract

Abstract: Vitamin C is a water soluble antioxidant. Vitamin C can prevent tissue damage by reducing the production of oxidants. Supplementation of vitamin C is reported to have a protective effect against muscle injury induced by physical exercise. Physical exercise can trigger oxidative stress caused by tissue injury. Neutrophils play an active role in the process of phagocytosis of bacteria, microorganisms, and clean up the damaged tissue caused by tissue injury. The purpose of this research is to know the effect of vitamin C on neutrophil count after physical exercise. The study was a field experimental with pre post test control group design. To test the significance of this research, the statistical test such as Mann Whitney U with a standard error of 5% or α = 0.05. Physical exercise such as futsal for 60 minutes conducted by 30 male respondents were divided into 2 groups: treatment and control. The levels of neutrophils measured after physical exercise and after the administration of vitamin C 500 mg. There was no significant effect of vitamin C on levels of neutrophils after physical exercise where significant value 0.378. Conclusion: In this research vitamin C had no effect on levels of neutrophils after physical exercise.Keywords: vitamin c, neutrophil, physical exercise, oxidative stressAbstrak: Vitamin C adalah antioksidan yang larut dalam air. Vitamin C dapat mencegah kerusakan jaringan dengan mengurangi produksi oksidan. Suplementasi vitamin C dilaporkan memiliki efek protektif terhadap cedera otot yang diinduksi latihan fisik. Latihan fisik dapat memicu stres oksidatif yang disebabkan oleh cedera jaringan. Neutrofil berperan aktif dalam proses fagositosis bakteri, mikroorganisme, dan membersihkan sisa jaringan rusak yang disebabkan oleh cedera jaringan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh vitamin C terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik. Jenis penelitian ini adalah eksperimental lapangan dengan rancangan pre post test control group design. Untuk menguji signifikansi dari penelitian ini maka dilakukan uji statistik Mann Whitney U test dengan taraf kesalahan yaitu 5 % atau α = 0,05. Latihan fisik berupa olahraga futsal selama 60 menit dilakukan oleh 30 responden laki-laki yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu perlakuan dan kontrol. Kadar neutrofil diukur setelah latihan fisik dan setelah pemberian vitamin C 500 mg. Tidak terdapat pengaruh signifiakan pemberian vitamin C terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik dimana nilai signifikannya 0,378. Simpulan: Pada penelitian ini vitamin C tidak berpengaruh terhadap kadar neutrofil setelah latihan fisik.Kata kunci: vitamin c, neutrofil, latihan fisik, stres oksidatif
Uji daya hambat ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus Pormes, Oktovianus; Pangemanan, Damajanty H.C.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14452

Abstract

Abstract: Synthetic antibiotics have certain side effects, therefore, it is necessary to find alternative natural antibacterial materials which is easily available and to be cultivated, inter alia Amaranthus hybridus L. Its leaves contain active compounds, so they might have antibacterial potential. This study was aimed to determine the inhibitory effect of Amaranthus hybridus leaf extract on the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study using post test only control group design. This study was conducted at the Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine and the Natural Phytochemical Laboratory of Faculty of Mathematics at Sam Ratulangi University. The modified Kirby-Bauer method was used with three wells, containing Amaranthus hybridus leaf extract, the positive control, and the negative control; and with 5 repetitions. The results showed that the average diameters of the inhibition zone of Amaranthus hybridus leaf extract and of the negative control were 0 mm meanwhile of erythromycin as the positive control was 38.8 mm. Conclusion: Amaranthus hybridus leaf extract had no inhibitory effect on Staphylococcus aureus. Keywords: inhibitory zone, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus Abstrak: Bahan antibiotik sintetik memiliki efek samping, sehingga perlu dicari bahan alternatif yaitu bahan alami yang mudah didapat dan dibudidayakan, salah satunya ialah bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Daun bayam petik memiliki potensi antibakteri karena memiliki kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun bayam petik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Labaratorium Fitokimia Fakultas MIPA Unsrat. Metode pengujian yang digunakan ialah modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan tiga buah sumuran yang diberi ekstrak daun bayam petik, kontrol positif, dan kontrol negatif, sebanyak 5 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan diameter rerata dari zona hambat yang terbentuk pada sumur dengan ekstrak daun bayam petik dan pada sumur dengan kontrol negatif ialah 0 mm, sedangkan pada sumur yang diberi kontrol positif amoksisilin terjadi resistensi sehingga diganti dengan eritromisin dan didapatkan rerata zona hambat ialah 38,8 mm. Simpulan: Ekstrak daun bayam petik (Amaranthus hybridus L.) tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: daya hambat, Amaranthus hybridus L, Staphylococcus aureus
Co-Authors Aji M. Sanhia Amelia Ramadhani, Amelia Ampow, Falen V. Anastasia P. G. Goni Angelia Langkir Angelita A. Durado Angmalisang , Elvin C. Anna M. Maruanaya, Anna M. Apituley, Tracy L. D Arif P. Yanto Aruperes, Geraldo Y. Astrid M. Lesar, Astrid M. Aurelia Supit Aviva, Novia N. Bangun, Liasma K. Beatrix I. Pontoh Berhimpon, Siemona Lydia_Eunike Castendo, Cynthia C. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christal G. Oroh, Christal G. Christian Rompis, Christian Christoffel Elim Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan Cicilia A. Fernatubun Danes, Vennetia Ryckerens Debby J. Suhanda Dewi P. Sari, Dewi P. Dinar A. Wicaksono Dondokambey, Serena D. V. Dwi Cahya Fitriyana Fara M. Lossu, Fara M. Felicia P. C. C. Pantow, Felicia P. C. C. Fernanda, Vena Franly Onibala Fransiska Lintong Frenly Muntu Untu Gabrielly F. J. Rorong, Gabrielly F. J. Galant Rompas Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Geri W. Setiawan, Geri W. Gita J. Tulangow, Gita J. Hedison Polii Hendro Bidjuni Herlina I. S. Wungouw Hutagalung, Bernart S.P. Iksan, Nurwahid P. Indriani Tubagus Ivander A. Supit, Ivander A. Ivonny M. Sapulete Jeffry Sony Junus Lengkong Jeremy Frans, Joel Johanna A. Khoman Joice M. Laoh Joice N. A. Engka Joice N.A. Engka Juliatri . Kainde, Abedneju R. Karamoy, Deborah Karjoyo, Julianti Dewi Katarina D. Manibuy, Katarina D. Keloay, Princess Kewo, Lidia A. Khoman, Johanna Koagouw, Marco S. Korah, Sanny C. Korompot, Febri Krista V. Siagian Krista Veronica Siagian Kustina Zuliari, Kustina Li Ping Pontoh Lontaan, Jehuda Lumunon, Novita P. Mangindaan, Rocky J. Mariane Wowor Marimbun, Betrix E. Marunduh, Sylvia Ritta Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Mendur, Sheren Ch. M. Michael A. Leman Mirani A. Uga Monica M. Sengkey, Monica M. Moningka, Maya Esther Wullur Muchyar, Dwi S.R. Myrtle Irene Sarjono Nancy Engka Natalia Purnamasari Natalia, Adriani Ngongoloy, Johanes J. F. Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. P. S. Anindita Paputungan, Fazriah F. Parengkuan, Henaldy Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Pormes, Oktovianus Pritartha S. Anindita Puk, Jimmy Rumam Rahayu, Mayangsari P. Rando F. Mamitoho, Rando F. Randy V. S. Kindangen Rantung, Galatia Marline Victoria Rasni, Novia D. P. Rawung, Meilita M. Rebecca A. Ngantung, Rebecca A. Rinto Mangiwa Rompis, Karen Ronald Sondakh Rumampuk, Jimmy Franky Sanger, Seily E. Sapulete, Ivonny M Saputra, Yoddy G. Sarah Warouw Sekeon, Saskia E. Shianata, Chrisshania M. Siada, Gracela Marchtica Siantan Supit Siemona Berhimpon, Siemona Silalahi, Agnes M. Simak, Valen Siwi, Filliany A. P. Soba, Siane Stefana H. M. Kaligis Suci M. J. Amir Sukarno, Karina Janneta Sumual, Inriyani A. Sundah, Michael J. Supit, Aurelia S.R. Syahril Panigoro, Syahril Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Tawas, Stevany A.D. Tendean, Brigitta A. Tilaar, Keren D. Tinneke A. Tololiu Tinneke Tololiu Tombokan, Kevin C. Triska Yolanda Worang Tulungnen, Regina S. Tulungnen S Vellisia Lindo Vita A. Lethulur Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Warong, Kristo Waworuntu, Elshadai Teovilia Wibowo, Devina V. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K. Wuon, Kleysia D.