Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

TINJAUAN NARATIF : PATOFISIOLOGI OTITIS MEDIA SEROSA TERKAIT PERAN DISFUNGSI TUBA EUSTACHIUS: NARRATIVE REVIEW : PATHOPHYSIOLOGY OF SEROUS OTITIS MEDIA RELATED TO THE ROLE OF EUSTACHIAN TUBE DYSFUNCTION Rona Nasywa Mahira; Budi Hernawan; Sri Dewi Astutik; Chelsa Destra Putri Winarno; Cinta Nurul Husna Putri Suharyono; Aura Lintang Zahra
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i1.1014

Abstract

Otitis media serosa (OME) merupakan kondisi peradangan telinga tengah tanpa tanda infeksi akut yang ditandai dengan adanya efusi persisten. Disfungsi tuba Eustachius (TE) berperan penting dalam patogenesis OME karena mengganggu ventilasi dan drainase telinga tengah. Artikel ini bertujuan menjelaskan peran disfungsi TE dalam patofisiologi OME berdasarkan temuan ilmiah terbaru. Kajian dilakukan melalui penelusuran literatur di PubMed dan Google Scholar (2021–2025) menggunakan kata kunci “otitis media serosa” dan “disfungsi tuba Eustachius”. Delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif. Seluruh studi menunjukkan hubungan kuat antara disfungsi TE dan OME. Faktor obstruktif seperti hipertrofi adenoid, deviasi septum, dan massa sinonasal menurunkan ventilasi telinga tengah, sedangkan faktor non-obstruktif seperti refluks gastroesofageal dan infeksi SARS-CoV-2 memperburuk fungsi TE melalui mekanisme inflamasi. Intervensi medis dan bedah terbukti memperbaiki fungsi TE serta menurunkan efusi, meski beberapa kasus memerlukan pendekatan multimodal. Disfungsi TE merupakan faktor sentral dalam patogenesis OME melalui kombinasi mekanisme obstruktif dan inflamasi. Pemahaman mendalam tentang proses ini penting untuk menentukan terapi komprehensif dan mencegah kekambuhan.
RESISTENSI ANTIBIOTIK DIPENGARUHI OLEH BIOFILM PADA PENGOBATAN OTITIS MEDIA AKUT: TINJAUAN NARATIF: BIOFILM-MEDIATED ANTIBIOTIC RESISTANCE IN ACUTE OTITIS MEDIA TREATMENT: A NARRATIVE REVIEW Budi Hernawan; Malihatin Nur Rohmah; Muna Laila Zava; Handika Muhammad Bimantoro; Annisa Khusnul Triyuniati; Yuke Masaro
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i1.1041

Abstract

Otitis media akut (OMA) adalah infeksi telinga yang umum terjadi pada anak-anak dengan gejala seperti rasa sakit, demam, dan gangguan pendengaran yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Meskipun antibiotik telah menjadi pilihan pengobatan utama selama ini, banyak kasus yang tidak sembuh sepenuhnya. Salah satu penyebab masalah ini adalah adanya biofilm, yaitu kumpulan bakteri yang terorganisir dalam lapisan pelindung membuatnya kebal terhadap antibiotik dan sistem kekebalan tubuh inang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa biofilm berperan penting dalam kegagalan terapi dan kekambuhan OMA. Mekanisme yang terlibat meliputi penghalang penetrasi obat, keberadaan sel persister, heterogenitas metabolik bakteri, dan transfer gen resistensi. Dampak klinis meliputi infeksi yang sering terjadi kembali, otitis media kronis, perforasi membran timpani, hingga gangguan perkembangan bicara dan kognitif pada anak-anak. Keterbatasan terapi antibiotik mendorong pengembangan pendekatan baru, seperti penggunaan agen antibiofilm non-antibiotik (misalnya N-asetilsistein), terapi faga, penghantaran obat menggunakan nanopartikel, serta pendekatan imunomodulasi. Selain itu, inovasi dalam diagnostik non-invasif dan terapi berbasis cahaya juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran biofilm, pengelolaan OMA perlu beralih dari sekadar mengandalkan antibiotik menjadi pendekatan multimodal yang lebih menyeluruh. Penerapan terapi inovatif diharapkan dapat mengurangi angka kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang terdampak.
The Correlation Between Physical Activity and Kidney Stone Formation: A Literature Review Hernawan, Budi; Gonzales, Nico
Smart Medical Journal Vol 6, No 2 (2023): August
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v6i2.71483

Abstract

Background: Kidney stones or nephrolithiasis is a disease where crystals form in kidney due to increased excretion of stones-forming components such as calcium, oxalate, uric acid, cystine, xanthine, and phosphate, or reduced urine volume. In addition, poor eating and drinking habits along with lack of physical activity put individuals at a high risk of developing kidney stones. Previous studies showed that physical activity can both reduce and increase the risk of kidney stones.Purpose: This study aims to determine the relationship between physical activity and formation of kidney stones.Method: A literature review design was used by conducting a journal search through PubMed, Science Direct, and Google Scholar databases using the keywords ("kidney stone" OR nephrolithiasis OR urolithiasis OR "renal calculi") AND ("physical activity" OR exercise)".Results: The results showed a total of 15 articles that discussed correlation between physical activity and kidney stones formation. Ten articles explained that physical activity reduced kidney stones formation, while four reported no significant effect. The last article stated that physical activity increased kidney stones formation Conclusion: Kidney stones formation occurred through the exacerbation of hypercalciuria in the absence of physical activity. Moderate physical activity reduced formation of kidney stones by decreasing calcium excretion in the urine. Meanwhile, excessive physical activity increased the occurrence of kidney stones in the absence of adequate fluid intake.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK LANSIA DENGAN PROGRAM SIAP KAWAL DIABETES (SIKATES) DENGAN PENDEKATAN KOLABORASI INTERPROFESI MAHASISWA KESEHATAN Enita Dewi; Kartinah Kartinah; Luluk Ria Rakhma; Budi Hernawan; Wahyuni Wahyuni; Riska Cahyani Zahra
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 6 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i6.35420

Abstract

Abstrak: Upaya edukasi kesehatan mengenai manajemen diri pada lansia dengan Diabetes Mellitus (DM) masih belum berlangsung secara komprehensif dan kolaboratif. Variasi pengetahuan dan keterampilan lansia dalam merawat diri menegaskan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis tim. Oleh karena itu, Program SIKATES dengan pendekatan kolaborasi interprofessional dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas lansia dalam melakukan skrining dan perawatan diri. Program berlangsung selama enam bulan dan melibatkan tim dosen serta mahasiswa dari keperawatan, fisioterapi, kedokteran, dan gizi. Sebanyak 48 lansia kelompok “Peduli Insani” Mendungan berusia 50–85 tahun berpartisipasi dalam kegiatan ini. Rangkaian kegiatan meliputi skrining DM, penyuluhan kolaboratif mengenai pemeriksaan gula darah, diet DM, aktivitas fisik berupa senam, terapi pengobatan, latihan relaksasi, pendampingan aktivitas bermain angklung sebagai dukungan psikososial, serta evaluasi kadar gula darah. Evaluasi dilaksanakan melalui penilaian proses kegiatan serta pemberian kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai topik manajemen diri, yaitu pemeriksaan gula darah (50%), pemantauan gula darah (47,9%), pentingnya edukasi kesehatan (37,5%), aktivitas fisik (22,9%), sementara topik terapi farmakologi relatif kecil (2,1%). Kolaborasi interprofesi dalam monitoring glukosa dan pendampingan lansia diabetes efektif meningkatkan pemahaman dan perilaku sehat melalui pelayanan yang terpadu. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan kolaborasi interprofessional dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat kapasitas perawatan diri lansia dengan DM secara holistik dan humanis.Abstract: Efforts to provide health education on self-management for older adults with Diabetes Mellitus (DM) are still not implemented comprehensively and collaboratively. Variations in the knowledge and skills of the elderly in performing self-care highlight the need for a more structured, systematic, and team-based approach. Therefore, the SIKATES Program, employing an interprofessional collaborative model, was developed to enhance the capacity of older adults in conducting screening and self-care related to DM. The six-month program involved faculty members and students from the fields of nursing, physiotherapy, medicine, and nutrition. A total of 48 older adults aged 50–85 years from the “Peduli Insani” Mendungan group participated in this initiative. The program activities included DM screening, collaborative education on blood glucose examination, DM dietary management, physical activity through exercise, medical therapy, relaxation training, angklung music activities as psychosocial support, and blood glucose evaluation. Program evaluation was conducted through process assessments and pre- and post-education questionnaires. The results indicated increased knowledge among participants on several aspects of self-management, including blood glucose testing (50%), blood glucose monitoring (47.9%), the importance of health education (37.5%), and physical activity (22.9%), while knowledge related to pharmacological therapy demonstrated relatively small improvement (2.1%). Interprofessional collaboration in glucose monitoring and support for older adults with diabetes proved effective in enhancing understanding and healthy behavior through integrated services. These findings emphasize that interprofessional collaborative approaches offer an effective strategy to strengthen self-care capacity among older adults with DM in a holistic and humanistic manner.
Seorang Laki-Laki Berusia 63 Tahun dengan Hipoglikemia dan Hipertensi Emergency: Laporan Kasus Lutfi Muflikha; Budi Hernawan
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi adalah manifestasi gangguan keseimbangan hemodinamika sistem kardiovaskuler yang menjadi salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Krisis hipertensi merupakan salah satu komplikasi akut utama hipertensi. Diperkirakan 1%-2% pasien hipertensi akan mengalami krisis hipertensi yang merupakan komplikasi dari hipertensi yang tidak diobati atau tidak terkontrol dengan baik. Hipertensi emergensi merupakan peningkatan tekanan darah yang berat yaitu > 180/120 mmHg, disertai dengan kerusakan organ baru atau perburukan kerusakan organ target. Hipoglikemia ditandai dengan menurunya kadar glukosa darah <70 mg/dL. Hipoglikemia adalah penuruanan konsentrasi glukosa serum dengan atau tanpa adanya tanda dan gejala sistem autonom, seperti adanya whipples triad. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional. Laporan kasus : seorang laki-laki berusia 63 tahun dengan keluhan lemas dan penurunan nafsu makan, serta memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah 185/90 mmHg, GDS 36 mg/dL. Dari laporan kasus didapatkan diagnosis hipoglikemia dan hipertensi emergency. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana yang dilakukan berupa tirah baring, diet bergizi seimbang serta pengobatan simtomatik dengan medikamentosa berupa Infus D10, D40% 3 flab, Omeprazole, Captropil, Antalgin. Kesimpulan: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyebab kematian di dunia dengan presentase sebanyak 12.8%. sehingga memerlukan tingkat kewaspadaan tinggi pada gejala-gejala klinis yang disertai dengan komplikasi.
Pria 52 Tahun dengan Gout Arthritis dan Hiperurisemia: Laporan Kasus Ridha Fadhila; Budi Hernawan
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gout Arthritis atau sering disebut asam urat adalah suatu penyakit peradangan pada persendian yang diakibatkan penumpukan asam urat dalam tubuh secara berlebihan. Gangguan metabolisme yang mendasarkan gout adalah hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peninggian kadar urat lebih dari 7,0 ml/dl. Faktor risikonya meliputi usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, obesitas, konsumsi purin dan alkohol. Diagnosis pasti dari artritis gout ditentukan dengan membuktikan adanya kristal asam urat dalam cairan sinovia atau tophus. Diagnosis dapat dikonfirmasi melalui aspirasi persendian yang mengalami inflamasi akut. Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 52 tahun dengan Gout Arthritis dan Hiperurisemia. Pasien datang dengan keluhan lemas, nyeri sendi, nafsu makan menurun, batuk berdahak, riwayat pengobatan asam urat. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan BMI 16,8 kg/m2 (underweight), sklera ikterik, kulit ikterik, konjungtiva anemis auskultasi paru ditemukan suara dasar vesikular menurun, ronkhi basah halus, nyeri ketok costo vertebra, ekstremitas atas dan bawah didapatkan benjolan tofus teraba keras pada regio interphalanges manus dan pedis dextra et sinistra, ROM interinterphalanges terbatas. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap didapatkan hasil anemia, hematokrit menurun, peningkatan ureum, kreatinin, hyperbilirubinemia, hiperuerisemia. Thorax AP didapatkan TB pulmo bilateral. USG abdomen didapatkan Chronik Kidney Disesase Bilateral. Secara umum penanganan artritis gout adalah memberikan edukasi, pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan.
Hubungan HBA1C dan Hipertensi dengan Kejadian Retinopati Rizky Febrian; S Sulistyani; Budi Hernawan; Sahilah Ermawati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinopati merupakan komplikasi mikrovaskular yang umum pada penderita diabetes dan hipertensi. Retinopati diabetik menjadi penyebab utama kebutaan di antara populasi usia kerja di negara industri. Prevalensi diabetik retinopati di Indonesia masih sangat tinggi hingga 42,6%, dengan 24.600 orang mengalami retinopati diabetik. Retinopati hipertensi disebabkan karena tekanan darah tinggi yang konstan di pembuluh darah retina. Banyak orang di dunia yang menderita penyakit hipertensi. Kadar HbA1c merupakan indikator rata-rata konsentrasi glukosa darah selama 2-3 bulan untuk diagnosis diabetes. Hipertensi juga berkontribusi pada patogenesis komplikasi mikrovaskular yang menginisiasi terjadi nya retinopati. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan HbA1c dan Hipertensi dengan angka kejadian penyakit retinopati. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Subyek penelitian ini adalah 65 peserta prolanis terdiri dari 54 perempuan dan 11 laki-laki. Hasil korelasi HbA1c dengan retinopati, didapatkan dari analisis uji korelasi spearman HbA1c dan retinopati diperoleh nilai p sebesar 0,744 sedangkan hipertensi dan retinopati nilai p diperoleh sebesar 0,219. Tidak terdapat hubungan antara HbA1c maupun hipertensi dengan kejadian retinopati.
Hubungan Anak Pertama dan Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Stres pada Dewasa Muda Fadhilah Nurluthfi Sari; Saidatul Fithriyah; Budi Hernawan; EM Sutrisna
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres merupakan usaha menyesuaikan diri terhadap stressor yang berasal dari luar maupun dalam. Kondisi ini disebabkan oleh adanya tuntutan lingkungan, fisik, dan sosial yang tidak dapat dikontrol. Urutan kelahiran pertama dapat menyebabkan stres karena orang tua memiliki harapan yang lebih besar terhadap anak pertama. Pola asuh yang kurang baik juga dapat menyebabkan stres pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara anak pertama dan pola asuh orang tua dengan tingkat stres pada dewasa muda. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dengan besar sampel 129 mahasiswa aktif angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang sesuai dengan kriteria restriksi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square dan uji koefisien korelasi Eta untuk menilai kekuatan hubungan antar variabel. Hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anak pertama dengan tingkat stres (p = 1,000) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan tingkat stres (p = 0,016). Berdasarkan analisis koefisien korelasi Eta, didapatkan hubungan yang lemah antara pola asuh orang tua dengan tingkat stress (η = 0,253). Simpulan penelitian ini adalah pola asuh orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat stres pada dewasa muda dengan kekuatan yang lemah.
Co-Authors Alfajri, Asri Amalia, Lina Amanu, Fahrul Mahardian Ana Riolina Anggitaratri, Zakia Novi Anika Candrasari Annisa Khusnul Triyuniati Anugrah Nur Warthadi Aura Lintang Zahra Budi Kristanto Chelsa Destra Putri Winarno Cinta Nurul Husna Putri Suharyono Dwi Nonita Nugraheni Dwi Nonita Nugraheni Dyah Intan Puspitasari Em Sutrisna Enita Dewi Enita Dewi Erika Diana Risanti Fadhilah Nurluthfi Sari Fajri Khoirul Annam Fathin, Afif Naufal Fithriyah, Saidatul Gatot Jariono Gonzales, Nico Gusti Reka Kusuma Handika Muhammad Bimantoro Irawan, Irvincha Aura Fasya Irvan Dwi Cahyono Kartinah Kencana, Nabila Safhira Titan Listiana Masyita Dewi Luluk Ria Rakhma Lutfi Muflikha Malihatin Nur Rohmah Maulana, Faiz Muhammad Hafizh Hanifa Muna Laila Zava Mustipralampito, Firman Muzaid, Intan Muzainah Binti Noorul Naufal Yusuf Narindra Nida Faradisa Fauziyah Niza, Solikhatin Nurhayati Nurhidayat Nurhidayat Nurhidayat Nurhidayat Nur’aini, Fatla Omar, Puteri Nur Atiqah Binti Omar Pertiwi, Arum Setya Pranata, Nasywa Sekar Utami Pratama, Rafika Surya Prestiaji, Unggul Putri Nabilla Mitha Talita Raafika Studiviani Dwi Binuko Ridha Fadhila Riska Cahyani Zahra Riska Cahyani Zahra Rizky Febrian Rona Nasywa Mahira Sabrina, Rifda Muthia Sahilah Ermawati Sofro, Zaenal Muttaqien Sri Dewi Astutik Sri Lestari Sulistyorini Sri Wahyu Basuki Sulistyani Sulistyani Sulistyorini, Sri Lestari Syafi’ie, Muhammad Syifa, Hasna Nurwina Talita, Putri Nabilla Mitha Thomas Jaya Gumilang Tiaradita, Lutfiana Chrisma Tri Agustina Tri Agustina Tri Agustina, Tri Unggul Prestiaji Vera Septi Sistiasih Wafiq, Muhammad Azzim Wahyuni Wahyuni Wahyuni Wahyuni Yamsun, Rahmat Dani Yuke Masaro