Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

FORMULASI MASKER CLAY EKSTRAK KULIT BUAH PISANG MULI (Musa acuminata L.) Tuti Handayani Zainal; Maria Ulfa; Michrun Nisa; Trisna Junianti Pawarrangan
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 12 No 1 (2023): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v12i1.1760

Abstract

Masker Clay banyak digunakan karena mampu meremajakan kulit, mampu mengangkat kotoran, mendetoksifikasi kulit wajah dan dapat menyerap debu yang terdapat pada wajah. Kulit pisang muli (Musa acuminata L.) kaya akan antioksidan alami yang mengandung metabolit sekunder yang sangat kompleks antara lain flavonoid, fenolik, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan menguji stabilitas masker clay dari ekstrak etanol kulit buah pisang murni. Pengolahan sampel kulit pisang muli diekstrak dengan metode refluks menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak etanol kulit pisang muli diformulasikan dalam bentuk masker clay dengan berbagai bahan dasar kaolin yaitu 25%, 30%, 35%. Hasil pengujian organoleptik, uji sifat fisik dan stabilitas sediaan masker clay menunjukkan bahwa tidak ada formula yang mengalami perubahan warna, bau, maupun bentuk selama proses penyimpanan. Semua preparat homogen, menunjukkan komposisi yang seragam dengan pH rata-rata 5,67-6,67. Nilai viskositas rata-rata yang dihasilkan adalah 23416-31000 cps, daya sebar rata-rata yang dihasilkan adalah 3,06-4,9 cm., daya lekat rata-rata yang dihasilkan adalah 0,77-4,81 detik, dan waktu rata-rata sediaan kering yang dihasilkan 15,00-18,83 menit. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kulit pisang muli dapat diformulasikan sebagai masker clay dan stabil selama penyimpanan. Clay face masks are widely used because they are able to rejuvenate the skin, are able to remove dirt, detoxify facial skin and can absorb dust found on the face. Muli banana peel (Musa acuminata L.) is rich in natural antioxidants which contain very complex secondary metabolites including flavonoids, phenolics, tannins, saponins, steroids, and terpenoids. This study aims to formulate and test the stability of clay masks from ethanol extract of fruit peels pure banana. Processing of muli banana peel samples extracted by reflux method using 96% ethanol solvent. The ethanol extract of muli banana peel is formulated in the form of a clay mask with various kaolin bases, namely 25%, 30%, 35%. The results of organoleptic testing, physical properties and stability tests of clay mask preparations showed that none of the formulas changed color, smell, or shape during the storage process. All preparations were homogeneous, showing a uniform composition with an average pH of 5.67-6.67. The resulting average viscosity values are 23416-31000 cps, the resulting average spreading power is 3.06-4.90 cm., the resulting average adhesion is 0.77-4.81 seconds, and the average time the resulting dry preparation 15.00-18.83 minutes. The conclusion in this study is that muli banana peels can be formulated as clay masks and are stable during storage.
Uji Efektivitas Sediaan Gel Biji Muda Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Radhia Riski; Ismail Ismail; Harlyanti Muthma'innah Mashar; Nurfahmi Ruslan; Michrun Nisa; Maria Ulfa; Sitti Rahimah; Dwi Anggara Putri Usman
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.282

Abstract

Biji muda pepaya (Carica papaya L.) diketahui memiliki khasiat sebagai antibakteri terhadap bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dengan adanya kandungan terpenoid, karpain, dan flavonoid sehingga dapat diformulasi menjadi sediaan gel antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan gel ekstrak biji muda pepaya sebagai antibakteri terhadap bakteri MRSA. Ekstrak biji muda pepaya diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas antibakteri ekstrak dibuat dalam 3 seri konsentrasi yaitu 7,5%, 10% dan 15%, kemudian diujikan pada bakteri MRSA. Ekstrak dengan konsentrasi 10% dengan diameter zona hambat 12,1 mm kemudian diformulasi dalam bentuk sediaan gel dengan menggunakan variasi konsentrasi gelling agent, FI (Carbopol 0.5%), FII (Carbopol 1%) dan FIII (Carbopol 2%). Berdasarkan hasil penelitian formula II sebagai formula stabil diuji efektivitasnya sebagai sediaan gel terhadap Methicillin-resistant Staphylococcus aureus dengan hasil diameter zona hambat sebesar 11,34 mm.
Pengembangan Formula Spray Gel Ekstrak Etanol Daun Komba- Komba (Eupatorim Odoratum) Sebagai Kandidat Repellent Michrun Nisa; Irmayani Irmayani; Sweety Dwy Sarty
Jurnal Farmasi & Sains Indonesia Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52216/jfsi.vol5no1p41-45

Abstract

Repellent is an insecticide that is used to protect the skin from mosquito bites. Spray gel is a form of developing gel preparations applied through a pump spray. Ethanol extract of komba – komba (Eupatorium odoratum) leaves with a concentration of 7% has mosquito repellent activity because it contains compounds that are toxic to mosquitoes. 100% protection at the 1st hour followed by 73% at the 6th hour. This study aims to formulate the ethanolic extract of komba-komba leaves in the form of a spray gel with a variation of the gelling agent carbopol 940: HPMC, namely, 0.5%: 0.25%; 1% : 0.5% ; and 1.5% : 0.75%. Physical evaluation of the preparation includes organoleptic test, pH test, viscosity test, spray pattern test and dry time. The evaluation results show that formula 2 meets the param eters of the physical properties of the spray gel preparation
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BIDARA LAUT (Strychnos ligustrina Biume) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Rahimah, Sitti; Salampe, Mirnawati; Syamid, Ahmad Gufairil; Ismail, Ismail; Nisa, Michrun
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2023): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v12i2.201

Abstract

Burns are damage or loss of skin tissue caused by contact with heat sources such as hot water, fire, chemicals, electricity, friction and radiation. Sea lotus (Strychnos ligustrina Blume) is known to contain compounds that have the potential to heal burns such as flavonoids, saponins and tannins. This study aims to determine the activity of ethanol extract of bidara de mer leaves on burn healing as a function of reduction in burn diameter, wound discoloration, edema and crust formation. This study used 5 Oryctolagus cuniculus that received 4 types of treatment after being induced by hot plate, namely wound I (bioplacenton® gel positive control), wound 2 (HPMC 5% negative control), wound 3 (extract concentration 10%) and wound 4 (concentration of extract 10%) 25%). Apply the test sample to the burns twice a day and observe the condition of the wound daily. Burn healing as a function of wound diameter was determined based on the AUC (Area Under Curve) value and statistically analyzed using SPSS 21.0. The test results showed that the mean AUC value at 10% and 25% concentrations was 0.495 cm/day and 0.532 cm/day, respectively. The results of the statistical analysis showed that the ethanol extract of bidara sea leaves gave significant results compared to the negative control. treatment (HPMC). The conclusion obtained is that the ethanolic extract of sea bidara leaves accelerates the healing process of burns in Oryctolagus cuniculus.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANALGETIK DAN ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN TENDANI (Ganiothalamus macrophyllus (Blume) Hook. F. & Thomson) Rahimah, Sitti; Mirnawati Salampe; Suwahyuni Mus; Ismail Ismail; Michrun Nisa; Supardi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.v8i1.200

Abstract

Nyeri dan demam merupakan kondisi yang dapat dialami oleh semua orang pada segala usia. Salah satu tanaman yang secara empiris telah banyak digunakan sebagai obat untuk penaganan nyeri dan demam khususya oleh masyarakat suku Dayak adalah tendani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas analgetik dan antipiretik ekstrak daun tendani pada mencit. Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok 1 sebagai kontrol negative (Na CMC), kelompok 2 sebagai kontrol positif, kelompok 3,4 dan 5 untuk pemberian ekstrak daun tendani masing-masing dengan dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 300 mg/KgBB. Pada pengujian aktivitas analgetik, hewan coba diinduksi nyeri dengan asam asetat 1% sebelum pemberian sampel uji dengan asam mefenamat sebagai kontrol positif. Pada pengujian Pada pengujian aktivitas antipiretik, hewan coba diinduksi demam dengan pepton 12,5% setelah pemberian sampel uji dengan paracetamol sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menujukan bahwa pemberian ektrak daun tendani memiliki aktivitas dalam menghambat terjadinya nyeri dan menurunkan demam setelah induksi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun tendani memiliki aktivitas sebagai analgetik dan antipiretik.
REVIEW, APLIKASI PENGHANTARAN INTRAVAGINAL BERBASIS POLIMER TERMOSENSISITIF-MUKOADHESIF PADA SEDIAAN GEL IN SITU nisa, michrun
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 13 No 2 (2024): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v13i2.331

Abstract

Gel in situ termosensitif merupakan jenis sediaan in situ gel yang berbentuk larutan kental pada suhu ruang namun berubah menjadi gel pada suhu tubuh. Polimer yang digunakan pada formulasi gel in situ memiliki karakteristik khas yakni bersifat sensitif terhadap suhu. Review artikel ini bertujuan untuk melakukan kajian literatur mengenai aplikasi penghantaran obat intravaginal berbasis polimer termosensitif-mukoadhesif pada sediaan gel in situ. Hasil review menunjukkan bahwa formulasi sediaan gel in situ termosensitif-mukoadhesif dilakukan dengan menggunakan polimer yang bersifat termosensitif. Polimer yang umum digunakan untuk formulasi sediaan ini yaitu Poloxamer 407 yang dikombinasikan dengan polimer-polimer mukoadhesif. Konsentrasi poloxamer 407 yang digunakan sebagai thermogelling agent yaitu 15% - 20% yang terbukti dapat memperpanjang waktu tinggal obat dan mempertahankan sifat thermogelling pada vagina. Poloxamer 407 sebagai polimer termosensitif dapat dikombinasikan dengan carbopol, HEC, HPMC, kitosan, natrium alginate, PEG-400, polikarbofil, poloxamer 188. Kombinasi polimer tersebut sangat efektif karena stabilitas dan sifat mekaniknya yang baik serta mampu melepaskan bahan aktif untuk mendukung sistem penghantaran obat intravaginal.
EFEK BIOLARVASIDA NYAMUK Aedes aegypti DARI GRANUL EKSTRAK DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) Yunita Mangampa; Michrun Nisa; Nurul Fahimah; Sriwanti Lisu Rannu; Muh Anugrawan; Febi Rofina Doa
Jurnal Ilmiah Manuntung Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Manuntung
Publisher : jurnal ilmiah manuntung sekolah tinggi ilmu kesehatan samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v3i2.117

Abstract

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is still one of the problems in Indonesia. Natural materials that has the property of killing the mosquito vector one of them is a lime leaf. lime leaf extract contains limonoids compounds that serve as larvacide.Tujuan of this research is to make granule extract lime leaf (Citrus aurantifolia) which has the ability as a mosquito killer biolarvacide. This type of research is a laboratory experiment. The population in this study were all three instars of Aedes aegypti larvae aged 3-4 days. The results showed that there was granule effect of lime leaf extract (Citrus aurantifolia) to the death of Aedes aegypti mosquito larvae. The granule concentration of lime leaf extract (Citrus aurantifolia) which is effective in killing Aedes aegypti mosquito larvae is 15% extract concentration formulated in granule form with percent mortality of 76.7% larvae.
EVALUASI TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK LANJUT USIA Fajriansyah Fajriansyah; Michrun Nisa
Jurnal Ilmiah Manuntung Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Manuntung
Publisher : jurnal ilmiah manuntung sekolah tinggi ilmu kesehatan samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v3i2.125

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) is a condition of kidney damage that occurs for 3 months or more in the form of structural or functional abnormalities of the kidney with or without decrease in Glomerular Filtration Rate which manifests as a pathological disorder. Treatment of CKD is closely related to medication adherence that determines a successful treatment, but patient treatment adherence is often low especially in regularity for drug use. This study aims to evaluate the level of adherence to the use of CKD patient drug at the General Hospital of Education Hasanuddin University. The research design is descriptive analysis with Cross Sectional. The data were collected by using questionnaires containing questions that led to patient characteristics, medication adherence, and factors affecting drug use. Measurement of adherence used is Modified Morisky Scale (MMS) which then analyzed using Case Management Adherence Guidelines (CMAG) against 45 subjects. The result of the research is the level of patient compliance based on quadrant level 1 as many as 8 patients (17,78%), quadrant level 2 as many as 8 patient (17,78%), level 3 quadrant 17 patient (37,77%), and quadrant level 4 of 12 patients (26.66%).
Uji Efektivitas Penyembuhan Luka Film Forming Gel Gentamisin pada Model Tikus Diabetes Zainal, Tuti Handayani; Nisa, Michrun; Hikma, Nurul; Astrid, Astrid; Arifin, Andi Ardiansyah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.646

Abstract

Gentamisin paling banyak digunakan sebagai terapi infeksi pada ulkus diabetikum yaitu kelainan neurologi dan penyakit pembuluh darah arteri perifer yang merusak jaringan kulit terdalam dan menyebabkan infeksi, ulserasi, dan kerusakan kulit. Film Forming gel gentamisin memiliki keunggulan memiliki efek terapeutik, secara estetis lebih menarik bagi pasien, karakteristik yang tidak lengket, lebih oklusif dan dapat dirancang untuk menyediakan pelepasan obat yang berkelanjutan sehingga frekuensi penggunaan seminimal mungkin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan kadar gentamisin yang terjerap dalam polimer dan efektifitas penyembuhan luka diabetikum pada model tikus.  Tikus dibuat diabetes dengan induksi aloksan kemudian dibuat luka pada bagian punggung. Hewan uji dibagi dalam tujuh kelompok dan mendapatkan perlakuan basis film forming gel, salep gentamisin, film forming gel gentamisin dengan variasi polimer PVP dan PVA F1 (4: 10), F2 (3:11) dan F3 (2:12). Pengukuran kadar film forming gel menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan efektifitas penyembuhan luka dilakukan dengan mengukur panjang luka dan lama penymbuhan. Hasil menunjukkan bahwa kandungan kadar film forming gel gentamisin pada F1 1,19 µg/mL, F2 1,80 µg/mL dan F3 1,44 µg/mL, efektifitas penyembuhan luka pada F 1 sembuh pada hari H-5, F2 H-6, F3 H-7 dan salep gentamisin H-10. Kesimpulan bahwa formula yang paling efektif terhadap luka diabetikus adalah F3 dengan konsentrasi PVP 2% dan PVA 12%.