Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

MITIGASI BENCANA, KESEHATAN LINGKUNGAN, DAN PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT PADA KELOMPOK WARGA TERDAMPAK BANJIR BANDANG DI DESA PENYARINGAN, JEMBRANA Pande Ayu Naya Kasih Permatananda; Ni Wayan Rusni; I Gde Suranaya Pandit; Anak Agung Sri Agung Aryastuti
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2023): Volume 4 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i3.17310

Abstract

Intensitas hujan yang tinggi selama penghujung tahun 2022 pada hampir seluruh kawasan di Bali, terutama di Bali Barat, menyebabkan munculnya bencana banjir bandang di sejumlah desa di Kabupatan Jembrana, salah satunya adalah Desa Penyaringan. Desa Penyaringan Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana merupakan daerah dengan tingkat kerusakan paling parah akibat bencana banjir bandang di bulan Oktober 2022 tersebut karena berada di sepanjang daerah aliran sungai Biluk Poh. Pemulihan infrastructure yang rusak akibat bencana banjir bandang di Desa Penyaringan sudah dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Sehingga solusi yang ditawarkan kepada mitra meliputi edukasi mitigasi bencana, sesi psychohealing, reboisasi hulu sungai biluk poh, pembuatan lubang biopori, edukasi vector borne disease, serta pemanfatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pengendalian vektor penyakit. Pelaksanaan kegiatan ini telah memenuhi 3 indikator dalam evaluasi, yaitu evaluasi input berupa terselenggaranya kegiatan sesuai waktu yang dijadwalkan dengan jumlah peserta sesuai yang diharapkan. Indikator outcome dinilai melalui antusiasme peserta juga sangat tinggi ditunjukkan dengan interaksi yang baik selama mengikuti kegiatan. Indikator output yaitu pengetahuan juga mengalami peningkatan yang signifikan dan penurunan kecemasan setelah mengikuti sesi psychohealing, dan tersalurkannya bantuan kepada mitra. Kegiatan ini diharapkan mampu mengurangi dampak banjir bandang yang dialami mitra dan membantu mitra untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana banjir yang sering terjadi di daerah tersebut.
Perbedaan Skor Kualitas Hidup pada Subjek Usia Dewasa dengan Hipertensi dan Non-Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tampaksiring I Sari, Made Harlina Purnama; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Suyasa, I Putu Gede Eka Ariawan; Aryastuti, Anak Agung Sri Agung
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 11, No 1 (2024): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v11i1.12128

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah sistolik (TDS) seseorang mencapai ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastolik (TDD) sebesar  ≥ 90 mmHg pada pengukuran berulang di klinik. Gejala-gejala dari hipertensi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sehingga hal tersebut dapat berpengaruh kepada kualitas hidup penderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan skor kualitas hidup pada subjek usia dewasa dengan hipertensi dan non-hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tampaksiring I. Penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Pada penelitian ini diharapkan diperoleh responden sebanyak 92 orang dengan sebaran 46 responden usia dewasa dengan hipertensi dan 46 responden usia dewasa non-hipertensi. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui pengisian langsung kuesioner WHOQOL-BREF untuk mengetahui tingkat kualitas hidup. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann-Whitney U Test. Hasil analisis univariat didapatkan mayoritas subjek penelitian berusia 40-60 tahun (72,8%), berjenis kelamin perempuan (57,6%), bependidikan tinggi (56,5%), dan status bekerja (80,4%). Hasil analisis bivariat didapatkan nilai p = 0,000 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna signifikan (p < 0,05), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan skor kualitas hidup pada subjek usia dewasa dengan hipertensi dan non-hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tampaksiring I.
Comparison of Eye Fatigue Incidence Between Male and Female Medical Students with Refraction Error Wardana, Made Kusuma; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Sedani, Ni Wayan; Cahyawati, Putu Nita; Aryastuti, Anak Agung Sri Agung
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5926

Abstract

Abstract—Eye fatigue is one of main problems faced by students during their education. The female gender is known to have a higher risk of eyestrain than the male gender. This study was conducted to analyze the differences in eyestrain event of medical students with refractive error based on gender. This research was an analytic observational study with cross-sectional design. Male and female students with refractive errors, aged 18-20 years old, and willing to participate in the study were included. Eyestrain was measured using Visual Fatigue Score questionnaire in Indonesian. Chi Square analysis was carried out to analyze the differences in eyestrain event of medical student with refractive error based on the gender. Results: There were 117 respondents in this study, which consisted of 57 male students and 57 female students, both were with refractive errors. Of the 117 respondents, 62 respondents experienced with eyestrain, with details of 24 were male students and 38 were female students. Chi Square analysis obtained a P value of 0.001 which means significantly different. In addition to refractive errors, gender is another variable that can affect the event of eyestrain in medical students. Prevention efforts need to be done to overcome this problem. Keywords: eye fatigue, gender, refraction error, medical student Abstrak—Kelelahan mata merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi mahasiswa selama menjalani pendidikan. Jenis kelamin perempuan diketahui memiliki risiko kelelahan mata yang lebih tinggi daripada jenis kelamin laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kejadian kelelahan mata pada mahasiswa kedokteran dengan gangguan refraksi berbasis gender. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Mahasiswa atau mahasiswi kedokteran dengan gangguan refraksi, berusia 18-20 tahun, dan bersedia mengikuti penelitian dimasukkan ke dalam penelitian. Kelelahan mata diukur dengan menggunakan kuesioner Visual Fatigue Score dalam Bahasa Indonesia. Analisis Chi Square dilakukan untuk menganalisis perbedaan kelelahan mata pada mahasiswa dan mahasiswi kedokteran dengan gangguan refraksi. Responden penelitian ini berjumlah 117 yang terdiri dari 57 mahasiswa dan 57 mahasiswi dengan gangguan refraksi. Dari 117 responden tersebut, 62 responden mengalami kelelahan mata, dengan rincian 24 adalah mahasiswa dan 38 adalah mahasiswi. Analisis Chi Square didapatkan nilai p= 0,001 yang berarti bermakna signifikan. Selain gangguan refraksi, gender adalah hal yang dapat berpengaruh pada kejadian kelelahan mata pada mahasiswa. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk dapat mengatasi hal tersebut., Kata kunci: kelelahan mata, gender, gangguan refraksi, mahasiswa kedokteran
Penguatan Tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) SD Genta Saraswati Gianyar dalam Membangun Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Aryastuti, Anak Agung Sri Agung; Dewi, Ni Wayan Erly Sintya; Cahyawati, Putu Nita; Suaridewi, I Gusti Agung Ayu Mas
Abdimas Galuh Vol 6, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i2.15474

Abstract

Anak-anak adalah masa depan bangsa yang perlu mengetahui pentingnya menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di sekolah, anak-anak dapat dituntun untuk menerapkan PHBS melalui wadah yang disebut Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Melalui program-program yang dicanangkan oleh UKS, budaya PHBS dapat terbangun sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan siswa-siswi serta menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. SD Genta Saraswati Gianyar sudah memiliki ruang khusus untuk kegiatan UKS, akan tetapi pengelolaannya belum optimal. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah mendampingi mitra dalam mengelola UKS untuk mendukung terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan SD Genta Saraswati Gianyar. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, simulasi dan demonstrasi, serta pendampingan. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Desember 2022 yang diikuti oleh 14 peserta yang ditugaskan sebagai penggerak UKS di SD Genta Saraswati Gianyar. Dari kegiatan ini diperoleh hasil meningkatnya pengetahuan seluruh (100%) peserta setelah diberikan penyuluhan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pre-test dan post-test yang terjadi peningkatan dari rata-rata pre-test 6,64 menjadi 9,42 pada post-test. Perbedaan rerata nilai pre-test dan post-test cukup signifikan dengan nilai p <0,05.  Dengan terlaksananya kegiatan ini diharapkan guru SD Genta Saraswati Gianyar memiliki pengetahuan dan kapasitas yang baik dalam mengelola UKS untuk mendukung penerapan PHBS secara berkelanjutan di lingkungan sekolah. 
Overview of knowledge, attitudes and behavior of housewives in Denpasar City towards self-medication Ruspita Sari, Ni Ketut Adelia; Kasih Permatananda, Pande Ayu Naya; Cahyawati, Putu Nita; Aryastuti, Sri Agung; Lestarini, Asri
Science Midwifery Vol 12 No 6 (2025): February: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i6.1840

Abstract

Self-medication is an effort to prevent and treat diseases without consulting a doctor, with housewives as the main actors. Factors that influence self-medication are knowledge, attitudes, and behavior. This study aims to determine the level of knowledge, attitudes, and behavior of housewives in Denpasar towards self-medication. The method used is descriptive observational with a cross-sectional approach. Respondents numbered 100 people who were selected based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through questionnaires and analyzed in the form of a frequency distribution table. The majority of respondents were 26-35 years old (60%), had a college/diploma education (68%), and worked as private employees (39%). The most frequently used medicine was cough and cold medicine (37%). The results showed that 67% of respondents had high knowledge, 58% had a positive attitude, and 92% had good behavior in self-medication. It is hoped that the results of this study will encourage rational self-medication practices, with the support of the government and health institutions in comprehensive education programs, including drug classification. The government and related agencies, including health education institutions, are trying to strengthen self-medication knowledge improvement programs, which not only focus on DAGUSIBU (can, use, store, dispose), but also drug classification and others.
Empowerment of Health Cadre in Managing Antenatal Class in Tulikup Village, Gianyar-Bali Aryastuti, Sri Agung; Ratna Juwita, Dewa Ayu Putu; Cahyawati, Putu Nita; Witari, Ni Putu Diah; Pradnyawati, Luh Gede
International Journal of Community Service Learning Vol. 4 No. 4 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.348 KB) | DOI: 10.23887/ijcsl.v4i4.22284

Abstract

Lack of public awareness and knowledge of pregnant women in maintaining their health during pregnancy was one of the problem found in Tulikup Village, Gianyar-Bali. The limited number of health workers in Puskesmas has resulted in the lack of information obtained by the community regarding pregnancy, childbirth and the puerperium. Therefore, cadre empowerment programs as a driving force in managing antenatal classes for pregnant women are expected to overcome these problems. This activity was held in  Tulikup Village Hall, and was attended by 6 cadres and 6 pregnant women. The counseling, training and simulation method was used to increase their knowledge and skills about the antenatal class. At the end of the activity, it was found that there was an increase in knowledge regarding the antenatal class. Cadres were able to design an antenatal class, arrange the material that could be given and become a facilitator in activities in it.
Antibiotic use at the ear, nose, and throat outpatient clinic in Bangli Regional Hospital, Bali Sudiadewi, Ni Putu Eka; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Udiyani, Desak Putu Citra; Cahyawati, Putu Nita; Aryastuti, Sri Agung
Indonesian Journal of Pharmacology and Therapy Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing Universitas Gadjah Mada and Indonesian Pharmacologist Association or Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijpther.20992

Abstract

Ear, nose, and throat (ENT) diseases are defined as diseases that occur around the ear, nose, and throat organs, which do not recognize seasons and can affect various ages. The prevalence of ENT diseases in Indonesia is quite high, with the most common therapy being antibiotics. Irrational antibiotics use can lead to increased treatment costs, risk of side effects, and toxicity. This study aimed to evaluate the use of antibiotics among ENT outpatient. This was a cross-sectional study using medical records data from the ENT Outpatient Clinic in Bangli Regional Hospital in 2022 that meet the inclusion criteria. Data were analyzed descriptively and presented in tables or diagrams. A total of 80 samples were evaluated, predominantly aged 18-44 yo (60%), female (53.8%), and diagnosed with chronic suppurative otitis media (20%). The pattern of antibiotic prescription consisted of monotherapy antibiotics (62.5%) in solid dosage forms (58.8%), administered orally (60%), and with a duration of administration ≥ 5 d (82.5%). Patients aged 18-44 yr, both male and female, receiving either monotherapy orpolytherapy antibiotics were predominantly cases of infection (>90%). The results of this study are expected to serve as one of the sources of information for the development of practical clinical guidelines for ENT patients receiving antibiotic therapy, particularly at the Bangli Regional Hospital, Bali.
ANALISIS BODY MASS INDEX (BMI) DAN DERAJAT PROTEINURIA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI DENPASAR Paramitha, I Gusti Ayu Mas Diah; Lestarini, Asri; Sari, Ni Luh Putu Eka Kartika; Aryastuti, Anak Agung Sri Agung; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Cahyawati, Putu Nita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.43217

Abstract

Diabetes melitus (DM) masih menjadi permasalahan kesehatan yang serius di dunia. Salah satu komplikasi DM tipe 2 yakni nefropati diabetik yang menyebabkan kerusakan pada struktur ginjal. DM tipe 2 timbul akibat adanya berbagai faktor risiko, seperti obesitas yang menunjukkan status gizi dan dapat diukur menggunakan body mass index (BMI). BMI menunjukkan tingkat metabolisme serta memengaruhi fungsi ginjal yang tercermin dari proteinuria pada DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara BMI dengan derajat proteinuria pada pasien DM tipe 2 di Denpasar. Metode yang digunakan ialah observasi analitik dengan pendekatan cross sectional serta menggunakan 50 subjek DM tipe 2 yang tersimpan di Laboratorium Biomolekuler FKIK Universitas Warmadewa. Pengumpulan data dilakukan melalui formulir yang berisi data dasar penderita, data onset, tekanan darah, kadar gula darah puasa, data BMI, serta data protein dalam urin. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (uji Spearman). Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar subjek berjenis kelamin laki-laki (56%), berusia 61-70 tahun (44%), memiliki riwayat menderita DM tipe 2 kurang dari 10 tahun (56%), memiliki tekanan darah kategori pre hipertensi (52%), dan memiliki gula darah puasa (GDP) yang tinggi (62%). Mayoritas subjek tergolong dalam kategori BMI normal (52%) dan memiliki proteinuria positif +1 (62%). Nilai p pada penelitian ini adalah 0,235 artinya terdapat hubungan yang tidak signifikan antara body mass index (BMI) dengan derajat proteinuria pada pasien DM tipe 2 di Denpasar.
Phytochemical and Antioxidant Capacity Test on Turmeric Extract (Curcuma Longa) Traditionally Processed in Bali Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Aryastuti, Anak Agung Sri Agung; Cahyawati, Putu Nita; Udiyani, Desak Putu Citra; Wijaya, D.; Pandit, I Gde Suranaya; Wirajaya, Anak Agung Ngurah Mayun
Bali Membangun Bali: Jurnal Bappeda Litbang Vol 1 No 2 (2020): August 2020
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51172/jbmb.v1i2.115

Abstract

Purpose: The purpose of this study was to determine the ways and objectives of the use of turmeric by Balinese, as well as the phytochemical content and antioxidant capacity of turmeric extract which is traditionally processed in Bali. Research methods: The method and purpose of utilizing turmeric were obtained through observation and interviews with 900 Balinese respondents. Quantitative phytochemical tests include starch, protein, flavonoid, tannin, phenol and vitamin C levels and qualitatively for the presence of triterpenes, steroids, alkaloids, and saponins. Antioxidant capacity was measured using the DPPH method. Findings: Through this research, we found there were only 36.8% of respondents had ever used turmeric as a traditional medicine. Utilization of turmeric was mostly in the form of loloh or traditional drinks. Phytochemical test results showed turmeric extract had 67.38% starch, 3.42% protein, 2709.39 mg/100 gr flavonoids, tannins 291.64 mg/100gr, phenol 1584.04 mg/100 gr, and vitamin C 0.06 mg/100gr. Qualitatively, turmeric extract contained triterpenes, alkaloids, and saponins, but did not contain steroids. The antioxidant capacity of turmeric extract was 70.9 mg/L GAEAC. Implications: Turmeric extract is a traditional medicine made from nature that is most commonly used by Balinese and very potential to be developed as an antibacterial, antioxidant, anti-inflammatory, or other benefits that still need further investigation.
Pelatihan Penanganan Cedera Leher dan Patah Tulang pada Petugas Puskesmas III Denpasar Selatan Lestarini, Asri; Sumadewi, Komang Trisna; Aryastuti, Sri Agung; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 2 No 4 (2023)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v2i4.814

Abstract

Angka kejadian patah tulang maupun cedera leher pada kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih tinggi. Puskesmas III Denpasar Selatan menjadi salah satu tempat penanganan pasien dengan cedera leher dan patah tulang. Masalah yang dihadapi Petugas Puskesmas di bagian gawat darurat adalah kurangnya pelatihan dan penyegaran kembali mengenai penanganan cedera leher dan patah tulang, serta kurangnya peralatan yang memadai. Solusi masalah tersebut yaitu penyuluhan, pelatihan dan pendampingan penanganan cedera leher dan patah tulang, serta pemberian peralatan. Kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dilakukan di Puskesmas III Denpasar Selatan, dengan 14 petugas gawat darurat Puskesmas III Denpasar Selatan. Hasil program ini adalah adanya peningkatan pengetahuan yang dilihat dari hasil rerata postest (85,86) lebih tinggi dari hasil rerata pretest (70,43). Setelah diobservasi, didapatkan peningkatan kemampuan peserta untuk penanganan cedera leher dan patah tulang. Diharapkan dapat dilakukan kegiatan yang serupa sehingga menyegarkan kembali petugas Puskesmas III Denpasar Selatan dalam penanganan cedera leher dan patah tulang.