Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Lansia sadar DMT2 melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dan edukasi manajemen perawatan diri Recta Olivia Umboro; Dedent Eka Bimmaharyanto S.; Dwi Monika Ningrum; Fitri Aprliany; Anita Mursiany; Hilda Hastuti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.26977

Abstract

AbstrakPenduduk lanjut usia merupakan kelompok yang memiliki faktor risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan, salah satunya yaitu Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Untuk mengatasi kurangnya pemahaman lansia terhadap terkait deteksi dini dan manajemen perawatan diri pada DMT2 maka diadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat pada hari Sabtu, 5 November 2022 bertempat di Desa Batu Asak,Praya Barat, Lombok Tengah, NTB.Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan informasi dan pemahaman terkait DMT2 dalam upaya meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini pada lansia dan manajemen perawatan diri DMT2. Sasaran pada kegiatan ini adalah masyarakat usia dewasa dan lansia. Kegiatan ini menggunakan metode fasilitasi melalui edukasi, dialog dan berbagi cerita berdasarkan pengalaman masyarakat serta pemeriksaan kadar gula darah sewaktu. Evaluasi dilakukan dengan metode pretest dan posttest. Kegiatan dihadiri oleh 27 peserta dengan rentang usia 25 tahun – lebih dari 60 tahun. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 38.00 dan nilai rata-rata untuk post test sebesar 73.00. Kesimpulan dari kegiatan ini yaitu terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan manajemen perawatan diri DMT2 pada lansia yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase nilai evaluasi setelah perlakuan sebesar 92.11%. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2; lansia; manajemen perawatan diri Abstract Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is one of the health issues that the aged population is particularly susceptible to. At Batu Asak Village, West Praya, Central Lombok, NTB, a community service activity was conducted on Saturday, November 5, 2022, to address the older population's ignorance about early identification and self-care management in type 2 diabetes.This program aims to raise awareness of the significance of early detection in the elderly and self-care management of type 2 diabetes by disseminating information about the disease. This exercise is intended for adults and senior citizens. This activity employs a facilitation approach that includes blood sugar testing, teaching, discussion, and the sharing of anecdotes based on the community's experiences. Pretest and posttest techniques were used for evaluation. Twenty-seven people, ranging in age from 25 to over 60, participated in the exercise. According to the evaluation results, the average pretest score was 38.00, and the average posttest score was 73.00. As evidenced by a 92.11% increase in the percentage of evaluation scores following treatment, the activity concludes that there is a greater level of community knowledge and awareness regarding the significance of early detection and self-care management of type 2 diabetes in the elderly. Keywords: elderly; self-care management; type 2 diabetes mellitus
Edukasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang DAGUSIBU dan BUD obat di Posyandu Pisang Kelurahan Karangroto Kota Semarang Dwi Monika Ningrum; Hanif Khairudin Akhyar; Arina Manasikana; Dinda Mulia Setiani; M. Azrul Reza Affani; Pandisa Parawansa; Seftiyaningsih Duwi Saputri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30731

Abstract

Abstrak Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah program pemerintah yang bertujuan memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama balita dan lansia. Bagi lansia, Posyandu berfungsi untuk pemeriksaan kesehatan rutin, penyuluhan tentang pola hidup sehat, dan pemberdayaan masyarakat lanjut usia. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, Posyandu berkontribusi besar dalam memperkuat sistem kesehatan, mendorong gaya hidup sehat, dan meningkatkan kualitas hidup balita serta lansia. Tujuan pengabdian ini adalah untuk membandingkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) dan BUD Obat (Baik, Utuh, dan Dalam batas kadaluarsa) di Posyandu Pisang, Kelurahan Karangroto, Semarang. Adapun metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu pemberian edukasi, pre test dan post test. Kegiatan pengabdian ini penting dilakukan mengingat edukasi terkait pengelolaan obat menjadi faktor kunci dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat yang aman dan efektif. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini  yaitu penyuluhan dengan membagikan leaflet, diikuti dengan diskusi dan tanya jawab bersama peserta, kemudian dilakukan pretest dan postes untuk mengetahui pengetahuan dari peserta mengenai DAGUSIBU dan BUD. Adapun kegiatan ini terdiri dari lansia dan ibu posyandu balita sebanyak 15 peserta yang aktif mengikuti kegiatan di Posyandu Pisang. Dari hasil edukasi yang sudah diberikan  mengenai DAGUSIBU dan BUD diperoleh hasil Uji olah data yaitu dengan nilai p<0,05 yaitu 0,002 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara ingkat pengetahuam sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan edukasi terkait DAGUSIBU dan BUD di Posyandu Pisang Kelurahan Karangroto Kota Semarang. Kata kunci: posyandu; lansia; kesehatan masyarakat; DAGUSIBU;BUD Abstract Integrated Service Post (Posyandu) is a government program that aims to provide health services to the community, especially toddlers and the elderly. For the elderly, Posyandu functions for routine health checks, counseling on healthy lifestyles, and empowering the elderly. By actively involving the community, Posyandu contributes greatly to strengthening the health system, encouraging a healthy lifestyle, and improving the quality of life of toddlers and the elderly. The purpose of this community service is to compare the level of community knowledge about the concept of DAGUSIBU (Get, Use, Store, Throw Away) and BUD Obat (Good, Intact, and Within Expiration Date) at Posyandu Pisang, Karangroto Village, Semarang. The methods used in this activity are providing education, pre-test and post-test. This community service activity is important to do considering that education related to drug management is a key factor in increasing public understanding of the safe and effective use of drugs. The methods used in this activity are counseling by distributing leaflets, followed by discussions and questions and answers with participants, then pre-tests and post-tests are conducted to determine the knowledge of participants about DAGUSIBU and BUD. This activity consists of 15 elderly and mothers of toddler posyandu who actively participate in activities at Posyandu Pisang. From the results of the education that has been given regarding DAGUSIBU and BUD, the results of the Data Processing Test were obtained with a value of p <0.05, namely 0.002, which states that there is a significant difference between the level of knowledge before and after being given counseling and education related to DAGUSIBU and BUD at Posyandu Pisang, Karangroto Village, Semarang City. Keywords: posyandu; elderly; public health; DAGUSIBU; BUDs
Inappropriate Use of Parenteral Analgesics for Mild Pain and Uncomplicated Fever in the Emergency Department: Findings from an Internal Audit Dewi, Rissa Maharani; Rosyid, Abdur; Timur, Willi Wahyu; Nastiti, Nindita Sari; Ningrum, Dwi Monika; Widiyanto, Dimas
Sciences of Pharmacy Volume 5 Issue 1
Publisher : ETFLIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0501519

Abstract

Inappropriate prescribing of parenteral analgesics in patients with mild pain or uncomplicated fever remains a relevant concern in emergency care. This study reports findings from a retrospective internal audit conducted in the emergency department of a private hospital in Banjarbaru, Indonesia, to evaluate the appropriateness of non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) use. Medical records of 384 emergency department visits were reviewed, including data on pain intensity using the Numeric Rating Scale (NRS), clinical indications, route of administration, and immediate adverse reactions. Inappropriate use was defined as administration of parenteral NSAIDs in patients with mild pain (NRS 1–3) or uncomplicated fever when oral therapy was feasible, based on Royal College of Emergency Medicine (RCEM) guidelines. The audit identified inappropriate parenteral NSAID use in 7 patients (3.6%). These cases were associated with mild, immediate adverse effects such as nausea and dizziness. Although the proportion was small, the findings indicate potentially avoidable use of injectable analgesics and highlight the need for improved adherence to guideline-based analgesic selection. Reinforcement of routine pain assessment, clinician re-education, and periodic prescribing audits are recommended to support rational and patient-centered analgesic use in emergency settings.
TINGKAT PENGETAHUAN POSYANDU LANSIA TERHADAP DAGUSIBU OBAT DI POSYANDU JAMBU KARANGROTO KOTA SEMARANG Ningrum, Dwi Monika
Taroa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/taroa.v5i1.6480

Abstract

Pengelolaan obat yang tepat menjadi aspek penting bagi kelompok lansia yang rentan mengalami kesalahan terkait perolehan, penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan obat akibat kondisi polifarmasi serta penurunan fungsi kognitif. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan di Posyandu Jambu, Kelurahan Karangroto, Kota Semarang, dengan melibatkan 18 peserta yang terdiri atas ibu-ibu posyandu dan lansia, bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan mereka mengenai konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang). Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi edukatif dan penggunaan leaflet sebagai media pendukung, serta pengukuran pengetahuan melalui kuesioner pretest dan posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 8,83 menjadi 9,94, meskipun uji statistik paired t-test menunjukkan nilai p = 0,111 (p > 0,05), sehingga peningkatan tersebut tidak signifikan secara statistik. Secara kualitatif, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman pada aspek penggunaan obat sesuai etiket dan pemilihan tempat memperoleh obat yang aman, namun masih ditemukan kelemahan pada aspek penyimpanan dan pembuangan obat. Temuan ini mengindikasikan bahwa satu sesi penyuluhan belum optimal bagi kelompok lansia, sehingga intervensi edukatif yang terstruktur, berulang, dan didukung media multisensori diperlukan untuk memaksimalkan pemahaman dan perubahan perilaku dalam pengelolaan obat.
Socialization of filling in SINTA data: Improving lecturers' research and publication track records H. Hardani; Reny Amalia Permata; S. Syaidatussalihah; Alpiana Hidayatulloh; Dwi Monika Ningrum; Alpi Zaidah
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 6 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v6i1.39661

Abstract

The SINTA (Science and Technology Index) National Indexation System is a platform developed by the Indonesian Ministry of Education, Culture, Research, and Technology to support the management of research data, publications, and community service by lecturers and researchers. However, the lack of understanding regarding how to fill in SINTA data is often an obstacle in improving research and publication track records. This community service activity aims to provide socialization and training to lecturers regarding SINTA data filling following applicable guidelines. The methods used include presentation sessions, simulations, and direct assistance as well as giving pre-test and post-tests to participants. The results of the activity showed that participants experienced an increase in understanding and skills in filling SINTA data by 86%, which had implications for increasing the visibility and academic track record of lecturers. This activity is expected to contribute to improving the quality of research and scientific publications in Indonesia
Systematic Review: Mechanism of Ginger (Zingiber offinale) as Anti-inflammatory Dwi Monika Ningrum; Denih Agus Setia Permana; Atri Sri Ulandari
Journal of Pharmaceutical and Natural Resources Vol. 1 No. 1 (2025): Journal of Pharmaceutical and Natural Resources
Publisher : Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpnar.v1i1.pp20-23

Abstract

The appearance of inflammation is a hallmark of a large number of human diseases, ranging from infection to neurodegeneration. In the treatment of inflammation, a group of drugs that are widely given are non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Long-term use of NSAIDs can result in various side effects, namely gastrointestinal disorders, damage to the kidneys, and cardiovascular disorders. Given the side effects that can be caused by the use of NSAIDs, other alternatives are needed to overcome and reduce inflammation. One of the plants that can be used to treat inflammation is ginger. This journal review was conducted by reviewing electronic journals related to the use of ginger as an anti-inflammatory mechanism with the study report method. The inclusion criteria used include ginger as an anti-inflammatory, journals from 2008-2012, journals are scientific journals, in vitro and in vivo, free full text, while the exclusion criteria are the benefits of ginger not as an anti-inflammatory. Ginger as an anti-inflammatory has several mechanisms including inhibiting macrophage activation, increasing endogenous antioxidant activity, inhibiting the production of PGE2, tumor necrosis factor α (TNFα), and cyclooxygenase. Inhibition of cyclooxygenase is selective only for COX-2 activity. COX-1 inhibition is associated with gastrointestinal irritation, selective inhibition of COX-2 will help minimize side effects.
TINGKAT PENGETAHUAN POSYANDU LANSIA TERHADAP DAGUSIBU OBAT DI POSYANDU JAMBU KARANGROTO KOTA SEMARANG Dwi Monika Ningrum
Taroa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/taroa.v5i1.6480

Abstract

Pengelolaan obat yang tepat menjadi aspek penting bagi kelompok lansia yang rentan mengalami kesalahan terkait perolehan, penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan obat akibat kondisi polifarmasi serta penurunan fungsi kognitif. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan di Posyandu Jambu, Kelurahan Karangroto, Kota Semarang, dengan melibatkan 18 peserta yang terdiri atas ibu-ibu posyandu dan lansia, bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan mereka mengenai konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang). Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi edukatif dan penggunaan leaflet sebagai media pendukung, serta pengukuran pengetahuan melalui kuesioner pretest dan posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 8,83 menjadi 9,94, meskipun uji statistik paired t-test menunjukkan nilai p = 0,111 (p > 0,05), sehingga peningkatan tersebut tidak signifikan secara statistik. Secara kualitatif, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman pada aspek penggunaan obat sesuai etiket dan pemilihan tempat memperoleh obat yang aman, namun masih ditemukan kelemahan pada aspek penyimpanan dan pembuangan obat. Temuan ini mengindikasikan bahwa satu sesi penyuluhan belum optimal bagi kelompok lansia, sehingga intervensi edukatif yang terstruktur, berulang, dan didukung media multisensori diperlukan untuk memaksimalkan pemahaman dan perubahan perilaku dalam pengelolaan obat.
Edukasi pencegahan anemia pada remaja putri di MAN 2 Semarang Sulistyianingsih Sulistyianingsih; Indiana Gita Anggraeni; Dwi Monika Ningrum
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38944

Abstract

Abstrak Anemia merupakan persoalan kesehatan yang prevalen di kalangan remaja putri dan berisiko menghambat konsentrasi belajar, kebugaran, serta kesehatan reproduksi di masa depan. Minimnya literasi mengenai anemia menjadi salah satu faktor determinan yang meningkatkan risiko kejadian tersebut pada kelompok usia remaja. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pemahaman siswi di MAN 2 Semarang terkait pencegahan anemia melalui pendekatan promotif. Metode yang diterapkan meliputi pemaparan materi, penayangan video edukasi, diskusi interaktif, serta pendistribusian selebaran (leaflet). Efektivitas program diukur menggunakan instrumen kuesioner sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) kegiatan. Melibatkan 80 partisipan, profil usia didominasi oleh remaja 16 tahun (41,25%), diikuti 15 tahun (35%), 17 tahun (13,75%), dan 18 tahun (10%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada tahap awal, 72,5% responden berkategori baik dan 27,5% berkategori kurang. Namun, pasca-intervensi, seluruh responden (100%) berhasil mencapai kategori pengetahuan baik. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan berbasis sekolah sangat efektif dalam memperkuat literasi remaja mengenai pencegahan anemia. Kata kunci: anemia; edukasi kesehatan; remaja putri; pengetahuan; pencegahan anemia. Abstract      Anemia is a prevalent health problem among adolescent girls and poses a risk of hindering concentration in learning, fitness, and reproductive health in the future. Lack of literacy regarding anemia is a determining factor that increases the risk of this incident in the adolescent age group. This activity aims to optimize the understanding of female students at MAN 2 Semarang regarding anemia prevention through a promotive approach. The methods applied include material presentation, educational video screenings, interactive discussions, and leaflet distribution. The program's effectiveness was measured using a questionnaire instrument before (pre-test) and after (post-test) the activity. Involving 80 participants, the age profile was dominated by 16-year-olds (41.25%), followed by 15-year-olds (35%), 17-year-olds (13.75%), and 18-year-olds (10%). The evaluation results showed that in the initial stage, 72.5% of respondents were categorized as good and 27.5% were categorized as poor. However, after the intervention, all respondents (100%) managed to achieve the good knowledge category. These findings confirm that school-based health education is highly effective in strengthening adolescent literacy regarding anemia prevention.. Keywords: anemia; health education; adolescent girls; knowledge; anemia prevention.
Sosialisasi Apoteker Remaja (APORE) siswa MAN 2 Kota Semarang mengenai DAGUSIBU Dwi Monika Ningrum; Sulistyaningsih Sulistyaningsih; Indiana Gita Anggraeni; Rissa Maharani Dewi; Tasya Salsabila Ramadhina; Dhini Rachma Aulia; Naysila Nur Maulida; Mayori Isna Rahmadani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39699

Abstract

Abstrak Penggunaan obat yang tidak rasional masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok remaja yang sering melakukan swamedikasi tanpa pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan obat yang benar. Program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar) merupakan program edukasi yang diinisiasi oleh Ikatan Apoteker Indonesia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan obat dengan tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa MAN 2 Kota Semarang mengenai konsep DAGUSIBU melalui program Apoteker Remaja (APORE). Adapun metode kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test. Peserta kegiatan berjumlah 45 siswa yang tergabung dalam organisasi sekolah yaitu Palang Merah Remaja (PMR) yang terdiri dari kelas XI dan XII. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah dilakukan edukasi mengenai DAGUSIBU mengenai cara memperoleh, menggunakan, menyimpan dan membuang obat dengan benar. Hal ini diperoleh dari peningkatan skor rata-rata dari 8,78 menjadi 9,87 dengan uji Paired t-test menunjukkan nilai p = 0,089 ( p > 0,05), sehingga peningkatan tersebut secara analisis statistik tidak signifikan. Secara kualitatif, peserta menunjukkanpeningkatan pemahaman pada aspek penggunaan obat sesuai etiket dan pemilihan tempat memperoleh obat yang aman, namun masih ditemukan kelemahan pada aspek penyimpanan dan pembuangan obat. Temuan ini mengindikasikan bahwa satu sesi penyuluhan belum optimal bagi kelompok lansia, sehingga intervensi edukatif yang terstruktur, berulang, dan didukung media multisensori diperlukan untuk memaksimalkan pemahaman dan perubahan perilaku dalam pengelolaan obat. Program Apoteker Remaja diharapkan dapat menjadi agen edukasi kesehatan di lingkungan sekolah dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan obat secara rasional. Kata kunci: DAGUSIBU; apoteker remaja; edukasi obat; penggunaan obat rasional. Abstract Irrational drug use is still a public health problem in Indonesia, especially among teenagers who often practice self-medication without sufficient knowledge regarding the correct use of drugs. The DAGUSIBU (Get, Use, Store and Dispose of Medicines Correctly) program is an educational program initiated by the Indonesian Pharmacists Association to increase public awareness of proper medication management. This community service activity aims to increase the knowledge of MAN 2 Semarang City students regarding the DAGUSIBU concept through the Teen Pharmacist program (APORE). The activity method is carried out through socialization, interactive discussions, and evaluation using pre-test and post-test methods. The activity participants were 45 students who were members of the school organization, namely Palang Merah Remaja (PMR), consisting of classes XI and XII. The results of the activity showed that there was an increase in students' knowledge after education regarding DAGUSIBU regarding how to obtain, use, store and dispose of medicines correctly. This was obtained from an increase in the average score from 8.78 to 9.87 with the Paired t-test showing a value of p = 0.089 (p > 0.05), so that the increase was not statistically significant in statistical analysis. Qualitatively, participants showed. increased understanding of the aspect of using medicines according to the label and selecting a safe place to obtain medicines, however, weaknesses were still found in aspects of storing and disposing of medicines. These findings indicate that one counseling session is not optimal for the elderly group, so that educational interventions that are structured, repeated, and supported by multisensory media are needed to maximize understanding and change behavior in drug management. The Teen Pharmacist Program is expected to become an agent of health education in the school and community environment so that it can increase public awareness regarding the rational use of drugs. Keywords: DAGUSIBU; teen pharmacist; drug education; rational drug use .