Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

The Role of Law in the Digital Technology Era through Physical Education and Sports in Preventing Cybercrime in Adolescents in Schools Harfiyana; Ismayani; Dewi Robianti
Journal Physical Health Recreation (JPHR) Vol 6 No 2 (2025): Journal Physical Health Recreation (JPHR)
Publisher : Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jphr.v6i2.5511

Abstract

This study aims to analyze the role of law in the digital technology era through physical education and sports (PJOK) towards preventing cybercrime among adolescents in schools using a qualitative case study. The research method involved participant observation in two public vocational high schools in Medan, in-depth interviews with 12 PJOK teachers and 3 IT legal experts, and focus group discussions with 25 students in grades X-XI (aged 15-17 years). Data were collected over a period of 4 months using semi-structured interview guidelines, PJOK digital literacy class observation sheets, and curriculum documents. The analysis was conducted using thematic analysis using NVivo 12 through open, axial, and selective coding processes. The results show four main themes: (1) integration of cyber law in PJOK subjects through virtual sports simulations (cyber football); (2) development of digital ethics through sports teamwork (responsibility awareness 82%); (3) prevention of cyberbullying through sports leadership training (incident reduction 67%); (4) school regulations based on UU ITE No. 11/2008 adapted in the school's digital sports code of ethics. The findings revealed that the Physical Education and Health Sciences (PJOK) approach effectively reduced cyber-risk behavior by 54% through a sports simulation that taught the consequences of digital law. The study concluded that the role of law through PJOK has the potential to be an innovative cybercrime prevention model, with a 91% student participation rate and a 73% increase in digital literacy.
Perlindungan Wajib Pajak dalam Perspektif Administrasi Publik: Analisis Peran Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI) sebagai Representasi Kepentingan Publik Rinto Setiyawan; Zetria Erma; Ismayani Ismayani; Novi Yanti
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 2 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Februari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i2.5596

Abstract

Taxation constitutes a primary instrument for financing government administration and public development. However, the relationship between the state and taxpayers is not always balanced. Tax authorities possess extensive powers in tax assessment, collection, and enforcement, while taxpayers often occupy a structurally weaker position. This imbalance creates conditions for administrative domination and potential abuse of authority. This article analyzes taxpayer protection from a public administration perspective by examining the role of the Indonesian Taxpayers Association (IWPI) as a form of public interest representation. The study adopts a conceptual review and policy analysis approach, utilizing documentary analysis of tax regulations, public administration literature, and IWPI’s institutional framework. The findings indicate that mechanisms for taxpayer representation are essential to strengthening accountability in tax administration and rebalancing power relations between the state and citizens. From a legal standpoint, IWPI faces no formal barriers, as it is established as a legally recognized association. However, its effectiveness is constrained by structural obstacles, particularly limited access to tax policymaking processes and information. These constraints are closely linked to the authoritarian character of Indonesia’s tax administration, where normative and technical authority is highly centralized under the Minister of Finance. This centralization is reflected in the extensive delegation of regulatory authority through ministerial regulations, as well as in the institutional positioning of the Directorate General of Taxes and the Tax Court, which remains administratively under the Ministry of Finance until 31 December 2026. The article argues that taxpayer protection is an integral component of democratic governance and underscores the need for institutional reform to reduce power asymmetries within tax administration.
Validity and Legal Consequences of Oral Agreements in Business Disputes: Reconstruction of Proof Based on Substantive Justice (A Case Study on a Construction Contract Decision) Ismayani
Jurnal Smart Hukum (JSH) Vol. 5 No. 2 (2027): October-January
Publisher : Inovasi Pratama Internasional. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/jsh.v5i2.2054

Abstract

Oral agreements remain widely used in Indonesian construction business, yet their validity and enforceability often spark dispute due to the challenges of proof. This study examines the legal validity and consequences of oral charter-party contracts (pemborongan) through the lens of substantive justice, taking the Supreme Court Decision No. 2345 K/Pdt/2021 as a case study. Employing a normative juridical method with a qualitative case approach, the research analyzes how Indonesian civil law, particularly Articles 1320, 1338, and 1601b of the Civil Code, permits oral contracts in construction works, while procedural law under HIR and the ITE Law imposes a high evidentiary burden. The findings reveal that formalistic approaches by lower courts often nullify oral agreements merely due to lack of documentary proof. In contrast, the Supreme Court reconstructed the parties’ consensus by integrating partial payment evidence, electronic communications, and witness testimonies, grounding its reasoning on substantive justice (keadilan substantif). The decision produced legal consequences including the obligation to pay outstanding contract price, compensation, and legal costs. The study proposes an evidentiary reconstruction model that shifts the paradigm from written-document supremacy to a multi-faceted, contextual proof assessment. This model reinforces the principle of good faith and offers a doctrinal framework for judges to resolve similar business disputes without sacrificing legal certainty. The conclusion underlines the urgency of harmonizing formal procedural rules with the substantive truth-seeking function of the judiciary.
MENDORONG GENERASI MUDA SEHAT : EDUKASI GAYA HIDUP AKTIF DAN POLA HIDUP SEHAT BERKELANJUTAN Fatin Nadifa Tarigan; Alwi Fahruzy Nasution; Ismayani; Cut Sah Kha Mei Zsazsa; Yochi Elanda; Ainur Rizki
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2026): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v8i1.19176

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya gaya hidup aktif dan pola hidup sehat berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Simpang Empat, Kecamatan Merbau, dengan melibatkan 30 peserta berusia 15–22 tahun. Metode yang digunakan meliputi seminar edukatif, penyuluhan interaktif, dan demonstrasi aktivitas fisik sederhana. Materi mencakup pentingnya aktivitas fisik, pola makan seimbang, manajemen stres, serta pentingnya tidur yang cukup. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat gaya hidup sehat dan munculnya komitmen untuk menerapkan aktivitas fisik rutin dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar 85% peserta yang sebelumnya tidak rutin berolahraga mulai berencana untuk beraktivitas fisik minimal 30 menit per hari, sementara 50% peserta menyatakan akan mengurangi konsumsi makanan cepat saji. Kegiatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran awal dan motivasi perubahan perilaku, meskipun keberlanjutan masih memerlukan dukungan lingkungan dan program tindak lanjut.
TINJAUAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP WANPRESTASI PELAKU USAHA YANG BERGERAK DIBIDANG JASA Ismayani Ismayani; Winta Hayati
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 7 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v7i2.1854

Abstract

Kerugian-kerugian yang dialami oleh konsumen tersebut dapat timbul sebagai akibat dari adanya hubungan hukum perjanjian antara produsen dengan konsumen, maupun akibat dari adanya perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh produsen. Perjanjian-perjanjian yang dilakukan antara para pihak tidak selamanya dapat berjalan mulus dalam arti masing-masing pihak puas, karena terkadang para pihak penerima tidak menerima barang atau jasa sesuai dengan harapannya. Apabila pembeli, dalam hal ini konsumen tidak menerima barang atau jasa sesuai dengan yang diperjanjikan, maka produsen dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi, sehingga konsumen mengalami kerugian. Dalam perjanjian-perjanjian yang bertimbal-balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal yang demikian perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam perjanjian. Dalam penerapan ketentuan yang berada dalam lingkungan hukum privat tersebut, terdapat perbedaan esensial antara tuntutan ganti kerugian yang didasarkan pada wanprestasi dengan tuntutan ganti kerugian yang didasarkan pada perbuatan melanggar hukum. Apabila tuntutan ganti kerugian didasarkan pada wanprestasi, maka terlebih dahulu tergugat dengan penggugat (produsen dengan konsumen) terikat suatu perjanjian. Salah satu usaha untuk melindungi dan meningkatkan kedudukan konsumen adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum tentang tanggung jawab produsen. Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak diharapkan pula para produsen menyadari betapa pentingnya menjaga kualitas produk yang dihasilkan, para produsen akan lebih berhati-hati dalam memproduksi barang.
TANGUNGJAWAB PEMBERIAN KREDIT PERBANKKAN DALAM SUATU PERJANJIAN Yulkarnaini Siregar; Ismayani Ismayani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 7 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v7i2.1876

Abstract

Perjanjian yang ketentuan dan syarat-syarat telah dipersiapkan dan ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh pemakainya dan mengikat pihak lain. Pihak lain tersebut tidak dapat mengubah atau melakukan tawar menawar untuk mengubahnya. Atau dengan kata lain, yang dibakukan disini adalah klausul-klausulnya yang merupakan ketentuan dan syarat-syarat perjanjian. Perjanjian baku ini yang dibuat oleh pihak bank sudah menyalahi asas yang terdapat dalam Pasal 1320 KUHPerdata tentang ‘sahnya suatu perjanjian’ dimana salah satu syaratnya menentukan bahwa harus ada kesepakatan antara dua belah pihak. Dengan telah dibuatnya ketentuan mengenai persyaratan-persyaratan perjanjian, yang dibuat secara sepihak oleh pihak bank. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kepustakaan (library Research), yaitu suatu metode penelitian yang digunakan dengan jalan mempelajari buku-buku literature, peraturan perundang-Undangan, bahan-bahan tertulis lainnya, majalah-majalah hukum, surat kabar, artiketl-artikel dan tulisan-tulisan dalam internet juga bahan-bahan kuliah yang digunakan dalam pembahasan ini guna mendukung materi pokok dalam penulisan ini. Setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati antara pemberi kredit dan penerima kredit wajib dituangkan dalam bentuk perjanjian yaitu perjanjian kredit. Pasal 1313 KUHPER menyebutkan bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Dari perjanjian itu timbul suatu hubungan hukum antara dua pihak yang membuatnya. Tanggung jawab dalam perjanjian kredit hanya sebatas hutang yang ditanggungnya, dalam hal ini kedudukan penanggung sama dengan debitur. Oleh sebab itu, penanggung bisa ditagih untuk membayar hutang . Untuk penyelesaian kredit macet tergantung pada budaya masyarakat dalam beperkara, seperti saat ini upaya-upaya yang sangat efektif untuk menyelesaikan kredit macet adalah agar para pihak mencoba dengan cara sungguh-sungguh untuk untuk menyelesaikan perkara tersebut.  Dalam penelitian lapangan lazimnya yang dilakukan dalam penyelesaian kredit macet adalah negosiasi yang dilakukan oleh para pihak
KEKUATAN HUKUM ELEKTRONIK DALAM PERIKATAN JUAL BELI MELALUI E-COMMERCE YANG DITERAPKAN DI INDONESIA Ismayani Ismayani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5877

Abstract

Abstract:The existence of the internet cannot be denied that it has brought various influences to every aspect of human life, including in terms of the agreement itself, which was initially in conventional form (written and verbal), now a new form of agreement has emerged, namely an electronic agreement or contract. Some of the websites use a standard contract model, some social media accounts use mutual agreements via short messages, but sometimes the seller becomes the party that dominates the creation of the contract. The formulation of the problem of this research is How is the regulation of electronic legal force in sales and purchase agreements through e-commerce that can be applied in Indonesia? How is the urgency of electronic legal protection in sales and purchase agreements through e-commerce? The type of research used in this journal is normative legal research. The type of data used is secondary data consisting of two legal materials, namely primary legal materials in the form of laws and regulations related to the subject matter and secondary legal materials in the form of literature, journals, papers, articles and dictionaries related to this journal. Regulations on the legal force of electronic contracts in e-commerce sales contracts that can be implemented in Indonesia. Legal policies in the field of e-commerce law have essentially been regulated and recognized in Indonesia, but these regulations are still partial or partially applicable to e-commerce activities in Indonesia. The urgency of electronic legal protection in e-commerce sales contracts. In the creation of electronic contracts, businesses often include standard clauses. Since the rise of social media and businesses using social media for electronic transactions, the consumer's position has become increasingly vulnerable. Standard clauses created by businesses often marginalize these consumers. The law on e-commerce must regulate the obligation for businesses to clearly identify themselves and to include detailed product specifications on their websites. Keywords: ; Contracts; Sale and Purchase; E-Commerce. Abstrak: Keberadaan internet tidak dapat dipungkiri lagi membawa berbagai pengaruh pada setiap aspek kehidupan manusia tak terkecuali dalam hal perjanjian itu sendiri yang awalnya berbentuk konvensional (tertulis dan lisan) kini telah muncul suatu bentuk perjanjian baru, yaitu perjanjian atau kontrak elektronik. Beberapa dari website-website menggunakan model kontrak baku, beberapa akun media sosial mnenggunakan kesepakatan bersama melalui pesan singkat, namun terkadang penjual menjadi pihak yang mendominasi pembuatan kontrak tersebut. Perumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana pengaturan kekuatan hukum elektronik dalam perikatan jual beli melalui e-commerce yang dapat diterapkan di Indonesia? Bagaimana urgensi perlindungan hukum elektronik dalam perikatan jual beli melalui e-commerce? Jenis penelitian yang digunakan dalam jurnal ini adalah penelitian hukum normatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari dua bahan hukum yaitu bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pokok permasalahan dan bahan hukum sekunder berupa literatur-literatur, jurnal-jurnal, makalah-makalah, artikel-artikel serta kamus-kamus yang berkaitan dengan jurnal ini. Pengaturan kekuatan hukum elektronik dalam perikatan jual beli melalui e-commerce yang dapat diterapkan di Indonesia kebijakan hukum di bidang hukum e- commerce pada dasarnya telah diatur dan diakui di Indonesia, namun pengaturan tersebut masih secara parsial atau sebagian dari kegiatan e-commerce di Indonesia. Urgensi perlindungan hukum elektronik dalam perikatan jual beli melalui E-Commerce dalam pembuatan kontrak elektronik, pelaku usaha seringkali mencantumkan klausula baku di dalamnya. Semenjak media sosial mewabah dan pelaku usahapun menggunakan media sosial untuk melakukan transaksi elektronik, posisi konsumen menjadi semakin lemah. Klausula baku yang dibuat oleh pelaku usaha seringkali memojokkan posisi dari konsumen tersebut. Undang-undang tentang e-commerce harus mengatur tentang kewajiban bagi pelaku usaha untuk memberikan identitasnya dengan jelas, saat mencantumkan spesifikasi produk pada halaman website harus jelas secara detil. Kata Kunci : Perikatan; Jual-Beli; E-Commerce.
UPAYA HUKUM KONSUMEN JAMAAH UMRAH DALAM SENGKETA WANPRESTASI TRAVEL PENYELENGGARA PERJALANAN IBADAH UMROH(PPIU) Fahrul Rizal; Syaipul Puad Tarigan; Ismayani Ismayani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6754

Abstract

Abstract: Reality shows the existence of default practices, namely the failure of Umrah travel organizers to fulfill their obligations to the congregation according to the agreed contract. Cases such as the failure of the congregation's departure, fraud and embezzlement of funds by Umrah travel, especially those that have become public spotlight that have harmed tens of thousands of prospective pilgrims materially and immaterially, show the low level of legal certainty regarding the rights of victims. The formulation of the problem of this research is How are the regulations for consumers of Umrah pilgrims in default disputes between Umrah pilgrimage travel organizers (PPIU)? What form is taken for consumers of Umrah pilgrims in default disputes between Umrah pilgrimage travel organizers (PPIU)? In collecting data to be compiled in the research, the author uses a data collection method through library research. In this library study the author obtains the necessary materials by studying books, writings and legal products related to the main problem. Regulations for Umrah pilgrim consumers regarding disputes over breaches of contract with Umrah pilgrimage travel agents (PPIU) should be submitted to the Ministry of Religious Affairs, the institution authorized to supervise, prosecute, and revoke the permits of Umrah pilgrimage travel agencies. Based on Minister of Religious Affairs Regulation Number 8 of 2018 concerning the Organization of Umrah Pilgrimage Travel, specifically Article 41, it is stated that agencies that violate their obligations, such as neglecting pilgrims or failing to depart, may be subject to administrative sanctions in the form of revocation of their operational permits. Forms of legal protection for Umrah pilgrim consumers regarding disputes over breaches of contract with Umrah pilgrim travel agents (PPIU). Preventive legal protection is an effort to prevent violations or losses for prospective pilgrims, while repressive legal protection is a form of response to rights violations and aims to provide compensation or restitution to the injured party. Both play a crucial role in creating a safe and accountable Umrah pilgrimage ecosystem. Unfortunately, in practice, preventive legal protection remains formalistic. Keywords: Consumers; Pilgrims; Default.   Abstrak: Realitas menunjukkan adanya praktik wanprestasi, yaitu kegagalan penyelenggara travel umroh dalam memenuhi kewajibannya kepada jamaah sesuai kontrak yang telah disepakati. Kasus-kasus seperti kegagalan pemberangkatan jamaah, penipuan dan penggelapan dana oleh travel umroh, khususnya yang menjadi sorotan publik yang merugikan puluhan ribu calon jamaah secara material dan immaterial, menunjukkan rendahnya tingkat kepastian hukum terhadap hak korban. Perumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana pengaturan terhadap konsumen jamaah umrah sengketa wanprestasi travel penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU)? Bagaimana bentuk terhadap konsumen jamaah umrah sengketa wanprestasi travel penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU)?? Dalam mengumpulkan data-data yang akan disusun dalam penelitian, penulis mempergunakan metode pengumpulan data secara studi kepustakaan atau library resecrh. Dalam studi kepustakaan ini penulis mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan dengan jalan mempelajari buku-buku, tulisan-tulisan dan produkproduk undang-undang yang ada kaitannya dengan pokok permasalahan. Pengaturan terhadap konsumen jamaah umrah sengketa wanprestasi travel penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU) pengaduan kepada Kementerian Agama, sebagai institusi yang memiliki kewenangan untuk mengawasi, menindak, dan mencabut izin biro perjalanan ibadah umrah. Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah, khususnya Pasal 41 disebutkan bahwa biro yang melanggar kewajiban seperti menelantarkan jemaah atau gagal memberangkatkan, dapat dikenai sanksi administratif berupa pencabutan izin operasional. Bentuk terhadap konsumen jamaah umrah sengketa wanprestasi travel penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU) Perlindungan hukum preventif merupakan upaya untuk mencegah timbulnya pelanggaran atau kerugian bagi calon jemaah, sedangkan perlindungan hukum represif merupakan bentuk reaksi terhadap terjadinya pelanggaran hak dan bertujuan untuk memberikan ganti rugi atau pemulihan kepada pihak yang dirugikan. Keduanya memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem penyelenggaraan ibadah umrah yang aman dan akuntabel. Sayangnya, dalam praktik perlindungan hukum preventif masih bersifat formalistik. Kata Kunci: Konsumen; Jamaah; Wanprestasi.
Execution Guarantee Fiduciary Consequence Debtor Default on Agreement Credit Ismayani Ismayani; Muhlizar Muhlizar
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 1 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i1.3671

Abstract

The result of the reformulation of the ideal of legal certainty is that there is a conflict regarding the meaning of legal certainty between debtors and creditors. Based on the definition of legal certainty according to Utrecht, debtors and creditors in practice cannot yet understand the limits of permissible and prohibited acts and there is still legal insecurity which causes arbitrariness. Many debtors are still embezzling fiduciary collateral objects, while many creditors are also carrying out forced withdrawals of fiduciary collateral objects. This analysis method uses a qualitative approach, namely to analyze the data used for normative aspects with a descriptive analysis method, namely describing the data in as much detail as possible regarding individuals and other symptoms. The aim of this method is to obtain and provide an overview of the data that has been obtained and relate them to each other with the aim of obtaining the truth. The fiduciary guarantee deed at least contains information regarding the identity of the parties entering into the fiduciary guarantee agreement, including the day, date and time. making a deed, data on the main agreement that is guaranteed by fiduciary, a description of the building which includes identification of the building and an explanation of the proof of ownership, the value of the guarantee and the value of the object that is the object of the fiduciary guarantee (Article 6 of Law No. 42 of 1999 concerning Fiduciary Guarantees). Moving on from this phenomenon, the author is interested in discussing this problem with the topic of the problem: What legal violations occurred in the practice of executing fiduciary guarantee objects after the enactment of Law Number 42 of 1999 concerning Fiduciary Guarantees. If the object of the collateral is a movable object, it can be bound by a fiduciary agreement. The success or failure of this form of fiduciary guarantee depends solely on the bona fides and good faith of the debtor.
ANALISIS HUKUM PERLINDUNGAN SAKSI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI PADA TINGKAT PENYIDIKAN Ismayani Ismayani; Syaipul Puad Tarigan
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 5 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i5.2024.2169-2187

Abstract

Saksi memiliki posisi yang sangat penting dan strategis, namun hal ini juga membuatnya rentan terhadap situasi sulit dan berisiko tinggi. Khususnya sebagai saksi dalam kasus korupsi, yang termasuk dalam kategori kejahatan serius, posisi saksi menjadi sangat rawan terhadap ancaman dan intimidasi, baik selama proses penyelidikan hingga persidangan. Tindak pidana korupsi sering melibatkan individu dengan kekuasaan dan posisi penting di pemerintahan, yang dapat menyalahgunakan kekuasaannya untuk menekan atau membahayakan saksi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan hukum konseptual dan perundang-undangan. Sumber hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer, sekunder, serta bahan non-hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perlindungan terhadap saksi pelapor dalam kasus korupsi dilakukan dengan menyamarkan atau merahasiakan identitas saksi pelapor untuk memberikan rasa aman bagi saksi, keluarganya, serta asetnya. Namun, perlindungan ini belum optimal. Hambatan dalam pelaksanaan perlindungan hukum terhadap saksi pelapor meliputi kurangnya fasilitas dan infrastruktur yang memadai, kelemahan dalam regulasi Undang-Undang LPSK, minimnya sosialisasi tentang perlindungan hukum bagi saksi dan korban, serta inkonsistensi dalam penerapan sistem perlindungan yang diatur oleh Undang-Undang LPSK