Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Pemaknaan Audiens terhadap Film Dokumenter "Dhira Narayana of Lingkar Ganja Nusantara" Trinata Anggarwati, Bunga; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.35 KB)

Abstract

Film dokumenter sangat menarik untuk diteliti karena konten film bersinggungan dengan isu sosial masyarakat sekaligus sering mengangkat tema-tema kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens terhadap film dokumenter “Dhira Narayana of Lingkar Ganja Nusantara”. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, dimana peneliti harus mengetahui struktur makna film dokumenter yang dikaji menggunakan konsep teori Barthes yaitu tanda denotasi, tanda konotasi, dan mitos. Lalu penelitian berlanjut pada penjelasan proses penerimaan yang terjadi ketika khalayak melakukan pembacaan teks media, yaitu menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dari hasil penelitian ini, tiga dari lima informan sependapat dengan makna dominant reading karena informan setuju dengan pelegalan ganja yang diusung oleh organisasi LGN, kedua informan yang lain menganggap bahwa konten dalam film tersebut tidak semuanya dapat diterima (negotiated reading). Dari proses wawancara yang dilakukan oleh informan terjadi pola pikir yang berbeda dari proses penerimaan makna film dokumenter tersebut. Film dokumenter ini secara keseluruhan dapat diterima oleh informan sekalipun terdapat berbagai hal yang tidak disetujui oleh informan terbukti dengan tidak adanya informan yang menolak keseluruhan konten dalam film (oppositional reading). Ketiga informan sepakat dengan wacana kontroversial mengenai ganja, mereka menilai bahwa ganja bisa digunakan untuk kepentingan medis maupun industri. Sedangkan dua informan lainnya melihat tanaman ganja memiliki dua sisi yang perlu dikaji ulang baik manfaat maupun kerugiannya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa film dokumenter ini bisa memicu perdebatan dengan berbagai pandangan yang disampaikan oleh audiens (masyarakat) yang menontonnya. Pada kenyataanya, audiens yang mengonsumi isi media memiliki hak penuh untuk menafsirkan konten dan bernegosiasi dengan ideologi yang terdapat di dalamnya.
Memahami Adaptasi Budaya pada Pelajar Indonesia yang Sedang Belajar di Luar Negeri Mumpuni, Restu Ayu; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.526 KB)

Abstract

Banyaknya masalah yang disebabkan oleh kegagalan adaptasi budaya serta kurangnyapersiapan terkait bahasa dan budaya setempat sebelum seseorang berangkat ke luar negerimenjadi latar belakang penelitian ini. Pelajar Indonesia adalah salah satu contoh yang akanmenjadi fokus bagaimana pengalaman adaptasi mereka untuk berinteraksi dengan orangorangdi lingkungan yang baru. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan prosesadaptasi budaya yang dilakukan pelajar Indonesia di hostcountry.Penelitian ini menggunakan metoda deskriptif kualitatif, genre interpretif, sertapendekatan fenomenologi. Anxiety/Uncertainty Management Theory dan CommunicationAccommodation Theory digunakan dalam penelitian ini untuk membantu menjelaskansebagai basis awal. Subjek penelitian adalah tiga orang pelajar Indonesia yang sedang belajardi luar negeri. Pengumpulan data diperoleh melalui hasil wawancara dan studi pustaka.Hasil penelitian menunjukan bahwa saat Pelajar Indonesia datang ke luar negerimereka mengalami culture shock karena perubahan kultural dan kehilangan petunjukpetunjukyang telah mereka ketahui sebelumnya. Besarnya cultural shock tergantung padatingkat perbedaan kultural negara, bahasa, serta kesiapan pelajar. Persiapan sebelumkeberangkatan baik itu bahasa dan pengetahuan tentang budaya negara tujuan akanmembantu memahami surface culture serta menjadi bekal untuk mengatasi culture shock.Selain itu dukungan sosial adalah hal yang penting dalam proses adaptasi. Teman-teman dinegara tujuan akan berperan untuk membantu mengenalkan kebiasaan di lingkungan baru,teman-teman universitas untuk membantu menjalani proses belajar di universitas, serta temanuntuk mengikuti aktivitas sosial dan hiburan. Pelajar Indonesia melakukan beberapa strategiadaptasi seperti mencari sesuatu yang baik atas apa yang terjadi (positive reinterpretation),mengerjakan aktivitas lain untuk melepas beban pikiran (mental disangagement), merelakansesuatu yang diinginkan (behavioral disangagement), serta mencari teman atau dukungansosial (social support). Pelajar Indonesia juga melakukan strategi konvergensi denganmenyesuaikan perilaku komunikasi dengan host country.
Correlation between TV's ads, demographic factors and Children Materialism Utama, Wahyu Satria; Ulfa, Nurist Surayya; Herieningsih, Sri Widowati; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.9 KB)

Abstract

This study concerns about children’s materialism. TV’s advertising is acknowledged to be an extensive carrier of materialism. Previous research said demographic factors like gender, age and SES are influencing children’s materialism. Based on survey to 96 children age 12-14 years old in Semarang, Indonesia, the findings indicate TV’s advertising and demographic factors influences materialism on children. This study showed exposure of TV’s advertising and demographic factors are significant to children’s materialism.
PERAN SESEPUH ADAT DAN MEDIA KOMUNITAS MASYARAKAT KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM MENJAGA IDENTITAS KEBUDAYAAN ASLI Dalil, Firas; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.221 KB)

Abstract

This study aims to explain how Kasepuhan Ciptagelar in Sukabumi, through customary elders and community media maintains the existence of customs that become their identity while spreading it to the outside community. Kasepuhan Ciptagelar is classified as a Co-culture group (Mark Orbe) among the dominant cultures. The Identity Negotiation Theory (Stella Ting-toomey) is used to explain how the community in the adat system interacts with the dominant cultural community and the Theory of Cultural Studies (Stuart Hall) is used to examine the use of community media to disseminate customary values to the wider community. This type of research is qualitative descriptive with a phenomenological approach. The informants of this study were indigenous elders and Kasepuhan Ciptagelar community media workers. The results of the study show that the values and systems of customary norms are identities which reflected by indigenous peoples wherever they are. Customary elders and the community applied the concept of MIA (mindfull identity attunement) through welcoming, mentoring and rewarding each migrant without limiting the curiosity of the immigrant community. Mindfullnes in interacting and communication competence of indigenous people increases along with the number of visitors who come. Regardless of how stereotypes are given from dominant cultural communities, indigenous people have pride in their cultural identity. Submission of cultural identity also occurs through community media managed by Kasepuhan Ciptagelar. Through community media, Kasepuhan Ciptagelar creates rival hegemony in order to minimize the influence of agreed dominant culture potentially damaging customary values
PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRI PUSPITANINGRUM, NOVI ADI; Rahardjo, Turnomo; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.719 KB)

Abstract

PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRIABSTRAKJudul : Produksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook sebagai media penyajian diriNama : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Media jejaring Facebook saat ini telah menjadi media yang popular dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Facebook telah menjadi media penyajian diri bagi para pengguna akunnya melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan pada kepada orang lain sesama pengguna Facebook. Para user seakan-akan berlomba-lomba untuk memproduksi pesan yang menarik agar status tersebut dilihat dan mendapat komentar dari individu (user) lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan situs jejaring sosial facebook sebagai media dalam proses produksi pesan untuk penyajian diri serta untuk memahami alasan dan motif yang melatarbelakakangi individu dalam memproduksi pesan yang disampaikan dalam update status pada situs jejaring sosial Facebook. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi dan pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi.Peneliti menggunakan Teori Perencanaan Charles Berger, dan didukung oleh Pendekatan Dramatugis oleh Erving Goffman. Responden pada penelitian ini adalah pria dan wanita berjumlah 5 orang yang berumur antara 18-25 tahun. Peneliti menggunakan narasumber dengan kriteria: aktif menggunakan media jejaring sosial Facebook dalam kehidupannya sehari-hari, dimana Facebook digunakan sebagai sarana untuk memproduksi pesan dalam rangka penyajian diriBerdasarkan hasil yang didapat dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa saat ini Facebook memang telah menjadi media ajang penyajian diri bagi para penggunannya. Pesan yang disampaikan oleh para pengguna Facebook pada umumnya berisi mengenai perasaan yang sedang mereka rasakan atau sedang mereka alami. Sebelum memproduksi pesan, para pengguna Facebook melalui tahapan seperti proses berpikir dan pemilihan diksi atau kata-kata. Hal ini bertujuan agar pesan yang mereka tidak menyinggung orang lain atau membuat citra mereka didepan para teman Facebooknya menjadi negatif.Kata Kunci : Facebook, Produksi Pesan, Perilaku Menyajikan DiRIABSTRACTTitle : Production Message Through Social Networking Sites Facebook as a Self Actualization MediaName : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Facebook is social networking media that nowadays has become popular media to communicate various things about personal and social life to others. Facebook is self actualization media for its users through message sharing to another Facebook users. They seems to compete with another to produce a compelling message in order to receive comments from other users.This study aims to examine how Facebook users accomodate it as message production process for self actualization and gain deeply understanding in some reasons behind message production through status updates on Facebook website. This research is qualitative research using phenomenology methods that developed all approach based on phenomenology philosophy.Researcher used Charles Berger theory that is supported by Dramaturgy approach by Erving Goffman. Respondents in this reasearch are men and women consist of 5 people ages between 18-25 years old. The criteria are Facebook users that actively online on Facebook in their daily life where Facebook is used as means of message production for self actualization.Based on the result of this research, it may conclude that nowadays Facebook is indeed used as self actualization media for its users. The message generally contains their true feeling or they currently get through. Before producing a message, Facebook users get through some processes such as reflective process and diction selection process. Thus in regards to convey a message that won’t offend others or represent negative image towards their Facebook friends.Keywords: Facebook, Message Production, Self Actualization behaviorBAB IProduksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook Sebagai Media Penyajian Diri1.1. LATAR BELAKANGFenomena penggunaan situs jejaring sosial Facebook, yang dapat diperoleh secara cuma-cuma telah menjadi media yang populer dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Membicarakan situs jejaring sosial, berarti membicarakan setiap pemilik akun (user) yang saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain, baik itu sebagai pengirim maupun penerima pesan dalam kehidupan sehari-hari. Facebook telah menjadi salah satu media yang memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk berkreasi dan berbagi seperti halnya memproduksi sebuah pesan. memproduksi sebuah pesan.Beberapa bentuk produksi pesan yang sering dilakukan, seperti; menuliskan kata-kata bijak di update status, menyampaikan kritik-kritik sosial, mengkomunikasi-kan kondisi pribadi (perasaan), menunjukkan lokasi saat ini dan aktivitas yang sedang dilakukan dan masih banyak lagi. Update status Facebook yang disampaikan dan dibaca oleh sesama pengguna merupakan sebuah kegiatan produksi pesan. Pengguna Facebook sebagai komunikator, ketika akan memproduksi sebuah pesan, sebenarnya sedang mengkomunikasikan sesuatu kepada pengguna (user) lain. Pesan tersebut pada dasarnya merupakan refleksi dari persepsi atau perilaku individu yang menyampaikannya. (Ritonga. 2005:20)Saat ini, akun Facebook seseorang telah menjadi semacam cerminan diri setiap pemiliknya. Facebook seolah-olah selalu menunjukkan “inilah wajahku”, silahkan lihat diriku yang menjadikan Fesbuker menjadi semakin terbuka. Bahkan lebih dari itu, ini juga memunculkan semakin terbukanya ruang privat. Pengguna Facebook dengan sukarela dan berkesadaran tinggi akan membuka dirinya untuk bersedia dikomentari, dilihat, dan dipelototi orang lain. Update status Facebook yangmerupakan sebuah pesan yang diproduksi dalam rangka penyajian diri, sama saja dengan memperlihatkan perasaan yang dirasakan kepada individu lain. Karena dengan update status sebagai tempat pesan itu ditampilkan, setiap individu dapat leluasa mengungkapkan apa saja. Hal itulah yang membuat Facebook melalui update statusnya menjadi tempat “ajang curhat” maupun media untuk menampilkan diri.1.2. PERUMUSAN MASALAHMemproduksi pesan melalui situs jejaring sosial facebook merupakan hal yang lazim dilihat oleh setiap orang. Banyaknya para user yang menggunakan facebook untuk memproduksi pesan mengenai perasaan mereka, membuat facebook menjadi suatu media yang terbuka bagi khalayak. Ketika proses produksi pesan melalui situs jejaring sosial Facebook, apa yang sedang terjadi dalam diri pengguna sangatlah berperan dalam sebuah pengambilan keputusan mengenai hal apa yang akan ia sampaikan sebelum ia membuat sebuah status Facebooknya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lain di facebook.Begitu banyaknya pengguna facebook yang menggunakan produksi pesan untuk penyajian diri, maka penulis ingin mengetahui: bagaimana individu memproduksi pesan melalui jejaring sosial facebook sebagai media penyajian diri?1.3. KERANGKA TEORI• Teori Perencanaan Charles Berger.Teori Perencanaan Charles Berger dimana di jelaskan bahwa rencana-rencana dari perilaku komunikasi adalah representative kognitif hierarki dari rangkaian tindakan mencapai tujuan. Dengan kata lain, rencana-rencana merupakan gambaran mental dari langkah-langkah yang akan diambil seseorang untuk memenuhi sebuah tujuan. Pada dasarnya Teori ini juga menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusiadalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia ketika dalam proses menghasilkan suatu pesan maka akan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses pembuatan symbol sebelum memproduksi pesan. (Littlejohn,2009: 184-185).Perkembangan peradaban manusia berpengaruh terhadap kompleksitas permasalahan yang dihadapi di dalam perencanaan, Sementara perkembangan teknologi berperan besar di dalam menetukan pola pendekatan perencanaan yang hendak diterapkan. Sejalan dengan perkembangan peradaban dan teknologi tersebut maka berkembang pula perencanaan dan praktek-praktek perencanaan yang terjadi pada kurun jaman tertentu. Seperti halnya dalam memproduksi pesan melalui facebook, dimana apa yang sedang terjadi dalam diri user sangatlah berperan didalam sebuah pengambilan keputusan individu sebelum memproduksi pesan di facebook nya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lainnya di facebook.• Pendekatan Dramaturgi Erving Goffman.Berawal dari pemikiran bahwa manusia adalah aktor dalam panggung kehidupan ini, maka tentu apa yang ditampilkan di panggung akan berdasarkan penataan. Seriring dengan perkembangannya, setiap orang (menjadi pengguna) akan memasuki presentasi diri yang termediasi. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini dilakukan di Facebook. Dapat terlihat dengan adanya Facebook, dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap pengguna untuk berekspresi, khususnya dalam menampilkan perasaan dan diri mereka masing-masing.Dalam bukunya yang berjudul, The Presentation Of Self In Everyday Life, Erving Goffman (1959) menggunakan konsep dari gagasan-gagasan Burke, dimana pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian interaksionisme simbolis yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang dalam situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir. Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu.Goffman mengasumsikan bahwa ketika individu berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima individu lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan kesan” (impression management) yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. (Mulyana, 2010:110-112) Oleh karena itu, ada sebuah proses produksi pesan yang melibatkan kondisi personal maupun sosial individu dalam menyajikan dirinya.KESIMPULAN1. Semakin berkembangnya era jejaring sosial saat ini, Facebook menjadi salah satu situs jejaring sosial yang memiliki banyak pengguna dari seluruh dunia. Bahkan fenomena yang berkembang saat ini adalah banyaknya pengguna Facebook yang menjadikan Facebook sebagai media bagi mereka untuk menyajikan diri mereka melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui situs jejaring sosial tersebut kepada khalayak luas.2. Pengguna Facebook memproduksi pesan kepada khalayak luas melalui fitur update status. Melalui update status, para pengguna Facebook memproduksi pesan yang menyuarakan apa yang sedang mereka rasakan atau alami dengan bertujuan untuk memberitahukan hal tersebut kepadaorang lain. Faktor emosional dan perasaan pun turut mempengaruhi pesan-pesan yang mereka produksi melalui update status tersebut.3. Sebelum memproduksi sebuah pesan, para pengguna Facebook melalui sebuah tahapan-tahapan sebelum akhirnya pesan tersebut tersampaikan kepada khalayak luas. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh para pengguna Facebook tersebut adalah proses berfikir, pemilihan diksi atau kata-kata serta upaya untuk mengantisipasi dampak yang mungkin akan ditimbulkan dari pesan-pesan yang mereka sampaikan tersebut terhadap khalayak luas yang menerima pesan tersebut.4. Pengguna Facebook melakukan penataan dalam account Facebook mereka dengan tujuan untuk membentuk sebuah citra diri yang baik. Mereka berharap, dengan melakukan penataan melalui Facebook khalayak luas dapat menilai citra diri mereka sebagai individu yang baik.Hasil (Outcome)Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa para informan sebagai seorang pengguna Facebook melalui beberapa proses dalam memproduksi sebuah pesan di akun facebooknya. Sebagai sebuah situs jejaring sosial yang diakses oleh banyak orang membuat para pengguna Facebook sadar bahwa pesan apapun yang mereka produksi di akun Facebook mereka akan membentuk sebuah penilaian terhadap pribadi mereka sendiri. Akun Facebook dinilai mampu merepsentasikan bagaimana karakter si empunya akun secara langsung. Oleh sebab itulah, para pengguna Facebook saat ini mulai berhati-hati dalam memproduksi pesan apapun dalam akun Facebooknya. Para pengguna Facebook melalui sebuah proses berpikir terlebih dahulu serta melakukan pemilihan diksi atau kata-kata sebagai tahapan dalam proses memproduksi pesan di akun Facebooknya. Hal ini bertujuan agar pesan apapun yang disampaikan melalui akun Facebook mereka tersebut akan membentuk sebuah citra yang baik dan positif. Dengan memproduksi pesan-pesan yang bersifat positif, para pengguna Facebook berharap dapat menyajikan diri mereka dengan baik dihadapan para teman Facebooknya.DAFTAR PUSTAKAArisandy, Desy.2009. Top Bak Artis Beken Dengan Facebook. Yogyakarta: Garailmu.Supratiknya .(1995). Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.Farid Hamid, Dr. M.Si. & Heri Budianto, S.Sos., M.Si. (2011). Ilmu Komunikasi: Sekarang Dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Kencana.Fahmi, Abu Bakar. (2011). Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Fidler, Roger. (2003). Mediamorfosis (Memahami Media Baru) Terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya.Griffin, Em. (2000). A First Look At Communication Theory:Fourth Edition. USA: Megraw Hill Companies.Hartley, John. (2010). Communication, Cultural & Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra.Jalaludin, Rakhmat. (2005). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.Littlejohn, Stephen W. (1999). Theories Of Human Communication sixth edition. Belmont California. Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W.(2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.McQuail, Denis. (2010). Teori Komunikasi Massa (Edisi 6). Jakarta: Salemba Humanika.Moustakas, Clark. E. (1994). Phenomenological Research Methods. London : Sage.Mulyana, Deddy. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Pilialang, Yasraf Amir. (1999). Sebuah Dunia Yang Dilipat. Bandung: Mizan.Reed H Black dan Edwin O Haroldson. (2009). Toksonomi Konsep Komuniasi. Surabaya: Papyrus.Ritonga, M J. (2005). Tipologi pesan persuasif. Jakarta: Indeks.Rogers, Everett M. (1986). Communication Technologi and The New Media In Societies. New York: The Free Press.Syamsudin, Abin M. (2005). Psikologi Kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.Turkle, Sherry. (1995). Life On The Screen: Identity in the age of the internet. New York: Simon & Schuster.Tinarbuko, Sumbo. (2009). Mendengarkan Dinding Fesbuker. Yogyakarta. Multikom.Vardiansyah. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.West, Richard & Turner, H. Lynn.( 2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.Ebook:Griffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eight Edition. USA: Megraw Hill Companies.InternetAgustus 2012, Pengguna Facebook Capai 1 Milyar orang. (2012). Dalam http://www.lihatcara.com/2012/01/agustus-2012-pengguna-facebook-capai-1.html. Diunduh pada 4 Juli 2012 pukul 18:30 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi. Diunduh tanggal 5 juli 2012 pukul 10:00 WIBFazriyati, Wardah. (2012). Tak Cukup “Sharing” di dunia maya. Dalam http://female.kompas.com/read/2012/02/16/17215958/Tak.Cukup.Sharing.di.Dunia.Maya. Diunduh tanggal 4 Juli 2012 pukul 19:00 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook. Diunduh tanggal 5 Juli 2012 pukul 10:15 WIBDalam http://inkvibe.com/2013/01/pertumbuhan-jumlah-pengguna-internet-dan-pengaruhnya-ke-marketing/. Diunduh tanggal 4 Maret 2013 pukul 20:00
KETERBUKAAN KOMUNIKASI DALAM RELASI ROMANTIK Hikmah, Nurul; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.754 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya fenomena mengenai komunikasi dalam relasi romantik dengan menggunakan media Whatsapp. Dalam relasi romantik komunikasi dapat terjadi dengan lancar ketika melakukan komunikasi menggunakan media Whatsapp namun mengalami keterbatasan komunikasi ketika bertatap muka secara langsung. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami pengalaman komunikasi pasangan dalam relasi romantik dengan menggunakan media Whatsapp dan ketika tidak menggunakan media Whatsapp. Paradigma yang digunakan adalah intepretatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan Teori Media Baru, Teori Ekologi Media dan Teori Keterbukaan Diri.Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pada informan pasangan I dan III lebih nyaman melakukan keterbukaan diri terhadap pasangan menggunakan media Whatsapp. Perasaan segan dan sungkan seringkali muncul ketika terjadi tatap muka secara langsung sehingga tidak dapat melakukan komunikasi dengan leluasa. Sedangkan, informan pasangan II dan IV lebih nyaman melakukan keterbukaan diri terhadap pasangan secara langsung dengan tatap muka. Dengan tatap muka secara lansung akan mengurangi ketidaksesuaian makna dan bahasa tubuh memperjelas suatu ucapan. Ketika terjadi tatap muka secara langsung, pasangan I dan III lebih banyak melakukan aktivitas bersama. Komunikasi nonverbal berupa tindakan dan sikap terjadi ketika komunikasi tatap muka dan keinginan disampaikan melalui media Whatsapp. Sedangkan pada pasangan II dan IV lebih banyak melakukan obrolan bersama ketika terjadi tatap muka secara langsung. Pasangan II dan IV juga dapat melakukan pengungkapan diri ketika berkomunikasi tatap muka.Penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian selanjutnya dengan menggunakan pendekatan studi kasus karena relasi romantik merupakan tema yang menarik untuk dibahas dimana terdapat suatu pengalaman yang unik didalamnya. Teori Penetrasi Sosial dapat digunakan untuk melihat bagaimana caranya hubungan antarpibadi dapat dibangun dengan menggunakan media instant messaging atau media sosial teknologi berbasis internet.
Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab (Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.633 KB)

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya “Pelangi” pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau „mahal‟ serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi “pelambang jiwa” (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). „What Is New Media?’ In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
Hubungan Antara Terpaan Informasi Garuda Indonesia di Media Sosial Twitter @Garuda_UK dan Terpaan Sponsorship Garuda Indonesia dalam Pertandingan Liverpool Footbal Club dengan Kesadaran Merek Garuda Indonesia Nurina, Shafira Inas; Rahardjo, Turnomo; Pradekso, Tandiyo; Lailiyah, Nuriyatul
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.315 KB)

Abstract

Kerjasama co-branding Garuda Indonesia – Liverpool FC membuat Garuda Indonesia mendapat keuntungan untuk menjalankan kegiatan komunikasi pemasaran dengan tujuanmenciptakan kesadaran merek. Terkait dengan hal tersebut, Garuda Indonesia belum melakukan evaluasi yang berhubungan dengan tujuan diadakannya kerjasama Garuda Indonesia dengan Liverpool FC, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara terpaan informasi Garuda Indonesia di media sosial Twitter @Garuda_UK dan terpaan sponsorship Garuda Indonesia dalam pertandingan Liverpool FC dengan kesadaran merek Garuda Indonesia. Teori mengenai kesadaran merek yang didukung denganteori mengenai terpaan informasi di media sosial dan teori mengenai terpaan sponsorship menjadi dasar pemikiran dalam penelitian ini.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif tipe eksplanatif dengan metode penarikan sampel non random sampling dan teknik penarikan sampel adalahpurposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 50 orang yang merupakan fans Liverpool FC yang berdomisili di Negara Inggris.Analisis data yang digunakan adalah uji Korelasi Pearson dengan hasil yang didapat adalah bahwa terdapat hubungan yang sigifikan antara terpaan informasi Garuda Indonesia di media sosial Twitter @Garuda_UK (X1) dengan kesadaran merek Garuda Indonesia (Y) karena menghasilkan angka signifikansi 0,014 dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,345 serta terdapat hubungan yang signifikan antara terpaan sponsorship Garuda Indonesia dalam pertandingan Liverpool FC (X2) dengan kesadaran merek Garuda Indonesia (Y) menghasilkan angka signifikansi 0,002 dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,418.Hasil temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi Garuda Indonesia agar dapat memanfaatkan media sosial dan sponsorship secara lebih efektif.
Memahami Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim di Dalam Masyarakat Dominan Mardiansyah, Muhammad Reza; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.126 KB)

Abstract

Latar Belakang Sejak dulu, fenomena Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah bahwa anak-anak Punk tidak lebih dari sekadar sampah masyarakat. Gaya hidup mereka yang cenderung menyimpang seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, bikin onar, mabuk-mabukan, narkoba, sex bebas dan bertindak sesuai keinginannya sendiri mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak Punk adalah berandal yang tidak mempunyai masa depan yang jelas. Ditambah lagi dengan tindakan kriminal yang belakangan ini mulai banyak dilakukan anak Punk mulai dari penjambretan dan pencurian.Pandangan buruk terhadap komunitas Punk sudah sangat melekat dalam masyarakat, tetapi ternyata tidak semua komunitas Punk seperti yang digambarkan di atas. Di daerah Pulogadung Jakarta Timur terdapat sebuah komunitas Punk yang menggunakan agama Islam sebagi ideologi yang mereka anut yaitu komunitas Punk Muslim.Komunitas Punk Muslim adalah komunitas Punk yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Kata Muslim yang digunakan dalam nama komunitas Punk Muslim bukan tanpa alasan, sejak berdirinya komunitas Punk Muslim, komunitas ini berkomitmen akan membawa Islam sebagai jalur dalam segala kegiataannya.Punk Muslim hampir sama dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap membawa counter culture yang sama, yaitu mendobrak kebiasaan lama dan anti mainstream. Yang membedakan Punk Muslim dengan komunitas Punk lainnya hanya pada ideologinya, jika komunitas Punk lainnya lebih cenderung menggunakan ideology bebas dan anarkis, Punk Muslim menggunakan ideology islam yang lebih terarah dan teratur. Dalam penampilannya komunitas Punk Muslim juga tidak berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap bercelana jeans kumal, berkaos hitam lusuh dan sepatu boot malah sebagian anggota Punk Muslim masih ada yang menggunakan tattoo.Komunitas Punk Muslim didirikan karena ingin merubah stigma negatif yang menempel pada komunitas Punk pada umumnya. Ketika banyak yang menilai komunitas Punk itu hanya sampah masyarakat, komunitas Punk mencoba untuk merangkul mereka. Komunitas Punk Muslim mencoba menjelaskan kepada teman-teman Punk bahwa menjadi anak Punk itu tidak harus dengan tindakan anarkis, kriminal dan kebebasan yang tanpa aturan. Komunitas PunkMuslim tidak mencoba untuk melawan komunitas Punk lainnya, komunitas Punk Muslim hanya melawan sebuah konsep atau sistem kebebasan yang terlampau ekstrim yang menyebabkan anak-anak Punk terlihat negatif dalam masyarakat..Dalam kegiatan sehari-harinya anggota Punk Muslim selalu menggelar pengajian rutin di markas mereka untuk menambah ilmu mereka tentang agama, mereka juga tidak lupa menjalan shalat 5 waktu bahkan pada saat bulan ramadhan mereka menjalankan ibadah puasa, mengadakan shalat tarawih bareng dan juga pesantren untuk anak-anak Punk dan jalanan. Komunitas Punk Muslim ini juga menyalurkan aspirasi mereka lewat sebuah band Punk Muslim yang sudah terbentuk terlebih dahulu, sampai saat ini mereka sudah mengeluarkan dua album Punk yang memadukan aliran musik Punk dengan syair-syair religi.Komunitas Punk Muslim memang berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tidak lagi menggunakan ideologi bebas seperti komunitas – komunitas Punk lainnya, mereka menggunakan ideologi Muslim yang lebih terkonsep dan terarah. Namun, dengan masih menggunakan nama komunitas Punk mereka masih tetap saja menjadi komunitas yang termarjinalkan dalam masyarakat. Identitas mereka sebagai anak Punk lebih banyak membawa kerugian dari pada membawa keuntungan bagi mereka yang menyandangnya. Hal ini terjadi karena adanya persepsi yang salah pada masyarakat dalam memandang komunitas Punk.Munculnya stigma negatif tentang komunitas Punk juga berpengaruh pada identitas komunitas Punk Muslim. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya perilaku anak Punk yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, melakukan kekerasan dan tindak kejahatan membawa perubahan terhadap identitas komunitas Punk Muslim. Negoisasi identitas pun dilakukan oleh komunitas Punk Muslim ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat dominan, dengan tetap mempertimbangkan budaya Punk itu sendiri dan budaya masyarakat dominan.Menurut Cupach dan Imahori, faktor dominan yang mempengaruhi identitas individu adalah budaya (cultural) dan identitas rasional (rational identities). Budaya memberikan pikiran, ide, cara pandang, sementara identitas rasional memberikan pola interaksi dan pola sosial yang membentuk bagaimana individu hendak memproyeksikan karakter dirinya berdasarkan pengalamannya dalam menjalani hubungan dengan orang lain atau dominant culture (Gudykunts, 2002: 191-192)Dalam konteks komunikasi antarbudaya, setiap melakukan komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, pasti akan melakukan negosiasi identitas budaya masing-masing dalam diri individu tersebut. Orang–orang akan bernegosiasi dengan diri mereka sendiri tentang identitas budaya yang melekat pada mereka dan identitas budaya lain. Identitas didefinisikan sebagai konstruksi refleksi diri yang tampak, dibangun, dan dikomunikasikan dalam konteks interaksi budaya tertentu. Sedangkan negosiasi berarti interaksi transaksional dimana individu-individu yang berada dalam situasi antarbudaya akan memproses konsep diri orang lain dan diri mereka sendiri. Teori negosiasi identitas dipaparkan oleh Ting-Toomey memiliki asumsi, bahwa dalam teori ini menekankan konsepsi refleksi diri yang bekerja pada saat komunikasi antarbudaya berlangsung (Gudykunts, 2005:217).Agar diterima dan mendapatkan kenyamanan di lingkungan, maka komunitas Punk Muslim harus bisa menegosiasikan identitas Punk yang mereka punya kepada masyarakat dominan secara efektif. Mereka harus menegosiasikan bahwa Identitas Punk yang di punyai Punk Muslim bukan lagi seperti komunitas Punk pada umumnya yang sudah mempunyai citra buruk di dalam masyrakat. Identitas komunitas Punk Muslim tersebut akan terbentuk melalui negosiasi ketika mereka menyatakan, memodifikasi dan menentang identifikasi –identifikasi komunitas Punk pada umunya melalui sikap, perbuatan dan tindakan mereka kepada masyarakat dominan. Mereka seharusnya tidak lagi menentang budaya masyarakat dominan, tetapi seharusnya memahami, menghormati dan menghargai budaya masyarakat dominan karena Inti dari keberhasilan negoisasi adalah kedua belah pihak merasa sama-sama di pahami, dihormati, dan dihargai.II. Perumusan MasalahMelalui penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka dalam masyarakat dominan yang masih menganggap komunitas Punk itu negatif ?.III. Tujuan Penelitian1. Memahami pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan oleh komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan2. Mengetahui apakah masyarakat dominan masih menganggap komunitas Punk Muslim itu negatif setelah dilakukannya negosiasi identitas.IV. Signifikasi PenelitianSignifikasi TeoritisPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam mengkaji teori negosiasi identitas. Negosiasi identitas dalam penelitian ini akan mengkaji tentang pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan dalam konteks komunikasi budaya.Signifikasi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tentang bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Signifikasi SosialDalam tataran sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran pengalaman negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan sehingga diharapkan mampu menjadi pedoman untuk pembaca dan mayarakat luas khususnya kelompok minoritas yang akan menegosiasikan identitasnya dengan baik dengan kelompok budaya dominan.V. Kerangka Teoritik Co-Culture TheoryCo-culture merupakan pemikiran teoritik yang menjelaskan kesetaraan budaya (Rahardjo.2005:46). Komunikasi co-culture merujuk pada interaksi diantara para anggota kelompok underrepresented dengan kelompok dominan. Fokus dari teori co-culture adalah memberikan sebuah kerangka dimana para anggota co-culture menegosiasikan usaha-usaha untuk menyampaikan suara diam mereka dalam struktur dominan. Teori Negosiasi IdentitasDidasarkan pada cross-cultural-face-negotiation-theory nya, Toomey berargumentasi bahwa negosiasi identitas adalah prasyarat untuk komunikasi antarbudaya yang sukses. Ia menekankan bahwa “negosiasi identitas yang efektif adalah proses antar dua interaksi dalam suatu peristiwa komunikasi dan ini penting sebagai basis kompetensi komunikasi antarbudaya (Gudykunts, 2002 : 192).Pada intinya Teori negosiasi identitas ini menjelaskan bahwa negosiasi identitas terjadi secara efektif apabila kedua belah pihak merasa dipahami, dihormati dan diterima nilainya sehingga timbul rasa pengertian diantara kedua pihak yang menegosiasikan identitasnya.VI. Metode PenelitianMetode pengkajian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya mengenai negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam budaya dominan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah fenomenologi yang fokus pada pemikiran pengalaman pribadi subjek yang dalam ini adalah komunitas Punk Muslim.Lokasi Penelitian berada di Jakarta, dengan subjek penelitiannya adalah anggota komunitas Punk Muslim yang yang sudah menjadi anggota minimal satu tahun karena dianggap sudah memiliki pengalaman yang banyak dan diharapkan mereka dapat memberikan informasi tentang pengalaman mereka menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dimana anggota narasumber (komunitas Punk Muslim) diminta menceritakan pengalaman komunikasinya dalam menegosiasikan identitasnya dalam masyarakat budaya dominan. Wawancara ini akan menggunakan interview guide (panduan wawancara) yang dapat menjadi alat bantu subjek penelitian (komunitas Punk Muslim) dalam menjawab pertanyaan dan menggunakan alat bantu seperti alat tulis dan perekam suara.VII. Kesimpulan Munculnya Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan stereotip masyarakat dominan yang masih memandang komunitas Punk sebagai kelompok yang identik dengan keonaran, ketidakmapanan dengan hidup di jalanan, dan sering mabuk-mabukan sehinggaupaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Stereotip yang berkembang mengenai komunitas Punk pada umumnya memengaruhi komunitas Punk Muslim dalam membangun identitasnya yang ingin merubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi postif. Anggota masyarakat yang melabelkan stereotip kepada komunitas Punk Muslim dipengaruhi oleh minimnya komunikasi yang terjalin antara masyarakat dan komunitas Punk Muslim akibat adanya stereotip tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Punk Muslim menggunakan perspektif agama Islam sebagai ideologi mereka. Ideologi merupakan cara berpikir seseorang atau kelompok yang membentuk sekumpulan konsep bersistem berupa pemahaman maupun teori dengan tujuan tertentu. Komunitas Punk Muslim menggunakan ideologi agama Islam yang tidak hanya mengarah kepada duniawi, tetapi kepada akhirat juga. Ideologi tersebut juga digunakan oleh komunitas Punk Muslim sebagai identitas mereka yang berbeda dengan komunitas Punk pada umumnya yang banyak menggunakan ideologi D.I.Y (Do It Your Self) yang berarti mereka dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ideologi ini muncul karena sifat mereka yang anti sosial, tidak mempercayai siapapun diluar komunitas Punk, bahkan kecenderungan ideologi ini selalu berkaitan dengan perlawanan terhadap kekuasaan atau politik, anti sosial, minoritas, anti hukum, dan segala hal yang cenderung negatif. Identitas komunitas Punk Muslim tidak mereka tunjukkan melalaui atribut-atribut khusus yang mereka gunakan. Komunitas Punk Muslim cenderung bersikap layaknya masyarakat biasa dengan cara berperilaku sopan, berpakaian bersih dan wangi walaupun masih tetap menggunakan pakaian serba hitam seperti komunitas Punk pada umumnya, dan menutupi atribut-atribut Punk yang menyeramkan seperti tatto, anting, tindikan dan rambut mowhawk. Cara tersebutlah yang mereka tunjukkan sebagai identitas mereka sebagai seorang anggota komunitas Punk Muslim. Komunitas Punk Muslim yang berupaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi positif, menegosiasikan identitasnya didalam masyarakat dominan dengan melakukan strategi komunikasi akomodasi. Mereka mencoba menjalin hubungan positif dengan masyarakat tetapi tetap mempertahankan identitas mereka. Hal tersebut terbukti dari keaktifan komunitas Punk Muslim melakukankegiatan-kegiatan sosial seperti Tabliq, sunatan masal, membagi santunan kepada anak yatim dan para janda di lingkungan sekitar markas, namun mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai komunitas Punk dengan hidup dijalanan dan tetap memainkan musik beraliran Punk walaupun liriknya bernuansa Islam. Komunitas Punk Muslim melakukan strategi tersebut agar masyarakat sekitar bisa menerima komunitas Punk Muslim sebagai komunitas yang mempunyai citra positif. Hasil dari negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan adalah feeling of being understood (perasaan dipahami), komunitas Punk Muslim dan anggota masyarakat dominan sekitar markas yang terus melakukan interaksi untuk terus memahami perbedaan budaya dan latar belakang budaya satu sama lain. Selanjutnya adalah Feeling of being respected (perasaan dihormati) komunitas Punk Muslim mencoba menghormati masyarakat sekitar dengan meminta izin kepada ketua RW dan RT setempat sebagai perwakilan dari masyarakat setempat bila ingin mengadakan suatu acara. Wargapun menghormatinya dengan memberikan izin dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Terakhir adalah feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) yakni menguatkan secara positif dan menerima perbedaan. Komunitas Punk Muslim yang memiliki kemampuan di bidang musik diminta masyarakat untuk mengisi acara pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan komunitas Punk Muslim, pada setiap kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekitar seperti kerja bakti, tahun baru Islam dan rapat RT, komunitas Punk Muslim selalu menghadiri acara tersebut karena masyarakat sekitar sudah dapat menerima komunitas Punk Muslim sebagai waga sekitar. Berdasarkan hasil negosiasi identitas komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan. Masyarakat sudah tidak lagi menganggap komunitas Punk Muslim itu sebagai komunitas yang memiliki citra negatif tetapi sudah sebagai komunitas yang mempunyai citra positif di mata masyarakat. Hal itu di tunjukkan dengan kedatangan masyarakat atau partisipasi masyarakat pada saat komunitas Punk Muslim mengadakan acara atau dengan melihat antusias warga yang mengundang komunitas Punk Muslim dalam acara mereka.Gambar 4.1Bagan Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim Didalam Masyarakat DominanKomunitas Punk Muslim (Subculture) Masyarakat dominan (Dominant Culture) Stereotip Terhadap Komunitas Punk Strategi Akomodasi (Kegiatan sosial dan kegiatan positif) Negosiasi Identitas Hasil Negosiasi Identitas : feeling of being understood (perasaan dipahami) feeling of being respected (perasaan dihormati) feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) Ideologi Agama Islam Keinginan Merubah Pandangan Negatif Terhadap komunitas Punk Bersikap layaknya masyarakat biasaDAFTAR PUSTAKABarnard, Malcolm. 2011. Fashion sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra.Fiske, John. 2011 diterjemahkan oleh Yosial Iriantana, MS. Dan Idi Subandy Ibrahim. Cultural and Communication Stuides. Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Gudykunst.William B. 2002. Handbook of International and Interculutal Communication Second Edition. Thousand Oaks, California: SAGE publication.Gudykunst, William. 2005. Theorizing About Intercultural Communication. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Hebdige, Dick. 1979. Subculture the Meaning of Style. London & Newyork : Routledge Taylor and Francis Group.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009b. Encyclopedia of Communication Theories. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Martin, Judith & Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication In Context (4th ed). NewYork : McGraw-HillMoleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Rosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California : SAGE Publication.Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. Needhom Heights : A Valcom Company.Pearson, Judy C.,Paul E. Nelson, Scott Listworth. Lynn Harter. (2011). Human Communication (4th ed.). New York: McGraw-HillRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Sulistiyani, Hapsari. 2006. Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Semarang : Fisip Undip.INTERNEThttp://antarabogor.com/index.php/detail/1983/anak-Punk-resahkan-warga-depokhttp://www.facebook.com/pages/PUNK-Muslim-original page/163233493698838?fref=tshttp://punkmuslim.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/komunitas-punk.html.
Pemaknaan Khalayak Terhadap Marginalisasi dalam Pendidikan dan Kritik Sosial pada Lirik Lagu Putra Nusantara Khurrosidah, Sela; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.067 KB)

Abstract

Lagu berjudul Putra Nusantara menggambarkan kesenjangan yang terjadi pada anak jalanan di kota besar. Penerimaan subjek penelitian terhadap representasi marginalisasi dalam pendidikan dan kritik sosial menjadi latar belakang penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemaknaan khalayak mengenai marginalisasi dalam pendidikan dan kritik sosial yang tergambar dalam lirik lagu Putra Nusantara. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi Stuart Hall, dan teori interpretasi pesan Osgood on Meaning dari Charles Osgood. Analisis semiotika dari Ferdinand de Saussure juga digunakan untuk melakukan preferred reading lirik lagu, agar makna dominan dalam lirik lagu dapat diketahui. Temuan penelitian menunjukkan bahwa khalayak memaknai pesan secara berbeda karena perbedaan lingkungan dan pengalaman. Pada khalayak yang memiliki pengalaman mengajar anak-anak jalanan, cenderung melakukan pemaknaan dominan (dominant-hegemonic reading) yang menerima bahwa kritik dalam lirik lagu dibuat untuk Pemerintah, dan memang sesuai dengan realita sekarang. Khalayak yang cenderung melakukan pembacaan pesan secara negosiasi (negotiated reading), menilai bahwa marginalisasi ada di dalam lirik lagu, namun tidak hanya disebabkan oleh janji Pemerintah yang tidak ditepati, karena Pemerintah bukan satusatunya pihak yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan pendidikan. Selain itu, khalayak dalam posisi negosiasi menilai bahwa kritik lebih baik jika disebut sebagai masukan. Sementara informan yang melakukan pembacaan pesan secara oposisi (oppositional reading), menilai bahwa marginalisasi hanya digunakan untuk membandingkan kesenjangan antara pendidikan di kota dan desa. Karena mereka menilai bahwa anak jalanan di kota merupakan para pendatang yang tidak mempunyai identitas dan tidak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah kota. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak yang menjadi subjek penelitian merupakan anggota community yang merupakan bagian dari mass society yang besar dan heterogen. Sebagai anggota dari community, subjek penelitian bertindak sebagai khalayak aktif, dimana mereka tidak mudah dipengaruhi (impervious to influence) oleh informasi yang disajikan media. Penelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dengan sudut pandang dan metode berbeda untuk penelitian selanjutnya, terutama mengenai kesenjangan sosial di Indonesia dan penyampaian kritik melalui sebuah lirik lagu.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida