Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN TATAP MUKA SISTEM KELAS SHIFT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI MAN 1 LOMBOK TIMUR Muhammad Wisnu Alfan Hadi; Baiq Rohiyatun; Menik Aryani
Responsif Vol 1 No 1 (2023): Responsif: Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran
Publisher : Yayasan Lentera Mandalika Berinovasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran sistem kelas shift di MAN 1 Lombok Timur, bentuk motivasi belajar siswa, dan efektivitas pembelajaran tatap muka sistem kelas shift terhadap motivasi belajar siswa. adapun fokus penelitian dalam penelitian ini adalah: (1). Efektivitas pembelajaran tatap muka sistem kelas shift di MAN 1 Lombok Timur. (2). Bentuk motivasi belajar siswa di MAN 1 Lombok Timur. (3). Efektivitas pembelajaran tatap muka sistem kelas shift terhadap motivasi belajar siswa di MAN 1 Lombok Timur. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data observasi, dokumentasi dan wawancara, dengan narasumber kepala sekolah, guru, dan siswa. Teknik analisis data yaitu interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Penerapan sistem pembelajaran shift di MAN 1 Lombok Timur akibat pandemi covid-19 dapat berjalan dengan lancar dengan mengikuti protokol kesehatan dan taat peraturan yang telah diusulkan oleh pemerintah. Dibuktikan dengan adanya kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru, dan siswa. (2) Motivasi Belajar Siswa selama sistem pembelajar shift ini lebih meningkat. Dengan diberlakukannya sistem kelas shift ini siswa lebih termotivasi untuk belajar dibandingkan dengan pembelajaran daring yang sebelumnya dilaksakanan akibat pandemi covid-19. (3) MAN 1 Lombok Timur berhasil menerapkan pembelajaran tatap muka sistem kelas shift dan motivasi belajar siswa semakin meningkat. Siswa siswi lebih senang menggunakan sistem kelas shift dan pembelajaran lebih efektif karena motivasi belajar tatap muka lebih seru dan menarik dibandingkan kelas daring yang sebelumnya dilaksanakan.
PERAN MANAJEMEN KESISWAAN UNTUK MENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMAN 1 LEMBAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Baiq Rohiyatun; Titania Laras Zuliana
Responsif Vol 1 No 1 (2023): Responsif: Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran
Publisher : Yayasan Lentera Mandalika Berinovasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegiatan dari manajemen kesiswaan di SMA Negeri 1 Lembar. 2) Upaya manajemen kesiswaan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Lembar. 3) .Faktor pendukung dan penghambat dari pelaksanaan manajemen kesiswaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Lembar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini sebagai berikut: 1) Kegiatan manajemen kesiswaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu kegiatan internal dan eksternal. Kegiatan internal membentuk disiplin siswa baik kehadiran, berperilaku, berpakaian dan beribadah. Sedangkan kegiatan eksternal adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar seperti berkoordinasi atau bekerja sama dengan osis, mengikuti olimpiade-olimpiade sains, ekonomi dan computer. 2) Upaya manajemen kesiswaan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu: a) motivasi di berikan setiap kegiatan upacara bendera, b) wali kelas memberikan motivasi belajar yang mencakup semua mata pelajaran. c) motivasi diberikan melalu pendisiplinan siswa. d) peran guru BK dalam memberikan motivasi belajar. e) motivasi diberikan pada saat kegiatan keagamaan (Imtaq). 3) Faktor pendukung dan penghambat dari pelaksanaan manajemen kesiswaan yaitu: Faktor pendukung a) sarana dan prasarana yang terpenuhi. b) kerjasama antara guru sangat bagus. c) sistem pembelajaran yang modern. d) tempat yang nyaman dan aman. Sedangkan faktor penghambat a) sifat apatis guru, egois guru. b) latar belakang siswa yang beragam. c) dana yang terbatas untuk kegiatan siswa di sekolah. d) pengaruh lingkungan eksternal. e) masih banyak murid yang tidak disiplin.
PENGUATAN KOMPETENSI GURU PAUD DALAM PENYUSUNAN KURIKULUM MERDEKA MELALUI PENDAMPINGAN BERBASIS KKG Baiq Rohiyatun; Muhammad Iqbal; Lu'luin Najwa
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 9, No 3 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v9i3.40261

Abstract

Abstrak: Penetapan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional pada tahun 2024 menuntut kesiapan seluruh satuan pendidikan, termasuk PAUD, untuk mengimplementasikannya. Namun, data nasional menunjukkan bahwa sebagian besar guru PAUD belum memperoleh pelatihan yang memadai terkait kurikulum ini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam memahami dan menyusun dokumen Kurikulum Merdeka melalui pendampingan berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 29–31 Juli 2024 di tiga lokasi dalam wilayah KKG PAUD Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, melibatkan 24 guru dari lima lembaga PAUD, yaitu TKN 01 Keruak, KB Hububissalihah, TK IT Sabuk Belo, TK Nusa Berlian, dan KB Annisa. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi interaktif, diskusi kelompok, dan pendampingan langsung dalam penyusunan dokumen kurikulum. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan didukung dokumentasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi, ditandai dengan diskusi aktif dan semangat untuk memahami substansi Kurikulum Merdeka. Seluruh lembaga berhasil menyusun kerangka Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) dan perencanaan pembelajaran PAUD. Pendampingan berbasis KKG terbukti efektif sebagai mekanisme pengembangan profesional guru, sekaligus menunjukkan bahwa pelaksanaan berbasis klaster lokasi dapat meningkatkan partisipasi dan aksesibilitas peserta.Abstract:  The establishment of Merdeka Curriculum as the national curriculum in 2024 requires all educational institutions, including early childhood education (PAUD), to be ready for its implementation. However, national data indicates that the majority of PAUD teachers have not received adequate training on this curriculum. This community service activity aims to strengthen the competence of PAUD teachers in understanding and developing Merdeka Curriculum documents through Teacher Working Group (KKG)-based mentoring. The activity was held on July 29–31, 2024, at three separate venues within the KKG PAUD of Keruak District, East Lombok Regency, involving 24 teachers from five PAUD institutions: TKN 01 Keruak, KB Hububissalihah, TK IT Sabuk Belo, TK Nusa Berlian, and KB Annisa. Methods employed included interactive socialization, group discussion, and direct mentoring in curriculum document development. Data were collected through observation sheets and activity documentation. Results showed high participant enthusiasm, marked by active discussions and eagerness to understand Merdeka Curriculum substance. All institutions successfully developed a framework for their School Operational Curriculum (KOSP) and PAUD learning plans. KKG-based mentoring proved effective as a professional development mechanism, while cluster-based implementation demonstrated improved participant engagement and accessibility.
IMPLEMENTASI LITERASI NILAIBUDAYA PADA PROGRAM SABTU BUDAYA DAN PAGELARAN SENI (SABDAGENI) Riyan Gusti Farero; Baiq Rohiyatun; M. Faqih
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i2.9940

Abstract

ABSTRACT The strengthening of cultural literacy in the educational environment is an effort to develop students’ character to be culturally aware, ethical, and tolerant amid the growing influence of globalization. Schools play a strategic role in integrating cultural values into various educational activities so that these values are not only theoretical but also internalized in students’ daily behavior. This study aims to describe the implementation of cultural literacy in the Sabtu Budaya and Pagelaran Seni (SABDAGENI) Program at SMPN 6 Mataram, identify the challenges and obstacles in its implementation, and analyze its impact on students. This study employs a qualitative approach with a descriptive research design. The research subjects include the principal, vice principals, teachers, school staff, and students. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the implementation of cultural literacy through the SABDAGENI Program is carried out continuously and integrated into school activities with cultural nuances. The program receives support from various stakeholders within the school and involves active participation from students in forming habits and behaviors that reflect cultural values. However, its implementation still faces several challenges, particularly related to limited facilities and supporting resources. Nevertheless, the program has a positive impact on improving students’ understanding and internalization of cultural values, which is reflected in the development of culturally aware and tolerant character as well as the creation of a conducive and inclusive school environment.   ABSTRAK Penguatan literasi nilai budaya di lingkungan pendidikan merupakan upaya untuk membentuk karakter peserta didik yang berbudaya, beretika, dan memiliki sikap toleran di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Sekolah memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam berbagai aktivitas pendidikan sehingga tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dapat diinternalisasikan dalam perilaku sehari-hari peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi literasi nilai budaya pada Program Sabtu Budaya dan Pagelaran Seni (SABDAGENI) di SMPN 6 Mataram, mengidentifikasi tantangan dan hambatan pelaksanaannya, serta menganalisis dampak program tersebut terhadap peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, staf sekolah, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi literasi nilai budaya melalui Program SABDAGENI dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan sekolah yang bernuansa budaya. Program ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak di lingkungan sekolah serta melibatkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembentukan kebiasaan dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai budaya. Namun demikian, pelaksanaannya masih menghadapi beberapa kendala, terutama terkait keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya pendukung. Meskipun demikian, program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman dan internalisasi nilai budaya pada diri peserta didik, yang tercermin dalam terbentuknya karakter yang lebih berbudaya, toleran, serta terciptanya iklim sekolah yang kondusif dan inklusif.
Strategic Management of The Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) at SMPN 4 Gerung Miptahul Jannah; Baiq Rohiyatun; M. Ary Irawan
Jurnal Visionary : Penelitian dan Pengembangan dibidang Administrasi Pendidikan Vol. 13 No. 2 (2025): October
Publisher : Prodi Administrasi Pendidikan, Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/vis.v13i2.17114

Abstract

The Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) is part of the Independent Curriculum (Curriculum Merdeka), designed to shape student character through project-based learning. Its successful implementation is heavily influenced by the school's managerial strategies. This study aims to describe the strategic management of P5 at SMP Negeri 4 Gerung, focusing on the planning, implementation, and evaluation stages. The research employed a qualitative case study approach, with data collection techniques including interviews, observation, and documentation. Informants included the Vice Principal for Curriculum, the P5 Coordinators of grades VII and VIII, and students in grades VII and VIII. The results indicate that strategic planning was carried out collaboratively, adapting themes to student characteristics and the local context. Project implementation took place during specific hours through activities such as eco-briking, election simulations, and local culinary preparation. Evaluation was conducted through student reflection and internal meetings, although not yet optimal. The conclusions of this study confirm that strategic management plays a crucial role in supporting P5 implementation, but further strengthening of teacher training, module development, and evaluation systems is needed to ensure program implementation is more effective and sustainable. Keywords: Strategic Management, P5 Project, Independent Curriculum Abstrak: Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka yang dirancang untuk membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran berbasis proyek. Keberhasilan pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh strategi manajerial yang diterapkan sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan manajemen strategik P5 di SMP Negeri 4 Gerung, yang mencakup tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Koordinator P5 kelas VII dan VIII, serta siswa kelas VII dan VIII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan strategik dilakukan secara kolaboratif dengan menyesuaikan tema terhadap karakteristik siswa dan konteks lokal. Pelaksanaan proyek dilakukan pada jam khusus melalui kegiatan seperti ecobrik, simulasi pemilu, dan pengolahan kuliner lokal. Evaluasi dilaksanakan melalui refleksi siswa dan rapat internal, meskipun belum berjalan secara optimal. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa manajemen strategik berperan penting dalam mendukung implementasi P5, namun masih diperlukan penguatan dalam pelatihan guru, penyusunan modul, dan sistem evaluasi agar pelaksanaan program lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Manajemen Strategik, Proyek P5, Kurikulum Merdeka.