Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Kualitas Briket Tempurung Kelapa Muda (Cocos nucifera L.) sebagai Bahan Bakar Alternatif Hayuningrat, Aji Nur Muhammad; Marwanto, Andriana; Gustina, Mely
Mitra Raflesia (Journal of Health Science) Vol 15, No 2 (2023)
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51712/mitraraflesia.v15i2.297

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pemanfaatan briket arang tempurung kelapa muda merupakan salah satu solusi dalam usaha eksplorasi sumber energi alternatif maupun pengurangan polusi lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan usaha peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat, masih banyaknya timbulan sampah kelapa muda dipantai Panjang Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis potensi tempurung kelapa muda sebagai briket.Metode : Metode Penelitian ini adalah penelitian Quasi Experimental Designs. Pelaksanaan penelitian diawali dengan penyiapan bahan yang akan digunakan, setelah itu pembuatan arang/karbonisasi, dan percetakan briket. Proses pengujian yang dilakukan adalah daya bakar briket, Uji ketahanan banting briket dan uji nyala api.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket yang memiliki daya bakar paling lama adalah briket dengan perekat 300 gram selama 2 jam 3 menit dengan berat 100 gram. Tingkat kepanasan briket yang paling cepat dalam memanaskan air 1 liter sampai mendidih yaitu briket perekat 100 gram dengan berat 200 gram. Briket dengan perekat yang memiliki ketahanan banting yang bagus adalah yang menggunakan komposisi perekat 100 gram.Simpulan : Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tempurung kelapa muda mempunyai potensi sebagai bahan bakar alternative briket bioarang.Kata Kunci : Briket, Tempurung Kelapa Muda, Perekat Tapioka ABSTRACTBackground : Utilization of young coconut shell charcoal briquettes is one of the solutions in exploring alternative energy sources and reducing environmental pollution. For this reason, it is necessary to make efforts to increase public understanding and awareness, there are still many young coconut waste generated on Bengkulu's Panjang beach. The purpose of this study was to analyze the potential of young coconut shells as briquettes. Method : This research method is a Quasi Experimental Designs research. The implementation of the research begins with preparing the materials to be used, after that making charcoal/carbonization, and printing briquettes. The testing process carried out is the combustion power of the briquettes, the hardiness test of the briquettes and the flame test.Results :  The results showed that the briquettes that had the longest burning power were briquettes with 300 grams of adhesive for 2 hours 3 minutes with a weight of 100 grams. The briquette heat level that is the fastest in heating 1 liter of water to a boil is 100 gram adhesive briquettes with a weight of 200 grams. Briquettes with adhesive that have good hardiness are those using 100 grams of adhesive composition. Conclusion : From this study it can be concluded that young coconut shells have potential as an alternative fuel for bioarang briquettes.Keywords: Briquettes, Coconut Shell Charcoal, Tapioca Adhesive
HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DENGAN RESIKO KECELAKAAN PADA SUPIR TRUK ANGKUTAN BATU BARA APSIL, ELLA; MARWANTO, ANDRIANA; GAZALI, MOH.
Journal of Nursing and Public Health Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v11i2.5221

Abstract

Kelelahan pengemudi merupakan suatu faktor resiko kecelakaan dalam transportasi. Kelelahan pada pengemudi menimbulkan menurunnya daya konsentrasi, timbulnya rasa kantuk, lambatnya bereaksi, kelelahan pada mata, kejenuhan, menurunnya perhatian, tertidur sesaat dan keluar dari jalur yang seharusnya. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kelelahan kerja dengan resiko kecelakaan pada supir truk angkutan batu bara. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan observasi pendekatan cross sectional. Pengolahan data menggunakan uji chi square. Populasi pada penelitian ini sebanyak 44 responden. Hasil penelitian didapatkan kelelahan kerja pada supir truk angkutan batu bara diperoleh (65.9%) responden mengalami tingkat kelelahan kerja sedang dan (34.1%) responden mengalami tingkat kelelahan kerja rendah. Resiko kecelakaan pada supir truk angkutan batu bara diperoleh (59.1%) responden beresiko kecelakaan dan (40.9%) responden tidak beresiko kecelakaan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji chi-square nilai p=0,681 (p>0,05). Berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan resiko kecelakaan pada supir truk angkutan batu bara.
EFEKTIVITAS MEDIA KARBON AKTIF KULIT DURIAN TERHADAP PERUBAHAN PARAMETER PH, FE DAN MN AIR SUMUR GALI MARWANTO, ANDRIANA; MULYATI, SRI; ADEKO, RIANG
Journal of Nursing and Public Health Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v11i2.5997

Abstract

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia. Saat ini masyarakat masih banyak menggunakan sumur gali sebagai sumber persediaan air bersih, tetapi sumur gali sekarang banyak yang sudah tercemar dan mengalami penurunan kualitas sehingga dapat menyebabkan air sumur tersebut tidak memenuhi persyaratan. Salah satu cara pengolahan air bersih dapat dilakukan dengan proses adsorbs oleh media arang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karbon aktif kulit durian terhadap penurunan parameter Fe dan Mn air sumur gali. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah quasi experiment, dengan rancangan penelitian pretest-posttest. Sampel penelitian ini adalah air sumur gali. Air sampel dialirkan ke rangkaian alat filtrasi dengan media absorban karbon aktif kulit durian. Pembuatan karbon aktif kulit durian dilakukan dengan cara karbonisasi pada suhu sekitar 400 derajat celcius selama 1 jam. Kemudian dilakukan perendaman dengan H2SO4 15% selama 24 jam Untuk proses aktivasi kimia. Hasil penelitian diketahui rata-rata kadar Fe dan Mn sebelum proses penambahan media karbonaktif sebesar 0,145 mg/l dan 0,032 mg/l Setelah perlakuan pada media karbon aktif kulit durian dengan aktivasi H2SO4 sebesar 0,062 mg/l dan0,020 mg/l. Kesimpulan persentase penurunan parameter Fe air sumur gali pada media karbon aktif kulit durian sebesar 57% dan 36 %.
Potensi Arang Aktif Kulit Durian sebagai Produk Usaha di Bidang Sanitasi Mualim, Mualim; Marwanto, Andriana; Adeko, Riang
Jurnal SOLMA Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v13i2.13248

Abstract

Background: Entrepreneurship is a trait that can be seen in the actions of a person or institution and is defined as the attitude and ability to produce something that is unique, innovative, and beneficial to others. Students' interest in becoming entrepreneurs and applying their knowledge to opening a business is very low. So, efforts are needed to develop entrepreneurship in the field of sanitation by making activated charcoal products from durian skin. The aim of this activity is to foster entrepreneurial character in the sanitation sector and increase understanding and skills in making durian peel activated charcoal. Method: The methods that will be applied include: (1) Increasing entrepreneurial knowledge carried out through counseling and training activities to develop entrepreneurial character (2) Assistance in making activated charcoal from durian skin. Result: The result of this activity is an increased understanding of entrepreneurship in the field of sanitation and producing activated charcoal products from durian skin. Conclusion: The conclusion of this community service activity is to produce durian skin activated charcoal products as a form of business opportunity in the sanitation sector.
EFEKTIVITAS DAUN SAMBUNG NYAWA (GYNURA PROCUMBENS) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI PADA LALAT RUMAH marwanto, andriana; Yolanda E.P.S; Kermelita, Deri
Jurnal Sanitasi Profesional Indonesia Vol 2 No 1 (2021): Juni
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jspi.2.1.1-10

Abstract

The prevalence of diarrhea in Bengkulu Province handled in 2016 was 12,017 patients, in 2017 it increased to 17,205 patients and in 2018 to 21,313 patients. Whereas according to the Bengkulu City Health Office in 2016 it reached 3,956 patients, in 2017 it increased to 6,202 patients, and in 2018 it became 4,815 patients. This study aims to determine the effectiveness of the gyroscope (Gynura procumbens) leaf extract against home fly mortality. This type of research is quasi-experimental with Post-Test With Control Design with the number of samples used as many as 300 house flies each treatment 25 home flies with 3 repetitions and use three concentrations of leaf extract continued lives (15%, 30%, 45%). Data analysis was performed with univariate and bivariate analysis using the One Way Anova Test. The results showed the number of house fly deaths at a concentration of 15% was 62 heads (82.66%), a concentration of 30% was 65 heads (86.66%) and at a concentration of 45% was 63 heads (84%) and results statistical test known sig value of 1,000 > 0.05, meaning that there is no difference in the average death of house flies between the administration of leaf extracts of concentrations of 15% by 30%, concentrations of 15% by 45% and concentrations of 30% by 45%. Need further research on the utilization of leaf grafting extract as a plant-based insecticide controlling the fly vector by paying attention to the age of house flies.
Biochemical Test and Antimicrobial Potentials of Bandotan (Ageratum conyzoides) Leaves against Pathogenic bacteria in the Water Riang Adeko; Hidayat, Habibi; Andriana Marwanto; Sri Mulyati; Wiwit Aditama
EKSAKTA: Journal of Sciences and Data Analysis VOLUME 5, ISSUE 2, October 2024
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/EKSAKTA.vol5.iss2.art10

Abstract

Water cleaning technology using coagulation has already been carried out use a plants in the coagulation process has never been done before, especially using plants that have potential to be a source of natural coagulants is Bandotan (Ageratum conyzoides). Plants that have the potential to be a source of natural coagulants are plants that contain a lot of protein. Each type of protein has an isoelectric point at a different pH like isoelectric point, the protein will have a neutral charge. . The calculation results of the number of colonies in samples were B1, B2, and B3 with dilutions of 266. 105, 9. 107 and 104. 109 CFU/mL. The results of Gram staining identification showed that the B1, B2 and B3 isolates had the shape are basil, basil and coccus (round) with Gram positive. The bacteria thrive in different habitats, so bacteria from the sample have been very cloudy to pH of 6.0 and 8.0 because neutralophiles properties. From the B3 isolate sample have high clear zone for Gram positive (S. aureus) of 13 mm more than Gram negative ( E. coli) of 11 mm. So that, the bandotan is able to inhibit the growth of pathogenic bacteria in the water
Processing Tofu Liquid Waste into Liquid Organic Fertilizer With the Addition of Lamtoro Leaves as an Effort Prevention of Environmental Pollution Mualim; Ganefati, Sri Puji; Jubaidi; Marwanto, Andriana; Rahmawati, Ullya
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.5801

Abstract

Adding lamtoro leaves (Leucaena leucocephala) in the wastewater treatment of tofu into liquid organic fertilizer (LOF) is one of the efforts to protect the environment. This study investigated the effect of adding lamtoro leaves on the nutrient content, specifically nitrogen, phosphorus, potassium (NPK), and carbon, of LOF derived from tofu industry waste in Bengkulu, Indonesia. Tofu wastewater contains high levels of BOD, COD, and gases such as oxygen (O₂), hydrogen sulfide (H₂S), carbon dioxide (CO₂), and ammonia (NH₃), exceeding environmental quality standards. Lamtoro leaves contain 3.84% nitrogen, 0.2% phosphorus, 2.06% potassium, 24.7% protein, and 53.71% carbohydrates, making them a promising additive to enhance LOF's NPK and carbon content. This study employed a quasi-experimental design using a pre-post and control group format. Data were statistically analyzed using the Kruskal-Wallis test. The statistical analysis showed that the addition of lamtoro leaves significantly increased the levels of nitrogen (α = 0.049), potassium (α = 0.044), and carbon (α = 0.019). At the same time, the change in phosphorus content was not statistically significant (α = 0.136). These findings indicate that incorporating lamtoro leaves improves soil nutrients and provides natural plant nutrition, enhancing soil quality and carrying capacity, contributing to ecosystem protection, environmental pollution prevention, and public health improvement.
Monitoring Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Tatanan Rumah Tangga Oleh Kader di Kelurahan Anggut Atas dan Anggut dalam Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu Marleni, Wisuda Andeka; Ervina, Lissa; Marsofely, Reka lagora; Ningsih, Lisma; Patroni, Rini; Marwanto, Andriana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i8.18860

Abstract

ABSTRAK Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang keluraga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah tangga atau keluarga, karena rumah tangga yang sehat merupakan aset atau modal pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu untuk mencegah penyakit tersebut, anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan PHBS. Manfaat PHBS di Rumah Tangga adalah setiap anggota keluarga dapat terbiasa untuk menerapkan pola hidup sehat, sehingga meminimalkan masalah kesehatan dan tidak mudah terkena penyakit. Penerapan PHBS di rumah tangga akan menciptakan keluarga sehat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas keluarga. PHBS di tatanan keluarga masih belum di pahami oleh masyarakat karena kurangnya informasi yang diterima dan juga kurangnya dukungan fasilitas untuk program tersebut. Bukan hanya itu saja keterbelakangan social, ekonomi dan pendidikan menjadi masalah untuk melaksanakan PHBS. Masalah kesehatan seringkali muncul di masyarakat tanpa disadari dan diketahui penyebabnya. Hal tersebut terjadi karena faktor pengetahuan masyarakat yang masih rendah tentang kesehatan di masyarakat. Masalah kesehatan tersebut yang sering muncul antara lain masih tingginya angka kematian ibu dan anak, gizi buruk, penyakit menular dan tidak menular, gaya hidup yang tidak sehat dan lain-lain. Oleh karena itu, tujuan pengabdian masyarakat ini yaitu melakukan monitoring pendampingan perencanaan serta pelaksanaan program PHBS tatanan Rumah tangga bisa meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam penerapan PHBS. Kata Kunci: Monitoring, PHBS Rumah Tangga, Kader ABSTRACT Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a set of behaviors that are practiced on the basis of awareness as a result of learning, which makes a family, group or community capable of helping themselves (independently) in the health sector and playing an active role in realizing public health. Community empowerment must start from the household or family, because a healthy household is an asset or capital for future development whose health needs to be maintained, improved and protected. Some household members have a period of vulnerability to infectious and non-communicable diseases, therefore, to prevent these diseases, household members need to be empowered to implement PHBS. The benefit of PHBS in the household is that every family member can get used to implementing a healthy lifestyle, thereby minimizing health problems and not easily getting sick. Implementing PHBS in households will create healthy families, thereby increasing family welfare and productivity. PHBS in the family setting is still not understood by the community due to the lack of information received and also the lack of facility support for the program. Not only that, social, economic and educational backwardness is a problem for implementing PHBS. Health problems often arise in society without the cause being realized or known. This happens because of the low level of public knowledge about health in the community. Health problems that frequently arise include high maternal and child mortality rates, poor nutrition, communicable and non-communicable diseases, unhealthy lifestyles and so on.Therefore, the goal of this community service is to monitor the assistance in the planning and implementation of the PHBS program in households to enhance the knowledge and awareness of the community in the application of PHBS. Keywords: Monitoring, Household PHBS, Cadre
Efektifitas Batok Kelapa Muda (Cocos Nucifera L ) Sebagai Bahan Bakar Briket Bioarang Marwanto, Andriana; Adeko, Riang; Mulyati, Sri; Rahmawati, Ullya; Aditama, Wiwit
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.18338

Abstract

ABSTRACT Waste from young coconut shells from young coconut sellers will usually be thrown away and become waste that disturbs the environment. One of the efforts to process young coconut shells is by making briquettes. briquettes have potential as a substitute for coal, and more environmentally friendly. This study aimed to determine the effect of adhesive type on the quality of young coconut shell briquettes. This research is a laboratory experiment, using a Quasi Experimental Design with Post-test Only Design. The raw materials used in this research are young coconut shells, tapioca flour, sago flour. Coconut shells that have become charcoal powder are mixed with sago and tapioca starch adhesives, with adhesive mass composition of 5%, 10% and 15%. The results showed that the average value of moisture content of young coconut shell briquettes was 3.37% to 4.50%; ash content was 6.40% to 7.82%; bound carbon content was 78.15% to 80.57% and volatile matter content was 12.43% to 15.44%. Young coconut shell briquettes with tapioca and sago starch adhesives produce briquettes that meet the required SNI. Keywords: Young Coconut Shell, Briquettes, Tapioca, Sago  ABSTRAK Limbah dari batok kelapa muda hasil dari penjual kelapa muda biasanya akan dibuang begitu saja dan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan. Upaya untuk melakukan pengolahan batok kelapa muda salah satunya dengan membuat briket. Briket bioarang berpotensi sebagai pengganti batu bara, dan lebih ramah lingkungan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh jenis perekat terhadap kualitas briket batok kelapa muda. Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris, dengan menggunakan rancangan Quasi Experimental Design dengan rancangan Post-test Only Design. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah batok kelapa muda, tepung tapioka, tepung sagu. Batok kelapa yang telah menjadi serbuk arang dicampur dengan perekat tepung sagu dan tapioka, dengan komposisi massa perekat 5 %, 10 % dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata kadar air briket batok kelapa muda 3,37 % hingga 4,50 %; kadar abu nilai rerata 6,40 % hingga 7,82 %; kadar karbon terikat nilai rerata 78,15 % hingga 80,57 % dan kadar zat menguap nilai rerata 12,43 % hingga 15,44 %. Briket batok kelapa muda dengan. perekat tepung tapioka dan sagu menghasilkan briket yang sudah memenuhi SNI yang di persyaratkan. Kata Kunci: Batok Kelapa Muda, Briket, Tapioka, Sagu
Education On The Use Of Organic Waste Into Eco-Enzymes For The City Of Bengkulu Sari, Aplina Kartika; Bella, Bella Marliza; Marwanto, Andriana; Saputra, Arie Ikhwan
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i2.18338

Abstract

Background: Di Kecamatan Panorama, mengajarkan ibu rumah tangga cara mengubah sampah organik menjadi eko-enzim merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu rumah tangga di Kelurahan Panorama dalam mengolah sampah organik menjadi produk yang bermanfaat seperti eco-enzyme dan sabun cair ramah lingkungan.  Metode: Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan teknis, dan praktik langsung pembuatan eco-enzyme serta produk turunannya. Kegiatan ini melibatkan 30 ibu rumah tangga di RT.007 RW.003. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan Pengetahuan tentang pemilahan sampah dari 21 ibu rumah tangga sebanyak 43 % berpengetahuan baik, 33% berpengetahuan cukup dan 24% berpengetahuan kurang. Kesimpulan: Program ini memberikan solusi praktis terhadap masalah pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan produk turunan eco-enzyme.