Claim Missing Document
Check
Articles

PENGUJIAN KUAT TARIK BELAH BETON GEOPOLIMER DENGAN PENAMBAHAN SEMEN PUTIH PADA PERAWATAN TEMPERATUR RUANGAN Pati, Maria Sari; Handono, Banu Dwi; Wallah, Steenie E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 9, No 4 (2021): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton geopolimer adalah beton yang tidak menggunakan semen portland dalam campurannya. Beton geopolimer adalah suatu material yang relatif baru dikembangkan yang mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan beton konvensional yang menggunakan semen portland.  Pada beton geopolimer unsur-unsur yang mengikat agregat kasar dan agregat halus terdapat pada silica dan alumina pada fly ash yang beraksi dengan carian alkali sehingga membentuk pasta geopolimer. Untuk mendukung terjadinya pengikatan, perawatan beton geopolimer dilakukan dengan perawatan temperature, 60˚C atau 90˚C.Pada penelitian ini meskipun beton geopolimer tidak menggunakan semen portland sebagai bahan pengikat, maka dalam penelitian ini dilakukan penambahan semen dengan jenis semen portland putih pada beton geopolimer dengan variasi penambahan semen putih 0%, 5%, 10% dan 15% dan untuk mendukung terjadinya pengikatan, perawatan beton geopolimer dilakukan dengan perawatan temperature ruangan. Menggunakan benda uji silinder 10/20cm dan umur pengujian 7 hari dan 28 hari.Hasil penelitian nilai kuat tarik belah beton geopolimer mengalami kenaikan hingga 11,77% dari umur beton 7 hari ke 28 hari, dengan kekuatan berkisar 1,97-2,24 MPa untuk umur 7 hari dan 2,03-2,5 MPa untuk umur 28 hari pada perawatan temperature ruangan. Pada temperatr tinggi nilai kuat tarik belah naik signifikan berkisar 2,78-3,103 MPa umur beton 7 hari dan 2,82-3,21 MPa untuk umur 28 hari dengan perawatan curing time 24 jam 90˚C. Kata Kunci : Beton Geopolimer, Semen Putih, Kuat Tarik Belah, Temperatur Ruang
ANALISIS PEMILIHAN LOKASI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Merry N. M. Kosakoy; Steenie E. Wallah; Herawaty Riogilang
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3345.934 KB) | DOI: 10.22225/pd.11.1.4194.57-72

Abstract

Southeast Minahasa Regency experiences an increase in population every year. This increase resulted in an increase in the volume and type of waste. The Final Processing Site (FPS) is the final stage of waste processing. Waste from collection or transportation and the rest of the results from recycling processing in an area or city is accommodated for management. For this reason, FPS must be prepared correctly and follow applicable standards so as not to pollute the surrounding environment and harm the community. The purposes of this study are 1) to determine the stages of selecting a landfill site according to applicable standards using a Geographic Information System (GIS); 2) to find out where the alternative location for the final waste processing site (FPS) is in Kab. Southeast Minahasa. The method used is descriptive quantitative. Based on the results of the research, the stages of choosing the FPS location based on SNI 03-3241-1994 and the Regulation of the Minister of Public Works of the Republic of Indonesia Number 03/PRT/M/2013 there are three stages, namely the Regional Stage, the Provisioning Stage, and the Determination Stage. The three stages were analyzed using GIS with Buffering and Overlay methods with a Binary quantitative approach. The location that became an alternative to FPS with the highest score of 311 was in Pusomaen District. The location is quite far from the existing FPS location; hence the selected FPS alternative can be input for the government for spatial planning in the Southeast Minahasa Regency area.
FACTORS INFLUENCING THE COMPRESSIVE STRENGTH OF FLY ASH-BASED GEOPOLYMER CONCRETE Djwantoro Hardjito; Steenie E Wallah; Dody M.J. Sumajouw; B.V Rangan
Civil Engineering Dimension Vol. 6 No. 2 (2004): SEPTEMBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.836 KB) | DOI: 10.9744/ced.6.2.pp. 88-93

Abstract

This paper describes the effects of several factors on the properties of fly ash based geopolymer concrete, especially the compressive strength. The test variables included were the age of concrete, curing time, curing temperature, quantity of superplasticizer, the rest period prior to curing, and the water content of the mix. The test results show that the compressive strength of geopolymer concrete does not vary with age, and curing the concrete specimens at higher temperature and longer curing period will result in higher compressive strength. Furthermore, the commercially available Naphthalene-based superplasticizer improves the workability of fresh geopolymer concrete. The start of curing of geopolymer concrete at elevated temperatures can be delayed at least up to 60 minutes without significant effect on the compressive strength. The test data also show that the water content in the concrete mix plays an important role.
Creep Behaviour of Fly Ash-Based Geopolymer Concrete Wallah S.E.
Civil Engineering Dimension Vol. 12 No. 2 (2010): SEPTEMBER 2010
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.575 KB) | DOI: 10.9744/ced.12.2.73-78

Abstract

Fly ash-based geopolymer concrete is manufactured using fly ash as its source material and does not use Portland cement at all. Beside fly ash, alkaline solution is also utilized to make geopolymer paste which binds the aggregates to form geopolymer concrete. This paper presents the study of creep behaviour of fly ash-based geopolymer concrete. Four series of specimens with various compressive strengths were prepared to study its creep behaviour for the duration of test up to one year. The test method followed the procedures applied for Ordinary Portland Cement (OPC) concrete. Test results show that fly ash-based geopolymer concrete undergoes low creep which is generally less than that of OPC concrete. After one year of loading, the results for specific creep of fly ash-based geopolymer concrete in this study ranges from 15 to 29 microstrain for concrete compressive strength 67–40 MPa respectively. From the test results, it is also found out that the creep coefficient of fly ash-based geopolymer concrete is about half of that predicted using Gilbert’s Method for OPC concrete.
Perencanaan Struktur Beton Bertulang Gedung Rumah Sakit 7 Lantai Di Kota Manado Sandea Rerung; Steenie E. Wallah; Ronny E. Pandaleke
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Indonesia memiliki tingkat resiko kegempaan yang tinggi, hal ini membuat perencanaan suatu struktur gedung bertingkat yang tahan gempa sangatlah penting di Indonesia. Ketika bencana gempa bumi terjadi maka gaya gempa akan bekerja sebagai beban lateral pada struktur gedung bertingkat diatasnya. Struktur gedung bertingkat akan mengalami pergerakan secara vertikal maupun secara lateral. Pergerakan struktur secara vertikal relatif kecil pada umumnya, sedangkan pergerakan secara lateral sangat berisiko tinggi terhadap keruntuhan struktur gedung. Struktur bangunan yang direncanakan adalah struktur gedung beton bertulang yang merupakan bangunan bertingkat, terdiri dari 7 lantai dengan panjang bangunan 60,00 m, lebar bangunan 24,00 m, dan tinggi 34,50 m. Letak gedung berada di Kota Manado, Sulawesi Utara, dimana nilai SDS dan SD1 di Kota Manado adalah sebesar 0,7525 dan 0,5696. Jenis tanah dikategorikan sebagai tanah sedang (SD) berdasarkan pengujian dilapangan dimana didapat nilai rata-rata SPT yaitu 41,16 sehingga kategori desain seismik masuk ke kategori “D”. Direncanakan komponen struktur menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Komponen Struktur atas yang direncanakan terdiri dari balok, kolom, dinding geser, pelat dan tangga serta komponen struktur bawah yaitu fondasi dalam. Perhitungan beban mati, beban hidup dan beban hujan mengikuti SNI 1727:2020. Beban gempa akan dianalisis secara statik dan dinamis mengikuti persyaratan dari SNI 1726:2019, perencanaan komponen struktur atas dan bawah gedung mengikuti persyaratan dari SNI 2847:2019 dan SNI 8460:2017. Pemodelan dan analisis struktur menggunakan Software ETABS Ultimate V.18.1.1 dengan pemodelan 3D. Berdasarkan hasil analisis dan desain yang telah dilakukan, struktur gedung telah memenuhi persyaratan keamanan. Komponen struktur dengan penulangannya dapat menahan gaya lentur dan gaya geser yang bekerja pada penampang, dan telah mengikuti persyaratan pendetailan dalam (SRPMK) untuk mendapatkan struktur yang bersifat daktail. Dengan demikian persyaratan perencanaan struktur gedung bertingkat beton bertulang menggunakan sistem rangka pemikul momen khusus telah terpenuhi. Kata kunci – perencanaan gedung, beton bertulang, SRPMK, ETABS
STUDI KOMPARASI KINERJA GEDUNG BERTINGKAT SISTEM GANDA RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS DAN MENENGAH DI KOTA MANADO Abdul Ahad Ghifar Ente; Marthin Dody Josias Sumajouw; Steenie Edward Wallah
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.12.1.6134.53-65

Abstract

Seismic designs for high-rise buildings in the city of Manado, are generally designed using a special reinforced concrete moment frames, but looking at the requirements of SNI 1726-2019 in the city of Manado with seismic design category D, multi-storey building plans can be designed using a dual systems with intermediate moment frames by paying attention to the building height limit of 48 meters. This study will compare the planning efficiency of a dual systems with intermediate moment frames to that of a dual systems with special moment frames in terms of dimensions, details of reinforcement and structural performance with a building height not exceeding 48 meters. The building simulation has a building length and width of 35 x 25 meters, then the height between floors is 4 meters with a building height of 16 meters (Low Rise Building/LRB), 32 meters (Middle Rise Building/MRB) and 48 meters (High Rise Building/HRB). The ratio of the longitudinal reinforcement area of the beam elements in the double system of intermediate moment frames is not more efficient than the double system of special moment bearing frames with the respective efficiency levels in the HRB, MRB and LRB models being -13.33%, -12.95% and -5.00%. Comparison of area of transverse reinforcement of column elements Double Intermediate Moment Resisting Frames are more efficient than Special Moment Bearing Double Systems with their respective efficiency levels in the HRB model. MRB and LRB is 18.35%. 19.47% and 34.68%. Comparison of structural performance in the Dual Intermediate Moment Resisting Frame system is more efficient than the Special Moment Resisting Double Frame System with an efficient rate of 22.85% for each model HRB, MRB and LRB. 20.95% and 12.63% in the X direction and 25.43%. 21.89% and 17.97% in the Y direction.
Analisis Pengaruh Pencampuran Nanomaterial: Graphene Oxide Terhadap Kuat Tekan Beton Berly A. Kalembiro; Reky S. Windah; Steenie E. Wallah
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton merupakan bahan konstruksi yang sangat penting dan paling dominan digunakan dalam pembangunan struktur bangunan. Dalam beberapa kasus, campuran beton memerlukan penggunaan bahan tambahan untuk meningkatkan kinerjanya, terutama dalam hal kuat tekan beton. Salah satu bahan tambahan yang menarik perhatian adalah graphene oxide, sebuah material baru yang ditemukan dalam dunia nanoteknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan graphene oxide terhadap kekuatan beton melalui pengujian kuat tekan. Graphene oxide disintesis dari grafit menggunakan metode Liquid Phase Exfoliation (LPE), dan karakterisasi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, dengan puncak absorbansi yang diperoleh pada panjang gelombang 224,70 nm. Pada tahap pengujian kuat tekan beton, dilakukan variasi presentase penambahan graphene oxide sebesar 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,2% dari berat semen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan graphene oxide sebesar 0,1% dan 0,2% menghasilkan peningkatan kuat tekan beton sebesar 5,187% dan 10,136% dibandingkan dengan beton tanpa penambahan graphene oxide. Namun, pada presentase 0,05% terjadi penurunan kuat tekan sebesar 2,231% dari beton tanpa penambahan graphene oxide. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan potensi positif dari penggunaan graphene oxide dalam meningkatkan kekuatan beton. Kata kunci: graphene oxide, kuat tekan, liquid phase exfoliation
Analisa Dinamik Bangunan Bertingkat Yang Memiliki Ketidakberaturan Horisontal Berbentuk T Akibat Gempa Berdasarkan SNI 1726:2019 Christoffel Tanauma; Reky S. Windah; Steenie E. Wallah
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gempa yang terjadi dapat mengakibatkan deformasi pada struktur bangunan yang bisa menyebabkan suatu struktur mengalami kerusakan. Penggunaan struktur yang tidak beraturan dapat mempengaruhi kestabilan suatu struktur sehingga deformasinya akan lebih besar. Gedung dengan denah bentuk T adalah salah satu model struktur dengan ketidakberaturan horizontal. Struktur yang direncanakan adalah struktur gedung beton bertulang yang difungsikan sebagai gedung perkantoran yang berlokasi di Kota Manado, Sulawesi Utara. Analisis dilakukan pada gedung dengan 1 model denah tipikal beraturan dan 3 model denah tipikal berbentuk T dengan luas denah yang sama yaitu 1944m2. Untuk menganalisis struktur gedung tiap model digunakan metode analisis dinamik respons spektrum ragam sesuai dengan SNI 1726:2019. Gaya geser dasar hasil analisis dinamik respons spektrum ragam pada model D gedung berbentuk T dengan proyeksi sudut dalam arah Y sebesar 75% mengalami penurunan sebesar 708kN untuk arah X dibandingkan dengan model A gedung beraturan. Gedung berbentuk T yang kemudian dilakukan variasi peningkatan proyeksi sudut dalam pada arah Y menyebabkan peningkatan nilai simpangan arah X yang tegak lurus dari arah proyeksi sudut dalam dibandingkan dengan pemodelan beraturan model A dengan peningkatan simpangan yang mencapai 12,25% pada model D dengan proyeksi sudut dalam terbesar, yaitu 75%. Semakin besar proyeksi sudut dalam pada suatu bangunan, semakin besar pula simpangan yang terjadi. Kata kunci: bangunan bertingkat, ketidakberaturan, ETABS, analisa dinamik respons spektrum ragam
Analisis Pengaruh Variasi Molaritas NaOH Terhadap Kuat Tekan Dan Modulus Elastisitas Pada Eksperimen Beton Geopolimer Berbasis Abu Terbang (Fly Ash) Theyni J. Korompis; Steenie E. Wallah; Servie O. Dapas
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berangkat dari usaha untuk mengurangi peningkatan emisi rumah kaca dan mencari substitusi yang tepat untuk menggantikan semen sebagai salah satu material penyusun beton, penelitian dilakukan terhadap abu terbang (fly ash) dimana NaOH dan Na2SiO3 yang direksikan dengan Si dan Al yang terkandung di dalam abu terbang dapat menghasilkan pengikat (binders) menggantikan semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi molaritas larutan NaOH terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton geopolimer berbasis abu terbang (fly ash). Variasi molaritas larutan NaOH yang akan digunakan adalah 8 M, 10 M, 12 M dan 14 M dengan usia perawatan beton selama 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Sementara itu untuk metode curing adalah dengan curing oven selama 24 jam pada suhu 90O. Dari hasil analisis regresi linear berganda terhadap beton geopolimer dengan usia perawatan 7 dan 14 hari, dapat dibuktikan bahwa variasi molaritas larutan NaOH berpengaruh terhadap kuat tekan beton geopolimer, dimana nilai signifikansi koefisien adalah 0,000 < 0,025. Sementara itu, untuk modulus elastisitas hasil analisis regresi linear berganda terhadap beton geopolimer dengan usia perawatan 7 dan 14 hari menunjukkan bahwa variasi molaritas larutan NaOH tidak berpengaruh terhadap nilai modulus elastisitas, dimana nilai signifikansi koefisien yang di dapat adalah 0,498 > 0,025. Kata kunci – Beton Geopolimer, Fly Ash, Variasi Molaritas, Kuat Tekan, Modulus Elastisitas, Regresi Linear Berganda
Pengaruh Perawatan Terhadap Kuat Tekan Beton Geopolimer Berbasis Kaolin Hendrico J. Waraba; Steenie E. Wallah; Reky S. Windah
TEKNO Vol. 21 No. 86 (2023): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v21i86.52442

Abstract

Beton geopolimer adalah beton yang diaktifkan dengan alkali yang didalamnya yaitu silika dan alumina. Bahan dasar yang digunakan pada penelitian ini yaitu kaolin. Pada penelitian ini, disubstitusi sebagian kecil semen jenis portland composite cement (PCC) sebanyak 15% dari komposisi binder. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa jenis curing pada kuat tekan beton geopolimer yang diteliti dengan bahan dasar kaolin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan percobaan yang dilaksanakan di Laboratorium Struktur dan Material Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan variasi perawatan yaitu (room temperature curing) selama 24 jam dan (elevated temperature curing) pada suhu 60˚C selama 6 jam & 24 jam ; suhu 90˚C selama 6 jam & 24 jam. Waktu pengujian kuat tekan beton geopolimer berumur 7, 14, & 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuat tekan beton geopolimer berbasis kaolin terjadi kenaikkan yang signifikan pada perawatan suhu oven (room temperature curing) 60˚C 24 jam pada umur 28 hari. Kuat tekan beton geopolimer yang dihasilkan dengan rata-rata adalah sebesar 26,74 MPa. Sedangkan perawatan suhu ruangan (room temperature curing) selama 24 jam memiliki nilai kuat tekan beton geopolimer yang kenaikannya tidak signifikan, namun cukup dibilang stabil karena kenaikan kuat tekannya meningkat pada lamanya umur beton tersebut. Kata kunci : Beton Geopolimer, Kaolin, Kuat Tekan, Room Temperature Curing, Elevated Temperature Curing
Co-Authors Abdul Ahad Ghifar Ente Adrian David Tumelap, Adrian David ADRIANA KARUNDENG Alow, Grace Ruth Andre Kusuma Putra B.V Rangan Banu Dwi Handono, Banu Dwi Berly A. Kalembiro Berny Andreas Engelbert Rumimper Bonny M. M. Ointu Braien Octavianus Majore, Braien Octavianus Chandra Hansun Tanudjaja Christian Eko Wior, Christian Eko Christoffel Tanauma Christy Nathalie Brenda Turambi, Christy Nathalie Brenda Dalo, Yohanes Debrito Diane Sumendap Djwantoro Hardjito Dody M.J. Sumajouw Ellen J. Kumaat Febrianti Kumaseh, Febrianti Femmy Nurul Akbar Feraldy F. X. Wongkar Filia Eunike Sofia Paat Fillino Erwinsyah Franky G. T. Mamuaja Freddy Jansen Gabriel Bridges Rerungan Grevardo Febrigiano Laheba Griebel H. Rompas Gumalang, Stevanny H. Manalip Handy Yohanes Karwur Hanock Tanudjaja Harahap, John. Th. Hendrico J. Waraba Herawaty Riogilang Hieryco Manalip Hizkia Yehezkiel Mamesah Janre Henry Mentang Jorry D. Pangouw Kaat, Brandon Christofer Kembuan, Patricia Khonado, Monica Fransisca Kojongian, Alexandro Mark Kosakoy, Merry N. M. Laily, Rivaldo Lelyani Kin Khosama Lerry M. N. Gerung Liando, Frinsilia Jaglien Lucia Lefrandt Lukar, Stevania Elisabeth Claudia M. J. Paransa Malino, Leonardus Mamesah, Yoshua Immanuel Manalip, H Manossoh, Gevin Brave Marthin D. J. Sumajouw Marthin D. J. Sumajouw Marthin Dody Josias Sumajouw Merry N. M. Kosakoy Mielke R. I. A. J. Mondoringin, Mielke R. I. A. J. Mikael Lumban Batu, Mikael Miza, Sisilia Dwi Sartika Mondoringin, Mielke R. I. A. Muhammad Q. Minabari Nelwan, Intan Tiara Ni Ketut Suputri Novi Angjaya Ondang, Celien Quinli Pandegiroth, Yonathan Papulele, Fernando Willem Gamaliel Pati, Maria Sari Pesik, Estty Rodianti Potalangi, Jessen G. Prijantoro, Johanes P. E. Prins, Muhammad Immalombassi Putra, Riski Yendrawan Reky S. Windah Reky S. Windah Rico Daniel Sumendap, Rico Daniel Ronny E. Pandaleke Ronny E. Pandaleke Ronny Pandaleke Rosie Arizki Intan Sari Ruddy Tenda Rudolvo Wenno Sandea Rerung Sandri Linna Sengkey Sembiring, Andrew Yeheskiel Servie O. Dapas Servie O. Dapas Sesty E. J. Imbar Sharon Ruth Toreh, Sharon Ruth Slat, Ventje Berty Soentpiet, Bill Johan Sondakh, Chichilya S.P. Steven Limbongan, Steven Sumajouw, Angga Josua Sumajouw, M. D.J Sumampouw, Franco Michael Takapente, Giano N. O. Tambingon, Fiki Riki Tampi, Jeanicha Christiani Tandiono, Million Tenda, Rudy Theyni J. Korompis Tjoanto, Roynaldo Vanessa Irena Kullit Vilty Stilvan Karundeng, Vilty Stilvan Wakkary, Satya Eliazer Donatus Winny J. Tamboto Yacob Yonadab Manuhua, Yacob Yonadab Yustina Yuliana Ria Salonde, Yustina Yuliana Ria