p-Index From 2021 - 2026
7.155
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : nalars

AN OPTIMALIZATION OF NATURAL LIGHTING BY APPLYING AUTOMATIC LIGHTING USING MOTION SENSOR AND LUX SENSOR FOR HISTORICAL OLD BUILDINGS Bahri, Saeful; Purwantiasning, Ari Widyati
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   One of the problems that occurs within city centres, particularly within capital cities, is the existence of many historical old buildings. Historical old buildings within city centres, that have abandoned for years because of their condition, suffer from a lack of utilities, infrastructure and facilities [2][3]. These conditions occur because of low levels of maintenance arising as a consequence of a lack of finance of the owner of a building, be they government or private sector. To solve the problem of abandoned historical old buildings, the concept of adaptive reuse can be adopted and applied. This concept of adaptive reuse may continously cover the cost of building maintenance. The adaptive reuse concept usually covers the interior of a building and its utilities, though the need for utilities depends on the function of a building [4]. By adopting a concept of adaptive reuse, new building functions will be designed as the needs and demand of the market dictate, and which is appropriate for feasibility study. One utility element that has to be designed for historical old buildings is the provision of lighting within a building. To minimize the cost of building maintenance, one of the solutions is to optimize natural lighting and to minimize the use of artificial lighting such as lamps. This paper will discuss the extent to which artificial lighting can be minimized by using automatic lighting; the automatic lighting types discussed in this paper are lighting controlled by motion sensor and lux sensor.  Keywords: Natural lighting, automatic lighting, motion sensor, lux sensor, historical old buildings ABSTRAK Salah satu permasalahan yang muncul dalam sebuah kota metropolitan, khususnya sebuah ibukota adalah keberadaan dari banyaknya bangunan-bangunan tua bersejarah. Bangunan-bangunan tua bersejarah dalam sebuah kota besar terutama yang diabaikan selama bertahun-tahun biasanya disebabkan karena kondisinya yang menua, minimnya utilitas bangunan, infrastruktur bangunan dan juga fasilitas-fasilitas yang mendukungnya [2][3]. Kondisi ini muncul karena rendahnya tingkat pemeliharaan yang biasanya muncul sebagai akibat dan konsekuensi karena minimnya dana anggaran dari pihak pemilik bangunan baik pemerintah daerah, pusat maupun sector swasta. Untuk mengatasi masalah ini, konsep adaptive reuse dapat diadopsi dan diaplikasikan pada kawasan yang memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah ini. Konsep adaptive reuse dapat secara berkelanjutan memenuhi dan mengatasi permasalahan pemeliharaan bangunan dalam hal finansial. Konsep ini biasanya meliputi ruang dalam bangunan dan utilitas yang ada di dalam bangunan tersebut tergantung dari kebutuhan dan fungsi dari bangunan yang akan diaplikasikan konsep tersebut [4]. Dengan mengadopsi konsep adaptive reuse, fungsi bangunan baru dapat direncanakan sesuai kebutuhan dan permintaan pasar sehingga sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan. Salah satu elemen utilitas bangunan yang dapat dirancang untuk bangunan-bangunan tua bersejarah adalah kebutuhan pencahayaan di dalam sebuah bangunan. Untuk meminimalisir biaya pemeliharaan bangunan, salah satu solusinya adalah dengan mengoptimalkan pencahayaan alami dan meminimalisir penggunaan cahaya buatan seperti lampu. Tulisan ini akan mendiskusikan seberapa jauh pencahayaan buatan dapat diminimalisir dengan menggunakan pencahayaan otomatis, dimana dalam tulisan ini akan dibahas mengenai control pencahayaan dengan menggunakan motion sensor atau sensor gerak dan lux sensor atau sensor cahaya.    Kata Kunci: pencahayaan alami, pencahayaan otomatis, motion sensor, lux sensor, bangunan tua bersejarah 
AN OPTIMALIZATION OF NATURAL LIGHTING BY APPLYING AUTOMATIC LIGHTING USING MOTION SENSOR AND LUX SENSOR FOR HISTORICAL OLD BUILDINGS Saeful Bahri; Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.131-140

Abstract

ABSTRACT One of the problems that occurs within city centres, particularly within capital cities, is the existence of many historical old buildings. Historical old buildings within city centres, that have abandoned for years because of their condition, suffer from a lack of utilities, infrastructure and facilities [2][3]. These conditions occur because of low levels of maintenance arising as a consequence of a lack of finance of the owner of a building, be they government or private sector. To solve the problem of abandoned historical old buildings, the concept of adaptive reuse can be adopted and applied. This concept of adaptive reuse may continously cover the cost of building maintenance. The adaptive reuse concept usually covers the interior of a building and its utilities, though the need for utilities depends on the function of a building [4]. By adopting a concept of adaptive reuse, new building functions will be designed as the needs and demand of the market dictate, and which is appropriate for feasibility study. One utility element that has to be designed for historical old buildings is the provision of lighting within a building. To minimize the cost of building maintenance, one of the solutions is to optimize natural lighting and to minimize the use of artificial lighting such as lamps. This paper will discuss the extent to which artificial lighting can be minimized by using automatic lighting; the automatic lighting types discussed in this paper are lighting controlled by motion sensor and lux sensor.Keywords: Natural lighting, automatic lighting, motion sensor, lux sensor, historical old buildingsABSTRAK Salah satu permasalahan yang muncul dalam sebuah kota metropolitan, khususnya sebuah ibukota adalah keberadaan dari banyaknya bangunan-bangunan tua bersejarah. Bangunan-bangunan tua bersejarah dalam sebuah kota besar terutama yang diabaikan selama bertahun-tahun biasanya disebabkan karena kondisinya yang menua, minimnya utilitas bangunan, infrastruktur bangunan dan juga fasilitas-fasilitas yang mendukungnya [2][3]. Kondisi ini muncul karena rendahnya tingkat pemeliharaan yang biasanya muncul sebagai akibat dan konsekuensi karena minimnya dana anggaran dari pihak pemilik bangunan baik pemerintah daerah, pusat maupun sector swasta. Untuk mengatasi masalah ini, konsep adaptive reuse dapat diadopsi dan diaplikasikan pada kawasan yang memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah ini. Konsep adaptive reuse dapat secara berkelanjutan memenuhi dan mengatasi permasalahan pemeliharaan bangunan dalam hal finansial. Konsep ini biasanya meliputi ruang dalam bangunan dan utilitas yang ada di dalam bangunan tersebut tergantung dari kebutuhan dan fungsi dari bangunan yang akan diaplikasikan konsep tersebut [4]. Dengan mengadopsi konsep adaptive reuse, fungsi bangunan baru dapat direncanakan sesuai kebutuhan dan permintaan pasar sehingga sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan. Salah satu elemen utilitas bangunan yang dapat dirancang untuk bangunan-bangunan tua bersejarah adalah kebutuhan pencahayaan di dalam sebuah bangunan. Untuk meminimalisir biaya pemeliharaan bangunan, salah satu solusinya adalah dengan mengoptimalkan pencahayaan alami dan meminimalisir penggunaan cahaya buatan seperti lampu. Tulisan ini akan mendiskusikan seberapa jauh pencahayaan buatan dapat diminimalisir dengan menggunakan pencahayaan otomatis, dimana dalam tulisan ini akan dibahas mengenai control pencahayaan dengan menggunakan motion sensor atau sensor gerak dan lux sensor atau sensor cahaya.Kata Kunci: pencahayaan alami, pencahayaan otomatis, motion sensor, lux sensor, bangunan tua bersejarah
TELAAH HERITAGE TRAIL SEBAGAI SARANA EDUKASI STUDI PRESEDEN: HONG KONG HERITAGE TRAIL Ari Widyati Purwantiasning; saeful bahri
NALARs Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.1.49-62

Abstract

ABSTRAK.  Paparan ini merupakan bagian dari studi literatur dan kajian mengenai apa itu heritage trail dan bagaimana heritage trail memiliki andil besar dalam upaya pelestarian Kawasan bersejarah. Beberapa teori tentang heritage trail akan dipaparkan dalam tulisan ini dan sebuah studi preseden akan dikaji mendalam sebagai sebuah contoh penerapan kegiatan atau konsep heritage trail yang dianggap berhasil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah bagaimana sebuah konsep heritage trail dapat diterapkan sebagai sarana edukasi terutama yang berkaitan dengan Kawasan bersejarah, pelestarian cagar budaya, peninggalan bangunan-bangunan cagar budaya dan tentunya sejarah dari masing-masing bangunan cagar budaya tersebut. Tinjauan yang dilakukan terhadap sebuah studi preseden yaitu Hong Kong Heritage Trail yang diangkat dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif naratif, dimana Saya mencoba memaparkan studi preseden tersebut dengan mengulasnya melalui pendekatan eksplorasi, observasi langsung dan melakukan pengamatan dan pengalaman ruang arsitektur secara langsung. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan wacana lebih luas bagi semua kalangan sehingga dapat lebih memahami bahwa kegiatan heritage trail tidak hanya berkaitan dengan bidang ilmu sejarah atau budaya saja, namun juga dapat bersinggungan dengan bidang arsitektur terutama yang berkaitan dengan pengalaman ruang arsitektur. Kata Kunci: Kawasan bersejarah, heritage trail, Hong Kong, arsitektur, cagar budaya
KAJIAN PERMEABILITAS KAWASAN BERSEJARAH KOTA LAMA SEMARANG Ari Widyati Purwantiasning; Saeful Bahri; Dewinta Firda Giriana; Mutia Setya Wardany
NALARs Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.24.2.145-152

Abstract

Dalam sebuah kota terdapat Kawasan bersejarah yang merupakan salah satu elemen pembentuk kota. Kota adalah daerah dengan penduduk padat yang tinggal dan bergerak di suatu daerah. Sebuah kota dibentuk berdasarkan faktor permeabilitas. Faktor permeabilitas itu sendiri termasuk blok bangunan, lebar jalur, dan koneksi jalur sirkulasi. Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kota budaya yang luas, penerapan unsur citra kota perlu dipelajari terkait penerapannya pada kota tua. Objek penelitian berada di Kota Lama Semarang yang merupakan kawasan budaya dengan tujuan untuk dapat mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan penerapan permeabilitas di kota ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian menggunakan pemetaan dan deskriptif. Metode ini digunakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk mendapatkan data. Setiap elemen kota saling terkait satu sama lain, setiap elemen kota telah berhasil membuat Kota Lama Semarang memiliki identitas kota yang dapat dilihat oleh para migran. Elemen citra kota ini perlu dipertahankan dengan baik agar tetap terpelihara dengan baik di masa depan. In a city, there is a historical place that is one of the forming elements. A town is an area with a dense population that lives and moves in. A city is formed based on permeability factors. Permeability factors themselves include building blocks, path width, and circulation path connections. The Semarang Old Town area is a vast cultural town, and the application of town image elements needs to be studied regarding its application to the old city. The object of research is in Semarang Old Town, a cultural area, to identify, understand, and explain the application of permeability in this town. This research employs a qualitative descriptive method, utilizing a research approach that involves mapping and description. This method is used to obtain the maximum results for data collection. Every element of the town is interconnected, and each component has contributed to Semarang Old Town's unique identity, which is evident to migrants. This element of the town's image needs to be appropriately maintained to remain well-maintained in the future.
KAJIAN PERMEABILITAS KAWASAN BUKIT BINTANG, MALAYSIA Ari Widyati Purwantiasning; Saeful Bahri; Ahmad Rivai Fachrudin; ghifary ghifary
NALARs Vol. 25 No. 2 (2026): NALARs Volume 25 Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the concept of permeability in the Bukit Bintang area, Malaysia, by relating it to the principles of community architecture. The main focus of this study is on the interaction between building blocks, circulation, and lane width, as well as how these elements contribute to social interaction and mobility in the area. Regional permeability is essential in creating an environment that supports interconnectedness between individuals and communities. The methodology used includes field observation, circulation mapping, and spatial analysis to evaluate the dynamics of movement in Bukit Bintang. The results show that building block designs that take into account community architectural principles, such as connectivity and accessibility, can improve user experience and encourage social interaction. Ample width and open public spaces contribute to the creation of an inclusive environment, where individuals can interact more freely. These findings emphasize the importance of designing that takes into account the needs of the community to create efficient and user-friendly public spaces. The recommendations of the study include improved connectivity between building blocks and the development of wider pedestrian paths, as well as the provision of open space that supports community activities. This research is expected to contribute to the design of a city that is more responsive to the needs of the community, as well as support the sustainable development of the area and strengthen social relations in Bukit Bintang.
Co-Authors Achmad Fauzi Agus Sutisna Agus Yulianto Ahmad Nur Faizin Ahmad Rivai Fachrudin Ahmad Yusuf Al-Amin, Roby Andhika Darmawan Andi Riyanto Andi Zulfa Majida Andia Ridho Arif Anisa Anisa Anwar Ilmar Ramadhan Arafah, Sitti Ari Widyati Purwantiasning Ari Widyati Purwantiasning Arief, Dasya As. Rakhmad Idris, As. Rakhmad Asep Saefullah Ashadi Buana, Muhammad Cakra Chairul Anwar Dede Burhanudin, Dede Dede Wintana Dewinta Firda Giriana Eka Ratna Safitri Endang Juliastuti Erwin Dermawan Fadliondi Faris, Nahrul Febby Angga Permana, Febby Angga Fikriyah, Kholisotu ghifary ghifary Gunawan Gunawan Gunawan Hardivizon Hardivizon Haris Isyanto Heri Kusindaryadi Husnaini Zulvian Husnibes Muchtar Husnibes Muchtar Iqbal Fadhilah Jahdiah Jahdiah, Jahdiah Jihan Sonia Khaerurani Nur Asyifa Kokom Komariah Kumala Sari, Eva Dwi Lis Saumi Ramdhani Mahmudah Nur, Mahmudah Masitoh, Rikha Masyitoh Miftahul Janah Mochamad Noorman Bayuardi Moh.Badrul Alam Muhamad Rosadi, Muhamad Muhammad Akbar Rafsyanjani Muhammad Cakra Buana Muhammad Fachri Muhammad Hidayat Nur Wahid Muhammad Miftahussalam Muhammad Pasya Mutawakkil Musyfikah Ilyas Mutia Setya Wardany Nanda Alifia Nasruhi, Moch. Nugraha, Setyo Bagus Nursugiharti, Titih Pangestu, Agis Panggalih Sako Denta Pindha Kaptiningrum Pribadi, Denny Purwono Purwono Putra Arista Pratama, Putra Putra Septia Yuza Rafsyanjani, Muhammad Akbar Raya Putra Samsara Ridwan ridwan Riza Samsinar Rizal Amegia Saputra Rizka Amalia Roch Aris Hidayat, Roch Aris Rusda Wajhillah, Rusda Ruslan Abdul Gani Safei, Mawar Satia Suhada, Satia Setiawan, Sandy Sinta Nur Hilali Sinuraya, Junus SITI KHOLIFAH Siti Nurohmah Sri Endah Wahyuningsih Sri Wuli Fitriati Sriyadi Sriyadi, Sriyadi Stefani Kusuma Dewi Suhardiyanto Suhardiyanto, Suhardiyanto Sulaeman, Hamdun Sumarno, Ardawi Suprijanto Suprijanto Sururi Syarifah Fadillah Rezky Syibromalisi, Arif Taufik Hidayatulloh Tsaura Halwa Qur'ani Tuffahati, Wafa W, Widhiyanto Wahyu Ibrahim Widayati Widhiyanto Yogi Haryono Yulianto Yuri Rahayu Ziaul Fiqih, Ziaul