Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN RUMAH TANGGA MELALUI ECOLOGICAL LITERACY DAN PRODUKSI ECO-DETERGENT DI DESA JATIROKE, SUMEDANG, JAWA BARAT Sarasi, Vita; Yulianti, Dina; Saefulhadjar, Deny; Aswandari, Desi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.67627

Abstract

Single-use detergent packaging has become a serious environmental and economic issue for rural communities. This condition is further exacerbated by the low level of ecological literacy and the high dependence of households on industrial detergent products. In response to this issue, this community service activity, conducted through the Integrative Student Community Service–Community Learning and Empowerment Program (KKN–PPM) of Universitas Padjadjaran, aimed to improve ecological literacy while strengthening household economic resilience through training in the production of eco-detergent. The activity was carried out in Jatiroke Village, Sumedang Regency, using a Participatory Action Research (PAR) approach involving residents, local groups such as PKK and Karang Taruna, and university facilitators. The training materials included education on the environmental impacts of plastic waste, household financial literacy, and practical sessions on producing eco-detergent using natural ingredients, such as coconut-based surfactants and fruit enzymes. The novelty of this program lies in its integration of ecological literacy, household economic efficiency, and locally based eco-detergent production practices within a participatory empowerment model. The results showed a reduction in household detergent expenditure of up to 50% and a decrease in plastic waste of 90–95%. In addition, the program improved participants' understanding of sustainable consumption and encouraged the formation of community groups capable of producing eco-detergent independently. These findings indicate that households can serve not only as targets of environmental education but also as key actors in developing sustainable consumption practices that are economical, practical, and potentially replicable in other villages.Kemasan deterjen sekali pakai menjadi salah satu persoalan lingkungan sekaligus ekonomi yang cukup serius bagi masyarakat pedesaan. Kondisi tersebut diperparah oleh masih rendahnya literasi ekologis serta tingginya ketergantungan rumah tangga terhadap produk deterjen industri. Berangkat dari kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN–PPM) Integratif Universitas Padjadjaran ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan literasi ekologis sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga melalui pelatihan pembuatan eco-detergent atau deterjen ramah lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Jatiroke, Kabupaten Sumedang, dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan warga, kelompok lokal seperti PKK dan Karang Taruna, serta fasilitator dari universitas. Materi pelatihan mencakup edukasi mengenai dampak limbah plastik, literasi keuangan rumah tangga, serta praktik pembuatan eco-detergent berbahan alami, seperti surfaktan kelapa dan enzim buah. Kebaruan kegiatan ini terletak pada integrasi antara literasi ekologis, efisiensi ekonomi rumah tangga, dan praktik produksi eco-detergent berbasis bahan lokal dalam satu model pemberdayaan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan pengeluaran deterjen rumah tangga hingga 50% serta pengurangan limbah plastik sebesar 90–95%. Selain itu, program ini juga meningkatkan pemahaman peserta tentang konsumsi berkelanjutan dan mendorong terbentuknya kelompok warga yang mampu memproduksi eco-detergent secara mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa rumah tangga tidak hanya berperan sebagai sasaran edukasi lingkungan, tetapi juga sebagai aktor utama dalam membangun praktik konsumsi berkelanjutan yang ekonomis, aplikatif, dan berpotensi direplikasi di desa lain.