Claim Missing Document
Check
Articles

Pemanfaatan Strata Hutan oleh Tikus Ekor Putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Utilization of Forest Strates by White Equipment Rats (Maxomys hellwaldii) in Klabat Mountain North Minahasa Distric, North Sulawesi) Rumanasen, Baren; Saroyo, Saroyo; Maabuat, Pience
JURNAL BIOS LOGOS Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BIOSLOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.9.1.2019.23368

Abstract

Pemanfaatan Strata Hutan oleh Tikus Ekor Putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara(Utilization of  Forest Strates by White Equipment Rats (Maxomys hellwaldii) in Klabat Mountain North Minahasa Distric, North Sulawesi) Baren Anggyon Rumanasen1)*, Saroyo1), Pience Maabuat1)1)Program Studi Biologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi, Manado 95115*Email korespondensi: rumanasenanggy@gmail.com Diterima  15 Januari 2019, diterima untuk publikasi 28 Februari 2019 Abstrak Tikus ekor putih (Maxomys hellwaldii) adalah hewan endemik Sulawesi, yang oleh IUCN status konservasinya masih kurang diperhatikan. Ancaman utama tikus ekor putih adalah perburuan untuk dijual.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan strata hutan oleh tikus ekor putih (Maxomys hellwaldii) di Gunung Klabat Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Pengamatan menggunakan metode garis transek, dua garis transek dibuat masing-masing pada hutan primer dan hutan sekunder, panjang garis transek masing-masing 2 km dengan lebar 20 m. Hasil penelitian menunjukkan di hutan primer tikus ekor putih memanfaatkan stratum B sebesar 7,59%, dan stratum C 92,40%. Pada hutan sekunder tikus ekor putih memanfaatkan stratum C sebesar 100%. Aktivitas yang dilakukan tikus ekor putih pada hutan primer, mencari makan sebesar 56,96%, aktivitas berpindah sebesar 30,37%, aktivitas makan sebesar 5,06%, dan aktivitas istirahat sebesar 7,59%. Pada hutan sekunder, sebesar 15,06%, aktivitas makan (2,73%),dan aktivitas istirahat sebesar 27,39%.Kata kunci: tikus ekor putih, aktivitas, strata hutan, Gunung Klabat Abstract White-tailed mice (Maxomys hellwaldii) are endemic to Sulawesi, which by the IUCN (The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) still lacks attention to conservation status. The main threat to white-tailed mice is hunting for sale. The study used the transect line method, two transect lines were made in primary forest and two transect lines were made in secondary forest, the length of the transect line was 2 km in width and 20 m in width. The results showed that in primary forest white-tailed mice made use of stratum B of (7.59%), and stratum C was (92.40%). Whereas in the secondary forest white tail rats only use the C stratum, which is equal to 100%. Activities carried out by white-tailed rats were in primary forests, foraging for (56.96%), moving activities by (30.37%), eating activities by (5.06%), and resting activities at (7.59 %). In secondary forests, white-tailed mice looked for food (54.79%), shifting activity (15.06%), eating activities (2.73%), and resting activities (27.39%).Keywords: white-tailed mice, activity, forest strates, Klabat Mountain
Konsumsi Mamalia, Burung, dan Reptil Liar Pada Masyarakat Sulawesi Utara dan Aspek Konservasinya Saroyo, Saroyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.373

Abstract

AbstrakSurvei ini dilaksanakan untuk menginventarisasi jenis-jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara dalam kaitannya dengan aspek konservasi dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dari tahun 2006 sampai 2010 berdasarkan jenis-jenis yang diperdagangkan di pasar-pasar tradisional, kasus perburuan satwa liar, dan jenis-jenis yang disediakan dalam menu masyarakat pada pesta-pesta adat. Dari survei diperoleh hasil terdapat 39 jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Konsumsi satwa liar telah menjadi kebiasaan bagi bagi masyarakatnya dan merupakan faktor utama penyebab penurunan populasi satwa liar. Banyak jenis satwa yang dikonsumsi, beberapa termasuk dilindungi, masuk daftar terancam IUCN, dan masuk dalam appendix CITES. Oleh sebab itu pemanfaatan beberapa jenis satwa liar harus mengikuti peraturan perlindungan dan upaya penangkaran tikus ekor putih (Paruromys dominator), babi hutan (Sus celebensis), dan rusa (Cervus timorensis) sangat memungkinkan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Kata kunci: burung, mamalia, reptil, Sulawesi UtaraAbstractThis survey was conducted to collect information about wild mammals, birds and reptiles consumed by North Sulawesi people regarding with its conservation aspect and utilization. The used method was survey from 2006 to 2010 based on the animal species sold in some traditional markets, hunting cases and serving food in traditional party menu in Bitung City, Tomohon City and North Minahasa District. The result showed that there were 39 consumed species of wild mammals, birds and reptiles. Consumption of wild animal by local people has become a tradition for the community and it mostly resulted in the decline of wild animal population. Some species are included in IUCN Redlist and CITES Appendices. Therefore, all protection laws should be followed in the utilization of those species. In addition, breeding programme of Sulawesi giant rat (Paruromys dominator), Sulawesi Wild Boar (Sus celebensis) and Timor Deer (Cervus timorensis), is very prospective as it has economically value.Keywords: birds, mammals, reptiles, North Sulawesi
Pendidikan Konservasi Satwa Endemik Sulawesi bagi Siswa Sekolah Dasar di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sulawesi Utara Sumarto, Saroyo; Siahaan, Parluhutan; Langoy, Marnix; Koneri, Roni
VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol 1, No 1 (2019): VIVABIO Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.1.1.2019.24745

Abstract

Pulau Sulawesi memiliki kekayaan hayati dan endemisitas satwa yang sangat unik yang merupakan percampuran antara flora dan fauna khas Asia dan Australia. Beberapa kawasan yang menyimpan kekayaan hayati endemik Sulawesi telah berstatus sebagai kawasan konservasi, antara lain Cagar Alam Dua Sudara, Taman Wisata Alam Batuputih, dan Taman Wisata Alam Batuangus di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Hanya sayangnya, banyak kekayaan hayati di Sulawesi Utara yang sedang menghadapi kepunahan akibat faktor perburuan untuk konsumsi dan perusakan habitat. Oleh karena itu kegiatan pendidikan konservasi bagi anak-anak sekolah dasar menjadi upaya yang sangat penting dan harus dilakukan dengan bekerjasama dengan mitra-mitra potensial. Kegiatan pendidikan konservasi untuk murid sekolah dasar di sekitar kawasan konservasi telah dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2018 di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung. Peserta sebanyak 26 siswa sekolah dasar kelas 4 sampai dengan kelas 6. Tujuan kegiatan ini ialah memberikan pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam hayati untukmurid-murid sekolah dasar sehingga terjadi perubahan pengetahuan dan sikap dalam menghentikan praktik perburuan dan perusakan habitat sumber daya alam hayati. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini ialah workshop tentang keragaman satwa endemik Sulawesi di Kota Bitung, dan pengenalan terhadap jenis-jenis satwa kunci Sulawesi. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan pretes dan postes untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap aspek konservasi sumber daya alam hayati Sulawesi. Untuk mengukur sikap digunakan kuesioner dengan skala Likert. Komponen evaluasi mencakup aspek kognitif (pengetahuan/penguasaan materi) dan afektif (penguasaan sikap). Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan dari 6,0 menjadi 7,8 sedangkan sikap dari 5,6 menjadi8,0. Dari hasil kegiatan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendidikan konservasi bagi anakanak usia sekolah dasar telah meningkatkan pengetahuan dan sikap positif terhadap konservasi sumber daya alam hayati Sulawesi bagi peserta.Kata kunci: pendidikan, usia sekolah dasar, konservasi, Kota Bitung, Sulawesi Utara
Pendidikan Konservasi Satwa Endemik Sulawesi bagi Siswa Sekolah Dasar di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sulawesi Utara Saroyo, Saroyo; Siahaan, Parluhutan; Langoy, Marnix; Koneri, Roni
VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin No 3 (2019): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.1.3.2019.26743

Abstract

Pulau Sulawesi memiliki kekayaan hayati dan endemisitas satwa yang sangat unik yang merupakan percampuran antara flora dan fauna khas Asia dan Australia. Beberapa kawasan yang menyimpan kekayaan hayati endemik Sulawesi telah berstatus sebagai kawasan konservasi, antara lain Cagar Alam Dua Sudara, Taman Wisata Alam Batuputih, dan Taman Wisata Alam Batuangus di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Hanya sayangnya, banyak kekayaan hayati di Sulawesi Utara yang sedang menghadapi kepunahan akibat faktor perburuan untuk konsumsi dan perusakan habitat. Oleh karena itu kegiatan pendidikan konservasi bagi anak-anak sekolah dasar menjadi upaya yang sangat penting dan harus dilakukan dengan bekerjasama dengan mitra-mitra potensial. Kegiatan pendidikan konservasi untuk murid sekolah dasar di sekitar kawasan konservasi telah dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2018 di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung. Peserta sebanyak 26 siswa sekolah dasar kelas 4 sampai dengan kelas 6. Tujuan kegiatan ini ialah memberikan pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam hayati untuk murid-murid sekolah dasar sehingga terjadi perubahan pengetahuan dan sikap dalam menghentikan praktik perburuan dan perusakan habitat sumber daya alam hayati. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini ialah workshop tentang keragaman satwa endemik Sulawesi di Kota Bitung, dan pengenalan terhadap jenis-jenis satwa kunci Sulawesi. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan pretes dan postes untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap aspek konservasi sumber daya alam hayati Sulawesi. Untuk mengukur sikap digunakan kuesioner dengan skala Likert. Komponen evaluasi mencakup aspek kognitif (pengetahuan/penguasaan materi) dan afektif (penguasaan sikap). Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan dari 6,0 menjadi 7,8 sedangkan sikap dari 5,6 menjadi 8,0. Dari hasil kegiatan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendidikan konservasi bagi anak-anak usia sekolah dasar telah meningkatkan pengetahuan dan sikap positif terhadap konservasi sumber daya alam hayati Sulawesi bagi peserta.
Pelatihan Identifikasi Satwa Kunci Sulawesi bagi Siswa Sekolah Menengah Kota Manado di Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara Siahaan, Parluhutan; S, Saroyo
VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin No 3 (2019): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.1.3.2019.26812

Abstract

Pendidikan merupakan upaya sadar dalam membentuk tiga domain dalam pendidikan, yaitu kecerdasan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Upaya pendidikan dalam mendukung kegiatan konservasi dapat dilakukan melalui pengintegrasian materi konservasi dalam kurikulum pendidikan sekolah. Sebagai bagian dari Subkawasan Sulawesi, Provinsi Sulawesi Utara memiliki kekayaan hayati yang unik dan sangat beragam. Provinsi ini terletak di ujung timur Semenanjung Utara Pulau Sulawesi yang juga terdiri dari beberapa pulau satelitnya. Sejarah alam yang berlangsung jutaan tahun menyebabkan kawasan ini memiliki bentuk-bentuk endemik, baik endemik kunci yang  juga endemik Sulawesi. Endemisme lahir dari proses isolasi geografis yang memacu berlangsungnya proses evolusi. Telah dilakukan kegiatan pelatihan identifikasi satwa kunci pada siswa sekolah menengah dari Kota Manado dengan tujuan untuk lebih mengapresiasi kekayaan hayati Pulau Sulawesi yang dapat mendukung kegiatan pendidikan formal di sekolah. Kegiatan diikuti 100 siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas Kota Manado. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2019. Materi sosialisasi meliputi materi tentang konservasi biodiversitas di Sulawesi Utara dan praktik lapangan untuk mengamati dan mengidentifikasi satwa kunci Sulawesi yang dijumpai di Taman Wisata Alam Batuputih. Untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan digunakan ujian/tes yang meliputi pretes dan postes serta hasil pengamatan dan identifikasi satwa kunci di Taman Wisata Alam Batuputih. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa: telah terjadi peningkatan pengetahuan dari rata-rata 6.8 menjadi 8,1, sikap positif dari 3,1 menjadi 3,7 (rentang 0-4) dan pengamatan dalam identifikasi satwa kunci menunjukkan hasil baik. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta sikap positif pada peserta.
Estimasi Densitas Tangkasi (Tarsius tarsier) di Luar Kawasan Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah Sulawesi Utara Berdasarkan Sampling Duet Call Polii, Indra; ., Saroyo; Wahyudi, Lalu; Kolondam, Beivy J.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.11190

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang densitas tangkasi (Tarsius tarsier) di luar kawasan hutan tropis dataran rendah Sulawesi Utara berdasarkan sampling duet call dengan tujuan untuk membandingkan densitasnya pada beberapa tipe habitat. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Batuputih untuk habitat pertanian, mangrove, dan semak; serta Gunung Klabat untuk habitat hutan dataran tinggi. Waktu penelitian dari bulan Mei sampai Juli 2013. Metode penelitian didasarkan pada sampling berdasarkan duet call dengan plot berbentuk lingkaran. Hasil penelitian menunjukkan densitas tangkasi ialah: 2,94 ekor/ha pada hutan dataran tinggi; 1,60 ekor/ha pada areal pertanian; 7,66 ekor/ha pada mangrove; dan 8,17 ekor/ha pada semak.A research about density of tangkasi (Tarsius tarsier) at the outside of lowland forest habitat in North Sulawesi has conducted to compare their density at several habitats based on the duet call. Research was done in Batuputih for farming area, mangrove, and shrub habitats and in Klabat Mountain for highland forest habitat. Time of research was May to July 2013. Method used was based on duet call sampling with circle plots. Results of this research were: density of tangkasi was 2.94 individuals/ha at highland forest, 1.60 individuals/ha at farming area, 7.66 individuals/ha at mangrove; and 8.17 individuals/ha at shrub.
Biodiversitas Burung pada Beberapa Tipe Habitat di Kampus Universitas Sam Ratulangi Rumanasari, Ratih Dwi; Saroyo, Saroyo; Katili, Deidy Y.
Jurnal MIPA Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.1.2017.16153

Abstract

Burung merupakan salah satu hewan yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan manusia sejak dahulu kala. Fungsi ekologis burung yaitu sebagai penyebar biji dan penyerbuk alami. Burung juga dimanfaatkan manusia sebagai bahan makanan serta sebagai hewan peliharaan, bahkan burung juga turut berperan dalam berbagai budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat biodiversitas burung di daerah Kampus Universitas Sam Ratulangi Manado berdasarkan nilai indeks Shannon-Wiener. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yang dilaksanakan pada bulan Desember 2016-Maret 2017. Berdasarkan hasil penelitian terdapat sembilan jenis yang ditemukan yaitu, Butorides striatus, Collocalia esculenta, Passer montanus, Pycnonotus aurigaster, Geopelia striata, Gallirallus torquatus, Hirundo tahitica, Nectarinia jugularis, dan Halcyon chloris. Burung yang paling banyak ditemukan adalah Collocalia esculenta dan yang paling sedikit adalah Butorides striatus. Indeks keanekaragaman dari burung yang diamati termasuk dalam kategori sedang melimpah yaitu, 1,638.Bird is one of the animals that has a closed relationship with human life since a long time ago. The ecological functions of birds are as natural seed dispersers and pollinators. Birds are also used by humans as food material and as a pet, even birds also play a role in various cultures of society. This study aims to determine the level of bird biodiversity in the area of University of Sam Ratulangi Manado based on Shannon-Wiener index value. This study used purposive sampling method conducted in December 2016-March 2017. Based on the results of the study there were nine species found, namely Butorides striatus, Collocalia esculenta, Passer montanus, Pycnonotus aurigaster, Geopelia striata, Gallirallus torquatus, Hirundo tahitica, Nectarinia jugularis, and Halcyon chloris. The most bird that commonly found is Collocalia esculenta and the fewest is Butorides striatus. The index diversity value of birds is 1,638 that belongs to abundant category.
Pola Aktivitas Harian Tangkasi (Tarsius spectrum) Di Taman Marga Satwa Naemundung Kota Bitung Manori, Orpa Smarce Fransina; de Queljoe, Edwin; ., Saroyo; Siahaan, Parluhutan
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5988

Abstract

Tangkasi (Tarsius spectrum) adalah primata primitif dari Famili Tarsidae dan merupakan primata endemik di Sulawesi. Tangkasi memiliki tubuh kecil, mempunyai mata bulat besar, dapat melompat dan dapat membalik 180˚. Karena keunikan yang dimiliki hewan ini menjadikannya disukai banyak orang sehingga diburu, diperdagangkan secara illegal dan dijadikan sebagai hewan peliharaan. Padahal tangkasi (T. spectrum) dilindungi, termasuk kategori rentan (Vulnerable) dan tercantum dalam CITES Appendix II. Tangkasi yang telah dikandangkan akan mengalami  perubahan perilaku dibanding yang ada di alam. Penelitian aktivitas harian tangkasi yang ada di dalam kandang belum pernah dilakukan di Sulawesi Utara, oleh karena itu, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian yang menganalisis aktivitas harian dan tingkah laku tangkasi (T. spectrum) di dalam kandang khususnya dilihat dari aktivitas makan, mencari makan, beristirahat, berpindah, dan aktivitas sosial. Metode pengambilan data secara Instantaneous sampling. Hasil pengamatan terhadap pola aktivitas harian di kandang yaitu : makan (1,5%), mencari makan (8,5%), berpindah (26,8%), instirahat (57,5%), dan sosial (5,5%). Aktivitas tertinggi adalah istirahat, diikuti dengan aktivitas berpindah, kemudian mencari makan, sosial dan yang terendah adalah aktivitas makan.Tangkasi (Tarsius spectrum) is a primitive primate from Family Tarsidae and a  endemic primate in Sulawesi. Tangkasi have a small body, and ayeball, they can jump and their can head flipped until 180˚. Tangkasi already caged will experience a change in behavior campared to the wild. Many  people hunt, trade illegally and use it as pet because of the uniqueness of this species.  Even though tangkasi (T. spectrum) is protected, included in vulnerable category and listed in CITES Appendix II. Research on daily activity of tangkasi in the cage has never been done in North Sulawesi, therefore, this research needs to be done. Studies analyzing daily activities and behavior tangkasi (T. spectrum) in the cage in terms of the activity of eating, foraging, resting, moving, and social activities. Data were collected by using Instantaneous sampling method. The observation of the daily activity patterns in the cage namely: eating (1.5%), foraging (8.5%), moving (26.8%), resting (57.5%), and social (5.5%) . The highest activity is resting, followed by moving activity, foraging, social and respectively the lowest is feeding activity.
Biodiversitas Burung di Areal persawahan Desa Lelema Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan Sumual, Mercy M.; -, Saroyo; Langoy, Marnix
Jurnal MIPA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.2.2017.17760

Abstract

Biodiversitas spesies burung dipengaruhi oleh keanekaragaman tipe habitat, struktur vegetasi dan ketersediaan pakan pada habitat merupakan faktor utama yang mempengaruhi keanekaragaman spesies.Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan spesies-spesies burung yang ditemukan di areal persawahan dan menentukan tingkat biodiversitas burung di areal persawahan Desa Lelema. Penelitian ini dilaksanakan di areal persawahan Desa Lelema, waktu penelitian ialah bulan Desember 2016 sampai Maret 2017. Teknik pengambilan data menggunakan metode Purposive sampling, metode yang dipakai untuk mendapatkan data biodiversitas menggunakan indeks Shannon-Wiener. Biodiversitas burung yang ditemukan mencakup sembilan spesies hidup pada areal persawahan tersebut.Perhitungan menggunakan indeks Shannon-wiener didapati bahwa padahasil keseluruhan habitat didapat H’ 1≤  H’ ≤ 3 dengan nilai 2,062 termasuk dalam kategori sedang melimpahThe biodiversity of bird species is influenced by the diversity of habytat types, vegetation structures and especially the availability of feeds in the habytat. Which is a major factor affecting species diversity. This study aims to describe the species of birds found in rice fields in the Lelema Village Area, the research time is December 2016 until March 2017. Retrieval techniques using Purposive sampling methods, the method used to obtain biodiversity results the Shannon-Wiener index. The biodiversity of birds found in the area includes nine species. Calculation using the Shannon-wiener index resulted to H’ 1≤  H’ ≤ 3 with the value of 2,062 , including the overflowing categories.
Inventarisasi Jenis Pohon Pada Cagar Alam Gunung Ambang, Sulawesi Utara Embo, Akbar Arafah; Koneri, Roni; ., Saroyo; Papu, Adelfia
Jurnal MIPA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.2.2015.8528

Abstract

Pohon sebagai penyusun utama kawasan hutan berperan penting dalam pengaturan tata air, cadangan plasma nutfah, penyangga kehidupan, sumber daya pembangunan dan sumber devisa Negara. Peranan pohon-pohon dalam komunitas hutan semakin sulit dipertahankan mengingat tekanan masyarakat terhadap kelompok tumbuhan dari waktu ke waktu terus meningkat.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis pohon yang berada di kawasan Cagar Alam Gunung Ambang, Sulawesi Utara. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode garis berpetak yang merupakan modifiksi dari metode petak atau plot ganda dan metode jalur. Tipe habitat yang dijadikan titik pengambilan sampel adalah hutan primer dan hutan sekunder. Hasil pengamatan diperoleh sebanyak 38 jenis pohon penyusun hutan di Gunung Ambang yang termasuk dalam 22 suku. Pada hutan primer disusun oleh 37 jenis dan 22 suku, sedangkan pada hutan sekunder terdiri dari 28 jenis yang termasuk dalam 18 suku. Jenis pohon yang mendominasi setiap lokasi penelitian yaitu suku Magnoliaceae dan Arecaceae.Tree as the main constituent of forests play an important role in water regulation, germplasm reserves, life support, development resources and the country's foreign exchange resources. The role of trees in the forest communities are difficult to be sustained because the people pressure increase on the trees day by day. This study aims to assess the types of trees that are in the nature reserve area of ​​Gunung Ambang, North Sulawesi. The method used is the line transect plots that is modified  from the plot method or a double plot and track method. The type of habitat that is used as the starting sampling point is the  primary forests and secondary forests. Result of observations showed that Gunung Ambang is composed by 38 species of plant in 22 family. In the primary forest composed by 37 species and 22 Family, whereas in secondary forest consists of 28 species in 18 family. Types of trees that dominate each research location are Family Magnoliaceae and  Family Arecaceae.
Co-Authors Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Ahmadin Awal Lumente, Ahmadin Awal Ahril Hidayat Akbar Arafah Embo, Akbar Arafah Alotia, Jayens Alule, Melisa BEIVY JONATHAN KOLONDAM Bryan M. Kuheba Deidy Katili Deidy Katili Deidy Y Katili Deidy Y Katili Deidy Y. Katili Deidy Y. Katili Edwin de Queljoe Eka Yuningsih Eko Handoyo Fabiola B. Saroinsong Farha N.J Dapas Febby E.F Kandou Fernandez T. Upa Frangky J. Paat Glorio D. Pinaria Greis M. Sendow Hanny Pontororing Hengki D. Walangitan Herni E.I Simbala I Nyoman Gede Arya Astawa Indra Polii, Indra Indriati Sumarni Islamul Hadi Jauhar Arifin Jessy D.L. Warongan, Jessy D.L. Karim, Irwan Karmini Karmini Karyati Karyati Kiswanul Arifin Kunio Watanabe Lalu Wahyudi Langi, M A Lengkong, Johny P. Lisa Wati Lombogia, Stanly O.B. Luther Latumakulita Maabuat, Pience Maria Y.M.A. Sumakud Marnix L. D. Nangoy Marnix L. D. Nangoy Marnix L.D Langoy Marnix L.D. Langoy Marnix Langoy Martina A. Langi Max R.J. Runtuwene Muhammad Danton Noor Muhammad Hendriyani Mylton Mantouw Mylton Mantouw, Mylton Olly E.H. Laoh Orpa Smarce Fransina Manori Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Pelle, Wilmy Pience V Maabuat Puasa, Marton Putri Sianipar Putri Tesalonika Rondonuwu Rahma Wati Rahmi Baihaki Rio Priyanto Saibi Rivo F. Rahasia Roni Koneri Rooije R.H. Rumende Rooije R.H. Rumende Rudy C Tarumingkeng Rumanasari, Ratih Dwi Rumanasen, Baren Rustamiya Rizki Adiati Sahdin Sapsuha Saibi, Rio P. Saibi, Rio Priyanto Saimima, Arie J. Sandy, Jhon I. Sandy, Jhon Ismail Sary D.E. Paturusi Sendy Rondonuwu, Sendy Seni Tongkukut Septiyana Lestari Shinta Avriyanti Sirait, Hasanuddin Siska Anggreani Siti Hatiah Sri Supraptini Mansjoer Sumual, Mercy M. Sunarmi Sunarmi Susan Marlein Mambu Syamsul Bachry Tangapo, Agustina Monalisa TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Taufik Rahman Tenda, Edwin Upa, Fernandez T.