Claim Missing Document
Check
Articles

Workshop Metode Pembelajaran Pemecahan Kasus (Case Method) dan Pembelajaran Kelompok Berbasis Proyek (Team-Based Project) di Universitas Sam Ratulangi Manado Max R.J. Runtuwene; Saroyo; Stanly O.B. Lombogia; Johny P. Lengkong; Greis M. Sendow; Jessy D.L. Warongan; Sary D.E. Paturusi
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/gb044h77

Abstract

Berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud Nomor 754 LP/2020 tentang Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, yaitu pembelajaran kelas: menggunakan salah satu atau kombinasi dari metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) dan/atau pembelajaran kelompok berbasis proyek (team-based project) dan meliputi 50% dalam bobot evaluasinya. Oleh karena itu, LP3 Unsrat menyelenggarakan kegiatan workshop metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) dan pembelajaran kelompok berbasis proyek (team-based project) bagi dosen. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 23 dan 24 Februari 2021. Peserta ialah dosen Universitas Sam Ratulangi sebanyak 72 orang. Kegiatan meliputi Penyampaian materi, praktik, presentasi, dan penugasan. Evaluasi kognitif dilaksanakan melalui pretes-postes, sedangkan kompetensi penyusunan perencanaan pembelajaran dilaksanakan melalui presentasi dan penugasan. Hasil workshop bahwa workshop metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) dan pembelajaran kelompok berbasis proyek (team-based project) di Universitas Sam Ratulangi Manado bagi dosen telah meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dosen dalam menyusun perencanaan pembelajaran (RPS) dengan menggunakan kedua metode tersebut.
Riparian di Sulawesi Utara sebagai Habitat Tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) Saroyo
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/sreqcp90

Abstract

Riparian merupakan kompleks ekologi yang terdapat di tepian sepanjang aliran sungai. Habitat ini menyediakan kebutuhan ekologis bagi tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae), terutama pakan dan lokasi sarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberadaan tangkasi pada habitat riparian di Sulawesi Utara. Penelitian dilaksanakan pada beberapa titik pada habitat riparian beberapa sungai di Sulawesi Utara. Survei dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2019 melalui survei lokasi dan survei keberadaan duet call yang dikeluarkan oleh sepasang tangkasi. Hasil pengamatan terhadap titik-titik pengamatan pada zona riparian yang diambil secara purposif menunjukkan bahwa pada seluruh lokasi pengamatan ditemukan duet call. Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa zona riparian merupakan salah satu habitat tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) yang penting dan relatif aman dari perusakan.
Workshop Kegiatan Kepencitaan-alam di Sulawesi Utara pada Masa Pandemi Covid-19 Saroyo; Parluhutan Siahaan; Adelfia Papu
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/m4y4zc46

Abstract

Pandemi Covid-19 telah berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat termasuk para komunitas pencinta alam, yang mencakup aspek perekonomian, kesehatan, pendidikan, maupun kegiatan di alam bebas. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang baik dalam kegiatan kepencintaalaman di era Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga kegiatan dapat dilaksanakan secara aman dan sehat. Untuk sosialisasi tentang permasalahan ini, telah dilaksanakan workshop kegiatan kepencintaalaman di Sulawesi Utara di masa pandemi Covid-19. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada tanggal 18 September 2021 dengan peserta sebanyak 77 orang dari dari mahasiswa pencinta alam (MPA), kelompok pencinta alam (KPA), serta umum. Workshop terdiri dari kegiatan pretes, pemaparan materi dan diskusi, serta postes. Materi terdiri dari: Biodiversitas dan Konservasi di Sulawesi Utara (Kasus di Kota Bitung) dan Pelaksanaan Protokol Kesehatan dalam Kegiatan Kepencintaalaman di Era PPKM. Hasil pretes dan postes menunjukkan rata-rata skor jawaban terhadap aspek pengetahuan ialah 78 dan postes ialah 87, sedangkan rata-rata hasil pretes dan postes terhadap aspek sikap ialah 76 dan postes ialah 77. Nilai ini menunjukkan bahwa untuk aspek pengetahuan, peserta dapat menyerap materi pemaparan dan diskusi, sementara untuk aspek sikap hanya terjadi sedikit sekali perubahan.
Pelatihan Pembuatan Biopestisida dari Jamur Beauveria bassiana Berbasis Isolat Lokal dan Aplikasinya bagi Petani Tomohon Utara Saroyo
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/qzmmjn92

Abstract

Untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi petani maka perlu dilakukan solusi untuk mengatsinya. Solusi yang akan dilakukan adalah dengan penerapan teknologi pengendalian hayati yang menggunakan jamur B. bassiana yang disekitar lahan pertanian mereka. Untuk itu maka akan dilakukan hal-hal sebagai berikut: a). Edukasi Masyarakat Petani Mitra tentang pengenalan organisme merugikan dan organisme menguntungkan yang ada di lahan persawahan petani mitra, edukasi tentang pengetahuan dampak-dampak negatif penggunaan pestisida sintetik dan cara pemakaian pestisida dengan cara yang dan dosis yang tepat serta seminimum mungkin, edukasi tentang cara bertani yang sehat dan berwawasan lingkungan. b). Penerapan Teknologi Pengendalian Hayati Beauveria bassiana isolat lokal dalam bentuk pelatihan atau workshop. Hal yang akan dilatih dalam penerapan ini teknologi yaitu: Teknik eksplorasi jamur entomopatogen dari lahan pertanian petani mitra sendiri, Teknik isolasi B. bassiana, Teknik perbanyakan jamur entomopatogen B. bassiana dengan media sederhana, Teknik Formulasi jamur B. bassiana agar siap pakai, Teknik Aplikasi B. bassiana di lapangan dengan menggunakan jamur B. bassiana yang telah dieksplorasi dan diisolasi, Teknik penyimpanan isolat B. bassiana. c). Penyediaan alat yang dibutuhkan. Hasil kegiatan Petani mitra mengenal dan dapat membedakan jenis-jenis organisme yang merusak dan mana yang menguntungkan, petani mitra mengenal teknik pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, petani mitra siap untuk mengurangi pembelian pestisida sintetik, petani mitra siap untuk melakukan cara bertani yang berwawasan lingkungan dan petani mampu membuat biopestisida dari jamur B. bassiana dan menerapkannya pada lahan pertanian mereka.
Workshop Model Pembelajaran Student-Centered Learning (SCL) pada Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Universitas Sam Ratulangi, Manado Saroyo; Max R.J. Runtuwene; Olly E.H. Laoh; Johny P. Lengkong; Wilmy Pelle; Sary D.E. Paturusi
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/gprjg425

Abstract

Salah satu perubahan paradigma pembelajaran di perguruan tinggi ialah pergeseran pembelajaran berpusat pada dosen (teacher-centered learning/TCL) menuju pembelajaran berpusat pada mahasiswa (student-centered learning/SCL). Mulai tahun 2021, dengankeluarnya Keputusan Menteri No. 3/M/2021 tentang Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, metode pembelajaran yang diperhitungkan dalam Indikator Kinerja Utama ialah metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis proyek (team-based project). Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran, Universitas Sam Ratulangi telah melaksanakan workshop model pembelajaran student-centered learning (SCL) dengan penekanan pada implementasi kedua metode pembelajaran di atas. Workshop dilaksanakan pada tanggal 13 sampai 14 Juni 2023, diikuti oleh 44 orang dosen. Workshop terdiri dari tahapan pretes, penyampaian materi, pendampingan, postes, dan penugasan. Hasil workshop menunjukkan bahwa: pengetahuan peserta telah meningkat dari 5,6 menjadi 7,6, sedangkan untuk keterampilan, rata-rata peserta memiliki kinerja baik. Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa workshop model pembelajaran student-centered learning (SCL) pada Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Universitas Sam Ratulangi, Manado telah meningkatkan pengetahuan dosen dalam merancang pembelajaran SCL, terutama penerapan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis proyek (team-based project).
Pelatihan dalam Penggunaan Aplikasi Website untuk Mempelajari Satwa Kunci Sulawesi bagi Siswa Sekolah Dasar di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung Saroyo; Parluhutan Siahaan; Edwin Tenda
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/m1pbwq50

Abstract

Latar belakang masalah ialah Pulau Sulawesi memiliki kekayaan hayati dan endemisitas satwa yang sangat unik yang merupakan percampuran antara flora dan fauna khas Asia dan Australia. Beberapa kawasan yang menyimpan kekayaan hayati endemik Sulawesi terlah berstatus sebagai kawasan konservasi, antara lain Cagar Alam DuasudaraTangkoko, Taman Wisata Alam Batuputih, Taman Wisata Alam Batuangus, Hutan Lindung Gunung Wiau, dan Hutan Lindung Gunung Klabat. Hanya sayangnya, banyak kekayaan hayati di Sulawesi Utara yang sedang menghadapi kepunahan akibat faktor perburuan untuk konsumsi dan perusakan habitat. Oleh karena itu permasalahan utama ialah rendahnya tingkat kesadaran generasi muda akan pentingnya keanekaragaman hayati, terutama satwa kunci Sulawesi di Kota Bitung, yang salah satu penyebabnya ialah kurangnya pengetahuan dan pemahaman digital di era saat ini dalam dalam mendukung upaya konservasi satwa kunci. Solusi yang disepakati dengan kedua mitra (Resort KSDA Batuputih dan Kelompok Pencinta Alam Tarantula) untuk mengatasi permasalahan di atas ialah pemanfaatan teknologi dalam rangka sosialisasi konservasi satwa kunci Sulawesi di Kota Bitung dengan kegiatan workshop dan praktik bagi generasi muda, yaitu siswa sekolah dasar. Tujuan kegiatan ini ialah memberikan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk murid-murid sekolah dasar di Kelurahan Batuputih, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung tentang konservasi satwa endemik Sulawesi di Kota Bitung terutama perubahan pengetahuan dan keterampilan dalam identifikasi satwa kunci dalam upaya konservasi biodiversitas, juga dalam mencegah/menghentikan praktik perburuan dan konsumsi satwa liar. Target kegiatan ialah terjadinya perubahan pengetahuan dan keterampilan atau pandangan dalam aspek konservasi satwa endemik Sulawesi terutama untuk menghentikan praktik perburuan dan konsumsi satwa liar. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini ialah (1) Pelatihan dan pendampingan dalam penggunaan aplikasi website untuk mempelajari satwa kunci Sulawesi (2) Praktik dan pendampingan dalam penggunaan aplikasi website untuk mempelajari satwa kunci Sulawesi. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan dengan pretes dan postes untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan aplikasi website untuk mempelajari satwa kunci Sulawesi, serta sikap terhadap aspek konservasi satwa endemik Sulawesi. Komponen evaluasi mencakup aspek kognitif (pengetahuan/penguasaan materi) dengan menggunakan pre-tes dan pos-tes, serta psikomotorik (keterampilan) dengan menggunakan rubrik penilaian. Hasil pelaksanaan kegiatan ialah: terjadinya peningkatan pengetahuan peserta tentang satwa endemik serta peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan Google Lens untuk mengakses informasi tentang satwa tersebut. Hasil kegiatan telah memberikan hasil sebagai berikut: Terjadi peningkatan pengetahuan tentang satwa kunci Sulawesi pada peserta, yaitu dari rata-rata skor 62 menjadi 78; dan terjadi peningkatan pengetahuan tentang penggunaan Google Lens untuk mendapatkan informasi tentang satwa kunci Sulawesi, dari 0 menjadi 65. Dengan demikian program kemitraan masyarakat ini telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta.
KEANEKARAGAMAN DAN INDEKS NILAI PENTING LAMUN (SEAGRASS) DI PESISIR KECAMATAN GEMEH, KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD, SULAWESI UTARA Alule, Melisa; Maabuat, Pience V; Saroyo, Saroyo
Biofaal Journal Vol 1 No 2 (2020): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.354 KB) | DOI: 10.30598/biofaal.v1i2pp85-92

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang penting keberadaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan indeks nilai penting lamun pada tiga stasiun yaitu Pantai Lahu (Desa Lahu), Pantai Bannada (Desa Bannada) dan pantai Malat (Desa Malat), Kecamatan Gemeh, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Metode purposive sampling digunakan dalam penentuan tempat sampling dengan pengambilan sampel yang menggunakan metode line transect. Pada setiap stasiun memiliki tiga garis transek dengan panjang 100-200 m. Setiap stasiun memiliki tiga garis transek, jarak antar transek 50 m dan jarak antar plot 20 m. Jenis lamun yang ditemukan sebanyak tiga jenis yaitu Cymodoceae rotundata, Cymodoceae serrulata dan Thalassia hempirichii. Lamun Thalasia hemprichii memiliki nilai kepadatan relatif tertinggi pada ketiga stasiun yaitu 43%, 57% dan 62%. Secara berturut-turut lamun Thalasia hemprichii memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi pada ketiga stasiun yaitu 91%, 103% dan 114%. Keanekaragaman jenis lamun pada ketiga stasiun tergolong rendah dengan Indeks Keanakeragaman Shannon-Wiener (H’) secara berturut-turut, yaitu1,06; 0,95; dan 0,98. Secara keseluruhan, keanekaragaman jenis lamun dipantai Lahu, pantai Bannada dan pantai Malat, Kecamatan Gemeh tergolong rendah (H’: 0,99).
Co-Authors Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Ahmadin Awal Lumente, Ahmadin Awal Ahril Hidayat Akbar Arafah Embo, Akbar Arafah Alotia, Jayens Alule, Melisa BEIVY JONATHAN KOLONDAM Bryan M. Kuheba Deidy Katili Deidy Katili Deidy Y Katili Deidy Y Katili Deidy Y. Katili Deidy Y. Katili Edwin de Queljoe Eka Yuningsih Eko Handoyo Fabiola B. Saroinsong Farha N.J Dapas Febby E.F Kandou Fernandez T. Upa Frangky J. Paat Glorio D. Pinaria Greis M. Sendow Hanny Pontororing Hengki D. Walangitan Herni E.I Simbala I Nyoman Gede Arya Astawa Indra Polii, Indra Indriati Sumarni Islamul Hadi Jauhar Arifin Jessy D.L. Warongan Johny P. Lengkong Karim, Irwan Karmini Karmini Karyati Karyati Kiswanul Arifin Kunio Watanabe Lalu Wahyudi Langi, M A Lisa Wati Luther Latumakulita Maabuat, Pience Maria Y.M.A. Sumakud Marnix L. D. Nangoy Marnix L. D. Nangoy Marnix L.D Langoy Marnix L.D. Langoy Marnix Langoy Martina A. Langi Max R.J. Runtuwene Muhammad Danton Noor Muhammad Hendriyani Mylton Mantouw Mylton Mantouw, Mylton Olly E.H. Laoh Orpa Smarce Fransina Manori Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Pience V Maabuat Puasa, Marton Putri Sianipar Putri Tesalonika Rondonuwu Rahma Wati Rahmi Baihaki Rio Priyanto Saibi Rivo F. Rahasia Roni Koneri Rooije R.H. Rumende Rooije R.H. Rumende Rudy C Tarumingkeng Rumanasari, Ratih Dwi Rumanasen, Baren Rustamiya Rizki Adiati Sahdin Sapsuha Saibi, Rio P. Saibi, Rio Priyanto Saimima, Arie J. Sandy, Jhon I. Sandy, Jhon Ismail Sary D.E. Paturusi Sendy Rondonuwu, Sendy Seni Tongkukut Septiyana Lestari Shinta Avriyanti Sirait, Hasanuddin Siska Anggreani Siti Hatiah Sri Supraptini Mansjoer Stanly O.B. Lombogia Sumual, Mercy M. Sunarmi Sunarmi Susan Marlein Mambu Syamsul Bachry Tangapo, Agustina Monalisa TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Taufik Rahman Tenda, Edwin Upa, Fernandez T. Wilmy Pelle