Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK HABITAT DI SARANG TANGKASI (Tarsius Spectrumgurskyae) DI TAMAN HUTAN RAYA GUNUNG TUMPA H.V. WORANG, SULAWESI UTARA Sahdin Sapsuha; Johny S. Tasirin; Saroyo Sumarto
COCOS Vol. 13 No. 4 (2021): EDISI OKTOBER-DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/cocos.v5i5.35389

Abstract

ABSTRAK This study aims to determine th characteristics of the habitat in the nest of Tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae) in the Gunung Tumpa Forest Park HV Worang. The research was carried out from October to November 2020. In collecting the tangkasi nest data, the observations were divided into three stages, namely: 1. Determination of nests. 2. Observation of nest characteristics and 3. Observation of the condition of the nest environment. This observation was carried out in the afternoon until the evening, namely at 16-30 - 18-30 and at dawn, namely at 04-30-06:00 WITA. The results of the study have obtained the location of the coordinates of the tangkasi nests as many as 8 nests spread over several types of land cover in the Tahura area of Gunung Tumpa HV Worang. The types of nest plants that make up Tarsius spectrumgurskyae are found in the Ficus and Arenga genera. The nest structure consists of cavities in the interweaving of roots and piles of interwoven fibers between the leaf midribs and found 1-6 individual tangkassi in each nest. Tangkasi nests are foundat an elevation of 462-574 m with a slope of 11% - 25%. Environmental conditions around the nest with light intensity 351.6 ± 39.71 lx, light percentage 19.9% ± 1.94%. The morning, afternoon and evening temperatures were 25.74ºC ± 0.42, 30.88 88C ± 0.47 and 25.79 C ± 0.35 with humidity in the morning, afternoon and evening 91.71% ± 2.54%, 77.48% ± 2.80% and 74.31% ± 19.4%. The vegetation of the nest habitat was dominated by Spathodea campanulata (INP 51.32%) for trees, Leucosyke capitellata (INP 27.99%) for poles and calamus sp. (INP 31.68%) for saplings. Keywords: Tangkasi, habitat characteristics, Tangkasi nest, Tahura Gunung Tumpa H.V Worang
Kepadatan Famili Ikan Karang di Perairan Desa Popareng, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia Putri Tesalonika Rondonuwu; Saroyo Sumarto; Roni Koneri; Eko Handoyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 12 No. 1 (2022): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v12i1.39175

Abstract

Bunaken National Park is a conservation development area designated by the government and is located in North Sulawesi Province. One of the conservation partnership areas of Bunaken National Park is located in Popareng Village, Tatapaan District, South Minahasa Regency. Bunaken National Park (TNB) has a diversity of marine life, one of which is coral fish that live in association with coral reefs. However, the condition of many coral reefs has been damaged so that the reef fish that live in the area are much reduced. Threats from community activities that are difficult to monitor are the cause because the location on the South Coast of TNB is far away or difficult to monitor. This study aims to examine the density of reef fish in the waters of Popareng Village, South Minahasa, North Sulawesi. The method used is the Underwater Visual Census (UVC), with data collection techniques using a camera for video and photos of reef fish. This research was conducted in 3 different locations, namely Karang Tinggi, Laikit, and Tanjung Ringgi. The results obtained 22 families, 83 species, 1961 individuals. The highest density of reef fish was at the Laikit location, which was 15,260 Ind/Ha and the dominant family at the three observation sites was Pomacentridae. Keywords: Reef Fish; Density, Popareng; Pomacentridae; BunakenAbstrak Taman Nasional Bunaken merupakan kawasan pengembangan konservasi yang ditunjuk pemerintah dan terletak di Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu area kemitraan konservasi Taman Nasional Bunaken terletak di Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Taman Nasional Bunaken (TNB) memiliki keragaman biota laut salah satunya ikan karang yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang. Namun kondisi terumbu karang banyak yang telah rusak sehingga ikan karang yang hidup di daerah tersebut jauh berkurang. Ancaman dari aktivitas masyarakat yang sulit terpantau menjadi penyebab karena lokasi di Pesisir Selatan TNB yang jauh atau susah untuk dilakukan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan ikan karang di Perairan Desa Popareng, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah Underwater Visual Census (UVC), dengan teknik pengambilan data menggunakan kamera untuk video dan foto ikan karang. Penelitian ini dilakukan pada 3 lokasi berbeda yaitu Karang Tinggi, Laikit, dan Tanjung Ringgi. Hasil penelitian didapatkan 22 famili, 83 spesies, 1961 individu. Kepadatan ikan karang tertinggi ada pada lokasi Laikit yaitu 15.260 Ind/Ha dan famili yang mendominasi pada ketiga lokasi pengamatan adalah Pomacentridae.Kata Kunci: Ikan Karang; Kepadatan; Popareng; Pomacentridae; Bunaken
Pemanfaatan Vegetasi Rumput Brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.) Clayton] oleh Beberapa Spesies Burung Saroyo Sumarto; Islamul Hadi; Adelfia Papu
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 12 No. 2 (2022): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v12i2.41510

Abstract

Guinea fowl grass [Rottboellia cochinchinensis (Lour.)] as an invasive grass from Indian which distributed in the tropical to sub-tropical area has becoming a huge problematic in farm areas due to its adaptivity high growth speed. The aim of this study is to analyse is there any benefit of the guinea fowl grass. Object of study is the birds around the grass. It reveals that there are at least 15 species of birds are living in the guinea fowl grass: Cisticola juncidis, Passer montanus, Lonchura oryzivora, L. molucca, L. punctulata, Pycnonotus aurigaster, Turnix maculosus, Geopelia striata, Spilopelia chinensis, Hypotaenidia torquata, Aramidopsis plateni, Porphyrio indicus, Centropus bengalensis, Haliastur indus, dan Hirundo rustica. The birds use this habitat as many purposes, such as source of food (granivorous, insectivorous and omnivorous), associate with other organisms, breeding ground and hide.   Keywords: Guinea fowl grass [Rottboellia cochinchinensis (Lour.); birds; daily activities; North Minahasa; North Sulawesi.ABSTRAK Rumput brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.)] merupakan rumput invasif dari India, tersebar di daerah tropis dan subtropis dan menjadi permasalahan di daerah pertanian karena kecepatan tumbuh dan daya adaptif pada berbagai tipe habitat. Tujuan penelitian untuk mengkaji spesies burung yang memanfaatkan vegetasi rumput brandjangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2022 pada vegetasi rumput brandjangan di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara. Data dikumpul menggunakan metode ad libitum dengan mengambil seluruh data spesies burung dan seluruh aktivitas yang dilakukan pada vegetasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 spesies burung: Cisticola juncidis, Passer montanus, Lonchura oryzivora, L. molucca, L. punctulata, Pycnonotus aurigaster, Turnix maculosus, Geopelia striata, Spilopelia chinensis, Hypotaenidia torquata, Aramidopsis plateni, Porphyrio indicus, Centropus bengalensis, Haliastur indus, dan Hirundo rustica. Aktivitas burung meliputi: mencari makan, makan, bersosial, beristirahat, kawin, dan bersembunyi. Rumput brandjangan menghasilkan biji sebagai sumber pakan burung granivora dan omnivore. Serangga pada vegetasi tersebut menjadi sumber pakan burung insektivora atau omnivora. Kata kunci: Rumput brandjangan [Rottboellia cochinchinensis (Lour.); burung; aktivitas harian; Minahasa Utara; Sulawesi Utara.
Pertumbuhan Distribusi, Ukuran Kelompok, dan aktivitas Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus Cabanis, 1851) dan Kerak Perut-Pucat (Acridotheres cinereus Bonaparte, 1850) di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara Saroyo; Parluhutan Siahaan; Seni Tongkukut; Adelfia Papu
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 1 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i1.52209

Abstract

Research on growth distribution, group size, and activity of javan myna [Acridotheres javanicus (Cabanis, Jl 1851)] and pale-bellied myna [Acridotheres cinereus Bonaparte, CLJL 1850] in Manado City and North Minahasa Regency, North Sulawesi, was carried out from July 2021 to June 2023. The aim of the study was to examine the geographical distribution of javan myna and pale-bellied myna in Manado City and North Minahasa Regency after the last survey conducted by Tasirin & Fitzsimons [23], determine group size, and analyze their activities. The research method used is a survey by determining the location, the number of individuals, or the number of birds in a group (group) when found and doing activities together, as well as bird activity during encounters, which are classified according to the classification applied to the Bali starling (Leucopsar rothschildi) [22]. The results showed that javan myna was scattered in only a few locations in Manado City and North Minahasa Regency, while pale-bellied myna was widely distributed with a tendency to approach residential areas and urban areas. The herd sizes observed during the survey were 3 individuals for javan myna and 1-25 individuals for pale-bellied myna. Activities observed during the survey included flying, walking, foraging, eating, drinking, socializing and caring for children, vocalizations, perching, and nesting. With these results, it can be concluded that the javan myna has low adaptability and growth compared to the pale-bellied myna, which has a very high adaptation to human life, so that it can survive and thrive in Manado City and North Minahasa Regency and take advantage of the resources built humans, such as using the tops of churches, houses, and buildings for nesting sites, doing activities close to human activities, and using household waste as food. With these results, it is important to analyze the effect of population growth and distribution of javan myna, especially for the benefit of conserving local species in other Sturnidae.
Pengenalan Satwa Endemik Sulawesi yang Hidup di Kota Bitung Bagi Siswa Sekolah Dasar di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara Saroyo, Saroyo; Siahaan, Parluhutan; Papu, Adelfia
The Studies of Social Sciences Vol. 5 No. 2 (2023): The Studies of Social Sciences
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/tsss.v5i2.51604

Abstract

Kota Bitung memiliki peranan yang penting dalam upaya konservasi satwa endemik Pulau Sulawesi karena terdapatnya beberapa jenis secara alami di daerah tersebut. Setelah berakhirnya masa pandemi covid-19, kegiatan wisata alam kembali berlangsung dengan perkembangan yang sangat cepat. Bahkan dapat dikatakan bahwa kegiatan wisata alam telah telah memegang peranan penting dalam perekonomian sebagian masyarakat Kota Bitung. Sebagai penunjang daerah tujuan wisata alam, terdapat satu kawasan konservasi penting di Kota Bitung, yaitu Taman Wisata Alam Batuputih. Kawasan ini terletak di Kelurahan Batuputih Bawah dan masih mendukung sebagian satwa endemik Pulau Sulawesi dan beberapa merupakan satwa kunci Pulau Sulawesi dan menjadi daya tarik wisata alam. Namun sayangnya, ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa sangat besar terutama karena perburuan dan perusakan habitat. Dengan latar belakang tersebut, upaya konservasi satwa endemik penting untuk dilaksanakan termasuk upaya pengenalan kepada anak usia dini di daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah dilaksanakan di Kelurahan Batuputih Bawah dengan tujuan untuk memperkenalkan jenis-jenis dan manfaat satwa endemik Sulawesi yang hidup di Taman Wisata Alam Batuputih dan Cagar Alam Duasudara/Tangkoko sehingga tertanam sikap konservasi pada generasi usia dini sehingga diharapkan satwa tersebut tetap lestari. Kegiatan diikuti oleh 40 siswa sekolah dasar dengan metode tanya jawab, sumbang saran, dan game terhadap kekayaan satwa endemik Pulau Sulawesi di Kota Bitung. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa para siswa menyadari pentingnya keberadaan satwa tersebut beserta upaya keikutsertaan mereka dalam konservasi. Kesimpulan hasil kegiatan pengabdian ialah terjadinya peningkatan pengetahuan dan sikap peserta terhadap upaya konservasi satwa endemik Pulau Sulawesi di Kota Bitung.
Comparison of MobileNet and VGG16 CNN Architectures for Web-based Starfish Species Identification System Latumakulita, Luther Alexander; Paat, Frangky J.; Saroyo, Saroyo; Karim, Irwan; Astawa, I Nyoman Gede Arya; Sirait, Hasanuddin
Journal of Applied Data Sciences Vol 5, No 4: DECEMBER 2024
Publisher : Bright Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47738/jads.v5i4.456

Abstract

Bunaken Marine Park (BMP) is famous for its rich marine biodiversity. BMP is an asset for the marine tourism industry of the Manado city government, and the North Sulawesi Province of Indonesia needs to be strengthened. This research aims to build a web-based intelligent system using a convolutional neural network (CNN) to identify starfish species to initiate developing a media center marine biota identification system of BMP. Two CNN architectures, namely MobileNet and VGG16, were conducted to produce identification models. The first stage carried out a training process on 1800 starfish image data and then evaluated using the 5-fold cross-validation technique. Validation results show that MobileNet is superior to the VGG16 architecture by achieving validation accuracy of 100% for each fold while VGG16 produces validation accuracy in the range of 94% to 100%. On the other hand, in the second stage of model testing, it was found that VGG16 worked better than MobileNet in identifying 200 new data. The Best Model produced by VGG16 achieved testing accuracy of 100% while MobileNet produced 99.5%. However, stability analysis of the identification models produced by both architectures shows that MobileNet has relatively small loss values ranging from 0.00069325 to 0.00214802 as well as smaller standard deviation values of 0.27 compared to 0.61 produced by VGG16. These findings indicate MobileNet is more stable in carrying out identification work compared to VGG16 of, thus the best model provided by MobileNet is taken to deploy in the web platform which is created using the Python flask framework. The proposed system can be used to strengthen the marine tourism industry as a media center of educational marine biota using deep learning approaches.
Host Diversity of Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin in Rice Field in Bolaang Mongondow Regency Siahaan, Parluhutan; Saroyo, Saroyo; Langoy, Marnix L.D.; Saimima, Arie J.
Akta Agrosia Vol 24 No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Fakultas Pertanian, Universitas Bengkkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beauveria bassiana can attack a variety of hosts and their virulence can vary at each host and location. Exploration of the diversity of hosts B. bassiana from local isolates needs to be done as initial information that can explain the ability of B. bassiana in infecting insects. Sampling locations were selected in three district, each district selected three stations and each station consisted of 10 plots. The location of sampling is determined by the purposive random sampling method. Each station was made a plot measuring 1m x 1m and distributed randomly. Every insect infected with B. bassiana was taken and taken to a laboratory for identification. The results showed that there were five insects that hosted B. bassiana, namely Nilaparvata lugens, Scotinophara coarctata, Leptocorisa oratorius, Nezara viridula and Paraeucosmetus pallicornis. The highest host diversity index was found in North Dumoga with a value of 1.47. The highest abundance index was found in N. lugens host in East Dumoga with a value of 43%. The highest density was found in the host N. lugens in Central Dumoga with a value of 1.93 ind / m2. There were indications of differences in virulence of the  B. bassiana local isolates that were influenced by the spesies of host and location Keywords: Beauveria bassiana, diversity,  Bolaang Mogondow Regency, diversity and abundance indices
Pendidikan dan Pelatihan PEKERTI-AA di Universitas Sariputra Indonesia Tomohon Saroyo; Max R.J. Runtuwene; Stanly O.B. Lombogia
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/qrfk8s88

Abstract

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap para dosennya, Universitas Sariputra Indonesia Tomohon, Sulawesi Utara telah melaksanakan kegiatan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) dan Applied Approach (AA). Kegiatan dilaksanakan melalui tahap sebagai berikut: Teori Pekerti: 12-14 Juni 2019; Teori AA: 17-18 Juni 2019; Praktik Pembelajaran Mikro: 19 Juni 2019; Tugas Pekerti-AA: 20 Juni - 3 Juli 2019. i Kegiatan diikuti oleh 35 orang untuk Pekerti dan 35 orang untuk AA. Materi kegiatan meliputi materi standar pelatihan yang dikembangkan untuk kegua program pendidikan dan pelatihan tersebut ditambah dengan beberapa materi yang terkait dengan kebutuhan mendasar institusi, seperti misalnya penggunaan google classroom dalam pembelajaran daring, kahoot dan google formulir dalam kegiatan evaluasi. Evaluasi peserta didasarkan pada hasil pretes-postes, praktik untuk Pekerti, serta evaluasi terhadap tugas yang disusun oleh peserta. Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya perubahan sikap yang lebih baik serta peningkatan pengetahuan serta keterampilan peserta di bidang pedagogi serta diharapkan peserta dapat selalu mengembangkan dirinya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek filosofi pensisikan dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi.Kata kunci : Pekerti-AA, pelatihan, pembelajaran
Pariwisata Alam di Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara di Era Pandemi Covid-19 Saroyo
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/0t21c752

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung Sulawesi Utara merupakan kawasan konservasi yang salah satunya ialah lokasi pariwisata alam. TWA ini memiliki potensi alam yang mendukung kegiatan kepariwisataan alam dengan dukungan masyarakat terutama Kelurahan Batuputih Bawah. Berbagai usaha dan jasa yang berkaitan langsung dan tidak langsung telah berkembang sebagai destinasi wisatawan mancanegara maupun domestik. Survei telah dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2020 di TWA Batuputih dan Kelurahan Batuputih Bawah, kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sulawesi Utara untuk menganalisis dampak pandemi covid-19 terhadap sektor pariwisata alam di TWA dan masyarakat Batuputih Bawah, baik terhadap subsektor usaha dan jasa serta terhadap kawasan TWA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi covid-19 mengakibatkan beberapa dampak terhadap kepariwisataan alam di TWA Batuputih, yang mencakup dampak terhadap sosioekonomi masyarakat dan dampak terhadap lingkungan dan satwa di dalam TWA.
Workshop Soft Skill bagi Pecinta Alam Provinsi Sulawesi Utara Saroyo; Parluhutan Siahaan
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Lentera - Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/saqeym79

Abstract

Sebagai bagian dari Subkawasan Sulawesi, Sulawesi Utara memiliki kekayaan hayati yang sangat unik, yaitu keragamannya yang cukup tinggi serta memiliki beberapa bentuk endemik. Berbagai upaya pelestarian kekayaan hayati tersebut telah dilaksanakan oleh pemerintah, yaitu penetapan beberapa kawasan perlindungan atau kawasan konservasi, penetapan jenis-jenis yang dilindungi, maupun penegakan hukum terkait dengan pelanggaran undang-undang tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Keberhasilan dalam upaya konservasi, tidak hanya ditentukan oleh hal-hal tersebut di atas semata, tetapi juga oleh kesadaran masyarakatnya sendiri. Salah satu kelompok masyarakat yang memiliki peran penting dalam sosialisasi maupun teladan dalam upaya konservasi tersebut ialah Kelompok Pencinta Alam (KPA). Hanya sayangnya, masih banyak anggota komunitas ini yang belum sepenuhnya memahami peran dan tanggung jawab dalam upaya konservasi ini. Oleh karena itu perlu dilakukannya upaya penanaman soft skill bagi kelompok pencinta alam. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada tanggal 7 Agustus 2020 dengan menggunakan media teleconference Zoom Meeting. Peserta sebanyak 30 orang anggota KPA seluruh Sulawesi Utara. Materi workshop meliputi: Konsep Pencinta Alam, Kode Etik Pencinta Alam Indonesia, serta diskusi implementasi soft skill dalam kegiatan kepencintaalaman. Untuk mendapatkan gambaran soft skill peserta dan perubahannya setelah kegiatan dilakukan survei. Hasil survei awal menunjukkan nilai rata-rata peserta ialah 2,9 dan survei akhir dengan nilai rata-rata 3,6 dengan rentang skor 0-4.
Co-Authors Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Adelfia Papu Ahmadin Awal Lumente, Ahmadin Awal Ahril Hidayat Akbar Arafah Embo, Akbar Arafah Alotia, Jayens Alule, Melisa BEIVY JONATHAN KOLONDAM Bryan M. Kuheba Deidy Katili Deidy Katili Deidy Y Katili Deidy Y Katili Deidy Y. Katili Deidy Y. Katili Edwin de Queljoe Eka Yuningsih Eko Handoyo Fabiola B. Saroinsong Farha N.J Dapas Febby E.F Kandou Fernandez T. Upa Frangky J. Paat Glorio D. Pinaria Greis M. Sendow Hanny Pontororing Hengki D. Walangitan Herni E.I Simbala I Nyoman Gede Arya Astawa Indra Polii, Indra Indriati Sumarni Islamul Hadi Jauhar Arifin Jessy D.L. Warongan Johny P. Lengkong Karim, Irwan Karmini Karmini Karyati Karyati Kiswanul Arifin Kunio Watanabe Lalu Wahyudi Langi, M A Lisa Wati Luther Latumakulita Maabuat, Pience Maria Y.M.A. Sumakud Marnix L. D. Nangoy Marnix L. D. Nangoy Marnix L.D Langoy Marnix L.D. Langoy Marnix Langoy Martina A. Langi Max R.J. Runtuwene Muhammad Danton Noor Muhammad Hendriyani Mylton Mantouw Mylton Mantouw, Mylton Olly E.H. Laoh Orpa Smarce Fransina Manori Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Parluhutan Siahaan Pience V Maabuat Puasa, Marton Putri Sianipar Putri Tesalonika Rondonuwu Rahma Wati Rahmi Baihaki Rio Priyanto Saibi Rivo F. Rahasia Roni Koneri Rooije R.H. Rumende Rooije R.H. Rumende Rudy C Tarumingkeng Rumanasari, Ratih Dwi Rumanasen, Baren Rustamiya Rizki Adiati Sahdin Sapsuha Saibi, Rio P. Saibi, Rio Priyanto Saimima, Arie J. Sandy, Jhon I. Sandy, Jhon Ismail Sary D.E. Paturusi Sendy Rondonuwu, Sendy Seni Tongkukut Septiyana Lestari Shinta Avriyanti Sirait, Hasanuddin Siska Anggreani Siti Hatiah Sri Supraptini Mansjoer Stanly O.B. Lombogia Sumual, Mercy M. Sunarmi Sunarmi Susan Marlein Mambu Syamsul Bachry Tangapo, Agustina Monalisa TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Taufik Rahman Tenda, Edwin Upa, Fernandez T. Wilmy Pelle