Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Komunikasi Antar Pribadi Perempuan Pengemudi dan Laki-Laki Pengemudi Transjakarta Anastasia Putri Yuniarti; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1945

Abstract

Sejak awal pengoperasian pada tahun 2004, Transjakarta sudah mempercayakan perempuan sebagai pengemudi. Pada tahun 2017, jumlah pengemudi Transjakarta didominasi oleh laki-laki dengan jumlah 540, dan perempuan sengan jumlah 35 orang. Penelitian ini dibuat dengan maksud untuk mengetahui bagaimana komunikasi antar pribadi yang terjalin antara perempuan pengemudi dengan laki-laki pengemudi Transjakarta. Sejumlah konsep yang dipaparkan dalam penelitian berupa komunikasi antar pribadi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan strategi fenomenologi. Analisis data diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber. Penelitian menyimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi yang terjalin antara perempuan pengemudi dan laki-laki pengemudi Transjakarta bersifat informal. Komunikasi dilakukan pada saat bertemu langsung. Untuk menghindari kesalahpahaman antar keluarga laki-laki pengemudi dan perempuan pengemudi tidak berkomunikasi secara pribadi melalui telepon. Komunikasi antarpribadi yang terjalin antara perempuan pengemudi dengan laki-laki pengemudi Transjakarta mencapai tahap penetrasi sosial yang menghasilkan keterbukaan diri dan hubungan yang semakin dekat. Terdapat grup WhatsApp yang terdiri dari perempuan pengemudi dan laki-laki pengemudi Transjakarta yang hanya digunakan untuk keperluan kerja. Penelitian juga menemukan bahwa tidak terjadi diskriminasi terhadap perempuan pengemudi Transjakarta namun terdapat hambatan pada saat bekerja.
Gaya Hidup Remaja Jakarta dalam Youtube (Studi Semiotika Konten Youtube Jakarta Uncensored) Garry Rykiel; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10265

Abstract

Youth and lifestyle are two inseparable things. Through the use of technology, youth lifestyle can be portrayed through the use of social media like Youtube. One of the channels that talks about youth lifestyle is Jakarta Uncensored. This study aims to find the meaning behind youth lifestyle from Jakarta Uncensored Youtube content. Theories and concepts used are semiotics, lifestyle, youth, new media and eastern culture. This study will analyze signs through the use of Charles Sanders Peirce theory of semiotics which includes sign, object and interpretant. These three combines itself in the form of triangle of meaning. This research will gather data from the use of observation, documentation and literature studies. Conclusion of this research is that the youth of Jakarta emphasizes themselves as freedom. This is shown from their lifestyle that tend to be active sexually and socially. Jakarta Uncensored also helps in giving sexual education in Indonesia since it seems taboo.Gaya hidup sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Dengan bantuan teknologi, gaya hidup remaja dapat dilihat dari media sosial seperti Youtube. Jakarta Uncensored adalah salah satu kanal Youtube yang mengupas topik seputar gaya hidup remaja Jakarta.  Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dari gaya hidup yang diperlihatkan remaja dalam kanal tersebut. Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika, media baru, gaya hidup dan budaya timur. Adanya Youtube yang ingin dianalisis sebagai media menjadikan penelitian ini sebagai analisis teks media. Penelitian ini akan menganalisis tanda yang terdapat dalam lima video Jakarta Uncensored menggunakan segitiga makna Charles Sanders Peirce. Segitiga makna terdiri dari tanda, objek, dan interpretan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah gaya hidup remaja Jakarta yang terlihat sangat dekat dengan dunia malam dan seks bebas. Penulis memberikan makna bahwa remaja Jakarta dalam kanal tersebut lebih mementingkan nilai kebebasan daripada ajaran agama yang dianut di Indonesia. Di lain sisi Jakarta Uncensored juga membantu memberikan edukasi seksual di Indonesia yang masih minim dan terkesan tabu.
Strategi Pengelolaan Komunikasi dalam Membentuk Personal Branding di Media Sosial Tiktok Shani Dwi Putri; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10300

Abstract

One of the features that characterize TikTok social media is its main page called For You Page or FYP. Users who are frequently featured on FYP can become popular and have many followers, known as TikTok celebrities. The strategies used by each TikTok celebrity in forming personal branding tend to be different from one another. This research aims to find out the authentic personal branding that TikTok celebrities want to form in their TikTok accounts and the communication management strategies they are doing to form their personal branding on TikTok. This research is conducted because there has not been any research that discussed communication management strategies to form personal branding on TikTok social media before. The theories used in this research are new media theory, personal branding, and communication management strategy Circular Model of SoMe for Social Communication. The research uses descriptive qualitative research approach with case study research method. The datas are obtained from in-depth interviews with five key informants, non-participant observation, documentation, and literature study. The results show that the communication management strategies carried out by each TikTok celebrity was through their interaction and content. The types of interactions differ according to their personal choices and do not always depend on the category of content they create.Salah satu ciri khas media sosial TikTok adalah halaman utamanya yang bernama For You Page atau FYP. Pengguna yang sering ditayangkan dalam FYP dapat menjadi populer dan memiliki banyak pengikut, disebut sebagai seleb TikTok. Strategi yang digunakan setiap seleb TikTok dalam membentuk personal branding cenderung akan berbeda satu sama lain. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui personal branding autentik yang ingin dibentuk seleb TikTok dalam akun TikTok mereka dan untuk mengetahui strategi pengelolaan komunikasi yang dilakukan para seleb TikTok dalam membentuk personal branding masing-masing di media sosial TikTok. Penelitian ini dilakukan karena belum ada penelitian yang membahas mengenai strategi pengelolaan komunikasi dalam pembentukan personal branding di media sosial TikTok.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori media baru, personal branding, dan strategi pengelolaan komunikasi Circular Model of SoMe for Social Communication. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode penelitian studi kasus. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dokumentasi, dan studi kepustakaan terhadap lima narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengelolaan komunikasi yang dilakukan setiap seleb TikTok adalah melalui interaksi dan konten. Jenis interaksi yang dilakukan berbeda sesuai kehendak pribadi setiap seleb TikTok, serta tidak selalu bergantung pada kategori konten yang dibuat.
Persepsi Masyarakat Terhadap Kelompok Waria Pesantren Vicktor Fadi; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6609

Abstract

Tranvestites as one part of the Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) can be categorized as a muted group. They get discrimination and rejection in their activities. When they wanted to pray they were rejected by society. There is a group of transvestites who took the initiative to establish a pesantren in Yogyakarta that allows transvestites to do their spiritual activities. This research wants to know the perception of village people to the transvestites group in Yogyakarta. The purpose of this study is to find out the perception of village people to the transvestites group in pesantren Yogyakarta. The theories used in this study are the theory of communication and culture, perception and factors of the forming perception, muted group, transvestites and Javanese Islamic culture. The study uses phenomenology methods and features a descriptive approach. Research data is obtained from depth interviews on nine interviewees, observations, document studies and literature studies. The conclusion of this research is the perception of village people to the transvestites group of pesantren tends to be negative perception. The women villagers felt disturbed because there were members of the transvestites group who joined the women section while praying in the mosque. And this made the village people uncomfortable with the existence of a group of transvestites in the villages. The village people believe a concept that in the  world there are only men and women, while the concept of transvestites is still gray in society. Waria merupakan bagian dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dan termasuk dalam kategori kelompok bungkam. Waria kerap mendapat diskriminasi dan penolakan dalam melakukan kegiatan termasuk ketika ingin beribadah. Namun, terdapat kelompok waria yang berinisiatif mendirikan pesantren yang menampung waria agar dapat menjalankan aktivitas spiritual seperti masyarakat pada umumnya. Penelitian ini ingin mengetahui persepsi masyarakat kampung di Yogyakarta terhadap kelompok waria yang beribadah di pesantren. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat kampung terhadap kelompok waria di pesantren. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi dan budaya, persepsi dan faktor-faktor pembentuk persepsi, kelompok bungkam, waria dan budaya Islam Jawa. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dan dilengkapi pendekatan deskriptif. Data penelitian diperoleh dari wawancara terhadap sembilan narasumber, pengamatan, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah persepsi masyarakat kampung terhadap kelompok waria pesantren cenderung negatif. Warga kampung yang merupakan perempuan merasa risih dengan adanya waria yang bergabung di bagian perempuan saat beribadah di masjid. Kondisi ini membuat masyarakat kampung tidak nyaman dengan keberadaan kelompok waria di kampung tersebut. Masyarakat kampung mempercayai konsep yang bahwa di dunia hanya terdapat laki-laki dan perempuan, sedangkan konsep waria masih abu-abu di masyarakat luas.
Penyingkapan Diri Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual Rini Oktaviani; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6635

Abstract

The high rate of sexual violence including rape and sexual harassment in Indonesia is a problem that has not been resolved. However, it cannot be concluded that cases of rape and sexual harassment are increasing, but more and more women survivors report cases they have experienced. Women dare to speak and not be influenced by the opinion of the majority who blame victims of sexual violence. One interesting phenomenon to be reviewed is the self-disclosure of women survivors of rape and sexual harassment of consorts. This study aims to determine the self-disclosure by women survivors of rape and sexual harassment at the escort and the reasons for women survivors of rape and sexual harassment to disclose themselves to the companion. The theory used is the theory of interpersonal communication, self-disclosure, the spiral of silence and patriarchal culture. This study uses a descriptive qualitative approach with the phenomenological method. Data analyzed were obtained from interviews with four survivors of rape and survivors of sexual harassment. The results of this study are the disclosure of survivors of rape and survivors of sexual harassment to companions is important so that victims do not bear their own problems and can immediately recover. Survivors can find people who at least have experience in support and people who can be trusted to listen to self-disclosure. But different things were found in the companion who is the mother of survivors and sexual harassers. The survivor's mother ignored the incident of abuse experienced by the survivor and assumed that the incident had never happened because the perpetrator was a person who was of one flesh and blood with the survivor. Tingginya angka kekerasan seksual termasuk perkosaan dan pelecehan seksual di Indonesia menjadi permasalahan yang sampai saat ini belum terselesaikan. Namun tidak dapat disimpulkan bahwa kasus perkosaan dan pelecehan seksual semakin bertambah melainkan semakin banyak perempuan penyintas yang melaporkan kasus yang mereka alami. Perempuan berani bersuara dan tidak terpengaruh dengan pendapat mayoritas yang menyalahkan korban kekerasan seksual. Salah satu fenomena yang menarik untuk diulas adalah penyingkapan diri perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual pada pendamping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyingkapan diri yang dilakukan perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual pada pendamping dan alasan perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual melakukan penyingkapan diri pada pendamping. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi interpersonal, penyingkapan diri, spiral keheningan dan budaya patriarki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan empat penyintas perkosaan dan penyintas pelecehan seksual. Hasil dari penelitian ini adalah penyingkapan diri penyintas perkosaan dan penyintas pelecehan seksual pada pendamping penting dilakukan agar korban tidak menanggung masalahnya sendiri dan dapat segera memulihkan diri. Penyintas bisa mencari orang yang setidaknya mempunyai pengalaman dalam mendukung dan orang yang bisa dipercaya untuk mendengarkan penyingkapan diri. Namun hal berbeda ditemui pada pendamping yang merupakan ibu dari penyintas dan pelaku pelecehan seksual. Ibu si penyintas mengabaikan peristiwa pelecehan yang dialami penyintas dan menganggap bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi karena pelaku adalah orang yang satu darah daging dengan penyintas.
Komunikasi Interpersonal Pekerja Anak yang Dieksploitasi oleh Orang Tua Novalia Novalia; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6203

Abstract

Penelitian ini mengangkat mengenai komunikasi interpersonal pekerja anak yang dieksploitasi oleh orang tua. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komunikasi interpersonal pekerja anak yang dieksploitasi oleh orang tua. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Peneliti memilih menggunakan wawancara semi terstruktur terhadap lima informan. Data penelitian yang didapat oleh peneliti bersumber dari hasil wawancara, observasi dan studi pustaka. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui komunikasi interpersonal pekerja anak yang dieksploitasi oleh orang tua. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi interpersonal dari Richard West dan Lynn H. Turner. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu adanya komunikasi interpersonal antara pekerja anak dengan orang tua yang melakukan tindakan eksploitasi secara verbal maupun nonverbal.
Perlawanan Penyintas Body Shaming Melalui Media Sosial Micheal Micheal; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6642

Abstract

As the era progresses, technological advances bring ease in accessing information from various media, one of which is social media. One of the most popular social media is Instagram. Instagram is a social media that allows their users to share information in the form of images, videos or writings. But social media is often used as a means to mock individuals with the action of body shaming. Body shaming is an act of commenting on all aspects of one's body. Body shaming action occurs due to the ideal body standardization. The ideal body standardization differs from one place and culture, more often experienced by women. However some people resist the actions of body shaming experienced. Some body shaming survivors have courage to resist such an act by direct or social media resistance. The purpose of this research is to find out the form of resistance by the survivors of body shaming through Instagram. The study uses phenomenological research methods with qualitative descriptive approach. Research data is derived from depth interviews on five interviewees, observations, document studies and literature studies. The conclusion is the form of resistance of the survivors of body shaming through social media Instagram divided into two, open resistance and closed resistance. Adapted to the characteristics of body shaming survivors.  The open resistance is characterized by an open interaction between the Group One and the other group. While hidden resistance is characterized by a closed interaction, indirect inter-group.  Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi menghadirkan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai media, salah satunya media sosial. Salah satu media sosial yang digemari adalah Instagram. Instagram merupakan media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi informasi dalam bentuk gambar, video maupun tulisan. Namun, media sosial kerap dijadikan sarana untuk mengejek individu dengan tindakan body shaming. Body shaming merupakan tindakan mengomentari segala aspek dalam tubuh seseorang. Tindakan body shaming terjadi karena standarisasi tubuh ideal. Standarisasi tubuh ideal berbeda-beda tergantung dari tempat dan budaya dan lebih sering dialami oleh perempuan. Namun, beberapa orang melawan dari tindakan body shaming yang dialami dan mereka disebut dengan penyintas. Beberapa penyintas body shaming berani melakukan tindakan perlawanan secara langsung maupun melalui media sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perlawanan yang dilakukan oleh penyintas body shaming melalui Instagram. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari wawancara mendalam, pengamatan langsung, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah bentuk perlawanan penyintas body shaming melalui media sosial Instagram terbagi menjadi dua, yaitu bentuk perlawanan terbuka dan bentuk perlawanan tertutup disesuaikan dengan karakteristik penyintas body shaming. Perlawanan terbuka dikarakteristikkan dengan adanya interaksi terbuka antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Sementara perlawanan tersembunyi ditandai dengan adanya interaksi tertutup atau tidak langsung antar kelompok
Perbandingan Personal Branding Perempuan Kepala Daerah Tingkat II di Indonesia melalui Instagram Vanessa Junaidi; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10174

Abstract

Having a strong self-image in the minds of the public is a way for political figures to create positive perceptions of themselves. In order to be realized, political figures need to package their abilities in attractive packaging or in other words, political figures need to do and have strong personal branding. Tjhai Chui Mie as Mayor of Singkawang and Karolin Margret Natasa as Regent of Landak are two Second Stage Local Female Leaders in Indonesia who do personal branding through their Instagram accounts. This study aims to determine the form of personal branding carried out by Tjhai Chui Mie and Karolin through their Instagram account and to find out the differences. The theories used in this research are communication theory, political communication, and personal branding. In this study, the authors used a qualitative research approach with a descriptive case study method. Data processing is sourced from data obtained through literature study and interviews with four sources. The results showed that the forms of personal branding performed by Tjhai Chui Mie and Karolin were both ceremonial and related to official activities. The difference is only in the concept of delivering political messages which are packaged into various Instagram content. The political communication that was built by the two of them was not interactive because the communication only went one way.Memiliki citra diri yang kuat dalam benak masyarakat merupakan salah satu cara tokoh politik dalam menciptakan persepsi positif atas dirinya. Agar dapat terwujud, tokoh politik perlu mengemas kemampuannya dengan kemasan yang menarik atau dengan kata lain, tokoh politik perlu melakukan dan memiliki personal branding yang kokoh. Tjhai Chui Mie selaku Wali Kota Singkawang dan Karolin Margret Natasa selaku Bupati Landak merupakan dua perempuan Kepala Daerah Tingkat II di Indonesia yang melakukan personal branding melalui akun Instagramnya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk personal branding yang dilakukan oleh Tjhai Chui Mie dan Karolin serta mengetahui perbedaan personal branding yang dilakukan keduanya melalui akun Instagram. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi politik, dan personal branding. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Pengolahan data bersumber dari data-data yang didapatkan melalui studi pustaka dan wawancara dengan empat narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk personal branding yang dilakukan Tjhai Chui Mie dan Karolin sama-sama bersifat seremonial dan berkaitan dengan kegiatan kedinasan. Perbedaannya hanya terdapat pada konsep penyampaian pesan politik yang dikemas menjadi konten Instagram yang beragam. Komunikasi politik yang dibangun keduanya juga belum interaktif sebab komunikasinya hanya berjalan satu arah.
Studi Budaya pada Komunitas Slankers di Jakarta Antony Antony; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2425

Abstract

Slankers merupakan sebuah nama bagi penggemar Grup Band Slank yang mayoritas terdiri dari anak-anak muda yang memiliki kesamaan kegemaran. Komunitas Slankers memiliki tempat berkumpul yang dikenal dengan sebutan Gang Potlot. Awalnya penggemar yang datang berharap dapat bertemu dengan para personel Grup Band Slank. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui sejarah terbentuknya, budaya yang terbentuk serta komunikasi yang terjalin antar sesama anggota komunitas Slankers di Jakarta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori budaya, teori subkultural dan teori komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi secara deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber dan dari hasil observasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunitas Slankers dibagi menjadi dua kategori yaitu anggota resmi dan anggota tidak resmi. Komunitas Slankers berasal dari kalangan bawah dilihat dari segi pendidikan yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas serta pekerjaannya yaitu pedagang, office boy, karyawan dan pelayan. Komunitas Slankers memiliki kebiasaan unik yang dilakukan sehari-hari hingga menjadi budaya sampai saat ini dan komunikasi yang terjalin antar sesama anggota Slankers berjalan dengan baik secara verbal dan nonverbal.
Studi Dramaturgi dalam Berkomunikasi Anak kepada Ayah Tiri Jessica Halim; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2435

Abstract

Teori Dramaturgi menurut Erving Goffman adalah dimana setiap individu membuat keputusan untuk mempresentasikan dirinya melalui pengelolaan kesan dan melanjutkan pertunjukannya untuk memastikan bahwa citra atau bayangan tersebut terbentuk. Goffman menggunakan metafora sebuah permainan untuk menjelaskan pandangan tentang pengelolaan kesan. Dramaturgi dibagi menjadi dua yaitu saat berada di depan panggung dan di belakang panggung. Anak akan selalu memakai topeng pada saat melihat ayah tiri akibat rasa benci yang dirasakan. Saat di depan panggung melihat ayah tiri maka anak akan menggunakan topeng dengan berpura-pura baik dan menyayangi ayah tiri sedangkan anak akan kembali menjadi diri sendiri ketika berada di lingkungan teman-teman dekat. Komunikasi yang digunakan anak kepada ayah tiri yaitu komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal dibagi menjadi dua yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal digunakan anak kepada ayah tiri dengan berkomunikasi dengan kata-kata yang sopan. Komunikasi nonverbal yang dilakukan anak kepada ayah tiri dengan memeluk dan mencium kedua pipi ayah tiri dan tersenyum dengan ramah.
Co-Authors Abda Abda Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny