Claim Missing Document
Check
Articles

Interaksi Sosial antara Kelompok Masyarakat Dayak dan Kelompok Masyarakat Tionghoa di Singkawang Wensi Wensi; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6613

Abstract

This research entitled Social Interaction between Dayak Community Groups and Chinese Community Groups in Singkawang was conducted to determine the social interaction of Dayak community groups and Chinese community groups in Singkawang. This research uses a qualitative approach through the method of phenomenology. The study will use semi-structured interviews with one key informant and four informants. The research data obtained were sourced from interviews, observations, documentation studies and literature studies. The theory used in this research is social interaction and forms of social interaction from Soerjono Soekanto and the conditions for social interaction from J. Dwi Narwoko and Bagong Suyanto. This research conclude that social interaction between Dayak community groups and Chinese community groups has been relatively well established because of the feeling of mutual openness and respect. There are obstacles in the process of interacting such as stereotypes, ethnocentrism and language differences. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui interaksi sosial kelompok masyarakat Dayak dan kelompok masyarakat Tionghoa di Singkawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode fenomenologi. Penelitian menggunakan wawancara semi terstruktur. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah interaksi sosial dan bentuk-bentuk interaksi sosial dari Soerjono Soekanto serta syarat-syarat terjadinya interaksi sosial dari J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Penelitian ini menemukan bahwa interaksi sosial antara kelompok masyarakat Dayak dan kelompok masyarakat Tionghoa telah terjalin dengan relatif baik karena adanya rasa saling terbuka dan menghormati. Terdapat hambatan dalam proses berinteraksi seperti stereotipe, etnosentrisme dan perbedaan bahasa.
Foto Prewedding Sebagai Bagian dari Gaya Hidup Nelly Nelly; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2440

Abstract

Fenomena foto prewedding merupakan bagian dari gaya hidup yang lazim ditemui sejak tahun 2000-an. Foto prewedding merupakan seni visual yaitu bagian dari budaya popular. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, semakin banyak pasangan yang memiliki gaya hidup sendiri yang cenderung penuh dengan kemewahan. Dalam melakukan foto prewedding, pasangan yang berasal dari kalangan menengah ke atas umumnya melakukan foto prewedding di luar negeri guna menunjukkan gaya hidup pasangan pengantin yang berbeda dari pasangan lain. Faktor finansial adalah salah satu faktor yang menentukan gaya hidup seseorang. Penelitian ini mengangkat foto prewedding yang merupakan bagian dari gaya hidup. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori budaya popular dan teori gaya hidup. Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian fenomenologi. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan tiga narasumber dan dari hasil observasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah budaya popular secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup seseorang termasuk melakukan foto prewedding. Foto prewedding berkembang pesat di Indonesia terutama di kota-kota besar karena dipengaruhi antara lain tingkat ekonomi yang terus meningkat dan teknologi kamera yang semakin baik.
Pengungkapan Diri Anak Tunarungu dalam Kelompok Teater Tujuh di Jakarta Yola Nahria Mufida; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6623

Abstract

Human beings are social beings that coexist. Ideas or a message to others are conveyed through communication. In performing communication, a hearing sense is needed to hear the message delivered.Good hearing makes it easier for the creation of a meaning by a person. Things are different when one's condition cannot hear or be deaf.   Disturbances on hearing experienced by deaf children will impact verbal abilities so that they use sign language and body language to communicate. Deaf children experience problems of their own especially on communication, it impacts their confidence and tends to shut down. Self-disclosure required deaf children who applied when they were in a social setting. The author conducts research relating to the self-disclosure of deaf children in the group Theatre Seven in Jakarta. The theory the author uses is group communication theory and self-disclosure theory. The author uses a qualitative research approach and case study research method. In this study the author selected five informants for information and data with regard to research topics. The criteria chosen from the author were deaf children in the 8-12-year-old group of Theatre Seven. The results show that there was a self-disclosure of deaf children in the group Theatre Seven. That is confidence, believing in others, sharing information about him or her to others such as experience, feelings, and ideas as well as there is the effectiveness of communication with Indonesia Sign Language (Bisindo) and making communication more efficient. Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berdampingan. Gagasan atau suatu pesan kepada orang lain disampaikan melalui komunikasi. Dalam melakukan komunikasi, indera pendengaran dibutuhkan untuk mendengar pesan yang disampaikan. Pendengaran yang baik memudahkan terciptanya suatu makna oleh seseorang. Hal berbeda terjadi bila kondisi seseorang tidak dapat mendengar atau tunarungu. Gangguan pada pendengaran yang dialami anak tunarungu akan berdampak pada kemampuan verbal sehingga mereka menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Anak tunarungu mengalami masalah tersendiri terutama pada komunikasi. Hal tersebut berdampak pada kepercayaan diri mereka dan kecenderungan menutup diri. Pengungkapan diri diperlukan anak-anak tunarungu ketika mereka berada di lingkungan sosial. Penulis melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengungkapan diri anak tunarungu dalam kelompok Teater Tujuh di Jakarta. Teori yang digunakan penulis adalah teori komunikasi kelompok dan teori pengungkapan diri. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini, penulis memilih lima informan untuk mendapatkan informasi dan data yang berkaitan dengan topik penelitian. Kriteria yang dipilih dari penulis adalah anak tunarungu dalam Kelompok Teater Tujuh yang berusia 8-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengungkapan diri anak tunarungu dalam kelompok Teater Tujuh yaitu dengan percaya diri, percaya dengan orang lain, berbagi informasi mengenai dirinya kepada orang lain seperti pengalaman, perasaan dan ide. Selain itu, terdapat efektifitas komunikasi dengan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan membuat komunikasi menjadi efisien.
Studi Komunikasi Persuasif Anak Vegetarian terhadap Orang Tua Nonvegetarian Willen Tifvany; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10371

Abstract

Vegetarian is one of the ways that human can do to start healthy lifestyle. There is process, technique, principle, and factors that supports nor hinders a message to be delivered in persuasive communication. This research is talking about persuasive communication that child to their parents and using communication theory, persuasive communication theory, interpersonal communication theory, lifestyle, and vegetarian. This research is using descriptive qualitative approach and deduction model. This research data is obtained from interview with two key informant and three informant, documentation, and study literature. From this research is known there is a difference in characteristic of interpersonal communication on the process of persuasive communication that key informant number one and key informant number two. Then, on the process of persuasive communication there is a principle of selective exposure, principle of audience participation and principle of inoculation. Besides that, the persuasive communication that vegetarian child do to their parents is using association techniques, integration techniques, reward techniques, structuring techniques, and red-herring techniques. The factors that support or hinder the persuasive communication process of vegetarian child do to their non-vegetarian parents can be viewed in terms of communicators and communicants. Communicators must have confidence and attractiveness in the form of self-confidence while communicants must really understand the communication message conveyed.Vegetarian merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk memulai gaya hidup sehat. Komunikasi persuasif yang dilakukan anak vegetarian terhadap orang tua nonvegetarian terdapat proses, teknik, prinsip, dan faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat sebuah pesan untuk tersampaikan. Penelitian ini membahas tentang komunikasi persuasif anak vegetarian terhadap orang tua nonvegetarian dan menggunakan teori yang terdiri dari teori komunikasi, teori komunikasi persuasif, teori komunikasi antarpribadi, gaya hidup, dan vegetarian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan model deduksi. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara terhadap dua orang key informan, tiga orang informan, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Dari penelitian ini diketahui bahwa proses komunikasi persuasif yang dilakukan key informan satu dan key informan dua memiliki perbedaan karakteristik komunikasi antarpribadi. Kemudian terdapat prinsip pemaparan selektif, prinsip partisipasi khalayak dan prinsip inokulasi dalam proses komunikasi persuasif. Selain itu komunikasi persuasif yang dilakukan anak vegetarian terhadap orang tua nonvegetarian adalah dengan menggunakan teknik asosiasi, teknik integrasi, teknik ganjaran, teknik tataan, dan teknik red-herring. Kemudian faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat proses komunikasi persuasif anak vegetarian terhadap orang tua nonvegetarian dapat ditinjau dari segi komunikator maupun komunikan. Komunikator harus memiliki kepercayaan dan daya tarik yang berupa rasa percaya diri sementara komunikan harus benar-benar mengerti pesan komunikasi yang disampaikan.
Komunikasi Transendental Antara Penari Tamborin dan Tuhan Dhea Marianti; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3897

Abstract

Penelitian ini merupakan hasil penelitian kualitatif membahas tentang komunikasi ritual Tarian Tamborin. Tarian Tamborin merupakan suatu bentuk wujud penyampaian pujian dan penyembahan umat Kristiani kepada Tuhan. Tarian ini biasanya dilakukan pada setiap hari minggu dalam Ibadah Raya Gereja Bethel Indonesia di Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi ritual Tarian Tamborin dalam Ibadah Raya Gereja Bethel Indonesia di Jakarta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi ritual, teori komunikasi non verbal dan teori komunikasi transendental. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif secara fenomenologi deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis menggunakan wawancara  dan observasi. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan enam narasumber. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan bahwa komunikasi ritual dalam Tarian Tamborin adalah penari Tamborin dapat menyampaikan bentuk pujian, penyembahan dan ucapan syukur kepada Tuhan melalui Tarian Tamborin yang terdiri dari lima unsur yaitu berbagi, partisipasi, perkumpulan atau asosiasi, persahabatan dan keyakinan bersama. Komunikasi transendental dalam penelitian ini adalah dari kelima narasumber penulis menemukan bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan Tuhan melalui tarian Tamborin.
Studi Budaya Dalam Komunitas Fans Nike Ardilla di Jakarta (Fanatisme Penggemar Nike Ardilla) Stella Stella; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3941

Abstract

Nike Ardilla Fans Club merupakan sebuah nama bagi penggemar dari penyanyi Nike Ardilla yang terdiri dari berbagai macam orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Nike Ardilla Fans Club sudah tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Penggemar Nike Ardilla juga tersebar di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand dan Hongkong. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui studi komunikasi budaya dalam komunitas fans Nike Ardilla di Jakarta, untuk mengetahui bentuk fanatisme komunitas fans Nike Ardilla dan untuk mengetahui komunitas fans Nike Ardilla menjadi fanatik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, teori budaya, teori fanatisme dan teori identitas budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif studi kasus secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber dan dari hasil observasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas Nike Ardilla fans Club didominasi oleh anggota perempuan. Anggota Nike Ardilla Fans Club memiliki alasan tertentu yang membuat para fans menjadi fanatik. Komunitas Nike Ardilla Fans Club memiliki identitas budaya yaitu kebiasaan unik yang dilakukan sehingga membentuk budaya yang terjadi sampai saat ini, dan komunikasi yang terjalin antara sesama anggota Nike Ardilla Fans Club berjalan dengan baik. Komunikasi yang dilakukan juga menggunakan perantara media sosial.
Budaya Anak Punk di Yayasan Laskar Berani Hijrah (Studi Komunikasi Budaya Anak Punk di Depok) Mikael Rainer Anggiprana; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8119

Abstract

Punk community are a distinguished group with its own unique culture. One of the most striking uniqueness of this community is their appearances which causes discomfort to the public and thus isolates them. Laskar Berani Hijrah Foundation is an institution which seeks to foster this punk community. The method used is based on Islamic teachings and the Holy Quran and its verses in it as a basis for guidance. This action is affecting the culture that the distinguished punk community held in the way they are communicating. The writer conduct a research that related to the cultural communication of the punk community in Laskar Berani Hijrah Foundation. Theories that is used in this research are ethnography theory and cultural theory. This research use qualitative approach that featured phenomenology as its method. Researcher choose four informants, whom are the chairman of the foundation, ustadz that also act as a mentor and two punks in the institution. This research conclude that the punk community in the Laskar Berani Hijrah Foundation performs cultural communication in verbal and nonverbal means, inside and also outside the routine activity that held by the foundation, influenced by two major factors that are their surroundings pressure as well as spiritual values implantation.Anak punk merupakan kelompok yang memiliki budayanya sendiri. Salah satu budaya kelompok ini dapat dilihat dari cara mereka berpenampilan. Namun tampilan yang berbeda tersebut menimbulkan rasa kekhawatiran di masyarakat dan membuat kelompok anak punk menjadi semakin terasing. Yayasan Laskar Berani Hijrah membimbing anak punk untuk mengarahkan dan membimbing mereka menuju arah yang lebih baik dengan dasar agama Islam dan ayat-ayat Al Quran dalam berkomunikasi dalam binaan. Hal ini berdampak pada budaya dalam kelompok anak punk sendiri terutama dalam berkomunikasi. Penulis melakukan penelitian yang berkaitan dengan komunikasi budaya anak punk di Yayasan Laskar Berani Hijrah. Teori yang digunakan adalah teori etnografi komunikasi dan teori budaya. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Penulis memilih empat informan yang antara lain adalah ketua yayasan, ustad sekaligus pembimbing dan dua anak punk di yayasan tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak punk di Yayasan Laskar Berani Hijrah melakukan komunikasi budaya secara verbal dan nonverbal di dalam maupun di luar kegiatan rutin bersama yayasan yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu tekanan lingkungan serta penanaman keimanan dan spiritualitas kepada anak punk.
Studi Komunikasi Kelompok Terapi pada Pasien Gangguan Jiwa di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Wilson Wilson; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3946

Abstract

Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan adalah salah satu rumah sakit jiwa ternama di Indonesia yang berdiri menangani para pasien gangguan jiwa sejak tahun 1876. Dalam kegiatan keperawatan pasien gangguan jiwa, terdapat kegiatan komunikasi kelompok terapi. Komunikasi kelompok terapi yang terjadi antar pasien gangguan jiwa ini memiliki berbagai fungsi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok yang mencakup jaringan komunikasi kelompok, tipe komunikasi kelompok, fungsi komunikasi kelompok, dan komunikasi verbal dan non-verbal. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode penelitian studi kasus. Data yang akan dianalisis diperoleh dari observasi dan wawancara dengan tiga orang pasien gangguan jiwa sebagai kelompok kecil serta satu perawat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara para pasien gangguan jiwa berkomunikasi dalam kelompok terapi dan fungsi komunikasi kelompok pada pasien gangguan jiwa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi kelompok terapi yang terjadi di RSJ termasuk dalam jaringan komunikasi kelompok semua saluran. Informan pasien menyampaikan pesan verbal untuk mengenal satu sama lain, dan memberikan pesan non-verbal untuk menyampaikan perasaannya. Sedangkan fungsi komunikasi kelompok yang paling terlihat adalah fungsi sosial dan fungsi persuasif.
Analisis Semiotika Tato Tradisional Suku Mentawai Ian Handani; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6144

Abstract

Penelitian ini mengangkat tentang tato tradisional Suku Mentawai. Tato adalah sebuah karya seni yang memiliki nilai dan makna dari setiap gambar atau motifnya. Penelitian tentang makna tato Mentawai penting untuk dilakukan karena sejauh ini tidak banyak penelitian mengenai makna pada tato masyarakat Mentawai. Praktik tato sendiri sudah dijalankan mulai Sebelum Masehi tepatnya pertama kali di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Dari tahun ke tahun peminatan tato tradisional ini mulai menurun karena dianggap sudah kuno dan ketinggalan zaman. Data hasil penelitian diambil dari wawancara dengan tiga narasumber yang pernah tinggal di Mentawai serta dokumentasi, guna mendapatkan data yang bisa dipercaya. Data yang didapat akan dibedah dengan Teori Semiotika Model Charles Sanders Pierce yang memakai segitiga makna untuk menganalisa data dan bertujuan untuk mengetahui arti dan kegunaan dari tato yang dipakai oleh suku Mentawai. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suku Mentawai mengganggap tato merupakan sebuah hal yang sakral karena berhubungan dengan alam dan arwah. Dari hasil penelitian ada delapan jenis tato antara lain sarepak abak dan sibalubalu. Setiap tato yang dipakai oleh suku Mentawai juga memiliki makna yang berbeda dari setiap motifnya.
Representasi Maskulinitas pada Sosok Ayah dalam Film (Studi Semiotika Roland Barthes pada Film Fatherhood) Winardi Aldrian; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15540

Abstract

Film is the dominant form of visual mass communication in this world. In general, films are built upon signs, which include images and sounds. On June 18, 2021, Netflix released the comedy drama film Fatherhood. This film tells the story of a father who has to live as a single father who has to perform a domestic role by taking care of a child, as well as being an architect as his public role. This study aims to find out the representation of masculinity in father figure on Fatherhood. The theory used by author in this study is mass communication theory, film as mass media, Netflix, Roland Barthes’s semiotic, representation, gender and masculinity. This research uses a descriptive qualitative approach with Roland Barthes’s semiotic model analysis technique. The research data were obtained from scenes or texts in film, observations, and literature studies. The conclusion of this study is that the masculinity in father figure on “Fatherhood” is represented through three aspects, namely the domestic role that’s associated with the concept of male masculinity as a “new man as nurturer” and the concept of fatherhood, the public role which is the role of the men with masculinity and societal views that’s related to patriarchal ideology. Film merupakan bentuk dominan dari komunikasi massa visual dalam dunia. Pada umumnya film dibangun dengan tanda-tanda meliputi gambar dan suara. Pada tanggal 18 Juni 2021, Netflix merilis film drama komedi yang berjudul Fatherhood. Film ini menceritakan tentang seorang ayah yang harus menjalani hidup sebagai ayah tunggal yang melakukan peran domestik dengan mengasuh anak sekaligus peran publik yaitu bekerja sebagai arsitek. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi maskulinitas pada sosok ayah dalam film Fatherhood. Teori yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah teori media massa, film sebagai media massa, Netflix, semiotika Roland Barthes, representasi, gender dan maskulinitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis semiotika model Roland Barthes. Data penelitian diperoleh dari adegan-adegan atau teks pada film, observasi pada film, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah maskulinitas pada sosok ayah dalam film Fatherhood direpresentasikan melalui tiga hal, yaitu peran domestik yang berhubungan konsep maskulinitas laki-laki sebagai “new man as nurturer” dan konsep fatherhood, peran publik yang merupakan peran laki-laki dengan maskulinitasnya dan pandangan masyarakat yang berkaitan dengan ideologi patriarki.
Co-Authors Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Helena Helena, Helena Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny