Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Diri Remaja Cina Benteng (Studi Komunikasi Pada Remaja Cina Benteng di Tangerang) Sheren Millennia Wijaya; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10419

Abstract

Indonesia is a plural country because it has a variety of ethnicities, languages, religions. One of the ethnic groups in Indonesia is Benteng Chinese who have lived for a long time in Tangerang. Each ethnic group has its own identity or uniqueness that differentiates it from other ethnicities. Benteng Chinese society consists of various groups, one of which is a teenager. One of the most important periods in this phase of human life occurs in adolescence. During this period, a teenager's mental development and growth process occurs to form an identity that will describe his self-concept. Every teenager has a different self-concept. Parents are the biggest factor in the formation of adolescent self-concept. Imitation also affects self-concept. The purpose of this study was to describe the self-concept of Benteng Chinese Youth and what factors influence the self-concept of Benteng Chinese youths. In examining this research the writer uses concepts and theories, namely self-concept, imitation, adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents. adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents. adolescence, and Cina Benteng. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research data was obtained through interviews with two key informants and two supporting informants, as well as a literature study. The results showed that the self-concept possessed by Chinese Benteng youths varied physically, socially, and psychologically. And the factor that most influences the formation of adolescent self-concept is parents.Indonesia merupakan negara majemuk karena memiliki beragam suku, etnis, bahasa, agama. Salah satu etnis yang ada di Indonesia adalah Cina Benteng yang sudah menetap lama di Tangerang. Setiap etnis memiliki identitas atau keunikan masing-masing yang membedakan dengan etnis lainnya. Masyarakat Cina Benteng terdiri dari berbagai kalangan, salah satunya remaja. Salah satu periode terpenting dalam fase kehidupan manusia terjadi pada masa remaja. Pada masa ini terjadi proses perkembangan dan pertumbuhan mental seorang remaja sehingga membentuk jati diri yang akan menggambarkan konsep dirinya. Setiap remaja memiliki konsep diri yang berbeda-beda. Orang tua merupakan faktor terbesar terbentuknya konsep diri remaja. Imitasi juga berpengaruh terhadap konsep diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri Remaja Cina Benteng dan faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri remaja Cina Benteng. Dalam mengkaji penelitian ini penulis menggunakan konsep dan teori yaitu konsep diri, imitasi, remaja, dan Cina Benteng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian diperoleh melalui wawancara terhadap dua key informan dan dua informan pendukung, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri yang dimiliki remaja Cina Benteng berbeda-beda secara fisik, sosial, maupun psikologis. Dan faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri remaja adalah orang tua.
Studi Komunikasi Budaya pada Paguyuban Wayang Orang Bharata Monica Veronica; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3924

Abstract

Di era modern, kebudayaan tradisional khususnya Wayang Orang jarang terdengar eksistensinya. Banyak orang tidak mengetahui keberadaan kebudayaan Wayang Orang sebagai bentuk kesenian pertunjukan tradisional Jawa. Sejauh ini belum ada penelitian tentang komunikasi budaya pada Paguyuban Wayang Orang Bharata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi budaya yang terdapat pada Paguyuban Wayang Orang Bharata. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan empat narasumber. Penelitian berfokus terhadap lima elemen budaya yang dikemukakan oleh Samovar. Agama mayoritas di Paguyuban Wayang Orang Bharata adalah Islam. Beberapa individu masih menganut kepercayaan kejawen seperti semedi untuk mencari keselematan dan kelancaran dalam pagelaran. Nilai budaya yang terdapat di Paguyuban Wayang Orang Bharata berasal dari tokoh Wayang orang yang relevan di kehidupan sehari-hari contohnya adalah sifat baik dari tokoh Pandawa. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa.
Interaksi Simbolik Pengajar Musik Tunanetra dengan Siswa Tunanetra di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan Intan Puspitasari; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6230

Abstract

Kesulitan tunanetra adalah keterbatasan dalam melihat sehingga perlunya pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Anak tunanetra tidak hanya harus mendapat pendidikan akademik tetapi juga pendidikan non akademik, sehingga potensi anak berkembang secara optimal. Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan mengajarkan keahlian di luar pendidikan akademik yaitu salah satunya adalah pembelajaran bermusik. Yayasan ini memiliki tiga orang pengajar musik yang merupakan penyandang tunanetra. Pengajaran bermusik untuk anak tunanetra berupaya memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak termasuk anak tunanetra dalam memperoleh kesempatan belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi simbolik pengajar musik tunanetra dengan siswa tunanetra di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan. Untuk mengetahui cara pengajar musik tunanetra mengatasi kendala dalam pembelajaran bermusik di Yayasan Mitra Netra Lebak Bulus Jakarta Selatan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi verbal dan interaksi simbolik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian akan menggunakan wawancara mendalam terhadap lima orang narasumber yaitu tiga pengajar musik, pengurus yayasan dan siswa. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi interaksi simbolik antara pengajar musik tunanetra dengan siswa tunanetra di Yayasan Mitra Netra adalah menggunakan pengulangan suara melalui pendengaran dan interaksi simbolik berupa perabaan. Sebab tidak menggunakan visual karena siswa dan pengajar merupakan tunanetra. Dalam berkomunikasi menggunakan interaksi simbolik berupa perabaan, dilakukan dengan cara jari siswa dipegang untuk mengikuti gerak tangan pengajar musik. Setelah itu siswa harus mendengarkan dan mempraktikkan pembelajaran yang diberikan oleh pengajar musik.
Komunikasi Ritual Obiyem pada Etnis Tamil Hindu di Kota Medan Ratna Sari Puspa; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8076

Abstract

The Tamil Hindu ethnic community is spread across Indonesia, the majority live in Medan North Sumatra. Obiyem ritual is a religious activity believed by the Tamil Hindu ethnic community. The ritual has existed since the time of Bharatayudha and it is believed to eliminate bad karma for anyone who participates and performs the ritual. This ritual also obliges the devotees to make offerings to the Gods and Goddesses as a form of gratitude for giving abundance, maintain and protecting the universe. With the existence of ritual communication, the Tamil Hindu ethnic community in Medan can communicate and relate to the creator through the Obiyem ritual. This tradition is still carried out by the Tamil Hindu ethnic community to this day. The purpose of this study is to find out how the ritual communication is at the ceremony to the Tamil Hindu ethnic in Medan and what preparations are needed when the ritual is performed. Theories used in this research are communication theory, ritual communication and transcendental communication.The research method used was a phenomenological method with a qualitative descriptive approach. The data were obtained from in-depth interviews with three sources who understood about the ritual of Obiyem. The conclusion of this study is the ritual of Obiyem is a media used to communicate between humans and the Creator so that all bad karma is eliminated. It is also strengthen the relationship of Tamil Hindu ethnic society.Masyarakat etnis Tamil Hindu di Indonesia mayoritas berada di kota Medan, Sumatera Utara. Ritual Obiyemmerupakan kegiatan keagamaan bagi etnis Tamil Hindu. Ritual Obiyemsudah ada sejak zaman Bharatayudha. Ritual ini dipercaya bisa menghapuskan karma buruk bagi siapapun yang ikut serta dan melakukan ritual ini. Ritual ini juga mewajibkan para jemaah untuk memberikan persembahan kepada para dewa dan dewi sebagai bentuk terima kasih karena sudah memberi kelimpahan, memelihara dan menjaga alam semesta. Dengan adanya komunikasi ritual masyarakat etnis Tamil Hindu di Medan dapat berkomunikasi dan berhubungan dengan sang pencipta melalui ritual Obiyem. Ritual ini masih dilaksanakan oleh masyarakat etnis Tamil Hindu sampai saat ini. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana  komunikasi ritual Obiyempada etnis Tamil Hindu di kota Medan dan apa saja persiapan yang dibutuhkan pada saat ritual Obiyem dilakukan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi ritual dan komunikasi transendental. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan narasumber yang mengetahui ritual Obiyem. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ritual Obiyemmerupakan media yang digunakan untuk berkomunikasi antara manusia dan sang pencipta untuk menghapuskan karma buruk. Komunikasi ritual ini juga dilakukan untuk mempererat hubungan masyarakat etnis Tamil Hindu.
Fenomena Ciong Pada Budaya Penganut Konghucu Rizki Tanto Wijaya; Suzy S. Azeharie; Muhammad Adi Pribadi
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3934

Abstract

Bagian etnis Tionghoa yang masih kental dengan unsur budaya ialah etnis Tionghoa penganut agama Konghucu. Feng Shui merupakan salah satu warisan budaya yang masih tetap eksis hingga saat ini. Pemanfaatan Feng Shui kian diterapkan oleh penganut Konghucu dalam menjalankan sektor kehidupan dalam hal memperoleh keharmonisan dan kemakmuran hidup. Dibalik kepercayaan penganut Konghucu terhadap Feng Shui, penganut Konghucu mengenal budaya Ciong yang niscaya dapat membawa mara bahaya dalam hidup. Budaya Ciong kerap ditakuti oleh penganut Konghucu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui budaya Ciong pada penganut Konghucu. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi secara deskriptif. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan tujuh narasumber. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penganut Konghucu di Jakarta sejak dahulu telah meyakini bahwa Ciong merupakan unsur budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.  Ciong kerap dikaitkan dengan berbagai hal yang berbau mitos dan mistis.
Studi Self Disclosure Yang Dilakukan Model Kepada Fotografer Michael Stefanus; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2030

Abstract

Dalam dunia permodelan, terdapat dua jenis model yaitu model catwalk dan model foto. Model catwalk biasanya bisa menjadi model foto tetapi model foto belum tentu bisa menjadi model catwalk karena tinggi badan tidak sesuai. Dalam sesi pemotretan, model dibantu oleh fotografer untuk mengarahkan dan menuntun model berpose di depan kamera. Perlu ada kecocokan dan hubungan yang baik dari keduanya supaya proses pemotretan tersebut lancar dan mendapatkan hasil foto terbaik. Kecocokan dan hubungan tersebut dapat dibangun karena keduanya saling mengungkapkan diri atau melakukan self disclosure. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana self disclosure yang dilakukan model kepada fotografer. Teori komunikasi yang digunakan adalah teori penetrasi sosial yang di dalamnya terdapat analogi kulit bawang dan self disclosure. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Key informan dan narasumber dalam penelitian ini adalah Darwis Triadi, Hartono Hosea, Asmara Abigail, Tasya Bintang, Yovita Iskandar, Vivi Rans, Andrea Paramita Korompis, Raphaela Natasha, Vincent Soehartono, Calvin Alexander dan Evianty. Penelitian ini menarik kesimpulan bahwa self disclosure yang dilakukan model kepada fotografer berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh kedekatan dan juga tingkat penetrasi sosial dari setiap model dan fotografer.
Gaya Hidup Honda Beauty Sebagai Representasi Citra Diri (Studi Kasus Gaya Hidup Sales Promotion Girls Honda Di Jakarta) Olivia Junifer Cendana; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2035

Abstract

Penelitian ini ingin mengetahui gaya hidup Honda Beauty di Jakarta sebagai representasi citra diri. Penelitian ini menarik dilakukan karena penulis ingin menganalisa gaya hidup Honda Beauty di Jakarta dan apakah dengan gaya hidup yang dipilih Honda Beauty merepresentasikan citra dirinya. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini yakni terkait gaya hidup, citra diri, motivasi dan sales promotion girls. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya hidup Honda Beauty, motivasi gaya hidup Honda Beauty, bentuk gaya hidup Honda Beauty dan menganalisa apakah gaya hidup yang dianut Honda Beauty dapat merepresentasikan citra diri yang baik. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan lima key informants yaitu Honda Beauty dan tiga pakar yaitu dua pakar psikolog, satu pakar gaya hidup, dan dua agency Honda. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan studi kasus secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini ialah gaya hidup Honda Beauty merupakan gaya hidup yang sehari-hari dilakukan dalam aktivitasnya yang telah menjadi suatu kebiasaan dan adanya suatu pengaruh lingkungan dan dari gaya hidup yang dijalani Honda Beauty dapat membentuk dan merepresentasikan citra dirinya.
Interaksi Sosial Perempuan Calon Pilot (Studi Kasus pada Perempuan Calon Pilot di Akademi Penerbangan Aero Flyer Institute) Erlina Sebastian; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3900

Abstract

Perempuan Indonesia lebih diarahkan untuk melakukan peran domestik dibandingkan peran publik. Sehingga masih terdapat diskriminasi perempuan dalam berbagai bidang seperti pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan. Pekerjaan sebagai pilot merupakan pekerjaan yang identik dan didominasi oleh laki-laki. Perempuan yang sedang menjalankan pendidikan sebagai calon pilot akan melakukan interaksi sosial dengan calon pilot laki-laki dan akan beradaptasi dalam interaksi tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori interaksi sosial, adaptasi interaksi dan pembagian kerja secara seksual. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi non-partisipan dan data dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus bertujuan untuk melihat interaksi sosial dan adaptasi interaksi perempuan calon pilot di akademi penerbangan Aero Flyer Institute. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dari proses interaksi, beberapa dari siswi akademi Aero Flyer Institute merasakan adanya diskriminasi dari cara bercanda siswa laki-laki terhadap mereka. Hal ini menyebabkan beberapa siswi merasa tersudut dan melaporkannya ke pihak akademi. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswa Aero Flyer Institute akan segera dicari solusinya melalui forum yang diadakan oleh pihak akademi.
Studi Semiotika Makna Upacara Perayaan Dewi Kwan Im di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang Jessica Gunawan; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10221

Abstract

This research discusses of rituals for Dewi Kwan Im celebration that is the day Dewi Kwan Im leaving the world. Dewi Kwan Im is the Goddess who was highly respected by Khonghucu people’s because Dewi Kwan Im trusted can be helps Khonghucu people’s who need helps. Therefore Khonghucu people’s always celebrate the biggest day of Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im Temple where located at KM 12 Palembang also held a celebration ceremony in welcoming the great day of Dewi Kwan Im with has its own rituals tradition in carrying out the celebration ceremony of Dewi Kwan Im. Every rituals procession which help held in Dewi Kwan Im Palembang Temple has a meaning in it. The purpose of this research is to know the meaning of rituals celebration for Dewi Kwan Im at Dewi Kwan Im Temple Palembang and to know the tradition which did by the Khonghucu people’s at Dewi Kwan Im Temple Palembang in celebrating the rituals of Dewi Kwan Im. The theories which used in this research are semiotics theory, transcendental communication theory and assimilation theory. The research methods that used is qualitative research methods with a case study approach. The data results were obtained through direct observation to Dewi Kwan Im Palembang Temple, interviews with five sources, and literature studies. The conclusion of this research is the celebration rituals of Dewi Kwan Im at Dewi Kwan Im Palembang Temple is a form of respect and gratitude of Khonghucu people’s to Dewi Kwan Im for the blessings and help which recieved by the Khonghucu people’s during this time. Other than that the tradition which there at Dewi Kwan Im Palembang Temple is a combination of Hokkien culture society.Penelitian ini membahas upacara perayaan Dewi Kwan Im yaitu hari Dewi Kwan Im meninggalkan dunia. Dewi Kwan Im merupakan dewi yang sangat dihormati oleh umat Khonghucu sebab Dewi Kwan Im dipercaya dapat membantu umat Khonghucu yang membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu umat Khonghucu selalu merayakan hari besar Dewi Kwan Im. Kelenteng Dewi Kwan Im yang berada di KM 12 Palembang turut mengadakan upacara perayaan dalam menyambut hari besar Dewi Kwan Im dengan  memiliki tradisi upacara sendiri dalam melaksanakan upacara perayaan Dewi Kwan Im. Setiap prosesi upacara yang dilaksanakan di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang mempunyai makna di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna upacara perayaan Dewi Kwan Im yang dilaksanakan di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang dan untuk mengetahui tradisi yang dilakukan oleh umat Khonghucu di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang dalam merayakan upacara Dewi Kwan Im. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori semiotika, teori komunikasi transendental dan teori asimilasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil data diperoleh melalui observasi langsung ke Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang, wawancara dengan lima narasumber, dan studi kepustakaan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah upacara perayaan Dewi Kwan Im yang dilaksanakan di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang merupakan bentuk rasa hormat dan terima kasih umat Khonghucu kepada Dewi Kwan Im atas berkat dan pertolongan yang diterima oleh umat Khonghucu selama ini. Selain itu tradisi yang ada di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang merupakan gabungan dari budaya masyarakat Hokkien.
Studi Komunikasi Budaya Pada Penonton Alay di Jakarta Yuliana Yuliana; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2050

Abstract

Televisi merupakan media massa paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Melalui media massa khususnya televisi, budaya populer dihasilkan. Budaya populer yang dihasilkan adalah adanya fenomena penonton alay. Penonton alay yang diteliti adalah penonton alay stasiun televisi Trans TV ke stasiun televisi ANTV. Penelitian ini dibuat dengan maksud untuk mengetahui sejarah terbentuknya penonton alay di Jakarta dan apa yang menyebabkan seseorang menjadi penonton alay. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori budaya, studi kultural, media massa, budaya populer, hedonisme, dan komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif historis secara deskriptif. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan dua narasumber dan enam key informan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penonton alay dibagi menjadi tiga kategori yaitu penonton alay callingan cantik, penonton alay biasa dan penonton alay kelas bawah yang memiliki bayaran dan tugas yang berbeda-beda.
Co-Authors Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Helena Helena, Helena Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny