Claim Missing Document
Check
Articles

Ritual Sajen pada Penganut Sunda Wiwitan (Studi Komunikasi Budaya pada Penganut Sunda Wiwitan) Melina Melina; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6431

Abstract

Sunda Wiwitan is a belief held by traditional Sundanese society or native Sundanese religion. Sundanese Wiwitan community is spread in West Java, one of which is Cigugur Village, Kuningan. In carrying out their religious activities, this group usually presents offerings. The rituals of offerings in Sunda Wiwitan have existed since the stone age. This ritual is a legacy from the ancestors handed down to the younger generation of Sunda Wiwitan through the communication process. This ritual is still carried out by the Sunda Wiwitan community until this day. The purpose of this research is to find out how the process of offering rituals on Sunda Wiwitan adherents and what are the preparations needed at the time of the ritual. Theories used in this research are communication theory, culture and ritual communication. The research method used was a descriptive qualitative research method with a phenomenological method. The data to be analyzed was obtained from the results of in-depth interviews with three speakers. The conclusion from this study is that ritual offerings are not a negative thing. But the offerings ritual is a ritual that presents the work of human beings to Sang Hyang Kersa or the Creator, creatures that appear or do not appear as expressions of gratitude and. This ritual is also a symbol that describes the relationship between humans and nature and humans with the Creator. Sunda Wiwitan merupakan sebuah aliran kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda atau agama Sunda asli. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan tersebar di daerah Jawa Barat salah satunya adalah Desa Cigugur, Kuningan. Dalam menjalankan kegiatan agamanya kelompok ini biasa menyajikan sajen. Ritual sajen dalam Sunda Wiwitan sudah ada sejak zaman batu. Ritual ini merupakan warisan dari para leluhur yang diturunkan kepada generasi muda Sunda Wiwitan melalui proses komunikasi. Ritual ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Sunda Wiwitan sampai saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah proses ritual sajen pada penganut Sunda Wiwitan dan apa saja persiapan yang dibutuhkan pada saat ritual sajen dilakukan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, budaya dan komunikasi ritual. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data yang akan dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan tiga orang narasumber. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ritual sajen bukanlah sebagai suatu hal yang negatif. Tetapi ritual sajen merupakan ritual yang mempersembahkan hasil karya olah manusia kepada Sang Hyang Kersa atau Sang Pencipta, makhluk yang tampak maupun tidak tampak sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih. Ritual sajen juga merupakan simbol yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta.
Studi Komunikasi Budaya di Kota Padang (Akulturasi Budaya Minangkabau Pada Etnis Tionghoa di Kota Padang) Kezia Natalia Sjofjan; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3917

Abstract

Penelitian berjudul Studi Komunikasi Budaya Di Kota Padang (Akulturasi Budaya Minangkabau Pada Etnis Tionghoa di Kota Padang) ini dilakukan untuk mengetahui akulturasi budaya Minangkabau pada etnis Tionghoa di kota Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode fenomenologi. Penelitian akan menggunakan wawancara semi terstruktur terhadap lima informan etnis Tionghoa. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah elemen budaya dari Larry A. Samovar, Richard E. Porter dan Edwin R. McDaniel yakni sejarah, agama, nilai, organisasi sosial dan bahasa. Penelitian ini menemukan adanya akulturasi budaya Minangkabau pada etnis Tionghoa di kota Padang yakni bahasa, organisasi sosial, nilai dan sejarah yang terjadi karena adanya interaksi sosial dan saling keterbukaan antara etnis Minangkabau dan etnis Tionghoa.
Perilaku Imitasi Pekerja Non Tuli pada Pekerja Tuli (Studi Komunikasi Kelompok di Media KamiBijak) Elvina Marcella Wijaya; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10119

Abstract

Human will always communicate throughout their lives and one of the examples is in the work environment. In a work group, a good communication between the employees is essential to finish the work optimally. It could be difficult to achieve the desired output when the communication is between employees with hearing loss and employees without hearing loss. The goal of this research is to determine the imitation behavior that conducted by employees without hearing loss toward employees with hearing loss in KamiBijak media, and also the difficulties they experienced while imitating. This research is done because there are no other researches about this topic before. Theories used in this research are group communication theory, nonverbal communication, and imitation. A qualitative approach and case study method are also used for this research. The data of this research are obtained from passive observation and interviews with five informants. The result shows that the imitation done by employees without hearing loss is copying behavior because of interest and matched-dependent behavior because of motivation. Forms of nonverbal communication that imitated by employees without hearing loss in terms of kinesics are sign gestures, facial expression, eye contact, and physical contact such as touching. Other than that, there are also vocal examples such as lips movement adjusting their speech speed, and proxemics in form of personal space in communication. The difficulties that employees without hearing loss are experiencing is that the sign language that is done by the employees with hearing loss are too fast and using only one hand.Manusia dalam melaksanakan kehidupannya tidak dapat terlepas dari komunikasi, salah satunya dalam hal bekerja. Dalam suatu kelompok kerja, dibutuhkan komunikasi yang baik antara pekerja agar dapat menyelesaikan pekerjaan bersama dengan maksimal. Hal ini menjadi sulit jika komunikasi yang dilakukan melibatkan pekerja tuli dan pekerja non tuli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku imitasi yang dilakukan pekerja non tuli pada pekerja tuli dalam kelompok kerja di media KamiBijak serta hambatan yang dialami dalam melakukan imitasi. Penelitian ini dilakukan karena belum pernah ada yang meneliti. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok, komunikasi nonverbal, dan imitasi. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode studi kasus. Data hasil penelitian diperoleh melalui observasi pasif dan wawancara mendalam dengan lima informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk imitasi yang dilakukan pekerja non tuli adalah copying behavior karena ketertarikan dan matched-dependent behavior karena adanya motivasi. Bentuk komunikasi nonverbal yang diimitasi oleh pekerja non tuli meliputi kinesik yang terdiri dari gerakan isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, serta sentuhan. Lalu, vokalik yaitu menggunakan gerak bibir dengan mengatur kecepatan berbicara, dan proksemik dalam bentuk penggunaan jarak pribadi dalam berkomunikasi. Hambatan yang dialami pekerja non tuli dalam melakukan imitasi adalah gerakan isyarat yang dilakukan pekerja tuli terlalu cepat dan hanya menggunakan satu tangan.
Komunikasi Transendental Sembahyang Buddha Mahayana (Studi Semiotika Sembahyang Di Vihara Padumuttara Tangerang) Tania Tania; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3942

Abstract

Sembahyang yang dilakukan oleh umat Buddha Mahayana di Vihara Padumuttara merupakan bentuk kegiatan komunikasi antara manusia dengan Tuhan sehingga membentuk makna yang dipahami bersama. Jadi fokus utama dalam penelitian ini adalah membahas makna semiotika pada komunikasi transendental sembahyang Buddha Mahayana di Vihara Padumuttara Tangerang. Penelitian ini akan diuraikan dengan analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakan merupakan hasil dari observasi nonpartisipan, wawancara dengan narasumber, studi kepustakaan dan penelusuran data secara online. Makna Sembahyang Buddha Mahayana dapat dilihat dari makna gerak tubuh dalam sembahyang yaitu wensin, namaskara dan pradaksina. Selain itu juga terdapat makna dari teks yang diucapkan yaitu nien fo sehingga didapatkan makna sembahyang Buddha Mahayana yaitu penghormatan dan perenungan terhadap ajaran atau Dhamma Sang Buddha mencangkup sifat-sifat luhur Buddha.
Penerimaan LGBT oleh Tempat Ibadah Aureliya Ramadhanti; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8146

Abstract

LGBT is a sexuality issue that is still being debated in Indonesian society, especially in the religious scope. The church,as a place of worship which is a community with the same belief to worship, has teachings with an interpretation that considers LGBT a sin. Gereja Komunitas Anugerahand the Metropolitan Community Church of Toronto are churches that openly accept LGBT congregations. The two churches are trying to support LGBT congregations by holding activities that discuss the rights of LGBT congregations. This research wants to know how the acceptance of LGBT congregations by churches as a place of worship in Indonesia. Researchers review from the communication side, communication functions and goals. The method used in this research is a phenomenological method with a qualitative descriptive approach. The research data were obtained from in-depth interviews, direct observation, document study and literature study. The conclusion of this research is that the church as a place of worship accepts LGBT because it has a meaning of the holy book verse. Acceptance is carried out by communicating with LGBT people, supporting, instilling religious values, and inviting them to be involved in activities at places of worship.LGBT merupakan isu seksualitasyang masih menjadi perdebatan di masyarakat Indonesia, khususnyapada  lingkup keagamaan. Gereja sebagai tempat ibadah yang merupakan suatu komunitas dengan kepercayaan yang sama untuk beribadah pada umumnya memiliki ajaran dengan tafsiran yang menganggap bahwa LGBT merupakan suatu dosa. Gereja Komunitas Anugerah dan Metropolitan Community Church of Torontoadalah gereja yang secara terbuka menerima jemaat LGBT.Kedua gereja tersebutberupaya mendukung jemaat LGBT dengan mengadakan kegiatan yang membahas hak jemaat LGBT. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimanapenerimaan jemaat LGBT yang dilakukan olehgereja sebagai tempat ibadah di Indonesia. Peneliti meninjau dari sisikomunikasi, fungsi dan tujuan komunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari wawancara mendalam,pengamatan langsung, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalahgereja sebagai tempat ibadah menerima LGBT karena memiliki pemaknaan terhadap ayat kitab suci. Penerimaan dilakukan dengan berkomunikasi dengan para LGBT, mendukung, menanamkan nilai-nilai agama, dan mengajak ikut terlibat dalam kegiatan di tempat ibadah.
Studi Komunikasi Interpersonal Antara Master‒Slave Bondage & Discipline, Domination & Submission, Sadism & Masochism (BDSM) Stella Sonia; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2043

Abstract

Penelitian ini merupakan studi tentang komunikasi interpersonal yang dilakukan antara Master dengan Slave. Master dan Slave ini termasuk dalam golongan pelaku Bondage-discipline, Domination-submission, Sadism-Masochism (BDSM) yaitu kelompok orang-orang yang melakukan hubungan seksual dengan melakukan kegiatan master kepada budaknya, yang mendominasi kepada yang pasrah dan pelaku sadis makosisme. Penulis ingin melihat bagaimana komunikasi interpersonal baik secara verbal dan nonverbal yang dilakukan antara Master dan Slave. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana awal mula pelaku BDSM tertarik dan memutuskan untuk melakukan hubungan BDSM, bagaimana komunikasi interpersonal yang terjadi antara Master dan Slave BDSM, apa kesulitan atau tantangan yang pelaku hadapi selama menjadi pelaku BDSM dan bagaimana jenis hubungan yang dilakukan oleh pelaku BDSM. Teori yang penulis gunakan adalah komunikasi, komunikasi interpersonal, relationship rules, gangguan seksual, dan BDSM. Peneltian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, studi pustaka dan penelurusan data online. Wawancara dilakukan dengan empat orang pelaku BDSM. Hasil dari penelitian adalah Master dan Slave BDSM berkomunikasi setiap hari secara tidak langsung. Bondage-discipline, Domination-submission, Sadism-Masochism (BDSM) dapat dilakukan oleh siapa saja tidak mengenal usia, pendidikan dan status.
Komunikasi Ritual pada Cermin Pa Kua Aldo Aldo; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2422

Abstract

Cermin Pa Kua merupakan bagian dari kebudayaan etnis Tionghoa. Cermin ini berbentuk segi delapan dengan pinggiran berwarna emas pada umumnya. Cermin ini sudah cukup lama menjadi bagian dari budaya etnis Tionghoa. Cermin ini ditempatkan di atas pintu masuk rumah yang berguna untuk menolak energi jahat dan menjauhkan dari bahaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat komunikasi ritual pada cermin Pa Kua dan makna dari cermin Pa Kua pada kebudayaan etnis Tionghoa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, budaya, dan komunikasi ritual. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi secara deskriptif. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan enam narasumber. Kesimpulan dari penelitian ini adalah cermin Pa Kua memiliki komunikasi ritual tersendiri, sebelum digunakan cermin ini dibawa terlebih dahulu ke vihara untuk didoakan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan perlindungan melalui cermin Pa Kua dan makna dari cermin Pa Kua bagi etnis Tionghoa adalah untuk menjauhkan bangunan mereka dari energi buruk.
Studi Komunikasi Budaya : Makna Shio pada Etnis Tionghoa dalam Memilih Pasangan Hidup Chintia Oktavia; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6153

Abstract

Penelitian ini mengangkat tentang komunikasi budaya, makna shio pada etnis Tionghoa dalam memilih pasangan hidup. Shio merupakan dua belas simbol binatang Tionghoa yang dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui kepribadian, kesehatan, karier, pergaulan seseorang dan asmara. Penelitian ini penting untuk mengetahui proses komunikasi memilih pasangan hidup melalui shio. Teori yang digunakan adalah mengenai komunikasi, budaya, komunikasi budaya dan shio. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode fenomenologi. Penelitian akan menggunakan wawancara mendalam terhadap lima informan etnis Tionghoa. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara mendalam, observasi non-pastisipan dan studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa bagi etnis Tionghoa, shio diperlukan dalam memilih pasangan hidup karena dipercaya agar proses komunikasi dalam rumah tangga cocok dan mencegah adanya perbedaan karakter.
Analisis Narasi Tentang Coming Out Pada Film Bertema LGBT di Netflix Jeceline Jeceline; Suzy Azeharie
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10298

Abstract

In the recent years LGBT issues are frequently discussed. Society assumes they cause social problem hence leading to rejection. LGBT communities are facing difficulties to express their sexual identity, usually called 'coming out'. Several films are narrating the 'coming out' process to capture the point of view from the members of this group. The purpose of this study is to examine the storyline about 'coming out' in LGBT-themed films according to Tzvetan Todorov’s narrative analysis. This research uses qualitative method focusing on the narrative content in those movies. Data collection is done via observation and in-depth interview with two interviewees. From these findings combined with data analysis, it concluded the narrative storyline in films based on Tzvetan Todorov’s theory are divided into three parts. It begins with equilibrium, then conflicts build up in the middle of the film, and finally the solution to equilibrium is found. 'Coming out' process and struggles are depicted from scenes and dialogues on the film which aligned with findings from the interviewees. The result of this study shows that every part in ‘coming out’ process are shown in Alex Strangelove film. Meanwhile there are two parts in ‘coming out’ process that are shown in Handsome Devil film.Kelompok LGBT telah menjadi salah satu isu di dalam masyarakat yang menjadi isu panas. Masyarakat yang menolak menganggap bahwa kelompok ini dapat menimbulkan masalah sosial. Penolakan tersebut menyebabkan kelompok LGBT kerap menghadapi kesulitan dalam mengungkapkan identitas seksualnya atau sering disebut dengan ‘coming out’. Banyak film yang saat ini mengangkat tentang coming out untuk menangkap sudut pandang kelompok tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui narasi alur cerita tentang ‘coming out’ pada film bertema LGBT menurut teori Tzvetan Todorov. Teori yang digunakan pada penelitian adalah teori komunikasi massa dan teori narasi Tzvetan Todorov. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis narasi. Melalui observasi terhadap dua film dan wawancara mendalam dengan dua informan menunjukkan narasi alur cerita pada film yang diteliti menurut Tzvetan Todorov dibagi menjadi tiga bagian. Dimulai dengan adanya keseimbangan kemudian terjadi konflik pada pertengahan film hingga akhirnya ditemukan jalan keluar untuk kembali pada keseimbangan pada akhirnya. Proses ‘coming out’ dapat dilihat pada beberapa adegan dan dialog yang terdapat pada film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada film Alex Strangelove ditemukan semua tahapan proses ‘coming out’. Sedangkan pada film Handsome Devil ditemukan dua tahapan proses coming out.
Ritual Chiamsi dan Sinkaw Budaya Etnis Tionghoa Konghucu Juandi Rusdianto; Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6634

Abstract

 The study entitled Chiamsi Ritual and Sinkaw Chinese Konghucu Ethnic Culture was conducted to find out how the ritual process occurred when the Confucian Chinese community performed Chiamsi and Sinkaw. This research uses descriptive qualitative research method because it is considered the most appropriate to answer the research problem formulation titled Chiamsi Ritual and Sinkaw Chinese Konghucu Ethnic Culture. The study will use interviews with four informants who were divided into two key informants, experts in Sinology and two informants who carried out the rituals of Chiamsi and Sinkaw. The research data obtained were sourced from interviews, observations and literature studies. The theory used in this research is the theory of ritual communication from Deddy Mulyana and Yermia Djefri Manafe and the transcendental theory from Deddy Mulyana and Engkus Kuswarno. This study found the forecast using Chiamsi and Sinkaw is a ritual process carried out by ritual implementers to find out the picture or handle life as a solution to the problems of his life. At each step of the ritual Chiamsi and Sinkaw transcendental communication occurs between the gods and humans. Penelitian berjudul Ritual Chiamsi dan Sinkaw Budaya Etnis Tionghoa Konghucu dilakukan untuk mengetahui mengetahui bagaimana proses ritual yang terjadi saat masyarakat Tionghoa Konghucu melakukan Chiamsi dan Sinkaw. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif karena dianggap paling sesuai untuk menjawab rumusan masalah penelitian berjudul Ritual Chiamsi dan Sinkaw Budaya Etnis Tionghoa Konghucu. Penelitian akan menggunakan wawancara terhadap empat narasumber yang dibagi menjadi dua key informan ahli Sinologi dan dua informan pelaksana ritual Chiamsi dan Sinkaw. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori komunikasi ritual dari Deddy Mulyana dan Yermia Djefri Manafe serta teori transendental dari Deddy Mulyana dan Engkus Kuswarno. Penelitian ini menemukan ramalan menggunakan Chiamsi dan Sinkaw merupakan proses ritual yang dilakukan pelaksana ritual untuk mengetahui gambaran atau pegangan hidup sebagai solusi atas masalah hidupnya. Pada setiap langkah ritual Chiamsi dan Sinkaw terjadi komunikasi transendental antara dewa dan manusia.
Co-Authors Abda Abda Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny