Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berangkat dari temuan bahwa anak-anak usia sekolah dasar masih memiliki tingkat keterbukaan wawasan yang relatif rendah, terutama terhadap warisan budaya lokal seperti aksara Jawa, sehingga menghambat perkembangan holistik mereka. Tujuan utama program adalah menumbuhkan karakter keterbukaan wawasan melalui pelatihan literasi aksara Jawa berbasis metode Montessori yang menekankan pembelajaran mandiri, stimulasi multisensori, dan kesesuaian dengan konteks budaya Nusantara. Keterbukaan wawasan didefinisikan secara operasional melalui tujuh indikator: meninggalkan pola pikir kaku, kesiapan mendengarkan pandangan lain, keluwesan berpikir, kesediaan merevisi bukti, pengambilan keputusan rasional, keterbukaan menerima argumen, serta toleransi terhadap keragaman opini. Program dilaksanakan di SD Kanisius Sorowajan, Yogyakarta dengan melibatkan 20 siswa kelas IV, menggunakan kerangka ESEE (Exploring, Synchronizing, Experimenting, Evaluating) dan media didaktik Montessori yang diadaptasi (sandpaper letters, movable alphabet, nampan pasir, dan ular tangga aksara Jawa). Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan (t = 6,755; p < 0,001), dengan ukuran efek besar (r = 0,784) dan N-Gain score 54,73% (kategori sedang). Temuan ini menunjukkan efektivitas metode Montessori dalam membentuk keterbukaan wawasan anak usia dini sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal, serta memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan kurikulum pendidikan karakter di Indonesia.