Mariani Mariani
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 63 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Tempe (Studi Kasus pada Usaha Industri Tempe “Bapak Machli” di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru) Zuensi Praswaturera; Artahnan Aid; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 5, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i4.5924

Abstract

Di Kelurahan Guntung Paikat terdapat industri pengolahan tempe yang sudah lama berdiri. Industri ini yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi tempe masyarakat Kota Banjarbaru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi internal dan eksternal, peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan, serta merumuskan strategi pengembangan usaha industri tempe di Kota Banjarbaru. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru pada bulan Desember 2018 sampai Maret 2019. Lokasi penelitian dipilih secara purposive dengan pertimbangan terdapat industri pengolahan tempe yang merupakan usaha skala rumah tangga, tertua dan memiliki produksi terbanyak, dan produk tidak mudah rusak serta mampu bersaing. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi internal industri usaha tempe Bapak Machli memiliki struktur organisasi yang tidak tetap, SDM berasal dari orang dekat, modal pribadi, dan bahan baku utama berasal dari Amerika. Kondisi eksternal pesaing memiliki kriteria yang berbeda-beda, pemasok kedelai orangnya sama, mayoritas konsumen merupakan pelanggan tetap. Faktor internal memiliki angka rata-rata sebesar 5,27 dimana di dapatkan dari penjumlahan sub total nilai tertimbang internal yaitu 4,03 + 1,24 dengan kekuatan utama dari usaha tempe ini adalah produk tempe bapak Machli memiliki ciri yang khas dan kelemahan yang dimiliki keterlibatan langsung pemilik perusahaan dalam proses produksi. Faktor eksternal memiliki angka rata-rata 2,87 yang di dapat dari penjumlahan sub total nilai tertimbang eksternal yaitu 1,16 + 1,71 dengan peluang yang kualitas kedelai yang sesuai dengan selera produsen. Selanjutnya kekuatan meliputi ketersediaan modal yang efisien, jumlah peralatan produksi yang memadai, kemampuan berproduksi tepat waktu, dan memiliki kualitas produksi yang baik dan selalu di pertahankan. Kelemahan meliputi tidak adanya promosi, karyawan yang sedikit serta keterlibatan langsung pemilik usaha pada proses produksi. Peluang yang dimiliki usaha Industri tempe yaitu kemungkinan daya beli masyarakat terus meningkat, kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi tempe sebagai lauk atau produk komplementer, peningkatan pertumbuhan penduduk yang akan menambah jumlah permintaan terhadap produk tempe, teknologi modern dapat meningkatkan produktifitas. Untuk ancaman yang dihadapi yaitu tingginya tingkat bunga pinjaman, terdapat UU Perpajakan untuk industri pengolahan, adanya ketidak stabilan politik nasional, tingkat urbanisasi berpengaruh terhadap jumlah pelanggan tetap, perubahan gaya hidup untuk mengkonsumsi makanan cepat saji dan junkfood.total Rp1.250/kg dan share 82,76%. Adapun rata-rata biaya pada saluran II yaitu sebesar Rp 479,51/kg keuntungan Rp479,51/kg margin total Rp1.100/kg dan share 86,25%.
STUDI KOMPARATIF PENDAPATAN SISTEM PENGOLAHAN BAHAN OLAH KARET (BOKAR) YANG MENGGUNAKAN PEMBEKU DEORUB DAN NON DEORUB DI DESA BATU AMPAR, KECAMATAN BATU AMPAR, KABUPATEN TANAH LAUT Elsa Aprilia; Hamdani Hamdani; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2618

Abstract

Rendahnya mutu karet yang dihasilkan petani merupakan salah satu penyebab turunnya harga karet sehingga membuat pendapatan petani karet juga menurun. Salah satu usaha meningkatkan mutu tersebut adalah teknologi pembekuan lateks yang direkomendasikan oleh pemerintah selain asam semut yaitu deorub (asap cair) yang terbuat dari cangkang sawit. Teknologi pembekuan menggunakan Asap cair (deorub) memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat mempercepat pembekuan lateks, tidak menimbulkan bau busuk, daya simpan lebih lama, elastisitas tinggi dan dapat meningkatkan kadar karet kering (K3). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sistem ,pengolahan bahan olah karet rakyat (bokar), Menganalisis pendapatan petani karet, dan untuk mengetahui perbedaan pendapatan sistem pengolahan bahan olah karet yang menggunakan pembeku deorub dan non deorub. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka satu bulan rata-rata biaya total petani karet yang menggunakan zat pembeku deorub sebesar Rp 387.065/ha/bulan dengan penerimaan sebesar Rp 1.430.282/ha/bulan dan pendapatan sebesar Rp 1.398.192/ha/bulan. Sedangkan untuk rata-rata biaya petani karet yang menggunakan zat pembeku non deorub adalah sebesar Rp 610.586/ha/bulan dengan penerimaan Rp 1.321.725/ha/bulan dan pendapatan sebesar Rp 1.294.569/ha/bulan. Perbedaan pendapatan petani karet lump yang menggunakan pembeku deorub dan non deorub. Pada  bagian equal variances assumed nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,04 < 0,05 (taraf kepercayaan 95%). Maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan uji t tidak berpasangan disimpulkan bahwa terima H1 terima dan H0 ditolak yang berarti ada perbedaan pendapatan petani karet lump yang menggunakan pembeku deorub dan non deorub.Kata kunci: pendapatan, petani karet, deorub, non deorub
Persepsi Petani Terhadap Kinerja Penyuluh Pertanian di Kota Banjarbaru Muhammad Afrizal Fadilah; Mariani Mariani; Luthfi Fatah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9427

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian di kota Banjabaru dan mengetahui permasalahan yang dihadapi petani dalam pekerjaan penyuluh. Penelitian dilaksanakan dari September hingga Desember 2022 di mulai dari persiapan, pengumpulan data sampai dengan tahap penyusunan laporan. Pemilihan jumlah sampel petani wilayah binaan BPP Cempaka dengan proportionate sampling method. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 petani. Penentuan sampel terpilih pada GAPOKTAN menggunakan simple random sampling (acak sederhana). Data primer diperoleh dengan cara wawancara langsung kepada masyarakat yang terpilih dengan bantuan kuesioner. Data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari Badan Pusat Statistik, Balai Penyuluh Pertanian, jurnal serta bahan bacaan pendukung. Analisis data yang digunakan menggunakan metode Skala Likert dan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dari persepsi petani mengenai hasil kinerja penyuluh pertanian Kota Banjarbaru tergolong, kategori sangat baik yaitu jumlah skor 6.021 dengan persentase 89,2%. Dimana 8 dari 9 indikator menyatakan bahwa kinerja petani kategorinya sangat baik. Hanya 1 indikator yang memiliki penilaian kinerja dengan kategori baik yaitu akses pasar, teknologi, sarana-prasarana serta pembiayaan. Permasalahan yang dialami petani selama kegiatan penyuluhan yaitu penyuluh kurang memberikan informasi mengenai kemitraan dan akses pemasaran sehingga petani memiliki kesulitan dalam memasarkan produknya. Selain itu, penyuluh berupaya meminimalisir biaya produksi petani namun hal tersebut belum terealisasi dengan baik karena petani mendapatkan modal sendiri dan bantuan yang diberikan hanya bibit sedangkan petani mengharapkan adanya bantuan pupuk. Sehingga meminimalisir biaya produksi sulit untuk dilakukan.
Peran Generasi Muda dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Barito Kuala Sri Utami; Hairi Firmansyah; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10338

Abstract

Salah satu kekayaan alam yang berkembang saat ini adalah kelapa sawit, bahkan saat ini petani kelapa sawit semakin banyak kita temui. Generasi muda juga berperan dalam pembangunan pertanian untuk meningkatkan pertanian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) bagaimana peran generasi muda dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Barito Kuala; (2) faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan peran generasi muda dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Barito Kuala; serta (3) apa saja masalah yang dihadapi generasi muda untuk melakukan perannya dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Barito Kuala. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 6 kegiatan peran generasi muda dalam pengelolaan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala yaitu peran dalam kegiatan persiapan lahan, penanaman bibit kelapa sawit, pemjeliharaan tanaman belum menghasilkan, tanaman tua, panen dan pasca panen. Terdapat 3 faktor yang berhubungan dengan peran generasi muda yaitu faktor umur, tingkat pendidikan dan luas lahan. Berdasarkan hasil dari perhitungan Rank Spearman dengan bantuan software SPPS didapatkan hasil bahwa yang pertama untuk setiap peran, nilai koefesien korelasi atau rs menujukan bahwa tidak terdapat hubungan antara peran generasi muda terhadap faktor usia, tingkat pendidikan dan luas lahan dengan nilai signifikan lebih besar dari 0.;05. Kedua, untuk setiap peran generasi muda memiliki nilai < dengan presentasi sebnayak 94,4% maka maka hipotesisnya h0 diterima dengan kesimpulan tidak terdapat hubungan yang signifikan anatar peran generasi muda dalam pengelolaan kelapa sawit terhadap faktor usia, tingkat pendidikan dan luas lahan.
Pola Pengembangan Usaha Pengrajin Olahan Purun Melalui Diversifikasi Produk di Kampung Purun Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru Achmad Reza Fahriannoor; Mariani Mariani; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1935

Abstract

Dalam perkembangan dunia perindustrian di Indonesia berkembang konsep dan gagasan baru yang dikenal dengan istilah ekonomi kreatif, yang merupakan suatu konsep ekonomi di era baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Kerajinan ialah bagian dari kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dihasilkan oleh para pengrajin, berawal dari desain sampai proses penyelesaian produk. Kegiatan usaha kerajinan anyaman purun merupakan suatu kegiatan usaha yang banyak ditekuni oleh masyarakat secara turun-temurun dari generasi ke generasi, dilihat dari aspek sosial dan ekonomi, kerajinan anyaman purun dapat menghidupi banyak orang, baik sebagai usaha pokok maupun sebagai usaha sampingan atau usaha musiman masyarakat. Tujuan penelitian ini dapat mengetahui pola pengembangan usaha pengrajin purun melalui diversifikasi produk dan apakah ada hubungan dengan faktor kompetensi kerja, pembinaan pihak terkait dan pendapatan pada pengembangan usaha pengrajin purun dan mengetahui hambatan apa saja yang dihadapi para pengrajin dalam upaya pengembangan usaha pengrajin purun melalui diversifikasi produk di kampung purun. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder, data primer didapatkan secara langsung dari responden melalui hasil wawancara, sedangkan data sekunder didapatkan dari instansi-instansi terkait. Populasi dalam penelitian ini dua kelompok pengrajin purun dengan total 51 orang, dan untuk pengambilan sampel menggunakan metode sensus yang dimana seluruh populasinya diambil sebagai sampel penelitian. Tingkat pola pengembangan usaha pengrajin olahan purun melalui diversifikasi produk tergolong tinggi dengan skor 90,72%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pola pengembangan usaha yaitu kompetensi kerja dan pembinaan pihak terkait tidak mempunyai hubungan sedangankan untuk pendapatan terdapat hubungan yang signifikan dengan pola pengembangan usaha pengrajin olahan purun melalui diversifikasi produk. Permasalahan yang dihadapi para pengrajin dalam  pengembangan usahanya dari pemasaran, kurangnya kontrol dari dinas terkait, dan kesulitan dalam mendapatkan modal.Kata kunci: anyaman purun, diversifikasi produk, pengrajin purun, kampung purun, metode sensus
ANALISIS SISTEM DISTRIBUSI KOMODITAS PADI DI KECAMATAN ASTAMBUL KABUPATEN BANJAR Siti Naimah; Mariani Mariani; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 1, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i4.634

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem distribusi komoditas padi dan sistem pemasaran padi di Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai September 2017 di kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian sistem distribusi komoditas padi yang ada di Kecamatan Astambul memiliki dua pola yaitu pertama dari petani kepedagang tengkulak kepedagang pengecer kepedagang besar kepedagang pengecer kekonsumen; kedua. Dari petani kepedagang tengkulak kepedagang pengecer ke konsumen. Sistem pemasaran yang terdiri dari biaya pemasaran yang tertinggi diantara dua saluran adalah biaya pada saluran II yaitu sebesar Rp 582,77/kg dan biaya terkecil ada pada saluran I yaitu sebesar Rp 15,01/kg. Margin terbesar pada saluran II yaitu sebesar Rp3500/kg. Sedangkan margin terkecil terdapat pada saluran I yaitu Rp833,33/kg. Keuntungan terbesar berada pada saluran II yaitu sebesar Rp 2917,23/kg, sedangkan keutungan terkecil berada pada saluran I yaitu Rp 818,32/kg. Share petani tertinggi terdapat pada saluran II yaitu sebesar 63,16% dan share petani terendah pada saluran I yaitu sebesar 50%. Saluran distribusi yang efisien adalah pada saluran II karena memiliki efisiensi teknis dan ekonomis yang baik dibandingkan dengan efisiensi pada saluran I.Kata Kunci: padi, sistem distribusi, sistem pemasaran 
Tingkat Kesejahteraan Petani Karet di Desa Nawin Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan Fitria Ulfah; Mariani Mariani; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 7, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i4.11552

Abstract

Kesejahteraan mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi material dan spritual. Pengukuran kesejahteraan material relatif lebih mudah dan akan menyangkut pemenuhan kebutuhan keluarga yang berkaitan dengan materi, baik pangan, sandang, dan papan, serta kebutuhan lainnya yang dapat diukur dengan materi. Penelitian bertujuan menganalisis tingkat kesejahteraan dan mengidintifikasi permasalahan yang dihadapi keluarga petani karet di Desa Nawin Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan sejak Januari 2023 sampai dengan Juli 2023. Untuk metode penarikan contoh menggunakan populasi, sampel terdiri dari 33 responden. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kesejahteraan kelompok petani karet mupakat sebanyak 17 responden berada pada kriteria tinggi dengan presentase 52% dan 16 responden berada pada kriteria sedang dengan presentase 48%. Permasalah yang dihadapi petani yaitu harga karet, produksi, dan iklim.
Analisis Hubungan Dinamika Kelompok Tani terhadap Fungsi Kelompok Tani di Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanah Laut Eka Riawati; Mariani Mariani; Muzdalifah Muzdalifah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i2.810

Abstract

Pembangunan dapatodiartikanosebagaiopertumbuhanodanoperubahan. Pembangunan pertanian dapat dikatakan berhasilojika terjadiopertumbuhanosektoropertanianoyangotinggiodan perubahanomasyarakatotanioyangokurangobaikomenjadioyangolebihibaik. Kelompok tani merupakan kelembagaan di tingkat petani yang dibentuk untuk secara langsung mengorganisir para petani dalam berusahatani.  Berdasarkan sumber data dari kelompok tani yang terdapat di BP3K Kecamatan Bajuin terdapat 9 Desa yang terdiri dari 106 kelompok tani. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Kecamatan Bajuin memiliki banyak kelompok tani. Penelitianpinipbertujuanpuntuk menganalisis tingkat dinamikapkelompokptani, menganalisis tingkat fungsipkelompokptani, serta menganalisis hubungan dinamika kelompok tani terhadap fungsi kelompok tani di Desa Tirta Jaya Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanah Laut. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan metode survei. Langkah pertama, menentukan populasi anggota kelompok tani yang ada di Desa Tirta Jaya bejumlah 11 kelompok tani dengan anggota 243 orang. Berdasarkan hasil penelitian Diketahui bahwa tingkat dinamika yang ada di Desa Tirtajaya Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam kategori dinamis. Dari sembilan unsur dinamika kelompok tani hanya ada dua unsur yang termasuk dalam kategori cukup dinamis yaitu kekompakan kelompok dan maksud terselubung. Tujuh unsur yang memiliki kategori tinggi yaitu tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas, pembinaan kelompok, suasana kelompok, keefektifan kelompok dan tekanan kelompok. Diketahui bahwa fungsi kelompok tani di Desa Tirtajaya Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam kategori berfungsi, keadaan ini berarti fungsipkelompokptanipsebagai kelaspbelajar, fungsi kelompok tani sebagaipwahanapkerjasamapdan fungsi kelompok tani sebagai unitpproduksi seluruhnya dilakukan oleh kelompok tani dengan baik dan diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dinamika kelompok tani dengan fungsi kelompok tani.Kata kunci: kelompok tani, dinamika kelompok tani, fungsi kelompok tani
Persepsi Konsumen Usia Muda terhadap Buah Timun Suri di Kota Banjarbaru Rizki Laurinayudis Pratama; Djoko Santoso; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i1.762

Abstract

Di kota Banjarbaru Buah timun suri banyak terdapat di bulan ramadhan, padahal buah timun suri merupakan buah yang non climatoric artinya dapat tumbuh kapan saja tidak tergantung oleh musim, berbanding terbalik dengan bulan ramadhan akan sangat sulit sekali menemui keberadaan buah timun suri di luar bulan ramadhan, padahal tidak menutup kemungkinan konsumen membeli dan mencari buah timun suri diluar bulan ramadhan, terdapat persepsi  yang mempengaruhi dalam keputusan pembelian oleh konsumen, dengan mengetahui pesrepsi  konsumen usia muda di harapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan buah timun suri di luar bulan ramadhan agar , oleh karena itu  tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi konsumen khususnya konsumen usia muda terhadap buah timun suri. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai bulan Juli 2017. Metode pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dengan menggunakan teknik Convience Group Sampling (pengambilan sampel secara kebetulan). Convience Group Sampling adalah ini memilih sampel berdasarkan kebetulan saja, yang mana bersedia dan mau menjadi responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan alat statistik sederhana yaitu tabulasi silang, uji chi kuadrat dan modus. Dari hasil uji chi kuadrat diketahui tidak terdapat hubungan yang signifikan antara musim (Bulan ramadhan dan selain bulan ramadhan) dengan keputusan pembelian buah timun suri oleh konsumen.Kata kunci:Buah timun suri, usia muda, analisis deskriptif, persepsi
Identifikasi Kepuasan Kerja dan Kinerja Penyuluh Pertanian di BPP Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala Didik Eko Prasetyo; Yudi Ferrianta; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1316

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan kerja dan kinerja penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluh Pertanian Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi kepuasan kerja penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluh Pertanian di Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala berada pada kategori puas (1.182), yang dihitung dengan menjumlahkan seluruh skor yang didapat (168.857,1) kemudian dibagi dengan jumlah responden Penyuluh Pertanian Lapangan yaitu sebanyak 7 orang. Lima dimensi untuk menilai kepuasan kerja penyuluh pertanian lapangan yang diperoleh yaitu kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri mempunyai skor rata-rata 248 dengan kategori puas, kepuasan terhadap gaji mempunyai skor rata-rata 104 dengan kategori kurang puas, kepuasan terhadap kesempatan promosi mempunyai skor rata-rata 177 dengan kategori netral, kepuasan terhadap supervisi mempunyai skor rata-rata 334 dengan kategori sangat puas, kepuasan terhadap orang sekitar mempunyai skor rata-rata 319  dengan kategori sangat puas. Total bobot  diperoleh dari penilaian tingkat kinerja penyuluh yang telah dilakukan oleh petani di Kecamatan. Rantau Badauh Kabupaten. Barito Kuala diperoleh skor sebesar 2.909 yang artinya bahwa tingkat kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan di Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten. Barito Kuala dalam kategori sangat baik. Hal itu menunjukkan bahwa penyuluh telah memenuhi dan melaksanakan semua kriteria penilaian dengan sangat baik.Kata kunci : kepuasan kerja, kinerja, penyuluh pertanian