Andy Soegianto
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Published : 117 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Keragaman Karakteristik Fisik Biji 22 Genotipe Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) sebagai Dasar Seleksi Amali, Mukhlash; Soegianto, Andy; Waluyo, Budi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1604

Abstract

Jarak kepyar (Ricinus communis L.) tergolong dalam famili Euphorbiaceae. Tanaman ini berpeluang secara ekonomis. Bijinya mengandung minyak hingga 40-60%. Minyak jarak kepyar dapat dimanfaatkan ke banyak kegunaan di dunia industri di antaranya sumber bahan bakar biodesel, bahan kosmetika, polimer plastik berupa resin dan cat. Produksi jarak kepyar di Indonesia masih fluktuatif. Salah satu cara dalam meningkatkan produktivitas tanaman jarak kepyar ialah dengan pemuliaan tanaman. Untuk memperoleh varietas yang memiliki sifat yang unggul diperlukan adanya keragaman genetik. Keragaman genetik merupakan hal mendasar agar seleksi bisa berjalan efektif. Adapun karakteristik fisik biji jarak kepyar sendiri dapat digunakan sebagai dasar dalam kegiatan seleksi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui keragaman karakter kuantitatif dan kualitatif biji pada 22 genotipe jarak kepyar sebagai dasar dalam seleksi. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2021. Bahan yang digunakan dalam penelitian ialah 22 genotipe jarak kepyar hasil seleksi tahan layu fusarium, pupuk NPK dan urea, deskriptor UPOV (Ricinus communis L.), polibag 40×40 cm, tanah, dan air. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok diulang 2 kali. Setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Jarak antar plot 60x60 cm. Pengamatan dilakukan pada karakter kuantitatif dan kualitatif biji jarak kepyar. Hasil analisis menunjukkan hasil yang sangat nyata. Nilai koefisien variasi genetik (KVG) dan koefisien variasi fenotip (KVF) diperoleh hasil berkriteria rendah hingga tinggi pada karakter kuantitatif biji. Sedangkan pada karakter kualitatif biji diperoleh nilai koefisien kemiripan yang rendah atau keragaman genetik yang tinggi.
Uji Toleransi Sepuluh Varietas Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Terhadap Cekaman Naungan Burhanudin, Muhammad Irsyad Fauzan; Soegianto, Andy
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1632

Abstract

Tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu jenis tanaman Leguminoceae yang banyak dibudidayakan dan memiliki keunggulan dibanding tanaman kacang-kacangan lainnya. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman kacang hijau adalah banyak yang dibudidayakan dalam pola tanam tumpangsari sehingga menyebabkan adanya kompetisi dalam penyerapan intensitas cahaya matahari. Penurunan intensitas cahaya dari 100% menjadi 90% tidak nyata menurunkan hasil biji, namun penurunan intensitas cahaya hingga 50% radiasi penuh menyebabkan penurunan hasil biji 37%-74%. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh naungan terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman kacang hijau dan untuk mempelajari perbedaan tingkat toleransi dari sepuluh varietas tanaman kacang hijau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021 hingga Oktober 2021 di kebun percobaan milik BALITKABI yang berlokasi di Kelurahan Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Tersarang dengan dua faktor, faktor pertama ialah perlakuan naungan dan faktor kedua ialah penggunaan sepuluh varietas kacang hijau. Analisis data menggunakan ANOVA taraf 5%, uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%, menggunakan analisis Indeks Sensitivitas Cekaman naungan (ISC) berdasarkan rumus Fischer dan Maurer (1978). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan naungan 50% berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan penurunan hasil dan produksi pada varietas yang agak toleran terhadap bobot biji per tanaman pada varietas Vima 5 sebesar 48,7%, Vimil 2 sebesar 4,1%, Kutilang sebesar 24,1 % dan Murai sebesar 12%. Varietas Vima 5, Vimil 2, Kutilang dan Murai tergolong ke dalam varietas agak toleran adapun Vima 1, Vima 2, Vima 3, Vima 4, Vimil 1 dan Perkutut tergolong varietas sensitif. 
Confirmation of Alleles Inheritance in F1 Progenies Derived from a Cross of Calcutta-4 (Musa acuminata ssp. burmannicoides) and Musa acuminata ssp. microcarpa Based on SSR Markers Dea Rosalia; Puji Lestari; Andy Soegianto; Darmawan Saptadi; Agus Sutanto; Kristianto Nugroho; Rerenstradika T. Terryana; I Made Tasma; Ika Roostika
Jurnal AgroBiogen Vol 16, No 1 (2020): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v16n1.2020.p17-24

Abstract

Banana breeding to produce improved varieties with disease resistance haracters and other desired traits could sustain its yield. Alleles harbored by parents could be passed on to the offsprings through hybridization, but need to be confirmed using molecular markers. This study aimed to confirm allele inheritance in F1 progenies derived from a cross of Calcutta-4 (Musa acuminata ssp.  burmannicoides) and M. acuminata ssp. microcarpa based on SSR markers. Eleven pairs of SSR primers were used to amplify DNA of 44 progenies using the PCR technique. The results showed that six SSR markers (MaSSR 1.1, MaSSR5.1, MaSSR 6.1, MaSSR 7.1, MaSSR 8.1, and MaSSR 11.1) were polymorphic in both parents. Four markers (MaSSR 1.1, MaSSR 5.1, MaSSR 6.1, and MaSSR 8.1) had PIC >0.7, indicating their informativeness to distinguish these progenies and other genetic studies of banana germplasms. A total of 44 F1 individuals were confirmed to harbor alleles inherited from their parents,suggesting as true progenies from the cross of Calcutta-4 and M. acuminata ssp. microcarpa. This population demonstrated 100% success of hybridization performed. Chi-Square analysis revealed that segregation of all markers did not match to Mendelian ratio 1:2:1, except for MaSSR 1.1 (x2 = 5,62) and MaSSR 6.1 (x2 = 3,77) markers. The genetic traceability of banana F1 progenies demonstrating the usefulness and feasibility of SSR markers in this study provided information on selection of true progenies which may be valuable for breeders to assist selection process in future banana breeding program in Indonesia.
Penampilan Karakter Agronomi Genotipe Potensial Buncis Polong Kuning (Phaseoulus vulgaris L.) Pada Ketinggian Tempat yang Berbeda Lazuardi Pramadio; Darmawan Saptadi; Andy Soegianto
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.884 KB)

Abstract

Permintaan masyarakat untuk komoditas buncis tiap tahunnya meningkat tetapi tidak diikuti dengan hasil produksi yang signifikan. Tanaman buncis di Indonesia masih banyak dibudidayakan di dataran medium dan tinggi dimana di dataran tinggi sering terjadi kerusakan menyebabkan hasil dari tanaman buncis menurun. Untuk itu dilakukan pengembangan varietas buncis baru yang mampu tumbuh berproduksi baik pada ketinggian tempat berbeda. Pada penelitian ini dilakukan uji penampilan karakter agronomi dan uji stabilitas dan adaptabilitas genotip potensial buncis di ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian berlokasi di tiga tempat, Desa Jatikerto ±330 mdpl, Kelurahan Jatimulyo ±460 mdpl dan Kecamatan Pujon ±1100 mdpl yang dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2017. Bahan yang digunakan 4 genotip yaitu CSxGI 63-0-24, CSxGK 50-0-24, Cherooke Sun, dan Lebat 3. Rancangan yang digunakan analisis gabungan dengan RAK pada 3 lokasi dan dilanjutkan dengan uji stabilitas dan adaptabilitas. Hasil penelitian menunjukkan pada ketinggian tempat berbeda semua karakter agronomi terjadi interaksi dan uji stabilitas dan adaptabilitas semua genotip stabil dan genotip CS adaptif pada lahan marginal, genotip Lebat 3 dan CSxGK 50-0-24 memiliki adaptif yang luas dan genotip CSxGI 63-0-24 adaptif pada lahan yang optimal.
KONFIRMASI GEN YANG MENCIRIKAN EKSPRESI ANTOSIANIN PADA BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) Freta Kirana Balladona; Darmawan Saptadi; Andy Soegianto
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.62 KB)

Abstract

Peningkatan permintaan buncis dari luar negeri membuat beberapa varietas lokal tersisih karena varietas introduksi yang berasal dari luar negeri tersebut memiliki kandungan gizi lebih banyak dari varietas lokal. Salah satu cara meningkatkan kualitas buncis lokal adalah persilangan antara varietas lokal dan varietas introduksi Namun identifikasi secara fenotipik memiliki beberapa kelemahan. Maka dari itu, perlu dilakukan identifikasi molekuler pada tetua dan hasil persilangan buncis tersebut. Tujuan: mengonfirmasi keberadaan gen antosianin pada beberapa aksesi buncis berdasarkan penanda gen antosianin melalui pendekatan tetua dengan keturunan berikutnya. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 isolat DNA buncis persilangan lokal dan introduksi dan 3 primer SSR (MdMYB9, MdMYB12 dan MdMYB17). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2015 di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Berdasarkan hasil amplifikasi terlihat bahwa ketiga primer tersebut bersifat polimorfis. Hal ini membuktikan bahwa primer spesifik antosianin tersebut dikonfirmasi pada buncis. Berdasarkan panjang pita DNA yang ditinjau pada Purple Queen dan Gogo Kuning (tertua,) sama dengan keturunannya GK x PQ, PQ x GK, PQ x GI, GI x PQ dan GK x CS.
The Yield Potential Of F6 Generation Of Yellow Common Bean (Phaseolus vulgaris L.) Andy Soegianto; Bima Fikry
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.487 KB)

Abstract

The yield potential test is an important step in breeding activity in creating new varieties through evaluation the desired genes on some lines (Basuki, 1995). The value of heritability could indicate that every character observed was genetically influenced which inherited from the parental lines and its interaction with environmental factors. On this basis, this research was conducted at the Sawaulan, Tawang Agro Village, District Karangploso, Malang, East Java. The used materials in this research were three lines of yellow pod common beans of F6generation (CS x GK 50-0-24; CS x GI 63-0-24; and CS x GI 63-33-31), three parental varieties and Lebat-3 variety as check varieties. The completely randomized block design was used by observed 10 samples of plants per plot. This research showed that the three lines of common bean tested had uniformity in all characters evaluated by using quantitative and qualitative analysis. The value of GCV (Genotypic Coefficient of Variance) in every characters evaluated of the tested lines were low criteria and these values were lower than in the check varieties. The low variation indicated the small variation, i.e that the lines were already uniform. The heritability value of some characters observed in the lines were lower, while some other characters still had high heritability value. The heritability in the three lines tested were influenced by environment and genes as well. The character that had high heritability could inherit uniformly the character in concern on the next generation. The high heritability shows that the plant breeding program especially the selection program has been succesful. 
KERAGAMAN DAN HERITABILITAS 10 GALUR INBRIDA S4 PADA TANAMAN JAGUNG KETAN (Zea mays L. var.ceritina Kulesh) Reza Prakoso Dwi Julianto; Arifin Noor Sugiharto; Andy Soegianto
BUANA SAINS Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.716 KB) | DOI: 10.33366/bs.v16i2.425

Abstract

This research aims to determine the variability of S4 generation between waxy corn x local yellow corn (Arjuno) based on seed color selection and cob position. The research was conducted at Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu with a height of ± 610 m asl, the maximum temperature is 27.4 º C and minimum temperature is 15.1 º C and with inceptisol type soil. The research started in December 2011 until March 2012. Plant materials that used here were 10 strains of S4 waxy corn from crossing with local corn (Arjuno) that have been selected based on seed color and cob location. This research used Randomized Design Group (RDG), three replications with 30 plants each genotype every replication by using one cob one line selection (ear to row). The results showed the character of plant height, the number of seed line, and the cob circumference among strains showed significant differences between inbred strains, The heritability values among strains showed medium value criteria in all parameters except the stalk length that showed the low heritability value
ANALISIS KORELASI, REGRESI DAN EVALUASI KARAKTER MORFOLOGI 24 AKSESI KAPAS (Gossypium sp.) Taufiq Hidayat RS; Andy Soegianto; Putri Nurul Aini
Agrin Vol 24, No 1 (2020): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2020.24.1.513

Abstract

Kapas merupakan penghasil utama serat alam dari buah sebagai bahan baku kebutuhan industri tekstil di Indonesia. Tingginya permintaan diiringi rendahnya produksi kapas menuntut adanya varietas kapas unggul yang memiliki potensi hasil tinggi, kualitas mutu baik dan berumur genjah. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kapas ialah dengan pengelolaan keragaman gen-gen unggul plasma nutfah melalui analisis korelasi regresi dan evaluasi karakter morfologi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan keeratan hubungan antar komponen hasil sebagai penentu kriteria seleksi, serta mengevaluasi aksesi-aksesi kapas yang memiliki karakter unggul dan diduga dapat digunakan sebagai tetua dalam perakitan varietas kapas yang baru. Penelitian dilaksanakan pada Maret hingga Desember 2018 di Kebun Percobaan Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Kota Malang. Metode penelitian menggunakan single plot dengan analisis ragam RAK dan uji lanjut BNJ melalui bantuan program SPSS. Hasil analisis menunjukkan jumah cabang generatif dan jumlah buah dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk peningkatan hasil. Hasil evaluasi karakter morfologi terdapat 11 aksesi yang memiliki produksi tinggi dan kualitas mutu serat baik pada karakter panjang serat, yaitu aksesi KI 38, KI 80, KI 134, KI 240, KI 320, KI 489, KI 500, KI 629, KI 689, KI 693 dan KI 711
Effect of Gamma Rays Irradiation to Cipedak Avocado Genetic Diversity Farihul Ihsan; Sumeru Ashari; Andy Soegianto; Sukartini Sukartini; Affandi Affandi
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 45, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v45i2.4065

Abstract

Avocado cv. Cipedak is a superior cultivar that match the preferences of Indonesian consumers. However, it has several weaknesses, such as low edible portion, thin skin, and short fruit shelf life. One effort to improve the character weakness is by mutation breeding using gamma ray irradiation. Induction of mutation by gamma ray irradiation at a dose of 10 Gy was conducted on Cipedak avocado shoots in October 2021 which produced 13 first generation avocado mutants (M1). Observation on leaves morphological characters and DNA analysis were needed to find out the changes level of genetical diversity. The research was conducted in Cukurgondang Research Station and Molecular Laboratory of Indonesian Tropical Fruits Research Institute from January to March 2022. The plant material used involved 13 M1 progenies and cv. Cipedak. The material used were 20 weeks old grafted plants. The observed variables were macro and micromorphological characters as well as DNA-RAPD analysis. The results showed that there were phenotypic and genotypic changes in 13 M1 avocados seedlings. The coefficients of differences on macro and micromorphological characters were up to 33% and 28%, respectively and the coefficient of difference for DNA-RAPD analysis was 74%.
Analysis of the Relationship between Snake Fruits Sidempuan (Salacca sumatrana Becc.) and Riring (Salacca zalacca var. amboinensis) using the Morphological Characterization Approach Matatula, Erfina Anace; Ashari, Sumeru; Soegianto, Andy
Research Journal of Life Science Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rjls.2021.008.03.2

Abstract

Genetic relations estimation can be used for germplasm management activities, identifying cultivars, selecting parents for crossing, and reducing the number of individual samplings in a wide range of genetic diversity. The research's fundamental purpose is to analyze kinship relationships and study the genetic diversity between the snake fruit Sidempuan plant from South Tapanuli with snake fruit Riring plants from Ambon Island. Characterization research was conducted in Padang Sidempuan, South Tapanuli, and Riring Village, Ambon Island, using Radford characterization guidelines. The morphological characterization results showed that the Sidempuan and Riring bark's ecotypes were divided into 3 main clusters and had a kinship relationship with the value of genetic similarity of 85% -100%. Even though it has similarities, there were several distinguishing characters, namely the color of the upper surface of the leaf, the folding of the edges of the leaf blade, the taste of the flesh of the fruit, the height of the plant, and the category of snake fruit flowers. In a nutshell, although they looked similar, the two ecotypes were not identical.
Co-Authors A Rumanti, Indrastuti A Rumanti, Indrastuti Adi Wiyono Basori Amin Adiredjo, Afifuddin Latif Adiredjo, Afifuddin Latif Affandi Affandi Agatha Eritza Wigathendi Agus Sutanto Aisah, Binti Nur Aisah, Binti Nur Aisyah, Siti Nur Akashi, Ryo Amali, Mukhlash Amin, Adi Wiyono Basori Ardyanto, Alfian Trisna Ardyanto, Alfian Trisna Arifin Noor Sugiharto Arifin, Azeri Gautama Azeri Gautama Arifin Azkiyah, Rizqi Azkiyah, Rizqi Bangun, Yohelsi Citradiah Br Bangun, Yohelsi Citradiah Br Basuki, Nur Bima Fikry Budi Waluyo Budi Waluyo Burhanudin, Muhammad Irsyad Fauzan Cholifah, Ayu Cicik Septeningsih Damanhuri Damanhuri Damanhuri Darmawan Saptadi Dea Rosalia Dewi Amaliatur Rizqiyah Eksan, Kolil Nur Eksan, Kolil Nur Elimawati, Evi Yulia Elimawati, Evi Yulia Estri Laras Arumingtyas Farihul Ihsan Fatimaturrohmah, Siti Fatimaturrohmah, Siti Febri Budi Rahayu Ferida, Hepy Fikry, Bima Fikry, Bima Firly, Cynthia Diesta Firly, Cynthia Diesta Fitri, Faiza Khusnia Fitriana, Riza Anissatul Fitriana, Riza Anissatul Freta Kirana Balladona Frizal Amy Oktarisna Gondo, Takahiro Gultom, Christina Solideo Gultom, Christina Solideo Hajroon Jameela Hamdany, Mohamad Iqbal Septian Hariyanti, Ismi Dahlia Hawa, Melawati Rizki Hawa, Melawati Rizki I Made Tasma Ika Roostika Indraswari, Rizqi Laili Indraswari, Rizqi Laili Ismi Dahlia Hariyanti Jameela, Hajroon Koiruningtias, Amalia Pratiwi Koiruningtias, Amalia Pratiwi Kristianto Nugroho Kurniawan, Ainur Rofiq Edy Kurniawan, Ainur Rofiq Edy Kuswanto Kuswanto Kuswanto, Kuswanto Lazuardi Pramadio Luqmantoro, Cahyo Luqmantoro, Cahyo Matatula, Erfina Anace Meliala, Jubleam Haris Sembiring Meliala, Jubleam Haris Sembiring Mukhammad Rommahdi, Mukhammad Nababan, Yohana Roma Uli Nababan, Yohana Roma Uli Nafisah Nafisah Niken Kendarini Noer Rahmi Ardiarini, Noer Rahmi Novitasari, Juwik Novitasari, Juwik Nugroho, Yusuf Nur Basuki Nur, Alya Aulia Oktarisna, Frizal Amy Oktaviyanti, Riska Nur Oktaviyanti, Riska Nur Okyanto, Dwi Okyanto, Dwi Parinduri, Naufal Al Wali Permana, David Galuh Permana, David Galuh Perwitosari, Gia Warih Perwitosari, Gia Warih Pradipta, Alfian Nafi Pradipta, Alfian Nafi Pranayadipta, Nadya Wening Pranayadipta, Nadya Wening Prasetiyo, Ferry Singgih Prasetiyo, Ferry Singgih Pratiwi, Novita Puji Lestari Putra, Bagus Keswara Putra, Bagus Keswara Putri Nurul Aini Putri, Ken Ufi Balya Rachma, Izza Azkiya Rachmawati, Norliya Rahmawati, Annisaa Rahmawati, Annisaa Rahmi Kusuma Wardhani Rerenstradika T. Terryana Reza Prakoso Dwi Julianto Rizqiyah, Dewi Amaliatur Rommahdi, Mukhammad Ryo Akashi, Ryo Savitri, Kurnia Septeningsih, Cicik Setyaningsih, Wahyu Siti Nur Aisyah Sri Lestari Purnamaningsih Sri Winarsih Sukartini Sukartini Sumeru Ashari Takahiro Gondo, Takahiro Taufiq Hidayat RS Trihatmojo, Hendro Trihatmojo, Hendro Tustika, Selvi Clara Tustika, Selvi Clara Twientanata, Putrie Twientanata, Putrie Wahyu Setyaningsih Wahyu Widoretno Wardhani, Rahmi Kusuma Wigathendi, Agatha Eritza Winarsih, Sri Wulanesa, Wa Ode Sanghyaningsinta Wulanesa, Wa Ode Sanghyaningsinta Yulistyarini, Titut Yulistyarini, Titut Yusuf Nugroho, Yusuf