Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PERILAKU SARAPAN PAGI ANAK SEKOLAH DASAR Irina Meriska; Kodrat Pramudho; Bambang Murwanto
Jurnal Kesehatan Vol 5, No 1 (2014): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.008 KB) | DOI: 10.26630/jk.v5i1.72

Abstract

Irina Meriska1)Kodrat Pramudho1) Bambang Murwanto1)1)Program Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Stikes Mitra Lampung Abstract :The Behavior Of Breakfast In Elementary School Child. In Indonesia, the adequacy of nutrition of school-age children is not sufficient that the average energy consumption adequacy was 44.4% and the average adequacy konumsi protein is 30.6%. The morning breakfast was part of the behavior to achieve balanced nutrition essential for healthy living, active and intelligent. The purpose of this study was to determine the factors associated with the behavior of elementary school children breakfast in the Village Kemiling Permai, District Kemiling, Bandar Lampung in 2013. This research is a quantitative study with cross sectional approach. The study population was all students in grade IV, V, and VI in the Academic Year 2013/2014 is in the  Kemiling Pemai, covering public school students and private elementary school. The total population of this research is numbered 848 students. The sample size was 106 students and analyzed using chi square test and logistic regression. This research was conducted in December 2013.The results showed no relationship between children's nutrition knowledge (p = 0.001), the availability of food for breakfast (p = 0.005), family support (p = 0.001), and the role of the teacher (p = 0.001) with the behavior of a full breakfast. There is no relationship of nutrition attitude (p = 0.721), mother's occupation (p = 0257), father's education (p = 0.707), maternal education (p = 1.000) with the behavior of a full breakfast. Multivariate analysis showed the availability of food for breakfast is the most dominant variable that is related to the behavior of a full breakfast with a value of OR = 5.673. Keywords:Behavior, Breakfast, Elementary School Child Abstrak: Perilaku Sarapan Pagi Anak Sekolah Dasar. Di Indonesia, tingkat kecukupan gizi anak usia sekolah belum cukup memadai yaitu rata-rata kecukupan konsumsi energi adalah 44.4% dan rata-rata kecukupan konumsi protein adalah 30.6%. Sarapan pagi merupakan bagian dari perilaku untuk mewujudkan gizi seimbang yang penting bagi hidup sehat, aktif dan cerdas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sarapan pagi anak sekolah dasar di Kelurahan Kemiling Permai, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung Tahun 2013.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SD kelas IV, V, dan VI Tahun Pelajaran 2013/2014 yang ada di Kelurahan Kemiling Pemai, meliputi siswa SD negeri dan SD swasta. Total populasi penelitian ini adalah berjumlah 848 siswa. Besar sampel adalah 106 siswa dan analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2013.        Hasil penelitian me-nunjukkan ada hubungan antara pengetahuan gizi anak (p=0.001), ketersediaan makanan untuk sarapan  pagi (p=0.005), dukungan keluarga (p=0.001), dan peran guru (p=0.001) dengan perilaku sarapan pagi. Tidak ada hubungan sikap gizi (p=0.721), pekerjaan ibu (p= 0.257), pendidikan ayah (p=0.707), pendidikan ibu (p=1.000) dengan perilaku sarapan pagi. Hasil analisis multivariat menujukkan ketersediaan makanan untuk sarapan pagi merupakan variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan perilaku sarapan pagi dengan nilai OR = 5,673.Kata Kunci: Perilaku, Sarapan Pagi, Anak Sekolah Dasar
Pemanfaatan Mata Air Gunung Dalam Mewujudkan Penyediaan Air Bersih Pascabencana Tsunami Mei Ahyanti; Ahmad Fikri; Retno Puji Hastuti; Sulastri Sulastri; Reka Lagora Larsofely; Bambang Murwanto
Indonesia Berdaya Vol 3, No 2: February-April 2022
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.2022220

Abstract

The tsunami natural disaster is a natural disaster that is very much feared in Indonesia. Several times a tsunami has occurred in Indonesia. On December 22, 2018, residents of the coast of Lampung were shocked by the tsunami that hit the coast to the east of South Lampung, Lampung Province. In the initial survey conducted on April 19, 2019, many people experienced difficulties in meeting public health needs, such as providing clean water. The community service activity carried out by the Tanjungkarang Health Polytechnic lecturer and Bengkulu Health Polytechnic lecturer and students was carried out at Pekon Kunjir, Rajabasa, South Lampung. The activity time is from February to December 2020, using the method of advocacy and science and technology research. The target of the activity is the community in Pekon Kunjir. The implementation method is community empowerment in building a clean water pipeline network. The result of the activity is the construction of 1 water storage unit with 1 intake and a 1000 meter piping network. To ensure sustainability, the village has established a water management organization appointed by the Head of Pekon Kunjir. The community is satisfied and the local government hopes that community service activities can be continued to other villages affected by the disaster.    Abstrak: Bencana alam tsunami merupakan bencana alam yang sangat ditakuti di Indonesia. Beberapa kali tsunami telah terjadi di Indonesia.pada tanggal 22 Desember 2018, warga pesisir Lampung dihebohkan dengan bencana tsunami yang melanda Pantai di sebelah Timur Lampung Selatan Provinsi Lampung. Dalam survei awal yang dilakukan pada 19 April 2019, banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, seperti penyediaan air bersih. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen Poltekkes Tanjungkarang dan dosen Poltekkes Bengkulu beserta mahasiswa ini dilaksanakan di Pekon Kunjir, Rajabasa, Lampung Selatan. Waktu kegiatan dari Februari hingga Desember 2020, menggunakan metode advokasi dan dipusi ipteks. Sasaran kegiatan adalah masyarakat di Pekon Kunjir. Metode pelaksanaannya adalah pemberdayaan masyarakat dalam membangun jaringan perpipaan air bersih. Hasil kegiatan berupa pembangunan 1 unit penampungan air dengan 1 intake dan jaringan perpipaan 1000 meter. Untuk memastikan keberlanjutan, desa telah membentuk organisasi pengelolaan air yang ditunjuk oleh Kepala Pekon Kunjir. Masyarakat merasa puas dan pemerintah setempat berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dilanjutkan ke pekon lain yang terkena bencana.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Perubahan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan Prayudhy Yushananta; Mei Ahyanti; Sarip Usman; Bambang Murwanto; Enro Sujito
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 5 No. 02 (2021): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang penting, karena menyumbang sekitar 4.800 kematian anak-anak balita di seluruh dunia. Dengan incidence 11%, diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak balita di Indonesia. Pencegahan dan pengendalian diare utamanya melalui intervensi air minum dan jamban sehat. Kegiatan ini bertujuan melakukan perubahan perilaku BABS dengan empat tahap; membangun kesepahaman, persamaan persepsi, penyuluhan, dan pendampingan rumah tangga sasaran. Pada akhir tahapan, dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan, hambatan, dan rencana tindak lanjut. Dikembangkan juga konsep “berbagi peran” terhadap seluruh mitra pengabdian. Kegiatan ini menghasilkan 16 buah jamban sehat dan diakses 21 rumah tangga. Hasil ini menandakan bahwa seluruh rumah tangga di Kelurahan Segala Mider telah menggunakan jamban sehat. Penerapan konsep “berbagi peran” mampu menghasilkan luaran sesuai target, membentuk sistem kerja gotong royong pada penerima manfaat, dan perbaikan tata nilai. Diperlukan komitmen bersama dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat ini, serta dukungan pihak-pihak lain secara luas.
Alat Cuci Tangan Elektrik sebagai Upaya Pencegahan Penyebaran COVID-19 di Lokasi Pasca Bencana Tsunami Mei Ahyanti; Ahmad Fikri; Bambang Murwanto; Retno Puji Hastuti; Sulastri Sulastri; Reka Lagora Marsofely
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 5 No. 02 (2021): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara yang rawan bencana geologi disebabkan keberadaannya di area ring of fire. Beberapa kali Indonesia mengalami tsunami. Tahun 2018 terjadi tsunami di Selat Sunda, dampaknya ke perairan Selatan Sumatera dan perairan Barat Provinsi Banten. Pemulihan baik fisik maupun mental akibat tsunami belum seluruhnya selesai dilakukan, virus COVID-19 datang mengancam kesehatan masyarakat. Virus yang menyerang saluran pernafasan dengan keganasan tinggi dan penyebaran yang begitu cepat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mewujudkan suatu pekon dengan kondisi masyarakat yang memiliki pengetahuan untuk menerapkan pola budaya hidup sehat dan bersih dalam mencegah penularan COVID-19. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan interkolaborasi dari tiga profesi, yaitu kesehatan lingkungan, keperawatan dan promosi kesehatan, dibantu 9 mahasiswa. Sasaran kegiatan adalah masyarakat terdampak bencana di Pekon Kunjir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dilaksanakan pada Bulan November 2020. Tahapan kegiatan meliputi analisis situasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner Indeks Kepuasan Masyarakat. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara univariat dalam persentase dan disajikan dengan pie chart. Alat cuci tangan telah terpasang 6 unit di puskesmas, pasar dan tempat rekreasi dan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan telah terbentuk. Sebagian besar masyarakat merasa sangat puas (94,12%) terhadap kegiatan pengabdian.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PERUBAHAN PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN Prayudhy Yushananta; Mei Ahyanti; Bambang Murwanto; Enro Sujito
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2021): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.215 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v4i2.2644

Abstract

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang penting, karena menyumbang sekitar 4.800 kematian anak-anak balita di seluruh dunia. Dengan incidence 11%, diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak balita di Indonesia. Pencegahan dan pengendalian diare utamanya melalui intervensi air minum dan jamban sehat. Pengabdian masyarakat bertujuan melakukan perubahan perilaku BABS, dengan empat tahap: membangun kesepahaman, persamaan persepsi, penyuluhan, dan pendampingan rumah tangga sasaran. Pada akhir tahapan, dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan, hambatan, dan rencana tindak lanjut. Dikembangkan juga konsep ”berbagi peran” terhadap seluruh mitra pengabdian. Kegiatan pengabdian masyarakat menghasilkan jamban sehat sebanyak 16 buah, dan diakses 21 rumah tangga. Hasil ini menandakan bahwa seluruh rumah tangga di Kelurahan Segala Mider telah terakses jamban sehat. Penerapan konsep “berbagi peran” mampu menghasilkan luaran sesuai target, membentuk sistem kerja gotong royong pada penerima manfaat, dan perbaikan tata nilai. Diperlukan komitmen bersama dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat, dan pelibatan pihak-pihak lain secara luas.
PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI KOMPOS DAN PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK DI SD KRISTEN BPK PENABUR BANDAR LAMPUNG Linda Barus; Ferizal Masra; Suami Indarwati; Bambang Murwanto
SINAR SANG SURYA Vol 8, No 1 (2024): FEBRUARI 2024
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v8i1.3196

Abstract

Sampah menurut UU No. 18 tahun 2008, didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Faktanya, yang membuat sampah menjadi hal yang merugikan manusia adalah ketika sampah dengan berbagai jenis bercampur di suatu. Dewasa ini, permasalahan sampah telah menjadi salah satu isu sentral yang sangat serius di banyak negara termasuk Indonesia. Rata-rata, volume sampah yang dihasilkan oleh manusia adalah sekitar 0,5 kg / per kapita tiap hari, apabila sampah tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali Siswa-Siswi SD Kristen BPK Penabur Bandar Lampung dalam mengelola sampah organik dan sampah non organik yang ada disekitarnya, dengan cara sampah organik di olah menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik diolah dengan cara 3R (Reuse, Reduce, Recycle), untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah dan dapat bernilai ekonomis. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan pelatihan teknis, serta dilanjutkan dengan pendampingan secara langsung. Hasil dari kegiatan ini adalah siswa-siswi SD Kristen BPK Penabur Bandar Lampung dapat memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos dan dapat memanfaatkan sampah anorganik menjadi sesuatu yang lebih berguna. Pelatihan cara pembuatan pupuk kompos dan pemanfaatan sampah plastik menjadi kerajinan bunga hias, dll sangat diharapkan bisa dipraktekkan ke depannya, agar dampak negatif dari timbunan-timbunan sampah yang dapat merusak lingkungan dapat teratasi.
Pemberdayaan Pengolahan Sampah Melalui Pelatihan Sampah Plastik Pada Warga Desa di Lingkungan Wisata Bendungan Tirta Shinta, Lampung Utara: Empowering Waste Processing Through Training Plastic Waste Among Villagers in The Tirta Shinta Dam Tourist Environment, North Lampung Deni Metri; Bambang Murwanto; Zenni Puspitarini
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Sampah selalu menjadi masalah dimana-mana, dibeberapa tempat mejadi darurat sampah dan menjadi salah satu “trending” di media sosial. Hal tersebut diakibatkan  dari kurang perhatian dan konsistensi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam hal pengolahan sampah dan kurang melibatkan masyarakat dalam berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Sebagai salah satu upaya pengurangan sampah dengan metode “recycling” atau mendaur ulang sampah melalui pemberdayaan masyarakat adalah tepat. Sehubungan dengan hal tersebut maka beberapa dosen Politeknik Kesehatan Tanjungkarang melaksanakan pemberdayaan masyarakat pengelolaan sampah melalui pelatihan pemanfaatan sampah kembali dari sampah plastik seperti bekas saset bungkus berbagai minuman, seperti kopi. Dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan oleh  warga desa Wonomarto dalam mendaur ulang sampah. Pelatihan tersebut diikuti oleh 30 orang oleh  warga desa Wonomarto, Kecamatan Kota Bumi Utara, Lampung Utara. Kegiatan tersebut diakomodir program Pemberdayaan kepada Masyarakat para dosen Politeknik Kesehatan Tanjungkarang, melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2023. Kegiatan tersebut dibantu oleh 3 orang mahasiswa Prodi Keperawatan Kota Bumi dan beberapa petugas Puskesmas Madukoro, Kota Bumi Utara, Lampung Utara. Dari hasil upaya kegiatan tersebut terjadi peningkatan pengetahuan, pesesepsi dan keterampilan pengeloahan sampah platik, khususnya saset bekas bungkus kopi. Dari hasil monitoring ditemukan 2 orang yang mengikutipelatihan tersebut menindaklanjuti kegiatan pengolahan sampah plastik tersebut.   Abstract: Waste is always a problem everywhere, in some places it has become a waste emergency and has become one of the "trending" items on social media. This is the result of a lack of attention and consistency from the government, including regional governments, in terms of waste processing and a lack of involvement of the community in participating in waste management. As an effort to reduce waste, the "recycling" method or recycling waste through community empowerment is appropriate. In connection with this, several lecturers at the Tanjungkarang Health Polytechnic implemented community waste management empowerment through training in reusing waste from plastic waste such as used sachets for various drinks, such as coffee. To increase the knowledge and skills of Wonomarto village residents in recycling waste. The training was attended by 30 people from Wonomarto village, Kota Bumi Utara District, North Lampung. This activity was accommodated by the Community Empowerment program for Tanjungkarang Health Polytechnic lecturers, through the 2023 Community Partnership Program (PKM) scheme. This activity was assisted by 3 students from the Bumi City Nursing Study Program and several officers from the Madukoro Health Center, Bumi Utara City, North Lampung. As a result of these activities, there was an increase in knowledge, perception, and skills in managing plastic waste, especially used coffee sachets. From the monitoring results, it was found that 2 people who took part in the training followed up on the plastic waste processing activities.  
DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KARANG ANYAR, LAMPUNG SELATAN: DETERMINANTS RELATED TO THE INCIDENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS, KARANG ANYAR HEALTH CENTER, SOUTH LAMPUNG Bambang Murwanto; Muslim, Zaenal; Usman, Sarip; Br. Karo, Dameria
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit tuberkolusis khususnya Tuberkulosis Paru masih menjadi masalah di Indonesia pada umumnya khususnya di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar, Lampung Selatan. Saat ini Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah India, dengan prevalensi 354/100.000 penduduk.  Beberapa faktor risiko terjadinya kedian Tuberkulosis Paru yang terbesar yaitu faktor lingkungan dan perilaku. Faktor lingkungan terutama lingkungan rumah dan perilaku adalah sikap dan perilaku terhadap penyakit Tuberkulosis Paru Tujuan penelitian ini untuk mengertahui determinan faktor-faktor yang beresiko terhadap kejadian Tuberkulosis Paru, di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar, Lampung Selatan, yaitu faktor-faktor lingkungan rumah dan perilaku adalah sikap dan perilaku. Metode penelitian ini adalah analitik, dengan rancangan kasus-kontrol (case control)  Penelitian ini untuk mengetahui hubungan Faktor-faktor Lingkungan dan Faktor-faktor Perilaku. Faktor-faktor Lingkungan terdiri dari variable-variabel Suhu, Pencahayaan, Kelembaban, Ventilasi, Kepadatan Hunian, Jenis Lantai, Sosial Ekonomi dan Faktor-faktor Perilaku terdiri dari variable-variabel, Pengatahuan tentang  Tuberkulosis Paru, Sikap terhadap Tuberkulosis Paru, Perilaku terhadap Penyakit Tuberkulosis Paru. Sedangkan sebagai variabel terikat adalah penderita dan bukan penderita Tuberkulosis Paru. Hasil penelitian ini adalah faktor-faktor risiko tersebut adalah lingkungan rumah meliputi pendapatan, pencahayaan, kelembaban, ventilasi, kepadatan hunian, lantai, dan sikap, perilaku terhadap penyakit Tuberkulosis Paru. Risiko faktor kelembaban adalah faktor yang paling dominan (kuat).   Tuberculosis, especially pulmonary tuberculosis, is still a problem in Indonesia in generaly, especially in the working area of ??the Karang Anyar Community Health Center, South Lampung. Currently Indonesia ranks second in the world after India, with a prevalence of 354/100,000 population. Some of the biggest risk factors for developing pulmonary tuberculosis are environmental and behavioral factors. Environmental factors, especially the home environment and behavior, are attitudes and behavior towards Pulmonary Tuberculosis. The aim of this research is to understand the determinants of risk factors for the incidence of Pulmonary Tuberculosis, in the working area of ??the Karang Anyar Community Health Center, South Lampung, namely home environmental and behavioral factors are attitudes and behavior. This research method is analytical, with a case-control design. This research is to determine the relationship between environmental factors and behavioral factors. Environmental factors consist of the variables Temperature, Lighting, Humidity, Ventilation, Occupancy Density, Floor Type, Socioeconomic and Behavioral Factors consist of the variables, Knowledge about Pulmonary Tuberculosis, Attitudes towards Pulmonary Tuberculosis, Behavior towards Tuberculosis Lungs. Meanwhile, the dependent variable is pulmonary tuberculosis sufferers and non-sufferers. The results of this research are that the risk factors are the home environment including income, lighting, humidity, ventilation, residential density, flooring, and attitudes and behavior towards pulmonary tuberculosis. The risk factor of humidity is the most dominant (strong) factor.
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DAN KEJADIAN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG Sari, Mona Linda Novita; Fikri, Ahmad; Murwanto, Bambang; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v16i3.3629

Abstract

Saat ini Indonesia menempati posisi kedua kasus terbanyak Tuberculosis (TB) (845.000 kasus) setelah India. Faktor lingkungan rumah berhubungan erat dengan penyebaran kasus, selain faktor lain seperti gizi, imunisasi, kemiskinan, dan pelayanan kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko lingkungan fisik rumah terhadap kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian menggunakan rancangan kasus-kontrol, dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2022. Total 279 rumah tangga (93 kasus dan 186 kontrol) diikutkan selama penelitian. Kasus adalah penderita TB dengan hasil pemeriksaan BTA+ dan tercatat pada buku register TB. Kelompok kontrol dipilih dari tetangga terdekat tanpa riwayat TB. Pengumpulan data dilakukan dengan alat ukur untuk variabel suhu, kelembaban, pencahayaan, dan luas ventilasi. Sedangkan kepadatan hunian dengan wawancara. Analisis data dilakukan dengan Chi-square dan Logistic Regression. Penelitian telah mengidentifikasi empat faktor risiko lingkungan fisik rumah terhadap kejadian TB. Pencahayaan yang tidak memenuhi syarat menjadi faktor risiko terbesar terhadap TB (AOR 70.19; 95% CI 17.08 - 288.44). Tiga faktor risiko lainnya adalah kepadatan hunian (AOR 21.77; 95% CI 5.80 - 81.70), suhu (AOR 16.38; 95% CI 5.38 - 49.92), dan ventilasi (AOR 13.05; 95% CI 4.80 - 35.52). Empat faktor lingkungan fisik rumah tinggal secara signifikan telah teridentifikasi sebagai faktor risiko TB, yaitu pencahayaan, kepadatan hunian, suhu dan ventilasi. Perbaikan kondisi fisik rumah menjadi langkah intervensi yang harus diterapkan, selain peningkatan kampanye perilaku sehat.
KINERJA BEBERAPA VARIAN KULIT PISANG JENIS LOKAL TERHADAP REDUKSI BESI (Fe) DALAM AIR Manurung, Melin Nekawati; Fikri, Ahmad; Murwanto, Bambang; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v17i1.3707

Abstract

Beberapa penelitian telah melaporkan kemampuan kulit pisang untuk mereduksi ion logam, karena kandungan selulosa dan asam galacturonic. Penelitian bertujuan mengeksplorasi kinerja kulit pisang dari empat varian tanaman lokal untuk mereduksi kandungan besi (Fe) dalam air. Penelitian menggunakan rancang acak lengkap faktorial, dengan dua kali ulangan. Kulit pisang dari empat varian lokal (muli, kepok, tanduk, dan janten), selanjutnya dibuat bubuk. Percobaan dilakukan pada tiga level dosis (10%, 20%, dan 30%) dan tiga level waktu kontak (2 jam, 4 jam, dan 6 jam). Kandungan Fe diukur sebelum dan sesudah perlakuan dengan metode spectrophotometry. Keseluruhan data dianalisis dengan Two-way ANOVA dan Tukey-test pada Alpha=5%. Penelitian mendapatkan keempat varian kulit pisang mampu mereduksi Fe dalam air sampel, Reduksi Fe dipengaruhi oleh varian pisang, dosis, waktu kontak, dan interaksi antara varian dengan dosis dan waktu. Kinerja reduksi terbaik diperoleh pada penggunaan kulit pisang kepok, dosis 30%, dan waktu kontak selama 6 jam, sebesar 69,23%. Penelitian telah berhasil mengeksplorasi empat kulit pisang lokal sebagai bahan baku adsorben Fe. Dari keempatnya, kulit pisang kepok menunjukkan kinerja terbaik. Penelitian lebih lanjut diharapkan untuk meningkatkan afinitas kulit pisang terhadap ion logam, termasuk sebagai adsorben logam berat.