Claim Missing Document
Check
Articles

PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN KERAJINAN TAS DAN KERANJANG ROTAN (Calamus spp) PADA KELOMPOK LESTARI DI KOTA BUNTOK KABUPATEN BARITO SELATAN KALIMANTAN TENGAH Liya Regita; Sunardi Sunardi; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.554 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i2.1980

Abstract

One of the non-timber forest products known to the community is rattan. Rattan (Calamus spp) is used as a raw material for the handicraft industry, Kelompok Lestari is a small industry that has the skills in making rattan crafts in order to improve the family economy and play a role in utilizing human resources by utilizing business time in the field of rattan crafts. The development of the craft industry is aimed at expanding employment opportunities and utilizing natural resources and human resources and of course influenced by factors of productivity and income from crafting rattan produced. This study aims to analyze the amount of productivity and income in the rattan handicraft industry (Calamus spp) in the Kelompok Lestari in Buntok City, South Barito Regency, Central Kalimantan. This study uses the observation method in the center of rattan crafts and interview methods, namely interview activities using a questionnaire. The results obtained from this study are the average productivity of craftsmen of rattan bags woven products of 5.1 pieces/month and woven rattan baskets of 5.1 pieces/month. The average income of rattan woven craftsmen in one month is based on the type of rattan bag woven products of Rp.375,714.- and woven rattan basket is Rp.745,114.Keywords: Rattan (Calamus spp); Productivity; Income
ETNOBOTANI OBAT-OBATAN YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT ADAT DAYAK MERATUS DESA ULANG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN KALIMANTAN SELATAN Yalina Elsi; Trisnu Satriadi; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.278 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i1.1959

Abstract

Indigenous peoples Dayak Meratus Ulang villages residing in the Meratus mountains explain that the existence of non-timber forest products is believed to be most intersect with the interests of forest communities in meeting the needs of food, boards, rituals, and others. This study aims to identify the types of non-timber forest products utilized by indigenous Dayak Meratus which is used as medicine, food, and tooling. The method used in this research is snowball. This method is done by selecting respondents based on key informant recommendations, until the data obtained saturated. The results of this study indicate that of 31 types of medicinal plants used by Ulang Village communities such as leaves, roots, bark, sap, shoots, and fruit. Treatment techniques from within and from outside.Keywords: Ethnobotan;, drugs; Dayak Meratus; medicinal plants
SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU KURANG DIKENAL DARI HUTAN SEKUNDER, KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA Muhammad Rais Arifin; Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi; Ishiguri Futoshi; Yokota Shinso; Anak Agung Ayu Ratih Frismanti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i1.5043

Abstract

The aim of this study is to obtain the basic wood properties of three lesser known species tengkook ayam (Nephelium sp), madang pirawas (Neolitsea firma) and merambung (Vernonia arborea)). Stem diameter at 1.3 m above the ground and tree height were measured on 3 trees from each species. Later, core samples were collected from all the measured trees. Using the core samples, the basic density (BD), moisture content (MC) and compressive strength with fractometer (fractometer II, IML, German) parallel to grain (CS) were measured. Mean values of BD of tengkook ayam (Nephelium sp), madang pirawas (N. firma) and merambun (V. arborea) were 0.59±0.02, 0.55±0.06 and 0.34±0.06, respectively. Mean values of MC of tengkook ayam (Nephelium sp), madang pirawas (N. firma) and merambung wood (V. arborea) were 22.77±0.10%, 37.10±0.01% dan 61.85±0.06%, respectively. Mean values of CS of tengkook ayam (Nephelium sp), madang pirawas (N. firma) and merambung (V. arborea) were 34.70±11.89 MPa, 32.00±3.39 MPa dan 15.02±4,06 MPa. There is a positive significant correlation between BD and CSPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi dasar dari kayu tengkook ayam (Nephelium sp), madang pirawas (Neolitsea firma), dan merambung (Vernonia arborea). Diameter diukur pada ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah pada 3 pohon dari masing-masing spesies. Core sample diambil dari pohon yang telah diukur. Menggunakan core sample pengukuran kekuatan tekan dengan fractometer dilakukan dengan memotong core sample menjadi 5 mm interval. Core sample dengan 5 mm interval kemudian diletakkan pada alat fractometer (Fractometer II, IML, Jerman) dan ditekan sampai kayu tersebut retak dengan menggunakan alat tersebut. Hasil penelitian berat jenis dari kayu tengkook ayam, madang pirawas dan merambung secara berturut-turut yaitu 0,59±0,02, 0,55±0,06 dan 0,34±0,06. Hasil penelitian kadar air dari kayu tengkook ayam, madang pirawas dan merambung secara berturut-turut yaitu 22,77±0,10%, 37,10±0,01% dan 61,85±0,06%. Hasil penelitian kekuatan tekan pada kayu tengkook ayam, madang pirawas dan merambung secara berturut-turut yaitu 34,70±11,89 MPa, 32,00±3,39 MPa dan 15,02±4,06 MPa. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa korelasi antara berat jenis dengan kekuatan tekan yaitu 1. Artinya semakin besar berat jenisnya maka akan semakin besar juga kekuatan tekan yang dihasilkan
PENGUKURAN KADAR AIR JENIS BAMBU BETUNG (Dindrocalamos asper), BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schard) dan BAMBU SULUK (Gigantochloa levis Merr) Ayu Noor Latifah; Kurdiansyah Kurdiansyah; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.006 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i5.4212

Abstract

The aim of this research is to determine water content of three types of bamboo (betung bamboo (Dindrocalamos asper), kuning bamboo (Bambusa vulgaris Schard), and suluk bamboo (Gigantochloa levis Merr)) and to determine the differences based on their position in bamboo. Five bamboos each species was harvested from Tapin Regency, South Kalimantan. Bamboo was divided into three positions, the bottom, middle, and the end and moisture content were measured. This measurement of water content can provide information for further utilization. Based on the results, the water content of the bamboo betung type, the bottom part was 22.8%, the middle was 16.8%, and the tip was 16.6%, with an average moisture content of 18.7%. The moisture content of kuning bamboo at the bottom was 18.6%, the middle was 18.6% and the tip was 19.8% with an average was 19%. The moisture content of the suluk bamboo at the bottom was 17.2%, the middle was 16.4% and the tip was 14.8% with an average was 16.13%. The results showed that the highest water content in kuning bamboo was 19%. Bamboo moisture content can be used as a consideration for the use of bamboo in the drying and preserving process of bambooPenelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar air pada tiga jenis bambu (Bambu betung (Dindrocalamos asper), bambu kuning (Bambusa vulgaris Schard), dan bambu suluk (Gigantochloa levis Merr)) dan untuk mengetahui perbedaan berdasarkan posisinya dalam bamboo. Lima batang bamboo tiap spesies ditebang dari Kabutpaten Tapin, Kalimantan Selatan. Bambu dibedakan menjadi tiga posisi, pangkal, tengah dan ujung selanjutnya diuji kadar airnya. Pengukuran kadar air ini dapat memberikan informasi pada pemanfaatan lebih lanjut. Berdasarkan hasil pengukuran kadar air jenis bambu betung bagian pangkal rata-rata 22,8%, tengah 16,8%, dan bagian ujung 16,6% dengan kadar air rata-rata keseluruhan 18,7 %. Hasil pengukuran kadar air jenis bambu kuning bagian pangkal rata-rata 18,6%, tengah 18,6% dan bagian ujung 19,8% dengan kadar air rata-rata keseluruhan 19%. Hasil pengukuran kadar air jenis bambu suluk bagian pangkal rata-rata 17,2%, tengah 16,4% dan bagian ujung 14,8% dengan kadar air rata-rata keseluruhan 16,13 %. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar air tertinggi pada bambu kuning sebesar 19%. Kadar air bambu dapat digunakan sebagai pertimbangan penggunaan bambu dalam proses pengeringan dan pengawetan bambu
KARAKTERISTIK ANATOMI KULIT BATANG SAGU (Metroxylon sagu Rottb.) UNTUK BAHAN BAKU PULP DAN KERTAS Ahmad Arsyad; Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi; Dede Heri Yuli Yanto; Widya Fatriasari; Danang Sudarwoko Adi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.257 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i6.4577

Abstract

The study aims to analyze the anatomical characteristics and values of fiber derivatives as raw materials of pulp and paper, samples in the form of sticks the size of matchsticks are prepared for measurement of fiber dimensions then inserted into the test tube and added a chemical solution until the sample is submerged. The test tube is heated to a boil and is yellowish-white. Samples are cooled and washed with aquades. The sample is colored with safranin. Based on the results of research on the value of sago skin fiber derivatives if the average runkel number is obtained worth 1.18, with a class 4 weaving power category of 38.82 with a class 4 category, musteph rotio worth 38.43% with class 2 category, coefficient of rigidity worth 0.26 with class 4 category and flexibility ratio of 0.45 with category 3, Based on fiber classification value can conclude that sago skin is included in class 3 categoryPenelitian bertujuan untuk menganalisis karakteristik anatomi dan nilai turunan serat sebagai bahan baku pulp dan kertas, sampel berupa stik seukuran batang korek api disiapkan untuk pengukuran dimensi serat selanjutnya dimasukan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan kimia sampai sampel terendam. Tabung reaksi dipanaskan sampai mendidih dan berwarna putih kekuning-kuningan. Sampel didinginkan dan dicuci dengan aquades. Sampel diwarnai dengan safranin. Berdasarkan hasil penelitian pada nilai turunan serat kulit sagu jika dirata-rata diperoleh bilangan runkel senilai 1,18, dengan kategori kelas 4 daya tenun senilai 38,82 dengan kategori kelas 4, musteph rotio senilai 38,43% dengan kategori kelas 2, coefficient of rigidity senilai 0,26 dengan kategori kelas 4 dan flexibility ratio senilai 0,45 dengan kategori 3, Berdasarkan nilai klasifikasi serat dapat simpulkan bahwa kulit sagu sagu masuk dalam kategori kelas 3
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L) SEBAGAI BAHAN PENGAWET KAYU ALAMI Selvi Carolina; Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.064 KB) | DOI: 10.20527/jss.v2i3.1836

Abstract

Wood fruits are susceptible to harmful organisms, as most have low durability classes. The purpose of this research is to measure the absorption, leaf extract retention, percentage of weight reduction, degree of damage, and mortality of termites in rambutan wood preservation by cold bath method. And know the durability of rambutan wood (N. Lappaceum L) preserved with soursop leaf extract preservative against ground termite attack. The result of this research is the highest average absorption value at 200 g/l concentration with 7 days immersion time of 0.976 g/cm3 . the highest average actual retention rate of 0.030 g/cm3 at a concentration of 200 g/l with a 7-day immersion period and the higher concentration and the longer immersion period the higher of absorption and actual retention value. The effect of soaking time and the concentrarion level of soursop leaf extract on the soil termite infestation is the duration of immersion affect the level of wood durability the higher the concentration of preservative and soaking time, the higher the durability of rambutan wood 7 days with a concentration of 200 grams.Keywords: Soursop leaf extract; wood preservation; rambutan wood
STUDI PADA SIFAT FISIK, MEKANIK, DAN KARAKTERISTIK ANATOMI KAYU KACANG (Strombosia javanica) DI MANDIANGIN, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN Muhammad Fadhil; Gusti Abdul Rahmat Thamrin; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.143 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i3.2190

Abstract

The purpose of this study was to determine the physical, mechanical, and characteristics anatomy of kayu kacang (Strombosia javanica) and recommend the suitability of using kayu kacang based on data obtained in this study. The expected benefit of this research is to be able to provide information and preliminary data for industries and communities who want to develop and utilize kayu kacang, so that the use of peanut wood (Strombosia javanica) matches the characteristics it has. The method used is cutting kayu kacang wood sticks with small pieces in several parts that will be processed into sample material physical, mechanical, and characteristics anatomy of kayu kacang. The results showed that kayu kacang trees had class III wood strength and had very short fiber lengths and very short vessel lengths.
PENGERINGAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis) DENGAN METODE RADIASI MATAHARI (GREEN HOUSE) UNTUK TUJUAN PENGAWETAN KAYU Nur Afik Bagustiana; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.016 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i4.3943

Abstract

This study aims to determine the optimal drying time of rubber wood (Hevea brasiliensis) related to preservation by the method of hot and cold immersion using boric acid material so as to prolong the use of wood and also reduce costs and can be used as a reference in research. The parameters tested in the preservation of wood are theoretical absorption and retention values. The optimal drying time of rubber wood (Hevea brasiliensis) for the preservation process of the absorption value and theoretical retention by the method of hot and cold immersion using boric acid material is at 2 weeks drying time. Factors that influence the absorption and retention are caused by water content and length of immertionPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pengeringan kayu karet (Hevea brasiliensis) yang optimal terkait pengawetan dengan metode perendaman panas dingin menggunakan bahan asam borat sehingga dapat memperpanjang pemakaiaan kayu dan juga menekan biaya yang dikeluarkan serta bisa dijadikan acuan dalam penelitian. Parameter yang diuji dalam pengawetan kayu adalah nilai absorbsi dan retensi teoritis. Waktu optimal pengeringan kayu karet (Hevea brasiliensis) untuk proses pengawetan dari nilai absorbsi dan retensi teoritis dengan metode perendaman panas dingin menggunakan bahan asam borat yaitu pada lama pengeringan 2 minggu. Faktor yang mempengaruhi nilai absorbsi dan retensi pada pengawetan kayu disebabkan oleh kadar air kayu dan lama perendaman
KANDUNGAN FITOKIMIA AKAR, BATANG, KULIT, DAN DAUN POHON PELAWAN (Tristaniopsis merguensis) Rizal Rifa’i; Wiwin Tyas Istikowati; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.335 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i5.4200

Abstract

The purpose of this study was to analyze active compounds of alkaloids, flavonoids, steroids, triterpenoids, tannins, saponins, and quinons, on the roots, stems, bark’s, and leaves of pelawan trees by screening methods as phytochemical testing. Based on the results, parts of pelawan trees that contain alkaloid compounds only in the stem, leaves and bark, while the root does not contain alkaloids compounds. Flavonoids compounds in the roots, stems, leaves, and bark’s have negative values which means they are not found. Steroid compounds was not detected in the stem but were found in three other parts (roots, leaves, and bark’s). Positive triterpenoids compounds found in the bark’s. Tannins, saponins, and quinons compounds were found in all parts of the roots, stems, leaves, and bark’sTujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kandungan senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid, triterpenoid, tanin, saponin, dan quinon, pada bagian akar, batang, kulit, dan daun pelawan dengan metode skrining sebagai pengujian fitokimia. Berdasarkan hasil penelitian pada pohon pelawan, bagian yang mengandung senyawa alkaloid hanya di bagian batang, daun, dan kulit, sedangkan di bagian akar tidak mengandung senyawa alkaloid. Senyawa flavonoid di bagian akar, batang, daun dan kulit memilikinilai negatif (-) yang artinya tidak ditemukan. Senyawa steroid tidak terdeteksi di bagian batang namun ditemukan di tiga bagian lain (akar, daun, dan kulit). Senyawa triterpenoid positif ditemukan di bagian kulit. Senyawa tannin, saponin, dan quinon terdapat di semua bagian akar, batang, daun, dan kulit.
PENGAWETAN KAYU NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lmk.) MENGGUNAKAN PENGAWET BORON DENGAN METODE RENDAMAN DINGIN UNTUK MENCEGAH SERANGAN RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus) Indri Eka Fitriani; Wiwin Tyas Istikowati; Lusyani Lusyani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.3 KB) | DOI: 10.20527/jss.v1i1.457

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya absorbs, retensi, mengukur presentase pengurangan berat, derajat kerusakan, mortalitas rayap dan mengetahui keawetan kayu nangka yang diawetkan dengan pengawet boraks dan asam borat terhadap serangan rayap tanah. Berdasar data yang diperoleh, dapat ditentukan konsentrasi dan lama perendaman yang optimal pada pengawetan kayu nangka. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keawetan kayu nangka setelah diawetkan menggunakan pengawet boraks dan asam borat terhadap serangan rayap tanah. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Hasil dari penelitian menunjukan rata-rata nilai absorbsi 66,67 kg/m3-188,89 kg/m3, nilai rata-rata retensi teoritis 6,67 kg/m3-37,78 kg/m3, dan nilai rata-rata retensi aktual antara 33,33 kg/m3-111,11 kg/m3. Hasil nilai rata-rata pengurangan berat 3,12%-12,04%, nilai rata-rata derajat kerusakan 33,33%-66,67%, adapun nilai mortalitas rayap tanah menunjukkan hasil yang sama pada setiap perlakuan yaitu mencapai 100% kematian rayap tanah. Keawetan kayu nangka yang diawetkan dengan pengawet boraks dan asam borat yang optimal pada konsentrasi 10% dengan lama perendaman 4 jam. Hasil analisis sidik ragam lanjutan menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan konsentrasi dan lama perendaman yang digunakan berpengaruh nyata terhadap nilai absorbsi, retensi teoritis, dan retensi aktual.
Co-Authors Abdullah Abdullah Adelia Wahyu Tri Utami Agung Nugroho Agustan Saining Agustinus Panjaitan Ahmad Arsyad Ahmad Arsyad Ahmad Budi Junaidi Akhmad Fauzan Aldi Bayu Pratama Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa, Amalia Amelia Lestari Aminonatalina Aminonatalina Anak Agung Ayu Ratih Frismanti Asmianoor Latifah Ayu Noor Latifah Azidi Irwan Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Dahlia Nuraini Pasaribu Dahlia Nuraini Pasaribu Danang Sudarwoko Adi Danang Sudarwoko Adi Daniel Itta Dede Heri Yuli YANTO Dede Heri Yuli Yanto Dede Heri Yuli Yanto Dety Yuliana Rosa Dewi Alimah Dewi Umaningrum Dita Fadhila, Dita Fadhila Dyera Forestryana Eny Dwi Pujawati Fadeliansyah, Fadeliansyah Fatriani Fatriani Fatriani Fatriani Forestryana, Dyera Gusti Abdul Rahmat Thamrin Hafiz Ramadhan Hafizianor Hafizianor Herawati Herawati Herlina Herlina Herlina Herlina Hesty Heryani Hidayanti, Nurul Idris, Muddatstsir Indri Eka Fitriani Ishiguri Futoshi Jeng Mas Ayu Devanda Buhang Khoirun Nisa Kissinger Kissinger Kurdiansyah Liana Fitriani Hasymi Lisa Andriana Kristy Lisa Andriana Kristy Liya Regita Liya Regita Lusyani Lusyani Lusyiani Lusyiani Lusyiani Muhammad Arief Soendjoto Muhammad Fadhil Muhammad Rais Arifin Munadi Munadi Muslih Anwar Nina Noviyanti Noor Wilanda Norhidayah, Anisa Nur Afik Bagustiana Nur Afik Bagustiana Purnama Lestari Purnama Lestari Raden Mas Sukarna Rahmat Eko Sanjaya Rahmat Yunus Ramadhan, Hafiz Rina Muhayah Noor Pitri Rio Ilhamsyah Risaldi Ridwan Riska Surya Ningrum Riska Surya Ningrum Risma Rahmawati Rizal Rifa’i Rizki Fitria Rizky, Akhmad Aufa Rosidah - Saiful Ruchiyat Cosahan Saputra, Debi Imam Sari, Evita Selvi Carolina Sinta Amanah Siti Hadijah Siti Hamidah Siti Hamidah Sri Nugroho Marsoem Sri Nugroho Marsoem Sunardi Sunardi Sunardi sunardi sunardi Sunardi, Ph.D., Sunardi Suriansyah, Suriansyah Surya, Adhi Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Syaifuddin Syaifuddin SYARIFUDDIN KADIR Trisnu Satriadi Udiansyah Udiansyah Uripto Trisno Santoso Vina Oktafianty Violet Burhanuddin Widya Fatiasari Widya FATRIASARI Widya Fatriasari Yalina Elsi Yokota Shinso Yuniarti Yuniarti Yusanto Nugroho Zainal Abidin Zainal Abidin Zainal Abidin