Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN JAMUR Phanerochaete chrysosporium Burds UNTUK PENINGKATAN KWALITAS PULP KAYU RANDU Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.045 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v4i1.2049

Abstract

Jamur pelapuk putih adalah organisme pendegradasi kayu yang dapat mendekomposisi polimer-polimer kayu yaitu lignin, selulosa dan hemiselulosa. Jamur pelapuk putih lebih menyukai lignin pada kayu daripada selulosa yang diharapkan tetap ada pada aplikasi proses biopulping. Dalam penelitian ini dilakukan inokulasi jamur Phanerochaete chrysosporium pada serpih kayu randu sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh variasi masa inkubasi dan waktu pemasakan serpih terhadap rendemen pulp, bilangan kappa, konsumsi alkali pulp kayu randu. Jamur Phanerochaete chrysosporium dibiakkan pada medium agar (PDA) selama 10 hari, kemudian diinokulasikan pada serpih kayu randu selama 20 ,30 dan 40 hari. Selanjutnya serpih diamati sifat kimia, anatomi kemudian dimasak menggunakan proses kraft dengan alkali aktif 16 % selama 1 ; 1,5 dan 2 jam. Hasil penelitian menunjukkan nilai rendemen pulp berkisar pada 27,7 %-40,5% . Bilangan kappa berkisar antara 5,1- 12,4. Konsumsi alkali terendah sebesar 1,53 diperoleh pada lama penyerangan 40 hari dengan waktu masak 1,5 dan 2 jam. Kata kunci: Biopulping, Phanerochaete chrysosporium, Ceiba pentandra, pulp dan kertas. 
ANALISIS KOMPONEN SERAT PELEPAH SAGU (METROXYLON SAGO) DAN KAJIAN MORFOLOGI SELULOSANYA SETELAH OKSIDASI MENGGUNAKAN AMONIUM PERSULFAT Sunardi Sunardi; Nina Noviyanti; Wiwin Tyas Istikowati; Khoirun Nisa; Muslih Anwar
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.297 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v15i1.9724

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan kajian tentang analisis kandungan kimia pelepah sagu, delignifikasi dengan variasi konsentrasi NaOH dan bleaching dengan variasi konsentrasi H2O2 pada isolasi selulosa, serta proses oksidasi menggunakan amonium persulfat ((NH4)2S2O8) (APS) pada selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen serat pelepah sagu, pengaruh variasi konsentrasi NaOH pada proses delignifikasi dan H2O2 pada proses bleaching, dan mengetahui pengaruh penambahan amonium persulfat terhadap morfologi selulosanya. Analisis kandungan kimia pelepah sagu dilakukan dengan metode Chesson, delignifikasi dilakukan dengan variasi konsentrasi NaOH sebesar 5%; 7,5%; dan 10%, dan bleaching dilakukan dengan variasi konsentrasi H2O2 sebesar 10%; 15%; dan 20%. Proses oksidasi menggunakan amonium persulfat dilakukan pada konsentrasi 2M pada suhu 75°C selama 16 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan kimia pelepah sagu yaitu ekstraktif larut air 16,41%; hemiselulosa 27,12%; selulosa 35,53%; dan lignin 18,25%; dan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi NaOH dan H2O2 yang dipergunakan akan semakin banyak mendegradasi lignin dan hemiselulosa, sehingga semakin murni selulosa yang didapatkan. Morfologi selulosa setelah proses oksidasi menggunakan amonium persulfat memiliki diameter 41 µm yang teragregasi.
PENGARUH DERAJAT NETRALISASI ASAM AKRILAT PADA SINTESIS POLIMER SUPERABSORBEN DARI SELULOSA TUMBUHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica) Sunardi Sunardi; Azidi Irwan; Wiwin Tyas Istikowati; Aminonatalina Aminonatalina
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.201 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v7i2.2126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh derajat netralisasi asam akrilat menggunakan NaOH terhadap karakteristik polimer superabsorben selulosa batang alang-alang tercangkok asam akrilat yang meliputi analisis perubahan gugus fungsi menggunakan FTIR (Fourier Transform Infra Red), kemampuan mengembang (swelling) dalam air, urea, NaCl serta kemampuan menahan (retensi) air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polimer superabsorben yang dihasilkan dengan derajat netralisasi 85% memiliki karakteristik yang paling baik dengan nilai kemampuan mengembang (swelling) sebesar 755,07 g/g (water), 641,83 g/g (urea) dan 65,00 g/g (NaCl). Hasil uji retensi air menunjukkan bahwa kemampuan menahan air superabsorben tercangkok selulosa alang-alang masih lebih kecil dibanding polimer asam akrilat murni. Hasil spektra FTIR menunjukkan pencangkokan dan pengikatsilangan terjadi pada karbon rangkap dua monomer asam akrilat. Kata kunci: superabsorben, selulosa, derajat netralisasi, asam akrilat, Imperata cylindrical 
Phanerochaete chrysosporium Burds INOCULATION TO IMPROVE THE PHYSICAL PROPERTIES OF KAPOK PULP Wiwin Tyas Istikowati; Sri Nugroho Marsoem
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.229 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v6i1.2108

Abstract

White rot fungus are wood degrading organism able to decompose wood polymers; lignin, cellulose and hemicelluloses. Some species of white rot fungi decompose wood lignin over wood polysaccharides (e.g. cellulose), make it preferable for biopulping applications. A study of Phanerochaete chrysosporium Burds fungi inoculation to kapok chips was conducted to investigate the characteristics for the wood chips to be used as pulp and paper raw materials, as degradation level influences pulp characteristic. Phanerochaete chrysosporium fungi was incubated at PDA for 10 days, then inoculated to kapok chips for 20, 30, and 40 days. Fiber morphology was analyzed furthermore 16% active alkali of kraft process was conducted for 1, 1.5, and 2 hours cooking times. The results showed that range of tear strength 4.23 mNm2/g up to 6.35 mNm2/g, tensile strength 35 N m/g until 39.9 N m/g and bursting strength 1,5 kPa up to 2,01 kPa. Key words : Biopulping, Phanerochaete chrysosporium, Ceiba pentandra, pulp and paper 
Karakteristik Kayu Jelutung (Dyera costulata) dari Hutan Tanaman Rakyat di Kalimantan Tengah Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya; Sunardi Sunardi; Daniel Itta; Dahlia Nuraini Pasaribu; Lisa Andriana Kristy
JURNAL SELULOSA Vol 12, No 01 (2022): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v12i01.346

Abstract

Kayu jelutung (<i>Dyera costulata</i>) merupakan salah satu jenis tanaman endemik di Kalimantan yang mulai langka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pertumbuhan kayu jelutung yang dibudidayakan oleh masyarakat di Kalimantan Tengah di lahan gambut. Pengolahan lahan dengan tanpa bakar menjadikan hutan tanaman rakyat (HTR) ini ramah lingkungan. Sebanyak 38 pohon jelutung dari 1 blok HTR diukur diameter dan tinggi pohonnya, selanjutnya dikelompokkan dalam kategori pertumbuhan cepat, sedang, dan lambat. Dari masing-masing kelompok diambil 1 pohon yang memenuhi persyaratan. Sampel setebal 2 cm diambil dari ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah dan setiap 2 meter ke arah ujung pohon untuk pengukuran kadar air (KA), berat jenis (BJ), anatomi kayu, nilai turunan serat, dan kandungan kimia kayu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kayu jelutung memiliki BJ rendah dan serat pendek sehingga termasuk kelas 2 untuk pembuatan pulp dan kertas. Kandungan kimia kayu jelutung menunjukkan kandungan ektraktif larut alkohol benzena yang cukup rendah dan bisa digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Selain itu, kayu jelutung juga sesuai untuk digunakan sebagai bahan kayu lapis. Characteristics of Jelutong Wood ((<i>Dyera costulata</i>) from Community Forest in Central KalimantanAbstractJelutong wood (<i>Dyera costulata</i>) is one of the endemic tree species in Kalimantan which is starting to become scarce. This research aims to analyze the growth characteristics of jelutong wood planted by the community in peatland in Central Kalimantan. Land processing without burning makes this community plantation forest environmentally friendly. Thirty-eight trees of jelutong from one block were measured diameter and three height, end then categorized to fast, medium, and slow-growing. One tree from each category was harvested. Two centimeters of the disk were collected from each harvested trees from a 1.3 meter height and continued every 2 meters to the peak of trees to measure water content, specific gravity, anatomical properties, derived wood, and chemical content of jelutong wood. From the analyses, jelutong has low specific gravity and short fibers, categorized into class two for pulp and paper raw materials. Extractive content in alcohol benzene from jelutong wood was low that preferable for pulp and paper. On the other hand, jelutong wood is suitable for plywood raw materials.
ANALISIS KANDUNGAN KIMIA KAYU JELUTUNG (Dyera costulata) BERDASARKAN POSISI KETINGGIAN BATANG Dahlia Nuraini Pasaribu; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i2.5365

Abstract

This study aims to determine the color of a sample qualitatively on jelutung wood including the base, middle, tip, and bark. Changes in color using a photometer are not only found in every type of wood, but also affect the position of the height on the stem. Color changes are generally influenced by extractive composition, temperature, humidity, light, and storage conditions (Sahin 2011). The color of the wood needs to be considered for pulp and paper, because the brighter the color of the wood, the better the quality of the pulp and paper produced. Jelutung wood has a smooth texture, the direction of the fibers is straight, and the slippery surface is slightly glossy so it is suitable for writing paper. And it can also be used as pulp and paper with the addition of chemicals and advanced treatment. Color change usually occurs due to the presence of substances that react before and after treatment on a sample.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui warna suatu sampel secara kualitatif  pada kayu jelutung meliputi pangkal, tengah, ujung, dan kulit. Perubahan warna menggunakan fotometer  pengukurannya tidak juga  terdapat pada suatu jenis kayu yang berbeda, tetapi juga berpengaruh pada letak ketinggian pada batang. warna yang berubah pada umumnya dipengaruhi oleh sifat komposisi dari kadar ekstraktif, suhunya, kelembabannya, cahaya matahari, dan kondisi dimana sampel kita simpan (Sahin 2011). Kayu yang berwarna perlu diperhatikan pada pulp dan kertas, sebab warna kayu yang semakin cerah akan menentukan kualitas pulp dan kertas yang bagus pula. Kayu jelutung memiliki tekstur halus, arah seratnya lurus dan permukaan licin sedikit mengkilap sehingga cocok diperuntukkan sebagai kertas tulis. Dan juga bisa diperuntukkan menjadi kertas dan pulp dengan menambahkan bahan bahan kimia juga dilakukan perlakuan lebih lanjut. Colour Change atau perubahan warna biasa terdeteksi sebab terdapatnya kandungan yang bereaksi antara zat sesudah dan sebelum perlakuan pada sampel.
ANALISIS KANDUNGAN KIMIA KULIT BATANG SAGU (Metroxylon sagu Rottb.)SEBAGAI BAHAN BAKU PULP DAN KERTAS Purnama Lestari; Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi; Dede Heri Yuli Yanto; Widya Fatiasari; Riska Surya Ningrum
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i2.5371

Abstract

South Kalimantan is a province with a fairly large wetland area so that the population of non-timber forest products such as sago (Metroxylon sagu Rottb.) Is widely found. Sago are found along the rivers, especially swamps. A good environment for sago growth is a muddy area, where breath roots aren’t submerged, rich in minerals and organic matter, groundwater is brown and reacts slightly acidic. Freshwater sago growth requires several substances, including potassium, phosphate, calcium and magnesium. Sago is a humid tropical lowland species, which can naturally be found on land with an altitude of up to 700masl. The best growing conditions are at an average temperature of 26°C, relative humidity at 90%, and solar radiation around 9MJ/m2/day. Sago grow well at an altitude of up to 400masl. Above 400masl, sago growth is stunted and starch levels are low. At an altitude above 600masl, the height of the sago is about 6 meters. Utilization of sago in Kalimantan is still not optimal, especially in the midrib and bark of sago palms, sago leaves mostly are only used as a substitute for rope. Sago fronds and bark are cellulose producers can be used for other purposes, however, research related to the use of sago fronds and bark hasn’t been widely carried out. Therefore, in this research, chemical content analysis, making pulp and pulp sheets will be carried out as well as physical testing of the resulting pulp sheets to see their suitability as a source of raw materials for pulp and paperKalimantan Selatan merupakan provinsi dengan luasan lahan basah yang cukup besar sehingga populasi hasil hutan bukan kayu seperti tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) banyak ditemukan. Tanaman sagu banyak ditemukan di sepanjang sungai Kalimantan terutama daerah rawa-rawa. Daerah berlumpur merupakan lingkungan yang baik untuk tanaman sagu, yang dimana tidak terendam akar napasnya, kaya akakn mineral dan bahan organik, air tanah berwarna coklat dan bereaksi agak asam. Sagu air tawar memerlukan beberapa zat yaitu potasium, fosfat, kalsium, dan magnesium. Tanaman sagu merupakan spesies tumbuhan daerah tropis yang lembab, secara alamiah dapat ditemui pada lahan dengan ketinggian hingga 700 m dpl. Pertumbuhan tanaman sagu yang baik adalah pada suhu rata-rata 26oC, kelembaban relative level 90%, dan radiasi matahari sekitar 9 MJ/m2 per hari. Sagu  juga dapat tumbuh baik dengan ketinggian hingga 400 m dpl. Lebih dari 400 m dpl pertumbuhan sagu agak terhambat karena kadar patinya rendahkadar patinya rendah. Pada ketinggian di atas 600 m dpl, tinggi tanaman sagu sekitar 6 m.  Pemanfaatan tanaman sagu di Kalimantan masih kurang optimal terutama di bagian pelepah dan kulit batang sagu, sebagian besar pelepah sagu hanya digunakan sebagai bahan pengganti tali. Pelepah dan kulit batang sagu merupakan penghasil selulosa yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, akan tetapi penelitian terkait pemanfaatan pelepah dan kulit batang sagu masih belum banyak dilakukan. Oleh karea itu, dalam penelitian ini, akan dilakukan analisis kandungan kimia, pembuatan pulp, dan lembaran pulp serta pengujian fisik lembaran pulp yang dihasilkan untuk melihat kesesuaiannya sebagai sumber bahan baku pulp dan kertas
UJI FITOKIMIA PADA TUMBUHAN OBAT JUNGRAHAB (Baeckea frutescens L.) Herawati Herawati; Yuniarti Yuniarti; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i3.5714

Abstract

This study aims to qualitatively identify active compounds, namely alkaloids, flavonoids, steroids, triterpenoids, tannins, saponins and quinons in jungrahab including the roots, stems, bark and leaves. Phytochemical screening methods (Harborne, 1987) as a phytochemical test. The results of research on jungrahab containing alkaloid compounds were found in the roots and stems, bark and leaves, which did not contain alkaloid compounds. Flavonoid compounds from the four parts were not detected by active compounds. Steroid and triterpenoid compounds were not detected in the roots and stems, but were found in the skin and leaves. Tannins and saponins were detected from all parts of the roots to the leaves. Quinone compounds were detected in the roots, bark and leaves, but not found in the stemsPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa-senyawa aktif yaitu Alkaloids, Flavonoids, Steroids, Triterpenoids, Tannins, Saponins, dan Quinons secara kualitatif pada jungrahab meliputi bagian akar, batang, kulit dan daun. Method screening fitokimia (Harborne, 1987) sebagai pengujian fitokimia. Hasil penelitian pada jungrahab bagian yang mengandung senyawa alkaloid ditemukan pada bagian akar dan bagian batang, kulit dan daun tidak mengandung senyawa alkaloid. Senyawa flavonoid dari keempat bagian tidak terdeteksi senyawa aktif. Senyawa steroid dan triterpenoid tidak terdeteksi di bagian akar dan batang, namun ditemukan dibagian kulit dan daun. Senyawa tanin dan saponin terdeteksi semua bagian akar sampai daun. Senyawa quinon terdeteksi di bagian akar, kulit dan daun namun di bagian batang tidak ditemukan.
ANALISIS KIMIA DAN SERAT PANDAN RASAU (Pandanus helicopus) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PULP KERTAS Herlina Herlina; Wiwin Tyas Istikowati; Fatriani Fatriani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v1i2.479

Abstract

Kalimantan memiliki hasil hutan bukan kayu yang belum dimanfaatkan secara optimal seperti anggota suku pandan-pandanan (Pandanaceae), terutama dari marga Pandanus yaitu pandan rawa atau rasau (Pandanus helicopus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komponen kimia, karakteristik dimensi serat serta kesesuaian pandan rasau sebagai bahan baku pulp dan kertas. Metode yang digunakan adalah Standar TAPPI dan Haque et al. 2015 untuk uji komponen kimia, metode Schultze untuk dimensi serat, FTIR untuk gugus fungsi, dan Fotometer untuk Colour Change. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini kandungan kimia pandan rasau yaitu ekstraktif 4,6%,mlignin 31,67%, hemiselulosa 31,67%, dan selulosa 27,06 %. Anatomi pandan rasau diperoleh panjang serat 1,56 mm, diameter serat 11,10μm, diameter lumen 15,00 μm, tebal dinding sel 2,50 μm. Nilai turunan serat pandan rasau yaitu Runkel Ratio 0,74, Daya Tenun (Slendernes) 140.54, Muhsteph Ratio 166,46%, Coefficient of Rigidity 0,20, Flexibility coefficient 0,61. Berdasarkan komponen kimia dan kualitas seratnya pandan rasau dapat dijadikan bahan baku pulp dan kertas.
PEMBUATAN PAVING BLOCK DARI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) Agustinus Panjaitan; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.971 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i6.4605

Abstract

The type of material used in making paving blocks can affect quality. One of the materials that can be used for making paving blocks is Oil Palm Empty Bunches (OPEB). The purpose of this study was to examine physical properties (moisture content, specific gravity, specific gravity after immersion in sodium sulfate, and resistance to sodium sulfate) and to test the mechanical properties (compressive strength) of paving blocks from a mixture of OPEB waste with fine sand and cement PC. Result a good combination for paving block is treatment B which is the addition of OPEB fiber by 125 g. The water content value of treatment B is 1.43% and has the highest compressive value with a maximum load of 195 with an average of 186.667 kg and the resistance test to sodium sulfate (Na2SO4) meets SNI standards. Paving blocks combined with OPEB fibers in this study are good for home yards, parking lots or paths in city parksPenggunaan jenis materian untuk pembuatan paving block dapat mempengaruhi kualitas. Bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan paving block salah satunya ialah Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Tujuan dari penelitian ini adalah menguji sifat fisik (kadar air, berat jenis, berat jenis setelah perendaman dengan natrium sulfat, dan ketahanan terhadap natrium sulfat) serta menguji sifat mekanik (daya tekan) pada paving block dari campuran limbah TKKS dengan pasir halus dan semen jenis PC. Pengujian penelitian ini meliputi uji sifat fisik serta sifat mekanik. Kombinasi yang baik untuk paving block ialah perlakuan B yaitu penambahan serat TKKS sebanyak 125 g. Nilai kadar air perlakuan B yaitu 1.43 % dan memiliki nilai tekan yang tertinggi dengan beban maksimal 195 dengan rata-rata 186,667 kg serta uji ketahanan terhadap Natrium Sulfat (Na2SO4) memenuhi standar SNI. Paving block yang dikombinasikan dengan serat TKKS pada penelitian ini baik digunakan untuk halaman rumah,tempat parkir ataupun jalan setapak di taman-taman kota
Co-Authors Abdullah Abdullah Adelia Wahyu Tri Utami Agung Nugroho Agustan Saining Agustinus Panjaitan Ahmad Arsyad Ahmad Arsyad Ahmad Budi Junaidi Akhmad Fauzan Aldi Bayu Pratama Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa, Amalia Amelia Lestari Aminonatalina Aminonatalina Anak Agung Ayu Ratih Frismanti Asmianoor Latifah Ayu Noor Latifah Azidi Irwan Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Dahlia Nuraini Pasaribu Dahlia Nuraini Pasaribu Danang Sudarwoko Adi Danang Sudarwoko Adi Daniel Itta Dede Heri Yuli YANTO Dede Heri Yuli Yanto Dede Heri Yuli Yanto Dety Yuliana Rosa Dewi Alimah Dewi Umaningrum Dita Fadhila, Dita Fadhila Dyera Forestryana Eny Dwi Pujawati Fadeliansyah, Fadeliansyah Fatriani Fatriani Fatriani Fatriani Forestryana, Dyera Gusti Abdul Rahmat Thamrin Hafiz Ramadhan Hafizianor Hafizianor Herawati Herawati Herlina Herlina Herlina Herlina Hesty Heryani Hidayanti, Nurul Idris, Muddatstsir Indri Eka Fitriani Ishiguri Futoshi Jeng Mas Ayu Devanda Buhang Khoirun Nisa Kissinger Kissinger Kurdiansyah Liana Fitriani Hasymi Lisa Andriana Kristy Lisa Andriana Kristy Liya Regita Liya Regita Lusyani Lusyani Lusyiani Lusyiani Lusyiani Muhammad Arief Soendjoto Muhammad Fadhil Muhammad Rais Arifin Munadi Munadi Muslih Anwar Nina Noviyanti Noor Wilanda Norhidayah, Anisa Nur Afik Bagustiana Nur Afik Bagustiana Purnama Lestari Purnama Lestari Raden Mas Sukarna Rahmat Eko Sanjaya Rahmat Yunus Ramadhan, Hafiz Rina Muhayah Noor Pitri Rio Ilhamsyah Risaldi Ridwan Riska Surya Ningrum Riska Surya Ningrum Risma Rahmawati Rizal Rifa’i Rizki Fitria Rizky, Akhmad Aufa Rosidah - Saiful Ruchiyat Cosahan Saputra, Debi Imam Sari, Evita Selvi Carolina Sinta Amanah Siti Hadijah Siti Hamidah Siti Hamidah Sri Nugroho Marsoem Sri Nugroho Marsoem Sunardi Sunardi Sunardi sunardi sunardi Sunardi, Ph.D., Sunardi Suriansyah, Suriansyah Surya, Adhi Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Syaifuddin Syaifuddin SYARIFUDDIN KADIR Trisnu Satriadi Udiansyah Udiansyah Uripto Trisno Santoso Vina Oktafianty Violet Burhanuddin Widya Fatiasari Widya FATRIASARI Widya Fatriasari Yalina Elsi Yokota Shinso Yuniarti Yuniarti Yusanto Nugroho Zainal Abidin Zainal Abidin Zainal Abidin