Claim Missing Document
Check
Articles

PENGERINGAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis) DENGAN METODE RADIASI MATAHARI (GREEN HOUSE) Wiwin Tyas Istikowati; Nur Afik Bagustiana; Budi Sutiya
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.311 KB) | DOI: 10.20527/jht.v8i3.9634

Abstract

The aim of this study is to analyze the optimal drying time of rubber wood (Hevea brasiliensis) in direct drying in the sun and by a solar kiln (green house). This research is expected to provide information on optimal drying time on natural drying directly under sunlight (solar radiation) and with kiln (Green House) to prolong the utilization of wood and reduce the costs. The parameters tested in this study are water content, density, drying rate, shrinkage, and color change. The results on optimal drying of rubber wood at 6 weeks drying time either in drying under direct sunlight or solar kiln in the green house.
KARAKTERISTIK ANATOMI KAYU JELUTUNG (Dyera costulata) DARI HUTAN TANAMAN RAKYAT DI KALIMANTAN TENGAH, INDONESIA Lisa Andriana Kristy; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i4.6150

Abstract

The anatomical characteristics of jelutung wood come from the forests of common plants region, village of Kelampangan, Sebangau district, Palangka Raya city, Central Kalimantan, Indonesia is observed on this study for the purpose of determining the final use of jelutung timber. The sticks are taken at every 1 cm interval from the pith, middle and near the skin on the three parts, the base and the end of which a diskis 5 cm thick. The sample is carried through a process of maseration to get the results of the fiber dimensions and growing trend from the growths to the skin. The length of fibers on an average of 0,53 mm with a trend toward rising.Vesel’s length at an average of 0,34 mm shows significant variation patterns in value range of 0,002-0,040 mm. The fibers’ average diameter at 11,29 µm has a fairly significant variation pattern in the range of 0,22-3,37 µm and is the medium  diameter wood category. The lumen diameter with a average of 8,15 µm and a relatively significant variation pattern of 0,17-1,77 µm. Thick cell walls with an average of 1,37 µm and significant pattern increases at 0,02-0,38 µm.Karakteristik anatomi dari kayu jelutung berasal dari kawasan Hutan Tanaman Rakyat desa Kelampangan, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah diamati pada penelitian ini dengan tujuan untuk menentukan penggunaan akhir kayu jelutung. Potongan kayu diambil setiap 1 cm interval dari empulur ke kulit pada tiga bagian yaitu pangkal, tengah, dan ujung dimana setap disk memiliki tebal 5 cm. Sampel dilakukan proses maserasi untuk mendapatkan hasil dimensi serat dan kenaikan tren dari empulur menuju kulit. Panjang serat yang berada pada rata-rata yang bekisar 0,53 mm dengan tren mengarah naik. Panjang vesel dengan rata-rata 0,34 mm menunjukan pola variasi yang signifikan dengan kisaran nilai 0,002-0,040 mm. Diameter serat dengan rata-rata 11,29 µm memiliki pola variasi cukup signifikan dengan kisaran 0,22-3,37 µm dan termasuk dalam kategori kayu dengan diameter sedang. Diameter lumen dengan rata-rata sebesar 8,15 µm dan kenaikan pola variasi yang relatif signifikan dengan nilai sebesar 0,17-1,77 µm. Tebal dinding sel dengan rata-rata 1,37 µm dan kenaikan pola yang signifikan diangka 0,02-0,38 µm.
BRIKET ARANG CAMPURAN TANDAN KOSONG DAN DAUN KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Aldi Bayu Pratama; Budi Sutiya; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i6.7139

Abstract

Oil palm is one of the plantation commodities that has an important role in South Kalimantan Province. The process of processing palm oil into oil from pulp and kernels (palm kernels) will produce empty oil palm fruit bunches that have not been widely used by companies. Oil palm empty fruit bunches have great potential to be converted into alternative energy such as briquettes. The purpose of this study was to analyze briquettes from a mixture of oil palm empty fruit bunches and oil palm leaves with tapioca adhesive and determine the best composition of a mixture of oil palm empty bunches and oil palm leaves to get the best quality briquettes. The results of the research from empty bunches of oil palm charcoal and oil palm leaves obtained an average moisture content of 1.70% - 5.08%, testing water content of briquettes 54.28 % - 55.73 %, density testing 0.44 g/ cm3 – 0.47 g/cm3, ash content test 1.67 % - 2.83%, calorific value test 5078.3 cal/g – 5557.6 cal/g, fuel power test 0.0113 g/d – 0 ,0117 g/d. Tests of water content, density, ash content, calorific value meet the standards of the Indonesian state, while the water content of briquettes and fuel power are not yet known for the test standards. The test results showed that the P1 treatment with 26 g OPEFB and 12 g KS leaves was the best composition in this briquette processing, the water content test produced 2.39%, the water content of the briquettes was 54.28%, the density was 0.47 g/cm3, ash 2.83% calorific value 5557.6 cal/g and combustion power 0.0114 g/d, with the results obtained during the P1 test being the best briquette composition.Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan penting di Provinsi Kalimantan Selatan. Proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak dari daging buah dan kernel (inti sawit) akan menghasilkan limbah TKKS yang belum banyak dimanfaatkan oleh perusahaan. TKKS mempunyai potensi yang besar untuk dikonversi menjadi energi alternatif seperti briket. Tujuan dari penelitian ini menganalisis briket  dari campuran TKKS dan daun KS dengan perekat tapioka dan menentukan komposisi terbaik dari campuran TKKS dan daun kelapa sawit untuk mendapatkan kualitas briket terbaik. Hasil penelitian dari arang TKKS dan daun KS mendapatkan hasil rata-rata Kadar air 1,70 % - 5,08 %, pengujian Kadar air briket 54,28 % - 55,73 %, pengujian kerapatan  0,44 g/cm3 – 0,47 g/cm3, pengujian kadar abu 1,67 % - 2,83 %, pengujian nilai kalor 5078,3 kal/g – 5557,6 kal/g, pengujian daya bakar 0,0113 g/d – 0,0117 g/d. Pengujian Kadar air, kerapatan, kadar abu, nilai kalor memenuhi standar negara indonesia, sedangkan Kadar air briket dan daya bakar belum diketahui standar ujinya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan P1 dengan 26 g TKKS dan 12 g daun KS menjadi komposisi terbaik dalam pengolahan briket ini, pada  pengujian Kadar air dihasilkan 2,39 % , Kadar air briket 54,28 % , kerapatan 0,47 g/cm3 , Kadar abu 2,83 % nilai kalor 5557,6 kal/g dan daya bakar 0,0114 g/d, dengan hasil yang diperoleh selama pengujian P1 menjadi kompisisi briket terbaik.
SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU JELUTUNG (DYERA COSTULATA) DARI HUTAN TANAMAN RAKYAT KALIMANTAN TENGAH Rio Ilhamsyah; Wiwin Tyas Istikowati; Rosidah Radam
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8196

Abstract

The physical and mechanical of jelutung wood come from the community plantation forest, village of Kelampangan, Sebangau district, Palangka Raya city, Central Kalimantan, It was observed in this study with the aim of deciding to match the use of jelutung wood according to the properties of physics and mechanics. The wood cut was taken at 50  5  5 centimeters for MOE's test and at 50  3  3 centimeters for testing the mor taken from three jelutung wood. Test samples using universal testing devices mechine (utm) Manuals and digital calipers to test shrink on jelutung wood. The coinage of jelutous wood range from 0.38, 0.37 and 0.34 and based on an average of 0.36 wood that is included in the strong IV class. the rate of depreciation in tangential and radial directions ina sequence is 0.28 and 0.11. MOE's two-time repeat sequence has 27.6 and 23.6. MOR tests with double repetition also have a value of 46.35 and 216.2.Pengujian sifat fisika dan mekanika kayu jelutung berasal dari kawasan Hutan Tanaman Rakyat desa Kelampangan, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah diamati pada penelitian ini dengan tujuan untuk menentukan kesesuaian penggunaan kayu jelutung berdasarkan sifat fisika dan mekanika. Potongan kayu diambil sebesar sebesar 50 5  5 cm untuk pengujian MOE dan sebesar 50  3  3 cm untuk pengujian MOR yang diambil dari 3 bagian kayu jelutung. Sampel diuji menggunakan alat Universal Testing Mechine (UTM) manual dan kaliper digital untuk menguji penyusutan pada kayu jelutung. Berat jenis kayu jelutung berkisar dari 0,38, 0,37 dan 0,34 serta berdasarkan rata-rata yang bernilai 0,36 kayu ini termasuk dalam kelas kuat IV. Nilai penyusutan pada arah tangensial dan radial secara berurutan adalah 0,28 dan 0,11. Pengujian MOE sebanyak 2 kali pengulangan secara berurutan memiliki nilai 27,6 dan 23,6. Pengujian MOR dengan 2 kali pengulangan secara berurutan juga memiliki nilai 46,35 dan 216,2.
PEMANFAATAN KULIT GALAM SEBAGAI BAHAN BAKU TAMBAHAN PADA PEMBUATAN RAK TELUR PADA PT. PRIMA REZEKI Saiful Ruchiyat Cosahan; Wiwin Tyas Istikowati; Daniel Itta
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i1.15989

Abstract

Kayu galam memiliki karakteristik kulit kayu yang berlapis-lapis dan dapat mudah terkelupas. Kulit kayu galam menghasilkan lembaran dengan lebar yang berbeda-beda tergantung dari diameter kayu. Kulit kayu galam yang memiliki karakteristik tersebut tidak memiliki fungsi dan nilai jual, dikarenakan masyarakat sekitar hanya memanfaatkan batang kayu galam saja. Kulit kayu galam memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan menjadi sebuah produk yang memiliki fungsi dan nilai jual. Pemanfaatan kulit kayu galam akan dilakukan dengan pendekatan eksperimen dimana kulit kayu galam akan dijadikan sebagai produk rak telur dengan kajian pendahuluan analisis komponen kimia. Tujuan penelitian ini yaitu membuat rancangan eksperimen pemanfaatan kulit galam sebagai campuran pembuatan rak telur dan penghematan biaya pembuatan rak telur dengan campuran kulit galam. Metode yang digunakan yaitu kulit kayu galam dibedakan menjadi dua bagian, bagian dalam dan bagian luar selanjutnya dianalisis kandungan kimia dan dilakukan pengujian dengan Fourier Tranform Infra Red (FTIR). Hasil yang diperoleh yaitu secara berurutan komponen kimia tertinggi dari bagian kulit galam yaitu, ekstraktif alcohol benzen 24,67% (bagian luar), lignin 48,18% (bagian luar), dan selulosa 36,21% (bagian dalam). Berdasarkan analisis kimia maka kulit galam bagian dalam dapat dimanfaatkan menjadi bahan pulp dan kertas yang tidak mengutamakan kecerahan seperti kertas bungkus ataupun sebagai bahan campuran pembuatan rak telur. Spektrum puncak bilangan gelombang FTIR menunjukkan kulit galam mengandung lignin dan selulosa.
KARAKTERISTIK ANATOMI DAN SIFAT FISIK KAYU HALABAN (Vitex pinnata L) YANG TUMBUH SECARA ALAMI DI BANJARBARU, KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA Sinta Amanah; Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9216

Abstract

Halaban (Vitex pinnata L) wood is an endemic wood species originating from Kalimantan. Halaban wood is one of the types of wood that is familiar to the people of Kalimantan because it is used as wood charcoal and liquid smoke from the combustion of the wood, but many industries actually use wood as the main raw material and result in reduced availability of wood as pulp material being depleted. The purpose of this study was to analyze the anatomical and physical characteristics of Halaban wood that grows naturally in Banjarbaru, South Kalimantan. From 1 tree, 3 stems were sampled, each position was taken a wooden disk with a thickness of 5 cm from a height of 130 cm from the ground. Measurement of moisture content (KA), specific gravity (BJ), wood anatomy, and fiber derivative values. The test results show that halaban wood has an average of KA (16.79%±0.87), BJ (0.56±0.26). The anatomy of halaban wood obtained fiber length (1502.4 mm), lumen length (112.96 μm), fiber Ø (28.35 μm), lumen Ø (21.61 μm), and cell wall thickness (3.37 μm). Halaban fiber derivative values are Runkel Ratio (0.31), Slendernes (52.71), Muhlsteph Ratio (72.7%), Coefficient of Rigidity (0.11), and Flexibility Ratio (0.75). According to the fiber quality results obtained, Halaban wood is classified as class 2 with a total value of 375, meaning that it can be used as raw material for pulp and paper.Kayu Halaban (Vitex pinnata L) merupakan jenis kayu yang endemik atau berasal dari Kalimantan. Kayu halaban ini salah satu jenis kayu yang familiar bagi masyarakat Kalimantan karena digunakan sebagai arang kayu dan asap cair dari hasil pembakaran kayu tersebut, akan tetapi banyak industri ternyata memanfaatkan kayu untuk bahan baku utama dan mengakibatkan tersedianya kayu untuk bahan pulp menjadi berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik anatomi dan sifat fisik kayu halaban yang tumbuh secara alami di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dari 1 pohon di ambil sampel 3 batang, setiap posisi diambil disk kayu dengan ketebalan 5 cm dari ketinggian 130 cm dari permukaan tanah. Pengukuran kadar air (KA), berat jenis (BJ), anatomi kayu, dan nilai turunan serat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kayu halaban memiliki rata-rata KA (16,79%  BJ (0,56 . Anatomi kayu halaban diperoleh panjang serat (1502,4 mm), panjang lumen (112,96 μm), Ø serat (28,35 μm), Ø lumen (21,61 μm), dan ketebalan dinding sel (3,37 μm). Nilai turunan dari serat halaban yaitu Bilangan Rankel (Runkel Ratio) (0,31), Daya Tenun (Slendernes) (52,71), Perbandingan Muhlsthep (Muhlsteph Ratio) (72,7%), Koefisien kekakuan (Coefficient of Rigidity) (0,11), dan Perbandingan fleksibilitas (Flexibility Ratio) (0,75). Menurut hasil kualitas serat yang diperoleh, kayu halaban termasuk kategori kelas 2 dengan jumlah nilai 375 artinya bisa digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas.
KUALITAS ARANG KAYU AKASIA DAUN KECIL (Acacia auriculiformis) Dewi Alimah; Wiwin Tyas Istikowati; Yusanto Nugroho
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i2.16769

Abstract

Akasia daun kecil (Acacia auriculiformis) merupakan jenis kayu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang di Kalimantan Selatan. Kayu ini memiliki potensi kalor dan arang yang sangat menjanjikan karena termasuk biomass dari kayu cepat tumbuh, mudah didapat, dan harganya relatif murah. Di sisi lain pembuatan arang di Kalsel umumnya dilakukan secara konvensional dengan metode timbun. Metode ini cenderung memakan waktu pengarangan lebih lama (1,5-2 bulan), proses tidak terkontrol, dan kualitas arang relatif rendah. Metode karbonisasi dengan memperhitungkan suhu dan durasi pengarangan dapat memperbaiki kualitas arang. Penelitian ini bertujuan menentukan suhu dan durasi pengarangan yang tepat sehingga menghasilkan kualitas arang yang baik. Potongan kayu diarangkan dengan suhu 400, 500, dan 600°C selama 2, 3, dan 4 jam. Kualitas arang dianalisis mengikuti prosedur SNI 01-1683-1989 meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, dan rendemen serta nilai kalor mengikuti ASTM (1998). Senyawa kimia arang kualitas tertinggi dan terendah diidentifikasi menggunakan Py-GCMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang dengan kualitas terbaik dihasilkan dari pengarangan kayu pada suhu 600°C selama 2 jam. Pada setelan ini diperoleh rendemen arang 17,29%; kadar air 1,73%; kadar zat terbang 30,09%; kadar abu 0,87%; kadar karbon terikat 67,32%; dan nilai kalor sebesar 7.944,24%.
Pengembangan Usaha Kerajinan Manik-manik dan Batu Alam di Banjarbaru Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi; Budi Sutiya
Abdimas Mandalika Vol 2, No 2 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v2i2.11073

Abstract

Abstract:  The Community Partnership Program aims to identify and address problems in handicraft business group that are partners in this activities. Partner in this program are group of women are engaged in the handicraft business of beads and natural stone located in Loktabat Utara, Guntung Payung, Banjarbaru, South Kalimantan. Some of the problems faced include (1) management, (2) production, (3) marketing, and (4) administration. Activities are carried out by providing socialization and motivation, increase quality and type of product, increased omsed by marketing using social media and exhibitions and improved bookkeeping system. Therefore, for this activyty, the target has been achieved.Abstrak: Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi persoalan-persoalan yang ada di kelompok usaha kerajinan manik-manik yang dijadikan mitra dalam kegiatan ini. Mitra dalam kegiatan ini adalah kelompok ibu-ibu yang bergerak di bidang usaha kerajinan manik-manik dan batu alam yang berlokasi di kelurahan Loktabat Utara, Guntung Payung, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain (1) dalam bidang managemen, (2) produksi, (3) pemasaran, dan (4) administrasi. Kegiatan dilakukan dengan memberi sosialisasi dan motivasi kepada mitra terkait bidang usaha yang mereka tekuni. Pelatihan juga dilakukan oleh tim pengabdi dan setelahnya, pendampingan terus dilakukan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan adalah meningkatnya motivasi mitra, peningkatan kualitas dan jenis produk yang dihasilkan, paningkatan omset dengan pemasaran menggunakan media sosial dan pameran dan sistem pembukuan yang mulai diperbaiki. Oleh karena itu, dari kegiatan pengabdian ini, target kegiatan sudah tercapai.
Sosialisasi Manfaat Sekat Kanal di Lahan Eks Pengembangan Lahan Gambut di Provinsi Kalimantan Tengah Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya; Kissinger Kissinger; Hafizianor Hafizianor; Rina Muhayah; Sunardi Sunardi
Abdimas Mandalika Vol 1, No 2 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v1i2.7362

Abstract

Abstract:  The aims of this community service program is to socialize the canal blocking development program in Dadahup Sub District, Kapuas, Central Kalimantan. The program aims to restore the peat ecosystem to support food estate program. The method used by the community service team was to gather representatives of community member from seven villages in Dadahup sub district to discuss about canal blocking program. The socialization was carried out by the service community team using focus group discussion method with community in Dadahup sub-district. From that activity, the community welcome the plan and to be actively involved in canal blocking development activities in Central Kalimantan.Abstrak Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan rencana program pembangunan sekat kanal yang dilaksanakan di kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah untuk memulihkan ekosistem gambut untuk mendukung program food estate untuk ketahanan pangan nasional. Metode yang dilakukan oleh tim pengabdi adalah dengan mengumpulkan perwakilan warga masyarakat dari tujuh desa di kecamatan tersebut untuk berdiskusi dengan tim pengabdi terkait rencana yang akan diprogramkan, yaitu pembangunan sekat kanal di wilayah mereka. Sosialisasi dilakukan oleh tim pengabdi dengan metode focus group discussion (FGD) dengan masyarakat di kecamatan Dadahup. Dari diskusi terlihat masyarakat menyambut baik rencana tersebut dan ingin terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan sekat kanal di Kalimantan Tengah.
PENGAWETAN KAYU MERANTI MERAH (Shorea leprosula) DARI MICROORGANISME LAUT PERUSAK KAYU Adelia Wahyu Tri Utami; Wiwin Tyas Istikowati; Kurdiansyah Kurdiansyah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i4.9986

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effect of preservative concentration on wood preservation by using marine borers and wood destroying microorganisms and to analyze the characteristics of damage to Meranti wood by marine borer organisms and wood destroying microorganisms. The benefits obtained from this study are expected to determine the severity of an attack from marine borers and can determine the optimal concentration level to prevent wood borer attacks. The method used is a completely randomized design.The results of the study showed an average absorption of 0.62 kg/m3 – 1.24 kg/m3, the average actual retention value was 0.59 kg/m3 - 1.22 kg/m3, and the theoretical retention value was 0.03 kg. /m3 - 0.18 kg/m3. The weight loss was 11.64% - 50.58% and the attack intensity was 1.61%-39.72%. The preservative used is a mixture of boric acid and borax preservatives. The use of preservatives at this concentration is not recommended, further research is needed. The results of the analysis of variance showed that the different concentrations of treatment were significantly different and the immersion time used was not significantly different in the attack test process against wood destroying microorganisms in the seaTujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh konsentrasi bahan pengawet terhadap pengawetan kayu dengan uji penggerek laut (Marine borers) dan mikroorganisme perusak kayu dan untuk menganalisis karakteristik kerusakan kayu meranti oleh orgenisme penggerek laut dan mikroorganisme perusak kayu. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui tingkat keparahan serangan dari penggerek laut dan dapat menentukan tingkat konsentrasi yang optimal untuk mencegah terjadinya penyerangan penggerek kayu. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Hasil dari penelitian menunjukan rata-rata absorsi 0,62 kg/m3 – 1,24 kg/m3, nilai rata-rata retensi actual 0,59 kg/m3 - 1,22 kg/m3, dan nilai retensi teoritis 0,03 kg/m3 - 0,18 kg/m3. Adapun kehilangan berat 11,64% - 50,58% dan intensitas serangan 1,61%-39,72%. Bahan pengawet yang digunakan adalah campuran bahan pengawet asam borat dan boraks. Penggunaan bahan pengawet pada konsentrasi ini tidak disarankan perlu dilakukan penelitian lanjutan. Hasil analisi ragam menunjukan bahwa perlakuan berbeda konsentrasi berbeda nyata dan lama perendaman yang digunakan tidak berbeda nyata dalam proses uji serangan kepada microorganism perusak kayu dilaut.
Co-Authors Abdullah Abdullah Adelia Wahyu Tri Utami Agung Nugroho Agustan Saining Agustinus Panjaitan Ahmad Arsyad Ahmad Arsyad Ahmad Budi Junaidi Akhmad Fauzan Aldi Bayu Pratama Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa, Amalia Amelia Lestari Aminonatalina Aminonatalina Anak Agung Ayu Ratih Frismanti Asmianoor Latifah Ayu Noor Latifah Azidi Irwan Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Dahlia Nuraini Pasaribu Dahlia Nuraini Pasaribu Danang Sudarwoko Adi Danang Sudarwoko Adi Daniel Itta Dede Heri Yuli Yanto Dede Heri Yuli YANTO Dede Heri Yuli Yanto Dety Yuliana Rosa Dewi Alimah Dewi Umaningrum Dita Fadhila, Dita Fadhila Dyera Forestryana Eny Dwi Pujawati Fadeliansyah, Fadeliansyah Fatriani Fatriani Fatriani Fatriani Forestryana, Dyera Gusti Abdul Rahmat Thamrin Hafiz Ramadhan Hafizianor Hafizianor Herawati Herawati Herlina Herlina Herlina Herlina Hesty Heryani Hidayanti, Nurul Idris, Muddatstsir Indri Eka Fitriani Ishiguri Futoshi Jeng Mas Ayu Devanda Buhang Khoirun Nisa Kissinger Kissinger Kurdiansyah Liana Fitriani Hasymi Lisa Andriana Kristy Lisa Andriana Kristy Liya Regita Liya Regita Lusyani Lusyani Lusyiani Lusyiani Lusyiani Muhammad Arief Soendjoto Muhammad Fadhil Muhammad Rais Arifin Munadi Munadi Muslih Anwar Nina Noviyanti Noor Wilanda Norhidayah, Anisa Nur Afik Bagustiana Nur Afik Bagustiana Purnama Lestari Purnama Lestari Raden Mas Sukarna Rahmat Eko Sanjaya Rahmat Yunus Ramadhan, Hafiz Rina Muhayah Noor Pitri Rio Ilhamsyah Risaldi Ridwan Riska Surya Ningrum Riska Surya Ningrum Risma Rahmawati Rizal Rifa’i Rizki Fitria Rizky, Akhmad Aufa Rosidah - Saiful Ruchiyat Cosahan Saputra, Debi Imam Sari, Evita Selvi Carolina Sinta Amanah Siti Hadijah Siti Hamidah Siti Hamidah Sri Nugroho Marsoem Sri Nugroho Marsoem Sunardi Sunardi Sunardi sunardi sunardi Sunardi, Ph.D., Sunardi Suriansyah, Suriansyah Surya, Adhi Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Syaifuddin Syaifuddin SYARIFUDDIN KADIR Trisnu Satriadi Udiansyah Udiansyah Uripto Trisno Santoso Vina Oktafianty Violet Burhanuddin Widya Fatiasari Widya Fatriasari Widya FATRIASARI Yalina Elsi Yokota Shinso Yuniarti Yuniarti Yusanto Nugroho Zainal Abidin Zainal Abidin Zainal Abidin