Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN FRAGMENTASI DI KAWASAN PASCA TAMBANG BATUBARA DI KABUPATEN KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Agustan Saining; Udiansyah Udiansyah; Wiwin Tyas Istikowati; Raden Mas Sukarna
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i3.17623

Abstract

Kegiatan pertambangan batubara diduga memberikan dampak positif dan negatif terhadap ekonomi, lingkungan dan sosial bagi masyarakat lokal. Selain itu usaha pertambangan juga dapat menyebabkan terjadinya fragmentasi hutan yang dapat menganggu kehidupan satwa liar. Tujuan penelitian adalah merumuskan strategi kebijakan pengelolaan pada kawasan pasca tambang batubara di Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan suatu keadaan, kejadian atau fenomena dalam situasi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pertambangan ditinjau dari segi ekonomi dapat memberikan dampak positif bagi daerah dan masyarakat lokal sekitar usaha pertambangan. Namun disisi lain dampak negative juga dapat ditimbulkan akibat dari aktivitas tersebut yang dapat menganggu fungsi kawasan hutan yang dapat mengakibatkan hutan terfragmentasi sehingga menganggu satwa-satwa liar. Upaya pengelolaan usaha pertambangan yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan mutlak diperlukan dalam mewujudkan pengelolaan usaha pertambangan yang berkelanjutan.
CHEMICAL CONTENT AND ANATOMICAL CHARACTERISTICS OF SAGO (Metroxylon sagu Rottb.) FROND FROM SOUTH KALIMANTAN, INDONESIA Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi Sunardi; Budi Sutiya; Purnama Lestari; Ahmad Arsyad; Lusyiani Lusyiani; Danang Sudarwoko Adi; Widya Fatriasari; Riska Surya Ningrum; Dede Heri Yuli Yanto
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 2 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.2.185-194

Abstract

This research aims to evaluate the suitability of sago palm waste as a fiber raw material in terms of its chemical content and anatomical characteristics. The chemical content analysis of its extractive components, lignin, holocellulose, α-cellulose, and hemicellulose, was carried out using sago frond powder with a size of 40–60 mesh. Subsequently, functional group analysis was performed using Fourier Transform Infra-Red (FTIR), while anatomical characterization was carried out by calculating the fiber length and diameter, lumen diameter, fiber derivative values, and wall thickness using a microscope connected to a digital camera. Scanning Electron Microscope (SEM) pictures were taken in different magnifications. The results showed that sago frond contains 31.6% α-cellulose and 38% lignin. The α-cellulose content was within the standard range for non-timber forest products, but the lignin content had a relatively high value. Based on the derived value, namely class II, sago frond can be used as pulp and paper raw materials.
Preparasi Hidrochar dari Limbah Pelepah Nipah dengan Penambahan Asam Oksalat serta Uji Aplikasinya untuk Adsorpsi Metilen Biru Wiwin Tyas Istikowati; Jeng Mas Ayu Devanda Buhang; Risaldi Ridwan; Sunardi Sunardi
JURNAL SELULOSA Vol 12, No 02 (2022): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v12i02.366

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan preparasi hidrochar dari lignoselulosa limbah pelepah nipah dengan metode hidrotermal serta aplikasinya sebagai adsorben zat warna metilen biru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asam oksalat terhadap karakteristik dan kemampuan hidrochar dari pelepah nipah untuk adsorpsi metilen biru. Proses hidrotermal dilakukan pada suhu 170˚C selama 2 jam dengan penambahan asam oksalat dengan konsentrasi sebesar 0; 1,5; 3,0; dan 4,5% (b/v). Substrat hasil proses hidrotermal dikarakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR untuk mengetahui perubahan gugus fungsi pelepah nipah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepah nipah mengalami penurunan massa serta pergeseran gugus fungsi setelah proses hidrotermal dengan penambahan asam oksalat. Kapasitas adsorpsi terhadap metilen biru mengalami peningkatan setelah proses hidrotermal dengan penambahan konsentrasi asam oksalat 1,5; 3,0; dan 4,5% (b/v) yaitu masing-masing sebesar 44,33; 45,10; 45,98; dan 46,62 mg/g. Hasil kapasitas adsorpsi tertinggi diperoleh pada hidrochar dengan penambahan asam oksalat dengan konsentrasi 4,5% yaitu sebesar 46,62 mg/g.Kata Kunci: hidrochar, pelepah nipah, hidrotermal, adsorpsi, metilen biru In this research, the preparation of hidrochar from lignocellulosic nypa frond waste was carried out using the hydrothermal method and its application as adsorption for methylene blue dye. This study aims to determine the effect of the addition of oxalic acid on the characteristics and adsorption ability of hydrochar from nypa frond to adsorption of methylene blue. The hydrothermal process was carried out at 170˚C for 2 hours with the addition of oxalic acid at a concentration of 0; 1.5; 3.0; and 4.5% (w/v). Substrates resulting from the hydrothermal process were characterized using FTIR spectroscopy to determine the functional group changes of the nypa frond. The results showed that the nypa fronds decreased in mass and shifted in functional groups after the hydrothermal process with oxalic acid addition. The adsorption capacity of methylene blue increased after the hydrothermal process with the addition of oxalic acid concentrations 1.5; 3.0; and 4.5% (w/v), which were 44.33; 45.10; 45.98; and 46.62 mg/g. The highest adsorption capacity results were obtained for hydrochar with the addition of 4.5% oxalic acid, which was 46.62 mg/gKeywords: hydrochar, nypa frond, hydrothermal, adsorption, methylene blue
HUBUNGAN UKURAN BANGUNAN TERHADAP HASIL PRODUKSI SARANG BURUNG WALET (Collocalia Fuciphaga) DI DESA BATAMPANG KABUPATEN BARITO SELATAN KALIMANTAN TENGAH Liya Regita; Zainal Abidin; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i4.18201

Abstract

Pemanfaatan Hasil Hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi tinggi salah satunya sarang     burung walet. Burung walet (Collocalia fuciphaga) merupakan spesies dari burung walet yang banyak di budidayakan di Indonesia. Nilai ekonomis yang dimiliki sarang walet ini adalah alasan utama mengapa usaha sarang walet banyak diminati oleh masyarakat. Usaha sarang burung walet berperan meningkatkan taraf ekonomi, bangunan sarang walet dengan ukuran yang beragam di Desa Batampang dan pengembangan usaha tersebut memiliki potensi yang sangat baik karena didukung oleh kondisi fisik lingkungan Desa Batampang yang terletak di pinggiran sungai sub DAS Barito. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis hubungan ukuran bangunan, pendapatan, dan BEP (break event pont) di Desa Batampang Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yang pertama metode observasi yaitu dengan mengamati langsung objek penelitian sehinggga dapat diperoleh dari gambaran yang nyata dari keadaan sarang burung walet. Kedua, wawancara atau interview langsung dengan pemilik sarang walet di Desa Batampang, Kecamatan Dusun Hilir Kabupaten Barito Slatan, Kalimantan Tengah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu tinggi dan luas bangunan mempengaruhi hasil produksi sarang burung walet. Rata-rata pendapatan bersih petani sarang burung walet di Desa Batampang Kecamatan Dusun Hilir Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah berukuran kecil, sedang, dan besar secara berurutan sebesar Rp.3.362.236,-/bulan (Rp.40.346.832,-/tahun),Rp.5.428.202,-/bulan (Rp.65.138.424,-/tahun), dan Rp.6.885.752,-/bulan (Rp.82.629.024,/tahun).Bangunan sarang burung walet berukuran sedang memiliki massa waktu panen paling sedikit untuk memperoleh laba atau keuntungan sehingga berada pada BEP (break event point).
Pengembangan Urban Permaculture di Kelompok Wanita Tani (KWT) Permata Bersemi Banjarbaru Rizki Fitria; Sunardi Sunardi; Abdullah Abdullah; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v3i2.10291

Abstract

Kelompok Wanita Tani (KWT) Permata Bersemi di Kelurahan Sungai Ulin mengelola lahan kosong di area komplek untuk ditanami sayuran. KWT ini menanam sayuran untuk memenuhi kebutuhan sayur harian. KWT beranggotakan 19 orang warga dengan beragam latar belakang dan tinggal di Komplek Bukit Permata Indah (BPI) Kelurahan Sungai Ulin, Banjarbaru. KWT telah terbentuk setelah pandemi COVID-19 mereda. Mitra menanami lahan di komplek BPI dengan menggunakan media tanah dan pengolahan tanah seadanya. Pengetahuan dalam memelihara tanaman juga masih terbatas. Penanaman sayuran juga belum dikonsep dengan baik sehingga terlihat berantakan. Dari hasil olahan lahan, mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri akan sayuran. Hal ini berdampak pada pengeluaran harian yang seharusnya digunakan untuk membeli sayur dapat dialihkan ke kebutuhan lain. Akan tetapi, usaha yang dijalankan oleh KWT masih belum ditekuni dengan serius karena mereka hanya ingin mengisi waktu luang. Anggota KWT juga hanya memilih jenis sayuran yang cepat panen seperti bayam, kangkung, sawi, dll. Berdasarkan pengamatan tersebut, usaha mereka memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Namun, mitra belum mengerti tentang persiapan lahan, penataan tanaman, dan sistem pemeliharaan. Sehingga, pada program pengabdian masyarakat ini dilakukan pelatihan sistem pertanian terintegrasi model urban permaculture pada lahan garap dan pelatihan dalam pemeliharaan tanaman (pelatihan pembuatan ecoenzim dan pupuk organik cair). Hasil dari pelatihan ini adalah mitra KWT menjadi mengetahui mengenai pengolahan lahan dan cara pemeliharaan tanaman yang lebih baik diantaranya dengan menggunakan ecoenzim dan pupuk organik cair, lahan mitra menjadi lebih tertata dan mitra juga mengetahui cara pembuatan ecoenzim dan pupuk organik cair tersebut.
KAJIAN PULPING SODA BERBAHAN BAKU PANDAN RASAU (Pandanus helicopus) DENGAN VARIASI TINGKAT KONSENTRASI PEMASAKAN Dety Yuliana Rosa; Budi Sutiya; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11985

Abstract

The source of raw materials from non-timber plants to make pulp can be from various plants, one of which is pandanus rasau (Pandanus helicopus). The pandan rasau plant is considered a nuisance plant because of its easy nature to grow around rivers and in swamps. The purpose of this research is to analyze the mechanical pulp characteristics of pandan rasau pulp, determine the optimal concentration of cooking ingredients and kaolin in the manufacture of pandan rasau pulp soda pulp. The method used is pulping soda with a cooking concentration (NaOH) of 7.5%, 10% and 12.5%. The results obtained related to the yield test with the treatment of cooking concentrations of 7.5%, 10% and 12.5% obtained an average of 33.61%, 26% and 26.92%, while in black liquor the precipitate average was 15.04%, 22.06%, and 25.71%. The results of the paper mechanical test, namely the tear index obtained the highest average of 10.05 mN m²/g, while the cracked/broken index obtained the highest average of 1.1 kPa m²/g. The optimal mechanical test treatment for pandan rasau pulp is at a cooking concentration of 7.5% without the addition of kaolin.Sumber bahan baku dari tumbuhan bukan kayu untuk dijadikan pulp bisa dari berbagai tumbuhan, salah satunya pandan rasau (Pandanus helicopus). Tumbuhan pandan rasau dianggap sebagai tumbuhan pengganggu karena sifatnya yang mudah tumbuh di sekitar sungai maupun di rawa. Tujuan dari penilitian ini adalah menganalisis karakteristik pulp mekanik pulp pandan rasau, menentukan konsentrasi optimal bahan pemasak dan kaolin pada pembuatan pulping soda pulp pandan rasau. Metode yang digunakan yaitu pulping soda dengan konsentrasi pemasak (NaOH) 7,5%, 10%, dan 12,5%. Hasil yang diperoleh terkait uji rendemen dengan perlakuan konsentrasi pemasak 7,5%, 10% dan 12,5% didapatkan rerata sebesar 33,61%, 26% dan 26,92%, sementara pada lindi hitam didapatkan rerata endapan sebesar 15,04%, 22,06%, dan 25,71%. Hasil dari uji mekanik kertas yaitu pada indeks sobek didapatkan rerata tertinggi sebesar 10,05 mN m2/g, sementara pada indeks retak / jebol didapatkan rerata tertinggi sebesar 1,1 kPa m²/g. Perlakuan uji mekanik pulp pandan rasau yang optimal terdapat pada konsentrasi pemasak 7,5% tanpa penambahan kaolin
PROSES PEMBUATAN PULPING SODA DARI PANDAN RASAU (Pandanus helicopus) BERDASAKAN VARIASI LAMA WAKTU PEMASAKAN Vina Oktafianty; Wiwin Tyas Istikowati; Zainal Abidin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11027

Abstract

The rate of population growth causes the need for paper to increase, therefore an effort is needed to find alternative raw materials, especially those that are cheap and environmentally sound. The purpose of this study was to analyze the effect of cooking time for pandan rasau pulp using the soda process and the addition of kaolin as a filler to pandan rasau paper and to determine the optimal length of time and addition of kaolin. The results obtained are related to the yield test at 1 hour of cooking time; 1.5 hours; and 2 hours the average yield increased by 20.06%, 27.44% and 29.42%. The physical test results of the paper showed the highest average tear index of 7.76 mN m2/g and the highest average tear index of 0.80 kPa m2/g. The most optimal cooking time and the addition of kaolin was found in the 2 hour cooking time with the addition of 3% kaolinLaju pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan kertas meningkat, Maka dari itu dilakukan suatu upaya untuk mencari bahan baku alternatif terutama yang murah dan ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh lama pemasakan pulp pandan rasau menggunakan proses soda dan penambahan kaolin sebagai filler pada kertas dari pandan rasau serta menentukan lama waktu dan penambahan kaolin yang paling optimal. Hasil yang diperoleh terkait uji rendemen pada lama pemasakan 1 jam; 1,5 jam; dan 2 jam didapat rerata rendemen meningkat sebesar 20,06%, 27,44%, dan 29,42%. Hasil uji fisik kertas berupa rerata indeks sobek tertinggi sebesar 7,76 mN m2/g dan rerata indeks jebol / retak tertinggi sebesar 0,80 kPa m2/g. Perlakuan lama waktu pemasakan dan penambahan kaolin paling optimal terdapat pada perlakuan lama waktu pemasakan 2 jam dengan penambahan kaolin 3%.
PKM Pengembangan Kerajinan Berbahan Limbah Pertanian di Kelurahan Guntung Manggis Banjarbaru Wiwin Tyas Istikowati; Budi Sutiya; Sunardi Sunardi
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 3, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v3i3.11030

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam pemanfatan limbah pertanian berupa kulit jagung yang banyak terdapat di lingkungan mitra. Kulit jagung jika tidak dikelola dengan baik bisa berdampak pada pencemaran tanah dan air di lingkungan mitra. Mitra adalah kelompok masyarakat di Kelurahan Guntung Manggis yang membuat beberapa kerajinan dengan bahan kain dan plastik. Pelatihan dilakukan oleh tim pengabdi dengan memanfaatkan limbah pertanian berupa kulit jagung. Kulit jagung dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas dan juga bisa dioleh menjadi bahan kerajinan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Kegiatan dilakukan dengan membuat kerajinan berupa bunga hias, tempat tissue dan kotak minuman dengan hiasan berbahan limbah kulit jagung. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh mitra dan dari kegiatan ini mitra memperoleh peningkatan dalam pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan libah pertanian.
Uji Hidroksimetilfurfural (HMF), Kadar Air dan Kadar Gula pada Madu Kelulut (Heterotrigona itama) berdasarkan Masa Simpan Noor Wilanda; Siti Hamidah; Wiwin Tyas Istikowati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9498

Abstract

Many factors can affect the quality of kelulut honey, one of which is the length of storage. Parameters that can be used to determine the quality of kelulut honey based on the shelf life in accordance with honey quality standards in Indonesia, namely SNI No 8664 : 2018 are HMF tests, water content and sugar content. This study aims to determine the effect of the shelf life (up to 6 years) of kelulut honey stored in dark glass bottles at room temperature on HMF content, water content and sugar content. The results showed that the longer the shelf life, the HMF content tends to increase and can reduce the quality of kelulut honey. However, the longer the shelf life, the higher the sugar content and the better quality of kelulut honey. The water content in this study could not be detected due to the limitations of the instrument in reading the value of the water content (a refractometer has a maximum digital range of 30%). The test results for honey HMF content from 2017 to 2023 were 1159 mg/kg, 1691 mg/kg, 1251 mg/kg, 443 mg/kg, 248 mg/kg and 0 mg/kg respectively. SNI sets the standard for HMF content in kelulut honey at a maximum of 40 mg/kg, so only honey with a shelf life of up to 1 year (honey in 2022 and 2023) meets SNI provisions. Honey from 2017 to 2023 as a whole has a water content of >30%, which means that the honey does not meet the provisions of SNI No 8664 : 2018 of a maximum of 27.5%. However, in terms of its sugar content, kelulut honey can be stored for up to 6 years of shelf life because this honey fully complies with the provisions of SNI No 8664 : 2018 which is above 55%. The sugar content in honey from 2017 to 2023 is 69.4%, 70.1%, 72.4%, 71.0%, 71.3%, 70.1% and 67.2%. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas madu kelulut, salah satunya yakni lama penyimpanan. Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas madu kelulut berdasarkan masa simpan sesuai dengan standar mutu madu di Indonesia yaitu SNI No 8664 : 2018 adalah uji HMF, kadar air dan kadar gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masa simpan (sampai dengan masa simpan 6 tahun) madu kelulut yang disimpan dengan botol kaca gelap pada suhu ruang terhadap kandungan HMF, kadar air dan kadar gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama masa simpan, maka kandungan HMF nya cenderung semakin meningkat dan dapat menurunkan kualitas madu kelulut. Namun, semakin lama masa simpan, peningkatan kadar gula juga akan semakin tinggi dan madu kelulut memiliki kualitas yang baik. Kadar air pada penelitian ini tidak dapat terdeteksi akibat keterbatasan alat dalam membaca nilai kadar air (alat refractometer memiliki jangkauan digital maksimal 30%). Hasil uji kandungan HMF madu tahun 2017 hingga tahun 2023 secara berturut-turut yaitu sebesar 1159 mg/kg, 1691 mg/kg, 1251 mg/kg, 443 mg/kg, 248 mg/kg dan 0 mg/kg. SNI menentukan standar kandungan HMF pada madu kelulut maksimal 40 mg/kg, sehingga hanya madu dengan masa simpan sampai dengan 1 tahun (madu tahun 2022 dan 2023) yang memenuhi ketetapan SNI. Madu tahun 2017 hingga tahun 2023 secara keseluruhan memiliki kadar air >30% yang artinya madu tersebut tidak memenuhi ketetapan SNI No 8664 : 2018 sebesar maksimal 27,5%. Namun, ditinjau dari kadar gulanya, madu kelulut dapat disimpan sampai dengan 6 tahun masa simpan karena madu tersebut sepenuhnya memenuhi ketetapan SNI No 8664 : 2018 yaitu diatas 55%. Kadar gula pada madu tahun 2017 hingga tahun 2023 yaitu 69,4%, 70,1%, 72,4%, 71,0%, 71,3%, 70,1% dan 67,2%.
CHEMICAL CONTENT AND ANATOMICAL CHARACTERISTICS OF SAGO (Metroxylon sagu Rottb.) FROND FROM SOUTH KALIMANTAN, INDONESIA Wiwin Tyas Istikowati; Sunardi; Budi Sutiya; Purnama Lestari; Ahmad Arsyad; Lusyiani; Danang Sudarwoko Adi; Widya Fatriasari; Riska Surya Ningrum; Dede Heri Yuli Yanto
Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 10 No. 2 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : APTKLHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.2.185-194

Abstract

This research aims to evaluate the suitability of sago palm waste as a fiber raw material in terms of its chemical content and anatomical characteristics. The chemical content analysis of its extractive components, lignin, holocellulose, α-cellulose, and hemicellulose, was carried out using sago frond powder with a size of 40–60 mesh. Subsequently, functional group analysis was performed using Fourier Transform Infra-Red (FTIR), while anatomical characterization was carried out by calculating the fiber length and diameter, lumen diameter, fiber derivative values, and wall thickness using a microscope connected to a digital camera. Scanning Electron Microscope (SEM) pictures were taken in different magnifications. The results showed that sago frond contains 31.6% α-cellulose and 38% lignin. The α-cellulose content was within the standard range for non-timber forest products, but the lignin content had a relatively high value. Based on the derived value, namely class II, sago frond can be used as pulp and paper raw materials.
Co-Authors Abdullah Abdullah Adelia Wahyu Tri Utami Agung Nugroho Agustan Saining Agustinus Panjaitan Ahmad Arsyad Ahmad Arsyad Ahmad Budi Junaidi Akhmad Fauzan Aldi Bayu Pratama Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa, Amalia Amelia Lestari Aminonatalina Aminonatalina Anak Agung Ayu Ratih Frismanti Asmianoor Latifah Ayu Noor Latifah Azidi Irwan Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Budi Sutiya Dahlia Nuraini Pasaribu Dahlia Nuraini Pasaribu Danang Sudarwoko Adi Danang Sudarwoko Adi Daniel Itta Dede Heri Yuli YANTO Dede Heri Yuli Yanto Dede Heri Yuli Yanto Dety Yuliana Rosa Dewi Alimah Dewi Umaningrum Dita Fadhila, Dita Fadhila Dyera Forestryana Eny Dwi Pujawati Fadeliansyah, Fadeliansyah Fatriani Fatriani Fatriani Fatriani Forestryana, Dyera Gusti Abdul Rahmat Thamrin Hafiz Ramadhan Hafizianor Hafizianor Herawati Herawati Herlina Herlina Herlina Herlina Hesty Heryani Hidayanti, Nurul Idris, Muddatstsir Indri Eka Fitriani Ishiguri Futoshi Jeng Mas Ayu Devanda Buhang Khoirun Nisa Kissinger Kissinger Kurdiansyah Liana Fitriani Hasymi Lisa Andriana Kristy Lisa Andriana Kristy Liya Regita Liya Regita Lusyani Lusyani Lusyiani Lusyiani Lusyiani Muhammad Arief Soendjoto Muhammad Fadhil Muhammad Rais Arifin Munadi Munadi Muslih Anwar Nina Noviyanti Noor Wilanda Norhidayah, Anisa Nur Afik Bagustiana Nur Afik Bagustiana Purnama Lestari Purnama Lestari Raden Mas Sukarna Rahmat Eko Sanjaya Rahmat Yunus Ramadhan, Hafiz Rina Muhayah Noor Pitri Rio Ilhamsyah Risaldi Ridwan Riska Surya Ningrum Riska Surya Ningrum Risma Rahmawati Rizal Rifa’i Rizki Fitria Rizky, Akhmad Aufa Rosidah - Saiful Ruchiyat Cosahan Saputra, Debi Imam Sari, Evita Selvi Carolina Sinta Amanah Siti Hadijah Siti Hamidah Siti Hamidah Sri Nugroho Marsoem Sri Nugroho Marsoem Sunardi Sunardi Sunardi sunardi sunardi Sunardi, Ph.D., Sunardi Suriansyah, Suriansyah Surya, Adhi Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Syaifuddin Syaifuddin SYARIFUDDIN KADIR Trisnu Satriadi Udiansyah Udiansyah Uripto Trisno Santoso Vina Oktafianty Violet Burhanuddin Widya Fatiasari Widya FATRIASARI Widya Fatriasari Yalina Elsi Yokota Shinso Yuniarti Yuniarti Yusanto Nugroho Zainal Abidin Zainal Abidin Zainal Abidin