Articles
Potensi Kesejahteraan Sosial Masyarakat Desa Padaawas Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut
Raharjo, Santoso Tri;
Apsari, Nurliana Cipta;
Santoso, Meilanny Budiarti
Sosio Konsepsia Vol 11 No 1 (2021): Sosio Konsepsia
Publisher : Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Desa Padaawas merupakan salah satu desa di Propinsi Jawa Barat yang terletak cukup jauh dari ibukota Negara Indonesia. Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota, membuat masyarakat Desa Padaawas mengalami tantangan-tantangan dalam pemenuhan kesejahteraan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh Desa Padaawas untuk mencapai kesejahteraan dan penghidupan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah metode PRA (Participatory Rural Appraisal), wawancara mendalam kepada para tokoh masyarakat dan observasi kepada kehidupan keseharian masyarakat Desa Padaawas. Penelitian menemukan potensi-potensi sumber daya alam dan manusia yang dapat menunjang kehidupan berkelanjutan warga desa dan mencapai kesejahteraan sosialnya. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas BUMDES agar dapat menarik bagi masyarakat dan terbangun kepercayaan dari masyarakat kepada BUMDES Desa Padaawas Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut
KOMPETENSI KULTURAL DALAM PEKERJAAN SOSIAL PASCA BENCANA
Marcelino Vincentius Poluakan;
Nurliana Cipta Apsari;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.888 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v9i1.20008
Dalam praktek pekerjaan sosial, seorang pekerja sosial membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tertentu. Salah satu dari pengetahuan dan keterampilan tersebut adalah kompetensi kultural. Konsep tentang kompetensi kultural telah dikenal dan menjadi bagian dari pekerjaan sosial sejak lama terutama di tempat-tempat dimana tingkat etnisitas dan kelompok marginal yang tinggi. Dengan dimilikinya kompetensi kultural, seorang pekerja sosial dapat memahami, menerima dan menghargai sasaran pekerjaannya yang berbeda secara sosial dan kultural. Indonesia sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi membutuhkan pekerja-pekerja sosial yang memiliki kompetensi kultural. Melalui artikel ini, penulis ingin menggali sejauh mana kompetensi kultural telah diimplementasikan oleh pekerja sosial dalam praktek pekerjaan sosial di Indonesia. Penulis akan mengambil ruang lingkup pekerjaan sosial pasca bencana untuk menggali kompetensi kultural pekerja sosial. Metode yang digunakan berupa kajian literatur dan dokumen. Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi kultural sangat relevan untuk diimplementasikan di Indonesia karena kondisi masyarakat yang majemuk dan beranekaragam. Oleh karena itu, pekerja sosial perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan sehingga memiliki kompetensi kultural.
PENANGANAN MASALAH PEKERJA ANAK MELALUI PEMBERDAYAAN ORGANISASI LOKAL “FORUM PEDULI ANAK” DI KELURAHAN CIBEUREUM KOTA CIMAHI
Nada Kusuma;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (677.859 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v6i1.13144
Kajian ini bertujuan untuk memahami proses pemberdayaan terhadap lembaga FPA dalam menangani masalah pekerja anak di Kelurahan Cibeureum. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui jenis penelitian deskriptif. Sumber data primer dalam penelitian ini merupakan partisipan yang terdiri dari para pengurus FPA dan pekerja anak. sedangkan sumber data sekunder terdiri dari dokumen kegiatan FPA, beberapa tokoh masyarakat dan beberapa orang tua dari pekerja anak. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus dan observasi partisipatif. Data yang terkumpul selanjutnya dicek keabsahannya melalui perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, trianguasi, pengecekan sejawat dan kecukupan referensi. Data yang telah teruji keabsahannya kemudian diuji secara kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab pekerja anak di Kelurahan Cibeureum disebabkan antara lain : kemiskinan yang dialami orangtua, adanya budaya dan tradisi yang memandang anak wajib melakukan pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua, dan tersedianya pekerjaan yang mudah diakses tanpa membutuhkan persyaratan tertentu. Adanya pekerja anak ini mendasari dibentuknya lembaga FPA oleh para tokoh masyarakat.Lembaga FPA dimaksudkan untuk menangani masalah yang dihadapi pekerja anak. Dalam pelaksanaannya lembaga FPA masih mengalami hambatan, yang disebabkan oleh kurangnya kompetensi pengurus dalam menyelenggarakan kegiatan kelompok belajar dan kurangnya kemampuan dalam mengakses sumber. Kondisi ini menimbulkan adanya kebutuhan untuk memberdayakan lembaga tersebut.Pemberdayaan terhadap lembaga FPA dilakukan melalui reorganisasi dan restrukturisasi kepengurusan. Kegiatan pemberdayaan terhadap FPA berhasil meningkatkan kemampuan lembaga tersebut, sehingga tujuannya untuk melaksanakan kegiatan kelompok belajar bagi pekerja anak dapat tercapai.
DISKURSUS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)
Meilanny Budiarti Santoso;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v11i2.37076
Corporate social responsibility (CSR) masih menjadi konsep yang ambigu. Ambiguitas terjadi antara lain karena konsep CSR melintasi beberapa disiplin ilmu, yang secara konseptual tidak diajarkan secara komprehensif di lembaga pendidikan dan secara global telah menantang peran serta tanggung jawab dari karyawan, perusahaan dan juga Negara. Terlepas dari persepsi ambiguitas berdasarkan tinjauan literatur yang luas tersebut, secara konsepsual CSR terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang pada umumnya dianggap berhubungan dengan pengambilan keputusan bisnis yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bahkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) menjadi isu tersendiri dalam program-program CSR di seluruh dunia, demikian pula Indonesia. Kajian ini dilakukan secara kualitatif dan melalui studi pustaka. Dari ketiga aspek yang berbeda, namun saling berhubungan, studi ini menemukan ada sejumlah besar penelitian yang menilai hubungan antara CSR dengan kinerja bisnis keuangan (ekonomi) dan CSR dengan aspek manusia (sosial), tetapi kurang menilai hubungan CSR dengan aspek lingkungan. Penelitian tentang aspek lingkungan yang sudah dipelajari oleh para pakar masih terbatas, dan berbagi literatur secara signifikan menunjukkan kurangnya integritas atau universalitas. Beberapa hasil penelitian mengklaim bahwa hal tersebut dikarenakan kurangnya kerangka kerja analitis yang sistematis, sehingga kondisi tersebut menantang berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai tools untuk mendorong praktik CSR dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut, khususnya terkait aspek lingkungan.
MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL MELALUI KETELADANAN NASIONAL DAN KELUARGA
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (430.856 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v5i2.13137
Keteladanaan yang baik menjadi sesuatu yang sangat langka bagi bangsa ini, sehingga ini lah yang menjadi salah penyebab bangsa ini kehilangan jati dirinya. Keluarga yang merupakan cikal-bakal segala sesuatu yang ‘baik’ bagi bangsa ini, saat ini mulai tergerus perkembangan jaman, sehingga lebih mengedepankan nilai-nilai ‘kebendaan’ (material), sehingga tidak jarang prestasi anak bangsa diukur dengan ukuran-ukuran keduniawian. Sehingga ‘keluarga’ juga melahirkan hal-hal yang kurang baik bagi anak bangsa ini, jika hanya mengukur segala sesuatu keberhasilan berdasarkan kebendaan semata. Lebih jauh lagi persoalan pembangunan nasional dan karakter bangsa ini sesungguhnya dapat ditelusuri bagaimana masyarakat bangsa ini memahami dan menghargai suatu keluarga. Sehingga tidak salah apabila keluarga merupakan pusat dari persoalan (sumber dan sekaligus akibat) dan sekaligus merupakan sumber dari segala penyelesaian bangsa ini. Ide pembangunan karakter dan bangsa (nation and character building) dapat mulai lingkungan terkecil dari masyarakat yaitu keluarga.
Jaringan Sosial Dalam Pengelolaan Kawasan Geopark Ciletuh
Sahadi Humaedi;
Soni Ahmad Nulhaqim;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v11i1.31849
Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki bentang alam yang beragam. Salah satu lanskap tersebut adalah Geopark. Ada beberapa kawasan seperti ini di Indonesia, salah satunya kawasan Geopark Ciletuh. Potensi kawasan Geopark Ciletuh ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tentunya kekayaan ini harus dikelola dengan baik. Pengelolaan geopark melibatkan stakeholder atau actor yang terdiri dari aktor individu. Setiap aktor berperan sesuai dengan status masing-masing guna peningkatan pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh secara optimal. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, baik individu maupun kolektif warga, pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam pengelolaan kawasan ini akan efektif jika prosesnya dibangun dalam jaringan. Jejaring sosial ini terdiri dari masing-masing aktor yang saling berinteraksi dan saling berhubungan antara aktor satu dengan yang lainnya. Hubungan yang terjadi di antara para aktor tersebut terbangun dengan motivasi dan minat yang sama yakni bertujuan mengembangkan Kawasan Geopark Ciletuh untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Relasi yang terbangun merupakan sebuah wujud saling dukung dengan ragam dukungan berupa pengadaan fasilitas, tenaga dan ilmu. Model jaringan sosial ini dapat terjadi dengan berbagai cara. Ada hubungan antara satu aktor dan satu aktor saja. Bahkan ada lebih dari dua pelaku sehingga mereka membentuk simpul dengan bentuk tertentu. Hubungan antar aktor tersebut menjadi penanda dan memudahkan dalam memahami hubungan yang terjadi antar aktor. Setiap simpul yang terhubung memiliki arti yang berbeda. Sementara itu PAPSI merupakan aktor yang paling banyak memiliki relasi dengan aktor lain dalam pengelolaan kawasan Geopark Ciletuh. Indonesia is one of the countries in the Southeast Asia region which has a diverse landscape. One such landscape is a Geopark. There are several areas like this in Indonesia, one of which is the Ciletuh Geopark area. The potential of the Ciletuh Geopark area makes Indonesia one of the countries that has abundant natural wealth. Of course, this wealth must be managed properly. Geopark management involves stakeholders or actors consisting of individual actors. Each actor plays a role in accordance with their respective status in order to improve management of the Ciletuh Geopark area optimally. The involvement of various stakeholders, both individual and collective citizens, government and non-government organizations in the management of this area will be effective if the process is built in a network. This social network consists of each actor who interacts and relates to one another. The relationship between these actors is built with the same motivation and interest, which is aimed at developing the Ciletuh Geopark Area so that it can be utilized optimally by the community. The relationship that is built is a form of mutual support with a variety of support in the form of the provision of facilities, personnel and knowledge. This social networking model can occur in many ways. There is a relationship between one actor and one actor only. In fact, there are more than two actors so that they form a knot with a certain shape. The relationship between these actors becomes a marker and makes it easier to understand the relationships that occur between actors. Each connected node has a different meaning. Meanwhile, PAPSI is the actor who has the most relationships with other actors in the management of the Ciletuh Geopark area.
PROSES PELAKSANAAN REHABILITASI SOSIAL DISABILITAS NETRA DI PANTI PELAYANAN SOSIAL DISABILITAS PENGANTHI TEMANGGUNG JAWA TENGAH
lukman effendi;
Nurliana Cipta Apsari;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.36 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.19606
Penyandang disabilitas netra yang sejak awal sudah tidak memiliki penglihatan cenderung lebih dapat menyesuaikan diri daripada yang mengalami kedisabilitasan setelah usia dewasa (late blind). Pemerintah Republik Indonesia telah membentuk peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perlindungan terhadap penyandang disabilitas, sebagai upaya melindungi, menghormati, memajukan, dan memenuhi hak-hak penyandang disabilitas. Salah satu upaya perlindungan yang diberikan adalah dengan menggunakan rehabilitasi berbasis kelembagaan atau organisasi. Panti memiliki tugas dan fungsi yang penting, dimana proses pelayanan dan rehabilitasi sosial dilaksanakan dan menjadi kepanjangantangan pemerintah dalam melindungi dan memenuhi hak orang dengan disabilitas. Metode yang digunakan dalam penelitian proses pelaksanaan pelayanan di panti pelayanan sosial Penganthi Temanggung Jawa Tengah ini adalah metode kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah pekerja sosial panti Penganthi Temanggung Jawa Tengah karena mereka yang langsung memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas netra di panti tersebut. Hasil penelitian menemukan bahwa Program Rehabilitasi Sosial di Panti Penganthi Temanggung bertujuan untuk memperkuat dan mengembangkan kapasitas bio psiko sosial dan spiritual penerima manfaat yang mengalami disfungsi sosial. Program yang diselenggarakan meliputi beberapa tahapan program sebagai berikut, Pendekatan Awal, Penerimaan, Pelaksanaan Bimbingan dan Resosialisasi, Penyaluran, Pembinaan Lanjut dan Terminasi.
PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PT. INDONESIA POWER UPJP KAMOJANG
Cita Insaniah Muhammad;
Santoso Tri Raharjo;
Risna Resnawaty
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (144.681 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.20080
ABSTRACT The concept of corporate social responsibility has been around for thousands of years. The concept of corporate social responsibility has increasingly developed at the beginning of the industrial revolution which began to focus on the problem of corporate responsibility. The implementation of CSR is considered as an effort to create good companies in the public eye. John Elkinkon through the concept of "3P" (profit, people and planet) as a way for companies to survive by making a positive contribution to society (people) and actively taking part in preserving the environment (planet). Budimantara also explained the type of CSR implementation, namely community relations, community services, and community empowering. This study uses the literature study method as an analytic tool. The data used are primary data from interviews and student data. ABSTRAK Konsep corporate social responsibility sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Konsep corporate social responsibility ini semakin berkembang pada awal masa revolusi industri yang mulai berfokus pada masalah tanggung jawab perusahaan. Pelaksanaan CSR dianggap sebagai upaya untuk menciptakan baik perusahaan dimata publik. John Elkinkon melalui konsep “3P” (profit, people, dan planet) sebagai cara bagi perusahaan ingin bertahan dengan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan ikut aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Budimantara juga menjelaskan tipe pelaksanaan CSR yaitu community relations, community services, dan community empowering. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur sebagai tools analysist. Data yang digunakan data primer dari wawancara dan data sekuder.
KEARIFAN LOKAL,KEBERFUNGSIAN SOSIAL DAN PENANGANAN BENCANA
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v3i2.10021
Masyarakat Indonesia kaya akan beragam bencana alam yang seringkali terjadi, namundibalik itu semua juga kaya sumber-sumber lokal dalam upaya mengatasi kehidupantermasuk mengatasi bencana alam tersebut. Kesadaran untuk mengangkat dan menggalikembali pengetahuan lokal atau kearifan budaya lokal adalah karena kemajuan ekonomidan sosial masyarakat dunia sekarang telah diiringi oleh pelbagai kerusakan lingkungan.Pembelajaran dan penggalian terhadap sumber-sumber kearifan budaya lokal (indigenous) menjadi penting dan menguat dalam dekade belakangan ini. Pekerjaan sosial perlumemahami beragam sumber lokal yang telah lama tumbuh dan berkembang dalammasyarakat, sebagai alternatif upaya penanganan masalah sosial masa kini dan masamendatang.
EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT (EBM): MENGGAGAS DESA WISATA DI KAWASAN GEOPARK CILETUH-SUKABUMI
Santoso Tri Raharjo;
Nurliana Cipta Apsari;
Meilanny Budiarti Santoso;
Budhi Wibhawa;
Sahadi Humaedi
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (426.943 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.19591
Pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat (EBM) atau community-based tourism (CBT) dapat menjamin kesinambungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kuncinya adalah kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal terhadap pentingnya konservasi dan pemeliharan kawasan Geopark Ciletuh. Kesadaran masyarakat lokal merupakan ruh dari partisipasi, oleh karenanya perlu ditumbuhkan dan dikembangkan secara secara sistematis dan terencana. Kemauan, kesempatan dan kemampuan sebagai prasyarat untuk berpartisipasi harus tumbuh dan berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Sebab, masyarakat lokal-lah yang seharusnya memperoleh manfaat pertama dan utama dari pengembangan Geopark Ciletuh untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) UNESCO. Ironisnya, justru masyarakat luar yang seringkali mengetahui terlebih dahulu atas kekayaan dari keragaman bumi, keragaman biologi, dan keragaman budaya di kawasan Ciletuh Sukabumi Selatan. Upaya membangun dan mengembangkan kepariwisataan secara mandiri dan berkesinambungan, dengan tetap mengutamakan konservasi, maka partisipasi masyarakat lokal mutlak diperlukan. Partisipasi masyarakat secara ideal dapat dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Model EBM-CBT merupakan model pengembangan kepariwisataan yang berlandaskan pada partisipasi masyarakat yang kuat. Pengembangan dan pengelolaan desa-desa wisata di kawasan pengembangan Geopark Ciletuh, dapat merupakan ujud dari ekowisata berbasi masyatakat (EBM).