Articles
Analisis Sifat Fisis Reservoar Menggunakan Metode Seismik Inversi Acoustic Impedance (AI) dan Multiatribut (Studi Kasus Lapangan F3)
Deby Nur Sanjaya;
Dwa Desa Warnana;
Bagus Jaya Santosa
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5687.385 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6785
Lapangan F3 adalah sebuah blok di sektor Laut Utara Belanda. Pada lapangan ini telah dilakukan akuisisi 3D (3 dimensi) seismik untuk eksplorasi minyak dan gas yang terbentuk antara zaman Jurassic sampai Cretaceous. Keberadaan hidrokarbon pada lapangan ini ditunjukan dengan adanya fenomena bright spots dan gas chimneys pada bawah permukaan. Pada penelitian ini digunakan dua metode dalam penentuan persebaran zona reservoar yaitu seismik inversi Acoustic Impedance (AI) dan atribut seismik. Telah dilakukan kedua metode untuk mendapatkan beberapa parameter sifat fisik batuan yang dapat membantu dalam memetakan distribusi reservoar pada lapangan ”F3”. Dari hasil integrasi keduanya, menunjukkan bahwa reservoar batu pasir pada lapangan ini mengandung hidrokarbon yang diidentifikasikan oleh prosentase dari porositas yaitu 36-40 %.dan AI 11.852-13.620 (ft/s)*(g/cc). Zona dengan porositas pada peta struktur telah diperoleh dengan slicing peta AI dan peta atribut porositas. Berdasarkan zona porositas reservoar didapat tiga zone prospek yang tersebar di bagian Utara yaitu zona 1 yang sudah memang dilakukan pengeboran well log sumur F03-02, bagian sebelah Timur di dekat sumur F03-04 yaitu zona 2 dan Selatan di zona 3 merupakan daerah yang belum dilakukan eksplorasi terbukti belum adanya sumur pada daerah ini. Hasil yang didapat dari studi ini menunjukkan bahwa daerah zona (3) merupakan daerah yang paling potensial untuk eksplorasi, dikarenakan pada zona 3 yang merupakan zona prospek yang belum tereksploitasi.
Identifikasi Scouring sebagai Potensi Kelongsoran Tanggul Sungai Bengawan Solo berdasarkan Survei GPR (Studi Kasus Desa Widang, Kabupaten Tuban)
Dwa Desa Warnana
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 4, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (190.832 KB)
|
DOI: 10.12962/j24604682.v4i2.959
Telah dilakukan pengukuran dengan metode GPR (Ground Penetrating Radar) untuk mengidentifikasi scouring Sungai Bengawan Solo di Desa Widang, Kabupaten Tuban. Metode GPR merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan prinsip penjalaran gelombang elektromagnet dalam medium (tanah) yang kedalaman penetrasinya dan besar amplitudo yang terekam bergantung pada sifat dielektrik dari batuan atau media bawah permukaan dan frekuensi yang digunakan. Pada penelitian kali ini digunakan antena berfrekuensi 50 MHz, yang bisa mencapai penetrasi hingga 25 - 30 meter. Pada hasil pengolahan data dan interpretasi menunjukkan bahwa terdapat pendangkalan sungai di daerah hulu. Sedangkan pada daerah menuju ke hilir dasar sungai mengalami penggerusan lapisan tanah (erosi) sehingga mengakibatkan dasar sungai menjadi curam. Penggerusan lapisan tanah (scouring) di sekitar tanggul diakibatkan oleh tanah yang mengandung lempung berpasir, pada pori batuannya tersisipi oleh air sungai. Potensi kelongsoran yang tinggi dapat dipicu dengan adanya scouringdan erosi aktif (terus menerus). Keadaan seperti ini ditemukan pada daerah pengukuran lintasan widang 2 dan lintasan widang 3. Berdasarkan hasil interpretasi data yang dikorelasikan dengan data bor, menunjukkan bahwa sebagian besar daerah pengukuran memiliki litologi yang didominasi oleh lempung pada pengendapan atas (dasar sungai) dan pada kedalaman 8,5-15 meter didominasi pasir dan lanau.
Seismik Fasies Modelling Pada Reservoar Gas Biogenik: Studi Kasus pada Lapangan “TG”
Ismail Zaky Alfatih;
Dwa Desa Warnana;
Priatin Hadi Wijaya
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2913.044 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2958
Gas Biogenik merupakan gas dangkal yang terbentuk pada ekosistem lautan dangkal. Lapangan “TG” diketahui memiliki reservoir yang berisi fluida berupa gas biogenik yang terdapat pada reservoir limestone globigerina. Maka dari itu, perlu dilakukan seismik fasies modelling pada reservoir tersebut untuk mengetahui persebaran lateral dari properti dan fasiesnya. Metode yang digunakan ialah penggabungan dua kontrol, yaitu vertikal dan horizontal agar didapat persebaran lateral dari fasies tersebut. Kontrol vertikal berupa analisa data well untuk mengetahui jenis batuan yang ada dan melakukan pengklasifikasian berdasarkan log sonic dan densitas. Kontrol horizontal berupa grid model seismik dan seismik atribut Instantaneous Frequency. Kemudian dilakukan crossplot antara kedua kontrol tersebut sehingga didapat nilai error 0.153695 dan nilai cross-correlation sebesar -0.12558. Lalu dilakukan modeling menggunakan grid model dengan parameter seismik atribut tersebut dan pengelompokan fasies dari data well sehingga didapat bentukan body geologi 3D antiklin dari reservoir karbonat dan didapat persebaran lateral porositas, densitas dan gelombang-p serta persebaran empat jenis pengelompokan fasies limestone globigerina.
PEMETAAN KERAWANAN BENCANA GEMPA BUMI DENGAN METODE PSHA PERIODE ULANG 2500 TAHUN STUDI KASUS PULAU LOMBOK – NUSA TENGGARA BARAT
Sugeng Kurniawan;
Dwa Desa Warnana;
Juan Pandu Gya Nur Rochman
Jurnal Geosaintek Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v5i3.5387
Pulau Lombok terletak pada sistem trench Jawa-Sumba yang meliputi sistem trench Sunda selatan Sumba, Sumbawa, Lombok, Bali dan Jawa. Pulau ini memiliki bahaya kerentanan seismik yang cukup tinggi dengan adanya 2 sumber gempa utama yaitu Flores Back-arc Thrust dan Subduksi Lempeng Indo – Australia. Karena perlu dibuat peta kerentanan seismik untuk Pulau Lombok dengan metode PSHA berupa nilai PGA dan mngetahui seberapa jauh efek sumber gempa tersebut terhadap Pulau Lombok. Penelitian dimulai dengan melakukan Analisa sumber gempa pada daerah penelitian dan pengumpulan data katalog gempa. Data katalog gempa kemudian dilakukan konversi magnitude ke Mw (magnitude moment), lalu dilakukan De-clustering untuk mendapatkan gempa utama. Lalu mencari nilai a & b value untuk sumber gempa background. Hasil dari analisis sumber gempa adalah digitasi titik atau lokasi dari sumber gempa (patahan & subduksi) yang berupa koordinat, kemudian dilakukan pemilihan fungsi atenuasi sesuai karakteristik sumber gempa yang merujuk pada buku PUSGEN 2017. Data a & b value untuk setiap sumber, fungsi atenuasi, dan data koordinat sumber gempa dibawa ke tahapan PSHA yang hasilnya adalah nilai percepatan spectral untuk setiap grid yang telah ditentukan pada periode ulang tahun tertentu. Dari hasil pengolahan didapatkan nilai PGA T=0s adalah 0.35 – 0.605g, untuk nilai PGA T=0.2s adalah 0.85 – 1.5g dan untuk nilai PGA T=1s adalah 0.425 – 0.68g. Efek PGA terbesar dipengaruhi oleh efek subduksi lalu patahan dan terakhir akibat gempa background.
Analisis Inversi 2D Metode Occam Untuk Memodelkan Resistivitas Bawah Permukaan Data Magnetotellurik
Satrio Budiraharjo;
Widya Utama;
Dwa Desa Warnana;
Arif Darmawan
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1381.528 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2950
Program pengolahan data metode Magnetotellurik dikalangan mahasiswa, khususnya inversi2D sangat jarang ditemukan. Pemodelan struktur resistivitas bawah permukaan menggunakan dataMagnetotellurik umumnya saat ini menggunakan inversi 1D yang kemudian dilakukan pseudo-sectionterhadap resistivitas vertikal untuk menampilkan model dalam bentuk 2D. Untuk medium 2D solusipemodelannya menjadi lebih kompleks, dikarenakan parameter resistivitas tidak hanya bervariasiterhadap kedalaman namun juga dalam dimensi lateral. Program TGMT2D yang dibuat, menggunakanmetode inversi Occam yang ditest dengan model sintetik hasil forward modelling, dengan resistivitaslapisan pertama 50 ohm.m, lapisan kedua 1ohm.m, lapisan ketiga 100 ohm.m dan lapisan keempat 500ohm.m. Dari hasil inversi yang dilakukan didapatkan hasil yang mirip antara struktur resistivitas bawahpermukkan dengan model sintetik hingga kedalaman 4000m dari total kedalaman 6000m, dengan nilairesistivitas lapisan pertama 32-79 ohm.m, lapisan kedua 1.2-3.9 ohm.m, lapisan ketiga 2.5-79Ohm.m,dan lapisan keempat dengan 32-200 ohm.m.
Deteksi Persebaran Air Lindi Menggunakan Inversi VLF-EM Studi Kasus TPA Ngipik
Khairul Yadi;
Dwa Desa Warnana;
Juan Pandu Gya Nur Rochman;
Nila Sutra;
Ria Asih A. Soemitro
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1197.298 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v3i2.2964
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik menggunakan sistem Openg Dumping, sehingga dengan sistem ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan salah satunya melalui air lindi yang dihasilkan dari sampah. Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi air lindi menggunakan metode Inversi VLF-EM. Dari hasil pengolahan data VLF menggunakan inversi diperoleh nilai resistivitas daerah yang teridentifikasi adanya air lindi berkisar 1.6-2.5 yang sudah tersebar hingga kedalaman 15 m. Hal ini mengidentifikasikan bahwa air lindi sudah tersebar di Area TPA Ngipik
Pemodelan Inversi Terpisah Metode Magnetotellurik Dan Gravitasi Sintetik Pada Daerah Sub - Vulkanik
Muhammad Irsyad Hibatullah;
Dwa Desa Warnana;
Juan Pandu Gya Nur Rochman;
Firman Syaifuddin
Jurnal Geosaintek Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (772.977 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v5i1.4903
Reservoir sub-vulkanik merupakan salah satu hal menarik dalam dunia eksplorasi cadangan migas di masa mendatang. Tantangan dalam eksplorasi pada reservoir sub vulkanik adalah keterbatasan metoda seismik dalam melakukan pencitraan bawah permukaan pada reservoir sub-vulkanik, hal itu dikarenakan keberadaan lapisan vulkanik yang terletak diatas reservoir sub-vulkanik memiliki kecepatan yang kompleks dan dominasi komponen frekuensi rendah sehingga metode konvensional seperti Dix Conversion tidak cukup akurat dalam memodelkan profil Vp di daerah sub-vulkanik. Oleh karena itu dibutuhkan integrasi metode gravitasi dan magnetotellurik dimana pada pengolahan inversi secara terpisah metode MT 1.5D menunjukan bahwa MT sensitif terhadap kehadiran fasies vulkanik tetapi tidak cukup sensitif terhadap keberadaan basement. Sedangkan metode gravitasi sensitif terhadap keberadaan basement tetapi tidak cukup sensitif dalam menggambarkan fasies vulkanik.
Pemodelan Geostatistik 3D Pada Sebaran Batuan Karbonat Menggunakan Metode Kriging Berdasarkan Data Resistivitas 2D Dan N-SPT
Fahrenzy Yona Aisha;
Dwa Desa Warnana;
Nita Ariyanti
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1202.72 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v4i3.4522
Metode Geofisika memainkan peran yang penting dalam bidang ilmu kebumian, terutama dalam menentukan struktur bumi. Dalam dunia eksplorasi, metode geofisika digunakan untuk mengestimasi sebaran sifat fisika material penyusun bumi tidak terkecuali metode geolistrik. Umumnya, metode geolistrik dilakukan untuk mengestimasi struktur bumi dalam 1D dan 2D. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan terhadap data keadaan bawah permukaan yang lebih terkarakterisasi dengan detail dan menerus semakin meningkat. Sementara, harga yang tinggi saat melakukan akuisisi geolistrik 3D terkadang menjadi kendala dalam eksplorasi. Oleh sebab itu, diperlukan hasil penampang yang mendekati kondisi riil-nya yakni pemodelan dalam bentuk 3D berdasarkan data 2D. Untuk dapat memprediksi pola sebaran data di antara titik ukur atau antara penampang, diperlukan aplikasi metode geostatistik. Metode Geostatistik yang digunakan adalah kriging. Data kemudian dilakukan interpretasi secara kualitatif dengan mengintegrasikan dengan kondisi geologinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pseudo 3D resis yang dapat menggambarkan bawah permukaan secara 3D dari data 2D. Kombinasi antara hasil dari survei geofisika dan geologi ini dapat menghasilkan persebaran distribusi karbonat di daerah penelitian yakni Kabupaten Tuban, Kec. Jenu. Kemudian, berdasarkan model persebaran karbonat mengindikasikan bahwa lingkungan penelitian ini memiliki jenis karbonat reefal dengan kombinasi batuan gamping dan dolomit
Aplikasi Metode Seismik Refraksi Untuk Lintasan Terowongan Studi Kasus Wilayah “SMBR”
Lutfi Zakariah;
Dwa Desa Warnana;
Amien Widodo;
Nefrizal Nefrizal
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1053.727 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v4i2.4292
Metode seismik refraksi telah banyak digunakan untuk rekayasa bawah permukaan dalam mengidentifikasi struktur dan stratigrafi dengan memanfaatkan perbedaan elastic properties pada batuan. Pada penelitian seismik refraksi diterapkan untuk analisa bawah permukaan dalam penentuan jalur terowongan. Terowongan yang direncanakan melewati perbukitan di wilayah SMBR sangat penuh dengan resiko geologi seperti adanya struktur dan zona weathering layer. Panjang lintasan akuisisi ini sepanjang 1800 m dengan 38 titik tembak. Dari hasil pengolahan data diperoleh 3 buah lapisan, Lapisan pertama adalah soil atau tanah residual dengan rentang velocity 300-1200 m/s, pada lapisan kedua terdapat sandstone dengan rentang nilai velocity 1800 – 3100 m/s dan pada lapisan ketiga terdapat lapisan siltstone dengan rentang 2400-4400 m/s. Selain itu terdapat struktur berupa patahan pada meter ke -1105. Berdasarkan data bor sampai kedalaman 50 m dominan terdapat sandstone sehingga sering terjadi lose. Dengan mengetahui kondisi bawah permukaan diharapkan proses konstruksi menjadi lebih efektif dan menurunkan risiko kecelakaan kerja.
Eksplorasi Geomagnetik untuk Penentuan Keberadaan Pipa Air di Bawah Permukaan Bumi
Widya Utama;
Dwa Desa Warnana;
Syaeful Bahri;
Anik Hilyah
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (843.872 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v2i3.2099
Dalam penerapannya, metode geomagnetik dipakai untuk memetakan struktur perlapisan di bawah permukaan atau deposit mineral logam yang bersifat feromagnetik. Metode ini tergolong pasif karena menggunakan medan magnet bumi sebagai sumbernya. Dalam penelitian ini, telah dilakukan pengukuran medan magnetik bumi untuk mengetahui keberadaan pipa air (hidrant) yang tertanam di bawah permukaan tanah, di taman BAAK kampus ITS. Pengukuran medan magnetik bumi dilakukan dalam bentuk jejaring titik ukur dengan lintasan sejumlah 10 dan jarak antar titik ukur adalah 5 m. Pada saat dilakukan pengukuran, terdapat lalu lalang beberapa kendaraan bermotor yang tidak bisa dihindari. Pengukuran medan magnetik dilakukan dengan menggunakan proton magnetometer. Sebagai titik referensi, dipilih sebuah titik Base Station (BS) yang bebas dari pengaruh benda logam. Data medan magnet terukur harus dikoreksi untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik. Nilai anomali tersebut berasosiasi dengan keberadaan benda target eksplorasi geomagnetik. Koreksi yang dilakukan adalah koreksi diurnal (yang mengacu ke titik BS) dan koreksi standar IGRF (sebagai acuan, yaitu nilai medan magnet bumi normal). Peta kontur medan magnetik anomali diperoleh dengan software Surfer. Filtering dengan low pass filter dilakukan untuk menihilkan pengaruh magnetik yang ditimbulkan oleh lalu lintas kendaraan bermotor yang lewat selama masa pengukuran. Peta kontur tersebut diolah lebih lanjut dengan software Magpick dan Mag2DC untuk mempertegas keberadaan benda penyebab anomali magnetik. Berdasarkan hasil perhitungan model anomali, dapat diperoleh distribusi nilai suseptibilitas magnetik. Dengan demikian, dapat ditentukan secara kualitatif keberadaan benda anomali berdasarkan perbedaan nilai suseptibilitas di bawah permukaan tanah. Untuk pembangunan infrastruktur, metode geomagnetik dipakai sebagai langkah awal untuk memahami kondisi dan struktur pelapisan bawah tanah, serta dapat memberi arti efisiensi dalam perencanaan pekerjaan pembangunan infrastruktur.