Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Analysis of fishing season for tuna (Thunnus spp.), little tuna (Euthynnus sp.) and skipjack (Katsuwonus pelamis) in FMA 716 Tuyu, Adel M.; Luasunaung, Alfret; Sumilat, Deiske A.; Manoppo, Lefran; Kaparang, Frangky E.; Mantiri, Rose O. S. E.; Warouw, Veibe
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.44633

Abstract

Economically important pelagic fish species in FMA 716 include skipjack (Katsuwonus pelamis), tuna (Thunnus spp.) and frigate tuna (Euthynnus sp.), these pelagic fish species are caught intensively. This study aims to provide information on the appropriate season for catching tuna, skipjack and tuna in FMA 716. The results of the study show the pattern of the tuna, skipjack and frigate tuna (TCT) fishing season based on the catches landed in PPS Bitung and PPP Tumumpa with fishing areas in FMA 716, i.e. the results vary every year but the peak of the fishing season occurs in the eastern transitional season. West - September, October and November. Peak fishing season for skipjack and tuna occurs three times and frigate tuna 2 times in 5 years. Keywords: catching season, Katsuwonus pelamis, Thunnus spp and Euthynnus sp,FMA 716 Abstrak: Jenis ikan pelagis ekonomis penting di WPP 716 antara lain adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna (Thunnus spp.) dan tongkol (Euthynnus sp.), jenis – jenis ikan pelagis tersebut ditangkap secara intensif. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi musim yang tepat untuk melakukan penangkapan ikan tuna, cakalang dan tongkol di WPP 716. Hasil penelitian menujukan pola musim penangkapan ikan Tuna, Cakalang dan Tongkol (TCT) berdasarkan hasil tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung dan PPP Tumumpa dengan wilayah penangkapan di WPP 716 yaitu hasilnya bervariasi setiap tahunnya tetapi yang terbanyak puncak musim penagkapan ikan terjadi pada musim masa peralihan timur-barat yaitu bulan September, Oktober dan November. Puncak musim penangkapan ikan cakalang dan tuna terjadi sebanyak tiga kali dan ikan tongkol 2 kali dalam 5 tahun. Kata kunci : Musim penangkapan ikan tuna, tongkol dan cakalang, WPP 716
Phytoplankton Community Structure in Seagrass Beds in Tiwoho Village, North Minahasa Regency Rimper, Abraham M.; Warouw, Veibe; Rimper, Joice R.T.S.L; Lintang, Rosita A.J.; Ompi, Medy; Pangkey, Henneke D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.45232

Abstract

This research was carried out from May to July 2022. A sampling at the study site included seawater for the needs of plankton identification as well as the measurement of water nitrate & phosphate levels and measurement of physical and chemical parameters such as temperature, pH, salinity and dissolved oxygen which were carried out on an ongoing basis In situ (in the field). The technique for determining plankton sampling was carried out purposively, namely with certain considerations to obtain samples that represent the research location area. Plankton sampling was carried out horizontally using a plankton net. Sample bottles containing seawater were identified at the Marine Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences. The composition of the phytoplankton found in the Tiwoho seagrass bed ecosystem consists of three classes, namely the Bacillariophyceae, Dynophyceae, and Cyanophyceae classes, with 28 genera. The results of chopped phytoplankton are expressed in Cells/l. The qualitative determination of plankton is made up to the genus level. The composition of the phytoplankton found in the Tiwoho seagrass bed ecosystem consists of three classes, namely the Bacillariophyceae, Dynophyceae, and Cyanophyceae classes, with 28 genera. The results of calculating the abundance of phytoplankton in the Tiwoho seagrass ecosystem are in the range of 29 - 66 cells/l. The highest abundance was found at station two, namely 66 cells/l with 21 genera, then station three (65 cells/l) with 24 genera, and station one (29 cells/l) with a total of 23 genera. The diversity index of seagrass beds in Tiwoho waters is in the range of 1.9330 - 2.4083, which means that community stability is categorized as moderate. The uniformity index is in the range of 0.4614 - 0.7154, this means that the uniformity between species is relatively the same, or the difference is not striking. While the domination index is in the range of 0.1494 - 0.2404, it means that the condition of the community structure is stable, and there is no ecological pressure (stress) on biota. Keywords: Phytoplankton, Biological Index, Abundance, Environmental parameters Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Juli 2022. Pengambilan sampel di lokasi penelitian meliputi air laut untuk kebutuhan identifikasi fitoplankton dan pengukuran kadar nitrat, fosfat perairan serta pengukuran parameter fisika kimia seperti suhu, pH, salinitas dan oksigen terlarut yang dilakukan secara In situ (di lapangan). Teknik penentuan pengambilan sampel plankton dilakukan secara purposif yaitu dengan pertimbangan tertentu untuk mendapatkan sampel yang mewakili area lokasi penelitian. Pengambilan sampel plankton dilakukan secara horisontal dengan menggunakan plankton net. Sampel plankton diberi pengawet formalin 4% dan diidentifikasi di laboratorium Biologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Komposisi fitoplankton yang dijumpai di ekosistem padang lamun Perairan Tiwoho terdiri dari tiga kelas yaitu kelas Bacillariophyceae, Dynophyceae, dan Cyanophyceae, dengan 28 genera. Hasil perhitungan kelimpahan fitoplankton di ekosistem padang lamun Perairan Tiwoho berada di kisaran 29 - 66 sel/l. Kelimpahan tertinggi ditemukan di stasiun dua (depan kampung) yaitu 66 sel/l dengan 21 genera, kemudian stasiun tiga (depan dermaga) yaitu 65 sel/l dengan 24 genera, dan stasiun satu (ujung kampung) sebanyak 29 sel/l dengan jumlah 23 genera. Indeks keanekaragaman ekosistem padang lamun Perairan Tiwoho berada pada kisaran 1,9330 - 2,4083, yang berarti stabilitas komunitas dikategorikan sedang. Indeks keseragaman yaitu pada kisaran 0,4614 - 0,7154, ini berarti keseragaman antar spesies relatif sama, atau perbedaannya tidak menyolok. Sedangkan indeks dominasi yaitu pada kisaran 0,1494 - 0,2404, berarti kondisi struktur komunitas dalam keadaan stabil, dan tidak terjadi tekanan ekologi (stress) terhadap biota. Kata kunci: Fitoplankton, Indeks Biologi, Kelimpahan, Parameter lingkungan
Anti-Bacterial And Anti-Ultraviolet Activity Test Of Black Cucumber (Holothuria atra) Extract From Tongkaina Waters, Bunaken District, Manado City Mangangkung, Nazarrian; Angkouw, Esther Dellayani; Warouw, Veibe; Mangindaan, Remy Emile Petrus; Losung, Fitje; Monijung, Revol Dulles
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.48018

Abstract

          The purpose of this study was to obtain the crude extract of Holothuria atra, test its antibacterial activity against Escherichia coli and Bacillus megaterium strains using the disc diffusion method (Kirby-Bauer disc diffusion), test the anti-UV of Holothuria atra extract taken from Tongkaina Waters, Bunaken District, Manado City. Antibacterial testing was carried out with several different concentrations, from the results of antibacterial testing carried out the average inhibition zone on E. coli bacteria with 100,000 ppm the average inhibition zone was (9.67 mm), for 50,000 ppm the average inhibition zone was (8 mm), from B. megaterium bacteria known to have H.a 100,000 ppm producing an average inhibition zone (9.67 mm), H.a 50,000 ppm an average inhibition zone of (8.67 mm). The results of the anti-UV test for Holothuria atra extract showed absorption in UV-C at λ 210 nm with the highest absorbance value of 2.774. Keywords: Sea cucumber, Antibacterial, Anti-UV, Escherichia coli, Bacillus megaterium. Abstrak Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak kasar Holothuria atra, menguji aktivitas antibakteri terhadap strain Escherichia coli dan Bacillus megaterium dengan metode difusi agar (disc diffusion Kirby-Bauer), menguji anti-UV dari ekstrak Holothuria atra yang diambil dari Perairan Tongkaina Kecamatan Bunaken Kota Manado. Pengujian antibakteri dilakukan dengan beberapa konsentrasi yang berbeda, dari hasil pengujian antibakteri yang dilakukan rerata zona hambat pada bakteri E. coli dengan 100.000 ppm rerata zona hambat sebesar (9,67 mm), untuk 50.000 ppm rerata zona hambat sebesar (8 mm), dari bakteri B. Megaterium diketahui H.a 100.000 ppm menghasilkan rerata zona hambat (9,67 mm), H.a 50.000 ppm rerata zona hambat sebesar (8,67 mm). Untuk hasil pengujian anti-UV ekstrak Holothuria atra menunjukkan serapan pada UV-C pada λ 210 nm dengan nilai absorban tertinggi 2,774. Kata kunci : Teripang laut, antibakteri, anti-UV, Escherichia coli, Bacillus megaterium.
Zooplankton in the Seagrass Beds of Nain Island Tuliabu, Nelda; Rimper, Joice R.T.S.L; Warouw, Veibe; Kaligis, Erly Yosef; Rumampuk, Natalie Detty C; Ngangi, Edwin Leonardo Apolonio
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.50187

Abstract

This research was conducted in July 2022, the determination of sampling locations was carried out by purposive sampling, namely data collection with certain considerations to obtain samples that represent the research location area. Seawater samples were taken using a plankton net which was then used for the zooplankton identification process carried out in the Marine Biology Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Science. Measurement of physical parameters of water chemistry consisting of temperature, salinity, and pH, was carried out in situ. The content of nitrate and phosphate was conducted at the WLN laboratory (Water Laboratory Nusantara-WLN). Zooplankton counts were expressed in ind/l. Qualitative determination of plankton was made up to the genus level. The results of zooplankton identification consisted of 5 genera namely Acartia, Cyclops, Euterpina, Nauplius, and Oithona. The calculation of zooplankton abundance is in the range of 3-5 ind/l. The highest abundance was found at station one which was 5 ind/l followed by station three which was 4 ind/l and then station two as much as 3 ind/l. The diversity index is in the range of 0.4740-0.7786, the uniformity index is in the range of 0.2945-0.7087, and the dominance index ranges from 0.5971-0.7744. Keywords: Zooplankton, Seagrass Meadow, Nain Island, Abundance, Biological Index. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2022, penentuan lokasi pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu pengumpulan data dengan pertimbangan tertentu untuk memperoleh sampel yang mewakili wilayah lokasi penelitian. Sampel air laut diambil dengan menggunakan plankton net yang selanjutnya digunakan untuk proses identifikasi zooplankton yang dilakukan di Laboratorium Biologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pengukuran parameter fisik kimia air yang terdiri dari suhu, salinitas, pH, dilakukan secara in situ. Kadar nitrat dan fosfat dilakukan di laboratorium WLN (Laboratorium Air Nusantara-WLN). Jumlah Zooplankton dinyatakan dalam ind/l. Penentuan plankton secara kualitatif dilakukan sampai tingkat genus. Hasil identifikasi zooplankton terdiri dari 5 genus yaitu Acartia, Cyclops, Euterpina, Nauplius, dan Oithona. Perhitungan kelimpahan zooplankton berada pada kisaran 3-5 ind/l. Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun satu sebesar 5 ind/l, disusul stasiun tiga sebesar 4 ind/l dan kemudian stasiun dua sebanyak 3 ind/l. Indeks keanekaragaman berada pada rentang 0,4740-0,7786, indeks keseragaman berada pada rentang 0,2945-0,7087, sedangkan indeks dominasi berkisar antara 0,5971-0,7744. Kata Kunci: Zooplankton, Padang Lamun, Pulau Nain, Kelimpahan, Indeks Biologi.
Attachment Of Macrobenthos Larvae To Organic And Non-Organic Substrates Saragih, Hans S. R. P.; Ompi, Medy; Kaligis, Erly Yosef; Boneka, Farnis B. Boneka; Warouw, Veibe; Paransa, Darus Sa’adah Johanis
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.52205

Abstract

The objectives of this study are 1) to Identify the specimen of macrobenthos attached to the substrate provided in 2 locations. 2) to determine the type of substrate attached by the larvae at both sites.  3) to determine the density of Macrobenthos attached to the substrate provided at 2 sites. A plywood plate had 16 holes with a diameter of 1 cm each that had been randomly filled with organic substrates, namely coconut fibers, palm fibers, shells with 'bysus' threads, and non-organic substrates in the form of plastic ropes. Each substrate has four replicates.  The plywood plate with 3 replicates was placed in each station.  The plate was removed and taken to the laboratory after 1 month. The identification up to family, genus, and species as well as the density of each species were applied.  The results showed that not only the larvae of Septifer bilocularis attached to organic and non-organic substrates, but six species of larvae were also identified. The sizes of new settler macrobenthos from 2 mm to 1 cm attached on organic and non-organic substrates were identified. The density of new settlers species attached to substrates varied from 0.03 – 0.5 individuals/cm2.  The new settlers identified 7 species in Tiwoho and 3 species in Malalayang.    Keywords: Settlement, Substrate, Tiwoho Coast, Malalayang Coas. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi jenis-jenis  makrobenthos yang menempel pada substrat yang disediakan di 2 lokasi. 2) Mengidentifikasi jenis substrat sebagai tempat penempelan larva macrobenthos di  kedua lokasi, dan 3) Menentukan kepadatan jenis Makrobenthos  pada substrat yang disediakan di 2 lokasi. Triplek (plate) memiliki 16 lubang dengan ukuran diameter masing-masing 1 cm yang telah diisi secara acak dengan substrat organik yaitu serabut kelapa, serabut ijuk, cangkang ber ‘byssus’, serta substrat non organik berupa tali plastik. Masing-masing substrat ini memiliki 4 ulangan.  Selanjutnya, plate, masing-masing dengan 3 ulangan ditempatkan di setiap intertidal, Towoho dan Malalayang.  Plate diangkat setelah 1 bulan, yang dibawah ke laboratorium untuk foto dan diidentifikasi baik di tingkat jenis, genus, ataupun family.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak hanya larva kerang Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758), yang menempel pada substrat organik dan non organik, tetapi ditemukan larva macrobenthos lainnya, yaitu 2 jenis dari Cerithum egenum (Gould, 1849), dan Calcarina defranci d'Orbigny, 1826, 2 family/genus, yaitu: Canthocamptidae dan Portunidae, dan 2 klass, yaitu : Polychaeta dan Demospongae.  Teridentifikasi jenis larva makro benthos yang baru menempel pada substrat substrat organik dan non-organik dengan ukuran yang bervariasi, yaitu dari 2 mm – 1 cm. Kepadatan jenis macrobenthos yang baru menempel adalah dari 0.03 – 0.5 individu/cm2.  Ada 7 jenis teridentifkasi di lokasi Tiwoho, dan 3 jenis teridentifkasi di Malalayang Kata kunci: Penempelan, Substrat, Pesisir Tiwoho, Pesisir Malalayang  
Analysis Of The Effect Of El Niño La Nina And Sea Level Temperatures On Chlorophyll-A Concentrations In The Waters Of The Maluku Sea: Pesoth, Christianto; Rimper, Joice R.T.S.L; Warouw, Veibe; Mantiri, Rose O. S. E.; Sumilat, Deiske Adeliene
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.52236

Abstract

Global weather phenomena cannot be separated from the interaction between the ocean and the atmosphere. El Nino and La Nina are phenomena that were related to the interaction of the sea and the atmosphere which affects many aspects, including the fertility of waters. Indicators of the fertility of water could be determined from the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a concentration. This study aims to analyze variations in the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a in the Maluku Sea when the El Nino and La Nina phenomena are activated. The results showed that when the El Nino phenomenon was activated, there was a decrease in sea surface temperature and an increase in the concentration of chlorophyll-a from normal conditions. Besides, when the La Nina phenomenon was activated, there was an increase in sea surface temperature and a decrease in the concentration of chlorophyll-a from normal conditions. Spatial interpretation when El Nino and La Nina are activated showed low values with a distribution indicating the mixed proceed for the sea surface temperature parameter and showed higher values with an even distribution for the chlorophyll-a parameter. Keywords: Sea Surface Temperature, Chlorophyll-a, El Nino, La Nina. Abstrak Fenomena cuaca secara global tidak bisa lepas kaitannya dengan interaksi antara laut dan atmosfer. El Nino dan La Nina merupakan salah satu fenomena yang berkaitan dengan interaksi laut dan atmosfer yang berpengaruh terhadap banyak aspek termasuk kesuburan suatu perairan. Indikator kesuburan suatu perairan dapat ditentukan dari distribusi suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa variasi distribusi suhu permukaan laut dan klorofil-a di perairan Laut Maluku saat fenomena El Nino dan La Nina aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat fenomena El Nino aktif terjadi penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan konsentrasi klorofil-a dari kondisi normal. Sebaliknya saat fenomena La Nina aktif terjadi peningkatan suhu permukaan laut dan penurunan konsentrasi klorofil-a dari kondisi normal. Interpretasi spasial saat El Nino dan La Nina aktif menunjukkan nilai yang rendah dengan sebaran yang menunjukkan proses mixing untuk parameter suhu permukaan laut, dan menunjukkan nilai yang lebih tinggi dengan sebaran merata untuk parameter klorofil-a. Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a, El Nino, La Nina.
Phytoplankton Community Structure in Seagrass Beds of Nain Island Waters Mokosuli, Febrianty Dhea; Rimper, Joice R.T.S.L; Warouw, Veibe; Wullur, Stenly; Losung, Fitje; Mokolensang, Jeffrie F.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.52339

Abstract

This study aims to identify phytoplankton species, calculate phytoplankton abundance, diversity index, uniformity index, phytoplankton dominance index, and determine environmental conditions such as temperature, pH, salinity, nitrate, and phosphate in the seagrass ecosystem of Nain Island Waters. Sampling includes seawater for the needs of phytoplankton identification measurement of nitrate and phosphate levels and measurement of water parameters in situ. Phytoplankton sampling is done horizontally using a plankton net. Phytoplankton identification found in the seagrass ecosystem of Nain Island Waters consisted of four classes, namely Bacillariophyceae (Rhizosolenia sp.; Nitzschia sp.; Chaetoceros sp.; Navicula sp.; Eucampi sp.; Pleurosigma sp.; Thalassionema sp.; Melosira sp.), Dinophyceae (Ceratium sp.; Protoperidinium sp.), Chlorophyceae (Spirogyra sp.), and Euglenophyceae (Euglena sp.). The calculation of phytoplankton abundance is in the range of 9 - 51 cells/l. The highest abundance was found at station one which was 51 cells/l, then station three which was 21 cells/l, and station two which was 9 cells//I. The diversity index is in the range of 0.8749 - 1.8668 which means there is community instability. The uniformity index is in the range of 0.2226 - 0.8460, while the dominance index is in the range of 0.2060 - 0.6093, this indicates that the water conditions are stable. Environmental conditions (temperature, salinity, pH, nitrate, and phosphate) in the seagrass ecosystem of Nain Island Waters are still quite good for phytoplankton growth. Keywords: Phytoplankton, Seagrass, Nain Island, Abundance, Biological Index Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi jenis-jenis fitoplankton, menghitung kelimpahan fitoplankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominasi fitoplankton dan mengetahui kondisi lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, nitrat, dan fosfat di ekosistem padang lamun Perairan Pulau Nain. Pengambilan sampel meliputi air laut untuk kebutuhan identifikasi fitoplankton dan pengukuran kadar nitrat dan fosfat perairan serta pengukuran parameter perairan secara In situ. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan secara horizontal dengan menggunakan plankton net. Fitoplankton yang ditemukan terdiri dari empat kelas yaitu Bacillariophyceae (Rhizosolenia sp. Nitzschia sp. Chaetoceros sp. Navicula sp. Eucampi sp. Pleurosigma sp. Thalassionema sp. Thalassionema sp. Melosira sp.), Dinophyceae (Ceratium sp. Protoperidinium sp.), Chlorophyceae (Spirogyra sp), dan Euglenophyceae (Euglena sp). Hasil perhitungan kelimpahan fitoplankton berada di kisaran 9 - 51 sel/l. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada stasiun satu yaitu 51 sel/l, kemudian stasiun tiga yaitu 21 sel/l dan stasiun dua yaitu 9 sel/I. Indeks keanekaragaman berada pada kisaran 0,8749 - 1,8668 yang berarti adanya ketidakstabilan komunitas. Indeks keseragaman yaitu pada kisaran 0,2226 - 0,8460, sedangkan indeks dominasi berada pada kisaran 0,2060 - 0,6093, hal ini menunjukkan kondisi perairan dalam keadaan stabil. Kondisi lingkungan (suhu, salinitas, pH, nitrat dan fosfat) di ekosistem padang lamun Perairan Pulau Nain masih cukup baik untuk pertumbuhan fitoplankton. Kata kunci: Fitoplankton, Padang Lamun, Pulau Nain, Kelimpahan, Indeks Biologi
KONDISI PADANG LAMUN DI PERAIRAN SEKITAR DESA BULO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Tulung, Rezykita; Sondak, Calvyn F.A.; Warouw, Veibe; Kumampung, Deislie R.H; Wagey, Billy T.; Windarto, Agung B.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.3.2024.58285

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi padang lamun yang berada di Perairan Sekitar Desa Bulo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Lamun (Seagrass) adalah salah satu tumbuhan ada di ekosistem atau lingkungan laut. Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi (Anthophyta) yang hidup dan berkembang di lingkungan laut serta berkembang biak secara generatif dan vegetatif. Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup dan berkembang di kolom perairan yang dangkal. Tumbuhan lamun ini memiliki akar, batang yang menjalar yang disebut (Rhizome), daun, bunga, dan buah. Padang lamun yaitu tumbuhan  yang menutupi suatu areal pesisir laut dangkal pada pasang surut intertidal maupun subtidal yang dapat terbentuk oleh satu spesies lamun atau lebih dengan kerapatan jarang atau padat. Metode yang dilakukan dalam pengambilan data menggunakan metode line transek kuadrat yang terdiri dari transek dan frame yang berbentuk kuadrat. Hasi dari penelitian ini menemukan kondisi atau tutupan lamun di stasiun I dengan rata-rata 10%, pada stasiun II 10,34%, dan pada stasiun III 11,25, dengan rata-rata persentase tutupan dari ketiga stasiun yaitu 10,53% dapat di simpulkan lamun di Perairan Desa Bulo dalam dikategorikan dalam kondisi miskin/jarang. jenis lamun yang di temukan Enhalus acoroides. Kata kunci: Desa Bulo, Kondisi, Lamun  
KONDISI PADANG LAMUN DI PANTAI TASIK OKI KECAMATAN KAUDITAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Manoppo, Toshiko M.; Sondak, Calvyn F.A.; Warouw, Veibe; Gerung, Grevo S.; Kumampung, , Deislie R.H.; Mangindaan, Remy E.P
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.60574

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang terdiri dari rhizoma, daun, akar, dan bunga sehingga membuat lamun dikategorikan sebagai tumbuhan tingkat tinggi. Lamun (seagrass) merupakan salah satu komponen ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi laut, termasuk sebagai habitat bagi berbagai biota. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis-jenis lamun dan menilai kondisi ekosistem padang lamun, dengan menghitung tutupan serta melihat kualitas parameter perairan. Metode yang digunakan yaitu survei jelajah dan line transek frame kuadrat. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 6 jenis lamun yaitu Halodule pinifolia, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Syringodium isoetifolium. Jenis lamun yang mendominasi di Pantai Tasik Oki ini adalah C. rotundata dengan nilai rata-rata tutupan sebesar 11,23%. Berdasarkan hasil perhitungan, transek 1 diperoleh nilai tutupan 19,33%, transek 2 dengan nilai tutupan 28,13% dan transek 3 dengan nilai tutupan 23,73% yang memperoleh nilai rata-rata tutupan lamun sebesar 23,73%. Berdasarkan nilai ini maka kondisi padang lamun di lokasi penelitian dikategorikan jarang/miskin. Kata kunci: padang lamun, identifikasi, kondisi, Pantai Tasik Oki
IDENTIFIKASI KOPEPODA DARI PERAIRAN BATU LUBANG, LEMBEH SELATAN, BITUNG Singon, Cristio; Rimper, Joice R.T.S.L; Warouw, Veibe; Rumengan, Antonius P.; Wullur, Stenly; Kemer, Kurniati
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.60829

Abstract

Pulau Lembeh merupakan bagian dari wilayah administratif Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Secara administratif, pulau ini terbagi menjadi dua kecamatan, yakni Kecamatan Lembeh Utara dan Kecamatan Lembeh Selatan. Masyarakat yang tinggal di Pulau Lembeh sangat bergantung pada transportasi laut, terutama kapal, untuk mendukung aktivitas sehari-hari mereka. Aktivitas-aktivitas tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, khususnya mengancam populasi plankton Plankton, organisme kecil yang hidup di perairan, memiliki peran penting dalam ekosistem perairan. Mengubah bahan anorganik menjadi organik dan memproduksi oksigen, serta menjadi indikator kualitas perairan. Informasi tentang plankton di Kawasan Perairan Batu Lubang Lembeh Selatan, Kota Bitung, masih terbatas, sehingga penelitian tentang inventarisasi jenis zooplankton perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 genus zooplankton dari kelas Copepoda di Perairan Batu Lubang Lembeh Selatan Bitung Perairan. Suhu rata-rata perairan berkisar antara 28,04°C hingga 28,59°C, yang normal untuk ekosistem perairan. Salinitas, yang juga penting bagi kehidupan plankton, berada dalam kisaran yang normal di stasiun penelitian. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang komposisi zooplankton dan kondisi lingkungan di Perairan Batu Lubang Lembeh Selatan Bitung, serta menyoroti pentingnya pemantauan terus-menerus terhadap kesehatan ekosistem perairan. Kata kunci: Zooplankton, Identifikasi, Lembeh, Plankton
Co-Authors Agung B. Windarto, Agung B. Alfret Luasunaung Angkouw, Esther Dellayani Angmalisang, Ping Astony Antonius P. Rumengan Antonius Rumengan Ari Berty Rondonuwu Billy Theodorus Wagey Boneka, Farnis B. Boneka Boneka, Farnis Bineada Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Cyska Lumenta Darus S. Paransa Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Elvy L Ginting Farnis B. Boneka Fitje F. Losung, Fitje F. Fitje Losung Frangky E. Kaparang Ginting, Elvy Like Grevo S Gerung Henky Manoppo Henneke Pangkey Hidayat, Andre Alfian Indri Manembu Janny D. Kusen Johnny Budiman Joice R.T.S.L Rimper Joshian N.W. Schaduw Kalebos, Roosa C. Kaligis, Erly Yosef Kreckhoff, Reni L. Kumampung, , Deislie R.H. Kumampung, Deislie R.H Kumampung, Deislie R.H. Kurniati Kemer Kusumaningrum, Arianda Lasut, Astrid Y. Lindon R Pane Lintang, Rosita A.J. Lumingas, Lawrence L.J. Mahmud, Maudy Rusmini Mamangkey, Noldy Gustaf Frans Mamuaja, Jane M. Mangangkung, Nazarrian Mangindaan, Remy Mangindaan, Remy Emile Petrus Manoppo, Lefran Manoppo, Toshiko M. Mantiri, Desy M. H Maramis, Regina U. Markus T. Lasut Medy Ompi Mokolensang, Jeffrie Mokolensang, Jeffrie F. Mokosuli, Febrianty Dhea Molle, Ben Arther Monijung, Revol Dulles Natalie D Rumampuk Ngangi, Edwin Leonardo Apolonio Nowin, Edgar Ockstan Kalesaran Pane, Lindon R. Pangalila, Novelia M.A. Pangkey, Henneke D. Paransa, Darus Sa'adah Paransa, Darus Sa’adah Johanis Paulus, James Pesoth, Christianto R. T. D. Maramis Ramadan, Febrian Reiny A. Tumbol Remy E. P Mangindaan Rimper, Abraham M. Rimper, Joice R. T. S. L . Rizal W Suleman Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Rumampuk, Natalie D.C Rumampuk, Natalie Detty C Rumampuk, Natalie Detty C. Rumengan, Inneke Fenny Salaki, Meiske S. Salawati, Vellysa Friendly Saragih, Hans S. R. P. Sembiring, Sindiy Cloudya Silvana Dinaintang Harikedua Silvester B Pratasik Singon, Cristio Sirri, Yolanda Stenly Wullur Sumual, Sarah S. Sundah, Geraldo Thimoty Tuliabu, Nelda Tulung, Rezykita Tuyu, Adel M. Undap, Suzanne J Undap, Suzanne Lydia Wilhelmina Patty Wilmy E Pelle