Sri Kayati Widyastuti
Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar Bali

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Kasus: Terapi Kombinasi Cefodroxil, Dexamethasone, dan Aminophylline Pada Kucing Lokal Yang Menderita Bronkopneumonia Syarif Lalu Hidayatullah; Fatmawati Aras; I Nyoman Suartha; Sri Kayati Widyastuti; Hendro Sukoco; Annisa Putri Cahyani
Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian Vol 19, No 36 (2022): Desember
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppp.v19i36.888

Abstract

Penyakit bronkopneumonia pada hewan dapat menunjukkan gejala klinis yang berbeda-beda, dan seringkali   gejala  klinis   yang  terlihat  sering diabaikan   karena  terlihat  sepele. Tetapi, akan  sangat berbahaya  jika  mengabaikannya,  karena  perjalanan  penyakit  akan  terus berlangsung bila tanpa  dilakukan  pengobatan  yang tepat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi cefodroxil, dexamethasone, dan aminophylline pada kucing lokal yang menderita Bronkopneumonia. Penelitian ini menggunakan kucing jantan bernama itam, ras lokal, umur 5 tahun, bobot badan 3 kg, berwarna hitam. Adapun gejala yang timbul seperti bersin-bersin, batuk, hidung mengeluarkan leleran bening, mata terlihat mengeluarkan leleran/belekan serta nafsu makan menurun. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi pernapasan mengalami peningkatan, terdengar suara berisik saat inspirasi dan terdengar suara stidor pada saat diauskultasi pada bagian thoraks, pada pemeriksaan x-ray ditemukan ada bercak– bercak putih pada bagian paru-paru. Hasil pemeriksaan pada kasus kucing item terdiagnosa bronkopneumonia. Pengobatan yang diberikan bersifat simptomatis dan supportif yaitu cefodroxil, antiradang dexamethasone 4mg per oral, serta aminophylline 4mg per oral, diberikan selama 5 hari. Kucing juga dilakukan pemberian Vit B-kompleks. Kucing menunjukkan adanya kesembuhan setelah pemberian terapi. 
Laporan Kasus: Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata linn) sebagai Terapi Herbal terhadap Penyakit Demodekosis pada Anjing Pomeranian Wardani, Fahrisa Amalia; Anthara, Made Suma; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.668

Abstract

Demodekosis merupakan salah satu jenis penyakit kulit pada anjing yang disebabkan oleh parasit tungau demodex. Penyakit pada anjing bisa didapat dari faktor keturunan (herediter) dan penyakit yang diperoleh dari luar, misalkan disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Demodex sp. Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea hewan dengan memakan sebum serta debris (runtuhan sel) epidermis. Pengobatan pada penyakit demodekosis sampai saat ini masih menggunakan obat-obatan kimia seperti ivermectin, doramectin, moxidectin, amitraz, dan sampo sulfur. Obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang berbahaya, karena penggunaan obat-obatan ini secara terus menerus dapat menimbulkan efek resistensi sehingga terjadi efek samping yang tidak diharapkan. Hewan kasus adalah anjing ras peranakan pomeranian bernama Kukis, berjenis kelamin jantan, berumur tiga bulan, dengan bobot badan 2,05 kg mengalami gatal-gatal. Anjing Kukis dibawa ke Rumah Sakit Hewan Universitas Udayana Sesetan, Kota Denpasar dengan keluhan sering menggaruk tubuhnya selama satu bulan belakangan ini. Awal mula anjing mengalami gatal-gatal pada bagian abdomen kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya anjing mengalami alopesia pada kepala, abdomen, dan punggung, krusta pada kepala, kaki dan punggung, serta scale dan eritema pada seluruh tubuh. Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat-obatan herbal yang terbuat dari ekstrak daun sirsak. kemudian dilakukan pemberian obat suportif berupa multivitamin Nutriplus gel® selama lima minggu. Hasil terapi selama lima minggu menunjukkan struktur kulit membaik, rambut pada badan, leher, punggung, dan kaki mulai tumbuh serta scale, krusta, eritema mulai berkurang dan masih memerlukan perawatan lanjutan.
Laporan Kasus: Otitis Eksterna Bilateral karena Infeksi Otodectes cynotis pada Kucing Persia Saputra, I Nyoman Dwi Eka; Widyastuti, Sri Kayati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.745

Abstract

Otitis adalah peradangan yang terjadi pada saluran telinga. Otitis eksterna adalah peradangan pada saluran eksternal telinga, di luar gendang telinga (membran timpanika). Hewan kasus adalah kucing persia dengan jenis kelamin jantan berumur 20 bulan dan memiliki bobot badan 3,4 kg. Kucing kasus datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan kondisi sering memiringkan kepala ke sebelah kiri sejak tiga bulan yang lalu dan sering menggaruk telinga. Pada pemeriksaan klinis, telinga kucing kasus secara inspeksi terdapat serumen pada saluran telinga kanan dan kiri. Serumen berwarna kecokelatan dan berbau khas serumen telinga yang sangat menyengat. Pemeriksaan secara palpasi pada telinga kiri terdengar suara krepitasi. Pada pemeriksaan penunjang dilakukan swab serumen telinga kanan dan kiri diperiksa di bawah mikroskop cahaya dan menunjukkan kucing terinfeksi tungau Otodectes cynotis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosis mengalami otitis eksterna bilateral. Terapi kausatif diberikan dengan obat tetes telinga yang mengandung kombinasi ivermectin dan chloramphenicol dengan pemberian sebanyak dua tetes setiap dua kali sehari pada telinga kiri dan kanan selama tujuh hari. Hasil setelah dilakukan pengobatan selama tujuh hari menunjukkan perubahan pada kondisi kucing kasus. Setelah dievaluasi dari gejala klinis kucing yang berjalan dengan kepala miring ke kiri sudah semakin membaik dibandingkan sebelum dilakukan pengobatan dan tingkat pruritus pada kucing kasus semakin berkurang.
Laporan Kasus: Infeksi Cacing Strongyloides pada Kucing Peliharaan arsa, kadek adya; Erawan, I Gusti Made Krisna; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.364

Abstract

Strongyloidiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing nematoda Strongyloides sp. Hewan kasus adalah kucing peliharaan berjenis kelamin betina, berumur tujuh bulan, dengan bobot badan 2,24 kg. Kucing kasus mengalami diare selama satu minggu setelah dua minggu dipelihara yang disertai dengan penurunan nafsu makan. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan gejala dehidrasi, lemas, mukosa mulut dan mata pucat, serta pembesaran pada abdomen. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur cacing Strongyloides sp.. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis. Kucing kasus didiagnosis menderita Strongyloidiasis. Penanganan kucing kasus dilakukan dengan diberikan antiparasit ivermectin 0,2 mg/kg BB, terapi suportif dengan cyanocobalamin 250 mcg/ kg BB secara intramuskuler dan diulang dua hari sekali. Hasil pengobatan selama satu minggu menunjukkan perkembangan yang baik ditandai dengan kucing kasus sudah tidak mengalami diare, capillary refill time (CRT) kurang dari 2 detik, turgor kulit normal, mukosa mulut dan mata berwarna merah muda, serta abdomen kembali normal. Pemeriksaan feses kembali dilakukan setelah satu minggu pengobatan sebagai evaluasi. Pemeriksaan feses dilakukan dengan metode natif dan tidak ditemukan telur cacing Strongyloides sp. Untuk mencegah terjadinya infeksi kembali disarankan untuk memberikan obat cacing secara berkala setiap tiga bulan sekali. Perbaikan nutrisi perlu dilakukan dengan memberikan pakan yang baik serta lingkungan yang lebih nyaman.
Sindrom Pernapasan Akut Parah Akibat Infeksi Virus Corona-2 (Sars Cov-2) pada Kucing Bengal Puri Prihatiningsih, Nur Liliana; Sri Kayati Widyastuti; I Wayan Batan
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.26-33

Abstract

Sindrom pernapasan akut yang parah coronavirus-2 (SARS CoV-2) adalah agen etiologi covid-19 merupakan agen jenis baru yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi pada manusia atau hewan, juga tidak terkait dengan virus corona kucing (FCoV) yang umum terjadi terkait dengan infeksi peritonitis kucing. Seekor kucing bengal betina steril bernama Inka berumur 8 tahun 7 bulan dengan bobot 5,45 kg dibawa ke klinik dengan keadaan terdapat luka terbuka di dekat anus dan ekor. Setelah 5 hari perawatan di klinik, kucing mengalami gejala bersin, batuk, adanya leleran pada mata, dan juga terdapat perubahan pada konsistensi feses. Pemeriksaan hematologi rutin ditemukan peningkatan jumlah total leukosit dan neutrofil serta penurunan platelet. Pada pemeriksaan biokimia darah ditemukan kenaikan aktiva Alanine Aminotransferase. Hasil pemeriksaan rapid tes antigen dan Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction menunjukkan kucing positif SARS Cov-2. Berdasarkan anamesis, gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris kucing didiagnosis SARS Cov-2. Penanganan yang dilakukan dengan memberikan nebulasi Ventolin® sebanyak 1,25mL, Pulmicort® sebanyak tiga tetes, dan gentamycin 0,1 mL. Kucing mengalami perbaikan klinis pada hari ke-21 dan dinyatakan sembuh dari SARS Cov-2 pada hari ke-32.
Pneumonia Karena Migrasi Larva Toxocara sp.dan Ancylostoma sp. pada Kucing Domestik Br Sitepu, Dinda Meilinda; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Widyastuti, Sri Kayati
Jurnal Veteriner Nusantara Vol 8 No 2 (2025): Agustus, 2025
Publisher : Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jvn.v8i2.23270

Abstract

A 2-year-old domestic cat named Simba presented with respiratory symptoms, including coughing and nasal discharge containing serous exudate. Additionally, the cat exhibited abdominal enlargement. During the physical examination, palpation of the trachea triggered a coughing reflex, and the cat appeared to be attempting to expel something from its throat. Fecal examination revealed the presence of Toxocara sp. and Ancylostoma sp. eggs. A routine hematology test showed leukocytosis, lymphocytosis, monocytosis, granulocytopenia. The cat was diagnosed with pneumonia caused by the migration of Toxocara sp. and Ancylostoma sp. larvae.Treatment was given with Pyrantel pamoate (Combantrin®) 125 mg/tab with a dose of 40 mg (1/3 tab) orally once a week for two weeks, repeating depending on the severity, Amoxyclav antibiotic 625 mg/tab with a dose of 64 mg (1/10) orally twice a day for 7 days, and fish oil (Tung-hai Fish Liver Oil®) orally one soft gel per day for 7 days. An evaluation on the seventh day showed that the cat’s condition had improved.
Malasseziosis dan otitis eksterna bersamaan pada seekor pug senior Adiari, Ni Made Santi Rahayu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Widyastuti, Sri Kayati
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 3 (2025): ARSHI Veterinary Letters - August 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.3.71-72

Abstract

Dermatitis is a common skin disorder in dogs, caused by a variety of factors including fungi, ectoparasites, bacteria, and metabolic diseases. This case report describes a 7-year-old male pug with dermatitis associated with Malassezia infection and concurrent otitis externa caused by bacterial and Malassezia infections. The dog exhibited clinical signs, including pruritus, erythema, scaling, hyperpigmentation, lichenification, malodor, oily coat, and wet, malodorous ear discharge. Cytological analysis of skin and ear samples, performed using acetate tape preparation and otic swabs, revealed the presence of Malassezia yeast and cocci-shaped bacteria. Hematological evaluation revealed normocytic normochromic anemia. Based on these findings, the dog was diagnosed with Malasseziosis and bacterial-Malassezia otitis externa. A comprehensive therapeutic regimen was implemented, including oral antifungal ketoconazole, sebazole shampoo, oticon ear drops, anti-inflammatory methylprednisolone, antihistamine chlorpheniramine maleate, and supportive supplementation with multivitamins (Livron B-plex) and fish oil. After 21 days of treatment, significant clinical improvement was observed, demonstrating the efficacy of this multimodal therapeutic approach.
A Case Report: Myxomatous Mitral Valve Disease in a Shih Tzu Sheren; Arjentinia , I Putu Yudhi; Widyastuti, Sri Kayati
Media Kedokteran Hewan Vol. 35 No. 3 (2024): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v35i3.2024.294-303

Abstract

Myxomatous Mitral Valve Disease (MMVD) is a degenerative condition of the mitral valve where it weakens and causes regurgitation, eventually leading to cardiac remodeling. Jason, a seven-year-old male Shih Tzu weighing 7.5 kg, was presented with a persistent cough and exercise intolerance lasting over a month. A physical examination revealed a Grade II/VI heart murmur. Radiography and echocardiography were performed as part of the laboratory examinations. Radiography demonstrated cardiac remodeling, with a VHS of 10.3 viscerocranial, an intercostal space of 3, and a VLAS of 2.3. Echocardiography unveiled left atrial enlargement, mitral valve regurgitation, and a reduction in heart function. The dog was treated with Pimobendan (Cardisure® 10mg, Dechra, England) as an inodilatator at 0.25mg, Enalapril Maleate 0.5mg/kg (Tenace® 5mg, Combiphar, Indonesia), and furosemide (Farsix® 40mg, Fahrenheit, Indonesia) at 2 mg/kg via oral route twice a day over the course of seven days. Thereafter, the dose was reduced to 1.5 mg/kg PO twice a day for seven days, and eventually once a day for the remainder of the seven days. Following the three-week treatment, there was a significant reduction in the frequency and intensity of coughing.
Canine Parvoviral Enteritis in a Five Month Old Golden Retriever Wulandari, Chitra Dwi; Widyastuti, Sri Kayati; I Gede Soma
Journal of Applied Veterinary Science And Technology Vol. 6 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/javest.V6.I2.2025.173-177

Abstract

Background: Canine parvovirus (CPV) is a major cause of severe illness in dogs, particularly in unvaccinated puppies. The virus spreads rapidly and often leads to acute gastrointestinal disease with high morbidity and mortality. Purpose:  This case report describes the diagnosis and management of canine parvoviral enteritis in a young dog that presented with early clinical signs of infection. Case(s): A five-month-old female Golden Retriever named Golden, weighing 7.65 kg and light brown in color, was presented with a two-day history of anorexia, repeated vomiting (approximately five times per day), and bloody diarrhea. On physical examination, the patient was moderately dehydrated, with pale mucous membranes, delayed capillary refill time (>2 seconds), reduced skin turgor, and elevated heart and respiratory rates. Fecal examination revealed no intestinal parasites. Hematological analysis showed normocytic normochromic anemia, lymphocytosis, neutropenia, and thrombocytopenia. A rapid CPV antigen test confirmed the diagnosis of parvoviral infection. Based on the clinical and laboratory findings, the dog was diagnosed with canine parvoviral enteritis. Case Management: Treatment focused on supportive and symptomatic care. Cefotaxime (20 mg/kg body weight) was administered intravenously twice daily for five days to prevent secondary bacterial infection. To control vomiting, metoclopramide HCl (0.5 mg/kg body weight) was given intravenously. Supportive therapy included intravenous fluids (lactated Ringer’s solution) and vitamin B-complex supplementation. Conclusion:  The patient showed marked clinical improvement, including normalization of vital parameters, restoration of appetite and activity, and cessation of vomiting and diarrhea. The dog was considered clinically recovered at the end of the treatment period.
Penanganan Bronkitis Kronis Disertai Skabiosis dan Infestasi Kutu pada Kucing Domestik Vonny, Ni Ketut; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Widyastuti, Sri Kayati
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol. 15 No. 2 (2025): VITEK-Bidang Kedokteran Hewan
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/5nwpzs79

Abstract

Chronic bronchitis is common in cats, characterized by chronic neutrophilic inflammation of the bronchi and coughing and sneezing for more than two months. Cats can also be infected with ectoparasites such as fleas and mites. This article aims to provide information on the management of chronic bronchitis with symptomatic therapy through nebulization. A 1-year-old male domestic cat, weighing 2.15 kg, presented with a 3-month history of sneezing with mucopurulent nasal discharge, stridor, dry rales, and erythematous lesions, crusting, and alopecia on the ears. Hematologic examination indicated leukocytosis, lymphocytosis, and thrombocytopenia. A chest radiograph revealed a bronchial pattern and cytology of the nasal discharge revealed coccobacillus bacteria. Deep skin scrapings and flea combing identified Notoedres sp. and Felicola subrostratus. The cat was diagnosed with chronic bronchitis with scabies and fleas, with a favorable prognosis. Oral therapy with amoxiclav and methylprednisolone, and inhaled salbutamol. Spot-on therapy with fipronil and (s)-metophrene and 6% sulfur for ectoparasites, as well as Livron B-Plex® and fish oil. On the fourteenth day, clinical and laboratory evaluations showed recovery, while platelet counts returned to normal thirty days after therapy. Cats should be monitored regularly, their vitamin and mineral needs met, and vaccinations administered.
Co-Authors Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Achoiro Wati Rasid Adiari, Ni Made Santi Rahayu Aditya Pratanto Ahmad Rohmadhon Holifatullah Aida Lousie Tenden Rompis Ainaya Luthfi Anindya Aldiansyah, Bagus Amar Wira Anak Agung Mas Putrawati Triningrat Anak Agung Sagung Kendran Anggi Windo Marta, Anggi Windo Annisa Budiani Annisa Putri Cahyani Areningrat, Putu Ayutia Aribawa, I Nyoman Bagus Tri Arjentinia , I Putu Yudhi arsa, kadek adya Aryana, Carissa Saraswati Putri Aufa Prasetia, Ryan Ayu Fitriani Azmil Umur, Azmil Baiq Yunita Arisandi Bambang Pontjo Priosoeryanto Br Sitepu, Dinda Meilinda Brainna Kirayna Ginting Brigitta Cynthia Sida Pello, Brigitta Cynthia Budhy Jasa Widyananta Calista, Ruli Mauludina Djaya Putri Calvin Iffandi Calvin Iffandi Calvin Iffandi Dewa Ayu Dwita Karmi Dewi, Ida Ayu Dian Kusuma Dewi, Ni Made Anindya Kumala Diana Mustikawati Drevani Angelika Sachio Dumayanti, Jeanni DWI SURYANTO Ekklesia Prasetya El vira ERMITA TINTING BUNTU Eva Candra Ardia, Eva Candra Evi Marieti Hutagalung Fathiyah, Fitri Dewi Fatmawati Aras Febriyani R R Telnoni, Febriyani R R Fedri Rell Fransiska Septanila Pratiwi, Fransiska Septanila G Semiadi Gurning, Santri Devita Sari Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi Gusti Ayu Yuniati Kencana Handojo, Chindi Meilina Herbert . Herbert . Humaira, Sarah I Gede Galyes Pranadinata I Gede Made Andy Pratama I Gede Soma I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Putu Suka Aryana I Ketut Berata I Ketut Suatha I Made Kardena I Made Kerta Pratama I Made Mahaputra I Made Suma Anthara i Nengah Wandia I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Sudiarta I Wayan Batan I Wayan Batan I Wayan Puspa Ari Laxmi I. N. Astika I.D. G.A.E. Putra Ida Ayu Pasti Apsari Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Krisna Pradnyadana Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Oka Winaya Ida Bagus Putu Putrawan Ikin Mansjoer Imam Sobari imam sobari Iwan Harjono Utama Iwan Harjono Utama Juli Yanti, Juli Kadek Karang Agustina Kartikasari, Citra Dewi Ketut Berata Loa, Gabriella Jenni Alfades Lopes, Yoseph Adedoni Tola Made Suma Anthara Made Suma Anthara Made Suma Anthara Mahardika, Kadek Muhamad Rifaid Aminy N iMade Sutari Dewi N. K.S. Diniari Nggaba, Erlin Ni Kadek Nila Pridayanti Ni Ketut Rai Purnami Ni Luh Eka Setiasih Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Listyawati Palgunadi Nikmatur rayan Nindya Kusumawati Nirhayu, Nirhayu NURI DWI YUDARINI Nurul Faiziah Nurul Faiziah Pamungkas, Pandu Adjie Pappa, Suryadi Paramita, Ni Made Diana Pradnya Pero, Fransisco Victoriano Pratiwi, Zulva Hanif Prawira, Satria Yuda Purba, Dody Joel Puri Prihatiningsih, Nur Liliana Purwitasari, Made Santi Putri Virgania Putu Ayu Sisyawati Putriningsih R Taufiq P Nugraha R. A.T. Kuswardhani RACHEL YUNIAR CHRISTY Raden Putratama Agus Lelana Rasdiyanah . Rasdiyanah . Reni, Ida Yuni Erdia Risha Catra Pradhany Robertino Ikalinus, Robertino Rukisti, Eniza Rumpaisum, Natalia Irene Ryan Aufa Prasetia Saputra, I Nyoman Dwi Eka Sembiring, Messy Saputri Senja, Naomi Orima Septianingsih, Ni Luh Putu Diah Sheren Sherliyanti Maria Sene Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha Siswahyudianto Sri Milfa Sri Milfa Stanislaus Valens Miten Larantukan Sukoco, Hendro Syarif Lalu Hidayatullah Tjokorda Sari Nindhia Tonny Ungerer Tri Wahyudi Tyas Pandieka Yoga TYAS RETNO Vonny, Ni Ketut WAODE SANTA MONICA Wardani, Fahrisa Amalia Widarta Dwi Kusuma Widyasanti, Ni Wayan Helpina Winardi, Rian Wirdateti Wirdateti Wulandari, Chitra Dwi Yanne Yanse Rumlaklak Yennifer Yulianto Yulianto Yunita Lestyorini Yunita Lestyorini Zaidany Alfanandyah, Zaidany