Sri Kayati Widyastuti
Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar Bali

Published : 84 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Kasus: Paralisis pada Anjing Shih-tzu yang Diduga Terinfeksi Virus Distemper Anjing Gurning, Santri Devita Sari; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.657 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.34

Abstract

Canine Distemper Virus (CDV) merupakan virus RNA beramplop, genus Morbilivirus dari famili Paramyxoviridae. Anjing Shih-tzu yang dijadikan kasus berumur dua tahun, dilaporkan mengalami kelumpuhan sejak dua bulan yang lalu. Anjing pernah didiagnosis CDV dengan gejala letargi, anoreksia, demam, batuk, keluar eksudat berlebih dari hidung dan mata. Anjing tahan terhadap infeksi awal CDV, dan beberapa minggu setelah infeksi, anjing menunjukkan gejala saraf. Berdasarkan riwayat penyakit, tanda klinis dan pemeriksaan darah anjing kasus terindikasi mengalami leukopenia, limfopenia, dan anemia, hewan kasus didiagnosis mengalami paralisis akibat ikutan penyakit distemper anjing. Terapi yang diberikan berupa terapi simptomatis dan supportif dengan pemberian infus NaCl fisiologis sebanyak 870 ml/hari selama 3 hari, injeksi Neurotropic® dengan dosis 0,5 ml sekali pemberian, injeksi Amoxycillin 10% dosis 0,5 ml sekali pemberian, serta antibiotik tabur (Enbatic®) yang ditaburkan pada kulit yang mengalami ulserasi sekali sehari sampai sembuh. Anjing dievaluasi tujuh hari kemudian dan tidak ditemukan tanda-tanda pemulihan dari gejala saraf namun kulit yang mengalami ulserasi terlihat membaik. Evaluasi dihari ke-14 juga tidak banyak perubahan, bekas ulserasi kulit yang tampak memudar. Pada hari ke-28 hewan beberapa kali mengalami epistaksis kemudian mati di hari berikutnya.
Keragaman Genetik Populasi Monyet Ekor Panjang di Pura Pulaki menggunakan Marka Molekul Mikrosatelit D13s765 MONICA, WAODE SANTA; WANDIA, I NENGAH; WIDYASTUTI, SRI KAYATI
Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.497 KB)

Abstract

Keragaman genetik suatu populasi dapat memberi petunjuk mengenai keadaan populasi di masa mendatang. Variabilitas genetik suatu populasi dapat diamati pada tingkat protein (isoenzim) dan tingkat DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Pada tingkat DNA, variabilitas genetik populasi dapat diungkap dengan menggunakan marka molekul mikrosatelit.Pada saat ini, DNA mikrosatelit banyak digunakan sebagai marka molekul untuk mempelajari variasi genetik. DNA mikrosatelit merupakan rangkaian molekul DNA pendek yang susunan basanya berulang dan terdapat melimpah dalam genom eukariot. Penelitian ini menggunakan satu lokus mikrosatelit yakni D13S765 untuk mengkaji variabilitas genetik populasi monyet ekor panjang di Pura Pulaki yang meliputi jumlah alel, nilai frekuensi alel dan nilai heterozigositas. Sejumlah 12 sampel darah dikoleksi sebagai sumber DNA. DNA total diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D13S765 diamplifikasi dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). PCR dilakukan sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 540C. Alel dipisahkan secara elektroforesis pada gel poliakrilamid 7 % dan alel dimunculkan dengan pewarnaan perak (silver staining).Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah 6 alel ditemukan pada lokus D13S765 di populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki dengan panjang alel berkisar 238-258 panjang basa. Frekuensi alel bervariasi, alel 254 (0,38) memiliki frekuensi tertinggi disusul alel 250 (0,21), alel 258 (0,21), alel 242 (0,12), alel 246 (0,04) dan alel 238 (0,04). Heterozigositas populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki menggunakan lokus D13S765 sebesar h=0,78. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D13S765 bersifat polimorfik pada populasi monyet ekor panjang Pura Pulaki
Karakteristik Karang Gigi pada Kucing vira, El; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.926 KB)

Abstract

Penelitian observasional yang dilakukan terhadap 50 ekor kucing ras maupun lokal di Denpasar-Bali bertujuan untuk mengetahui keberadaan karang pada gigi. Pengamatan difokuskan pada: warna, ketebalan, serta predileksi karang gigi tersebut. Pengendalian kucing dilakukan secara fisik ataupun kimiawi. Mulut kucing dibuka untuk melihat keberadaan karang gigi. Hasil dicatat pada formulir pengamatan keberadaan karang gigi pada kucing. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya karang gigi warna kuning sampai coklat pada kucing yang berumur 2-4 tahun, sedangkan warna coklat tua sampai hitam dijumpai pada kucing berumur 3-7 tahun. Ketebalan karang gigi meningkat seiring dengan meningkatnya umur kucing kucing tersebut. Predileksi keberadaan plak dan karang tersebut di Caninus, Premolar 2, Premolar 3, Premolar 4¸ dan Molar 1. Dapat disimpulkan bahwa warna karang gigi yang didapat adalah kuning tua, coklat muda, coklat, coklat tua, dan hitam. Sementara dari ketebalan, kebanyakan kucing memiliki karang gigi yang tipis. Dan untuk predileksi, cenderung banyak pada Premolar terakhir dan Molar pertama
Studi Kasus : Babesiosis Pada Anjing Persilangan Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.983 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.79

Abstract

Babesiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Babesia sp dan didistribusi didalam sirkulasi darah. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh Babesia canis (subfilum: apicomplexa, ordo: piroplasmida, genus: babesia, spesies Babesia canine) yang diperantai oleh caplak (tick-borne) yaitu caplak-anjing coklat Rhipicephalus sanguineus sebagai vektor utama. Hasil pegamatan ditemukan kasus babesiosis pada anjing campuran pom dan peking, berjenis kelamin jantan usia 8 bulan di Denpasar, Bali. Tanda klinis yang tampak dari infeksi Babesia sp pada anjing kasus yaitu nafsu makan berkurang, haemoglobinuria dan terdapat eritema pada bagian abdomen. Pada hasil pemeriksaan darah lengkap didapatkan interpretasi bahwa anjing mengalami anemia normositik hiperkromik leukositosis, limfositosis, dan eosinophilia. Pemeriksaan ulas darah tipis teramati adanya agen Babesia. Anjing ini diterapi dengan pemberian Antibiotik clindamycin (10mg/kg BB, q: 12 jam, PO) dua kali sehari selama dua minggu, dan terapi suportif menggunakan livron B-pleks untuk meningkatkan daya tahan tubuh diberikan selama 7 hari. Hasil evaluasi terhadap anjing penderita menunjukan baha dalam waktu 4 hari nafsu makan hewan kasus sudah kembali normal dan memerlukan waktu 14 hari sampai menunjukan tanda-tanda perbaikan klinis.
Kelainan Bentuk Kuku Sapi Bali Kereman yang dipelihara di Tanah berdasarkan Jenis Kelamin Reni, Ida Yuni Erdia; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.47 KB)

Abstract

Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia yang cukup penting dan terdapat dalam jumlah besardengan wilayah penyebaran yang luas di Indonesia dan merupakan golongan hewan berkuku genap. Sapiyang kurang bergerak atau terus dikandangkan pada tanah lunak, kukunya cenderung akan cepat tumbuh.Bila dibiarkan, bagian kuku ini akan bertambah panjang, membengkok atau melebar keatas (Aladin).Tujuan dari di lakukanya penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk kelainan-kelainan apa saja yangterjadi pada kuku sapi bali kereman yang di pelihara di tanah lunak berdasarkan jenis kelamin. Objekdalam penelitian ini adalah 25 ekor sapi bali jantan dan 25 ekor sapi bali betina kereman yang di peliharapada tanah lunak. Pengambilan data di lakukan dengan cara observasi terhadap bentuk kelainan kuku sapibali kereman. Kelainan yang di temukan pada 25 ekor sapi bali kereman betina dan 25 ekor sapi balikereman jantan yang dipelihara di tanah lunak 100 % ditemukan bentuk abnormal / kuku panjang.Sedangkan Laminitis dan kuku busuk tidak ditemukan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa100 % ditemukan bentuk abnormal / kuku panjang. Langkah yang perlu dilakukan para peternak untukmengantisipasi terjadinya kuku panjang yaitu dengan melakukan pemotongan kuku sapi dan perawatanmanajemen kandang.
Keragaman Performa Reproduksi Babi Landrace Betina di Kabupaten Tabanan Bali Pero, Fransisco Victoriano; Nindhia, Tjokorda Sari; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.716 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.54

Abstract

Babi landrace menjadi pilihan pertama para peternak karena babi landrace memiliki rata-rata tingkat kelangsungan hidup tertinggi pasca proses penyapihan sehingga banyak digunakan sebagai indukan. Kabupaten Tabanan merupakan sentra peternakan babi di Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman performa reproduksi dan korelasi antar performa reproduksi dari babi landrace betina. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuisioner, data dianalisis dengan analisis faktor komponen utama, dengan 15 komponen variabel yang diambil berdasarkan rata-rata performa reproduksi yang biasanya terjadi. Hasil dari penelitian ini komponen performa reproduksi lama birahi memiliki keragaman paling kecil, sedangkan variabel yang memiliki keragaman yang paling besar adalah umur maksimal beranak. Umur maksimal kawin dan umur maksimal beranak mempunyai korelasi positif yang paling tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan keragaman serta korelasi antara komponen penampilan reproduksi babi landrace betina. Perlu dilakukan seleksi babi landrace betina terhadap performa reproduksi yang mempunyai keragaman yang tinggi, sosialisasi terhadap para peternak tentang performa reproduksi yang baik, penerapan manajemen peternakan babi landrace yang berhubungan dengan performa reproduksi serta seleksi terhadap umur maksimal beranak dan umur maksimal kawin yang memiliki keragaman besar untuk mengoptimalkan efisiensi reproduksi babi landrace betina.
Laporan Kasus: Luksasi Patella Medial pada Miniatur Pinscher Loa, Gabriella Jenni Alfades; Widyastuti, Sri Kayati; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.73 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.129

Abstract

Anjing pada kasus ini merupakan anjing ras miniatur pinscher berumur 3 tahun 6 bulan dan berjenis kelamin jantan. Anjing mengalami kepincangan dari 4 hari yang lalu, Pada pemeriksaan klinis teramati anjing beberapa kali mengangkat kaki belakang kiri ketika berjalan, berlari dan berdiri, anjing merespon sakit saat dipalpasi dan tidak ada krepitasi. Setelah dilakukan pemeriksaan radiologi teramati patella luksasi ke arah medial dari trochlear, deviasi medial dari tuberositas tibial, dan patella tidak melekat pada sulcus trochlear. Anjing kasus didiagnosa mengalami luksasi patella medial grade II. Berdasarkan pertimbangan tingkat luksasi patella dan derajat kepincangan yang ringan,maka diberikan terapi suportif berupa antiinflamasi non-steroid carprofen 2,2 mg/kg BB/hari selama 7 hari, suplemen untuk tulang dan sendi dengan dosis 1 cap/hari, fish oil dosis 1 kapsul/hari dan vitamin B1 50mg/ekor/hari, terapi fisik, perbaikan nutrisi dengan pakan diet rumahan, massage, dan edukasi ke pemilik untuk mengontrol berat badan anjing.
LAPORAN KASUS: HEMOBARTONELLA FELIS PADA KUCING LOKAL Purba, Dody Joel; Widyastuti, Sri Kayati; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.337 KB)

Abstract

Hemobartonella felis adalah bakteri intraseluler Gram negatif yang menyerang eritrosit kucing. Pada kucing kasus ditemukan adanya pinjal (Ctenocephalides felis) yang diduga menjadi vektor dari infeksi Hemobartonella felis. Hasil pemeriksaan klinis pada kucing menunjukkan gejala demam, lemas, mukosa mata dan mulut pucat, penurunan nafsu makan dan minum, serta saat berjalan terkadang terlihat sempoyongan. Pemeriksan darah rutin menunjukkan bahwa kucing mengalami anemia makrositik hipokromik disertai dengan trombositopenia. Pada pemeriksaan preparat ulas darah ditemukan adanya bentukan seperti batang pada eritrosit kucing yang menandakan hasil positif Hemobartonella felis. Terapi yang diberikan yaitu terapi kausatif berupa pemberian antibiotik doksisiklin (5 mg/kgBB, selama 28 hari), terapi simtomatis dengan moxidectin satu tube, terapi suportif diberikan infus ringer laktat, dan pemberian vitamin cyanocobalamin, vitamin C, Fe, asam folat, dengan terapi ini diperoleh hasil yang memuaskan. Kucing sudah mulai aktif bermain, nafsu makan meningkat, warna mukosa merah muda dan suhu tubuh sudah kembali normal.
Laporan Kasus: Hemobartonella felis pada Kucing Lokal Purba, Dody Joel; Widyastuti, Sri Kayati; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.157

Abstract

Hemobartonella felis adalah bakteri intraseluler Gram negatif yang menyerang eritrosit kucing. Pada kucing kasus ditemukan adanya pinjal (Ctenocephalides felis) yang diduga menjadi vektor dari infeksi Hemobartonella felis. Hasil pemeriksaan klinis pada kucing menunjukkan gejala demam, lemas, mukosa mata dan mulut pucat, penurunan nafsu makan dan minum, serta saat berjalan terkadang terlihat sempoyongan. Pemeriksan darah rutin menunjukkan bahwa kucing mengalami anemia makrositik hipokromik disertai dengan trombositopenia. Pada pemeriksaan preparat ulas darah ditemukan adanya bentukan seperti batang pada eritrosit kucing yang menandakan hasil positif Hemobartonella felis. Terapi yang diberikan yaitu terapi kausatif berupa pemberian antibiotik doksisiklin (5 mg/kgBB, selama 28 hari), terapi simtomatis dengan moxidectin satu tube, terapi suportif diberikan infus ringer laktat, dan pemberian vitamin cyanocobalamin, vitamin C, Fe, asam folat, dengan terapi ini diperoleh hasil yang memuaskan. Kucing sudah mulai aktif bermain, nafsu makan meningkat, warna mukosa merah muda dan suhu tubuh sudah kembali normal.
Kadar Protein Total Serum Sapi Bali Betina di Sentra Pembibitan Sapi Bali Desa Sobangan, Badung Senja, Naomi Orima; Widyastuti, Sri Kayati; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.502

Abstract

Protein total merupakan semua jenis protein yang terdapat di dalam darah, komponennya tersusun atas albumin, globulin, dan beberapa protein lain dalam jumlah yang lebih sedikit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein total sapi bali betina dewasa yang tidak bunting, agar dapat dijadikan evaluasi pemeriksaan berbagai kondisi fisik dan subklinis. Sampel darah diperoleh dari 11 ekor sapi bali betina dewasa, berusia 2 tahun dengan kondisi sehat secara klinis dan tidak bunting. Sampel diuji menggunakan metode otomatis dengan prinsip refraktometer menggunakan gelombang cahaya dengan panjang gelombang 564 nm. Protein total yang diperoleh dari sampel yang telah diperiksa adalah dengan kadar protein terendah 6,34 g/dL dan hasil tertinggi 7,55 g/dL dengan rata-rata 7,22 g/dL. Hasil tersebut terhitung lebih rendah daripada sapi ras lain seperti Friesian Holstein (FH), Peranakan Ongole (PO), dan Brahman. Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kadar total protein, diantaranya pakan dan ras sapi, sehingga evaluasi pada sistem peternakan dapat dilakukan.
Co-Authors Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Achoiro Wati Rasid Adiari, Ni Made Santi Rahayu Aditya Pratanto Ahmad Rohmadhon Holifatullah Aida Lousie Tenden Rompis Ainaya Luthfi Anindya Aldiansyah, Bagus Amar Wira Anak Agung Mas Putrawati Triningrat Anak Agung Sagung Kendran Anggi Windo Marta, Anggi Windo Annisa Budiani Annisa Putri Cahyani Areningrat, Putu Ayutia Arjentinia , I Putu Yudhi arsa, kadek adya Aryana, Carissa Saraswati Putri Aufa Prasetia, Ryan Ayu Fitriani Azmil Umur, Azmil Baiq Yunita Arisandi Bambang Pontjo Priosoeryanto Br Sitepu, Dinda Meilinda Brainna Kirayna Ginting Brigitta Cynthia Sida Pello, Brigitta Cynthia Budhy Jasa Widyananta Calista, Ruli Mauludina Djaya Putri Calvin Iffandi Calvin Iffandi Calvin Iffandi Dewa Ayu Dwita Karmi Dewi, Ni Made Anindya Kumala Diana Mustikawati Drevani Angelika Sachio Dumayanti, Jeanni DWI SURYANTO Ekklesia Prasetya El vira ERMITA TINTING BUNTU Eva Candra Ardia, Eva Candra Evi Marieti Hutagalung Fathiyah, Fitri Dewi Fatmawati Aras Febriyani R R Telnoni, Febriyani R R Fedri Rell Fransiska Septanila Pratiwi, Fransiska Septanila G Semiadi Gurning, Santri Devita Sari Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi Gusti Ayu Yuniati Kencana Handojo, Chindi Meilina Herbert . Herbert . Humaira, Sarah I Gede Galyes Pranadinata I Gede Made Andy Pratama I Gede Soma I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Putu Suka Aryana I Ketut Berata I Ketut Suatha I Made Kardena I Made Kerta Pratama I Made Mahaputra I Made Suma Anthara i Nengah Wandia I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Sudiarta I Wayan Batan I Wayan Batan I Wayan Puspa Ari Laxmi I. N. Astika I.D. G.A.E. Putra Ida Ayu Pasti Apsari Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Krisna Pradnyadana Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Oka Winaya Ida Bagus Putu Putrawan Ikin Mansjoer imam sobari Imam Sobari Iwan Harjono Utama Iwan Harjono Utama Juli Yanti, Juli Kadek Karang Agustina Kartikasari, Citra Dewi Ketut Berata Loa, Gabriella Jenni Alfades Lopes, Yoseph Adedoni Tola Made Suma Anthara Made Suma Anthara Made Suma Anthara Muhamad Rifaid Aminy N iMade Sutari Dewi N. K.S. Diniari Nggaba, Erlin Ni Kadek Nila Pridayanti Ni Ketut Rai Purnami Ni Luh Eka Setiasih Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Listyawati Palgunadi Nikmatur rayan Nindya Kusumawati Nirhayu, Nirhayu NURI DWI YUDARINI Nurul Faiziah Nurul Faiziah Pamungkas, Pandu Adjie Pappa, Suryadi Paramita, Ni Made Diana Pradnya Pero, Fransisco Victoriano Pratiwi, Zulva Hanif Prawira, Satria Yuda Purba, Dody Joel Puri Prihatiningsih, Nur Liliana Purwitasari, Made Santi Putri Virgania Putu Ayu Sisyawati Putriningsih R Taufiq P Nugraha R. A.T. Kuswardhani RACHEL YUNIAR CHRISTY Raden Putratama Agus Lelana Rasdiyanah . Rasdiyanah . Reni, Ida Yuni Erdia Risha Catra Pradhany Robertino Ikalinus, Robertino Rukisti, Eniza Rumpaisum, Natalia Irene Ryan Aufa Prasetia Saputra, I Nyoman Dwi Eka Sembiring, Messy Saputri Senja, Naomi Orima Septianingsih, Ni Luh Putu Diah Sheren Sherliyanti Maria Sene Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha Sri Milfa Sri Milfa Stanislaus Valens Miten Larantukan Sukoco, Hendro Syarif Lalu Hidayatullah Tjokorda Sari Nindhia Tonny Ungerer Tri Wahyudi Tyas Pandieka Yoga TYAS RETNO Vonny, Ni Ketut WAODE SANTA MONICA Wardani, Fahrisa Amalia Widarta Dwi Kusuma Widyasanti, Ni Wayan Helpina Winardi, Rian Wirdateti Wirdateti Wulandari, Chitra Dwi Yanne Yanse Rumlaklak Yulianto Yulianto Yunita Lestyorini Yunita Lestyorini Zaidany Alfanandyah, Zaidany