Claim Missing Document
Check
Articles

AKSESIBILITAS PEJALAN KAKI BERDASARKAN GREENSHIP KAWASAN DI NAVAPARK Sitoresmi, Rurin; Winandari, Maria Immaculata Ririk
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i2.001

Abstract

Mencapai net zero pada tahun 2050 sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi CO2. Salah satu pendekatan berkelanjutan adalah meningkatkan aksesibilitas pejalan kaki guna mendorong aktivitas berjalan yang lebih aman dan nyaman. Studi ini mengeksplorasi aksesibilitas pejalan kaki di perumahan formal berdasarkan standar Greenship Kawasan, dengan Perumahan Navapark di Tangerang sebuah proyek berperingkat platinum sebagai studi kasus. Penelitian ini menelaah pola kegiatan dan kriteria aksesibilitas. Temuan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara standar Greenship dan peraturan yang berlaku di Indonesia, yang sebagian besar disebabkan oleh acuan Greenship terhadap American Disabilities Act tahun 1990. Diperlukan penyesuaian agar sesuai dengan aturan lokal, termasuk lebar jalan, penyediaan rambu, jalur pemandu, serta fasilitas pejalan kaki yang aman dan nyaman.
PENGARUH MASSA BANGUNAN DAN POLA PEMBAYANGAN SEBAGAI DAMPAK PEMBANGUNAN GEDUNG BARU TERHADAP PELESTARIAN CAGAR BUDAYA NIAS Nelly Fatmawati, Teungku; Wijayanto, Punto; Immaculata Ririk Winandari, Maria; Nur Lailika, Alfiani
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i2.002

Abstract

Pembangunan gedung baru di kawasan cagar budaya dapat menimbulkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan modernisasi dan pelestarian warisan sejarah. Penelitian ini mengkaji dampak pembangunan Gedung Health Science Universitas Airlangga terhadap Gedung NIAS, yang merupakan bangunan cagar budaya nasional. Fokus utama penelitian adalah analisis pola pembayangan yang dihasilkan oleh gedung baru bertingkat tinggi (16 lantai) terhadap kondisi fisik bangunan cagar budaya di sekitarnya. Pembayangan dapat memberikan masalah krusial pada keberlanjutan material, keseimbangan iklim mikro, serta kelangsungan nilai visual dan historis bangunan bersejarah. Paparan sinar matahari yang tidak seimbang akibat pembayangan berlebih dapat meningkatkan kelembaban, memicu pertumbuhan jamur, pengelupasan cat, serta mempercepat kerusakan struktural. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan simulasi pembayangan menggunakan Curic Sun pada perangkat lunak SketchUp. Analisis dilakukan sepanjang tahun 2024 pada 5 (lima) sesi waktu (08.00, 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00 WIB). Temuan menunjukkan bahwa bangunan dengan kategori signifikansi istimewa mengalami pembayangan tambahan yang signifikan, terutama pada bulan April. Kondisi ini dapat mempengaruhi ketahanan material dan mempercepat degradasi elemen arsitektural, sehingga menegaskan pentingnya evaluasi pembayangan dalam rencana pembangunan di kawasan cagar budaya.
Percontohan Placemaking Melalui Narasi Ruang Publik Lorong Bintan winandari, Maria immaculata ririk; Wijayanto, Punto; Setiadi, Virginia Suryani; Pekerti, Mayissa Anggun; Eki, Aurum Obe Titu
JUARA: Jurnal Wahana Abdimas Sejahtera Volume 4, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/juara.v4i2.14884

Abstract

Lingkungan permukiman Lorong Bintan merupakan permukiman tua bersejarah di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Sebagai kawasan pusaka, permukiman yang mayoritas penghuninya adalah etnis Tionghoa ini mengalami penurunan kualitas lingkungan. Kondisi ini menyebabkan kawasan kurang terawat dan kotor di beberapa lokasi. Bangkitnya kesadaran penghuni akan tingginya sejarah dan peninggalan pusaka di lingkungan permukiman mereka menyebabkan Kawasan tersebut mulai berbenah diri. Pemahaman mengenai potensi lingkungan sebagai lingkungan pusaka serta pengetahuan dan ketrampilan mengenai penataan kawasan pusaka melalui kegiatan pendukung kawasan sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus menghidupkan kawasan. Pendekatan placemaking berdasar partisipasi masyarakat menjadi solusi yang dianggap tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sasaran PKM adalah peningkatan kualitas lingkungan permukiman di Kawasan Lorong Bintan. Tujuan PKM adalah memberikan percontohan placemaking secara partisipatif melalui narasi sejarah Kawasan Lorong Bintan. Metode yang dilakukan adalah pendampingan perencanaan dan perancangan placemaking. Peserta percontohan adalah pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kelurahan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjung Pinang Kota, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Hasil program menunjukkan bahwa rasa memiliki warga terhadap asset pusaka di lingkungannya dapat ditingkatkan melalui percontohan placemaking ruang publik. Bukti rasa memiliki tersebut ditunjukkan dengan pembuatan mural di dinding bangunan di Lorong Bintan.
THE TYPOLOGY OF PUBLIC OPEN SPACE IN PERI-URBAN UNPLANNED SETTLEMENT. CASE STUDY: KAMPONG OF KALIPATEN, TANGERANG, INDONESIA Ischak, Mohammad; Pratiwi, Sri Novianthi; Winandari, Maria Immaculata Ririk; Wijayanto, Punto; Olivia , Deasy
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY VOLUME 6, NUMBER 1, APRIL 2023
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v6i1.15829

Abstract

The growth of the Tangerang area reflects the urban growth trend which leads to a wider growth pattern to the area around the Major City. One indication of the growth is the character changed of settlements that previously had a rural character into urban character, especially in building density. The growth in the number of houses as residences has resulted in changes in the type of open space and its use.  Aim: This research aims to identify the type and character of open spaces in unplanned settlements that are growth very quickly because of the area directly adjacent to the Gading Serpong new town. Methodology and Results: The method used is descriptive qualitative. The type of open space is measured by the criteria of location, form, function, and land status. The character of open space is studied by connecting the existence of open space with the social interaction of the residents of the settlement. Conclusion, significance, and impact of study: The findings that have been obtained from this research are that open spaces have five types with a very prominent spatial character, namely open spaces that arise through natural social processes, are not specially designed and have a very important role in bonding the social interaction of their inhabitants.
Prinsip urban responses dan energy matters di Digital Working Space BSD Alyfia, Tiara Putri; Winandari, Maria Immaculata Ririk; Tundono, Sri
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 6 No. 1 (2023): Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v6i1.421

Abstract

Iklim merupakan salah satu aspek penting ketika merancang suatu bangunan. Terutama pada bangunan kantor. Indonesia adalah salah satu negara yang beriklim tropis, jadi harus diperhatikan bagaimana agar iklim tersebut tidak mengganggu kenyamanan para pengguna. Penyesuaian bangunan terhadap iklim seperti curah hujan yang tinggi, panas matahari, kelembaban, serta kawasan yang terletak di wilayah rawan gempa bumi mempengaruhi hasil desain. Selain iklim, aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah penggunaan energi. Sumber energi berasal dari material yang tidak dapat diperbaharukan seperti batu bara, minyak bumi, dan gas yang akan habis apabila digunakan terus menerus. Paper ini mengeksplorasi penerapan urban responses dan energy matters di Digital Working Space di BSD, seperti material yang digunakan pada fasad, pelindung sinar matahari langsung, orientasi bangunan, sistem penghawaan dan pencahayaan alami, serta sistem grey water. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan kasus lima kantor di sekitar Jabodetabek. Penerapan Urban Response diterapkan dalam bentuk teritisan, pelindung sinar matahari langsung, serta orientasi bangunan. Penerapan Eenergy Matters diterapkan dalam bentuk sistem penghawaan dan pencahayaan alami serta pengolahan grey water.
PENERAPAN INTEGRASI FUNGSI PADA BANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN CAGAR BUDAYA Devina Pratisto; Maria Immaculata Ririk Winandari; Punto Wijayanto
Jurnal Rekayasa Lingkungan Terbangun Berkelanjutan Vol. 1 No. 1 (2023): Januari – Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jrltb.v1i1.15933

Abstract

Bangunan cagar budaya merupakan sebuah warisan budaya yang harus dilestarikan. Salah satunya adalah bangunan peninggalan Kasteel Batavia yang ditemukan di sekitar kawasan Kota Tua, yang saat ini menjadi permukiman kumuh yang terbengkalai dan tidak terurus dengan baik. Lahan di kawasan ini memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai kawasan bisnis, jasa, perdagangan, dan hunian. Di lain sisi, semakin tipisnya lahan akibat semakin padatnya bangunan terutama pada kota-kota besar seperti wilayah tersebut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kawasan hunian. Dari permasalahan-permasalahan tersebut dapat direspon dengan membuat hunian vertikal atau rumah susun sesuai dengan permukiman yang ada di area tersebut. Dengan menggabungkan fungsi hunian yang ada pada rumah susun dengan fungsi penunjang lainnya dengan memanfaatkan lahan cagar budaya tersebut, sehingga dapat berguna bagi penduduk sekitar serta dapat meningkatkan nilai kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gagasan desain konsep integrasi fungsi dalam perancangan bangunan rumah susun dengan lahan yang terdapat unsur cagar budaya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan studi literatur sebagai acuan teori, analisis data, dan penyusunan konsep yang akan terbagi menjadi dua yang meliputi integrasi fungsi horizontal dan integrasi fungsi vertikal. Dari penulisan ini diperoleh hasil berupa solusi desain yang dikembangkan dari integrasi fungsi horizoltal antara lain tata letak massa bangunan, drop off, parkir, dan ruang terbuka; serta integrasi fungsi vertikal yaitu ruang komunal dan koneksi vertikal dalam bangunan. Kata kunci : rumah susun, cagar budaya, integrasi fungsi
PELESTARIAN CAGAR BUDAYA MELALUI KEMITRAAN PEMERINTAH DAN DUNIA USAHA: Studi Kasus: Adaptasi Gedung OLVEH oleh JOTRC Wijayanto, Punto; Basuki, Angeline; Walaretina, Rita; Winandari, Maria Immaculata Ririk; Safitri, Ristya Arinta
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 23 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/v23i2.18637

Abstract

Pelestarian bangunan cagar budaya di Kawasan Cagar Budaya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kemitraan antara pemerintah dan dunia usaha. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana keterlibatan pihak dunia usaha dalam upaya pemerintah untuk mewujudkan pelestarian bangunan cagar budaya melalui kasus adaptasi Gedung OLVEH di Kota Tua Jakarta olehJakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC). Metode yang digunakan meliputi analisis dokumen pelestarian serta publikasi terkait JOTRC dan pelestarian Gedung OLVEH, gedung bersejarah di Kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung ini sebelumnya merupakan kantor perusahaan asuransi dan dialihfungsikan menjadi ruang publik multifungsi dengan tetap mempertahankan elemen arsitektural asli dan elemen struktural utamanya. Temuan penelitian memperlihatkan keberhasilan pelestarian Gedung OLVEH dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni keberadaan kerjasama formal antara pemerintah dan dunia usaha, kejelasan panduan pemugaran, dan pemilihan model pemanfaatan yang selaras dengan nilai dan kapasitas Bangunan Cagar Budaya.
Architecture and Sustainability Pathways for Rural Development in Indonesia Saskia, Cut Sannas; Kridarso, Etty Retnowati; Fatmasari, Ulfa; Winandari, Maria Immaculata Ririk
RUSTIC Vol 6 No 1 (2026): RUSTIC
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32546/rustic.v6i1.3221

Abstract

Rural landscapes in Indonesia reflect the coexistence of strong agrarian traditions and the pressing need for sustainable development, requiring approaches that integrate ecological, spatial, and socio-economic systems. Ciambar District in Sukabumi Regency, West Java, serves as a representative case study, characterized by agricultural activities such as rice, cassava, and durian cultivation, extensive forest areas, and ecotourism potential, including Curug Luhur Waterfall. Despite these assets, the district faces persistent challenges, including inadequate infrastructure, unequal access to clean water, and heavy reliance on small-scale agriculture. From the perspective of architectural sustainability, Ciambar must be re-envisioned as an integrated landscape of productive, ecological, and social spaces. Approaches such as productive landscapes, ecological infrastructure, and low-impact ecotourism demonstrate how spatial and architectural interventions can simultaneously support livelihoods, conserve ecosystems, and enhance local resilience. This study aims to identify, analyze, and map the potentials of Ciambar District based on natural resources, human capital, and local governance capacity. The findings are expected to provide a comprehensive assessment of existing strengths and opportunities, along with strategic recommendations for sustainable environmental development that supports the local economy while aligning with broader sustainability frameworks.
Ecological Resilience Through Green Infrastructure: Analyzing the Role of Private Green Open Spaces in Tropical Megacities Saskia, Cut Sannas; Winandari, Maria Immaculata Ririk; Wijayanto, Punto; Inavonna, Inavonna; Fatmawati, Teungku Nelly; Aziiz, Akhlish Diinal; Ischak, Mohammad; Tjiook, Wiwi
INFOMATEK Vol 27 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/infomatek.v27i2.34331

Abstract

Green open space is decreasing along with urban development. Development in urban areas has an impact on reducing green land which is important for urban resilience. In Jakarta, the reduction in water-absorbing surfaces has exacerbated environmental problems such as flooding, rising temperatures and decreasing biodiversity. This study aims to evaluate the ecological performance of green open spaces, especially in private homes in the Menteng area, Jakarta, which is recognized as the first garden city in Indonesia, as a representation for understanding the role of green open spaces in advancing urban sustainability and climate resilience. The focus is on the extent of private green open space that still exists in the city area, especially Menteng. Using mixed-method spatial analysis with GIS-based mapping and field surveys of more than 85 residential lots, this study applies the Basic Green Coefficient to measure green space coverage. The results show an average coefficient of 44%, indicating substantial integration of green spaces in the built environment. These private green areas increase rainwater infiltration, reduce flooding, reduce the heat island effect, regulate microclimate, and support air purification, carbon sequestration and biodiversity. Despite developmental pressures, Menteng’s environmentally friendly infrastructure continues to provide ecological functions that are in line with sustainability goals. This study aims to offer insights into improving urban ecology through green infrastructure, specifically green open spaces, and its role in strengthening urban sustainability, livability, and public health.
Co-Authors Achmad Djunaidi Akbar Rahman Alyfia, Tiara Putri Anashia Merliana Satriani Andre Mariano Dos Santos Belo Angelique Milleanda Anita Tita Yulita Anto Sudaryanto Anugrah Sabdono Sudarsono Ardilla Jefri Karista Arief Wahyu Nur Hidayat Arya Abieta Asniawaty Kusno Aurum Obe Titu Eki Aziiz, Akhlish Diinal Bambang Hari Wibisono Basuki, Angeline Carolina Dwi Nugraheni Deasy Olivia Dedes Nur Gandarum Devina Pratisto Dwi Rachma Septiani Eka Saputra Eki, Aurum Obe Titu Enny Supriati Sardiyarso Enny Supriyati Sardiyarso Fairuz Satwiko Faradila Faradila Fatmasari, Ulfa Gandarum, Dedes Nur Gusti Bagus Ananda Handjajanti, Sri Hartono, Ebenezer Emanuel Heddy Shri Ahimsa-Putra Inavonna, Inavonna Irfan Riswan Mei Ischak, Mohammad Iskandar, Juliandini Iskandar, Julindiani Isnen Fitri Juliandini Iskandar Kariza Ayu Gayatri Sukasta Kridarso, Etty Retnowati Kridarso, Etty Retnowati Lailika, Alfiani Nur Maghfira Inggita Dzikri Mayissa Anggun Pekerti Mberu, Yuliana Bhara Mediastika, Christina Eviutami Mei, Irfan Riswan Mohammad Ischak Nadhira Aurelia Nadya Nilafianty Prasetya Nelly Fatmawati, Teungku Ni Wayan Meidayanti Mustika Nur Lailika, Alfiani Olivia , Deasy Pekerti, Mayissa Anggun Pratiwi, Sri Novianthi Punto Wijayanto Punto Wijayanto Punto Wijayanto Punto Wijayanto Punto Wijayanto, Punto Putra, Maharjuno Erlanda Rachmansyah, Muhammad Raihan Rahmad, Dafa Al Ressy Jaya Yanti Ristya Arinta Safitri Ristya Arinta Safitri, Ristya Arinta Rizka Drastiani Sangiru Kasmo Suweko Sangiru, Sangiru Saskia, Cut Sannas Satwiko Aryesti Maulana Septiani, Dwi Rachma Setiadi, Virginia Suryani Siti Sarah Kamilah Irfan Sitoresmi, Rurin Sri Handjajanti Sri Handjajanti Sri Novianthi Pratiwi Tjiook, Wiwi Tundono, Sri Utami, Sentagi Sesotya Virginia Suryani Setiadi Viviana Khoerunnisa Baharessa Walaretina, Rita Zulfi Aulia Rachman