Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KAJIAN ESTETIKA MELAYU KLASIK DALAM SYAIR IBADAT Ardhiyasa, Fadly Kus; Wirajaya, Asep Yudha
Nuansa Indonesia Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ni.v24i2.71391

Abstract

Objek penelitian yang digunakan pada filologi adalah sebuah naskah, sedangkan yang menjadi objek kajiannya sering disebut dengan teks. Tujuan dari penelitian filologi itu sendiri agar dapat mengungkapkan kandungan isi yang terdapat dari naskah tersebut. Terdapat banyak naskah Melayu ditemukan yang membahas ajaran Islam. Salah satu naskah yang membahas tentang kepercayaan Islam adalah naskah Melayu yang berjudul Syair Ibadat (SI). Pembahasan yang ada dalam teks Syair Ibadat banyak mengandung pedoman hidup manusia agar dalam kehidupannya di dunia lebih mengenal Allah dan melaksanakan ibadah serta menjauhi maksiat. Hal ini sejalan dengan konsep khazanah sastra Melayu klasik yang diungkapkan oleh Braginsky, yaitu indah, berfaedah atau kamal, dan kesempurnaan jiwa. Penelitian terhadap Syair Ibadat memakai metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara menganalisis estetika Melayu Klasik yang terdapat pada Syair Ibadat. Berdasarkan analisis estetika Melayu klasik, penelitian ini menghasilkan 3 aspek fungsi, yaitu keindahan, faedah, dan juga kesempurnaan jiwa. Teks Syair Ibadat juga menjelaskan tentang 20 sifat Allah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Selain itu, dalam teks Syair Ibadat juga menjelaskan nasihat pengajaran tentang tata cara bertobat dan beramal baik dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran yang lainnya adalah menjelaskan tuntutan kepada semua umat manusia agar selalu menuntut ilmu dan juga patuh kepada guru yang merupakan pengganti orangtua pada saat sedang menuntut ilmu.Kata kunci: estetika Melayu Klasik, Syair Ibadat, 20 sifat Allah, nasihat pengajaran
SIMBOLISME BABI DALAM HIKAYAT RAJA BABI KARYA USUP ABDUL KADIR Wahyuni, Siti Mualim; Wirajaya, Asep Yudha
Nuansa Indonesia Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ni.v25i2.81792

Abstract

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana simbolisasi babi dalam teks Hikayat Raja Babi karya Usup Abdul Kadir. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap makna simbolisasi babi dalam Hikayat Raja Babi. Adapun jenis penelitian ini adalah deskiptif kualitatif. Sementara, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah Hikayat Raja Babi yang tersimpan di British Library dengan kode naskah Add MS 12393. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa hewan babi memiliki nilai manfaat bila dilihat dari fisik berupa lemak, bulu, dan hidung. Ketiga bagian tubuh hewan babi tersebut dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.Kata kunci: Hikayat Raja Babi, semiotika, Charles Sander Peirce, simbolisasi 
Srikandi is a Man: Representations of Sex, Gender, and Sexual Orientation in Hikayat Pandawa Arezha, Salma; Wirajaya, Asep Yudha
Buana Gender: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/bg.v11i1.13998

Abstract

Indonesians know Srikandi as a strong woman who married Arjuna. However, in the original Mahabharata story, Arjuna never married Srikandi, but instead married her sister, Drupadi. This is interesting to study in order to understand the reasons behind the differences between the two versions. This descriptive qualitative study aims to re-examine the perception of Srikandi as a woman and describe the representation of sex, gender, and sexual orientation of the character Srikandi in the original Hikayat Pandawa. It was found that in the Mahabharata, Srikandi is not only a woman, but has a complex sexual identity, gender, and sexual orientation. She was born as a woman and grew up with masculine behaviour. As a teenager, Srikandi was attracted to Dewi Nilawati, so she decided to marry a feminine woman and change her gender to male. Srikandi met Begawan Binun to change his sex. Therefore, it can be concluded that Srikandi is actually an LGBTQ representative in the Mahabharata story. Srikandi is not a woman in the end, so it is not appropriate to consider Srikandi as a symbol of women's empowerment today in Indonesia. Srikandi's identity was deliberately covered up by the cultural influence of the Javanese empire in the 12th-13th centuries, as well as the transition of Indonesian society from Hindu-Buddhist to Islam.