Joshian N.W. Schaduw
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Analysis for mangrove ecosystem management priority using Analysis Hierarchy Process (AHP) in Sorong City, West Papua, Indonesia Tabalessy, Roger R; Wantasen, Adnan S; Schaduw, Joshian N.W.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7285

Abstract

Indonesia’s mangrove forest is decreasing. Factors affecting this condition are excessive utilization for livelihood and market demand without considering its sustainability for the future. As a result, mangrove forest degrades year by year. The present study aimed to analyse which stakeholder is the priority for mangrove ecosystem management in the city of Sorong, West Papua, Indonesia, and which factors are the priority for sustainable management. Primary data were collected using questionnaire with interview technique and were analysed using Expert Choice 11 software. The result showed that local government was the stakeholder possessing major priority in management which was supported by others (community and NGO), and the ecological factor was the priority in management, while the economic, social, and institutionalfactors were the supporting factors for sustainability. Luas hutan mangrove di Indonesia sedang mengalami penurunan. Faktor yang mempengaruhi kondisi ini, yaitu pemanfaatannya secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhanan hidup maupun permintaan pasar tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya di masa depan. Sebagai akibatnya tutupan hutan mangrove semakin berkurang dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis stakeholder manakah yang menjadi prioritas dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kota Sorong, Papua Barat, Indonesia, dan faktor manakah yang menjadi prioritas dalam pengelolaan secara berkelanjutan. Data primer dikumpulkan menggunakan angket dengan teknik wawancara, dan kemudian dianalisis menggunakan software Expert Choice 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder Pemda merupakan prioritas utama dalam pengelolaan ekosistem mangrove dan ditopang oleh stakeholder lainnya (Masyarakat dan LSM), dan faktor prioritas dalam pengelolaan adalah ekologi, sedangkan faktor ekonomi, sosial, dan kelembagaan merupakan faktor pendukung untuk terciptanya pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan.
Struktur Komunitas Mangroce di Kelurahan Tongkaina Manado Sasauw, Juwinda; Kusen, Janny; Schaduw, Joshian
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.4.2.2016.13929

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan yang unik dan khas karena mampu bertahan hidup pada daerah yang ekstrim dengan kadar salinitas yang tinggi. Mangrove juga sering disebut dengan tumbuhan pasang-surut karena pertumbuhanya dipengaruhi oleh pasang-surut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode line transek kuadran dengan menentukan tiga titik pengamatan (stasiun) pengambilan sampel, dan untuk mengetahui kondisi mangrove maka dilakukan perhitungan kerapatan jenis, frekuensi jenis, penutupan jenis, dominasi, indeks nilai penting dan keanekaragaman. Untuk fariabel lingkungan dilakukan beberapa pengukuran yaitu pengukuran suhu, salinitas dan juga melihat tipe substrat yang ada di Kampung Bahowo. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa jenis mangrove yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu Rhizophora apiculata, dan untuk nilai frekuensi tertinggi juga yaitu jenis Rhizophora apiculata, sedangkan untuk nilai dominasi tertinggi dimiliki oleh jenis Sonneratia alba. Dan untuk keanekaragaman yang ada di Kampung Bahowo masih menunjukan nilai yang rendah. Kisaran suhu di Kampung Bahowo yaitu sekitar 29-30°C, sama halnya dengan kisaran salinitas yaitu 29-30 ppt dan untuk substrat yang mendominasi yaitu berlumpur, ini yang menyebabkan jenis Rhizophora apiculata banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis lain.
Kondisi Ekologi Mangrove Di Pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara Lahabu, Yostan; Schaduw, Joshian N. W.; Windarto, Agung B.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.3.2.2015.10851

Abstract

Mangrove adalah tumbuhan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomis yang sangat penting, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mempertahankan, melestarikan dan pengelolaannnya. Penelitian ini dilakukan di Pulau Mantehage Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis mangrove dan mengetahui kondisi ekologi vegetasi hutan mangrove yang terdapat di kawasan Pulau Mantehage. Metode yang digunakan yaitu metode line transek kuadran. Data yang didapatkan selanjutnya diolah dengan analisis struktur komunitas. Terdapat 8 jenis mangrove yang teridentifikasi di Pulau Mantehage, yaitu : Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrical, Ceriops tagal, Sonneratia alba, dan Lumnitzera littorea. Hasil analisis vegetasi mangrove menunjukkan ekosistem dalam keadaan belum stabil Hal ini didasarkan pada nilai indeks keanekaragaman yang masuk dalam kategori rendah (H’= 0,93, H’= 0,91, H’=1,07, H’=1,38). Nilai indeks keseragaman dari tingkat semai, pancang, tiang dan pohon dari empat stasiun menunjukkan nilai yang merata (tingkat Semai=0,95, Pancang=0,82, Tiang=64 dan Pohon=0,85). Sedangkan nilai indeks dominansi menunjukkan nilai yang tinggi (tingkat Semai=0,66, Pancang=1,00, Tiang=0,61 dan Pohon=0,37). Faktor lingkungan seperti suhu dan salinitas menunjukkan nilai kisaran 29-33 ppt untuk salinitas dan 27-30 0C untuk suhu. Nilai ini tergolong baik untuk pertumbuhan mangrove.
Estimasi potensi karbon pada sedimen ekosistem mangrove di pesisir Taman Nasional Bunaken bagian utara Verisandria, Rio; Schaduw, Joshian; Sondak, Calvyn; Ompi, Medy; Rumengan, Antonius; Rangan, Jety
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20567

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu potensi yang menjadi parameter untuk dikaji dari ekosistem Blue Carbon. Mangrove memanfaatkan CO2 untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam stok biomassa dan sedimen sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Perkiraan penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove begitu besar sehingga penting untuk menghitung persentase estimasi simpanan karbon pada ekosistem mangrove terutama pada sedimen mangrove. Telah dilakukan penelitian untuk mengestimasi simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove yang tumbuh di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara. Pengambilan sampel sedimen mangrove dilakukan dengan teknik Purpose Sampling dan data yang diperoleh dianalisis dengan metode Loss on Ignition. Nilai rata-rata densitas sedimen tanah tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, yaitu pada bagian depan dan tengah masing-masing sebesar 0,78 g/cm3 dan 0,80 g/cm3. Pada titik bagian belakang terletak di kedalaman 0-30 cm yaitu 0,90 g/cm3. Nilai rata-rata persentase karbon tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, masing-masing bagian depan sebesar 20,61%; bagian tengah sebesar 22,01%; dan bagian belakang sebesar 16,18%. Nilai rata-rata simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara tersebar di 5 lokasi, yaitu di Molas sebesar 126,61 Mg ha-1; di Meras sebesar 157,01 Mg ha-1; di Tongkaina sebesar 138,26 Mg ha-1; di Bahowo sebesar 40,25 Mg ha-1; dan di Tiwoho sebesar 136,54 Mg ha-1.
Analisis logam berat timbal (Pb) pada akar mangrove di Desa Bahowo dan Desa Talawaan Bajo Kecamatan Tongkaina Sanadi, Troy; Schaduw, Joshian; Tilaar, Sandra; Mantiri, Desy; Bara, Robert; Pelle, Wilmy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.2.2018.21382

Abstract

Mangrove merupakan jenis tumbuhan yang memiliki kemampuan biofilter, yaitu kemampuan untuk menyaring, mengikat dan memerangkap polusi di alam bebas atau biasa disebut sebagai Tumbuhan Hiperakumulator. Kemampuan mengikat dan memerangkap berupa kelebihan sedimen, limbah buangan rumah tangga dan menyimpan logam berat pada akar, batang dan daunnya berperan penting dan membantu dalam menetralisir masuknya sumber pencemar logam berat seperti timbal (Pb) yang masuk ke dalam perairan dan meningkatkan kualitas air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan daya serap Tumbuhan mangrove dalam menyerap logam berat Pb pada akar mangrove di daerah Pesisir Bahowo dan Pesisir Talawaan Bajo. Sampel yang telah diperoleh kemudian di analisis mmengunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometry (AAS) dan dilakukan pengolahan data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menemukan bahwa kemampuan mangrove dalam menyerap logam berat setiap spesiesnya memiliki kemampuan menyerap yang berbeda-beda. Hasil dari analasis sampel akar yang dilakukan mengunakan alat AAS, menemukan bahwa mangrove jenis Avicennia marina memiliki kemampuan menyerap logam berat Pb lebih baik dari jenis Soneratia alba. Dari hasil analisis ditemukan pada daerah Bahowo memiliki konsentrasi logam berat Pb yang cukup yang masih berada dibawah standar baku mutu pada tumbuhan.
Community Structure and Percent Cover of Mangrove in Gamtala Village, Jailolo District, West Halmahera Regency Nity, Elroi; Darwisito, Suria; Schaduw, Joshian N.W.; Wantasen, Adnan S.; Sumilat, Deiske A.; Onibala, Hens
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 7, No 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23377

Abstract

This study aims to know the percent cover of mangrove and to assess the community structure. It was carried out in Gamtala village, Jailolo district, and west Halmahera regency, using line transect method with 10x10 m plot.. Data analysis covered the community structure and percent cover of mangrove canopy. This study found seven mangrove species, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Bruguiera sexangula, dan  Xylocarpus granatum. Based on Importance Value Index (IVI), Bruguiera gymnorhiza had the highest, 149.06, and Avcsennia alba did the lowest, 9.3507. In addition, Gamtala village had manrove percent cover of 72.11 %.Keywords: canopy, community structure, mangrove, Gamtala.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentasi tutupan mangrove dan menghitung struktur. Penelitian ini dilakukan di Desa Gamtala Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat. Penelitian ini menggunakan metode transek garis dengan 10x10 m plot. Penelitian ini menemukan tujuh spesies mangrove, yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Bruguiera sexangula, dan  Xylocarpus granatum. Berdasarkan Indeks Nilai Penting, Bruguiera gymnorhiza memiliki nilai tertinggi, 149,06, dan Avcsennia alba memiliki nilai terendah 9,3507. Sebagai tambahan, desa Gamtala memiliki tutupan mangrove sebesar 72,11 %.Kata Kunci: kanopi, struktur komunitas, mangrove, Gamtala
Percentage of mangrove canopy coverage and community structure in Batanta Island and Salawati Island, Raja Ampat District, West Papua Province Schaduw, Joshian N.W.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 8, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.8.1.2020.32426

Abstract

The research aimed at monitoring the condition of mangrove communities in Batanta Island and Salawati Island, Raja Ampat District, West Papua Province. It used method developed by the Indonesian Institute of Sciences Research Center for Oceanography (P2O LIPI). Method in determining the percentage for the coverage of mangrove communities used a hemispherical photography and the data analysis used ImageJ software in excel tabulation. The result showed that mangrove canopy coverage has decreased from 85.73% in 2017 to 84.14% in 2018. Since the observations in 2015, the percentage of mangroves had no significant change. In average the percentage increased as much as 3.45% from 75.09% in 2015 to 78.54% in 2016. Moreover, it increased again by 7.20% in 2017 (85.73%). It indicates that the average change percentage of mangroves is not significant, and it can be concluded that the mangrove ecosystem in this area does not degrade significantly and has a good growth rate. The average density value was 1254.3 trees per hectare in the period of 2016-2018 or it increased to about 16.5% since 2015. The number of species found at the observation site were 5 species (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, and Xylocarpus granatum) scattered in eight observation stations. From these results it can be concluded that mangrove condition at the research location is stable and gets support for the survival of biota associated therein.
Impact of tropical cyclone Amang on variability of wind speed, salinity, sea surface temperature, and their relationship to chlorophyll-a in sea waters of Sangihe Island Rachim, M. Hatta; Schaduw, Joshian N.W.; Wantasen, Adnan S.; Patty, Wilhelmina; Ngangi, Edwin L.A
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 9, No 2 (2021): OCTOBER
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.v9i2.34589

Abstract

High concentrations of chlorophyll-a can be used to predict where fish gather. On the other hand, tropical cyclones are one of the triggering factors for vertical stirring and upwelling that cause fertility of waters. The Sangihe Island area is not an effective area for the formation of tropical cyclones. However, due to its geographical location with a tropical cyclone area and trajectory, the potential for disturbances caused by cyclones is impactful on Sangihe Island. The distribution of wind speed, salinity, sea surface temperature and chlorophyll-a concentration can be detected by satellite remote sensing imagery. This study aims to analyze the impact of Tropical Cyclone Amang on the variability of wind speed, salinity, sea surface temperature and on the concentration of chlorophyll-a in Sangihe Island. This study useswind speed, salinity, sea surface temperature and chlorophyll-a data during the Amang Tropical Cyclone (January 6-27, 2019) from the AQUA-MODIS satellite imagery. The results show that the relationship between wind speed and chlorophyll-a concentration has impact on other parameters where both parameters showed a strong correlation value. It was also showed on the relationship between sea surface temperature and chlorophyll-a.However, the relationship between salinity and chlorophyll-a concentration showed lowest effect among those parameters.Indonesian title: Dampak siklon tropis Amang terhadap variabilitas kecepatan angin, salinitas, suhu permukaan laut, dan hubungannya dengan klorofil-a di perairan laut Pulau Sangihe
Characteristics of Marine Debris in Malalayang Coastal Area, Manado City, North Sulawesi Province Schaduw, Joshian Nicolas William; Bachmid, Fihri; Ronoko, Stephen; Legi, Kunio; Oroh, Dannie; Gedoan, Verdinand; Kainde, Henry Valentino Florensius; Pantouw, Toar; Tungka, Amelia
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34309

Abstract

This study aims to determine the characteristics of marine debris at Malalayang Beach, Manado City, North Sulawesi Province, the marine debris collected comes from underwater and the intertidal zone. Underwater waste is collected through Scuba Dive divers, while intertidal marine debris is collected by combing along the shoreline. The method used in this study is a cruising survey with depth limits and quadrant sampling locations. The waste obtained is then sorted and weighed to obtain data for each group of waste. The condition of the marine debris on the land is much more where there are 9 groups of marine debris with an average weight value of 5.16 kg, while in the sea there are only 7 groups of marine debris with an average weight of 2.34 kg. The total weight of marine debris on the land side is still much higher at 72.30 kg, while in the sea it is only 32.70 kg.Keywords: Marine Debris; Coastal; MalalayangAbstrakKajian ini bertujuan untuk megetahui karakterisitik sampah laut pada daerah pesisir Pantai Malalayang, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Sampah yang dikumpulkan berasal dari bawah air dan zona intertidal. Untuk sampah yang ada dibawah air dikumpulkan melalui penyelam Scuba Dive, sedangkan sampah daerah intertidal dikumpulkan dengan cara meyisir sepanjang garis pantai. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah survei jelajah dengan batasan kedalaman dan kuadran lokasi sampling. Sampah yang didapatkan kemudian dipilah dan ditimbang untuk mendapatkan data masing-masing kelompok sampah. Kondisi sampah pada bagian darat jauh lebih banyak dimana terdapats 9 kelompok sampah dengan nilai rata-rata berat sampah sebesar 5,16 kg, sedangkan pada bagian laut hanya ditemukan 7 kelompok sampah dengan rata-rata berat sebesar 2,34 kg. Total berat sampah pada bagian darat masih jauh lebih tinggi yaitu sebesar 72,30 kg, sedangkan pada bagian laut hanya sebesar 32,70 kg.Kata kunci: Sampah Laut; Pesisir; Malalayang
Status of Coral Reefs in The Waters of Tidung Island Kepulauan Seribu DKI Jakarta Province Based on Underwater Photo Transect Analysis Fauzanabri, Renno; Manembu, Indri Shelovita; Schaduw, Joshian Nicolas William; Manengkey, Hermanto W. K; Sinjal, Chatrien A. L; Ngangi, Edwin L. A
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.34902

Abstract

Tidung Island is one of the islands as well as a village located in the district of South Kepulauan Seribu. The purpose of this research is to measure the environmental parameters of the waters, provide information on the condition of coral reefs, and know the form of coral growth that dominates Tidung Island. Data retrieval is done using UPT (Underwater Photo Transect) method at a depth of 5 meters at three different stations. For the processing of data that has been taken, the photo results in the form of coral cover are entered into Coral point count with excel extensions (CPCe) 4.1 application and analyzed. The results of the analysis will be stored on the storage device, then the results will be ready to be opened in Excel format. The results of this research show that the environmental parameters of the waters include, including temperature, degree of acidity, and salinity, have a range of values that are still suitable for the growth and development of corals, however, the brightness level in these waters is relatively low. The condition of coral reefs in stations 1 and 3 are in the category of damage, with hard coral cover values of 24.67% and 11.00%, while at station 2 coral reef conditions are in the good category with a hard coral cover value of 56.27%. Based on the assessment, obtained an average value of the percentage of hard corals by 30.65%, this indicates that the condition of coral reefs in Tidung Island is in the moderate category. The low percentage of hard corals is caused by the high component of dead corals with algae and rubble. Based on the results of this research, a known form of coral growth that dominates the waters of Tidung Island is foliose coral.Keywords: Domination; CPCe; Tidung Island; Coral Reef; UPT.AbstrakPulau Tidung merupakan salah satu pulau sekaligus kelurahan yang terletak di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur parameter lingkungan perairan, menyediakan data informasi kondisi terumbu karang, dan mengetahui bentuk pertumbuhan karang yang mendominasi di Pulau Tidung. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect) atau Transek Foto Bawah Air pada kedalaman 5 meter di tiga stasiun berbeda. Untuk pengolahan data yang sudah diambil, hasil foto berupa tutupan karang di input ke dalam aplikasi Coral point count with excel extensions (CPCe) 4.1 dan dianalisis. Hasil analisis akan tersimpan di perangkat penyimpanan, yang kemudian hasilnya akan siap untuk dibuka dalam format Excel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa parameter lingkungan perairan meliputi, suhu, derajat keasaman, dan salinitas, memiliki kisaran nilai yang masih sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan karang, namun tingkat kecerahan pada perairan ini relatif rendah. Kondisi terumbu karang pada stasiun 1 dan 3 berada pada kategori buruk dengan nilai tutupan karang keras sebesar 24,67% dan 11,00%, sedangkan pada stasiun 2 kondisi terumbu karang berada pada kategori baik dengan nilai tutupan karang keras sebesar 56,27%. Berdasarkan penilaian tersebut, diperoleh nilai rata-rata persentase karang keras sebesar 30,65%, hal ini menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di Pulau Tidung berada pada kategori sedang. Rendahnya persentase karang keras disebabkan tingginya komponen karang mati oleh algae dan patahan karang. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bentuk pertumbuhan karang yang mendominasi perairan Pulau Tidung adalah coral foliose.Kata kunci: Dominasi; CPCe; Pulau Tidung; Terumbu Karang; UPT
Co-Authors Adnan Wantasen Agung B. Windarto, Agung B. Alam, Muhammad Reza Sinar Alfret Luasunaung Angkouw , Esther Dellayani Antonius Rumengan Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Ari Berty Rondonuwu Bachmid, Fihri Bessie, Donny Mercys Bonde, Alis Febri Boneka, Farnis B. Boneka Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Coloay, Clive Griffen Daisy Monica Makapedua Darus S. Paransa Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Dietriech Geoffrey Bengen Edwin D Ngangi Emil Reppie Fauzanabri, Renno Fransine B. Manginsela Fredinan Yulianda Gaspar D. Manu, Gaspar D. Gedoan, Verdinand Hens Onibala Ilaria, Christabella Louisa Imanuel, Tonny Indri Manembu Isdradjad Setyobudiandi Janny D Kusen Joppy Mudeng Jumeini, Jumeini Kainde, Henry Valentino Florensius Kamagi, Jongky W.A. Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Kondoy, Khristin I. F Kumampung, Deislie R.H. Kusen, Janny Lalita, Jans D.J Legi, Kunio Lintang, Rosita Anggreiny J Luasunaung, Alfrets Mahmud, Maudy Rusmini Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Manengkey , Hermanto W.K. Manengkey, Hermanto W. K Manginsela, Fransine B Manoppo, Victoria E. N. Mantiri, Desy M. H Markus T. Lasut Medy Ompi Menajang, Febry S. I Mokolensang, Jeffrie Molle, Ben Arther Moningkey, Rudy D. Musak, Putra Natalie D Rumampuk Nity, Elroi Ode Mantra, Syahrun Oroh, Dannie R S Pantouw, Toar Paransa, Darus S.J. Paulus, James J. H. Pelle, Wilmy Pelle, Wilmy E. Podung, Thania Theresia Rachim, M. Hatta Rangan, Jety Rangan, Jety K. Ridwan Lasabuda Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Roeroe, Wailan Roger R Tabalessy Rondonuwu, Arie B. Ronoko, Stephen Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Royke M. Rampengan Rumampuk, Natalie Detty C. Rumengan, Antonius Petrus Sanadi, Troy Sandra Tilaar Sangari, Joudy R. R. Sasauw, Juwinda Sinjal, Chatrien A. L Sitanggang, Gorga Renaldi Stenly Wullur Sundah, Geraldo Thimoty Suria Darwisito, Suria Tangkudung, Maureen J. N. N. Togolo, Festy Tungka, Amelia Undap , Suzanne Lydia Veibe Warouw Verisandria, Rio Wilhelmina Patty Windarto, Firhansyah C. Yostan Lahabu, Yostan