Joshian N.W. Schaduw
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Mangrove Community Structure in West Madapolo Village, North Obi District, South Halmahera Regency Ode Mantra, Syahrun; Schaduw, Joshian N. W.; Sondak, Calvyn F.A.; Ompi, Medy; Manembu, Indri S.; Wullur, Stenly
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.49712

Abstract

The ecological function of mangroves can be viewed from three aspects, namely physical, chemical, and biological aspects. Data collection of mangrove community structure using line transect quadrant method by pulling the line along 100 m from the sea to land at the lowest tide. The results of mangrove community structure analysis in West Madapolo Village, North Obi District, South Halmahera Regency. Identified 4 types of mangroves namely Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Brugueira gymnorhiza, and Lumnitzera litorea found at the 3 stations. The highest species density value is Rhizopora apiculata, at station 1. The highest frequency by Rhizopora apiculata, and Brugueira gymnorhiza species at station 1 with the same value of 39.29. The highest cover by Rhizopora apiculata species at station 1 with a value of 49.73 and the lowest by S. alba species at 14.17 while the highest importance value index by Rhizopora apiculata species at 147.99 and the lowest is Sonneratia alba 40.54. The highest diversity at station 2, and the lowest at station 1, the highest diversity at station 2 while the highest dominance is found at the station and the lowest at station 2. Keywords: Structure Community, Mangrove, Village Madapolo Barat Abstrak Fungsi ekologis mangrove dapat ditinjau dari tiga aspek, yakni aspek fisika, kimia dan biologi. Pengambilan data struktur komunitas mangrove menggunakan metode line transek kuadran dengan cara menarik line garis sepanjang 100 m dari arah laut ke darat pada saat surut terendah. Hasil analislis struktur komunitas mangrove di Desa Madapolo Barat, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Teridentifikasi 4 jenis mangrove yaitu Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Brugueira gymnorhiza, dan Lumnitzera litorea yang ditemukan pada ke 3 stasiun. Nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Rhizopora apiculata, pada stasiun 1. Frekuensi tertinggi oleh jenis Rhizopora apiculata, dan Brugueira gymnorhiza pada stasiun 1 dengan nilai yang sama yaitu 39,29. Penutupan tertinggi oleh jenis Rhizopora apiculata pada stasiun 1 dengan nilai 49,73 dan yang terendah oleh jenis S. alba  14,17 sedangkan indeks nilai penting tertinggi oleh jenis Rhizopora apiculata 147,99 dan terendah yaitu Sonneratia alba 40,54. Keanekaragaman tertinggi pada stasiun 2, dan terendah pada stasiun 1, kseseragaman tertinggi pada stasiun 2 sedangkan dominasi tertinggi terdapat pada stasiun dan yang terendah pada stasiun 2. Kata kunci: Struktur Komunitas, Mangrove, Desa Madapolo Barat
Length Increase and Survival Rate of Coral Isopora palifera which Transplanted on Concrete Block Roeroe, Wailan; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Tilaar, Sandra O.; Manembu, Indri Shelovita; Mamangkey, Noldy G. F.; Schaduw, Joshian N. W.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51045

Abstract

Efforts to mitigate damage to coral reef ecosystems can be made by developing techniques for coral transplantation. The purpose is to know the survival rate of coral Isopora palifera and Measure the length increase of coral Isopora palifera using the Image-J application as the measurement. The research method was that artificial blocks made of concrete were used as containers for the installation of 27 colonies of coral Isopora palifera. Data collection in the field in the form of colonies that were successfully transplanted to artificial reef units will be explored using a camera from each concrete block which will take perpendicular pictures and colony portraits from each artificial reef unit. The results are then analyzed using the Image-J application. The transplantation results survival rate in Isopora palifera coral colonies in Paputungan village is 66.6% of 100%, while the Isopora palifera coral colony increase length was around 1.51 mm/5 months or 0.302 mm/month. Keywords: Coral, Isopora palifera, Transplant, Concrete block, North Sulawesi Abstrak Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan menggembangkan teknik transplantasi karang. Tujuan adalah Mengetahui tingkat ketahanan hidup karang Isopora palifera dan Mengetahui laju pertambahan karang Isopora palifera dengan menggunakan aplikasi Image-J sebagai pengukuran pertumbuhan. Metode penelitian yaitu balok buatan dari beton dijadikan wadah tempat pemasangan karang Isopora palifera sebanyak 27 koloni. Pengambilan data di lapangan berupa koloni yang berhasil ditransplantasi ke unit terumbu buatan akan didokumentasikan menggunakan kamera dari tiap-tiap balok diambil gambar tegak lurus dan memotret koloni dari masing-masing unit terumbu buatan.  Hasil pemotretan tersebut selanjutnya dianalisa menggunakan aplikasi Image-J. Proses transplantasi di desa Paputungan menghasilkan 66,6% dari 100% tingkat kelangsungan hidup pada koloni karang Isopora palifera, sedangkan untuk laju pertabahan koloni karang Isopora palifera berada disekitar 1,51 mm/5 bulan atau 0,302 mm/bln. Kata Kunci: Karang, Isopora palifera, Transplantasi, Balok beton, Sulawesi Utara.
Benthic Foraminifera Composition in Coral Reef Areas at Malalayang Beach Waters Alam, Muhammad Reza Sinar; Mamuaja, Jane M.; Windarto, Agung B.; Mantiri, Rose O. S. E.; Schaduw, Joshian N. W.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.51386

Abstract

Malalayang Beach is part of the coastal area of Manado Bay and is situated in the North Sulawesi Province of Indonesia. The coral reef ecosystem is one of the coastal ecosystems with high biodiversity. The uniqueness of the ecosystem and the diversity of its organisms make coral reef ecosystems have high social, ecological, and economic values. In 1998, the Environmental Protection Agency (EPA) of the United States recommended the use of foraminifera as indicators for aquatic assessments. Foraminifera is a meiobenthic components at the bottom of the sea that act as producer of calcium carbonate (CaCO3) in sediments in the benthic and pelagic zones of the sea. The purpose of this study was to study at the composition of benthic foraminifera based on their genus in the waters of Malalayang Beach and also assess the condition of coral reef waters on Malalayang Beach using the FoRAM Index. This research was carried out by taking sediment samples in Malalayang Beach in nine sampling points at a depth of 5–8.5 m. The samples were then washed and sorted to obtain foraminifera tests. From 2,830 successfully identified specimens, 17 genera were obtained with FoRAM index values ranging from 5.46 to 9.53. The average value of the FoRAM Index at Malalayang Beach is 7.32, indicating that the waters of Malalayang Beach are still suitable for coral growth. Keywords: Malalayang Beach, Foraminifera, Coral Reef, FoRAM Index Abstrak Pantai Malalayang adalah bagian dari Teluk Manado yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem pesisir dengan biodiversitas yang tinggi. Keunikan ekosistem serta keragaman organismenya menjadikan ekosistem terumbu karang memiliki nilai sosial, ekologi dan ekonomi yang tinggi. Environmental Protection Agency (EPA) dari Amerika Serikat menyarankan penggunaan foraminifera sebagai indikator penilaian perairan pada tahun 1998. Foraminifera merupakan komponen meiobentik di dasar perairan yang berperan sebagai penghasil kalsium karbonat (CaCO3) pada sedimen yang ada di zona bentik dan pelagis laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari komposisi foraminifera bentik berdasarkan genusnya pada perairan Pantai Malalayang dan juga menilai kondisi perairan terumbu karang di Pantai Malalayang menggunakan Indeks FoRAM. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil sampel sedimen di perairan Pantai Malalayang pada sembilan titik pengambilan sampel dengan kedalaman 5 - 8,5 m. Selanjutnya sampel dicuci dan disortir untuk mendapatkan cangkang foraminifera. Dari sejumlah 2830 spesimen yang berhasil diidentikasi, diperoleh sebanyak 17 genus dengan nilai indeks FoRAM berkisar dari 5,46 -  9,53. Nilai rata-rata indeks FoRAM pada Pantai Malalayang adalah 7,32 dan ini mengindikasikan bahwa perairan Pantai Malalayang masih baik dan layak untuk pertumbuhan karang. Kata Kunci : Pantai Malalayang, Foraminifera, Terumbu Karang, Indeks FoRAM
Study of Sea Water Quality in Malalayang Beach Walk Area Windarto, Firhansyah C.; Rumampuk, Natalie D.C.; Mamuaja, Jane M.; Rampengan, Royke M.; Schaduw, Joshian N. W.; Manengkey , Hermanto W.K.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.54144

Abstract

The city of Manado is famous for its fishery products, but human activities also cause problems of seawater pollution and a decrease in water quality. This study aims to examine the water quality around Malalayang Beach Walk in Manado City with a focus on physical and chemical parameters. The study was conducted at five stations with three repetitions at high and low tide. The results showed that the water temperature was relatively homogeneous, with a range of 30.02-30.29oC at high tide and 30.39-30.81oC at low tide. Turbidity is in the range of 20.1-22.5 NTU at high tide and 16.0-21.7 NTU at low tide, exceeding the quality standard. DO values conform to quality standards (5.46-8.07 mg/L at high tide and 5.69-6.32 mg/L at low tide), but TDS reaches 23900-28600 mg. L at high tide and 26600-28600 mg/L at low tide, far from the common values of 1500 mg/L. Salinity values range from 25.02-30.29 ppt at high tide and 30.35-30.50 ppt at low tide. Pollution and degradation need to be better controlled and monitored. Keywords: Water quality, Temperature, Turbidity, Dissolved oxygen (DO), Total dissolved solids (TDS), Salinity. Abstrak Kota Manado terkenal dengan hasil perikanannya, namun aktivitas manusia juga menyebabkan masalah pencemaran air laut dan penurunan kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas perairan di sekitar Malalayang Beach Walk Kota Manado dengan fokus pada parameter fisika dan kimia. Penelitian dilakukan di lima stasiun dengan tiga kali pengulangan pada saat air pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu perairan relatif homogen, dengan rentang nilai 30,02-30,29oC saat pasang dan 30,39-30,81oC saat surut Kekeruhan berada pada rentang 20,1-22,5 NTU saat pasang dan 16,0-21,7 NTU saat surut, melebihi standar baku mutu. Nilai DO sesuai dengan standar baku mutu (5,46-8,07 mg/L saat pasang dan 5,69-6,32 mg/L saat surut), namun TDS mencapai 23900-28600 mg/L saat pasang dan 26600-28600 mg/L saat surut, jauh dari nilai umum 1500 mg/L. Nilai salinitas berkisar antara 25,02-30,29 ppt saat pasang dan 30,35-30,50 ppt saat surut. Pencemaran dan penurunan kualitas perlu dikendalikan dan dipantau secara lebih baik. Kata Kunci: Kualitas air, Suhu, Kekeruhan, Dissolved oxygen (DO), Total dissolved solids
Land Suitability and Carrying Capacity Analysis Of The Mangrove Ecotourism At Sarawet Village, East Likupang District, North Minahasa Regency Tangkudung, Maureen J. N. N.; Schaduw, Joshian N. W.; Sondak, Calvyn F.A.; Wantasen, Adnan S.; Sumilat, Deiske A.; Rondonuwu, Arie B.; Luasunaung, Alfrets
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.57781

Abstract

The coastal area of Sarawet Village, East Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province has a mangrove forest covering an area of 379 hectares. Apart from being a living habitat for marine biota, this large area of mangrove is also an ecotourism destination. The purpose of this research is to determine the suitability of mangrove lands as ecotourism areas; Determine the ecological carrying capacity of the area for mangrove ecotourism activities; Assess public perceptions regarding the benefits of mangrove ecosystems and their potential to be developed as ecotourism destinations. The research method is a survey describing ecological, socioeconomic, institutional, and infrastructure conditions. Data collection is grouped into primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through direct observation in the field by measuring the ecological potential of mangroves, visual observation of biota, and information from the community obtained directly at the research location through structured interviews with respondents. Based on the results of the study, the Tourism Suitability Index (IKW) value for the Sarawet Village mangroves was 2.73, which indicates the Very Suitable category for being developed as a mangrove river ecotourism area, as well as the public's perception of the benefits of the mangrove ecosystem and its potential to be developed as an ecotourism destination is very good. so it is hoped that this can improve the welfare of the existing community. Keywords: Mangroves, Ecotourism, Sarawet Abstrak Kawasan pesisir Desa Sarawet Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara memiliki hutan mangrove seluas 379 hektar, keberadaan mangrove yang luas ini selain menjadi habitat hidup bagi biota laut juga sebagai tujuan ekowisata. Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah menentukan kesesuaian lahan mangrove sebagai kawasan ekowisata; Menentukan daya dukung ekologis kawasan untuk kegiatan wisata mangrove ekowisata; Mengkaji persepsi masyarakat tentang manfaat ekosistem mangrove dan potensinya untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata. Metode penelitian yang digunakan yaitu melakukan survei untuk mendeskripsikan kondisi ekologi, sosial ekonomi, kelembagaan dan infrastruktur. Pengumpulan data dikelompokkan menjadi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilaksanakan melalui pengamatan langsung di lapangan dengan melakukan pengukuran potensi ekologi mangrove, pengamatan biota secara visual dan informasi dari masyarakat diperoleh langsung di lokasi penelitian melalui wawancara secara terstruktur dengan responden. Berdasarkan hasil kajian diperoleh nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) mangrove Desa Sarawet yakni sebesar 2,73 yang menunjukkan kategori Sangat Sesuai untuk dapat dikembangkan sebagai Kawasan ekowisata sungai mangrove, serta persepsi masyarakat tentang manfaat ekosistem mangrove dan potensinya untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata adalah sangat baik sehingga diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada. Kata Kunci : Mangrove, Ekowisata, Sarawet
Study of the Potential and Development of a Mangrove Ecosystem Based on Ecotourism in Pinasungkulan Village, Minahasa Regency Bonde, Alis Febri; Boneka, Farnis B. Boneka; Schaduw, Joshian N. W.; Makapedua, Daisy Monica; Rumengan, Antonius Petrus; Manoppo, Victoria E. N.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.57782

Abstract

This research aims to describe the ecological, socio-economic, institutional, and infrastructural conditions. Primary data collection was carried out through direct observation in the field, measuring the potential of mangrove forests, observing biota, and conducting direct interviews with local communities and relevant stakeholders. Secondary data collection was conducted by gathering documents from previous studies/research, legislation, and other supporting data. Four types of mangroves were found: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, and Avicennia marina. The highest species density was Rhizophora apiculata with 6.56 individuals/m², the highest species frequency was 1 for Rhizophora apiculata, the highest species coverage value was Sonneratia alba at 34.02, and the highest Importance Value Index (IVI) was Rhizophora apiculata at point 3 with a value of 226.98. The mangrove diversity index (H') was 2.66, indicating a moderate category and the highest evenness index was at point 2, with a value of 0.92. The Mangrove Tourism Suitability Index (IKW) value was 2.36, indicating a Suitable category. The mangrove area in Pinasungkulan Village can accommodate a 350 square meter mangrove tracking area. The Area Carrying Capacity (DDK) is 56 people per day, with an operational time of 8 working hours per day. The study on community perceptions regarding the benefits of the mangrove ecosystem and its potential to be developed as an ecotourism destination is very positive, and it is expected that this can improve the community's welfare in Pinasungkulan Village. Keywords: ecotourism, mangroves, carrying capacity, suitability, Pinasungkulan Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi ekologi, sosial ekonomi, kelembagaan dan infrastruktur. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan langsung (observasi) di lapangan, melalui pengukuran potensi hutan mangrove, pengamatan biota dan wawancara langsung dengan masyarakat lokal dan pihak terkait. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen hasil studi/penelitian, peraturan perundang-undangan dan data pendukung lainnya. Terdapat 4 jenis mangrove yang ditemukan yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba dan Avicennia marina. Nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Rhizophora apiculata yaitu 6,56 individu/m², frekuensi jenis tertinggi adalah 1 pada jenis Rhizophora apiculata, nilai penutupan jenis tertinggi Sonneratia alba yaitu 34,02, Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi jenis Rhizophora apiculata di titik 3 dengan nilai 226,98, indeks keanekaragaman mangrove H’= 2,66 dengan kategori sedang, indeks kemerataan tertinggi pada titik 2 yaitu 0,92. Nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) mangrove 2,36, menunjukkan kategori Sesuai. Kawasan mangrove Desa Pinasungkulan dapat dibangun tracking mangrove seluas 350 meter². Daya Dukung Kawasan (DDK) adalah 56 orang/hari dengan waktu operasional 8 jam kerja per hari. Kajian persepsi masyarakat tentang manfaat ekosistem mangrove dan potensinya untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata sangat baik sehingga diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Pinasungkulan. Kata kunci: ekowisata, mangrove, daya dukung, kesesuaian, pinasungkulan
Study On Nematocysts Of Scleractinia Coral, Stylophora subseriata From Coral Reef Area In The Coast Of Bulutui, North Minahasa Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien; Paruntu, Carolus Paulus; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Lintang, Rosita Anggreiny J; Manembu, Indri Shelovita; Schaduw, Joshian Nicolas William
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.58486

Abstract

This study aims to identify the type, size dimension, and composition of nematocysts from the Scleractinia coral, Stylophora subseriata. This study was carried out from March to May 2023. Observations and measurements of nematocyst cells were conducted using an Optika 4083 B3 microscope connected to a computer equipped with Optika View 7 software. S. subseriata has three main types of nematocyst, i.e., type I micro basic p-mastigophore (MpM- I), type II micro basic p-mastigophore (MpM-II) and micro basic b-mastigophore (MbM).  Type MpM-I has an average capsule length of 182.10 µm, capsule width of 38.98 µm, and shaft length of 76.45 µm;  MpM-II has an average capsule length of 166.72 µm, capsule width of 41.60 µm, and shaft length of 108.48 µm; and MbM has an average capsule length of 154.84 µm and capsule width of 30.96 µm. The nematocysts composition consists of MpM-I 26.67 %, MpM-II 23.33 %, and MbM 50.00 %.  The MbM type is nematocyst dominant in this coral species.  Future study is recommended to examine the comparative characteristics of nematocysts from S. subseriata with other species of corals in the same genus to determine the specific nematocyst of each type of coral with the role of their particular types of nematocyst. Keywords: Bulutui coast, nematocyst, North Minahasa, Scleractinia, Stylophora subseriata Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe, dimensi ukuran dan komposisi nematosit dari karang Scleractinia, Stylophora subseriata. Studi ini dilakukan dari Maret - Mei 2023. Pengamatan dan pengukuran sel nematosit dilakukan menggunakan mikroskop Optika 4083 B3 yang terhubung dengan komputer yang dilengkapi software Optika View 7. S. subseriata memiliki tiga tipe nematosit utama, yaitu microbasic p-mastigophore tipe I (MpM-I), microbasic p-mastigophore tipe II (MpM-II) dan microbasic b-mastigopore (MbM).  Tipe MpM-I memiliki rata-rata panjang kapsul 182,10 µm, lebar kapsul 38,98 µm, dan panjang tangkai 76,45 µm;  MpM-II memiliki rata-rata panjang kapsul 166,72 µm, lebar kapsul 41,60 µm, dan panjang tangkai 108,48 µm; serta MbM dengan panjang kapsul 154,84 µm dan lebar kapsul 30,96 µm. Komposisi nematositnya terdiri dari MpM-I 26,67 %, MpM-II 23,33 % dan MbM 50.00 %.  Tipe MbM adalah nematosit yang dominan dalam spesies ini.  Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti perbandingan antara karakteristik nematosit dari S. subseriata dengan jenis karang lainnya dalam satu genus untuk mengetahui nematosit spesifik dari masing-masing jenis karang tersebut sehubungan dengan peran dari tipe-tipe nematosit spesifiknya.       Kata kunci: Minahasa Utara, nematosit, Pesisir Bulutui, Scleractinia, Stylophora subseriata
Indicator Species and Diversity in Mangroves at Darunu Mangrove Park Mahmud, Maudy Rusmini; Rumengan, Antonius; Paruntu, Carolus Paulus; Schaduw, Joshian Nicolas William; Rumampuk, Natalie Detty C.; Warouw, Veibe
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i1.59128

Abstract

Mangrove ecosystems play a crucial role in maintaining the ecological balance of coastal areas, including protection against abrasion, providing habitat for marine species, and acting as a carbon sink. This study aims to identify indicator species and analyze biodiversity in Darunu Mangrove Park, Darunu Village, Wori Subdistrict, North Minahasa Regency. The research was conducted over three months (May–July 2024) using a line transect method for vegetation data collection. The results show that three dominant mangrove species were identified: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, and Sonneratia alba. R. mucronata exhibited significant dominance, both in terms of mature trees and saplings, and had the highest Important Value Index (IVI). The mangrove species diversity in this area is classified as low, with the. Diversity Index (H’) indicates an imbalance in the ecosystem's species composition. The Dominance Index (C) and Evenness Index (E) analyses indicate strong dominance by certain species, particularly R. mucronata. This study recommends the importance of enhanced monitoring and more intensive conservation efforts, including the replanting of threatened mangrove species and raising community awareness of mangrove ecosystem conservation. Keywords: Darunu Mangrove Park, Diversity, Indicator Species, Important Value Index.   Abstrak   Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi pesisir, meliputi perlindungan terhadap abrasi, penyedia habitat bagi spesies laut, dan sebagai penyerap karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies indikator dan menganalisis keanekaragaman hayati di Darunu Mangrove Park, Desa Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan (Mei-Juli 2024) dengan menggunakan metode transek garis untuk pengambilan data vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis mangrove dominan, yaitu R. apiculata, R. mucronata, dan S. alba. Jenis R. mucronata menunjukkan dominasi yang signifikan, baik pada tingkat pohon maupun pancang, serta memiliki nilai Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi. Keanekaragaman jenis mangrove di kawasan ini tergolong rendah dengan Indeks Keanekaragaman (H’) menunjukkan ketidakseimbangan spesies dalam ekosistem. Analisis Indeks Dominansi (C) dan Indeks Kemerataan (E) mengindikasikan adanya dominasi yang kuat dari beberapa spesies tertentu, terutama R. mucronata. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemantauan dan upaya konservasi yang lebih intensif, termasuk penanaman kembali spesies mangrove yang terancam dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian ekosistem mangrove. Kata kunci: Darunu Mangrove Park, Indeks Nilai Penting, Keanekaragaman, Spesies indicator
Co-Authors Adnan Wantasen Agung B. Windarto, Agung B. Alam, Muhammad Reza Sinar Alfret Luasunaung Angkouw , Esther Dellayani Antonius Rumengan Ari B Rondonuwu, Ari B Ari B. Rondonuwu Ari Berty Rondonuwu Bachmid, Fihri Bessie, Donny Mercys Bonde, Alis Febri Boneka, Farnis B. Boneka Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Coloay, Clive Griffen Daisy Monica Makapedua Darus S. Paransa Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Dietriech Geoffrey Bengen Edwin D Ngangi Emil Reppie Fauzanabri, Renno Fransine B. Manginsela Fredinan Yulianda Gaspar D. Manu, Gaspar D. Gedoan, Verdinand Hens Onibala Ilaria, Christabella Louisa Imanuel, Tonny Indri Manembu Isdradjad Setyobudiandi Janny D Kusen Joppy Mudeng Jumeini, Jumeini Kainde, Henry Valentino Florensius Kamagi, Jongky W.A. Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Kondoy, Khristin I. F Kumampung, Deislie R.H. Kusen, Janny Lalita, Jans D.J Legi, Kunio Lintang, Rosita Anggreiny J Luasunaung, Alfrets Mahmud, Maudy Rusmini Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Manengkey , Hermanto W.K. Manengkey, Hermanto W. K Manginsela, Fransine B Manoppo, Victoria E. N. Mantiri, Desy M. H Markus T. Lasut Medy Ompi Menajang, Febry S. I Mokolensang, Jeffrie Molle, Ben Arther Moningkey, Rudy D. Musak, Putra Natalie D Rumampuk Nity, Elroi Ode Mantra, Syahrun Oroh, Dannie R S Pantouw, Toar Paransa, Darus S.J. Paulus, James J. H. Pelle, Wilmy Pelle, Wilmy E. Podung, Thania Theresia Rachim, M. Hatta Rangan, Jety Rangan, Jety K. Ridwan Lasabuda Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Roeroe, Wailan Roger R Tabalessy Rondonuwu, Arie B. Ronoko, Stephen Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Royke M. Rampengan Rumampuk, Natalie Detty C. Rumengan, Antonius Petrus Sanadi, Troy Sandra Tilaar Sangari, Joudy R. R. Sasauw, Juwinda Sinjal, Chatrien A. L Sitanggang, Gorga Renaldi Stenly Wullur Sundah, Geraldo Thimoty Suria Darwisito, Suria Tangkudung, Maureen J. N. N. Togolo, Festy Tungka, Amelia Undap , Suzanne Lydia Veibe Warouw Verisandria, Rio Wilhelmina Patty Windarto, Firhansyah C. Yostan Lahabu, Yostan